Semangkuk Mie Ayam dan Free Wi-fi

20

Category : tentang KHayaLan

Tergelitik membaca blog dari rekan Blogger milik Bli Ian dkk, yang kecewa dengan pelayanan Orange Bakery atas banner guede Free Wi-fi-nya yang musti bayar sangu 25 ribu dulu per orang. Dimana ntu tempat merupakan salah satu favorit dari seorang rekan kerja, Bli Oka Parmana buat nge-net menggunakan laptop barunya.

Cerita itu pula membuat penulis makin tertantang buat nyobain fitur Wi-fi yang ada di PDA O2 Atom kmaren, lantaran berkali-kali dicoba disepanjang Jalan Kamboja (yang katanya ada free Wi-fi-nya), tetep gak berhasil. Yang terdeteksi malah Hot-spot-ne Tiara Kuta, tapi gak bisa dipake browsing, sampe-sampe agak-agak curiga dengan fitur Wi-fi milik ni PDA, Jangan-jangan malah boongan

Maka hari Rabu malam, sepulang kuliah awal semester ketiga ini (mumpung masih jam 7an), penulis menyempatkan diri mampir ke Warnet yang ada fasilitas Wi-finya, terdekat dari kampus, yaitu Rainet disebelah utara Masjid An-Nur jalan Diponegoro. Resminya sih, tarif Wi-fi disini per-jamnya kena charge kalo ndak salah 4ribuan. Tapi penulis memilih tempat dikomputer biasa (dengan tarif 2ribuan untuk tiga puluh menit pertama) sambil diam-diam mengaktifkan Wi-fi di PDA sekedar ingin tau bisa disambungin apa enggak. Eh, ternyata bisa.

Ohya, kenapa penulis memilih tempat ini karena cuman Warnet inilah yang memberikan akses Wi-Fi tanpa harus memasukkan kode password seperti halnya Warung Kopi Renon ataupun Warnet di Tanjung Bungkak. Maka waktu tiga puluh menitan pun dilewati dengan nyobain akses internet via Wi-fi (nengok blog sendiri, penasaran tampangnya kayak apa dilayar PDA yang seuprit) sambil berlagak sibuk Blog Walking ke beberapa rekan Blogger, kayak Om Anton, Om Wira dan Pak Dokter Cock.

pande-blog.jpg

Nah, blom usai jatah tersebut, penulis memilih out dari Warnet sembari membayar tarif 2 ribu tadi dan dengan pedenya melangkah keluar menuju rombong penjual Mie Tek-tek yang kebetulan bersebelahan dengan Warnet ini. Tentu tetap melanjutkan aktifitas browsing sambil nungguin mie siap saji. Ternyata aksesnya masih tetep kuat, dan tetep diam-diam.

Gak nyangka, selama setengah jam penulis berhasil nyobain internet kesana kemari menggunakan akses Wi-fi curian ini sambil menyantap semangkuk Mie Ayam. Jadi mengkhayal, besok-besok nyobain lagi gak ya ?

semangkuk-mie.jpg

Hanya saja perbuatan tercela ini, mengingatkan penulis pada berita di koran Jawa Pos tempo hari dihalaman depan, perihal hasil survey yang mengatakan bahwa sekelompok orang pernah melakukan pencurian koneksi internet secara diam-diam. Wah wah wah… sepertinya hasil survey tersebut jadi bertambah satu lagi nih, jumlahnya.

Secara gak langsung pula penulis agak mempertanyakan embel-embel ‘Baik’ yang penulis gunakan selama ini. Semoga cukup malam ini saja nama penulis berubah menjadi Pande (tidak) Baik. He… Kayak posting AXIS aja nih.