Merayakan Galungan dan Bangga jerih payah sendiri

Category : tentang KeseHaRian

Awalnya benar-benar ndak kepikiran dengan hasil yang begitu nyata, karena yang terlintas dibenak adalah bagaimana caranya agar rejeki yang diterima tak lantas terbuang percuma begitu saja. Minimal bisa dinikmati bersama-sama. Maka keputusan pun diambil, menyisihkan sebagian untuk membuat wastra atau penganggo sejumlah pelinggih di rumah, dan sebagian lagi memperbaiki perkerasan jalan masuk yang sepuluh tahun terakhir tampak mengenaskan.

Kini setelah semuanya selesai, tampilan rumah kami yang jauh dari kata mewah ini terlihat sedikit lebih bersih ketimbang sebelumnya. Utamanya saat perayaan Galungan yang jatuh dalam hitungan hari kedepan.

PanDe Baik wastra

PanDe Baik Paving 5

Eh, sekarang anak anak dah bisa naik sepeda sampe depan loh…

PanDe Baik Paving

Ada rasa senang saat melihatnya. Jadi makin bangga ketika teringat bahwa penggantian penganggo wastra dan juga perkerasan paving khas pekerjaan kantor tahun 2013 silam merupakan pemanfaatan rejeki hasil jerih payah sendiri. Ya, berusaha sendiri.

Bagaimana menurut kalian ?

Selamat merayakan Galungan bersama Keluarga

Category : tentang KeseHaRian

Jalanan sepanjang kota Denpasar menuju pinggiran kabupaten Badung terasa berbeda dari biasanya. Jauh lebih sepi ketimbang enam bulan atau satu tahun sebelumnya. Kendaraan kamipun bisa dengan cepat mencapai tujuannya tanpa banyak halangan.

Galungan Idul Fitri PanDe Baik

Hari Raya Galungan yang disambut suka cita umat Hindu, berpadu dengan Hari Raya Idul Fitri yang disambut dengan suka cita yang sama oleh umat Muslim atau Islam. Inilah tampaknya yang menyebabkan suasana begitu sunyi sekalipun melewati ruas jalan Gatot Subroto tengah atau Kerobokan – Tanah Lot, dua ruas yang menjadi langganan macet sejauh ini.

Kedua umat beragama ini mudik ke kampung halaman masing-masing. Maka tak heran jika Kota Denpasar maupun Badung pun tampak seperti kota mati. Nyaris tak ada aktifitas apapun di sepanjang rute yang kami lewati. Toko semua menutup gerainya. Mengingatkanku pada film beraktor Will Smith dengan set serupa. Kota mati yang dipenuhi zombie. Jadi ngeri sendiri.

Tapi lupakan semua itu. Karena di hari kemenangan ini, kita patut berbangga bahwa Bali atau Kota Denpasar menjadi saksi betapa tolerannya masyarakat pribumi akan pendatang yang mencari nafkah demi keluarganya. Jadi tidak salah jika sayapun ingin mengucapkannya sekali lagi, Selamat merayakan Galungan bersama Keluarga bagi semeton Hindu semua dimanapun kalian berada, dan Selamat merayakan Idul Fitri pula bagi kalian semeton Muslim. Semoga Kebaikan, datang dari segala penjuru.

Galungan PanDe Baik 6

Objek foto : Pande Made Intan PradnyaniDewi, putri kedua www.pandebaik.com

Mempertahankan Tradisi ngeLawang Kuningan

7

Category : tentang KeseHaRian

Matahari masih bersinar dengan teriknya, kamipun sudah bersiap untuk balik pulang kerumah, rutinitas tiap Rahinan Kuningan sudah selesai kami laksanakan, tinggal ngiring Ida Betara Ratu Gede sane jagi lunga ke Pura Dalem Bonkeneng Tonja. Rahinan Kuningan yang jatuh pada Saniscara (Sabtu) Wuku Kuningan ini tak jauh berbeda suasananya dengan Rahinan Galungan. Jalan raya tampak lengang, karena tak sedikit umat Hindu yang melaksanakan kewajibannya sebagai numat beragama. Demikian pula kami.

Dari kejauhan suara gambelan terdengar sayup-sayup. Iramanya mengingatkan kami pada gambelan yang kerap mengiringi tarian Barong di desa kami. Dan rupanya kami tidak salah.

Canggu merupakan sebuah desa yang berada di kawasan Kabupaten Badung, salah satu desa yang masih mempertahankan tradisi ngeLawang. ngeLawang adalah sebuah garapan tari kontemporer yang banyak diilhami oleh tari Barong Ket yang keberadaannya tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Kabarnya ngeLawang ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang berkeliaran di desa setempat, menyucikan desa hingga sebagai antisipasi pertama ketika desa diserang wabah penyakit.

Sesuai arti katanya, ngeLawang dilakukan secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya atau dari satu pintu ke pintu lainnya. Di dalam tarian ini ditampilkan 2 buah barong buntut (hanya bagian depan dari barong ket) dan sebuah punggalan (topeng) barong ket.

Apa yang kami saksikan pada hari ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman yang digambarkan oleh Babad Bali tersebut. Hanya saja barong yang dipergunakan dalam tradisi ngeLawang disini adalah Barong Bangkung (berupa sosok Babi) dan bukan Barong Ket.

Kalau tidak salah beberapa hari lalu Media JawaPos dan Radar Bali sempat menurunkan liputan khusus mengenai tradisi ngeLawang yang kini sudah mulai bergeser dari tujuan utamanya. Bahkan ada beberapa kelompok (sekaha) yang kerap ngeLawang di daerah Ubud lebih tertarik menyasar Hotel dan Restaurant ketimbang rumah penduduk dengan alasan uang yang didapatkan jauh lebih banyak.

Berbicara uang, tentu kita berbicara tentang jasa. Di daerah Canggu rupanya juga demikian. ngeLawang disini tidak dilakukan dengan sukarela alias ‘ngupahin’. Ngupahin ini artinya kurang lebih seperti ‘nanggap’. Penduduk yang berminat, menghaturkan canang yang berisikan sesari (uang) dan kemudian memohon Tirta yang nantinya akan dipercikkan dihalaman rumah mereka.

Peminatnya ternyata cukup banyak terutama bagi mereka yang masih memiliki ternak peliharaan berupa babi. Kabarnya Tirta yang dimohonkan tersebut dapat juga dipercikkan pada ternak mereka untuk kesehatan dan kemakmurannya.

Mempertahankan Tradisi ngeLawang bagi kami pribadi merupakan satu nilai positif yang dapat kami perkenalkan pada MiRah GayatriDewi putri kecil kami secara langsung setiap rahinan Kuningan, bisa jadi pada generasinyalah kami bisa berharap bahwa Tradisi ini akan terus ada.

Ohya, tidak lupa PanDe Baik beserta keluarga mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Kuningan bersama Keluarga, semoga kedamaian akan selalu berada disekitar kita.

PanDe Baik mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan

4

Category : tentang KeseHaRian

Gak terasa ya ternyata hari ini sudah sibuk-sibuk lagi, padahal baru kemarin rasanya kami membuat dan memasang penjor didepan rumah. Kendati begitu, ada yang berbeda dengan suasana hari raya kali ini.

Rumah yang tak lagi ramah. Disebabkan oleh banyaknya kepentingan-kepentingan yang saling beradu dan berusaha untuk merebut kemenangan pribadi diatas kepentingan bersama. Makin banyak wajah-wajah yang tampak merenggut begitu kami melintas dan terpaku diam tak berbicara ketika kami meraih satu keberhasilan. Makin banyak manusia yang berkoar-koar mengatakan dirinya paling hebat, paling tahu dan paling berhak atas apa yang sebenarnya bukan hasil jerih payah atau milik mereka. Well, setiap orang memang diciptakan berbeda.

Melintasi jalanan Kota Denpasar yang terasa berbeda dari biasanya, mengamati wajah-wajah yang sumringah menyambut hari kemenangan Dharma dan mereka yang tampak berbondong-bondong pulang ke kampungnya membuat kami semakin miris jika mengingat rumah. Sayang memang jika di hari yang suci ini benih permusuhan kian banyak ditebar hingga ke anak dan cucu mereka. dan kami hanya bisa menghela nafas saja.

Memandang hijaunya sawah disepanjang jalan menuju Canggu, mengingatkanku pada masa remaja yang senang berkendara diatas sepeda motor demi mendapatkan cerahnya hidup dan senyum yang mengembang. Bersyukur baik teman yang aku miliki, rekan kerja hingga orang-orang yang barangkali jarang bersua malahan dengan sukarela memberikan tawa mereka sehingga hari-hari kami lalui dapat tergambar dengan indah selayaknya ikut serta merayakan kemenangan.

Pagi ini 12 Mei 2010, PanDe Baik beserta keluarga mengucapkan ‘Selamat Merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, semoga apa yang telah dirintis sejak awal secara jujur dan tetap berusaha berada di jalan yang benar, akan mendapatkan keadilan dan kebaikan. Bagaimanapun juga rekan-rekan merupakan cahaya bagi kami untuk bisa tetap berkarya dan berbagi.

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

16

Category : tentang KeseHaRian

GaLungan kuningan BLoG

…saatnya berkumpul kembali bersama sanak keluarga…

…menancapkan penjor didepan rumah…

…bersama-sama menuju pura dimana semua doa dipanjatkan…

…dari sebuah kartu pos…

beralih ke telegram indah…

sms…

blog…

dan kini facebook serta twitter…

…bukan tak mungkin sebentar lagi beralih ke Tumblr…

…hanya ingin mengucapkan…

Selamat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan beserta keluarga…

…dari Pande Baik sekeluarga

Tersisa dari Galungan

2

Category : tentang KeseHaRian

Hari raya terakhir, agaknya merupakan hari tersibuk bagi keluarga penulis, lantaran mendapatkan giliran untuk mempersiapkan sarana hingga jalannya upacara yang sekaligus menjadi piodalan dirumah penulis.

galungan-pande-1.jpg

Tiada yang lebih indah dari pada merayakannya bersama keluarga. Itu yang penulis rasakan dan nikmati. Mungkin dengan hadirnya putri kecil kami Mirah Gayatridewi, menjadikan kesibukan hari raya bertambah banyak, karena membuat kami sekeluarga bergilir menjaganya. Rasa senang yang ada rupanya mampu meredam segala penat saat upacara Galungan serta piodalan dilakukan pada rabu malam kemaren.

galungan-denpasar-1.jpg

Tak hanya kami yang merayakan Galungan penuh suka cita, tapi juga Kota Denpasar yang tampaknya tak jauh beda dengan suasana Idul Fitri, sepi lengang disetiap ruas jalannya. Mungkin bisa mengartikan bahwa sebenarnya banyaknya penduduk asli Kota Denpasar ini tak seperti yang terlihat pada hari biasa. Cuman seuprit dari aktifitas keseharian Kota Denpasar. Seakan tak peduli dengan nyamannya berkendara dijalan raya Kota Denpasar, rabu siang lalu, upacara Galungan berjalan lancar sedari jam setengah enam sore hingga pukul sepuluh malam kurang lebih.

galungan-banten.jpg

Yang paling menarik diantara semua itu tentu saja acara berebut buah dan jajan surudan banten yang ditempatkan dalam satu tempat Bale Piyasan, sehingga sanak saudara yang datang dipersilahkan mengambil sendiri apa yang ada untuk dinikmati. Penulis langsung saja mencomot beberapa kue bolu yang diiris tipis, plus jaje Uli dan Begina yang siangnya saat mengantarkan rombongan keluarga ke Pura keluarga, sudah sempat dicicipi dan ternyata uenak… J

Memang, tiada yang lebih indah dari pada merayakan Galungan bersama keluarga.

Melali Manis Galungan dan bagi THR

2

Category : tentang KeseHaRian

Sehari setelah hari raya Galungan, umat Hindu melanjutkannya dengan upacara Manis Galungan, hari dimana dimaksudkan untuk Nganyarin Pemerajan yang kemudian dilanjutkan dengan saling mengunjungi sanak saudara untuk saling memaafkan.

Penulispun sempat melalui masa kecinya dengan manis setiap Manis galungan tiba. Karena pada hari inilah yang namanya acara ‘melali’ dijamin ada plus pembagian uang THR ‘Tunjangan Hari Raya- dari orang tua juga keluarga disekitar.

manis-galungan.jpg

Entah memang sudah menjadi kebiasaan atau aturan yang tak tertulis, rutinitas setiap Manis Galungan ini senantiasa berulang setiap enam bulannya. Begitu pula kali ini.

Hanya terdapat sedikit pergeseran tujuan melali, kalo dulu saat penulis kecil, Pasar Swalayan Tiara Dewata menjadi satu-satunya tujuan pula anak-anak saat itu, lantaran arena mainan dan juga serba adanya yang mengundang keinginan, kini mulai tergerus oleh keberadaan Mc Donalds atau Kentucky FC. Tempat makan yang mengasyikkan kata keponakan penulis yang masih kecil.

Tiara Dewatapun seakan merupakan tujuan bagi mereka yang tinggal didaerah pinggiran dan luar kota Denpasar, bahkan tak jarang penulis perhatikan sampai mencarter satu truk bak untuk mengangkut puluhan anak menuju lokasi tersebut.

Sedang yang muda mudi pun semakin banyak yang memilih berkencan kedaerah pedesaan pegunungan macamnya Bedugul maupun Jati Luwih.

Aaaahhh… Kalo sekarang sih lantaran penulis udah punya Istri dan si kecil Mirah, Tujuan melali Manis Galungan pun bergeser ke rumah Mertua…

Tentu setelah melepas tiga belas uang kertas lima ribuan, untuk ketiga belas keponakan penulis yang telah berbaris rapi di depan pintu kamar. J

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

6

Category : Cinta

Gak terasa hari ini Umat Hindu sudah merayakan hari raya kemenangan ‘Dharma’ melawan ‘Adharma’, dimana pada hari ini pula keluarga kami mendapatkan giliran untuk mempersiapkan segala keperluan upacara yang akan berlangsung sedari Sugihan Jawa kmaren hingga Kuningan nanti.

Kesibukan itu pula -disamping kondangan ke Klungkung hari minggu kmaren- menjadikan kami sekeluarga berbagi tugas agar jalannya upacara dimana puncaknya jatuh pada hari ini, bisa berjalan dengan lancar dan baik. Sehingga memaksa saya tak ikut serta berpartisipasi dalam rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Bali Blogger Community dalam rangka hari Kemerdekaan kemarin di RSJ Bangli. Mohon untuk dimaklumi.

selamat-galungan.jpg

Akhirnya, saya selaku penulis dan pemilik blog ini, beserta keluarga besar PANDE Tainsiat, mengucapkan pada semua rekan yang beragama Hindu, Selamat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, mohon maaf jika selama ini ada tulisan dan kata-kata saya yang tampil dalam blog ini, ada salah dan tak berkenan dihati, serta semoga pula Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu berkenan memberikan yang terbaik bagi kita semua.

Selamat merayakannya bersama segenap keluarga dan teman-teman yang dicintai.

cuap-cuap akhir kuliah melewatkan Galungan

Category : tentang KuLiah

Memasuki akhir bulan Januari, tampaknya perkuliahan mulai gencar dilakukan seiring peringatan persyaratan administrasi minimal pertemuan sudah diberikan. Tatap muka 16x dibarengi dengan libur bareng di pertengahan Januari lalu menyebabkan pada mata kuliah yang sama diadakan hingga 2x pertemuan dalam satu minggu.Hari-hari terakhir perkuliahan sudah barang tentu mulai diisi dengan presentasi tugas-tugas yang telah dikerjakan sebelumnya.

Bersyukur menganut paham ‘celeng Galungan celeng Kuningan’ hingga pada akhir-akhir begini perasaan udah tenang, lantaran duluan nekat presentasi.

Namun penyelesaian tugas tak hanya diawali dengan presentasi mengemukakan isi tugas yang sedianya mampu mencerminkan isi dan kesungguhan akan memahami keseluruhan materi yang dibawakan, namun juga harus dicetak rapi serupa dengan konsep penyusunan Thesis berdasarkan buku panduan yang telah diberikan pada awal perkuliahan.

Tugas yang dikerjakan ada pula yang mengundang senyum lantaran pada covernya entah bermaksud memperindah ato malah bertentangan dengan konsep penyusunan Thesis, dimana menampilkan tiga lingkaran seakan mengingatkan pada logo ‘Tiga Roda’.
He… sang pemilik langsung mengumpat.

Usai perkuliahan berakhir maka ujian pun mulai dijalani satu persatu.
Akan sangat bersyukur pabila menemukan sistem ujian yang boleh dibawa pulang dengan tenggat waktu tertentu penyelesaian memberikan ruang kerja bagi otak untuk berpikir dan mencari bahan lebih jauh. Setidaknya diberi kesempatan untuk belajar lagi.

Tak semua pengajar mau seperti itu.
Ada juga yang memberikan ujian layaknya masa SD.
Jarak kursi duduk dipisah jauh antar peserta ujian, ndak boleh ngbuka buku, that’s mean otak mau tak mau sudah harus siap dengan segala bahan yang mungkin belum sempat dipelajari secara mendetail dan textbook.

Ini pula membuat pengalaman lebih banyak berbicara. Tanpa mampu lagi merogoh isi tas yang udah sengaja diisi penuh dengan buku dan diktat pegangan.

Menjawab pertanyaan sekenanya berdasarkani ngatan yang sudah terkontaminasi oleh ‘pencarian link feed bagi blog dan semoga udah bener seperti pada email terakhir atopun malah keruwetan banjir Kuta yang seakan tak pernah habis saat hujan melanda.
Sempat masuk media cetak plus televisi lo.
Berita banjirnya tapi.
Bukan isi otaknya si pegawe nan malas bikin pe er.

Bahkan sebagian besar isi otak sudah dipenuhi oleh 4 GB file video porno besutan lokal dan rata-rata gak ‘worth it’ untuk disaksikan.
Tanpa skenario maupun ketajaman gambar.
Sayang kan kalo yang ditonton cantik tapi harus full bintik gara-gara kecilnya resolusi video rekam ?
Ada juga yang diisi baru sedikit tayangan kilatnya mbak D.Persik yang kembarnya eh apanya gituh, dijawil laki-laki dan ntu orang langsung ditonjok didepan kamera.

Lho, kok malah ngelantur Bung ?

Yah, namanya juga cuap-cuap kala ngejalanin masa kuliah pasca sarjana yang pada awalnya merasa sangat tidak siap namun sudah ‘kadung belus, yah dipaksakan jua untuk dimengerti.

Balik ke soal ujian, gak jarang pula selain jarak duduk jauh, trus ‘closebook, ada juga kalo lagi iseng ngobrolin tugas ditengah ujian yang udah selesai dikerjakan, sang dosenpun mendekat dan seakan mencurigai isi obrolan sebagai sarana untuk bertukar isi ujian ato malah khawatir tujuan obrolan untuk ‘makar menjatuhkan kondisi mister smiling jenderal.
Padahal cuman memperjelas tugas yang udah ruwet eh must tulisan tangan pula.
Bayangkan kalo jawabannya harus ngebuat Time Schedule yang mungkin jauh lebih gampang kalo make MS Excel ato MS Project, ini malah digaris manual trus digambar manual pula.
Syukur-syukur ktemu tampilan kurva-S yang seksi. Nah kalo kurva-S-nya ketemu logo Supermen apa ndak pusing tuh ngerubah dari awal lagi ?
Mangkanya sekarang pertemanan udah gak lagi dengan mouse juga flesh disk tapi balik kanan dengan tip-ex penggaris dan segala macamnya itu.
(mahap kalo ejaan teknoloji-nya salah, ini salah satu efek tulisan tangan tadi. Hehe..)

Oh iya, satu tugas diakhir semester awal ini, ada juga yang ‘back to nature.
Diselesaikan dengan tulisan tangan setebel skripsi yang kalo ditumpuk tiga biji aja lumayan buat menghantar tidur bagi yang lelah menulis tangan.
Hare Gene bikin tugas nulis tangan ?
Aduh.

Rasa-rasanya ni tangan udah gak kuat lagi buat dipake ngelawar pas Penampahan Galungan kemaren. Mungkin bisa jadi salah satu sebab minimnya pasokan lawar dirumah, lantaran banyak tangan yang dimohonkan bantuannya untuk memijat hehe…
Gak nyambung banget deh lo.

Diakhir penyelesaian tugas, perayaan kecilpun dilakukan dengan menggabungkan dua kojong es krim ‘Campina kedalam satu centong besar dan dimakan hingga terasa dinginnya hingga dikepala.
Walah, apa gak makin nambah besar lingkaran perutnya dik ?

After berkutat dengan kuliah dan ujian, tibalah saatnya untuk melanjutkan perkuliahan ke semester berikut yang tentunya diawali dengan…

Senyum tipis…
saat tangan merogoh isi kantung Doraemon yang udah penuh duit rejeki dari berbagai pihak untuk disetor ke dua bank berbeda buat ngbayar SPP yang kabarnya tak gratis bagi mereka yang kuliah pasca, ah, saat Pilkada mungkin diperlukan adanya janji-janji manis untuk menggratiskan SPP bukan hanya di tingkat dasar, tapi juga hingga Pasca Sarjana.
Walah, ini mengkhayal yang mangkin ndak jelas aja deh.

Padahal sedianya ntu duit disiapin buat ngebeli laptop yang udah built in wi-fi juga ada si gigibiru.

Pembayaran yang dilakukan pada Bank terkemuka harus ternodai oleh antrean lama yang gak jelas kapan bakalan dipanggil.
Anyway kata iklan, gak ada noda ya gak belajar katanya.
Belajar apoaan seh ?

Beda jauh dengan sistem yang udah diterapkan oleh bank satunya lagi (sepertinya pula udah diposting beberapa waktu lalu) memberikan nomor antrean yang nantinya bakalan dipanggil berurutan dan boleh mengambil lagi nomor antrean seandainya terlewatkan.

– Ini hanya pengalaman pribadi aja, lantaran asyiknya ng-sms Istri sambil nunggu nomor anrtean eh, pas pesan terkirim, nomor yang tampil pada layar udah lewat jauh dengan nomor yang dipegang.
Akhirnya mengambil nomor antrean lagi diiringi dengan tatapan curiga Pak Satpam, mungkin karena tampang udah mirip-mirip para pengebom teroris yang kabar burungnya bentar lagi bakalan ditembak mati.
Tapi bentarnya itu ntah kapan. Mungkin nunggu tim pengacaranya di-azab duluan sama masyarakat yang udah jadi korbannya.
Wah, ngelantur lagi ya ?

At Last, akhir kuliah ini pula dibarengi oleh libur bersama lagi lantaran Hari Raya Galungan tiba dan seakan menegaskan untuk melupakan sejenak kejengkelan akan tugas tulis tangan atopun tragedi nahas bagi si Silver Tiger yang pagi hari ditabrak mobil kijang plat merah salah satu instansi Badan Pertanahan masih disatu wilayah kerja.
Walopun gondok lantaran si penabrak berkilah gak ngliat motor yang diparkir agak jauh dibelakang mobil saat keluar dari parkiran.
Tapi apa sebegitu bodoh dan teledornya si pengemudi saat ngebawa mobil dinas untuk pulang kampung dan urusan pribadi, lantas menyodorkan selembar kertas merah bergambar kedua Proklamator kita sembari menghindar dan gak mau menyebut alamat rumah maupun nama sendiri. Berlalu dengan cepat begitu saja. Huh ! kebiasaan pegawe pengabdi negara.

Saking emosi lantaran si Tiger terjengkang jatuh, nomor plat merah Kijang tadipun tak tercatat diingatan lagi, dipenuhi dengan kekhawatiran akan bergesernya tangki motor yang mungkin saja mampu membuat shock saat distarter nanti.

Tapi yah, mau bilang apa…
Sudah nasib.
Mungkin karena sebelumnya belum pamitan dengan Leluhur dirumah untuk menghaturkan banten di kantor masing-masing.

Anyway, biarlah si pengemudi tadi menerima karmanya sendiri nanti oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Akhirnya Selamat merayakan Hari Raya Galungan bagi yang mereka yang bersiap untuk pulang kampung atopun malah sudah membayangkan wajah bahagia anak Istri juga orang tua dirumah.
Semoga dihari yang sepi lalu lintas ini kesejukan selalu terbawa dalam setiap suasana hati penikmat-Nya.

Salam untuk orang-orang yang kau Cintai.