One BLoG Wonder ; BLoG CaLeG

8

Category : tentang Opini

Masa kampanye sudah lewat…. Hasil Pemilu guna memilih para Wakil Rakyat yang bakalan duduk di kursi empukpun sudah bisa diketahui. Tampaknya apa yang diramalkan banyak orang terjadi sudah.

Dari ribuan CaLeG yang tidak lolos mulai menampakkan sifat asli mereka. Ambisius dan mau menang sendiri, mudah putus asa atau malahan gak peduli lagi. Entah sudah berapa kali media baik televisi, koran hingga BLoG mengungkap dan mengulas masalah ini. Cerita tentang para CaLeG yang stress gara-gara tidak terpilih menjadi Wakil Rakyat, padahal entah berapa uang dikeluarkan untuk me-dharmasuaka, menyumbang hingga serangan fajar.

Memang sih, hare gene kaya’nya udah basi banget kalo masih saja ngomongin mereka (para CaLeG yang gak lolos ke kursi empuk), jadi saya coba mengulasnya dari sudut pandang lain, yaitu keberadaan BLoG para CaLeG yang dahulu barangkali begitu gencar digunakan sebagai salah satu alternatif kampanye via dunia maya.

Keberadaan BLoG yang dibuat oleh para CaLeG maupun pendukungnya ini ada yang masih memakai account gratisan alias numpang baik di WordPress maupun BloGspot, ada juga yang sudah berdiri sendiri alias memakai jasa Hosting.

Setelah hunting ke beberapa web site resmi parpolpun, ternyata ada juga CaLeG yang mengklaim sudah memiliki alamat sebagai web resmi mereka, padahal itu merupakan account email. Huhuhuhu…. Sepertinya mereka harus mengoreksi lagi alamat tersebut deh….

Mengapa saya begitu ingin mencari tahu, berhubung rata-rata BLoG yang mereka (CaLeg) buat itu digunakan sebagai sarana kampanye, mengiklankan diri sendiri, memperkenalkan visi dan misi juga memohon dukungan, dengan menyertakan beberapa ‘jasa’ mereka pada lingkungan masyarakatnya. Tak lupa deretan gelar yang entah didapat dengan benar atau hanya dengan membayar.

Tentu saja gambaran yang disajikan pada BLoG mereka ini hanya yang baik-baik saja, terkait kegiatan mereka, sambutan masyarakat akan kunjungan mereka atau pendapat dari orang-orang tertentu, entah itu kerabat ataukah orang yang dibayar. He…

Sayangnya, begitu pemilu usai dan hasilnya sudah dapat diterka, beberapa BLoG yang dahulunya sempat aktif menampung aspirasi dan dukungan, kini malahan terkatung-katung gak jelas nasibnya. Rata-rata posting terakhir yang saya lihat adalah akhir tahun 2008 lalu atau per bulan Januari kmaren.

Mandegnya isi BLoG mereka ini bisa disebabkan oleh minimnya ide maupun konsep yang bisa diceritakan atau diungkap dalam BLoG, malasnya melakukan update lantaran gak ada yang berkunjung, atau malah sudah merasa cukup membuat satu dua tulisan dan membiarkannya berkembang sendiri. He….

Untuk yang terakhir diatas kok malah mengingatkan saya dengan BLoG sang Caddy Rani Juliani. Hanya saja, untuk kasus ini BLoG sang Caddy walaupun hanya menyajikan dua buah tulisan, namun mampu mengeruk kunjungan hingga angka 370ribu dan komentar hingga seribuan pertulisannya. Barangkali para CaLeg bisa meniru SEO yang dilakukan Rani Juliani jika menginginkan BLoG mereka mengalami hal yang sama. He….

Bagi yang numpang account gratisan mungkin masih mending, kalopun mereka mau ya tinggal menghapusnya saja. Sebaliknya bagi yang menumpang jasa hosting tentu saja bisa dikatakan mubazir dan membuang uang, apalagi jika hasil yang diharapkan tidak tercapai.

Lagi-lagi Sayangnya Perilaku para CaLeG ini ya sama saja dengan sikap mereka terhadap baliho ataupun selebaran yang ditempel sembarangan. Dibiarkan saja tak terurus. Jadilah BLoG mereka ini sampah di dunia maya yang oleh pemilik resminya (WordPress atau BloGSpot) pula dibiarkan begitu saja. Ah, seandainya saja ada cara untuk memantau/sweeping alamat BLoG yang lama tak terurus, barangkali akan menemukan banyak ‘one BLoG Wonder’ (meminjam istilah ‘One HIT Wonder’ –sebutan bagi artis/grup musik yang hanya mampu melahirkan satu buah hit lagu sepanjang karirnya-).

Berikut daftar beberapa BLoG yang termasuk dalam kategori ‘One BLoG Wonder’ ala para CaLeG negeri ini…. :
> http://calegbali2009.wordpress.com/about/ ; ini masih adek kelas SMA loh. :p
> http://eddymarsono.blogspot.com/
> http://pg-watch.blogspot.com/
> http://restianrick.wordpress.com/
> http://faizalforsumsel.wordpress.com/
> http://yo-h-nes.com/index.php
> http://fransiscakuntagpandi.blogspot.com/
> http://www.sumandiwidjaja-pib.com/
> http://rakiangafur.blogspot.com/
> http://www.japtocenter.org/portal/index.php
> http://rachbini.com/

Sedangkan yang berikut ini adalah seorang CaLeG yang mengklaim sebuah alamat (email) sebagai alamat Web Site Resminya, silahkan lihat pada halaman account Facebook  http://www.facebook.com/profile.php?id=1247225219
Ibu ini mencantumkan alamat berikut sebagai alamat web :  http://[email protected]

Yah, terlepas dari segala macam alasan yang barangkali membuat BloG-BLoG para CaLeG tersebut tak lagi ter-update, saya tak menutup kemungkinan hal yang sama juga terjadi pada account Facebook yang mereka miliki. Saya sendiri tak menceritakannya disini, lantaran pra-pemilu lalu saya melakukan bersih-bersih daftar teman, yang membuat beberapa teman harus out dari daftar yang saya miliki. Termasuk para CaLeG….

Terima Kasih sudah menggunakan Hak Pilih Anda dengan Baik

9

Category : tentang Opini

Akhirnya jadi juga saya ikut serta dalam Pemilu 9 April yang sedianya digunakan sebagai ajang pemilihan para Wakil Rakyat, wakil yang diharapkan mampu menyuarakan aspirasi pula memperjuangkan nasib kita sebagai rakyat kecil. Begitu kira-kira Teorinya.


Padahal, kalo diingat-ingat, beberapa waktu lalu saya masih memutuskan untuk memilih semuanya, alias GoLput. Atas dasar pemikiran bahwa yang maju dalam PilCaLeg kali ini rata-rata adalah orang yang saya kenal sebagai saudara dan mereka semua datang memohon dukungan. Trus yang mana dong harus saya pilih kalo gitu ?

Setelah dipikir matang-matang, ‘mengapa pula saya harus ikutan GoLput ?’ Padahal saya telah diberikan mandat dan kewenangan untuk ikut serta dalam menentukan nasib Bangsa ini kelak ? Saya katakan begitu, karena nama saya dan keluarga telah tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap tanpa ada keluhan apa-apa. Lantas siapa lagi yang bakalan dipercaya untuk menentukannya kalau bukan Kita ?

Kamis pagi 9 April, pada TPS (Tempat Pemungutan Suara) dimana kami mendapatkan kesempatan itu, tampak antusiasme warga untuk berpartisipasi dan ikut dalam Pesta Demokrasi kali ini. Ohya, untuk daerah kami, ada 5 TPS yang disediakan untuk menampung ratusan jumlah warga yang ada. Antusiasme itu bisa dilihat dari berbondong-bondongnya warga menuju tempat TPS masing-masing sesuai DPT, bahkan hingga jelang jam penutupan tibapun warga masih ada yang datang dan ikut antre menunggu giliran.

Bersyukur kebijakan dari Ketua KPPS untuk memperpanjang waktu ‘pencontrengan’ disetujui oleh para Saksi yang hadir, dengan alasan bahwa warga atau Peserta yang datang memang berasal dari Daftar yang ada dan belum menggunakan hak pilihnya.

Bersyukur pula bahwa hingga penutupan waktu pencontrengan, tidak ada kejadian atau insiden yang berarti, baik itu perkelahian hingga bentrok antar warga seperti yang diberitakan pada media televisi beberapa saat lalu. Hanya ada sedikit aura persaingan sebagai konsekuensi dari pencalonan 3-4 warga untuk memperebutkan ‘kursi’ yang sama.

Terlepas dari hasil akhir yang baru akan diketahui nanti malam atau besok pagi, sebagian besar alasan Warga untuk tidak ikutan GoLput seperti halnya isu yang santer terdengar adalah, berusaha memilih orang (CaLeg) yang kelak dianggap (minimal) mampu membantu warga saat dilanda kesulitan. Menghindari agar nantinya orang (CaLeg) yang tidak dikehendaki bisa tampil naik dan mengobok-obok ‘kursi’ yang diharapkan.


Sebagian lainnya yang merasa pesimis dengan daftar CaLeg yang ada, lebih memilih untuk mencontreng Partai ketimbang nama CaLeg dan menyerahkan kebijakan penggunaan suara yang didapatkan kepada para pimpinan ParPoL.

Walau begitu, ada juga beberapa Warga yang punya alasan unik untuk tetap ikut serta berpartisipasi dalam ‘pencontrengan’ ini. Seperti bentuk syukur atas pengangkatan status dirinya sebagai PNS pada periode kepempinan Presiden kali ini, ada juga yang merasa optimis dengan tiga kalinya penurunan harga BBM. (bukannya sebelum itu naik tiga kali juga ? He…)

Ada juga Warga yang mengutip kata-kata Dalang CenkBLonk dalam salah satu video cd-nya, bahwa ‘kalo kita memutuskan untuk GoLput, kita gak boleh ikutan protes seandainya terjadi apa-apa kelak dalam kebijakan yang diambil oleh petinggi negeri ini. Wong kita gak mau ikutan memilih, jadi tidak bisa ikutan memiliki hasil yang didapatkan nanti’. Kira-kira begitu maknanya.

Yah, apapun alasan Warga untuk berusaha ikut hadir dan menggunakan hak pilihnya hari ini, setidaknya saya secara pribadi merasa bersyukur dan berterima kasih untuk tidak ikut serta menaikkan angka GoLput di negeri ini. Minimal ada perubahan yang bisa diharapkan untuk lima tahun kedepan.

> Seorang teman bertanya pada saya atas status yang saya ambil untuk hari ini, bahwa “Orang yang memilih untuk GOLPUT adalah PENGECUT”. Bagaimana seandainya jika keinginan memilihnya tinggi, tapi gak terdaftar dalam DPT ? apakah GoLput kategori ini adalah seorang Pengecut juga ? <

Tentu saja tidak. Gak Mau Ikut Memilih itu BERBEDA dengan Gak Bisa Ikut Memilih. Bedanya, ya pencantuman nama pada Daftar Pemilih Tetap itu. Orang yang sudah diberikan hak pilih, orang yang diberikan kesempatan untuk ikut memilih oleh Negara, tapi gak mau ikut serta untuk menetapkan pilihannya dengan sejuta alasan klise tapi tetap menuntut perubahan dan menganggap dirinyalah yang paling benar, tentu saja berbeda dengan apa yang dialami oleh teman saya tersebut.

Trus, biar mereka itu ndak memilih untuk GoLput (istilah kerennya : ‘Memilih Untuk Tidak Memilih’), maunya apalagi coba ? He….

Mencomot kata-kata Dalang CenkBLonk…. “Napi Kirang ? Napi Tuna ? Pang Ken Ken Buin ?”

Mohon Maaf bagi mereka yang tidak berkenan.

SeLamat berjuang untuk ParpoL dan para CaLeg

5

Category : tentang Opini

Terhitung besok pagi jutaan rakyat Indonesia ini akan mencoba menentukan nasibnya sendiri dalam jangka 5 tahun kedepan. Apakah akan memiliki para Wakil yang berani dan mampu memperjuangkan nasib mereka dihadapan pembesar negeri, ataukah akan bernasib sama dengan waktu-waktu lalu, lebih cenderung menuntut agar mereka ‘dihargai’ dan memilih plesiran ke luar negeri berbalut studi banding ?

Hari ini adalah hari terakhir dalam fase Minggu (masa) Tenang. Masa dimana ratusan hingga ribuan baliho, spanduk, poster, selebaran atau apapun itu namanya, yang dahulunya menghiasi wajah kota, perempatan jalan, batang pohon hingga tembok disepanjang jalan, dengan segera di’enyah’kan dari pandangan mata masyarakat.

Memang harus disadari, bahwa tak semua para CaLeg maupun ParpoL bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk menurunkan sarana kampanye yang masih saja menampilkan wajah penuh senyum manis padahal beberapa minggu belakangan negeri ini tertimpa bencana dan kecelakaan. Lumayan membuat senyum saya tersungging sinis dan berharap semoga saja ‘Rakyat tidak memilih mereka yang belum duduk saja sudah tidak tahu aturan, bagaimana kalo sudah duduk di kursi Rakyat ?’Seperti biasanya pula, sebagian Rakyat sudah bisa menebak akan adanya ‘Serangan Fajar’ atau pe de ka te (pendekatan) yang dilakukan oleh ParpoL ataupun para CaLeg pada masyarakat sekitarnya, hingga lingkup masyarakat yang diharapkan bersedia memberikan suara mereka, dengan imbalan tertentu.

Bukan rahasia lagi, jika pada hari-hari biasa seorang CaLeg barangkali tak pernah menyapa lingkungannya, memberikan suara hingga sedikit keberuntungannya pada masyarakat sekitarnya, kini mendadak ramah dan rela meluangkan waktunya untuk mendatangi satu persatu anggota atau tokoh masyarakat demi sebuah kata, Dukungan.

Seperti yang dialami beberapa rekan dua tiga hari ini, satu dua orang datang kerumah beralasan sudah lama tak berkunjung, sekedar ingin ngobrol dan akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya apalagi kalo bukan minta dukungan atas pencalonannya menjadi CaLeg parpol tertentu. Kebetulan ada diantara rekan yang menjadi sesepuh pada salah satu Parpol besar di negeri ini.

Ada yang terang-terangan menyampaikan maksud lengkap dengan amplop tipis (berisikan satu lembar uang biru atau plastik merah) diperuntukkan bagi setiap orang yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap daerah setempat, tergantung pada tingkat kewenangan orang tersebut mempengaruhi lingkungannya.


Sayangnya, ketika ditanyakan komitmen apa yang diharapkan setelah si CaLeg pulang nanti, padahal bukan tak mungkin ada dua atau tiga CaLeg yang memberikan ‘imbalan’ sama nantinya, amplop tersebut ditarik kembali dan sang CaLeg berjanji akan memberikannya usai pencontrengan jika kami memilihnya besok. Huh, bagaimana bisa dia tahu kalo kami memilihnya atau tidak ???

Ada banyak jalan atau cara yang dilakukan untuk mendapatkan suara pemilih selain serangan amplop eh fajar tadi.

Saya pribadi mendadak menerima SMS dari mantan pemimpin negeri ini, masuk ke nomor ponsel dan dua nomor lagi yang mengkhusus saya pakai untuk internetan. Memohon dukungan untuk memilih ParPoL mereka demi sebuah cita-cita dan harapan, ‘harga sembako murah’, ‘pemerintahan yang baru’ dsb…

Beberapa saudara malah menerima kartu ucapan, yang nama tujuannya ditulis asal-asalan oleh dua ParpoL besar negeri ini, mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi dan embel-embel tentu saja memohon dukungan.

Tak hanya itu, seperti yang telah diketahui di sejumlah media televisi, bahwa tak sedikit dari ParPoL yang mengklaim bahwa berkat partai mereka-lah negeri ini bisa maju dalam bidang ini itu. Bahkan ada pula yang lucu dan menggelikan. Padahal sebelumnya sang Pimpinan ParPoL mengkritik pembangian BLT (Bantuan Langsung Tunai) pada Rakyat Miskin, mengatakan bahwa Rakyat yang bersedia menerima ‘tidak memiliki harga diri’, namun belakangan ber-manuver meminta para ‘bawahannya’ mengawasi pembagian BLT agar sampai dengan baik. Terakhir tentu saja tayangan iklan ParPoL mengklaim bahwa partai mereka telah berhasil mengawasi BLT sampai pada yang berhak dengan baik. Huh !

Terlepas dari akal licik, manuver atau trik politik yang dilakukan oleh ParPoL maupun para CaLeg di negeri ini, PanDe Baik selaku masyarakat Indonesia hanya bisa mengucapkan ‘SeLamat berjuang bagi kalian semua’ untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari sebagian besar Rakyat negeri ini, menentukan arah dan nasib bangsa kelak. Jangan lupa bahwa ketidakpuasan rakyat akan tetap ada akan kualitas dan kinerja kalian (ParPoL dan para CaLeg), diwakili oleh mereka yang ‘memilih untuk tidak memilih’ alias GoLPut.

Itu sebabnya, jika menginginkan bahwa pada periode mendatang angka GoLPut berkurang, perbaikilah kinerja juga perilaku kalian pasca pemilihan nanti. Jangan lagi ada plesiran ke luar negeri yang berbalut Studi Banding, jangan lagi ada yang absen rapat paripurna dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan memperjuangkan nasib rakyat, jangan lagi sakit gigi saat segepok uang hadir didepan mata dan baru bersuara vokal menjelang sesaat menjelang lengser, apalagi memberikan pendapat yang melenceng dari topik yang dibicarakan.

Jadilah WakiL RakYat yang memihak RakYat, agar kami tak menyesal kelak, telah menitipkan suara kami pada kalian….

Tiang Ngayah Dengan Pamrih

7

Category : tentang SKetSa

Sebetulnya poster dibawah ini hanyalah bahan ndagelan antar teman kantor saja.


BeLiau yang ada dalam gambar poster diatas adalah rekan kerja saya dikantor. Keberadaannya bisa dikatakan tergolong paling senior diantara kami seruangan. Nama BeLiau, Ida Bagus Gde Arjana, seorang Tokoh Masyarakat yang disegani didaerah asalnya, MambaL AbiansemaL Kabupaten Badung.

Secara kebetulan BeLiau ini merasakan “kekaguman” yang sama dengan yang saya alami, saat mengamati poster, baliho hingga iklan-iklan para Caleg maupun Calon DPD disepanjang jalan Kota Denpasar juga Badung.

“Kagum” pada kenekatan mereka memajang wajah Narsis diri sendiri, lengkap dengan pesan moral yang sangat Narsis pula. Mengagung-agungkan diri, mengaku paling jujur, paling beda atau paling mengutamakan hati nurani dan mengatakan bahwa ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’.

Padahal dalam hati kecil saya dan BeLiau ini, berharap sekali ada Caleg ataupun Calon DPD yang sebentar lagi bakalan maju tempur, berkata jujur apa adanya kepada masyarakat pemilihnya. Minimal mengataan ‘yang sebenarnya’.

Maka saya pun ditunjuk oleh BeLiau ini untuk menjadi Tim Sukses pencalonannya maju sebagai Calon Anggota DPD BALI NO.1.

INGAT ! Bukan Calon Anggota DPD BALI pada No.Urut 1 seperti yang ada pada tulisan saya sebelumnya, tapi Calon Anggota DPD BALI NO.1.

He… ambisinya beda. Pokoke yang paling TOP. Nomor 1….

Lengkap dengan gaya khas yang lagi tred beberapa bulan belakangan ini ‘nyakupang tangan’, plus latar belakang yang khas Bali, yaitu Meru. Kostumnya sendiri ya dadakan, jadi gak perlu sampe dirias segala dengan pakaian adat Bali, cukup seragam PNS per hari dimana saat saya diminta untuk membuatkan BeLiau ini sebuah poster, dan…. harus jadi hari itu juga..

Tak lupa menambahkan kata-kata yang memang merupakan keinginan dan keyakinan dalam diri sendiri untuk diungkapkan agar masyarakat benar-benar tahu apa dan bagaimana misi serta visi BeLiau ini sesungguhnya.

“Tiang Ngayah Dengan Pamrih”

Begitu Jelas dan Lugas. Mantap pula…

Setidaknya makin meyakinkan, bahwa apapun yang dilakukan oleh BeLiau demi kepentingan rakyat, tentu Harus Ada Pamrihnya. Begitu kira-kira…

Ohya, tambahannya satu lagi, poster diatas hanya ditampilkan HANYA pada BLoG ini saja. Jadi dijamin tidak akan mengotori pemandangan serta lingkungan Kota Denpasar dan sekitarnya. Bukankah ini adalah sebuah Kemajuan ?

Makanya, hayoooo pilih BeLiau ini ya….

> He…. Sebetulnya ini hanyalah salah satu buah karya PanDe Baik saat senggang jam kantor. Yah, dibandingkan kami pulang saat jam kerja belum usai, bolehlah kami sedikit bercanda dengan pembuatan poster untuk seorang rekan yang kabarnya memang berambisi untuk tampil maju sebagai Caleg atau anggota DPD. Tentu saja itu akan dilakukan pasca Pensiun nanti. Toh, kini banyak yang sudah melakukan hal semacam ini. He…. <

the PoWer of ‘KarTu Nama’

3

Category : tentang Opini

‘Silahkan diambil kartu namanya, Pak…’

Ujar petugas fotocopy di daerah timur kota Denpasar kepada saya seraya memperlihatkan setumpuk kecil kartu nama dengan ikatan gelang karet. Ada rasa penasaran ‘emang ini siapa sih Pak ?’ tanya saya…

‘Katanya sih orang ini (pemilik kartu nama) Calon Anggota DPD Dapil Bali.’

‘Trus, kok bisa fotocopy ini yang mengedarkannya ?’

‘Yah, tempo hari ada orang yang menitipkannya disini, meminta untuk diberikan pada setiap orang yang fotocopy kesini.’

Oooohhh….. I See…. Ngerti dah saya sekarang. Jadi ceritanya si Tokoh pemilik kartu nama menitipkan pada tim suksesnya untuk menyebarkan kartu namanya pada masyarakat, tapi malah dititipkan kepada petugas fotocopy untuk diberikan pada setiap orang yang mampir kesitu. Hmmm… Mirip dengan cara pengedaran lembaran promosi pengobatan pake ilmu-ilmu itu di persimpangan jalan.

Saya jadi nyengir sendiri dan berandai-andai.

Sebenarnya orang ini siapa sih ? Katanya mencalonkan diri menjadi anggota DPD Dapil Bali. Nomor urut 1 lagi. Tapi kok cara penyebaran informasi akan citra dirinya dilakukan dengan cara ngawur ? Apa untungnya coba, bagi saya selaku pemilih nantinya ?

Orangnya belum tentu saya ketahui, siapa, apa dan bagaimana latar belakang, visi misi, kredibilitasnya dan apa yang telah ia lakukan minimal untuk kota Denpasar ini, dsb. Orang tersebut juga gak bakalan tahu bahkan barangkali takkan mau tahu, apa keluhan saya, inspirasi saya atau keluh kesah saya. Wong caranya ‘memohon doa restu’ aja begitu kok. Menitipkan pangkat dua.

Padahal kalo seandainya saya dalam posisi ‘BeLiau’ itu, barangkali langkah yang saya ambil selain khayalan saya tempo hari perihal persiapan sebelum memutuskan untuk jadi CaLeg, tentu saja untuk mengantisipasi gamangnya calon pemilih akan figur saya misalnya, harus ada satu terobosan yang mampu menggetarkan hati para pmilih.

Khayalan saya misalkan saja dalam setiap kartu nama yang saya edarkan disertakan form kosong dibaliknya untuk mengetahui keluh kesah, aspirasi ataupun keinginan masyarakat selaku pemilih, sekaligus mencantumkan identitas si pemilih.

Kartu itu nantinya bisa dikirimkan kembali via Pos tanpa perangko misalnya. Tentu saja saya terlebih dahulu akan bekerja sama dengan pihak Pos, untuk mengantarkan kartu-kartu yang terkumpul, setelah hasil pemilu kelak diumumkan.

Tujuannya agar saat saya positif terpilih, minimal saya mengetahui siapa saja yang mendukung saya dan inspirasi apa saja yang harus dipanggul menuju Senayan. Hehehe…. Jadi gak kepupungan lagi, menyerap aspirasi rakyat dengan menghabiskan uang rakyat kelak. Yah namanya juga khayalan…

Ngomongin power of ‘Kartu Nama’, saya jadi teringat waktu jelang akhir millenium lalu, diberikan sebuah kartu nama oleh seorang keluarga yang memiliki sebuah museum seni di daerah Ubud Gianyar, sambil mengatakan bahwa kartu nama tersebut bisa digunakan sewaktu-waktu jika saya ingin berkunjung ke Museum tanpa konfirmasi dan birokrasi yang berbelit.

Berselang dua tiga tahun setelahnya, saya secara kebetulan mendapatkan pekerjaan sebagai Arsitek Freelance di daerah Ubud. Saya teringat dengan kartu nama tersebut dan berkeinginan untuk mencoba memastikan apakah yang dikatakan oleh Bapak itu benar atau tidak. Maka saya memperlihatkan Kartu Nama BeLiau kepada pihak Security di depan Museum Seni yang dimaksud sambil mengatakan saya ingin melihat-lihat disekitar Museum.

Tanpa banyak pertanyaan, saya dipersilahkan masuk sambil diberitahu bahwa sang pemilik sedang tidak berada ditempat.

Barangkali benar apa kata seorang Kolektor kartu (kartu nama, kartu undangan dsb) yang pernah dimuat di Intisari jaman dulu, bahwa Kartu Nama sebetulnya punya kekuatan yang sama dengan ijin atau restu si pemilik, atas segala fasilitas yang disediakan atau diberikan kepada penerima kartu nama.

Nah, kalo keadaannya bahwa kartu nama punya wewenang sedashyat itu, lantas bagaimana dengan kartu nama para CaLeg dan Calon DPD yang kini banyak beredar dimasyarakat ? Apakah itu bisa menjadi satu jaminan pada masyarakat yang kelak memilihnya akan semua janji yang mereka ucapkan ?

Atau barangkali hanya untuk memperkenalkan diri, tanpa mau tahu apa yang diinginkan oleh para pemilih, sehingga jalan yang diambil untuk menyebarkan kartu nama tersebut dilakukan dengan cara menitip ? Bah !

> Saya malahan jadi berkhayal, kira-kira kelak Kartu Nama ‘PanDe Baik’ yang akan diedarkan bakalan punya power apa aja yah ? <

* Power of LoVe ajah. Hehehe….

Pengen Jadi CaLeg ? susun Strategi yuk ?

5

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Hanya ingin melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang kisaran biaya yang perlu disiapkan buat yang nekat pengen jadi CaLeg. He… kira-kira kalo si CaLeg minim dana, apa yang sebaiknya dilakukan yah ?

Oke, Katakanlah seandainya saya yang memiliki ambisi seperti itu sedangkan dana yang dimiliki sangatlah minim, kira-kira bisa gak ya saya nembus gedung ‘Wakil Rakyat’ seperti halnya Bupati Kupang yang terpilih tanpa perlu mengeluarkan duit ratusan juta itu ?

Memang saya sadari, untuk bisa mewujudkan impian seperti halnya Bupati Kupang, barangkali memiliki kemungkinan satu berbanding seratus. Itu bakalan tergantung pada kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat, bukan dengan janji-janji palsu bakalan mengaspal jalan ini, bakalan membebaskan biaya pendidikan, atau mensejahterakan petani. That’s all Bullshit bagi saya.

Seandainya saya dalam posisi berambisi maju ke bursa CaLeg, sedangkan saya minim dana dan modal awal dan tragisnya bukan siapa-siapa di mata masyarakat, mungkin hanya satu yang akan saya lakukan hari ini. Menunda pendaftaran untuk menjadi CaLeg hingga pemilu mendatang. Mengapa ?

Ya, kenapa harus bersusah-susah mengharapkan simpati dari masyarakat dengan mempublikasikan figur diri di tiap sudut jalan, mengatakan ‘hey, sudah saatnya hati nurani berbicara’ atau ‘masih mau denger lagu lama?’ Jika diri ini belum mampu didengar oleh sekian ribu masyarakat di daerah pemilihan yang kelak akan menjadi ajang tarung perebutan suara.

Tapi keputusan menunda bukan berarti lantas saya berdiam diri pasrah menunggu pemilu yang akan datang digelar. Minimal saya melakukan beberapa tindakan dengan tujuan awal adalah memperkenalkan diri pada publik. Misalkan saja bergabung pada beberapa komunitas lokal yang memiliki aktifitas dan hobbi yang sama.

Katakanlah hobi sepeda tua. Saya akan ikut gabung dan berusaha untuk dikenal oleh semua anggota internal yang tergabung dalam wadah tersebut dan juga orang luar yang secara kebetulan ikut tertarik akan hobi ini. Caranya barangkali dengan menjalin hubungan baik, saat aktivitas menjelajah dilakukan atau saat acara berbagi pengalaman misalnya.

Hobi motor besar ? Sangat dianjurkan. Karena biasanya pada hobi ini, bakalan menyajikan figur-figur yang sudah besar dan memiliki nama di masyarakat. Paling minim, orang yang bermodal dan memiliki pengaruh pada beberapa orang disekitarnya. Sekali lagi, loyalitas sangatlah penting untuk mendapatkan simpati dari para anggotanya.

Hobi nulis ato nge-BLoG ? gabung di komunitas setempat yang tentunya saya yakin bakalan berisikan beraneka ragam profesi. Dari remaja sekolah, pegawai kantoran, pemerintahan, teknisi IT hingga ke wartawan lepas. Harapannya tentu saja memperlebar sayap, kearah lintas profesi ini. Barangkali saja ada satu dua wartawan yang mampu memberikan gambaran awal akan sosok kita saat maju ke bursa CaLeg nantinya.

Ikut kegiatan sosial masyarakat, tanpa inisiatif mengundang media untuk mengekspose keberadaan kita. Jika menganggap diri mampu, bisa mengajukan langsung menjadi salah satu koordinator bidang kerja untuk menyiapkan hal-hal yang dipandang perlu dalam mendukung kegiatan. Pelan tapi pasti jika sudah dikenal, incarlah posisi ketua pelaksananya. He… Paling tidak jika sudah dikenal secara intern kegiatan, saat menduduki posisi ketua pelaksana, masa sih media gak mengeksposenya ?

Mencoba aktif dan ikut serta dalam kegiatan yang berkaitan dengan sosial keagamaan. Bergerak dari lingkungan keluarga dahulu, hingga pelan-pelan ke tingkat yang jauh lebih luar dan beragam. Tentu saja untuk bisa melakukannya, kita membutuhkan talenta dan disiplin tinggi, agar mampu memberikan kemampuan yang terbaik nantinya. Paling tidak tampilnya kita ditengah komunitas dan kegiatan ini, bakalan memberikan pelajaran ‘bagaimana memahami masyarakat yang bakalan kita wakili suaranya’.

Jika figur pribadi sedikit demi sedikit sudah mulai dikenal dimasyarakat walaupun hanya sebagian kecil, usaha selanjutnya adalah konsisten berusaha berbuat baik dan barangkali mulai rajin menulis di beberapa media ataupun BLoG yang sederhana, terkait mimpi, cita-cita, harapan juga pola pikir yang akan dilakukan seandainya dipercaya nanti menyuarakan keinginan rakyat. Tentunya ini harus sudah dilakukan minimal 3-4 tahun sebelum Pemilu dilangsungkan. Kenapa saya katakan demikian ?

Agar tema ataupun topik isi pemikiran kita yang tertuang tidak terkesan aji mumpung, baru akan pemilu, baru memulainya…. Setidaknya isi daripada tulisan pemikiran kita bakalan makin berkembang dan terbuka pada berbagai hal ataupun isu yang ramai di masyarakat, sehingga orang yang membacanya akan mengingatnya dan paling minim menyebarluaskannya pada orang-orang disekitarnya.

Untuk dapat mendalami setiap isu maupun keluhan masyarakat, ada baiknya kita juga mulai rajin belajar. Apalagi kalo bukan memahami peraturan, perda, undang-undang hingga teknologi jika mampu, agar nantinya dapat mengikuti arus perkembangan yang bakalan hadir setiap saat ditengah masyarakat.

Minimal kalo nanti mendapat jatah laptop, gak bakalan digunakan untuk main Solitaire saat rapat sidang atau cukup mengandalkan tatap muka teleconference via web cam daripada kunjungan kerja keluar daerah yang menghabiskan dana rakyat yang sangat besar.

Kegiatan-kegiatan diatas, jika rutin dan secara konsisten dilakukan, saya yakin sedikit demi sedikit masyarakat akan mengetahui keberadaan kita saat keputusan mengajukan diri menjadi CaLeg dilaksanakan. Setidaknya gambaran atau bayangan awal akan sosok atau figur yang tampil sudah bisa dibaca sejak awal dan jauh sebelumnya. Jika sudah demikian, barangkali yang namanya Baliho perusak wajah kota, tak perlu lagi dipasang dan dipamerkan. Termasuk usaha untuk meraup sejumlah suara sebagai dasar lolosnya pencalonan bisa didapatkan tanpa susah payah mengorbankan duit ratusan juta.

Seperti kata Bupati Kupang yang Terpilih kemarin, jika seorang calon sudah menghabiskan banyak uang untuk melanggengkan langkahnya melewati bursa
‘Wakil Rakyat’ ya jangan salahkan jika saat mereka duduk di kursi nan empuk tersebut, selalu berusaha mengembalikan modal awal yang telah mereka keluarkan tersebut.

So, nikmati saja hidup ini. Jika memang berambisi, ada baiknya dimulai dari hal-hal kecil dahulu. Karena biasanya hal kecil pasti akan berubah menjadi besar dan indah. Berguna bagi masyarakat tentunya. He… gak asal omong.

> PanDe Baik akhirnya memutuskan melahirkan tulisan kedua ini, gara-gara asbunnya seorang CaLeg (baca:pahlawan kesiangan) di media Denpost beberapa waktu lalu, berkaitan dengan jalan yang rusak parah sedangkan Pemkab kok malah cuek. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, pak Bupati sudah turun ke lapangan dan menjelaskan prioritas penanganan di daerah tersebut. Trus kemana saja si CaLeg saat penjelasan dari pak Bupati waktu itu ? lagi molor ya Pak….. jadinya bangun kesiangan deh. He… <

Pengen Jadi CaLeg ? Pikir-pikir dulu deh !

7

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Pemilu tahun ini agaknya bakalan jadi makin beda dengan pemilu sebelumnya. Apalagi kalo bukan karena makin banyaknya orang yang ikutan bursa CaLeg. Dari muka lama hingga wajah baru yang sama sekali belum dikenal publik secara luas.

Terlepas dari semua motivasi masing-masing orang yang begitu ngotot mencalonkan dirinya sendiri sebagai ‘Wakil Rakyat’, agaknya masyarakat kinipun makin mengerti mengapa mereka semua nekat melakukan hal ini. Bisa jadi paling pertama yang menjadi pertimbangan ya kondisi ekonomi yang makin susah untuk dijalani dengan profesi pas-pasan.

Belakangan saya yakin semua orang pun tahu bahwa kursi empuk ‘Wakil Rakyat; dianggap lebih menjanjikan banyak hal, banyak mimpi sedangkan kewajiban yang seharusnya dilakukan bisa dikatakan sangat minim. Lebih banyak kunjungan atau studi ke luar daerah dibandingkan hasil kinerja yang diharapkan oleh masyarakat. So, dimana lagi bisa mewujudkan semua itu ?

Lantas apakah semudah itu orang bisa mencalonkan diri menjadi CaLeg ? seorang ‘Wakil Rakyat’ yang nantinya bakalan diharapkan begitu besar pengaruhnya dalam menentukan nasib rakyat yang ia wakili.

Seorang famili pernah secara iseng berhitung. Seandainya ia bukanlah orang yang dikenal oleh masyarakat, satu-satunya cara yang bisa ia lakukan ya dengan cara money politics. Paling minim ya berusaha menyogok sekelompok masyarakat agar mau mendukungnya kelak. Adapun jumlah biaya yang ia perhitungkan sebagai modal awal untuk bisa maju sebagai CaLeg hingga positif duduk di kursi empuk, berkisar pada angka 500 sampai dengan 800 juta. Wow…. Itu semua tergantung pada kuota minimum suara yang harus dikumpulkan oleh setiap orang CaLeg.

Perinciannya meliputi :
> biaya yang harus dikeluarkan untuk baliho kampanye selama masa pengenalan figur, di banyak tempat dan dalam ukuran yang beragam
> biaya baju kaos bagi para pendukung minimal sejumlah kuota minimum yang harus dipenuhi
> biaya konsumsi (minimal nasi bungkus) bagi para pendukung dikalikan jumlah kampanye yang akan digelar
> biaya konsumsi setiap hari hingga saat pemilihan tiba, untuk masyarakat ataupun pendukung yang ingin berkunjung ke rumah
> sumbangan pada event tertentu sesuai undangan masyarakat, terutama di lingkungan sendiri
> sumbangan pada parpol agar mau mencantumkan namanya sebagai salah satu kader partai
> dsb dll etc

Sayangnya gak semua CaLeg mampu menyediakan biaya sedemikian besar sebagai modal awal tarung mereka di kancah politik. Beberapa malah memasrahkan diri, menyerahkan pilihan pada masyarakat tanpa berusaha lebih jauh merangkul massa pendukungnya. Istilah kerennya ‘biarkan masyarakat yang menilai. Saya hanya perlu membuktikan diri bahwa saya layak tampil sebagai ‘Wakil Rakyat’ yang diinginkan’.

Memutuskan untuk maju bertarung menjadi CaLeg atau ‘Wakil Rakyat’ tentu saja harus menyiapkan segalanya. Positif dan negatifnya. Untung Ruginya. Minimal untuk seorang CaLeg yang beneran baru terjun di masyarakat, sudah harus menyadari ketidakberuntungannya sejak awal. Walaupun banyak orang mengatakan ‘kita harus optimis dalam segala hal’.

Bagaimana seandainya jika saya tak terpilih nanti ? Bagaimana caranya saya bisa mendapatkan biaya yang sudah dikeluarkan saat kampanye jika saya tak mampu mendapatkan kuota suara pemilih ?

Agar jangan seperti halnya calon pemimpin daerah yang dikabarkan harus menanggung beban hutang, malu hingga stres dan akhirnya berakhir di Rumah Sakit Jiwa. Minimal siap kalah. Sudah siap sejak awal untuk menghadapi kemungkinan paling buruk. Jangan sampe malahan bikin malu keluarga saja. He….

> PanDe Baik agak tergelitik juga dengan ide itung-itungan yang dilontarkan oleh famili beberapa waktu lalu, walaupun ada juga CaLeg yang maju sangat pelit mengeluarkan biaya untuk aksi tarung nekat mereka. He… <

CobLos saja semuanya…. !!!!

4

Category : tentang Opini

Akhirnya Datang Juga….. tahun 2009, dimana Tahun bakalan digelarnya PesTa Demokrasi, Tahun yang bakalan dipenuhi oleh Badut-badut politik, dengan segudang akalnya, sejuta ajakannya tentu saja semuanya omong kosong belaka dan janji-janji palsu….

Ah, kenapa saya jadi antipati pesimis begini yah ? Padahal baru beberapa waktu lalu, usai menelaah dan mempelajari ‘Benny & Mice’ hihihi… Optimisme saya muncul seiring pengaruh Positif dalam otak mulai mengalir.

Yah, barangkali karena tahun ini, jumlah Caleg yang bakalan beradu otot, otak hingga duit, saking banyaknya tak bisa mengingat semuanya. Jangan nama, program maupun jasanya mereka masing-masing saja saya gak ingat sama sekali… (bodoh ! Wong mereka semua belum punya jasa pada masyarakat umum kok. Cuman modal nekat nyalonin diri aja)

Bahkan saking banyaknya para Caleg terlepas apakah itu sasarannya di Kabupaten, Propinsi hingga ke Pusat seperti calon DPD misalnya, beberapa diantara mereka ada juga yang masih hubungan famili yang tentunya secara tak langsung ‘memaksa’ saya untuk memilih mereka. Sayangnya mereka bertarung di arena yang sama, trus saya mau mulih yang mana dong ?

Saking banyaknya pula, saya pribadi sempat menyamakan mereka (para Caleg) dengan para pencari kerja spesialnya ya PNS, beramai-ramai ikutan ngedaftar, padahal saya yakin banget kalopun ditanyakan misi, visi serta tujuannya ikutan nyaLeg, ya gak jauh dari urusan Perut deh. Wong jaman serba susah sekarang kok.

Kemunculan nama serta wajah baru, tanpa terdengar apa program mereka yang telah berhasil diterapkan atau dilahirkan ditengah masyarakat  jelas saja membuat saya langsung antipati dengan senyum yang ditebarkan via Baliho plus tangan yang seolah ‘memohon do’a restu’ seakan mau nikahan saja. Tak lupa latar belakang background yang klasik, maksudnya itu-itu aja dan berkesan penuh spiritualitas.

Ada satu dua Caleg yang secara kebetulan tahun kemarin masih berstatus pimpinan sebuah kontraktor rekanan yang mengerjakan proyek di Pemerintahan, sempat melontarkan visi dan misinya kepada saya dan rekan-rekan.

Salah satunya menyatakan ‘menginginkan perubahan’. Padahal setahu saya hasil pekerjaan yang dilakukan oleh orang ini sangat jauh dari kata puas. Sangat mengewakan kalo boleh saya bilang. Lantas perubahan apa yang dimaksudkan ? Perubahan sistem yang mempermudah bendera usahanya meraup sekian banyak proyek di pemerintahan, ataukah perubahan pada aliran dana rakyat ? Yang dahulunya barangkali fifty-fifty, sebagian sebagai dana proyek, sebagian lagi habis dibagi, kini diharapkan dana yang dibagi mendapat porsi yang jauh lebih besar ?

Satunya lagi saat ditanyakan, dia akan memperjuangkan siapa kalo seumpama nanti sudah duduk di kursi empuk ? Dengan enteng si caleg menjawab, ya tentu saja keluarga dan Banjar saya dong !!! ha ? Apakah jumlah yang ia maksudkan itu bakalan cukup mengantarkannya ke kursi Wakil rakyat tersebut ? Bagaimana pula dengan masyarakat lain yang secara kebetulan menitipkan aspirasi mereka pada ‘Caleg Guoblok’ ini ? Bisa-bisa cuman Gigit Jari. Capeee deeeh…

> PanDe Baik saat ini masih bingung mau mencoblos/mencontreng siapa nanti saat pemilu. Lantaran gak ada Caleg yang mampu memperjuangkan Rakyar beneran dengan Hati Nuraninya. Palingan bakalan tutup mulut kalo sudah segepok amplop masuk rekening pribadi… Jadi PanDe Baik hingga hari ini masih punya pemikiran, COBLOS SAJA SEMUANYAAAAAAA !!!!!!! <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Saya juga pengen jadi CALEG

6

Category : tentang Opini

Jika memiliki waktu, cobalah untuk berjalan-jalan ke seantero Kota Denpasar maupun wilayah Badung. Anda akan menemui wajah-wajah Narzis yang dalam hati mereka tentu ingin sekali dikatakan fotogenik. Kalo mereka tidak merasakan hal itu, lantas mengapa begitu pedenya memasang wajah diri sendiri dengan pose yang tak biasa pula. He… karena keharusan barangkali.

Yang unik dari pemasangan wajah-wajah fotogenik ini yaitu lokasi gak tanggung-tanggung. Di persimpangan jalan. Dimana setiap mata yang melintas, pasti dapat melihat dengan jelas. Ya, inilah mereka, perwajahan para Caleg Calon Legislatif, calon Anggota DPR yang terhormat, calon para wakil rakyat yang kabarnya berjuang keras hanya demi rakyat.

Yang gak kalah uniknya dari iklan perwajahan mereka ya perihal gelar pendidikan yang disandang. Minimal Sarjana Muda atau Strata satu (Sarjana). Namun ada juga yang gak mau kalah awal, memasang segala macam gelar yang mereka dapatkan, entah dengan menempuh pendidikan dengan mempertahankan idealismenya, atau malahan cuman bayar langsung dapat gelar. Ah, ini kan sudah rahasia umum.

Memang dari sekian banyak Caleg yang tampil dimuka masyarakat, entah bertarung di area Pusat, Propinsi ataukah Kabupaten, rata-rata adalah muka lama yang sudah dikenal lebih dulu. Entah ia tokoh masyarakat, figur yang disegani ataukah pimpinan parpol yang barangkali menyadari kalo dirinya gak mampu tampil menjadi pucuk pimpinan negeri ini, makanya milih jadi Caleg aja. Ada juga wajah-wajah baru, yang secara kebetulan saya kenal lantaran pernah menjadi salah satu rekanan kerja di proyek pemerintah.

Lucunya, orang-orang ini bisa dikatakan sangat bermasalah dari segi teladan. Baik sifat keseharian hingga hasil pekerjaan yang mereka berikan pada negara ini. Padahal bagi saya pribadi, untuk menjadi seorang Caleg, barangkali si calon haruslah menjadi teladan bagi keluarganya, teladan bagi lingkungannya, teladan bagi orang lain yang tak mengenalnya terutama teladan bagi dirinya sendiri.

Jika sudah memiliki keteladanan itu, gak bakalan ada yang gusar lantas mengajukan keberatan untuk mencoret nama si calon dari daftar jadi. Misalkan saja pernah dipidana kasus narkoba, pencurian, pemerkosaan bahkan mungkin masuk kotak black list tertentu.

Saya malah berangan-angan, kapan ya ada Caleg yang memang beneran dicalonkan oleh masyarakat sekitarnya (bukan dengan cara mencalonkan diri ataupun menawarkan diri ada parpol baru) ? Kapan ada Caleg yang saat kampanye nanti gak mengeluarkan uang sepeserpun sampai ia berhasil duduk di kursi terhormat nan empuk itu ?

Angan-angan saya ini bukannya tanpa makna. Hanya saya menginginkan figur seorang Caleg yang memang benar-benar mau melayani rakyat secara umum (gak cuma yang separpol), mau menerima dengan intu rumah yang terbuka lebar saat rakyat ingin berkeluh kesah, atau malah lantaran gak ada biaya apapun yang dikeluarkan, gak membuat si Caleg gelap mata saat pihak-pihak tertentu menawarkan Voucher jalan-jalan ke luar Negeri demi meng-Gol-kan permohonan mereka yang tak pro rakyat.

Jarang. Malah gak pernah saya lihat.

Sejauh ini yang paling sering saya temui, adalah para calon yang dengan pongahnya mengaku bersaudara dengan rakyat demi mendulang suara dukungan, berlomba-lomba menyumbang ini itu, melakukan persembahyangan di pura-pura masyarakat, atau malah berjanji ini itu pada masyarakat jika mereka memberi dukungan.

Tak hanya itu, pintu rumah terbuka lebar, siapapun boleh ikut menikmati masakan sang istri, kapanpun masyarakat mau.

Sebaliknya saat mereka sudah resmi duduk dikursi terhormat nan empuk, pintu rumah tertutup rapat digembok pula, prejani sing kenal (pura-pura gak kenal), jangankan janji-janji di mulut, yang dijanjikan usai persembahyangan bersama saja kadang tak terwujud.

Kadang menjadi Caleg bisa dikatakan seperti berjudi. Harus berani menghabiskan sejumlah harta benda demi mendapatkan dukungan terlebih dahulu. Makanya gak jarang ada calon yang sampai menjual hotel miliknya untuk dana kampanye. Jikapun tak punya, masih ada pihak-pihak yang bersedia mengorbankan milik mereka demi harapan yang dibalas saat sudah duduk nanti.

Jika memang tujuan tercapai, minimal untuk kunjungan kerja ke luar daerah, pasti bisa terwujud. Paling gak, selain akomodasi mewah, ada juga uang saku yang berlimpah. Plus gaji bulanan dan sejumlah tunjangan yang kadang diluar nalar. Tapi jika tak tercapai, yah bersiap-siap saja dari sekarang jatuh miskin. He….

Ah, seandainya saya boleh ikutan jadi Caleg…..