Sedikit Lagi, Merengkuh Gelar Pasca Sarjana

2

Category : tentang KuLiah

Aaahhh…. Perasaan sedikit lega hari ini agaknya sudah bisa saya ungkapkan. Sebagai rasa syukur atas segala hal yang sudah saya jalani selama dua bulan belakangan menjelang detik-detik terakhir perkuliahan di semester 3. Ya, ternyata bisa juga saya tiba disini. Padahal rasanya baru kemarin saya menjalani ujian TPA (mirip test psikologi) dan matrikulasi (pengenalan materi awal sekaligus penyegaran). Rasanya baru kemarin saya memiliki beberapa teman baru yang beragam usia dan aktivitasnya.

Terkait dengan awal mula kenekatan saya mengikuti kuliah Pasca Sarjana ini, barangkali ada beberapa rekan blogger Bali yang masih ingat tulisan saya terdahulu tentang ‘Gelar yang tak lagi membanggakan’. Sempat diculik untuk Bale Bengong miliknya Om Anton kalo ndak salah. Waktu itu saya masih belum punya rumah sendiri seperti sekarang. Masih numpang di Blogspot.

Jika saya membaca tulisan lama tersebut, barangkali bisa dikatakan apa yang saya yakini masih sama. Seandainyapun kelak gelar dari perkuliahan Pasca Sarjana ini dapat saya raih, gak ada tuh yang namanya ‘bakalan selalu saya pampang dan gunakan dalam setiap momen atau event, termasuk pencalegan barangkali. He…

Jujur saja, kadang untuk menyandang sebuah gelar bagi saya pribadi adalah sesuatu yang memberatkan. Walaupun saya tidak menutup mata, bahwa gelar bagi sebagian orang itu sangat keren jika sampai diketahui oleh sebagian yang lain. Dianggap lebih berpendidikan, dianggap lebih mampu, dianggap lebih layak menjadi pimpinan barangkali ? Bagi saya, TIDAK.

Kata orang bijak, diatas langit masih ada langit. Tak selamanya orang yang menyandang gelas Pasca Sarjana itu akan jauh lebih mampu dari pada orang yang hanya tamatan sarjana ataupun sma misalnya. Barangkali pada pengetahuan beberapa ilmu dan teori, bisa dikatakan sedikit lebih tinggi. Buin a setrip. Tapi pada pengalaman tertentu ? hohoho…. Jangan salah.

Jangan jauh-jauh. Ambil contoh ya saya sendiri.
Dari sekian banyak ilmu yang diberikan dimana masing-masing bidang ilmu hanya diberikan waktu untuk pemahaman hanya satu semester, yang kalo dihitung barangkali hanya sekitar enam belas kali pertemuan kisaran 4 bulanan, belum tentu kesemua ilmu yang didapat itu bisa nyantol dikepala. Walaupun yah saya yakin, ada satu dua yang masih bisa diingat saat akhir semester 3 tiba didepan mata. Coba bandingkan dengan mereka yang hanya tamatan sarjana, tapi lebih banyak memiliki pengalaman di salah satu bidang yang saya pelajari. Berani bersaing ? Saya yakin, jika itu pake taruhan nyawa misalnya, saya bakalan mundur. Tapi kalo sebatas saling mengisi, okelah, saya mau.

Satu lagi yang dapat dikatakan paling riskan.
Nilai pada mata kuliah tertentu. Saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa kemampuan seseorang pada suatu mata kuliah, tidak dapat diukur hanya dari nilai ujian saja. Atau nilai akhir yang dikeluarkan oleh sang pengajar. it’s just my lucky…. Secara kebetulan dari delapan mata kuliah yang sudah dikeluarkan nilainya, ada enam yang saya dapatkan dengan nilai sangat memuaskan. Kenapa saya katakan sangat memuaskan ? dan bagi siapa ?

Ya tentu saja bagi saya sendiri, dimana merupakan salah satu dari sekian mahasiswa yang keluar jalur mengambil bidang di jenjang Pasca Sarjana. Saya lulusan Arsitektur yang lebih banyak berkutat pada konsep ataupun desain. Loncat pagar ke bidang Sipil, dimana bidang Statistik, Finansial, dan hal-hal yang sama sekali belum pernah saya dapatkan pada jenjang sebelumnya, dipaksa melahap semuanya dalam waktu satu semester. Can You imagine that ?

Padahal pada awal semester dimulai, saya sempat merasakan frustasi pada pilihan yang saya ambil secara nekat. Sempat pula saya ungkapkan pada tulisan dengan topik kuliah, maupun corat coret gak karuan selama jam perkuliahan. Kini setelah apa yang saya jalani, dengan nilai yang saya dapatkan, apakah sudah bisa mencerminkan bahwa saya mampu dan menguasai semuanya dalam waktu singkat ? Bagaimana pula saya bisa mempertanggungjawabkan nilai tersebut kelak pada setiap orang yang begitu berharap banyak lantaran mereka melihat pada gelar dan nilai yang saya dapatkan ?

Secara kebetulan saya bersua dengan beberapa orang alumnus jenjang Pasca Sarjana. Ternyata kegelisahan saya ini juga dirasakan oleh mereka dahulu. Menjalani masa perkuliahan Pasca Sarjana hanya untuk sekedar lewat dulu. Tak peduli dengan nilai yang didapatkan. Jangan berharap banyak pada keakuratan tata cara penulisan dalam setiap tugas yang dibuat, ataupun sedalam apa analisa yang dilakukan saat penelitian Tesis sebagai kewajiban akhir masa studi mereka.

Waktu yang akan menjawab itu semua.

Pelan tapi pasti. Saya yakin, apa yang saya jalani selama tiga semester ini, plus waktu untuk menyelesaikan Thesis tahap akhir masa studi saya kelak, bakalan bisa saya ambil satu persatu ilmunya, jauh setelah gelar itu bisa direngkuh. Dengan catatan, ilmu yang ditawarkan itu memang menarik minat saya untuk mempelajarinya lebih dalam lagi.

Saya yakin, beberapa bidang ilmu yang dilahap selama satu setengah tahun ini bakalan berguna satu saat nanti. Tentu saja tidak Hap ! langsung usai wisuda, atau usai gelar tersebut disandang. Katakanlah mata kuliah Finansial misalnya. Dari ilmu ini, saya bisa tahu proses suatu keluar masuknya uang secara sederhana, ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Bahkan dari salah satu bagian perkulaiahn ABC system misalnya, saya bisa mendapatkan gambaran tentang apa saja yang harus diperhitungkan untuk mendapatkan harga jual suatu produk.

Ini tentu melengkapi kegamangan saya sebelumnya, perihal berapa harga yang harus saya patok atau tetapkan untuk sebuah jasa atau produk gambar rencana kerja sebuah bangunan misalnya. Padahal selama ini saya hanya mengandalkan ‘oh, biasanya sih dibayar segini….’ Atau ‘oh, standarnya sih sekian rupiah per meter persegi atau sekian rupiah per lembar gambar’.

Kembali pada pertanggungjawaban saya akan gelar maupun nilai yang kelak saya dapatkan, barangkali hanyalah sebuah perjalanan yang harus saya lalui, untuk mendapatkan sedikit gambaran tentang hal-hal diluar pengetahuan saya selama ini. Ditambah sedikit bumbu pertemanan baru yang saya dapatkan, suasana kuliah yang jauh lebih bersahabat, dan juga keinginan untuk belajar dan terus belajar timbul dengan sendirinya.

Yah, perkuliahan Pasca Sarjana yang tinggal sedikit lagi, bagi saya pribadi bukanlah sebagai satu pembuktian bahwa saya mampu dan layak menyandang gelar tersebut nantinya. Atau malah hanya untuk mendapatkan pengakuan ditengah masyarakat, atau barangkali hanya untuk syarat agar cepat naik pangkat/golongan hingga jabatan misalnya. He….

> PanDe Baik tumben-tumbenan bisa melahirkan tulisan terkait aktivitas mengikuti perkuliahan lagi. Yah, sudah lama gak menyinggungnya di BLoG, seperti harapan seorang rekan kuliah yang secara mendadak pamit meninggalkan perkuliahan diakhir semester satu, berkumpul kembali bersama keluarga (suami dan anak-anak) di Jakarta sana…. Bahkan, hingga akhir semester tigapun, saya belum mampu melahirkan satu tulisan yang khusus mengenai sobat saya sejak kecil ini. Ya, Kusuma Dewi. “Apa Kabarnya D ?” <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar…

Gelar tak lagi membanggakan

1

Category : tentang KuLiah

Menjalani proses kuliah tingkat pasca sarjana memiliki banyak sudut pandang jika dilihat dari bermacamnya motivasi dan tujuan dari masing-masing mahasiswa untuk melanjutkan studi.

Ada yang memang ingin serius menjajal kemampuan apalagi jika sudah masuk dalam satu perguruan tinggi negeri yang memiliki pengajar kebanyakan full teori. Ada juga yang ingin sekedar lewat, mendapatkan gelar hanya karena tuntutan pekerjaan didominasi oleh para pegawe negri yang sudah menjabat atopun dosen yang sudah harus mengantongi gelar di akhir tahun 2010 nanti.
Tak sedikit pula yang melanjutkan studi karena mendapat sokongan penuh dari sang orang tua sehingga tugasnya pribadi hanyalah belajar dan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.

Jika dilihat lagi dari sumber dana yang dipake, ada yang mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi yang menaunginya tentu kebanyakan yang menerima beasiswa ini ya dari kalangan dosen pengajar tingkat Sarjana. Ada juga yang make uang tabungan bertahun-tahun hasil simpanannya selama bekerja sampingan, dan terakhir ya golongan mengutang pada bank dan dicicil setiap bulan potong gaji. Aduh !

Namun tak semua merasakan enjoy tuk menjalani hari-hari kuliah maupun untuk mengerjakan tugas, lantaran rata-rata sudah bekerja dengan jam kerja padat, tapi ada juga yang tipikal murid sekolahan, padahal dia itu dosen tingkat Sarjana lho.
Tipikal murid sekolahan maksudnya, lebih berandai-andai dosen pengajar gak dateng n gak ngajar tapi ngasi nilai A, juga pengennya libur terus. Hehe…
Gak sedikit pula yang nyontek tugas mahasiswa lain pas hari pengumpulan. Hmmm… budaya sekolah. Hehe…

Hari gini punya gelar pascasarjana tak selalu membuat dada membusung. Ada type mahasiswa yang merendah, bahwa gelar sarjana aja masih ngerasa malu untuk disandang lantaran pengalaman praktek tak seoke yang dibayangkan orang, ini mau nyandang gelas pasca. Wah, apa kata dunia ?

Bukan apa-apa sih, tapi karena masyarakat sudah tau dan memaklumi bahwa gelar itu bukan lagi menjadi tolok ukur tingkat intelegensia seseorang, namun lebih dilihat dari kemampuan finansial dan juga kedudukan seseorang.

Ini diperkuat dengan banyaknya pejabat yang berlomba-lomba memasang gelar pascasarjana mereka padahal mungkin gelar itu tak sepenuhnya ditempuh. Alias dibeli 20 juta per gelar. Mau gelar apa saja juga ada.
Unsur politis juga tak kalah banyak, dengan membeli gelar yang biasanya dianugerahkan kepada politisi sukses dalam bidangnya. Honoris Causa rame diberikan biasanya menjelang pilkada atopun kampanye. Nama nongol di koran dengan kesuksesannya di bidang ini itu.

Tak sedikit pula para pejabat tinggi negeri ini maupun orkay lokal dan nasional yang menyandang gelas Doktor hingga Profesor.
Pengalaman menarik dialami ketika mengenal sosok famili yang dahulunya begitu sederhana, bahkan SMApun tak diselesaikan karena faktor biaya, eh saat anak yang ke-2 mantu, mendadak nama sang famili berisi embel-embel Prof. DR.
Wah, kapan sekolahnya nih ?

Tapi jangan berharap banyak kalo yang namanya gelar di belakang nama itu kemampuannya bakalan sama dengan gelar jaman presiden Indonesia pertama masih mimpin. Ya itu dah, gelar masih bisa dibeli biar sedikit lebih keren kalo namanya terpampang di koran pas lagi ngomong.

Satu lagi, gak menjamin pula kalo gelar yang panjang bakalan bikin orang yang menyandangnya berpikir untuk realistis dan down to earth. Malah kecenderungan orang-orang kayak gini, malah full teori tanpa ada prakteknya. NATO-No Action Talk Only.
Trus yang namanya pergaulan udah gak bisa gabung lagi dengan rakyat kelas bawah, dan kalo lagi diganggu waktunya, golongan ini malah lebih sayang membuang waktu hanya untuk ngobrol panjang lebar lepas kangen.

Kembali ke famili tadi, pemasangan embel-embel itu gak lama kok.
Saat anak ke-3 sekaligus terakhir mantu, embel-embel gelar tadi tak dipampang lagi di kartu undangan.

Entah karena merasa malu diketahui banyak orang gelar itu dari membeli ato malah baru menyadari kalo gelar bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan dipampang pada selebaran, kartu undangan maupun stiker kampanye- mengingatkan pada seorang tokoh membagi-bagikan stiker pada yang mudik untuk milih sang bakal calon huh ?

Anyway terakhir ada juga gelar yang asik disandang tanpa perlu mikirin beban. Gelar tiker trus bobo. Huehehe….