Galau di Awal Tahun

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Akhirnya kena juga sayanya. Sandungan batu selama tiga tahun terakhir berkarya di Seksi Permukiman.
Batunya besar. Bahkan saya menggalau dibuatnya.

Tadinya saya berpikir bahwa Tahun Baru ini akan menjadi ajang balas dendam saya setelah bergulat dengan seratusan proyek Jalan Lingkungan, yang ndak memberikan sedikit pun waktu bersantai. Sayangnya Tuhan berpikiran lain. Saya kembali diuji dengan cara yang lebih keras lagi.

Pemutusan Kontrak di salah satu paket kegiatan yang jujur saja sangat saya sesalkan. Mengingat secara nilai sebetulnya ndak seberapa. Lingkup pekerjaan pun hanya dua ruas jalan lingkungan.
Tapi beban yang diakibatkan, membuat tiga hari liburan ini menjadi sangat hampa.
Dan saya tak lagi bisa berpikir dengan jernih.

Besok saya sudah didaulat pimpinan untuk segera berangkat ke Surabaya dan juga Jakarta. Mengurus semua pencairan Jaminan Pelaksanaan dan Uang Muka paket kegiatan dimaksud. Mengingat secara nilai, sudah ditebuskan lebih dulu menggunakan uang pribadi kami. Yang dipaksakan keluar tanpa ampun.
Ini seperti sebuah hukuman akan sebuah keteledoran sikap di tengah gempuran pekerjaan yang sudah dijalankan. Sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga, masih harus dibayarkan dengan harta pula. Lengkap sudah.

Maka seperti yang sudah sudah, sore inipun galau itu masih terus menghantui.
Akankah semua ujian bisa dilalui dengan baik tanpa hambatan ? Ataukah tebing dan batu terjal itu akan terus menghadang ?

Surabaya…
Jakarta.
Kelak ini akan menjadi satu cerita yang bisa saya kenang. Bahwa satu perjalanan tak lagi menyenangkan seperti sebelumnya.

Berusaha Menumbuhkan Semangat dari The Martians. Tapi Apa Mungkin ?

Category : tentang DiRi SenDiri

Terjebak dalam situasi yang memiliki kemungkinan besar akan ancaman pada diri kita memberikan dua pilihan sederhana, menyerah atau bertahan. Menyerah bisa diartikan sebagi pasrah dan tak berbuat apa-apa sembari menunggu semuanya berakhir sedang Bertahan bisa diartikan sebagai terus berusaha memecahkan setiap masalah yang dihadapi baik itu badai angin yang kelak menumbangkan segala macam benda disekitarnya atau jurang terjal yang menghadang tanpa batas.

Kurang lebih begitu makna dari sebuah filem The Martian (2015) yang dibintangi Matt Damon dalam upaya bertahan sendirian di Planet Mars. Meski sesungguhnya ya bukan di Planet Mars, dan tidak sendirian. Minimal ada banyak cast, produser dan kameramen lainnya. Akan tetapi secara alur cerita ya demikian adanya.

Jika Mark Watney sebagaimana diceritakan dalam filem tersebut berhadapan dengan angkasa luar yang bisa jadi tidak dapat diprediksi, lha saya sendiri kini sedang berhadapan dengan hukum. Yang ancamannya bukan nyawa jika dilihat jangka pendek, meski jangka panjangnya jika sampai mendekam di penjara atau diperas oknum aparat ya bisa jadi berujung pada kehilangan pekerjaan dan kematian. Ah, whatever lah.

Akan tetapi tantangan atau malah bisa jadi rintangan semacam ini memang wajar sih katanya untuk seorang pejabat, apalagi kalo yang namanya idealisme masih berusaha ditegakkan. Lurus dan jujur, rasanya sebentar lagi bakalan mulai pupus diterpa topan yang berusaha meluluhlantakkan semua energi positif yang digelorakan sejak awal menjabat. Jika tak mampu menikmatinya maka siap-siap saja pensiun dini seperti halnya satu senior saya tempo hari.

Menjadi pejabat itu hanya indah di luar. Begitu bathin saya berkata di satu malam saat kegalauan ini hadir. Pejabat hanya dielu-elukan dan dipuji saat yang bersangkutan tampil di hadapan publik dan bersikap seakan pahlawan superhero dengan segala upayanya memberi pertolongan sekalipun tak diharapkan. Usai itu semua pejabat akan dihadapkan pada tugas, kewajiban dan beban. Termasuk upaya memenuhi harapan sekian banyak pihak yang berharap mendapatkan bagian dari rejeki atau uang setan yang selama ini diyakini ada dari belasan proyek pemerintah yang menggunakan uang rakyat. Dengan dalih Hari Raya, atau Tahun Baru seperti hari ini. Jika didiamkan, akan banyak upaya lanjutan yang dilancarkan pihak-pihak tersebut sebagai pengingat si pejabat termasuk pemeriksaan-pemeriksaan formal yang sebetulnya memiliki ujung yang sama. Sedangkan jika dipenuhi, mau diambilkan dana darimana ? coba tebak ?

Sudah menjadi rahasia Umum, kata staf kami. Demikianlah resiko pejabat pak. Dimanapun ia ditempatkan.

Maka akan sangat wajar apabila sebulan terakhir, saya yang didaulat menjadi seorang pejabat sejak tahun 2013 lalu mulai merasakan hidup yang hampa lantaran semua idealisme, lurusnya pikiran dan perbuatan yang jujur dengan terpaksa harus dibuang ke tong sampah. Karena merasa sudah menjadi bagian dari bobroknya sistem pemerintah yang selama ini rajin meneriakkan ‘Tolak pada Korupsi’, namun ternyata lingkungannya sendiri yang mengajarkan dan memaksanya untuk berbuat seperti itu.

Sebetulnya gampang saja menolak untuk berkompromi sebagaimana yang dilakukan dua tahun lalu, semenjak menjabat. Akan tetapi sebagaimana tweet akun twitter @kurawa, upaya untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh pihak-pihak tertentu akan terus berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi, minimal untuk memberi tekanan dan paksaan. Apalagi jika jabatan itu didapat tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Nothing to Lose, kata orang. Tapi tetap saja itu akan membebani saat jabatan masih dipegang. Tidak hanya waktu yang dibuang percuma, tapi juga tenaga dan pikiran. Bagi yang memilih untuk kokoh pada pendirian, maka bersiap-siap saja menghabiskan semua itu dalam satu kurun waktu yang lama, dan diundur-undur.

Damn !!! Sialan memang !!! tapi inilah kenyataannya.

Dulu akun Facebook sudah menjadi korban kegalauan karena hobi memaki-maki di sosial media saat tertekan begini. Kini masih berpikir untuk menghapus satu lagi akun. Rasanya jauh lebih nikmat untuk menarik diri dari keramaian dan menikmati waktu dalam kesendirian.

Berkaca pada The Martian logikanya sih saya harus mampu bertahan, memecahkan satu demi satu masalah yang ada. Namun sayangnya, masalah yang saya hadapi bukanlah persoalan benda, teknologi atau tanaman. Ini manusia. Manusia yang dipenuhi hasrat rakus untuk memakan sesamanya, demi keinginan-keinginan yang mereka yakini ada. Padahal jaman dan rezim sudah berbeda.

Ingin meneriakkan keras di telinga mereka. URUS IBAN CI GEN MALU MU !!!

Sepultura, obat galau era kekinian

Category : tentang KeseHaRian

Lama gak menikmati musik Thrash Metal rasanya semua beban menclok di kepala hingga membuat suasana hati segalau-galaunya. Kurang lebih begitu yang dirasa Senin pagintadi saat berangkat ngantor sendirian didalam mobil, pasca begadang malam sebelumnya, mengestimasi usulan para anggota Dewan Kabupaten Badung. Tapi gak lama sih, karena begitu kendaraan masuk ke ruang henti di persimpangan Ubung, langsung saja ide untuk menyajikan video hasil unduhan minggu kemarin terwujud. dan inilah mereka.
Sepultura.

Sepultura PanDeBaik

Refuse/Resist… Arise… Altered State… hingga Choke, video official mereka satu persatu hadir dengan volume membahana. Sengaja membuka kaca pintu kendaraan agar musik sedashyat ini bisa dinikmati oleh banyak orang yang lalu lalang menyalip laju atau berhenti di lampu merah. Selain memang sedang ingin menikmati teriknya matahari pagi di sepanjang perjalanan menuju kantor.

Saya mengenal Sepultura tepatnya saat album Arise dirilis. Adalah Mangku, kawan masa SMA yang sering saya tumpangi berangkat sekolah selalu memutar kaset dengan audio yang membuat degub jantung meloncat keluar dada, bolak balik hingga saat pulang sekalipun. Alhasil, selera musik yang awalnya hanya berkonsentrasi di sosok Iwan Fals, harus berpindah paksa ke dentuman drum Igor Cavalera dan auman sang kakak Max Cavalera. Dua sosok yang pada era kekinian sudah gak lagi hadir menyandang nama Sepultura.

Max setahu saya diganti pada album Againt itu, sedang Igor entah kapan. Taunya ya kaget gitu, eh kok jauh lebih muda nih drummernya.
Pantes saja kalo kedua mantan personil ini hadir di live concert-nya NailBomb. Grup sempalannya Sepultura yang punya ke-khas-an musik laiknya album terakhir mereka Chaos AD dan best mix jaman itu.

Berhubung kenal dan mengikuti perjalanan mereka sejak album pertama hingga Against, maka praktis karya musisi kelahiran Brazil ini gak banyak yang saya tahu pasca album tersebut diedarkan.
Bahkan untuk album bernuansa warna kuning ini saja, gak semua lagu saya hafal.
Tapi sudahlah. Toh beberapa musik video dan juga live concert hasil unduhan ini lebih banyak membawakan reportoar album lama. Jadi nikmati saja.

Mari ber-headbang kawan…

Ruang Tamu, 7.47 PM

Category : tentang DiRi SenDiri

…Satu satu daun berguguran …Jatuh ke bumi dimakan usia
…Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
…Redalah reda

…Satu satu tunas muda bersemi …Mengisi hidup gantikan yang tua
…Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
…Redalah reda

…denting piano kala -jemari menari …nada merambat pelan di kesunyian malam …saat datang rintik hujan bersama setiap bayang
…yang pernah terlupakan

…Karena lapar kucing hutan menerkam tikus salju …Tikus salju malah mendapatkan teman
…Kucing hutan yang gagal gagal lagi …Tikus salju biasa saja sudah nasibnya selamat

…Dari balik bukit dikaki cemara
…Aku melihat mulut harimau berlumuran darah
…Kucing hutan yang gagal ia terkapar
Akhirnya mati

Dunia Belum Kiamat

1

Category : tentang PeKerJaan

Terkadang saya ingin tahu apa yang sekiranya ada dalam kepala dan pikiran mereka yang tersangkut kasus korupsi dan memang benar dilakukan. Tetap kukuh meyakinkan diri tidak bersalah sehingga masih bisa mengumbar senyum walau sudah berada dalam tahanan ataukah malah bergemuruh dan berusaha membayar aparat untuk memperingan vonis serta masa hukuman mereka ?

dan Terkadang saya juga ingin tahu bagaimana isi kepala dan pikiran orang-orang yang sudah sedemikian berusaha untuk berlaku jujur dan bekerja, namun akibat tidak mau bekerja sama dalam memelihara aparat ataupun media yang memiliki kepentingan lalu memeras, lalu dijatuhkan sedemikian rupake jurang yang terdalam ? Apakah mereka masih tetap teguh dan tabah bahwa kelak Tuhan akan memberikan jalan yang adil bagi umat-NYA, serta berharap yang namanya Karmapala tidak akan tidur, ataukah harus merasa khawatir akan masa depan juga keluarganya yang telah mati-matian ia jaga martabatnya ?

Ketika kemudian usaha untuk bekerja itu diusik dan disangkakan sama dengan model ‘bekerja’ terdahulu, lalu berharap  akan mendapatkan sesuatu dari usaha  pemerasan, namun karena tidak mendapat tanggapan, kemudian marah dan makin menjadi, kira kira apakah isi kepala dan pikiran mereka dalam hal ini aparat atau media yang memulai dan terlibat didalamnya ?

Tak habis pikir memang…

Jika saja semua dijalankan sesuai aturan, tidak ada titipan ataupun permintaan hanya karena berbaju aparat lalu bisa memaksa, saya yakin kesadaran untuk berbuat yang terbaik itu muncul dengan sendirinya. Hanya saja sayang, tidak semua bisa sama begitu pemikirannya. Maka ya tidak heran kalau kemudian semua disamaratakan.

Kini, Saya hanya bisa menunggu waktu. Merasa sudah berbuat yang Terbaik, namun karena tidak memuaskan semua pihak (dengan cara dan jalan yang benar), rasanya ya tinggal dipasrahkan saja. Jikapun kemudian hal buruk terjadi, minimal suara saya kali ini bisa membuka mata kalian semua.

Galau Malam Minggu

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Meh… kanti jam segini belum jua kena aer mandi sejak pagi tadi… masih asyik mindahin beberapa video buat bekal si cantik senin nanti. Kini ia sudah bisa minta tambahan materi baru di tabletpc Samsung Galaxy Tab 7+ hasil hibah beberapa bulan lalu. Mintanya sederhana, video musik anak anak atau yang ada gambar anak anaknya.

Menggalau nih ceritanya…

Apa boleh buat, rencana kami untuk melaksanakan Best Practise, salah satu agenda Diklat PIM IV yang sudah dilakoni sejak tanggal 5 Mei lalu, kini sudah masuk ke tahap III, dan mau gag mau ya harus ikut ambil bagian sebagai bahan tambahan tugas dan ujian Juli nanti.

Sesuai keputusan, kami akan mampir ke Palembang… Sumatera… errr… *cek Google…

Selatan. Kota terbesar kedua di tanah Sumatera katanya. Info dari panitia Diklat, suasananya mirip-mirip Kota Denpasar, cuma sedikit lebih bersih *uhuk

Palembang akan jadi sasaran kami selama satu minggu kedepan. Kalo gag salah, locus yang akan kami sasar ada Perijinan… DKP… dan… apa yah ? He… lupa. Ntar saya liat lagi di buku catatan…

Berkaitan dengan itu, maka sudah sewajarnya lah saya jadi menggalau di malam minggu ini. Malam yang katanya si Jamal Mirdad, malam yang asyik buat pacaran itu. Tapi yah apa mau dikata… aseli saya harus meninggalkan tiga bidadari cantik dirumah selama semingguan itu. Ealah… yang kemarin pulang setiap malam aja masih suka kangen, apalagi ini…

Apalagi tadi itu sempat bobok’in si Intan, anak wewek yang punya hobi macam anak wowok itu. Antengnya dia kalo sudah ditemani bobok… meski kadang suka bikin jengkel kalo sudah keluar cerewetnya itu :p *tapi dijamin tetep sayang dan ngangeni.

Sedang Mirah, tadi sore sempat nagih janji dibikinin spagetthi, dan terkabul. Dan Istri, sudah dapat jatah kemarin. Eh… bagi kalian yang masih dibawah 17 tahun agar dilewatkan kalimat terakhir tadi. Awas loh ditanya tanya lagi…

Yang bikin sedikit tambah galau apalagi kalo bukan tugas RPPnya. Yang sejak pulang kemarin belum disentuh sentuh buat Revisi. Maafkan saya pak Coach… *siapa tau mampir kesini* janji deh besok saya lanjutKen bagian-bagian yang belum selesai. Tapi mohon mbok ya dikoreksi dulu email saya terakhir ya. Hehehe…

Diluar itu, kadar galaunya bisa dibilang gag ngaruh banyak. Apalagi soal kemana kemana nya. Toh di Palembang gag ada yang namanya Stadium… jadi ngikut aja kemana kawan melangkah *ehem

The Adjustment Bureau

Category : tentang DiRi SenDiri

Film yang tayang di GlobalTV pukul 10 malam akhir Februari lalu, merupakan salah satu film favorit yang masih ada dalam daftar pun harddisk eksternal kini. Film yang kurang lebih mengisahkan tentang kelompok semacam Men In Black yang bertugas untuk meyakinkan bahwa segala sesuatu hal yang terjadi, akan terjadi sesuai dengan rencana (baca: takdir terbaik yang diharapkan).

Jadi ketika di objek sasaran mengalami hal yang sebenarnya dianggap hanya kebetulan biasa, namun berpotensi mengarahkan nasib ke jalur yang tak diharapkan, maka tim inilah yang akan bertindak dengan cara apapun untuk bisa mengembalikan semua menjadi normal kembali.

Alur kisah ini sebenarnya sejalan dengan film JFK atau pembunuhan John F Kennedy, presiden Amerika yang tidak sepaham dengan dilaksanakannya perang dan tentu saja perdagangan senjata, dimana dalam perburuan fakta terkait kisah, sang hakim bertemu dengan salah satu tokoh yang menyebabkan terjadinya perang atau konflik di tiap negara, termasuk Indonesia. Ini menjadi familiar ketika kedua plot dikaitkan benang merahnya dan kaget, bahwa jalan cerita sehebat itu bisa dibuat oleh para kreator film luar negeri sana.

Oke, saya tidak akan mencemooh kasus per kasus film lokal Indonesia yang masih saja suka berkutat dengan persoalan horor dan selangkangan, akan tetapi pernahkah kita berpikir apakah semua hal bodoh atau sejarah yang terjadi di Indonesia adalah hasil kerja mereka semua ? Para kelompok Adjustment Bureau atau bahkan para spionase kelas satu sebagaimana yang dikisahkan dalam JFK ? *paranoid ? 🙂

Tapi ah, ini hanya bayangan intermezo saja, namun jika itu benar… maka alangkah bodohnya kita yang hingga kini masih saja berkubang di soal haram dan halalnya satu tindakan atau perbuatan atau iming-iming masuk sorga padahal saya yakin tak satupun dari kita berharap bakalan masuk sorga esok pagi. Biarlah itu menjadi urusan pribadi dengan Tuhan.

Aduh… kok jadi kemana-mana nih ngalor ngidulnya. Padahal tadi diawal hanya ingin bercerita bahwa kisah yang ingin disampaikan dalam alur the Adjustment Bureau sebenarnya adalah hal yang amazing untuk dinikmati secara lebih intens. Apakah ada yang paham dengan maksud saya ?

*jikapun ada, mungkin sudah saatnya kalian dibawa ke psikiater. Karena jujur saja, saya sendiripun masih kebingunan mau cerita bagaimana. Hehehe…

Galau Pagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Ketika vonis itu datang, sejuta makian seakan mengutuk diriku sendiri terhadap kebodohanku dalam berpikir, berkata dan bersikap selama tiga bulan terakhir ini. Semua kacau akibat ulahku…

Untuk sesaat aku hanya bisa terdiam mendengar amarah yang keluar dari hati seorang pimpinan yang selama ini aku hormati dan segani, berlanjut pada penyesalan panjang tanpa mampu memejamkan mata lagi…

Kenapa harus aku ?

…..

namun kapan lagi ?

Ya, kapan lagi ?

Mengingat kata-kata terakhir sebelum Beliau memaklumiku, sejenak aku mengamininya… kapan lagi…

Kapan lagi aku bisa mengalami kesulitan besar seperti ini ? Terasa fatal lantaran banyak orang yang terusik hanya gara-gara pergantian yang kualami, tanpa rencana.

Kapan lagi kesempatan itu hadir untuk memberikanku pukulan dan hantaman yang bahkan membuatku diam tak berkata-kata.

Karena memang tak mudah menghadapi dan menyelesaikan semua kenyataan pahit dalam waktu singkat…

Aku pasrahkan saja semuanya, dan memang itulah hal yang kerap aku lakukan selama ini. Terpenting, aku sudah berusaha memahami semampuku. Jikapun salah, aku tak segan untuk mengakuinya. Bahkan pada siapapun yang hadir dihadapanku.

Kini aku hanya bisa berharap, apa yang sudah lewat bisa kuperbaiki perlahan seiring berjalannya waktu, meski tak mampu sempurna seperti dahulu…

(ruang Permukiman, Dinas Cipta Karya, 30 Juli 2013)