Mengunduh Masa Lalu lewat archive.org

Category : tentang TeKnoLoGi

Bisa dikatakan saya adalah orang yang begitu suka mengingat masa lalu meski hanya momen-momen tertentu saja. Utamanya yang memang pernah berkesan atau malah hanya menjadi impian, tak pernah tergapai.
Maka bersyukur sekali ketika era Jaman Now ada pengobat rindu dan dahaga akan masa lalu yang bisa ditengok demi menghilangkan rasa penasaran yang pernah ada.

archive.org

Ini adalah sebuah halaman web berisikan ribuan bahkan jutaan data yang pernah ada di masa lalu. Masih tersimpan dengan baik dalam format digital, dan dapat diunduh serta dinikmati kapan saja.
Dari buku, majalah, film, tayangan televisi, bahkan audio musik lokal dan internasional, semua bisa ditemukan disini selama yang namanya Kuota Data masih tersedia.
Bahkan bisa dikatakan sebagai gabungan dari semua halaman penitipan file dan portal berbagi di seluruh dunia. Dalam berbagai bahasa.

Sangat menarik, mengingat di halaman archive.org ini saya bisa bernostalgia kembali dengan game-game lawas yang dahulu bisa dimainkan dalam format DOS, kini dibantu emulatornya, jadi geli sendiri saat mengingat-ingat kembali cara bermain bahkan kode cheat yang masih bisa diingat.
Atau menemukan belasan album lawas artis luar negeri yang tempo hari hanya bisa saya nikmati lewat aplikasi musik Spotify tentu dengan harga berlangganan yang cukup mahal setiap bulannya. Lewat halaman ini saya bisa menikmatinya dengan gratis bahkan memiliki kopian file fisiknya.
Pula membaca banyak buku dan komik yang sebetulnya sudah lama diburu, meski ada juga jejak jejak yang diharapkan bisa muncul dari hasil pencarian yang ada.

Asyiknya lagi, opsi pengunduhan ada dalam pilihan satu persatu sesuai keinginan mau ambil yang mana saja, atau sekaligus seluruhnya bilamana persoalan jaringan dan kuota data juga penyimpanan bukan lagi menjadi satu masalah.
Maka jadilah hari-hari saya belakangan ini disibukkan dengan membaca kembali informasi lawas yang dulu barangkali tidak pernah terpikirkan, atau mengingat-ingat semua rasa dan cerita yang pernah ada, untuk dikisahkan lagi pada anak-anak.

Namun demikian, ada juga sebagian kecil informasi yang tidak bisa diunduh dan dimiliki, sebagaimana halnya sebuah perpustakaan. Untuk kategori ini kalian bisa ‘meminjamnya’ dalam kurun waktu tertentu, dengan syarat mutlak memiliki akun terlebih dahulu.
Opsi ini biasanya muncul ketika berurusan dengan koleksi yang tergolong baru atau edisi terbatas.

Cara pencarian cukup mudah, yaitu dengan mengetikkan kata kunci yang diinginkan pada kolom pencarian, lalu terdapat opsi filter guna mengerucutkan hasil pencarian yang lebih spesifik baik jenis materi yang diinginkan (buku, film, musik atau lainnya), bahasa, maupun hal lain yang terkait. Banyak membantu sebagai referensi tambahan saat sedang senggang menunggu.

Ada banyak hal yang bisa didapatkan dari halaman archive.org yang berhasil saya unduh tiap pagi hari demi memanfaatkan kuota malam dari kartu jaringan internet yang digunakan seperti Babad Pande atau buku Mahabrata karya Nyoman S Pendit, koleksi manga karya Adachi Mitsuru yang seabrek jumlahnya, hingga buku novel Dilan, Gola Gong bahkan karya Biografi Tokoh Ternama pun ada.
Kalian gak tertarik ?

Ada Apa Dengan Cinta ? #2

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

April 2016, kalo nda salah film ini tayang resmi di Indonesia. Buah karya Mira Lesmana setelah melewati 14 tahun masa penantian.
Selang delapan bulan, akhirnya bisa jua menikmatinya langsung dari layar ponsel. Lupa, tempo hari dapat unduhan dari mana.
Seingat saya, bukan dari halaman lokal mengingat subtitle yang ada menggunakan bahasa Melayu.

Sinopsis ataupun jalan cerita, bisa baca di halaman Wikipedia. Cukup lengkap meski penerjemahannya agak aneh menurut saya. Tapi sudah mewakili kok.
Jadi saya ndak akan cerita lebih lanjut soal ini.

Untuk bisa Menikmati Sekuel atau kisah lanjutan Ada Apa Dengan Cinta yang dihadirkan pada tahun 2002 silam, mirip kek menanti kiriman ponsel Google Pixel.
Musti cari-cari ke banyak link, halaman penyedia film gratisan di dunia maya, namun yang dijumpai hanyalah sejumlah janji palsu. Meskipun pada akhirnya dapat, ya memang musti ditebus oleh darah dan air mata. Hehehe…

Tahun 2002. Saya lupa saat itu saya ada dimana.
Keknya masih berkutat dengan aplikasi AutoCad 2000 di sejumlah Konsultan seantero Kota Denpasar.
Waktu itu malah nda kepikiran mau nonton film, lantaran status masih Jomblo.
Kalo ndak salah sih ya.

Tahun 2016. Secara niat sebetulnya besar. Tapi situasi keknya nda mendukung untuk nonton di bioskop, secara waktu juga sudah nda sempat lagi.
Maka ya upaya pencarian link unduhan, sangat didamba sejak awal. dan seperti yang sudah saya sampaikan di awal, hasilnya cuma janji-janji palsu dimana yang ditemukan rata-rata video iklan aplikasi Line, yang diulang-ulang sepanjang 2 jam lamanya. Kampret memang.

Puas. dan Hebat.
Sang Produser emang keren.
Terlepas dari dukungan teknologi Drone masa kini yang membuat produksi film jadi lebih mudah dalam mengambil gambar, saya suka semuanya. Alur cerita yang mudah dipahami, eksplorasi budaya dan objek wisata yang tak biasa, hingga CLBK yang diharapkan ya emang kek nanggung dan digantung gitu demi kesopanan dan moral cerita yang diangkat.
Tentu akan berbeda alur jika film ini diproduksi oleh para produser Shitnetron atau film horror lokal dengan jualan paha dan dada seksi. Bisa jadi bukan indahnya alam dan dialog yang didapat, tapi full adegan ranjang. Ups… Maaf.

Butuh waktu berkali-kali untuk bisa menyerap semua detail yang ditawarkan sepanjang film. Itu pula salah satu keuntungan bisa menikmatinya melalui layar ponsel. Mau dimulai dari adegan mana pun, ya asik asik aja. Selain pula mampu membendung air mata yang tadinya diancam turun oleh salah satu staf saya di kantor. He…

Menonton Ada Apa Dengan Cinta ? #2 sedikit banyak mengingatkan saya pada dua film atau produksi lain yang melibatkan sang aktor utama, Nicholas Saputra diluar Ada Apa Dengan Cinta (2002), yaitu Gie (2005) diproduksi oleh Produser dan Sutradara yang sama, dan Nic & Mar (2015) yang menjadi bagian dari mobile drama aplikasi Line.
Demikian halnya versi AADC.
Kental banget suasana dan karakternya.

Entah apakah hanya perasaan saya saja, yang menilai bahwa Ada Apa Dengan Cinta ? #2 ini mirip banget kesannya dengan Gie, saat dialog Rangga dan Cinta yang menggunakan Ejaan baku bahasa kita, Indonesia. atau aksi Rangga di New York yang segaris dengan Nic & Mar. Entah ya menurut kalian…

dan sangat wajar, bila Ada Apa Dengan Cinta ? #2 bisa jadi pengobat rindu mereka, generasi remaja kelahiran 80/90an, yang dulu kental dan akrab dengan buku, novel dan surat cinta, kini beralih pada email, sms bahkan aplikasi semacam Line, untuk menjalani kisah cinta masing-masing sebagaimana yang dilakoni Rangga dan Cinta.
Sayapun tak malu untuk mengakui bahwa Ada Apa Dengan Cinta ? #2 pada akhirnya merupakan salah satu film favorit saya hingga kini masih saya simpan dalam storage ponsel untuk dinikmati saat pikiran dan suasana hati dalam posisi menggalau.
Cukup ampuh untuk mengobati segala kerinduan pada kekasih hati, saat jauh.

Bagaimana menurut kalian ?

DeadPool, menertawai aksi kocak, horor dan film yang kacau

1

Category : tentang KeseHaRian

Ah, untuk yang satu ini saya memang bingung harusnya memulai cerita darimana.
Tapi DeadPool, film pecahan dari karya apik X-Men, kelihatannya memang bukan diperuntukkan bagi anak-anak sebagaimana halnya beberapa Trailer dan poster di awal kemunculannya.
Jadi memang salah besar jika kalian mengajak anak-anak serta dalam ruang bioskop hanya untuk mengetahui aksi kocak Wade Wilson, yang pada akhirnya, katanya sih ya, malah menyesal banget dengan jalan ceritanya yang horor, bunuh bunuhan sadis, penggal kepala hingga darah dimana mana.

Overall, ini film memang kacau menurut saya.
Tapi yah, disitulah asyiknya.

Jujur, rasanya memang saya belum pernah merasakan aksi ngikik spontan saat Wade bertamu ke rumah Kumpulan *eh dua tokoh X-Men, dan mengatai si kecil.
Kampret benar pokoknya.

Sudah begitu, saya suka pas adegan si supir taksi Dophinder dinasehati DeadPool dihadapan dua tokoh X-Men tadi tapi sambil berbisik mendukung aksinya membalas dendam pada rival cintanya.

Fuck !!! Film ini awesome…

Sebenernya sih saya sudah lama tahu dan paham jalan ceritanya.
Kalo ndak salah pas waktu edisi masih berembel-embel Cam atau HDRip.

Eh, situ jangan niru saya ya. Dan ini bukan aksi mengajak kalian untuk ambil film bajakan, karena disini saya hanya menjelaskan.
Tapi kalo dibandingkan edisi terkini yang sudag berformat Bluray, memang jauh lebih nyaman ditonton baik gambar maupun suaranya.
Jadi kali ini memang jauh lebih enjoy menertawainya ketimbang dulu.

Menikmati komedi Simon Pegg untuk suasana hati yang lebih ringan

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Beberapa tahun terakhir, yang namanya film memang lagi hangat-hangatnya untuk ditunggui. Cuma karena topiknya agak-agak monoton gitu, saya pribadi ndak terlalu menanti. Super hero ataupun stori yang diangkat dari games macamnya Warcraft maupun Angry Bird, sukses dihapus dari daftar putar di layar ponsel, dan diganti dengan beberapa genre komedi yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dibintangi aktor Inggris Simon Pegg yang saya kenal pertama kali melalui film Run Fatboy Run, How to Lose Friends & Alienate People pun jadi pilihan sementara pasca Hot Fuzz, Paul dan Shaun of The Dead. Yang ditandemkan dengan partner setianya, si tembem Nick Frost.
Rata rata sih kayaknya ini film bukan termasuk Box Office, tapi karena ceritanya mudah dicerna meski ada juga yang sedikit absurd, jadi enak ditontonnya.

Simon Pegg PanDe Baik

How to Lose berkisah tentang yang dulunya dianggap Nobody berangsur jadi Somebody.
Run Fatboy Run kalo ndak salah ingat tentang tekad untuk terus berusaha meyakinkan sang mantan pacar pasca ketidakmampuannya membuktikan keseriusan sebelumnya.
Hot Fuzz tentang polisi super talenta yang resah di pindahtugaskan ke desa yang terlihat aman tentram dari luarnya.
Paul tentang Alien, dan Shaun of The Dead itu plesetan Zombie dari House of the Dead.

Gak banyak sih harapan saya sebenarnya pasca menikmati film film macam ini. Tapi minimal ya bisa meringankan suasana hati di tengah kejenuhan kerja dan rutinitas. Rasanya siy cukup…

Chef dan Burnt, Hanya Mencoba Membunuh Bosan

Category : tentang KeseHaRian

Entah sudah kali ke berapa saya mengeluhkan soal kepenatan dan jenuh yang saya rasakan sejauh ini. Baik atas beban kerja, rutinitas dan persoalan sosial yang seolah tiada habisnya.
Maka ketika itu sudah mencapai puncak dari segala yang dirasakan, sepertinya sudah saatnya untuk menikmati tontonan baru disela kesibukan dan kebosanan yang melanda.

Adalah Chef (2014) film bertemakan soal masakan, masak dan memasak yang dibintangi oleh supirnya Iron Man, dimana berdaulat sekaligus sebagai sutradaranya, maaf saya lupa namanya, yang sejak awal dikisahkan sebagai seorang koki sebuah restoran ternama penuh kekangan dari sang pemilik hingga nyaris tak pernah mengeksplorasi kemampuannya untuk para penikmat lainnya. Kalo ndak salah paham sih, upaya coba cobanya hanya dilakukan saat hari terang sebelum usaha restoran dibuka. Itupun hanya dinikmati oleh asisten koki.
Masalah hadir saat kritikus masakan hadir dan menyampaikan ketidakpuasan yang bersangkutan atas kesamaan menu sang koki selama sepuluh tahun terakhir.
Makin menjadi saat si koki berkenalan dengan akun twitter melalui sang anak dan menganggapnya sebagai personal akun sebagaimana laiknya sms, dimana pesan yang dikirimkan hanya bisa dibaca oleh si penerima. Hehehe…
Maka usai mengacaukan semuanya, si koki pun banting setir berjualan dijalanan menggunakan konsep Food Truck atas bantuan si Iron Man yang disini diceritakan berperan sebagai mantan suami sang mantan pacar/istri koki.

Ceritanya ringan dan berjalan tanpa ada klimaks pasca marah marahnya si Koki pada kritikus yang direkam pengunjung restoran dan menjadi viral di YouTube.
Bagi kalian yang tumbuh besar di era Internet masa kini, yakin banget gak bakalan kesulitan mengikutinya kok.

Chef Burnt PanDe Baik 9

Lalu ada Burnt (2015), kisah sekumpulan koki seperjuangan yang dibintangi Bradley Cooper, sebelumnya beken lewat film Hangover. Menjadi seorang Adam Jones, koki ternama kota Paris yang tenggelam dalam narkoba dan kini mencoba kembali meraih kesuksesannya di London.
Jika Chef berkisah soal perjalanan koki turun ke jalanan dari kota satu ke kota lain mengeksplorasi kemampuannya mengkreasi fast food pinggiran, Burnt lebih pada persoalan mengemas tampilan sajian menu untuk dapat meraih bintang penilaian yang lebih tinggi dari para kritikus makanan. Selain persaingan antar koki seperjuangan itu.
Sedikit lebih berat, tapi lumayanlah untuk membunuh rasa bosan yang ada.

Satu hal yang dapat dipetik dari Chef maupun Burnt adalah soal kegigihan berusaha, yang seharusnya sih juga ada dalam rutinitas dan pekerjaan yang saya geluti. Tapi yah… Perjalanan saya kan bukan film, yang ending storynya belum tentu bisa happy macam itu.
Hmmm…

Unduh Film (bajakan) yuk lewat layarkaca21.tv

4

Category : tentang iLMu tamBahan

Ha… kelihatannya tulisan kali ini masih ndak jauh-jauh dari konten bajakan. Konten yang jika diketahui oleh Google, dijamin AdSense yang terpasang di halaman Blog kalian, akan langsung di-banned tanpa ampun. Termasuk halaman ini yang pada akhirnya tak mendapat ijin pemuatan lantaran menulis banyak materi dengan isi yang sama.
Bajakan.

Sementara itu, upaya pencarian film (bajakan) yang selama ini rajin dihunting melalui halaman Torrent, baik yang diunduh dengan menggunakan client semacam BitTorrent ataupun FileStream untuk jaringan yang memblokirnya, kini ada alternatif bagus selain Ganool atau halaman semacamnya.

Main aja ke halaman layarkaca21.tv

Dulu kalo ndak salah halaman ini masih menggunakan domain dot com. Entah kenapa bisa berubah ke domain dot tv. Mungkin nanti kalian bisa mengkonfirmasi langsung ke pemiliknya.

Halaman layarkaca21.tv ini menyajikan cukup banyak koleksi film dari berbagai kategori cerita, tahun rilis hingga yang masuk dalam kelompok short movie atau film pendek. Asyik dah pokoknya.

Sudah gitu, film yang nantinya akan diunduh sudah termasuk subtitlenya juga. Jadi kita ndak lagi susah payah mencari padanan teks Indonesianya di halaman lain, me-Rename dan mengcopasnya di folder yang sama seperti perburuan lewat Torrent.
Trus, di halaman unduhannya bisa dipilih juga resolusi film yang ingin diunduh, dari 360p, 420p, 720p hingga High Resolutions 1080p. Makin besar resolusinya, makin besar pula ukuran filenya.
Jika kalian masih bermasalah dengan Kuota, bisa pilih yang 420p dengan ukuran sekitar 700an MB per satu film durasi penuh.

Untuk mengunduhnya bisa memanfaatkan browser, atau IDM untuk kecepatan yang lebih baik.

Tapi eits, opsi Unduhan hanya untuk pengguna sekelas saya yang masih pelit membuang kuota data internet loh ya. Sedang bagi kalian yang punya kuota melimpah, berlebih, dan punya banyak waktu luang untuk menontonnya secara streaming juga bisa. Tinggal mainkan saja tanpa masuk ke halaman unduhan.

Sayangnya, di halaman layarkaca21.tv ini baik dalam tampilan desktop maupun mobile, sama-sama dijejali banyak iklan. Kalo ndak ingin salah pencet, tunggu aja dulu hingga halaman berhenti berproses. Karena kalo asal pencet, yang muncul biasanya malahan pop up iklan yang sisi positifnya memang akan memberikan benefit pada pemilik halaman.
Persoalan lainnya, entah memang bawaan browser atau halaman terkait, saat diakses melalui layar Android, tiap kali berupaya melakukan ‘copy link address’ untuk dapat mengunduh file film menggunakan aplikasi download client, kerap kali memunculkan halaman tab baru yang mengatakan bahwa ponsel kita dipenuhi dengan virus dan meminta agar tidak menutup lalu klik OK.
Kalo sudah begini, saran saya abaikan saja, pilih Nomor urut Tab pada browser lalu tutup Tab yang menampilkan notifikasi ini, dan ulang kembali aktifitas unduhannya dari awal.

Kira kira begitu.

Eh, Seandainya saja halaman ini ditutup kelak oleh Kominfo atau lainnya, mohon dibagi alamat siluman lain yang memberikan akses unduh film (bajakan) serupa ya. Jangan pelit info loh.
Hehehe…

Monster Naoki Urasawa, Kelam dan Mencekam

Category : tentang InSPiRasi

Ada 70an episode yang tersimpan rapi di ponsel Hisense sedari awal tahun 2016 lalu. Hasil perburuan online. Sebuah anime menarik karya Naoki Urasawa. Baru terselesaikan sekitar 60an hingga hari ini. Rentang waktu yang lama.

Cerita tentang pelarian dokter Tenma, ahli bedah otak yang memulai karir cemerlangnya di sebuah rumah sakit wilayah Jerman. Tersandung gegara mengikuti kata hatinya yang tercabik lantaran sebelumnya hanya mengikuti perintah sang direktur. Sebuah cerita yang kelam dan mencekam melanjutkan kisahnya satu demi satu.

Ada banyak hal yang bisa dipetik.

Bagaimana sesungguhnya sebuah perjuangan untuk membuktikan ketidakbersalahannya dalam upaya pantang menyerah. Meskipun mengorbankan banyak nyawa orang-orang yang terlibat di sekelilingnya. Mengungkap sebuah misteri yang selama ini didengar dari kisah Jerman dari sudut pandang dunia.

Berat memang untuk bisa menyelesaikan semua kisahnya dalam sekali waktu. Minimal dengan membaca kisahnya dalam lembaran komik, tinggal mencocokkan alurnya saja saat menontonnya dalam bentuk goresan animasi.

Entah kapan saya bisa menyelesaikannya.

Belanja Film, sekedar ingin tahu aja sih ya…

Category : tentang TeKnoLoGi

Angan untuk mencoba sebenarnya sudah cukup lama. Tapi baru terealisasinya kini ya karena baru nemu opsi harga yang terjangkau dan menarik meski secara filem yang ditawarkan, sudah pernah ditonton berkali-kali.

ID4, Independence Day.
Dengan harga 8ribuan rupiah, film berkualitas HD ini ditawarkan sebagai headline Google Movies pada setiap perangkat Android dimanapun mereka berada. Murah bukan ?
Anggap saja lagi beli DvD bajakan.

PanDe Baik Movies Google

Proses pembelian, sama cepatnya dengan pembelian aplikasi. Gak ribet. Cuma potong pulsa untuk operator XL/Axis. Begitu selesai, kita sudah bisa menonton filem yang dibeli secara streaming tanpa jeda. Dengan subtitle yang bisa dipilih jenis bahasanya.

Jikapun malas menontonnya dalam sekali waktu, filem bisa diunduh dan kita dapat menontonnya lain kali, dalam kondisi offline jaringan internet. Dengan menggunakan koneksi 4G LTE nya SmartFren, filem dengan resolusi standar yang berukuran sekitar 690 MB dilahap dalam waktu tak sampai setengah jam. Sedang saat dicoba unduh dengan paket koneksi IndiHome, hingha lima menit menunggupun rasanya belum ada progress yang berarti.
Coba tanya kenapa ?

Upaya membeli sebuah filem dari pasar aplikasi milik Google untuk setiap perangkat Android dimanapun kalian berada sebenarnya hanyalah iseng belaka. Hanya ingin tau dan berharap ada pengalaman yang bisa dipetik dan dibagikan.
Ternyata gampang banget prosesnya.
Menarik bukan ?

Kalian mau coba ?

Menikmati Hasil Buruan

1

Category : tentang KeseHaRian

Akhir Desember tahun kemarin saya masih menyempatkan diri untuk bertransaksi di halaman belanja online TokoPedia untuk mencari beberapa film anime berseri yang saya ketahui ternyata ada bersubtitle Indonesia. Bukan bermaksud malas belajar bahasa asing, tapi lantaran bahasa ori-nya adalah Jepang. Didengar berapa kalipun ndak bakalan paham jalan ceritanya, meski sudah pernah baca cerita komik sampe tamat sekalipun.

Anime yang dimaksud itu ada Monster yang postingan terkait pernah ditulis di halaman blog ini, trus Dragon Ball 42 buku yang diblokir KPI itu, dan Detektif Q. Sayangnya Kindaici dan Kenji belum ditemukan. Coba kalo ada…

PanDe Baik 6

Nah ceritanya sedari awal tahun 2016 disela kerjaan kantor, saya mulai menontonnya satu persatu. Meskipun file dimaksud saya copy pula di perangkat ponsel, namun sepertinya lebih seru menonton anime series ini di layar pc yang lebih besar. Hemat batere. He… Selain itu ya alasan utamanya lantaran Teks atau Subtitle nya ndak mau terlihat/tampil kalo ditonton melalui layar ponsel. Entah kenapa.

Asyik juga loh. dan kalo nanti ada tambahan rejeki lagi, Jadi pengen berburu Anime lainnya. Semoga macam The Pitcher atau karyanya Mitsuru itu bisa nemu lagi di kiosannya TokoPedia. He…

64 Filem dan 64 GB

Category : tentang KeseHaRian

Hiburan adalah mutlak. Apalagi saat kesibukan itu menjadi rutinitas yang terkadang menjadi sangat membosankan. Maka tidak ada salahnya jika disela itu semua, hiburan digelar untuk memulihkan suasana kerja atau malah suasana hati agar tak menggalau berkelanjutan yang malah akan menurunkan produktifitas keseharian.
Salah satu hiburan yang saya pribadi nikmati adalah menonton filem.

Jika dahulu aktifitas menonton filem itu bisa dilakoni sembari menulis (faktanya mengetik tuts keyboard) di layar pc ataupun notebook, kini serupa aktifitas blogging yang dijalani empat tahun terakhir, sudah semuanya berpindah perangkat ke layar kecil ponsel. Ribet ? Gak juga…

Malah aksi untuk menonton filem melalui layar ponsel memiliki keasyikan atau sisi positif tersendiri. Diantaranya bisa dilakukan kapanpun, dimanapun dan dalam situasi apapun. Termasuk rapat kerja yang membosankan atau malah menemani perjalanan saat berangkat maupun pulang kantor.

Dengan adanya akses internet gratis di area kantor puspem Badung, rasanya eman kalo ndak dimanfaatkan dengan baik, salah satunya ya mengunduh filem yang diinginkan dan memindahkannya ke perangkat ponsel yang digunakan. Tentu, untuk bisa menampung belasan bahkan kini berkembang menjadi puluhan, satu-satunya cara paling praktis yang bisa dilakukan adalah menambah kapasitas daya tampung eksternal card, dari 16 GB ke 32 dan kini menjadi 64 GB.

Namun besarnya kapasitas daya tampung, akan mubazir apabila diisi dengan puluhan filem berukuran raksasa dihitung satuan Megabytes. Jika begini ya wajar kalau secara jumlah total filem yang bisa dijadikan alternatif hiburan agak terbatas. Bila dibandingkan dengan Trik yang kini mulai dilakukan meskipun harus mengorbankan sedikit kepuasan yang ada sebelumnya. Yaitu mengunduh filem dengan resolusi rendah yang disediakan sejumlah halaman di dunia maya yang tentu saja berstatus Ilegal.

PanDeBaik

Maka, dengan melaksanakan Tips diatas kurang lebih ada sekitaran 60an filem siap tonton berada di perangkat Samsung Galaxy Note 3, belum termasuk puluhan video lainnya yang masuk dalam kategori Live Music HD atau iklan komersial produk gadget terkini. Itupun masih menyisakan kapasitas sebesar belasan Megabytes yang sengaja disisakan untuk berjaga-jaga apabila kawan lain memiliki jenis file serupa yang pula menarik untuk dinikmati.

Jadi, jika kalian berminat untuk menontonnya pula di layar ponsel yang digunakan saat ini, siapkan saja kabel microusb plus flash disk untuk melakukan penggandaan file apabila bersua saya di jalan nanti.
Sebagai gambaran, beberapa filem baru yang masih disimpan hingga saat ini ada :
– Men, Women & Children
– Fast Furious 7
– Avengers 2
– Cinderella
– Minions
– Ted
dan lainnya.

Men, Women & Children

Category : tentang InSPiRasi

Ini adalah sebuah kisah bagaimana internet dan dunia maya memporakporandakan kehidupan keluarga, bahkan bisa jadi keluarga kita kelak.

Kurang lebih begitu yang tersirat dalam benak saya saat menonton filem drama karya om Jason Reitman. Hal yang sama disampaikan pula oleh mas Anton Muhajir lewat akun twitternya @antonemus yang menjadi awal penasaran mencari lalu mengunduhnya. Menohok.

Men-Women-Children-1

Kisah dimulai dengan satu prolog tentang perjalanan pesawat Voyager, yang menjelajah angkasa buah karya NASA menjadikannya pula selingan diantara kisah manusia yang ada. Inspirasi salah satu tokoh didalamnya yang memilih untuk meninggalkan olahraga American Football-nya ditengah kegalauan keluarga ambang perceraian.

Ada banyak kisah yang digambarkan satu persatu setelahnya. Remaja tanggung yang mulai mengenal seks, eksploitasi gambar tubuh seorang anak oleh ibunya dengan dalih modeling dan diperjualbelikan, upaya proteksi anak dari pergaulan dunia maya, hingga percobaan affair yang dilakukan sepasang suami istri yang mendambakan ‘sesuatu’ yang tak dimiliki pasangannya. Semua terangkum dan saling terhubung layaknya kisah ‘Love Actually’ yang pula menyinggung secuplik kisah kaitan dengan 9/11.

Film Bagus.

Saya sampai kehabisan kata-kata saat menyadari bahwa apa yang digambarkan dalam film Men, Women & Children yang menampilkan aktor Adam Sandler ini, mutlak sama dengan apa yang pernah saya lakukan sedari sepuluh tahun lalu. Asyik dalam dunia maya dan bercengkrama bersama teman melalui layar ponsel ataupun tablet, bahkan mencoba-coba mengakses halaman porno dan menikmatinya. Meski tak sampai menjalin hubungan affair.

Namun ada kekhawatiran saya sebagai orang tua dari tiga anak gadis yang kelak bertumbuh kembang dan bukan tidak mungkin menjadi salah satu dari sekian banyak karakter yang ada, lebih memilih berinteraksi sosial melalui layar perangkat ketimbang berbicara dengan kawannya yang ada di seberang meja. Yah, ini semua resiko dari kemajuan teknologi itu sendiri.

Sebagaimana yang pernah saya katakan pula sebelumnya tentang teknologi, internet atau bahkan sosial media dan chat pertemanan itu sendiri, semua bagaikan pisau bermata dua. Akan mendatangkan hasil yang positif apabila kita bijak menggunakannya, dan sebaliknya akan mendatangkan bencana ketika kita salah melangkah didalamnya.

Tidak mempercayai begitu saja informasi yang beredar di dunia maya pula menjadi satu hal penting tergambar didalam film ini. Sangat riskan terutama bagi mereka yang baru mengenal dunia maya.

Kalian yang suka berkunjung kemari dan memiliki akun sosial media lebih dari satu dan aktif menggunakannya, saya yakin bakalan suka dengan alur cerita dan makna yang terkandung didalamnya. Jadi hati-hati…