drg.Nyoman Sudarnata, Utamakan Kualitas dan Pelayanan

17

Category : tentang Opini

Ada dua hal yang saya yakini sejak jauh sebelumnya terkait perawatan kesehatan Gigi. Mahal atau membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan lantaran Mahalnya itu, Kesehatan Gigi lantas bukan menjadi Prioritas Utama untuk ditangani oleh ahlinya.

Pada tahun 2004, lantaran sakit yang tak tertahankan, saya sempat memeriksakan gigi kepada seorang dokter muda yang praktek di dekat rumah kami. Waktu itu saya masih berstatus CPNSD sehingga yang namanya Gaji pokok masih berkisar dibawah satu juta rupiah. Dari proses perawatan yang dilakukan, terlihat sekali perbedaan perlakuan Konsumen oleh Dokter Gigi Muda, dibanding para Senior mereka. Sangat diperhatikan dan penuh keramahan. Sayangnya semua ketakjuban saya pada sang Dokter mendadak hilang pada saat pembayaran dikenai biaya sebesar 300 ribu rupiah. Hal ini berlaku pula saat pemeriksaan kedua dan ketiga. Masih bersyukur saya membawa uang lebih saat itu, namun tidak di pertemuan terakhir. Dengan besaran biaya Tambal Gigi hingga 900 ribu rupiah, ini pertama kalinya saya merasa Bodoh, karena bisa-bisanya berhutang kepada Dokter lantaran uang di dompet tak mencukupi. Besarnya tarif periksa ini, diakui pula oleh seorang sepupu yang lebih memilih mencabut gigi di Dokter Gigi ternama dekat rumah. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tak lagi ke Dokter Gigi.

Praktis, dibandingkan kesehatan tubuh lainnya, setiap kali merasakan sakit gigi lebih kerap saya abaikan ketimbang dirawat ke Dokter Gigi. Satu-satunya obat atau solusi paling cepat dan murah untuk menghilangkan rasa sakitnya adalah puyer Bintang Toedjoe yang dijual limaratusan rupiah per sachetnya. Bahkan untuk pemeriksaan secara berkala seperti yang dianjurkan oleh para Dokter Gigi di iklan masyarakat baik melalui media cetak maupun televisi pun tak pernah saya ikuti. Hingga akhirnya satu waktu gigi belakang terpantau sudah goyah dan musti dicabut.

Ada dua Dokter Gigi yang disarankan oleh orang tua saat itu. drg. Ibu Dayu yang praktek di sebelah barat banjar Kayumas Kelod dan drg.Rudita yang praktek di jalan Thamrin, sebelah barat Puri Pemecutan. Lantaran Ibu Dayu dikabarkan sudah ‘melinggih’ oleh putranya yang kebetulan masih rekan sekantor, maka drg. Rudita-lah yang menjadi satu-satunya pilihan. Dan bersyukur, ternyata memang saya tak salah pilih. Selain biaya perawatan yang terjangkau oleh kantong, proses pencabutan gigi berlangsung cepat dan tanpa masalah. Sakit gigi pasca pencabutan yang kabarnya bisa berlangsung hingga dua tiga hari, malah tak saya rasakan lantaran anjuran untuk mengkompresnya dengan es batu saya laksanakan sebaik-baiknya.

Sayangnya, saat merasakan sakit gigi berikutnya, saya tak bersua drg. Rudita lantaran Beliau dikabarkan cuti dalam waktu yang cukup lama. Satu-satunya pilihan yang ditawarkan saat itu adalah menyerahkannya kepada seorang Dokter Gigi Muda yang sepengetahuan saya memang praktek secara bergantian di tempat yang sama. Entah memang ada petunjuk dari-Nya, sehari sebelum memutuskan periksa, saya sempat membaca satu pengalaman anggota milis sebuah grup dunia maya, yang dihadapkan pada pilihan sama dengan yang saya alami. Inti cerita, tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan kepada seorang Dokter Muda yang berpraktek di tempat yang sama saat dokter senior langganan sedang berhalangan praktek. Karena bagaimana mungkin dokter muda itu akan menjadi berpengalaman dan berkualitas jika kita tak pernah memberikannya kesempatan untuk membuktikannya ? dan yakinlah bahwa seorang Dokter Muda pasti memiliki keinginan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasiennya.

Dokter Gigi I Nyoman Sudarnata. Selama tiga tahun merasakan pelayanan kesehatan Gigi, hingga saat ini saya pribadi tak jua mengenal sosoknya  lebih jauh. Yang saya tahu hanyalah Beliau seorang Ayah yang baik dari dua anak dan satu istri, memiliki ketertarikan pada sejarah dan spiritual, serta berbekal visi pelayanan yang terbaik bagi pasien.

Sebagai seorang Dokter Muda, Dokter Komang demikian panggilan akrabnya, memenuhi banyak persyaratan yang kerap diinginkan oleh para orang tua usia muda. Keramahan dalam Pelayanan, tak pelit untuk berbagi informasi ataupun tips menjaga kesehatan (dalam hal ini terkait Gigi) dan utamanya, mampu memahami kemampuan atau daya jangkau pasiennya dalam membayar jasa. Untuk yang terakhir ini, rupanya tidak berbeda dengan gaya Dokter Gigi Rudita, senior Beliau yang menyasar golongan pasien Menengah ke Bawah.

Lantaran faktor ‘Terjangkau inilah, tidak heran ada kalangan yang kemudian mempertanyakan soal kualitas Pelayanan yang diberikan, karena memang selama ini dunia kita  selalu mengenal ‘ada harga pasti ada kualitas’. Tapi kalo boleh saya memberi pertimbangan, tidak selalu loh harga atau biaya yang mahal akan memberikan kepuasan secara kualitas bagi penggunanya. Dalam hal pelayanan jasa kesehatan pun saya lihat banyak contohnya diluaran. Dan untuk Dokter Komang, tingkat kunjungan pasien barangkali masih bisa dijadikan sebagai salah satu tolok ukur jika yang dipertanyakan itu adalah soal Kualitas Pelayanan.

Dengan alasan demi menjaga kesehatan pribadi dan juga hubungan emosional dengan keluarga kecil baik Istri dan kedua anaknya, Dokter Komang membatasi diri untuk melakukan Praktek selama tiga hari dalam satu minggu. Selasa dan Kamis dari pukul 10 pagi hingga 6 sore, sedangkan khusus hari Sabtu Beliau melayani pasien hingga jam 9 malam.

Apabila pasien ingin mengetahui apa dan bagaimana penyebab sakit yang dialaminya pun, Dokter Komang siap memberikan penjelasan dalam bentuk gambar sehingga dapat lebih mudah dipahami oleh awam seperti halnya saya. Demikian pula dengan cara mencegah dan penanganan darurat yang barangkali bisa menunda rasa sakit yang datang.

Dari segi peralatan yang digunakan Dokter Komang memang tak semapan Dokter muda yang dahulu pernah saya kunjungi. Namun secara garis besar dan kelengkapannya masih sama. Hanya saja bila dibandingkan dengan ruang praktek dokter lain seperti Dokter kandungan Wardiana misalnya, saya merasa bahwa suasana ruang praktek dokter Komang kurang dilengkapi dengan alunan Musik yang barangkali bisa memberikan psikologi kepada pasien, bisa sedikit Rileks saat menjalani perawatan. Hehehe… Just my Imagination saja.

ke Dokter Gigi (muda) ? Siapa Takut ?

10

Category : tentang KHayaLan

Melanjutkan posting sebelumnya, perihal periksa gigi ke dr.Rudita, berawal dari cutinya pak dokter sekitar semingguan (mungkin untuk beristirahat), maka penanganan dialihkan pada seorang dokter gigi muda, dr. Nyoman Sudarnata yang akrab dipanggil dr.Komang, seorang dokter yang walopun pengalamannya tak sebanyak dokter seniornya, dr. Rudita, namun dari segi komunikasi pada pasiennya, tak kalah ramah bahkan selalu menyapa pasiennya dengan salam setiap kali sua pasien yang ia tangani.

Mungkin masih ingat iklan rokok putih yang ‘orang muda gak boleh bicara. Tanya Kenapa !’. Disitu (ini pendapat pribadi loh) ada satu kekhawatiran bahwa orang muda lantaran sedikit pengalaman lebih dikhawatirkan tak mampu menghasilkan karya yang lebih baik dibanding generasi tua. Mungkin Itu sebabnya pula dari sekian banyak pasien yang mengantre, rata-rata lebih memilih dr.Rudita untuk menangani keluhan mereka dibanding merujuk pada si dokter gigi muda ini. Paling gak setiap kali hendak diperiksa, pasien ditanya lebih dulu mau ditangani oleh dokter yang mana ? J

But Hey, bukankah setiap orang punya keinginan untuk berbuat yang terbaik bagi orang lain ? apalagi ini adalah profesi dokter pada pasiennya yang mempertaruhkan keberhasilan-kesehatan sang pasiennya ? Dokter mana sih yang mau bertindak asal-asalan memeriksa dan mendiagnosis pasiennya hingga penanganannya pun tak maksimal ?

dokter-gi3.jpg

Inilah yang menjadi alasan utama, mengapa sedari dr.Rudita cuti tempo hari, untuk penanganan masalah gigi ini diserahkan pada dr.Komang yang notabene baru dikenal ? Keyakinan akan tekad seorang dokter untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasiennya, dan ini tentu berlaku pula untuk dokter muda satu ini.

Jadilah usai gigi yang berlobang ditambal oleh pak dr.Komang, dengan senang hati pula meminta Beliau untuk melanjutkan memeriksa dan menangani keluhan yang lainnya.

Bersyukur, Beliau mau dan mampu memberikan penanganan terbaik bagi pasiennya, terbukti pada rasa sakit gigi yang sudah mulai berkurang (psst.. ada 4 lokasi yang sakit loh) dan keterangan Beliau yang walaupun kebanyakan memakai istilah medis (sulit dimengerti bagi seorang awam seperti saya), tetap diusahakan agar bisa dicerna dengan jelas oleh pasiennya. Tak lupa saran dan tips merawat gigi disertakan pula usai pemeriksaan.

So, kalopun harus datang dan periksa ke dokter Gigi dan ditangani oleh seorang dokter gigi muda, hayooo aja. Siapa takut ?

ke Dokter Gigi ? Siapa Takut ?

1

Category : tentang KHayaLan

dua bulan terakhir ini, aktivitas rutin datang periksa ke dokter Gigi kembali dijalani berhubung beberapa gigi sedang mengalami masalah yang berbeda-beda. Dari berlubang, keropos, pecah hingga gusi bengkak.

Seperti biasa, dokter langganan selama 2-3 tahun ini adalah dr.Rudita yang sampe hari ini praktek di jl. Thamrin sebelah barat Puri Pemecutan, yang kini dibarengi pula oleh seorang dokter gigi muda dr. Nyoman (Komang) Sudarnata, untuk membantu pasien Beliau saat kunjungan lagi ramai-ramainya.

Mengapa bisa betah periksa disini ?

dokter-gi2.jpg

Pertama, dr.Rudita itu sudah dikenal sebagai dokter gigi senior dengan segudang pengalaman pula. Itu sebabnya ketika terpaksa mencabut gigi yang berada paling belakang, dr.Rudita mampu melakukan hal yang terbaik bagi pasiennya. Cepat dan tanpa rasa sakit berlebihan.

Kedua, dr.Rudita itu komunikatif. Satu kunci sukses bagi para dokter agar tetap disukai oleh pasiennya, seperti halnya dokter Kandungan tempat periksa Istri kmaren, dr. Wardiana di Apotik Agung jl. Diponegoro. Jadi apapun keluhan dan pertanyaan yang ada dalam kepala, perihal ‘mengetahui sebab akibat sakit gigi yang diderita, dilayani dengan baik, walopun Beliau jarang senyum pada pasiennya.

Ketiga, mengutip kata-kata Beliau, bahwa pasien yang datang dan periksa rata-rata adalah golongan Menengah kebawah. Artinya baik ongkos yang dikenakan tak semahal dokter gigi lain (Indra Guizot ataupun dokter gigi cewek yang praktek di jl Yudistira)., dan obat yang diresepkan bukanlah obat mahal alias generik.

Jadi, kalopun harus datang dan periksa ke dokter Gigi, hayooo aja. Siapa takut ?