Bugs BlueTooth pasca Upgrade Android Nougat Samsung Galaxy A9 Pro

Category : tentang TeKnoLoGi

Jelang akhir tahun 2017, tepatnya tanggal 27 Desember lalu, ponsel mantap yang saya pegang sampai hari ini akhirnya dapat giliran upgrade OS ke versi 7.0 atau yang lumrah disebut-sebut sebagai Android N atau Nougat.
Yang meskipun merupakan sistem operasi terkini jaman now, rupanya ada juga bugs yang saya dapati ketika menjajal lebih jauh perubahan apa saja yang dibawa.
Salah satunya kaitan dengan BlueTooth dan Samsung Gear S3 Frontier, jam tangan pintar yang kini malas disambungkan lagi ke perangkat ponsel.

Pasca Upgrade dilakukan, saya termasuk kesulitan saat menyambungkan koneksi BlueTooth ke perangkat yang selama ini digunakan. Seperti Aux pada kendaraan roda empat, speaker portable rumahan, atau jam tangan pintar macamnya Samsung Gear S3 Frontier tadi. Entah apa sebabnya.

Jika dicoba berulang, koneksi tetap tidak tersambungkan, maka pilihannya ada Tiga.
Pertama ya matikan koneksi BlueTooth pada ponsel terlebih dulu lalu nyalakan ulang dan pairing kembali, lalu Dua Restart device lalu pairing ulang, dan Ketiga ya Unpair dulu lalu pairing kembali.
Ribet memang, tapi demikianlah adanya.

Hal ini jadi lebih sederhana setelah adanya Update hingga tiga kali, dimana yang terakhir kalau tidak salah pas saya lagi main ke Surabaya hari Sabtu malam kemarin. Hanya proses sambungan masih tetap harus menonaktifkan dulu baru di pairing ulang.

Bugs atau problem kedua, yaitu soal proses Pairing ponsel Samsung Galaxy A9 Pro ini dengan gadget jam tangan pintar Samsung Gear S3 Frontier yang kerap gagal meskipun satu dua hari sebelumnya sudah berhasil dilakukan dengan baik dan berhasil.
Hal ini tentu amat sangat mengganggu saat proses pengambilan data dari Gear S3 ke Samsung Health. Gear akan merespon saran untuk melakukan Reset perangkat yang artinya akan menghapus seluruh memory yang pernah tersimpan baik aktifitas keseharian, file multimedia ataupun tampilan jam yang sudah pernah diunduh sebelumnya.
Mengesalkan tentu saja.

Pernah sekali waktu saat Reset dilakukan secara manual dari Gear, dan aplikasi pada ponsel dihapus total, rupanya ada banyak pembaharuan yang didapat saat dilakukan registrasi baru baik pada ponsel maupun Gear S3. Salah satunya pilihan Custom pada wajah jam default yang dise?takan. Namun tetap saja, sehari dua setelahnya, proses Pairing gagal lagi dilakukan sehingga memaksa pengguna untuk meReset kembali perangkat Gear.

Adakah dari kalian yang mengalami hal yang sama ?

Samsung Galaxy A5 (2017) atau Asus Zenfone 3/Max ?

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Postingan berikut sebenarnya hanya menjawab pertanyaan rekan saya yang berprofesi sebagai dosen STP Nusa Dua, Made Wirautama pemilik blog imadewira, dilontarkan di group Whatsapp Bali Blogger Senin malam kemarin.

Pilih mana, Samsung Galaxy A5 (2017) atau Asus Zenfone 3 552 / Max 520 ?

Samsung Galaxy A series setau saya masuk golongan ponsel premiumnya Samsung, sedang J kalo ndak salah, masuk yang golongan terjangkau. Oleh sebab itu rata rata jualan Samsung A adalah ketahanannya terhadap debu dan air.
Dengan internal storage 32 GB dan bedaran RAM 3 GB, bagi saya pribadi sudah cukup mengingat secara aktifitas jarang menggunakan games atau aplikasi dengan kebutuhan sumber daya yang besar.
Apalagi slot eksternal card yang terpisah dengan slot Dual Sim. Artinya bisa nambah kapasitas buat belasan filem berdurasi panjang tanpa mengganggu fungsi sim 1 yang biasanya saya gunakan utk internetan (bisa diganti jika ndak berkenan dengan operator tertentu), dan sim 2 untuk disematkan nomor ponsel permanen.
Cuma ya karena kebutuhan saya saat ini adalah daya Besar. Jadi jelas jika pilihannya A5 ya langsung dicoret dari daftar…

Dibandingkan dengan Asus yang 552 (Zenfone 3) atau yang 520 (Zenfone 3 Max), yang membuat saya kurang suka jika dilihat diatas kertas dari halaman compare di gsmarena adalah keberadaan slot eksternal card yang menjadi satu dengan slot sim card 2. Jadi ya fungsinya jadi agak terbatas.
Kalian sebagai calon pengguna harus bisa memilih, mau nyimpen belasan filem tapi kartu sim card ya pake nomor permanen cuma musti puas dengan paket internet yang ada atau sebaliknya, storage terbatas tapi kartu sim bisa leluasa.
Tapi semoga saja infonya salah… jadi bisa di cek dulu secara fisik di gerai ponsel terdekat.

Lainnya sih sama saja saya lihat, cuma Zenfone baik 3 maupun Max lebih luas jaringannya. Jadi kalo mau melali ke Taiwan, India atau Brazil, Asus masih mampu dibawa ketimbang Samsung.

Kalo diminta milih diantara kedua Asus, saya tentu pilih yang Max, secara kapasitas batere lebih besar. Ya kembali pada kebutuhan utama lah…
Tapi kalo boleh milih diluar itu ya yang seri Max 3s. Ponsel milik Asus yang dirilis resmi di India dengan kapasitas baterenya yang memuaskan.
Di lapak online macam Tokopedia, ada yang jual kok, saya lihat.
Pengalaman pake Samsung Galaxy A9 Pro, sudah gak worry lagi soal batere habis di siang/sore hari. Charge kini hanya malam sekali saja. Pagi sampe malam berikutnya ya tinggal pakai.

Sayangnya lagi, dibanding Samsung A5, kedua seri Asus ndak punya sertipikat daya tahan air dan debu. Jadi kalo nyemplung ndak sengaja ya musti kering benar sebelum dinyalakan lagi.

Kira-kira begitu…

Samsung Galaxy S8 dan S8+, Sudah saatnya Ganti Ponsel ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Unbox Your Phone

Uniknya kalimat pembuka iklan video Samsung Galaxy S8 yang bisa ditemui pada halaman YouTube ini kurang lebih mengartikan ketiadaan bezel atau batas layar yang biasanya hadir dalam puluhan seri ponsel sebelumnya.
Meski bukan hal baru dalam kemajuan teknologi ponsel kekinian, namun bagi Samsung kelihatannya tidak perlu lagi menyematkan embel-embel nama ‘Edge’ pada seri Flagship yang baru diperkenalkan dalam hitungan hari.

Samsung Galaxy S8 dan S8+.
Merupakan dua ponsel terkini dari S series yang dilepas dengan layar tak terbatas berukuran 5.8″ dan 6.2″ Super AMOLED serta tombol home menyatu pada layar. Ya, berada pada area layar aktif, bukan terpisah laiknya ponsel lokal lainnya.

Hadir dengan belasan teknologi terkini yang sepertinya pernah disematkan dalam setiap ponsel flagship vendor lain, Samsung Galaxy 8 dan 8+ dibekali Dual Pixel Kamera pada punggung dan kamera depan, infonya dibekali fitur AutoFocus untuk mengenali wajah pengguna saat menginginkan foto Selfie. Menarik bukan ?

Dapur pacu tergolong wow. Prosesor Octa Core dengan RAM 4 GB dan Internal 64 GB. Meski belum secanggih seri C yang kalo ndak salah ada mengadopsi RAM hingga 6 GB, akan tetapi slot microSD yang dibenamkan rupanya terpisah dengan slot SimCard 2. Menjadi satu kelebihan apabila kalian menginginkan tambahan memory eksternal nantinya.

Ada banyak sensor yang disematkan pada bodi ponsel. Salah satu yang jadi jualan seri 8 dan 8+ ini adalah Irish Scanner atau sensor mata pengguna. Bagi saya pribadi sih ndak perlu-perlu amat, tapi bagi kalian yang memiliki data penting didalam ponsel tentu banyak manfaatnya.

Sayangnya, untuk kapasitas batere yang dibekali masuk dalam golongan menengah yaitu 3000 mAh dan 3500 mAh. Infonya sih, ponsel ini mampu bertahan selama 15 jam pada jaringan 4G yang bisa jadi dalam posisi standby ataukah pemakaian normal ? Entah ya…

Dengan harga jual yang diperkirakan berada pada kisaran 10jutaan, agaknya Samsung Galaxy S8 dan S8+ bakalan jadi pesaing tanggung iPhone 7+ yang dibesut oleh Apple, pasca kegagalan seri Note 7 yang kini kerap menjadi bahan peringatan tiap kali naik pesawat terbang. He…

Sudah saatnya ganti ponsel ?

Mengenal Samsung Galaxy J7 Prime

Category : tentang TeKnoLoGi

Infonya J series merupakan barisan ponsel yang dipersiapkan oleh Samsung untuk menyasar pangsa pasar kelas menengah ke bawah. Satu segmen terbesar saya kira, yang menjadi kontributor keuntungan vendor sejauh ini.
dan Galaxy J7 Prime merupakan varian termewah dan termahal setahu saya untuk saat ini.

Hadir dengan bodi metal, dan batere yang dapat dipisahkan, Samsung Galaxy J7 Prime bisa dibawa pulang dengan menyiapkan dana sebesar kurang lebih 4 juta rupiah untuk perangkat (3,8), screen guard (0,15) guna mencegah lengket pada layar akibat pemakaian tidak terduga, dan rubber case bening (0,05) untuk pencegahan jatuh tak sengaja.
Jikapun punya anggaran lebih, bisa mencoba eksternal memory berukuran 32 GB atau yang 64 GB sekalian.

J7 Prime merupakan salah satu barisan ponsel Android yang hadir dengan mengedepankan internal storage 32 GB dikombinasi RAM 3 GB dan prosesor Octa Core, cukup puas untuk digunakan sebagai ponsel kerja ataupun multimedia, oleh pekerja macam saya. Juga kalian tentu saja.
Mengadopsi sistem operasi versi 6 atau Android M, butuh setidaknya dua pembaharuan perangkat lunak sebelum bisa digunakan dengan optimal. Yang satu berukuran 239 MB, pembaharuan kedua cukup sekitaran 8,2 MB. Pula update berkala sekian banyak alikasi bawaan yang bisa dilakukan pasca input akun google di Play Store. Jadi kalo bisa ya lakukan di spot penyedia wifi gratisan ya…

Jeroan dalam, masuk kategori standar Samsung masa kini dimana ada opsi pilihan Theme Store, Samsung Cloud dan Smart Manager, beberapa utility tambahan yang bisa ditemukan pada Pengaturan ponsel.
Demikian halnya dengan Office Application dengan tambahan OneNote, Samsung Note ala Note series lengkap dengan custom pen pada penyajiannya dan My Samsung untuk pemahaman lebih lanjut terkait perangkat, merupakan bonus aplikasi bawaan selain Line, FaceBook dan S Health.
Khusus yang terakhir ini, baru muncul pasca pembaharuan firmware diinstalasi.

Layar depan menggunakan permukaan yang sedikit melengkung di bagian tepi, yang kalo kata orang istilah kerennya 2.5 D. Sedikit menyusahkan dibanding yang masih menggunakan layar standar, lantaran kerap tersentuh tak sengaja. Tapi ya kembali ke kebiasaan sih ya. Katrok macam saya kok rasanya sering melencengkan layar. Hehehe…
Terdapat lensa kamera sekunder dan pendeteksi cahaya minus lampu flash yang kalo nda salah dulunya ada di seri J7 (2015).

Sementara sisi belakang cenderung polos. Hanya ada lensa kamera dan lampu flash saja. Letaknya ditengah sisi atas, jadi nda akan kehalang jari tangan pas pengambilan gambar nantinya.
Kualitasnya oke. Standar Samsung lah pokoknya.

Samsung Galaxy J7 Prime, Beringas tapi Terjangkau

Category : tentang TeKnoLoGi

Minggu lalu saya sempat menurunkan postingan terkait barisan ponsel Android dengan besaran internal storage 32 GB yang mengetengahkan beberapa alternatif ponsel masa kini dipadu kecepatan RAM 2,3 dan 4 GB.
Galaxy J7 Prime adalah salah satunya.
Ponsel besutan Samsung ini hadir dengan kombinasi tengah, setara dengan ponsel Note 3 seri pertama, namun dengan harga jual yang cukup terjangkau.

Samsung Galaxy J7 Prime, hadir kalau tidak salah pada pertengahan tahun 2016 lalu sebagai suksesor seri J7 sebelumnya, yang menjual spesifikasi nyaris setengah Prime.

Dibalut bodi plastik berdesain lengkung dan mewah, Galaxy J7 Prime ini saya yakini bisa menjadi salah satu ponsel pilihan yang beringas dalam kinerjanya, lantaran mengedepankan RAM 3 GB dan internal storage 32 GB tadi.
Jika urusan penyimpanan masih jua belum cukup, slot eksternal micro sd yang terpisah dengan dual sim nano, masih mampu mendukung data hingga 256 GB. Spesifikasi ini kurang lebih serupa dengan ponsel Samsung Galaxy A9 Pro yang minggu lalu saya turunkan pula reviewnya di halaman ini.

Dengan mengandalkan prosesor delapan inti dan layar lebar 5,5″ rasanya cukup pantas menjadikan J7 Prime sebagai salah satu ponsel pilihan masa kini yang makin haus akan kebutuhan data dan juga kenikmatan operasional harian, lengkap dengan jaringan 4G yang dibenamkan pada slot di sisi kanan ponsel.
Sementara sisi atas, bersih dari tombol, lubang mic dan jack 3,5′ ataupun speaker, yang dipindahtempatkan ke sisi bawah ponsel. Jadi masih aman kalo mau diletakkan dalam posisi telentang atau tengkurap. *eh

Lalu bagaimana catatan saya terkait ponsel Samsung Galaxy J7 Prime yang dilego dengan harga 3,8 Juta ini ?
Mau tau ?
Simak di postingan berikutnya.

Berkenalan dengan Samsung Galaxy A9 Pro

Category : tentang TeKnoLoGi

Saat mata mengalihkan pandangan kepada ponsel Samsung Galaxy A9 Pro untuk pertama kalinya, rasanya memang nda ada bedanya dengan Galaxy series lain yang pernah saya miliki. Dengan visual mirip Note 4 dan 5, Samsung Galaxy A9 Pro yang dirilis pada kuartal pertama tahun 2016 lalu nyatanya punya lebar layar sekaligus dimensi ponsel yang lebih besar lagi.
Tepatnya Enam Inchi.
Uedan tenan…

Akan tetapi yang lebih menarik perhatian untuk dicermati lebih lanjut adalah soal daya tahan baterenya yang berukuran jumbo disemat pada belakang ponsel dengan konstruksi unibodi atau dengan kata lain, tak dapat dilepas sebagaimana seri lainnya.
Adapun kekuatan yang dibekali sekitaran 5.000 mAh.
Uedan kan ya ?

Dengan mengadopsi kekuatan sebesar itu maka nda heran jika persoalan daya tahan yang mampu dijabani seharian, rata-rata dalam pemakaian normal usai jam kerja masih tersisa sekitaran 50an% atau kalau dipaksa dengan penggunaan simultan bakalan menyisakan 10an% pada sore hari.
Keknya masih tergolong cukup untuk mendukung aktifitas kerja dan komunikasi lebih lanjut.

Salah satu efek samping besarnya daya tahan yang disematkan adalah berat ponsel yang cukup mengkhawatirkan apabila digenggam dengan satu tangan. Apalagi kalo sampai dioperasikan ?
Butuh keahlian tambahan untuk dapat mengakses semua sudut layar, atau kalau mau nda repot ya gunakan saja kedua tangan. He…

Jika ditilik lebih jauh lagi, bidang permukaan berkesan melengkung pada bagian pinggiran. Baik sisi depan pada layar maupun belakang punggung ponsel. Sudah begitu kedua permukaan ini sama sama dibekali Gorilla Glass yang menjadikannya jaminan mutu kualitas terbaik akan kemungkinan kemungkinan goresan tak sengaja, sekaligus penampilan yang menawan saat tak dibalut leather case dan semacamnya.
Terdapat dua penempatan slot yang berbeda pada sisi pinggiran ponsel yang didesain layaknya seri iPhone, yaitu slot eksternal storage berupa microSD dengan daya dukung hingga 256 GB, dan slot dual sim card berukuran nano dengan jaringan 4G LTE.
Satu standar baku sebuah ponsel impian sebagaimana yang pernah saya tuliskan sebelumnya.

Samsung Galaxy A9 Pro

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Tadinya saya nda berniat sedikitpun untuk menggantikan ponsel premium besutan SmartFren yang sudah dijabani sejak Oktober 2015 lalu.
Hisense PureShot+ HS L695.
Ponsel berjaringan 4G LTE dengan layar lebar dan dual slot sim card, sudah lebih dari cukup menggantikan Samsung Galaxy Note 3 yang dulu pernah saya banggakan.

Hanya saja, dalam perjalanan di akhir tahun kemarin, saat kesibukan begitu banyak, saya kerap kewalahan menangani pekerjaan sementara yang namanya ponsel sebagai satu-satunya media komunikasi dan modal kerja, tampaknya sudah nda mampu lagi melayani jam kerja saya dari pagi hingga sore hari. Perlu slot colokan listrik terdekat yang hampir selalu diganggu dengan dering telepon dan update kerjaan, sehingga memaksa ponsel harus dicabut kembali dari tempatnya berdiam diri.
Hal sama ketika digantikan dengan power bank yang pula tampak kurang nyaman saat digunakan berkomunikasi secara bersamaan.

Disamping itu pula, tampaknya kelelahan yang amat sangat pada kinerja ponsel menyebabkan keluhan-keluhan yang disampaikan terakhir terkait penggunaan ponsel Hisense PureShot+ November lalu makin menjadi.
Maka dengan mempertimbangkan beberapa hal tambahan, dihibahkanlah ponsel bongsor ini kepada Bapak yang tempo hari sempat kelabakan gegara Nokia X yang Beliau pegang mengalami Factory Reset kedua kalinya tanpa sebab.

Berbekal spesifikasi standar ponsel impian yang saya tuangkan melalui postingan Pergantian Note 3 ke PureShot+, yaitu internal storage 32 GB, RAM minimal 2 GB dan slot Dual SIM terpisah, kini musti ditambahkan satu kriteria lagi, terkait daya tahan yang lebih lama ketimbang ponsel yang pernah dipegang sebelumnya.

Maka dipilihlah Samsung Galaxy A9 Pro 2016.

Mau tau apa saja kelebihannya ?
Yuk simak di tulisan berikutnya.

Cerita Terkini tentang Pergantian ponsel dari Note 3 ke PureShot Plus

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Saat memutuskan penggantian ponsel dari brand ternama Samsung Galaxy Note 3 ke perangkat premium besutan SmartFren, Hisense Pureshot Plus HS-L695, jujur saja memang ada rasa canggung lantaran secara umum Note 3 jauh lebih nyaman untuk digunakan.
Tapi let’s see…

Setelah nyaris setahun berlalu, kini nasib ponsel Samsung Galaxy Note 3 yang dulu pernah saya banggakan kemampuannya pun tersimpan dalam box originalnya, lengkap dengan semua asesoris dalam paket penjualannya. Awal pernah terpikir untuk dilego via OLX, cuma ndak rela kalo dihargai 1/3 nya… Ndak jauh dari harga baru ponsel Hisense saat diluncurkan tahun lalu.

Samsung Galaxy Note 3 Hisense PureShot

Maka bisa dikatakan rutinitas saya dari semenjak berangkat kantor, pulang hingga tidur dan terbangun lagi keesokan harinya, ditemani hanya dengan satu ponsel, yang kemudian mengubah semua kriteria awal ponsel impian jika diberi kesempatan menggantinya kelak.

Dual SIM menjadi hal mutlak yang dipersyaratkan. Itupun slot kedua Sim Card mutlak berbeda dengan slot kartu memory eksternal dengan tujuan kemampuan penambahan kapasitas penyimpanan. Internal storage minimal 32 GB dan RAM minimal 2 GB. Biar lebih nyaman saat digunakan.
Layar lebar, tetap sama. Selebihnya ya opsional.

Meski demikian tidak berarti saya nyaman nyaman saja saat menggunakan ponsel Hisense Pureshot Plus HS-L695, jika dibandingkan dengan Samsung Galaxy Note 3 terdahulu.
Ada juga beberapa kekurangsempurnaan yang sempat saya alami dalam perjalanannya, lumayan mengganggu pola pemakaian di awal. Namun lama kelamaan, ada juga solusi yang bisa ditawarkan sebagai Tips untuk kalian, andai mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya.

Apa saja itu, simak di tulisan selanjutnya.

Meninggalkan Samsung Galaxy Note 3

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Lama menemani hari, tampaknya masa-masa indah menikmati waktu bersama Samsung Galaxy Note 3 sudah menjelang lewat.

Adalah rasa bosan yang menyebabkan ini semua terjadi. Bosan lantaran belakangan hati mulai mendua, ingin berpaling pada yang lain entah itu ponsel maupun nomor yang kini sudah mulai dikenal banyak orang.
Akan tetapi pilihan lantas jatuh pada Hisense. Ponsel besutan SmartFren yang hampir setahun terakhir jadi selingkuhan utamanya saat berada diluar jam kerja juga luar kantor.
Kebetulan pula sudah mengadopsi Dual Sim Card sehingga jadi memudahkan untuk berganti ponsel tanpa meninggalkan nomor lama sementara waktu.

Yang paling susah dari semua ini adalah Move On, mengingat dari segi kenyamanan penggunaan, Samsung Galaxy Note 3 masih jauh lebih baik ketimbang Hisense. khususnya saat berinteraksi lebih jauh dengan aplikasi Evernote, standar baku ngeBlog belakangan ini. sekedar Catatan, Hisense kerap Typo sehingga menyulitkan penulisan dalam waktu cepat. Sudah begitu ada fitur blocking kata tiap kali mau editing kata. Susyah deh pokoknya.

Tekad sudah bulat.
Ponsel Note 3 sudah terlanjur dikotakkan.
Tinggal menunggu waktu saja, apakah kelak Hisense bisa menggantikan keberadaannya atau harus balik lagi pada mantan ?
Tunggu kabar berikutnya.

Antara Samsung Galaxy Note 3, Note 3 Neo dan Hisense Pureshot+

Category : tentang TeKnoLoGi

Bingung.
Yah… kurang lebih begitu.

Perasaan ini kerap terjadi ketika hari-hari nyaman itu mulai terganggu dengan kehadiran barang baru. Eh… Gadget baru. Maaf…

Namun kebingungan ini biasanya tak akan lama jika barang eh Gadget baru maksud saya, bukan termasuk yang diinginkan atau layak menggantikan perangkat yang sudah ada sebelumnya.

Nah… trus bagaimana kalo yang datang itu barang eh Gadget baru gres dengan kemampuan mumpuni ?

Na ini… disinilah kebingungan akan selalu muncul, menghantui selama beberapa hari bahkan pekan dan bukan tidak mungkin kehadirannya menggantikan peranan yang telah ada sebelumnya.
Seperti Hisense PureShot+ kali ini.

Samsung Galaxy Note 3 Hisense PureShot

Bagi kalian yang sudah lama mengikuti beberapa postingan saya terakhir, pasti tahu dan pahamlah sejauh mana kemampuan ponsel besutan perusahaan dari China yang selama ini jadi pemasok perangkat milik SmartFren, apalagi saat dikombinasi dengan paket data True Unlimited 4G LTE yang beneran Unlimited sampe puas itu, membuat Hisense PureShot jauh lebih menjanjikan ketimbang Samsung Galaxy Note 3 Neo yang selama ini mendampingi ponsel dan nomor utama yang tersemat didalam Samsung Galaxy Note 3.

Itu sebabnya ketika mencoba satu dua kali membawa ketiga ponsel berlayar lebar ini bersamaan, sepertinya hanya Galaxy Note 3 Neo saja yang lebih banyak terabaikan. Bisa jadi secara isi jeroan yang sama persis dengan sang kakak, Note 3 rilis pertama. Maka disusunlah satu konspirasi untuk menyingkirkan Note 3 Neo secara perlahan namun pasti.

Tidak banyak dokumen maupun file multimedia yang harus dipindahkan dari Samsung Galaxy Note 3 Neo meski sudah dijejali eksternal card 64 GB, karena sebagian besar original filenya masih berada di pc kantor. Maka proses pun bisa jauh dipercepat termasuk menginstalasi beberapa aplikasi yang dahulunya hanya disuntikkan pada ponsel cadangan mengingat secara kebutuhan tidak memerlukan kecepatan saat dibutuhkan.

Begitu semua isi diduplikasi dan dipindah ke ponsel Hisense PureShot+ yang dilakukan pertama kali adalah mengubah Launcher UI nya dari Vision UI versi originalnya Hisense ke Apex Launcher yang selama ini menemani hari di sekian banyak ponsel Android yang pernah dimiliki. Selain simpel, Apex punya fitur mengunci layar desktop yang memberi keamanan dan kenyamanan saat ponsel dipegang anak-anak. Selain itu, dibutuhkan juga pengaturan tambahan penataan icon agar serupa dengan ponsel utama Samsung Galaxy Note 3. Tujuan tentu agar tak membingungkan saat menggunakan salah satu diantaranya secara bergantian.

Maka jadilah ponsel Samsung Galaxy Note 3 Neo teman setia bagi iPhone 4 CDMA yang sejak bangkrutnya Telkom Flexy lebih banyak ngijeng (baca:menunggui) di rumah ketimbang dibawa beraktifitas harian.
Rencananya sih mau di lego saja. Atau diantara kalian ada yang mau ?
He…

Keramik Pintar buatan Samsung

Category : tentang TeKnoLoGi

Era TabletPC boleh-boleh saja dikabarkan bakalan segera lewat, tergerus oleh keberadaan Phablet (layar 5-6 inchi), tapi yang namanya usaha untuk mengambil hati para konsumen bisa jadi tetap dilakukan oleh vendor kenamaan asal Korea ini. Samsung.

Apabila perkembangan selama satu bulan terakhir, infonya mereka positif merilis dua seri Galaxy Note 4 dan Galaxy Note Edge yang memiliki dua layar berbeda fungsi dengan bentukan melengkung di sisi kanan layar utama, jauh sebelumnya ternyata seri Note Pro sudah diturunkan demi mengalahkan persaingan dengan bebuyutan, Apple.

Samsung Galaxy Note Pro merupakan sebuah TabletPC dengan lebar layar aktif 12,2 inchi, yang dirilis secara resmi pada bulan Januari 2014 lalu. Menyasar segmen menengah keatas, dengan dimensi perangkat nyaris mirip dengan sepotong keramik berukuran 20×30 cm. Apalagi soal ketipisan perangkat yang hanya mencapai 8 mm saja. Makin menguatkan imajinasi akan sepotong keramik pintar buatan Samsung.

rps20140922_112700

Menggunakan dapur pacu
Berkekuatan 8 inti 2,3 GHz serta besaran Memory RAM 3 GB rasanya kebingungan juga mau dimanfaatkan untuk apa saja. Mengingatkannya setara dengan para raksasa Android yang belakangan juga hadir di blantika gadget dunia.

Sedangkan lainnya, masih sama dengan para pendahulu maupun pembaharu yang tampil dengan beda nama. Jadi ya gag usah dibahas khusus yah.

Namun jika mau disandingkan dengan yang ada, salah satu fitur baru yang berusaha disajikan dalam perangkat Samsung Galaxy Note Pro ini adalah Remote Desktop, aplikasi yang memiliki kemampuan untuk tersambung dengan perangkat PC rumahan, melalui koneksi internet sehingga penggunanya memungkinkan untuk melakukan operasi dan pekerjaan melalui tabletpc tersebut.

Selain itu urusan Note sebagaimana series yang diusung, tetap menyertakan model stylus yang sama dengan perangkat Note 3 dimana metode input ke perangkat masih menggunakan interface yang sama. Air Command. Demikian halnya dengan perwajahan desain depan yang mengadopsi tampilan ponsel, terdapat tombol sentuh Pilihan dan Back ditambah tomhol fisik untuk Home dan Multitasking.

Dengan harga jual yang nyaris 10jutaan, rasanya agak kecewa saat menemukan kenyataan bahwa Keyboard Samsung yang dijual secara terpisah, tidak mampu memberikan kepuasan dan kenyamanan penggunaan jika dibandingkan dengan perangkat tabletpc berbasis Windows 8 lainnya. Jadi ya jadikanlah pertimbangan akhir sebelum kalian memutuskan untuk membelinya.