Mengubur Angan Google Adsense

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Masih banyak Jalan menuju Roma…
dan Rejeki sudah ada yang mengatur…
Kita tinggal berusaha saja.

Saya meyakini betul tiga kalimat diatas. Termasuk saat berurusan dengan model pemasangan iklan di halaman blog yang informasinya cukup menggiurkan secara nilai. Namun sayang, Google menolak permohonan dan juga banding yang saya ajukan untuk halaman www.pandebaik.com lantaran terlanjur banyak mengandung ajakan untuk pencarian konten ilegal dan terlarang lainnya. WTF hehehe…

Adapun konten dimaksud antara lain berkaitan dengan tips terkait Torrents, penggunaan 4Shared ataupun pembagian materi yang menyiratkan ajakan tadi. dan proses banding pun telah berkali kali diupayakan pasca membredel tulisan per tulisan yang dianggap bermasalah bagi Google. Ah, memang bukan jodohnya kali.

Maka itu, angan untuk bisa menikmati serpihan rejeki dari Google tampaknya memang harus dikubur dalam-dalam sambil mencari celah dan cara lain untuk bisa mengaisnya kembali. Mungkin saja bakalan bertumpu dari halaman www.tipstekno.com

Tapi toh seperti tiga kalimat yang saya comot dari pepatah lama, yakin sekali akan kebenarannya. Yang meskipun secara materi tidak seberapa penghasilannya, manfaat yang ada dari halaman blog ini cukup banyak kok. Kalo kalian mau mencari tahu apa saja, bisa membacanya lebih jauh dari postingan yang ada di halaman ini.

Jadi, harus tetap optimis kawan..

Keranjingan Local Guide

Category : tentang TeKnoLoGi

Lama nda muncul di halaman Blog ini, jadi kangen buat nulis serius lagi. Hanya karena kesibukan kerja menggantikan sementara pak Kepala Bidang yang musti ikutan Diklat, plus tugas pokok dan pendampingan pemeriksaan BPK, bikin semuanya berantakan.
Utamanya sih persoalan mood. Hehehe…

Tapi di balik itu, sebenarnya saya lagi keranjingan untuk menjadi seorang Local Guide yang baik disela hobi motret hal yang nda penting sejak awal kenal lensa kamera versi digital, dan juga kesempatan jalan-jalan baik seputaran Kota Denpasar dan wilayah kerja di Kabupaten Badung, pula luar daerah saat menjalankan tugas dinas.
Ketimbang mubazir pas mengambil gambar dan menyimpannya pada ponsel, mending ya dibagikan pada orang lain.

Local Guide yang saya maksud diatas adalah Pemandu Lokal yang bernaung dibawah nama besar Google, yang memiliki kegemaran (semacam tugas yang berawal dari hobi atau keisengan) untuk melengkapi berbagai macam venue yang terdaftar dalam peta milik Google atau Maps dalam perangkat ponsel pintar kalian, berupa ulasan singkat, data tambahan, nomor kontak hingga bisa jadi foto terkait.
Kira-kira begitu gambaran umumnya.

Selain ‘tugas nda resmi’ diatas, seorang Local Guide pada Google Maps juga mampu berperan untuk menata ulang venue yang sudah kadung ada dan tercatat didalamnya. Misalkan memberikan saran pemindahan lokasi venue apabila menemukan tidak berada pada tempat yang seharusnya. Atau mungkin menyarankan penutupan venue apabila di lokasi tersebut diyakini tidak ada satupun venue dimaksud. Dan lainnya…

Ada beberapa tingkatan atau level yang disematkan pada seorang Local Guide. Dari 1 sampai 5.
Tingkatan ini akan meningkat seiring semakin seringnya aktifitas yang dikontribusikan kepada Google, termasuk memberikan Review atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seputaran venue yang kita pernah kunjungi atau temukan.
Saya sendiri sampai saat ini sudah mencapai tingkatan atau level 5 dengan jumlah kontribusi sebanyak 600an poin. Soal poin dan level bisa dibaca lebih jauh di halaman Help mereka.

Lalu apa reward yang diberikan oleh Google atas masukan atau kontribusi yang kita lakukan sejauh ini ? Ada banyak. Satu diantaranya yang saya ingat adalah Free penyimpanan di Google Drive sebesar 100 GB selama setahun. Entah ini hanya satu bentuk promosi atau pemaksaan agar kita membayar di tahun kedua, atau bagaimana ? Hahaha…

Tapi menjadi seorang Local Guide bagi peta milik Google ya bagi saya pribadi, memberikan kesenangan tersendiri kok.
Minimal bisa membantu orang lain dalam menemukan venue yang diharapkan melalui saran atau review yang pernah disampaikan sebelumnya. Bisa juga memanfaatkan sejumlah gambar yang pernah diambil jauh sebelumnya, lalu dipublikasikan ketimbang tersimpan dan terhapus begitu saja.

Kalian nda tertarik untuk ikutan ?

Belanja Buku, manfaatkan Waktu Luang untuk Membaca

Category : tentang TeKnoLoGi

Membaca eBook atau majalah digital di waktu luang sebetulnya sih dah biasa dilakukan sejak awal kenal gadget berbasis Android ini. Terhitung dari PlayBoy hingga PentHouse, komik jadul macam Smurf, Deni Manusia Ikan hingga Tintin, atau peraturan dan dokumen berbasis pdf, masih tersimpan rapi di dalam ponsel Galaxy Note 3 hingga kini.
Jadi bukan sesuatu yang baru sebenarnya.

Teringat pada tweet kolega dekat, akun @blogdokter yang menyampaikan perbedaan pemanfaatan waktu menunggu antara bule dengan domestik lokal, dimana Bule masih betah membaca buku sementara kita asyil dengan gadget, saya sempat me-Reply bahwa bisa saja saat berhadapan dengan layar gadget, kita juga membaca buku dalam format digital. He… siapa yang tahu ?

Namun secara nggak sengaja, terdampar lah ceritanya di halaman Google Books yang rupanya kini lagi menawarkan buku atau majalah digital murah dengan harga kisaran 10ribuan, yang membuat saya tertarik untul mencoba membeli salah satunya setelah selama ini hanya mencoba versi yang ditawarkan secara gratis.

Prosesnya Mudah dan Cepat tentu.

Ada satu dua buku yang saya coba beli dan nikmati saat waktu luang. Mengasyikkan ternyata.
Karena selain topik yang beragam, pembelian model begini tentu banyak menghemat waktu dan tenaga kita.
Menarik bukan ?

Belanja Film, sekedar ingin tahu aja sih ya…

Category : tentang TeKnoLoGi

Angan untuk mencoba sebenarnya sudah cukup lama. Tapi baru terealisasinya kini ya karena baru nemu opsi harga yang terjangkau dan menarik meski secara filem yang ditawarkan, sudah pernah ditonton berkali-kali.

ID4, Independence Day.
Dengan harga 8ribuan rupiah, film berkualitas HD ini ditawarkan sebagai headline Google Movies pada setiap perangkat Android dimanapun mereka berada. Murah bukan ?
Anggap saja lagi beli DvD bajakan.

PanDe Baik Movies Google

Proses pembelian, sama cepatnya dengan pembelian aplikasi. Gak ribet. Cuma potong pulsa untuk operator XL/Axis. Begitu selesai, kita sudah bisa menonton filem yang dibeli secara streaming tanpa jeda. Dengan subtitle yang bisa dipilih jenis bahasanya.

Jikapun malas menontonnya dalam sekali waktu, filem bisa diunduh dan kita dapat menontonnya lain kali, dalam kondisi offline jaringan internet. Dengan menggunakan koneksi 4G LTE nya SmartFren, filem dengan resolusi standar yang berukuran sekitar 690 MB dilahap dalam waktu tak sampai setengah jam. Sedang saat dicoba unduh dengan paket koneksi IndiHome, hingha lima menit menunggupun rasanya belum ada progress yang berarti.
Coba tanya kenapa ?

Upaya membeli sebuah filem dari pasar aplikasi milik Google untuk setiap perangkat Android dimanapun kalian berada sebenarnya hanyalah iseng belaka. Hanya ingin tau dan berharap ada pengalaman yang bisa dipetik dan dibagikan.
Ternyata gampang banget prosesnya.
Menarik bukan ?

Kalian mau coba ?

No more Google Ads

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Banned… Banned… dan akhirnya ya memang positif di Banned…

Padahal sejak awal keinginan mencoba untuk menyajikan kolom iklan milik GoogLe Adsense di halaman ini, lumayan banyak juga usaha yang dilakukan, mencakup perubahan theme, sekali-sekali berEnglish meski 98% menggunakan Bahasa Indonesia slengean, atau promosi kemana-mana biar ada juga yang nge-klik iklan *uhuk *buat nambah-nambah penghasilan sebagai Blogger. Tapi apa mau dikata, rupanya kena Banned juga.

Awalnya sih gag nyadar, kalo ternyata konten yang mengandung kata dan kalimat ajakan untuk menggunakan unsur bajakan/pirates, itu gag diperbolehkan oleh Google. Nyatanya yang diperingatkan tidak hanya di satu tulisan, tapi lumayan banyak. Mengingat isi pembelajaran sejak awal ya memang rata-rata menggunakan obyek bajakan. Jadi susah kalo mau mengubahnya satu persatu.

Google Ads Banned

Tapi sudahlah, kini lagi mencoba balik lagi ke pemasang iklan di kliksaya miliknya David Chiang. Sayaratnya sih lumayan berat, 10K kunjungan perbulan… mengingat tingkat kunjungan yang masuk di halaman blog www.pandebaik.com gag seramai dulu lagi. Jadi ya pasrah aja kalo seumpama yang satu ini kena aturan juga, gag bisa tayang.

Ada yang pernah mengalami hal yang sama kayak gini gag yah ?

Menjelajah Application Market di beragam Ponsel Pintar

Category : tentang TeKnoLoGi

Bagi pengguna perangkat telekomunikasi seluler yang masuk dalam kategori ponsel pintar dua tiga tahun belakangan ini bisa dikatakan secara langsung memiliki kuasa penuh untuk mengoptimalkan perangkatnya sesuai kebutuhan dan kegemarannya. Baik itu dalam bentuk aplikasi penunjang kinerja, produktivitas, multimedia hingga permainan dan edukasi. Ketersediaan ini dirangkum dalam satu pangsa pasar software yang terpusat, mudah digunakan, berada dalam masing-masing perangkat ponsel secara langsung dan disebut dengan Application Market.

Hal ini jelas berbeda dengan keberadaan perangkat ponsel pintar sekitar empat lima tahun yang lalu. Dimana setiap pengguna perangkat semacam ini dihadapkan pada dunia maya yang luas hanya untuk mencari aplikasi dan permainan yang diinginkan serta berusaha memanfaatkannya secara hati-hati lantaran banyaknya malware ataupun virus yang menumpang padanya.

Application Market pada perangkat ponsel ini sebenarnya mulai diperkenalkan kepada publik sejak kemunculan perangkat pintar iPhone yang mengusung nama App Store, sebuah halaman yang menyediakan ratusan bahkan ribuan aplikasi dan juga permainan dari yang bersifat gratisan hingga berbayar untuk menunjang kebutuhan ataupun hobby para penggunanya. Berkembang makin jauh, model Application Market ini diadopsi pula oleh perangkat ponsel pintar lainnya seperti BlackBerry, Android, Symbian, Windows Phone dan juga Bada, sebuah sistem operasi yang dikembangkan secara khusus oleh Samsung. Lantas apa saja yang dibutuhkan untuk bisa menggunakan dan menjelajahnya lebih jauh ? simak sedikit gambaran dari kami.

Apple App Store. Merupakan Application Market yang dikembangkan oleh Apple untuk sistem operasi iOS yang dikembangkan bagi perangkat iPhone dan iPod Touch pada Juli 2008 lalu. Belakangan App Store ini dapat pula diakses melalui perangkat iPad, sebuah perangkat TabletPC berbasis sistem operasi yang sama. Untuk menjelajah ketersediaan aplikasi ataupun permainan di App Store ini, dibutuhkan minimal sebuah kartu kredit sebagai sarana transaksi bagi yang berstatus berbayar. Sedangkan untuk yang Free alias Gratis, masih bisa diakali dengan membuat akun Apple ID melalui aplikasi iTunes yang diinstalasi pada perangkat PC/Notebook. Beberapa aplikasi berbasis Multimedia dan Medis seperti misalkan Instagram merupakan salah satu aplikasi favorit yang paling banyak diunduh dari App Store.

Android Market (kini disebut dengan Google Play). Merupakan Application Market yang dikembangkan oleh raksasa mesin pencari Google, yang diperuntukkan bagi perangkat ponsel yang berbasis sistem operasi Android, apapun itu vendornya. Dibandingkan Apple App Store, Android Market menyediakan lebih banyak ragam jenis aplikasi dan permainan yang lebih banyak berstatus Free alias Gratis. Ini bisa terwujud lantaran secara sifat sistem operasi merupakan sistem yang terbuka atau Open Source sehingga memungkinkan banyak pengembang aplikasi dan permainan untuk ikut serta didalamnya. Sayangnya, keberagaman yang berstatus gratisan ini lebih patut diwaspadai karena besar kemungkinan ditumpangi malware bahkan virus berbahaya. Jika Apple App Store membutuhkan Apple ID, Android Market cukup menggunakan alamat email yang dikembangkan oleh Google yaitu Gmail. Dan Seperti halnya App Store, selain melalui perangkat ponsel, Android Market dapat pula diakses melalui jendela Browser pada PC/NoteBook dengan memanfaatkan alamat email yang sama.

BlackBerry App World. Merupakan Application Market yang dikembangkan oleh Research In Motion atau RIM dan diperuntukkan bagi semua perangkat ponsel BlackBerry yang telah mengadopsi sistem operasi versi 4.5 keatas. Dibandingkan dengan dua Application Market sebelumnya, BlackBerry App World lebih banyak menyediakan aplikasi ataupun games yang bersifat Serius. Namun kabarnya Angry Birds yang dahulunya hanya dikembangkan bagi perangkat iOS dan Android, kini sudah pula bisa didapatkan disini. Untuk menjelajah ketersediaannya lebih jauh, pengguna membutuhkan BlackBerry ID yang bisa dibuat melalui perangkat ponsel langsung ataupun lewat jendela Browser pada PC/NoteBook. Bagi yang malas mencoba dan menginstalasi pada perangkat ponsel, dapat mencobanya lewat layar PC/NoteBook dengan memanfaatkan aplikasi Simulator yang dapat diunduh melalui alamat web resmi BlackBerry.

Ovi Store. Merupakan Application Market yang dikembangkan secara khusus oleh Nokia dan diperuntukkan bagi perangkat ponsel Nokia yang berbasis sistem operasi Symbian. Baik yang berkategori ponsel pintar, berlayar sentuh ataupun model candybar. Untuk menggunakannya, dibutuhkan sebuah akun ID Ovi yang dibuat dengan memanfaatkan akun Ovi Mail. Dibandingkan App Store milik Apple ataupun Android Market, ketersediaan aplikasi ataupun permainan di Ovi Store jauh lebih terbatas jenisnya. Meski demikian, untuk jenis konten, selain aplikasi dan permainan tersedia juga theme, ringtones pula wallpaper yang rata-rata dapat diunduh secara gratis. Sedang untuk yang berstatus berbayar, pengguna dapat membelinya dengan cara memotong pulsa yang terdapat dalam ponsel. Jauh lebih mudah bukan ?

Windows Market Place. Merupakan Application Market yang dikembangkan oleh raksasa Microsoft, yang diperuntukkan bagi perangkat ponsel berbasis sistem operasi Windows Mobile 6.5 dan Windows Phone. Penyebutan Windows Market Place ini belakangan berkembang menjadi Windows App Store yang dikembangkan bagi perangkat mobile ponsel Windows Phone 8. Rencananya, beberapa aplikasi ataupun permainan yang tersedia didalam Windows App Store, nantinya dapat digunakan pula dalam tiga versi perangkat, mobile ponsel, tabletpc dan pc/notebook. Harapannya tentu saja agar pengguna cukup membeli satu aplikasi untuk semua perangkat yang ia miliki. Secara tampilan, Application Market hasil besutan Microsoft ini menyajikan bentuk tiles (kotak) sedemikian rupa memenuhi layar ponsel dengan warna warni yang khas. Kabarnya tampilan ini akhirnya ditiru pula oleh Android dalam aplikasi Market versi terbaru mereka.

Samsung Apps. Merupakan Application Market yang dikembangkan oleh Samsung, namun lebih banyak diperuntukkan bagi perangkat ponsel milik Samsung yang berbasis sistem operasi Bada. Meski demikian, beberapa diantaranya ada pula yang diperuntukkan bagi perangkat ponsel pintar Samsung yang mengadopsi istem operasi Android. Hanya saja jenisnya tidak jauh berbeda dengan Market bawaan Android. Tidak ada akun ID khusus yang dipersyaratkan oleh Samsung untuk dapat mengakses Samsung Apps ini. Selain tersedia dalam semua perangkat ponsel pintar milik Samsung, Samsung Apps dapat pula diakses melalui aplikasi Samsung Kies yang diinstalasi pada perangkat PC/NoteBook. Dan seperti halnya Ovi Store, untuk yang berstatus berbayar dapat diinstalasi dengan cara pemotongan pulsa.

Diluar enam Application Market yang dikembangkan secara khusus oleh masing-masing vendor diatas, sebenarnya ada juga beberapa vendor ponsel lokal yang sudah mulai melakukan pengembangan model Application Store didalam perangkat mobile yang mereka jual. Hanya dari segi gaungnya masih belum mampu masuk ke pangsa pasar global.

*Tulisan ini sempat pula tampil di Koran Tokoh kolom Tekno halaman 20

Nyobain Google Adsense (lagi) yuuuk

5

Category : tentang KHayaLan, tentang TeKnoLoGi

Sebetulnya sudah jauh-jauh hari saya mendengar kabar soal Adsense, slot iklan milik Google dinyatakan mendukung blog dengan konten ber-Bahasa Indonesia, kalo gag salah sih dari Blogger senior Wirautama pemilik imadewira.com dan juga Putu Adi Susanta yang membesut radiografer.net

Sayang, lantaran kesibukan kantor dan juga sampingan, rencana untuk mengulik kembali Google Adsense baru kesampean awal Maret lalu, itupun masih dengan meraba-raba lantaran usaha serupa yang saya lakukan dua tahun lalu bisa dikatakan gagal tenan.

Ya, kalo mau dilihat kebelakang, rupanya usaha saya untuk mencoba peruntungan lewat Google Adsense sudah tak mulai kisaran tahun 2009/2010 lalu, yang sialnya kemudian ditolak Google karena hampir 99,9% konten blog www.pandebaik.com saya ini mengadopsi Bahasa Indonesia. Kalo gag salah lagi, satu-satunya zona iklan yang boleh saya pergunakan hanyalah fasilitas Searching-nya saja yang jujur tak jua saya pahami hingga kini bagaimana cara kerjanya.

Ngomong-ngomong soal iklan, sebenarnya blog ini sudah mulai menjajakannya sekitar setahun lalu tepatnya awal tahun 2011. Yang berkenan berbagi rejekinya waktu itu ada 2, Warung Bebeque yang menyajikan Bebek Bakar di bilangan Mahendradatta dan juga Travel Mai Bus yang kini sudah kerap terlihat di jalanan Kota Denpasar. Selain itu, saya pun secara iseng nyobain iklan berbasis PPC atau Pay Per Click miliknya KlikSaya.com atas rekomendasi dua blogger tenar diatas.

Hasilnya lumayan juga sih, ada beberapa ribu yang berhasil tak kumpulkan dan disetor ke satu Rekening nasional yang kemudian saya sisihkan sedikit untuk membayar biaya Hosting dan Domain di BaliOrange.net lewat MediaHostingIndonesia tentu saja. Sisanya lebih banyak tak arahkan ke kebutuhan akan Transaksi online lainnya.

Nah, karena kali ini ceritanya saya lagi ingin mencoba peruntungan (lagi) lewat Google Adsense, maka usaha untuk belajar membuat dan memahaminya pun perlahan mulai dijabani. Hasilnya bisa dilihat di sisi kanan halaman ini, terutama pada kolom iklan dan sidebar. Iseng saja sih saya me-Replace zona iklan yang dahulunya saya peruntukkan bagi slot KlikSaya.com, untuk mencari tahu terlebih dahulu, sejauh mana Adsense Google bisa menghasilkan.

Uniknya, jika dalam konten iklan yang disajikan oleh KlikSaya.com lebih banyak soal (Maaf) bagaimana memperpanjang penis, uang cepat atau cara menjadi kaya, berbeda dengan Google Adsense yang lebih banyak menyajikan iklan ‘nyambung’ dengan konten yang saya tuliskan.

Jadi, mohon maaf yah bagi Rekan-rekan yang rajin berkunjung kemari trus merasa sedikit terganggu dengan keberadaan zona iklan Adsense Google saat ini…

Android, si anak bawang yang mengguncang dunia

Category : tentang TeKnoLoGi

Awal tahun 2009 bisa jadi merupakan tonggal awal bersejarah bagi raksasa mesin pencari Google, lantaran pada saat itulah untuk pertama kalinya ponsel berbasis Android diluncurkan lewat perangkat HTC Dream atau T-Mobile G1. Mengadopsi sistem operasi versi 1.5 ber-codename Cupcake, Android berusaha merebut sedikit dari pangsa pasar ponsel global dengan fitur dan penampilan yang kabarnya menjiplak sistem operasi iOS milik Apple. Masuk dalam lima besar perolehan di akhir tahun, Android hanya mampu mencapai sekitar 3,9 persen berdasarkan perhitungan IDC European Mobile Phone Tracker. Prosentase ini naik melesat hingga angka 22,7 di akhir Tahun 2010 mengalahkan sistem operasi Windows Mobile yang tiga empat tahun lalu masih mendominasi pasar ponsel secara global. Apa sih Android itu ?

Android merupakan sebuah sistem operasi yang dikembangkan oleh Andy Rubin, Rich Miner, Nicks Sears dan Chris White pada kuartal ketiga tahun 2003 yang kemudian diakuisisi oleh Google pada pertengahan tahun 2005. Rencana awalnya, Android ini diperuntukkan bagi perangkat ponsel yang akan diluncurkan dengan membawa nama besar Google. Dan itu terbukti.

Dengan merilis beberapa versi sistem operasi ber-codename nama-nama penganan, Android tampak dengan mudahnya melenggang meninggalkan para kompetitor yang dahulu sempat mencibir kehadiran si anak bawang. Setidaknya berangkat dari versi 1.5 Cupcake, 1.6 Donuts, 2.1 Eclair dan 2.2 Froyo, Android dengan percaya diri diusung setidaknya oleh lima nama besar brand global. HTC, Motorola, LG, Samsung dan Sony Ericsson.

Berkembang memasuki Tahun 2011, Android mulai menancapkan kukunya melalui versi 2.3 GingerBread atau yang lebih dikenal dengan istilah Roti Jahe, melalui beragam brand baik global maupun lokal. Setidaknya nama-nama seperti Nexian, Imo, ZTE ataupun Huawei sudah meluncurkan beberapa rilis ponsel dengan mengandalkan sistem operasi Open Source ini. Demikian pula nama-nama yang dahulu sempat kolaps pasca mengandalkan sistem operasi Windows Mobile seperti Acer, Dell, Gigabyte bahkan Asus turut pula berusaha mengembalikan kejayaan mereka dengan mengusung Android.

Android kemudian makin dikenal saat dirilis dalam bentuk TabletPC dengan ukuran layar 7 dan 10 inchi. Meski belum mampu menyamai kekuatan dan kharisma sang maestro iPad yang dikembangkan oleh Apple, setidaknya salah satu nilai positif yang didapat adalah melambungnya nama besar Samsung sebagai the Most Wanted TabletPC lewat Galaxy Tab 7 versi awal.

Salah satu tawaran yang paling menarik dari sebuah perangkat berbasis Android adalah ketersediaan ratusan bahkan ribuan aplikasi dan permainan yang siap unduh dan yang terpenting adalah faktor gratisannya didalam Android Market. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu jualan para vendor setiap kali merilis ponsel ataupun perangkat TabletPC berbasiskan Android.

Selain itu, kemajuan teknologi yang diusung Android sejak rilis versi 2.2 Froyo mampu mengubah sebuah perangkat Android menjadi sebuah router yang dapat dimanfaatkan untuk berbagi koneksi wifi atau hotspot dengan perangkat lain tanpa mengunduh atau menambahkan aplikasi dan juga peralatan tambahan lainnya.

Ditengah keterbatasan kemampuan yang dapat dilakukan oleh sebuah TabletPC berbasis sistem operasi 2.3 GingerBread, Android kemudian mengumumkan versi 3.0 ber-codename Honeycomb yang didaulat sebagai sistem operasi khusus yang dikembangkan bagi perangkat TabletPC untuk optimalisasi pemanfaatannya. Meski kabarnya melahirkan blunder akibat ketidakpuasan sebagian pengsuna lantaran beberapa aplikasi yang hadir di Android Market yang sebenarnya diperuntukkan bagi versi Android sebelumnya sehingga tidak dapat berjalan dengan sempurna, namun nama besar Honeycomb sudah kadung tertanam dengan baik di benak para die hardnya. Terbukti hingga akhir tahun 2011 sedikitnya sepuluh perangkat TabletPC dari beragam vendor sudah mulai mengadopsi dan mengembangkan Honeycomb lebih jauh. Beberapa diantaranya terdapat Samsung Galaxy Tab 10.1 , 8,9 dan 7 plus, Motorola Xoom dan Xoom rilis 2, Acer Iconia, Asus Transformer, HTC bahkan nama besar Sony pun ada.

Memasuki akhir Tahun 2011, Android yang seakan belum jua puas dengan semua pencapaiannya, merilis versi terkini 4.0 ber-code name Ice Cream Sandwich yang dirilis pertama kali lewat Samsung Galaxy Nexus. Sistem operasi ICS ini kabarnya sebagai jawaban dari blunder yang terjadi dalam versi HoneyComb dimana harapannya versi ini mampu dibenamkan setidaknya dalam dua perangkat mobile yang berbeda. Ponsel dan TabletPC. Kabar lainnya, beberapa perangkat ponsel dan TabletPC Android yang dirilis pada pertengahan tahun 2011 akan mendapatkan opsi Upgrade ke versi ICS yang kelak akan didistribusikan melalui masing-masing vendor.

Selain merilis perangkat ponsel dan TabletPC dengan beragam ukuran dan versi sistem operasi, beberapa vendor belakangan bahkan mulai saling berlomba untuk tampil dengan beragam kemampuan yang sekiranya mampu menarik minat calon pengguna baru Android. Misalkan kemampuan untuk bermain konsol game seperti yang dilakukan oleh Sony lewat Xperia Play, kamera 3D seperti yang dilakukan oleh vendor ternama LG, interface handwriting yang kemudian menyelipkan stylus seperti yang dilakukan oleh HTC Flyer dan Samsung Galaxy Note, turbo speed yang menanamkan jenis prosesor dual bahkan quad core, atau dukungan terhadap modem eksternal yang lumrah digunakan pada perangkat PC/Notebook.

Selain beragamnya pilihan baik ukuran, kemampuan dan juga versi sistem operasi yang diadopsi dalam masing-masing perangkat, Android ditawarkan pula dalam beberapa pilihan rentang harga. Dari kelas Pemula di kisaran sejutaan, Menengah hingga tingkat ataspun tersedia. Bisa jadi semua inilah alasan bahwa Android kemudian dinyatakan sebagai perangkat yang mampu mengguncang dunia.