Apa Kabarnya LPSE Badung di Tahun 2012 ?

2

Category : tentang PeKerJaan

Setiap hal yang ada di dunia ini, pasti mengalami perubahan. Demikian pula kami di LPSE Badung.

Malah bisa dikatakan ada banyak perubahan yang kami alami disini sejak Surat Keputusan Pembentukan Unit Layanan Pengadaan diturunkan awal Desember 2011 lalu.

Dengan adanya Pembentukan ULP atau Unit Layanan Pengadaan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, sebagian besar anggota Tim Pengelola LPSE Badung akhirnya dipaksa Hijrah ke unit tersebut mengingat secara basic pengetahuan, memang expertnya dibidang tersebut. Maka dari 10 personil yang dahulu membidani kelahiran LPSE Badung, hanya menyisakan tiga orang saja untuk tetap tinggal dan bertugas seperti sebelumnya. Perpindahan ini pada awalnya bisa saya katakan sangat sulit. Karena semua kekompakan dan rasa persaudaraan yang kami bina sejak awal mulai terasa jauh dan jauh.

Selain itu, terjadi pula perubahan manajemen Pengelolaan dimana jika dahulu kami bernaung di bawah Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah, kini berpindah ke Bagian Perlengkapan dan Asset. Perubahan inipun menjadikan semua proses baik operasional dan pemenuhan kebutuhan yang dahulu berjalan seperti aliran air, kini malah mandeg lantaran ada rasa ‘ewuh pakewuh’ serta penambahan kewajiban secara mendadak.

Untuk mengatasi perpindahan anggota Tim Pengelola LPSE sebelumnya, maka Bagian perlengkapan dan Asset merancang penunjukan delapan orang anggota Tim Pengelola yang bisa dikatakan sama sekali baru dan awam soal Sistem SPSE. Hal ini tentu saja bagi kami, anggota Tim sebelumnya seperti mempertaruhkan kredibilitas dan kepercayaan yang selama ini pernah dibebankan. Tak ingin menunggu waktu terlalu lama untuk mengisi kekosongan, kamipun mengajukan beberapa nama yang sekiranya mau dan mampu untuk bergabung dalam keanggotaan Tim yang baru, sisanya baru kami serahkan sepenuhnya ke Bagian Perlengkapan dan Asset.

Selain perubahan Personil dan Manajemen, kamipun mengalami perubahan Tugas mengingat anggota Tim Pengelola sebelumnya yang hijrah ke Unit ULP salah satunya memegang posisi sebagai Sekretaris LPSE. Nah, permasalahannya dari delapan Tim Teknis tambahan yang kami tunjuk tak satupun memahami pengetahuan LPSE dengan baik, maka dari itu satu-satunya pilihan ya mengambil salah satu dari tiga anggota yang tersisa dari Tim Pengelola sebelumnya.

Jika di periode sebelumnya kami hanya mendapatkan tunjangan fungsional sekitar 600 ribu perbulannya untuk satu orang Tim Teknis, maka di periode ini kami diberikan tambahan tunjangan hingga 2 Juta rupiah per orang mengacu pada besaran Tunjangan Fungsional yang diberikan kepada Unit ULP yang baru. Menjadi sekian karena kami mengambil opsi tengah-tengah antara tunjangan yang diberikan kepada anggota yang bertugas di Administrasi Umum dengan Tim Teknis ULP. Satu peningkatan yang tentu saja diharapkan sesuai dengan peningkatan kinerja kami dalam mengelola LPSE Badung.

Dalam perjalanan kami seiring dilakukannya Perubahan-perubahan diatas ternyata menemui banyak kendala dari yang mampu kami tangani sendiri hingga membutuhkan bantuan mantan atasan yang dahulu pernah berada di satu Tim Pengelola LPSE tahun 2011. Kendala ini bisa terjadi lantaran minimnya pengetahuan delapan anggota Tim Pengelola LPSE sesuai Surat Keputusan Bupati Tahun 2012 dan juga faktor emosional yang terjadi diantara kami Tim Pengelola sebelumnya. Satu hal yang lumrah tentu saja. Bersyukur semua bisa diselesaikan dengan baik.

Untuk mengatasi minimnya pengetahuan dan pemahaman delapan anggota Tim Pengelola LPSE yang baru, rencananya tanggal 21 Februari Selasa besok, kami mengirim mereka untuk dilatih dan dididik secara langsung di LKPP Jakarta, seperti halnya yang pernah kami lakukan pada tahun 2010 lalu.

Kegiatan TOT atau Train of Trainer ini tentu saja menjadi sangat penting mengingat kedelapan orang Rekan kami yang baru ini belum familiar sepenuhnya akan tugasnya masing-masing, meskipun dalam dua bulan terakhir sempat kami ajarkan apa dan bagaimana cara menjalankan tugasnya, plus kelak akan menjadi narasumber bagi stakeholder LPSE lainnya. Sudah demikian, dari segi sistem ada peningkatan Versi SPSE dari 3.2.3 yang tahun lalu pernah kami tularkan ke beberapa orang diantaranya, menjadi versi 3.2.5 per tanggal 10 Februari lalu.

Selain mengirim delapan anggota Tim Teknis Pengelola LPSE yang baru, rencananya kamipun akan ikut serta mendampingi selama pembelajaran berlangsung dengan mengusung tujuan yang lain yaitu konsultasi atas beberapa kesulitan dan permasalahan yang timbul sejak dibentuknya ULP yang baru. Baik itu terkait banyaknya perubahan perilaku dari Admin Agency, posisi dimana dahulu saya melaksanakan Tugas, dan juga dari sisi ULP atau Panitia Pengadaan yang memang membutuhkan penanganan cepat.

Jadi… doakan saja bahwa apa yang kini kami rintis lagi sedari awal, mampu kami lewati dan laksanakan sebaik mungkin. Tujuannya hanya satu, demi Pengadaan Barang Jasa di lingkungan Pemkab Badung yang Transparan dan Akuntabel.

Sampai bertemu di Jakarta hari Selasa depan.

***
Mangupura, 19 Februari 2012
Sekretaris LPSE Badung
Pande Nyoman ArtaWibawa, ST., MT

LPSE Badung sejauh ini

Category : tentang PeKerJaan

Rasanya sudah lama saya gag menuliskan lagi perkembangan unit LPSE Badung pasca Pelatihan Perdana dan juga launching yang dilakukan pada tanggl 27 Desember 2010 lalu. Tulisan terkait aktifitas LPSE Badungpun terakhir saya turunkan awal Mei lalu, namun tidak secara mengkhusus mengulas keberadaan dan eksistensinya.

Seperti yang sudah pernah saya jelaskan bahwa unit LPSE atau Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik ini dibentuk untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan barang/jasa pemerintahan. Kabupaten Badung sendiri merupakan Unit ketiga yang dibentuk di Provinsi Bali setelah Kota Denpasar dan Provinsi Bali yang sudah mendahului, diikuti Kabupaten Jembrana yang aktifitasnya mulai terlihat bulan Maret lalu.

Tim LPSE Badung yang ada saat ini sudah memasuki generasi kedua lantaran beberapa orang yang tempo hari sempat ikut serta melakukan pelatihan Training of Trainer (TOT) awal Maret 2010, mendapatkan promosi jabatan ke instansi lain. Kekosongan posisi ini kemudian diambil alih oleh rekan-rekan baru yang hingga kini belum mendapatkan pendidikan secara resmi terkait aplikasi SPSE atau Sistem Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik. Untuk itu, kami yang tersisa tentu saja wajib untuk menularkan ilmu yang kami dapatkan secara intensif agar Tim baru ini dapat siap pakai dalam waktu singkat.

Hingga hari ini LPSE Badung sudah melelangkan tak kurang 61 paket kegiatan melalui jalur elektronik atau yang dikenal dengan istilah e-Procurement, dari  7 SKPD. Terbanyak diantaranya datang dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga sebanyak 31 paket dengan 16 paket sudah dalam proses lelang, diikuti Dinas Cipta Karya sebanyak 22 paket, Dinas Bina Marga dan Pengairan 4 paket, dan masing-masing 1 paket dari Sekretariat DPRD, Bappeda Litbang, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika serta Dinas Kebudayaan.

Dari 61 paket tersebut yang pada akhirnya mampu memecahkan telur LPSE Badung untuk pertama kalinya adalah dari Dinas Cipta Karya dengan paket kegiatan Pengadaan Komputer sebesar 216 Juta rupiah.

Selain itu telah siap sebanyak 422 Rekanan yang telah memiliki UserID dan password untuk bersaing secara sehat mengikuti pengadaan barang/jasa yang dilakukan secara elektronik. Jumlah tersebut terbagi atas Rekanan di bidang Jasa Konstruksi, Konsultansi dan Jasa lainnya.

Terpantau dari 19 paket kegiatan yang telah selesai dievaluasi dan dilelangkan, besarnya Efisiensi Anggaran APBD hingga bulan Mei 2011 lalu adalah sebesar 10,7 M. Nilai ini, secara pengamatan pribadi, tentu saja belum dikurangi dengan biaya pembangunan dan operasional bulanan LPSE Badung sebagai Unit yang dibentuk untuk menyelenggarakan sistem Pelayanan Pengadaan Barang/Jasa secara Elektronik.

Sejauh ini kendala utama yang paling dirasakan adalah kemampuan SDM untuk mengoperasikan sistem SPSE atau Sistem Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik, sehingga memerlukan banyak bimbingan secara berulang dan intensif bagi para pelaku yang terlibat didalamnya. Beberapa Kesulitan pemanfaatan Sistem SPSE yang dialami baik oleh Rekanan selalu penyedia Barang/Jasa dan juga Panitia Pengadaan barang Jasa antara lain, pemahaman akan UserID serta password yang diberikan baik untuk mengakses sistem, melakukan deskripsi/enkripsi file penawaran serta alamat email yang digunakan. Ini bisa dimaklumi mengingat secara faktor usia, rata-rata pelaku yang terlibat merupakan generasi yang tidak melewati masa mudanya di era Teknologi Informasi.

Untuk lebih membantu  para pelaku yang terlibat dalam sebuah proses lelang secara Elektronik terutama bagi mereka yang baru mengenal fitur social Media bernama Twitter, saya pribadi mencoba membuat satu akun tidak resmi dengan mengatasnamakan @LPSEBadung, yang didalamnya berusaha saya lakoni dengan membagi ilmu serta pengalaman dalam menggunakan aplikasi Sistem SPSE baik dari kacamata Rekanan, Panitia Pengadaan maupun Tips secara Umum.

Kedepannya, sesuai dengan Pasal 131 pada Perpres No.54 Tahun 2010, diharapkan bagi seluruh SKP di Pemerintah Kabupaten Badung wajib melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik untuk sebagian atau seluruh paket pekerjaan pada tahun 2012. Apakah mampu diwujudkan ? kita tunggu saja.

 

Selamat dan Sukses untuk Launching LPSE Badung

7

Category : tentang iLMu tamBahan

Akhirnya jadi juga…

Setelah menanti tarik ulur selama tiga bulan terakhir, apa yang kami nanti dan harapkan terwujud jua. Launching unit baru di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, yang telah dirintis sejak awal tahun, oleh Bapak Bupati Badung bersama Direktur e-Procurement LKPP Ikak G Patriastomo dan Prof. Ir. Himawan Adinegoro, M.Sc., DFT., Senin 27 Desember 2010. Disamping itu, dilakukan pula kunjungan ke Gedung Unit LPSE Badung yang didampingi oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Ir. Dewa Made Apramana, sembari meninjau kesiapan infrastrukstur dan operasional LPSE.

Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan Sosialisasi PerPres no.54 yang kelak akan menjadi panduan atau buku sakti Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, kepada seluruh jajaran Panitia dan Pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung.

LPSE atau yang dikenal dengan unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah secara Elektronik, dibentuk oleh LKPP atau Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah  sebagai tindak lanjut salah satu tugas yang diembannya  yaitu  untuk mengembangkan sistem informasi serta melakukan pengawasan penyelenggaraan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik. LPSE Pemerintah Kabupaten Badung sendiri merupakan salah satu dari 35 LPSE yang tersebar di 19 provinsi dan melayani 47 instansi di Indonesia, mengawali langkah dengan melaksanakan kegiatan TOT (Train of Trainer) sekitar bulan Maret 2010 lalu.

Banyak hal yang kemudian kami persiapkan pasca pendidikan atau TOT tersebut, diantaranya membuat PerBup untuk mengatur pembentukan unit dan pengelola, melatih dan menularkan ilmu kepada puluhan sumber daya yang kami miliki, hingga penyiapan gedung yang akan digunakan sebagai operasionalnya nanti.

Masalahnya, dalam perencanaan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, unit ini tidak termasuk hitungan untuk mendapatkan gedung unit baru. Itu sebabnya, untuk operasional unit LPSE diberikan keleluasaan untuk memilih salah satu dari sekian gedung tak terpakai di areal lama. Namun, untuk bisa untuk menyulap gedung dari yang tak terpakai hingga siap pakai bukan merupakan hal yang mudah. Butuh banyak pemikiran, tenaga dan biaya. Bersyukur, rekanan yang menjadi pemenang tender renovasi gedung ini bekerja secara total (Terima Kasih Pak Wayan Sarna), walaupun hingga H-1 rencana Launching. Demikian halnya dengan rekanan yang menjadi pemenang pengadaan komputer, jaringan dan lain-lain, bekerja tidak kalah seriusnya. Jujur, saya salut pada mereka.

Saya masih ingat ketika untuk pertama kalinya sampai dan melihat langsung gedung ini secara langsung, tak ubahnya gedung berhantu. Ups… tapi memang, dari kotoran, debu, plafond bocor hingga lantai yang retak cukup membuat saya keder untuk berlama-lama. Tapi kini ? gedung ini telah menjadi kantor kedua yang tak kalah asyiknya. Enam belas komputer berjaringan LAN siap pakai ditambah enam unit lainnya yang diperuntukkan bagi operasional pengelola, dan sepuluh unit NoteBook premium plus koneksi mobile, ditambah perangkat free wi-fi, membuat kami betah untuk duduk manis sembari menunggui rekanan bekerja. Waktu luang yang biasanya saya dapatkan saat berkantor di Dinas Bina Marga pun, dengan ‘sukarela’ saya alihkan kemari. Rasanya sayang kalo koneksi gratisan ini dilewatkan begitu saja.

Kembali pada unit LPSE Pemkab Badung, sebenarnya masih banyak hal yang harus kami sempurnakan pasca Launching ini. Dari setup Genset untuk menyiasati mati listrik pada unit Server, menambah kenyamanan pada masing-masing ruangan yang minim furniture, hingga menambah daya koneksi yang kini masih terhitung lelet untuk sebuah unit berbasis elektronik.

Meski demikian, ada satu hal yang patut kami syukuri. Yaitu, mimpi-mimpi persiapan Launching yang dahulu kerap menghiasi pikiran kami hampir setiap harinya, kini sudah bisa kami lupakan. Setidaknya ini bisa mengurangi beban kami untuk sementara. Dan untuk selanjutnya, kita lihat saja…

Menuju Pelatihan Perdana SPSE oleh Tim LPSE Badung

9

Category : tentang iLMu tamBahan

Akhirnya jadi juga, begitu bathin kami Senin pagi 8 November 2010 lalu. Meskipun sempat diundur seminggu dari rencana awalnya, pelatihan perdana yang diadakan oleh Tim LPSE Badungpun mulai dilaksanakan. Hal ini tentu saja menjadi surprise kecil bagi kami, yang selama dua bulan terakhir hampir selalu digedor degup jantungnya, diburu target untuk segera melakukan Launching meskipun dengan amunisi yang bisa dikatakan sangat minim.

Mengapa saya katakan demikian ? jangankan untuk launching yang biasanya lekat dengan acara seremonial atau kunjungan, hanya untuk bisa melaksanakan sosialisasi pelatihan saja, kami masih merasa kurang yakin bahwa sistem yang kami sebut dengan SPSE (Sistem Pengadaan Secara Elektronik) dapat berfungsi dengan baik mengingat beberapa item yang sekiranya dianggap penting belum kami miliki.

Katakanlah Genset. Untuk mengantisipasi pemadaman listrik secara tiba-tiba pada sistem, tentu saja kami sangat memerlukan benda yang satu ini. Apalagi sistem dituntut agar dapat diakses selama 24 jam penuh. Ketiadaan Genset tentu saja ditenggarai mampu mengkikis daya tahan Server sedikit demi sedikit.

Koneksi. Dengan kecepatan akses 128 kbps untuk aktifitas upload dan download data, tentu saja tidak disarankan untuk digunakan dalam menjalankan sistem SPSE. Hal ini berkaitan dengan banyaknya dokumen yang kelak dikirimkan oleh Penyedia Barang dan Jasa sebagai tahap awal berfungsinya lembaga LPSE. Bandingkan saja dengan koneksi yang digunakan LPSE Propinsi yang sudah mencapai kecepatan 4 MBps atau Jawa Barat yang mencapai 8 MBps.

Ruangan. Untuk dapat beraktifitas secara normal sebagai lembaga LPSE, kami tentu saja membutuhkan gedung atau minimal ruangan yang layak pakai untuk bekerja atau melatih tenaga sumber daya yang kami miliki sesuai dengan Tugas yang dibebankan pada kami. LPSE Badung sejauh ini diberi fasilitas sebuah gedung lama yang sudah tak terpakai lagi, disebelah selatan Wantilan PusPem Badung lama. Dahulunya gedung ini digunakan oleh KPDE dan Pemberdayaan Perempuan. Berhubung keduanya telah pindah ke gedung baru per bulan April 2010, praktis baik gedung dan tentu saja ruangan-ruangan yang ada didalamnya tak dihuni dan terawat lagi. Maka tugas kami paling pertama saat ini adalah berusaha menyulap penampilan gedung agar bisa lebih layak huni dan paling tidak mencerminkan sebuah Gedung yang siap menerima tugas apapun itu.

Disamping itu, status kami masing-masing pula yang menyebabkan sedikit amburadulnya rencana kerja yang telah disusun jauh sebelumnya. Meski sudah mengantongi Surat Tugas selama proses berlangsung, tentu kami tidak dapat meninggalkan tugas dan tanggung jawab kami masing-masing begitu saja di lingkungan dimana status resmi kami berada. Mungkin itu pula yang kemudian memaksa kami (demikian pula halnya saya), berusaha untuk meluangkan waktu dirumah untuk mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya dapat kami selesaikan. Saya pribadi bahkan memutuskan untuk menolak dua pekerjaan sampingan yang sedianya dahulu bisa saya ambil di luar jam kantor.

Kembali pada Pelatihan Perdana aplikasi SPSE oleh Tim LPSE Badung yang dimulai pada hari Senin, 8 November 2010, tanpa seremonial ataupun kunjungan dari pejabat berwenang. Semua berjalan seperti yang kami harapkan, tanpa publikasi dan gembar gembor berlebihan.

Sebagai tahap awal kami melatih sekitar 37 orang Admin PPK (tenaga yang kelak akan menjadi perpanjangan tangan PPK -Pejabat Pembuat Komitmen yang notabene dijabat oleh Eselon setingkat Kepala Dinas-) dan sekitar 80 orang Panitia Pengadaan yang dikirim oleh masing-masing SKPD di lingkungan Kabupaten Badung.

Lantaran pelatihan penggunaan aplikasi SPSE ini adalah yang perdana bagi kami, bisa ditebak pada beberapa hari pertama kami mendapatkan banyak cobaan hingga kelimpungan akan konsep gambaran awal cara melatih tenaga sesuai dengan tugas dan wewenang yang mereka dapatkan. Evaluasi pun kami lakukan secara bertahap setiap kali usai sesi Pelatihan.

Untuk Admin PPK misalkan. Agar semua tenaga bisa ikut serta belajar mencoba dan terlibat didalamnya, saya selaku Admin Agency berinisiatif membuatkan User ID lengkap beserta Password yang disesuaikan dengan SKPD atau Badan atau Kantor tempat mereka beraktifitas. Lain lagi dengan saat melatih tenaga Panitia. Baru pada akhir sesi kedua, kami baru bisa merumuskan satu ide baru untuk kemudian diterapkan dalam sesi-sesi berikutnya. Tujuannya tetap satu, agar semua tenaga yang kami latih dapat ikut terlibat dan mencoba sistem step by step sesuai dengan arahan dari kami.

Tidak mudah memang. Diperlukan banyak waktu luang dan kesabaran agar semua proses dapat dijalankan dengan baik. Yah, do’akan saja, agar kami bisa melewatinya hingga 2 Desember mendatang.

Persiapan menuju LPSE Badung

19

Category : tentang iLMu tamBahan

Setelah sempat tertunda beberapa pekan, serta mengalami gangguan pada sistem operasi yang disuntikkan pada server, akhirnya halaman web LPSE Badung dinyatakan telah siap mengudara pada 11 Oktober 2010 pk. 17.40 wita. Bagi yang ingin tahu lebih awal, silahkan main ke halaman lpse.badungkab.go.id. Belum ada informasi apa-apa sih, tapi kelak halaman ini akan menyajikan informasi terkait paket-paket kegiatan yang dilelangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Badung, tentu saja yang masuk dalam ranah LPSE.

Sekedar mengingatkan bahwa LPSE atau Lembaga Pengadaan Secara Elektronik merupakan sebuah unit yang dibentuk oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk melayani proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang dilaksanakan secara elektronik. LPSE ini sedianya akan menggunakan sistem aplikasi e-Procurement, sebuah sistem aplikasi pengadaan yang dikembangkan oleh LKPP, bersifat terbuka, bebas lisensi dan bebas biaya. Adapun Ide untuk menerapkan e-Procurement di Indonesia sudah dimulai saat dikeluarkannya Inpres No.3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government.

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No.54 Tahun 2010 yang kelak bakalan menggantikan Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 secara resmi per 1 Januari 2011 nanti, masih tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, pada Bab XIII Pasal 106 telah diatur pula terkait Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik dari ketentuan umum, lingkup hingga portal pengadaannya. Pengadaan Barang/Jasa secara Elektronik ini berpedoman pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Badung sendiri, terkait Implementasi e-Procurement telah dituangkan dalam Peraturan Bupati Badung No.27 Tahun 2010 dan resmi diundangkan pada tanggal 7 Juni 2010. Adapun tujuannya adalah untuk memberikan kepastian hukum dan meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi, persaingan sehat dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah di Daerah dalam hal ini Kabupaten Badung.

Dalam prosesnya nanti untuk menuju peluncuran LPSE Badung secara resmi, masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan selaku Pengelola. Diantaranya adalah penyiapan gedung yang akan ditempati dan digunakan sebagai operasional LPSE, pembenahan ruang latihan serta administrasi hingga mengkoneksikan jaringan agar nantinya dapat digunakan baik untuk kepentingan pelatihan dan pelelangan.

Disamping itu, kami juga harus mampu memecahkan masalah terkait minimnya sumber daya yang dimiliki untuk dapat menjalankan sistem Pengadaan Secara Elektronik sesuai dengan aturan yang berlaku. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut bisa jadi dalam beberapa pekan kedepan, pelatihan adalah kegiatan yang menjadi fokus utama kami, mengingat baik PPK (Pejabat Pemegang Komitmen), Panitia dan Penyedia Barang/Jasa merupakan pelaku utama yang sangat berperan dalam proses Pelelangan ini kelak.

Hanya saja, memang harus saya akui bahwa untuk memulai sebuah impian yang mulia, dibutuhkan setidaknya dukungan dari semua pihak yang terkait didalamnya. Doakan saja agar kami bisa melakukannya dengan baik.