Genjer Genjer neng ledokan pating keleler

8

Category : tentang Opini

Kalimat diatas merupakan baris pertama dari sebuah lagu jaman dahulu kala negeri ini yang menjadi saksi sejarah atas sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama Gerakan 30 September atau G30S PKI. Sayang, dalam perkembangannya lagu Genjer-genjer malahan di black list (baca:dilarang putar dan dinyanyikan) oleh Pemerintah Orde Baru karena dianggap mampu menggelorakan bahaya laten komunis di negeri ini. Ada yang gak tau dengan lagu Genjer-genjer ini ?

GenJer2

Genjer-genjer menurut beberapa sumber digubah oleh Mohammad Arief seorang pemimpin lembaga musik dan dinyanyikan untuk pertama kalinya saat rombongan para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia (Lembaga Kebudayaan Rakyat-Lekra, Lembaga Kebudayaan Nasional-LKN dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia-Lesbumi) menyinggahi kota banyuwangi jawa timur dalam perjalanan mereka untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali.

Lagu ini sesungguhnya mengisahkan tentang tumbuhan Genjer (limnocharis flava), tumbuhan pengganggu disawah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil, digunakan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang di negeri ini. Simak saja barisan lirik lagu ‘Genjer-genjer’ dibawah ini :

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih

Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

didjejer-djejer diunting pada didasar

didjejer-djejer diunting pada didasar

emake djebeng tuku gendjer wadahi etas

gendjer-gendjer saiki arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

setengah mateng dientas digawe iwak

setengah mateng dientas digawe iwak

sega sa piring sambel penjel ndok ngamben

gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

yang artinya :

(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan

Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan

Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer

ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer

Dapat sebakul dipilih yang muda-muda

Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Ditata berjajar diikat dijajakan

Ditata berjajar diikat dijajakan

Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas

Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak

setengah matang ditiriskan dijadikan lauk

setengah matang ditiriskan dijadikan lauk

nasi sepiring sambal pecel duduk di ambin

Gendjer-gendjer dimakan musuhnya nasi)

Ketika peristiwa G30S terjadi, lirik lagu Genjer-genjer kemudian diplesetkan sebagai berikut :

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler

Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral

Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh

Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa

Dijejer ditaleni dan dipelosoro

Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo

Jendral Jendral maju terus dipateni

Lantaran keisengan inilah lagu genjer-genjer pada masa Pemerintahan Orde Baru kemudian dibredel dan siapapun yang kedapatan menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu saja dengan tuduhan Komunis. Sebagai tambahan informasi, kendati saat ini jaman sudah banyak berubah namun masih ada sekelompok masyarakat yang tidak menginginkan lagu ini diperdengarkan kembali, seperti halnya yang terjadi di Radio Solo 14 September 2009 lalu. Bagi yang belum tahu bagaimana lagu Genjer-genjer yang dimaksud, bisa langsung meluncur ke portal video YouTube untuk mendapatkan versi yang dinyanyikan oleh alm. Bing Slamet. Alamatnya disini.

Secara pribadi saya berpendapat, sudah saatnya kita lebih berpikir jernih dalam menghargai satu karya anak bangsa di masa lalu, kendati hingga saat ini mereka masih disebut sebagai Komunis. Ketimbang lagu ini tetap di-black list dan dilarang diperdengarkan atas alasan ‘khawatir membangkitkan paham komunisme, saya malah jauh lebih khawatir apabila lagu yang merakyat ini di-klaim oleh tetangga kita sebagai budaya mereka. Hehehe… apakah kita akan melakukan protes dan demo jika itu sampai terjadi ?

Ngomong-ngomong soal lagu Genjer-genjer, setelah saya dengarkan berulang kali bahkan sempat saya jadikan RingTone ponsel, irama pada awal lagu ini kok mirip-mirip dengan lagu ‘Tak Gendong’ karya Mbah Surip ya ? atau malah jauh lebih mirip dengan salah satu lagu favorit saya sepanjang masa ‘Wakil Rakyat’ karya Iwan Fals. Hmmm… bagaimana pendapat Anda ?

*Referensi :

Rohman Hidayat Yuliawan (sendaljepit.wordpress.com)

Andi Eko (The Information Gateway)

Tempo Interaktif