Pengalaman Pertama menjalani Pemeriksaan Diabetic Centre

Category : tentang KHayaLan

Berbekal informasi awal tentang tata cara pengambilan nomor antrean BPJS di RS Sanglah dari kakak ipar yang bertugas disitu, sekitar pukul 6.15 pagi tadi, kamis 22 Februari, saya sudah tiba di pelataran Poli dan menaruh berkas pada tumpukan daftar tunggu manula.
Meski awalnya agak pesimis bisa segera mendapatkan nomor antrean, berhubung diwajibkan puasa dari jam 9 kemarin malam, tapi ternyata ketiadaan kartu RS Sanglah lantaran seingat saya belum pernah berhubungan atas nama pribadi, memberikan peluang Nomor Antrean 1 bagi Pasien Baru.
Maka setelah melewati proses input Administrasi di Loket 1 pun, sekitar pk.7.30 pagi saya sudah menunggu kedatangan dokter untuk panggilan cek lab. Masih cukup waktu untuk menumpahkan isi hati melalui Evernote.

Sekitar pk.7.45 pasien pertama antrean Pusat Diabetes inipun mulai dipanggil. Saya mendapat giliran yang keempat.
Berdasarkan info dari Petugas, saya harus meluncur ke Bagian Laboratorium disebelahnya PMI yang rupanya sudah penuh antrean pasien dari berbagai belahan poliklinik. Disini saya mendapatkan nomor Antrean A80 sementara yang dipanggil baru sekitaran A20an. Masih cukup lama.
Jadi antre agak lama berhubung proses pengambilan darah hanya cukup sekali saja, yang diarahkan ke ruangan besar, sementara ruangan kecil dimana antreannya sedikit diperuntukkan bagi pasien dengan dua kali pengambilan darah.
Baiklah.

1,5 Jam berlalu. Akhirnya Antrean nomor A80 pun dipanggil ke Konter 1.
Kirain bisa langsung ambil darah, ternyata dapat Antrean lagi nomor C123. Sementara yang dipanggil baru nomor 40an. What the… ?

Pantes saja ada Ibu-ibu tua yang barusan duduk didepan saya, sempat komplain dengan keluarganya, kok bisa setelah pemanggilan nomor A6 malah nunggu lagi jadi C26 ?
Adeeehhh…
Pantesan saja ruangan ini penuh sesak dari pagi. Rupanya prosesnya dobel toh ?
Yang dapat urutan Nomor 1 Pasien Baru saja musti nunggu edan begini sampe jam 9.15 belum juga ambil darah, apalagi yang Antrean belakangan ya ?
Pantesan juga kalo di Poli tadi sejak jam 6 pagi infonya sudah mulai berdatangan antre ambil nomor. Memeh…

Kira-kira sampai jam berapa ya selesai proses Cek Lab kali ini ?

Mengurus Diri Sendiri dengan BPJS di RS Sanglah

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Jika saja boleh memilih dari awal, lebih baik mengambil jalan menjadi pasien Umum ketimbang BPJS. Memang opsinya ya membayar, namun secara layanan biasanya minim antre yang tidak jelas macam ini.
Kamis pagi 22 Februari, tiba di pelataran Poli RS Sanglah sekitar pk.06.15 wita. Dengan pemandangan antrean berkas yang sudah lumayan menumpuk. Tanpa ada petugas atau masyarakat lain yang menjelaskan, sayapun menaruh berkas pada tumpukan sebelah kiri berhubung orang yang datang lebih dulu meletakkannya disitu. Berselang setengah jam baru tahu kalau tumpukan sebelah kiri adalah daftar antrean untuk Manula dengan usia 60 tahun keatas.
Adeeeh… sudah kepalang tanggung, ya dibiarkan saja deh. Resiko belakangan.

Sekitar pukul 6.55, pelataran Poli sudah mulai dipenuhi pasien dan keluarganya. Sayapun mengambil tempat duduk di tangga depan loket, sembari berharap loket bisa cepat dibuka. Lantaran perut sudah lapar berhubung wajib puasa sedari pk.21.00 kemarin malamnya, kaitan dengan agenda Cek Lab pagi ini.

Entah mengapa saya jua tak berhasil mendaftarkan diri secara Online di halaman web miliknya RS Sanglah dari hari Senin kemarin. Entah apakah karena saya adalah pasien rujukan dari RS lainnya sehingga Nomor Rekam Medis belum terdaftar dalam database milik Sanglah.
Pertanyaannya, apakah saya perlu mengambil Nomor Antrean sementara agenda yang dijalani hanya sebatas Cek Lab ?
Kalau rujukannya langsung ke bagian Lab atau UGD mungkin tidak perlu. Namun dibaca dari petunjuk pada Rujukan yang ada dan mengarah ke Poli Interna, sesuai informasi yang didapatkan dari petugas RS Sanglah sebelumnya, saya tetap wajib mengambil Nomor Antrean dan mendaftarkan diri dari Loket 1.
Yang artinya ya harus menunggu loket Pengambilan Nomor dibuka dulu. Sayangnya hingga jam menunjukkan pk 7.05 belum ada tanda tanda apapun disini. Sementara pemanggilan Nomor Antrean yang didaftarkan secara Online, sudah mulai dipanggil tepat pk.7.00.

Agenda Cek Lab yang dirujuk ke RS Sanglah ini merupakan bagian dari jadwal pemeriksaan kesehatan yang saya lakukan sejak sebulan lalu. Untuk Kadar Gula Darah puasa dan 2 jam setelah makan, Kolesterol dan Asam Urat, sudah usai saya jabani minggu lalu. Sementara agenda kali ini menyasar Tiroid dan Kadar Gula Darah tiga bulanan. Atas dasar gemetaran pada tangan setiap kali memegang piring atau cangkir, maka dokter Internis yang bertugas pada faskes satu pun merujuk ke Poli Interna RS Sanglah.

Mengejar Ketertinggalan Langkah Spa Challenge

1

Category : tentang KeseHaRian

Membuka-buka menu aplikasi Samsung Health pasca berjalan kaki sepanjang 5 km, sekitar delapan kali putaran mengelilingi lapangan alun-alun Puputan Badung Kota Denpasar, tak sengaja menemukan tantangan baru berskala global yang diikuti baik disadari ataupun tidak oleh 800 K User lainnya.
Spa Challenge dengan memenuhi target berjalan kaki hingga 200 K langkah dalam satu bulan Februari ini. Yang bila dirata-ratakan dalam seharinya, harus menempuh 7 K langkah untuk bisa mencapainya dengan baik. Sementara Target Harian aplikasi secara default hanyalah sekitar 6 K langkah saja. Cukup mudah bukan ?

Sepintas lalu, apa yang dipaparkan pada aplikasi Samsung Health ini cukup menggoda. Mengingat sambil berolahraga, kita bisa have fun lebih jauh serta memantau kesehatan dengan menargetkan aktifitas tertentu seperti konsumsi air minum, kafein, makan siang hingga pencatatan kadar gula darah, detak jantung, tekanan darah juga berat badan.
Ada data yang disimpan secara otomatis dengan memanfaatkan device dan share location kekinian, ada juga yang direkam secara manual dan ada pula dengan menggunakan device tambahan seperti Samsung Gear S3 Frontier yang saya gunakan belakangan ini. Cukup puas bisa memantau semua perkembangan sembari menikmati pemandangan lalu lalang orang disekitar kita.

Untuk kelas Spa Challenge yang diselenggarakan bulan Februari inipun, saya baru bisa mencapai rangking 200an K dan kelihatannya bakalan melorot setiap paginya, untuk jumlah langkah sebanyak 164 K sejauh ini. Lumayan lah.
Yang jikalau dirata-ratakan, jumlah pencapaian dalam sehari hanya 9 K langkah saja. Sangat sedikit sebetulnya. Apalagi jika disandingkan dengan sang pemegang rekor tercatat, si Mr.Boki dengan 1,7 M langkahnya saat ini. Edan lah.

Soal rekor bulanan ini, sempat terjadi miss dalam pikiran saya, yang hanya menyangka enam digit angka sehingga selisih dengan langkah yang saya capai hanya sekitar belasan ribu saja. Itu artinya jika dalam sehari kelak mampu menghabiskan waktu 2 jam sehari untuk berjalan kaki, rekor ini pun akan dengan mudah dilibas. Namun pertanyaannya, kenapa yang namanya rangking akumulasi jadi begitu jauh ?
Eh setelah ditilik lama, si Mr.Boki rupanya punya tujuh digit angka dalam jumlah langkah. Saya mah apa gitu, belum ada sepersepuluhnya. ?

Akan tetapi ya jangan mudah patah semangat lah kalo kata orang-orang tua. Minimal yang namanya olah raga tentu ada banyak manfaatnya bila bicara soal Diabetes dan upaya menurunkan kadar gula darahnya. Disamping itu, yang namanya waktu luang atau senggang, kini bisa diisi dengan berjalan kaki barang setengah hingga satu jam. Akan tetapi target pertama adalah mengejar ketertinggalan angka untuk bisa mencapai 5 Bintang dan garis finish dulu.
Kira-kira bisa dicapai pada hari ke berapa ya ?

Giat Menurunkan Gula Darah

Category : tentang DiRi SenDiri

Selama hampir sebulan terakhir, pola hidup bersahabat dengan Diabetes mulai dilakoni. Keputusan ini diambil setelah Gula Darah terpantau tinggi di awal Januari lalu, pasca beberapa keluhan fisik mulai dirasakan dan sukses membuat galau seisi rumah termasuk tumpahan sampah di halaman blog ini.

Tidak lagi mengkonsumsi Nasi Putih.
Mungkin lebih tepatnya Mengurangi Konsumsi Nasi Putih.
Digantikan dengan beras hitam pembagian jatah Eselon Pemkab Badung yang mulai diberikan sekitar Bulan Desember tahun lalu, dengan rasa yang agak kesat dari nasi putih biasa.
Awalnya agak aneh, namun saat mulai terbiasa, ya dilupakan saja rada anehnya itu.
Namun sekali dua sempat melanggar lantaran dihadapkan pada situasi makan siang yang tidak memungkinkan untuk menemukan opsi makanan yang layak dikonsumsi. Rapat kantoran misalkan.

Mengurangi porsi Makan Siang dan Makan Malam.
Tergolong ekstrem sebenarnya, namun demi Tjap Cowok Cowok Manis bisa segera dikurangi, keputusan ini mulai dicoba juga.
Jadi untuk Makan Siang dengan nasi, diganti dengan menu Sayuran tanpa Daging atau minim Daging. Begitupun Makan Malam, diupayakan ngemil terakhir sebelum jam 19.00. Itupun jenisnya tidak berat, seperti ketela rebus atau semangkuk kacang hijau.
Menyiksa diri ? Bisa jadi.
Tapi kalo bisa lolos dan tubuh memakluminya, saya yakin bisa jalan terus.

Memperbanyak Waktu untuk Olah Raga.
Saya rasa Inti Gaya Hidup seorang penderita Diabetes disamping mengubah Pola Makan diatas, ya rajin-rajin membakar Kalori. Maka itu olah raga pun sekarang mulai rajin dilakoni secara Sadar.
Meski tidak dalam bentuk olah raga yang mudah mengeluarkan keringat seperti lari ataupun angkat beban, hanya jalan kaki dalam tempo cepat, namun pencapaiannya lumayan juga.
Bersyukurlah kini ada perangkat pintar jam tangan Samsung Gear S3 Frontier yang menemani tiap kali aksi ini dilakoni. Minimal jumlah langkah, jarak tempuh atau detak jantung bisa terdeteksi setiap harinya. Kalopun istri mau memastikan saya beraktifitas olah raga atau tidak ya gampangnya tinggal memeriksa aplikasi Samsung Health ini saja.
Termasuk pemantauan Kadar Gula Darah saban pagi pun saya upayakan bisa dicatat disini.

Istirahat Teratur.
Jam Tidur atau istirahat malam, paling lambat 22.00 sudah masuk kamar tidur. Selain menjaga kualitas tidur yang lebih baik, juga menjaga bangun pagi bisa tepat waktu agar bisa melakukan sejumlah aktifitas pagi sebelum masuk kantor. Dan dari aplikasi yang sama pun bisa dilihat masa aktif istirahat tadi berdasarkan kali terakhir mengakses ponsel. Tidak fair sebenarnya, namun lumayan berguna.

Menyadarkan Diri sebagai seorang Penderita Diabetes.
Diantara semua upaya, secara pribadi ini yang paling sulit. Bagaimana meyakinkan diri secara sadar sebagai seorang pengidap Diabetes sehingga secara sadar pula mau tidak mau, suka tidak suka harus mulai mengurangi nafsu makan yang aneh dan enak jaman Now, pula menjaga kesehatan demi anak istri dan orang tua juga teman kantor hingga group whatsapp, serta memperpanjang umur demi melihat pencapaian hidup yang diidam-idamkan.

Sedangkan Upaya Terakhir ya Rajin Menulis.
Menuangkan segala unek unek beban di kepala agar tak menjadi pikiran kalut lebih lanjut yang berpotensi menaikkan kadar gula darah tak terkontrol. Cuma masalahnya ya soal mood saja. Yang hadir tak lagi serutin dahulu.
Harus bisa lebih Optimis dalam menghadapi Hidup.

Keluhannya, paling ndak ya Nyeri sendi pada kaki kiri sudah mulai berkurang meski belum bisa bersila dengan baik laiknya dulu. Lalu lemah lesunya keseharian kini sudah berganti dengan semangat hidup yang baru termasuk beberapa hiburan yang diupayakan bisa dinikmati dengan benar pada jalurnya.
Yang tersisa kini hanya gemetaran pada tangan saat memegang sendok atau piring dan cukup mengganggu. Belum tau juga apa penyebabnya.

Bersahabat (lagi) dengan Diabetes

5

Category : tentang DiRi SenDiri

Dua minggu terakhir ini sepertinya menjadi momen yang penuh tantangan, dimana saya mencoba untuk bersahabat (lagi) dengan diabetes setelah empat bulan sebelumnya masuk dalam tahapan tak peduli pada kondisi kesehatan.

Enam Kilogram berat badan turun dalam waktu tiga bulan tahun lalu. Cukup drastis mengingat selama hampir setahun lamanya, bertahan stabil di angka 92 Kg. Pasca penunjukan kembali sebagai PPK, semua stress yang dahulu pernah ada, kembali dengan sukses mengubah pola makan.
Puncaknya, awal tahun baru gula darah melonjak hingga 400an mg/dl. Parah.

Selain kembali mengkonsumsi obat, menambah sedikit dosis yang diberikan oleh dokter sebelumnya, hari demi hari pun dilalui dengan penuh kesadaran.
Mengganti jenis makanan dan cemilan yang dikonsumsi, pun mengurangi kuantitas ngopi sachetan pada jam malam. Beralih ke kopi hitam atau teh tanpa gula. Hambar dan pahit.

Namun begitulah konsekuensi yang harus diterima apabila masih ingin melihat anak-anak tumbuh besar, pula sunggingan senyum istri kala bangun dari tidur.
Intinya berupaya menurunkan gula darah dan mengontrolnya agar tetap normal dalam kesehariannya. Tidak ada lagi makan nasi pada siang dan sore hari. Begitu pula daging dan cemilan manis pula lezat. Cukup ketela, singkong atau sayur cantok menjadi teman menu baik di kantor ataupun rumah.
Demikian halnya dengan gerak badan, berolahraga sejenak mengitari alun-alun kota Denpasar saat senggang pagi hari atau sore selepas jam kerja.

Syukurnya per tadi pagi, hasilnya sudah mulai bisa dipetik. Gula darah pagi saat puasa sudah berada dibawah angka 200 mg/dl. Pencapaian luar biasa mengingat harus mulai membiasakan diri menahan lapar atau menikmati segelas teh tawar sementara anak-anak menyeruput choco float dengan riang.
Sudah resiko menjadi orang yang sakit.

Entah sampai kapan ini bisa bertahan…

Jatuh

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam kondisi begini, kerap alami yang namanya Putus Asa dalam menjalani keseharian.
Diabetes yang tak jua mampu dikontrol, makin hari terasa makin menyiksa.
Bayangan akan akhir nafas tiba dengan ancaman komplikasi selalu terbayang.
Kasihan anak-anak. Kasihan keluarga ini.
Namun apa daya, gula darah saban diperiksa selalu diatas angka 200, 300 bahkan sekali dua sempat mencapai 487.
Dengan konsumsi obat dan berpuasa, rasanya semua percuma begitu saja.
Istirahat hampir selalu dilakoni, dan sepertinya keadaan makin memburuk.
Jatuh dan jatuh lagi…

Diabetes

Mengubah Pola Makan, Memperbaiki Gaya Hidup

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Gak terasa sudah hampir dua minggu ini saya mengkonsumsi beras merah untuk menggantikan kentang dan nasi sebagai asupan karbohidrat baik pagi, siang maupun makan malam. Rasanya sedikit hambar dan kering dari nasi umumnya. Mirip ketan kalo ndak salah.

Tidak hanya itu, lauk mulai dikurangi khususnya daging dari hewan berkaki empat dan sayur diperbanyak. Menurut aturannya sih minimal seperempat piring atau porsi makan. Pula mengubah jenis cemilan seperti roti dan kopi juga berhenti total dari minum minuman kemasan.

Berikutnya, pola makan pun menjadi sasaran. Sedikit demi sedikit namun dalam kurun waktu berkali kali atau berdekatan. Diselingi buah apel, tomat atau jagung ketan.

Hasilnya joss.

Gula Darah saya terpantau normal sejauh ini.
Pemeriksaan terakhir menunjukkan angka 138 mg/dl untuk Gula Darah puasa di pagi hari, dan 126 mg/dl untuk 2 jam setelah makan.
Kaget juga.
Ini adalah hasil pengukuran terbaik selama 4 tahun mengidap Diabetes.

Selain mengubah Pola Makan, untuk bisa menjaga stamina tetap fit dan mencegah masuknya gejala Kolesterol, saya pun akhirnya mulai memperbaiki gaya hidup dengan menyempatkan diri berolahraga sekitar 30 menit di alun alun saban sore sepulang kantor.
Berbekal baju kaos pengganti dan sepatu kets yang kini saya simpan di kendaraan, aksi jalan cepat dilakoni dengan hanya bersalin dua item itu saja. Praktis celana panjang ya menyesuaikan dengan seragam harian. Giliran celana kain ya ayo aja pake celana kain. Ketimbang mampir pulang dan menyisakan sedikit waktu untuk bergerak.

Memutari lapangan sebanyak 4 kali, rasanya sudah mendekati jika saya harus jalan kaki dari rumah bolak balik serta mengelilingi lapangan sebanyak 2 kali. Kalopun masih belum berkeringat, saya akan tambahkan sekali lagi dengan tempo yang sedikit lebih lambat dan memperbanyak gerakan tangan.

Efeknya, selain baju kaos menjadi sekali pakai lantaran basah oleh keringat, rambut kepala juga wajib keramas setiap malam untuk mencegah bau.
Ditemani gedoran mantap musik Sepultura dan System of a Down atau Linkin Park, rasanya akan ada yang kurang jika sampai olahraga ringan ini absen saya lakoni gegara capek bekerja seharian.
Terkait ini, sayapun mencoba mengurangi rutinitas dan tingkat stress, mulai EGP / Emang Gue Pikirin / pada pekerjaan atau apapun itu bentuknya. Dibawa ringan dan pasrah pada-NYA.

Diabetes 4

Perkembangannya jadi lumayan membaik. Luka di kaki sudah sedikit lebih berkurang, menyisakan permukaan yang belum tampak sembuh, dan ditutup jaringan. Agak lama dari biasanya. Tapi minimal sudah ndak terasa sakit lagi apalagi sampai menyeret kaki hanya untuk berjalan.

Duh, doakan saya ya Kawan.
Semoga makin dikuatkan, baik iman maupun upayanya.
Menyitir gambar pesan bagi pengidap Diabetes dan lingkungannya yang saya dapat dari akun sebuah komunitas bagi pengidap Kencing Manis di Instagram, ini adalah perjuangan saya yang tiada henti dalam kesehariannya. Berhubung Diabetes tidak akan mampu untuk sembuh total.
Minimal bisa menjaganya agar tetap rendah.

Mencoba (lagi) Bersahabat dengan Diabetes

Category : tentang DiRi SenDiri

Bertemu lagi Bapak dan Ibu, kawan semua.
Perkenalkan nama saya PanDe, usia 38 tahun. Saat ini berstatus sebagai seorang suami dari seorang istri dan tiga putri kecil.
Bekerja sebagai pelayan masyarakat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, tepatnya pada Dinas Cipta Karya yang berfokus pada peningkatan infrastruktur jalan lingkungan permukiman, dari tahun 2013 lalu.
Terhitung menjadi penderita Diabetes sejak tahun 2012 hingga kini.

Awal tahu terdahulu, saya cukup paham bahwa yang namanya Diabetes merupakan salah satu penyakit yang cukup serius, lantaran tak pernah menjadi penyebab utama kematian bagi kalangan penderitanya, namun menjadi pintu masuk bagi penyebab utama kematian lainnya seperti jantung, kolesterol bahkan Stroke.
Itu sebabnya saya tergolong cukup serius menyikapi dengan mengubah pola makan, termasuk mencoba mengkonsumsi Tomat setiap hari, berolahraga setiap pagi dan memapar mata hari sebelum memulai aktifitas di kantor.
Namun yang namanya upaya, apalagi dalam hal ini pelakunya adalah saya, sama saja dengan upaya lainnya, ya hanya hangat hangat tahi ayam. Hangatnya hanya di awal, setelah itu ya dicueki. Meski secara pemahaman, tetap sadar bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes.

Bagi seorang penderita Diabetes, tentu pada periode sebelum bulan Mei tahun 2016 ini, saya meyakini bahwa ‘tidak ada makanan pantangan yang harus saya hindari selama dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Termasuk diantaranya Sate Kambing favorit saya dan Kopi Tora Bika Cappucino yang saya konsumsi sejak pertama kali bekerja pasca tamat kuliah dahulu.
dan kini, sayapun dihadapkan pada Fakta Pahit bahwa semua keyakinan itu ‘SALAH BESAR‘. Dengan Huruf Kapital bahkan tanda Bold bilamana perlu.

Fakta Pahit itu adalah kemunculan benjolan pada kaki kanan saya, tepatnya area tulang kering, yang praktis mulai membuat khawatir dan membuat galau termasuk diantaranya melahirkan tiga tulisan Intermezzo kemarin, yang terpantau mulai terasa menyakitkan per selasa minggu lalu.
dan pada akhirnya pecah bernanah berdarah pada hari Senin kemarin pasca diperiksakan ke dokter, hari Jumat sebelumnya.

Satu hal yang paling menakutkan pikiran saya saat itu adalah, luka yang semakin membesar dan pada akhirnya Ancaman Amputasi pada kaki penderita.
Apa Kata Dunia jika itu sampai terjadi ?

….

….

….

Alhasil, saya pun berupaya Mencoba (lagi) untuk Bersahabat dengan Diabetes. Tidak bersekongkol, dan bukan lari dari kenyataan.

Untuk itu, kelihatannya memang hanya dibutuhkan satu hal saja dari seorang penderita Diabetes.

Kesadaran.

Ya, kesadaran.
Kesadaran untuk mengakui pada diri sendiri bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes yang mulai saat ini Harus mulai dengan sadar, berupaya mengurangi Jenis makanan yang dikonsumsi serta Jumlah dan Jadwal. Ndak boleh lagi ngerapu macam sebelumnya.
dan itu… sangatlah berat Jenderal.

Bersyukur, Istri adalah orang pertama yang mendukung Upaya saya kali ini.
Ia secara telaten mau berpayah payah menyemangati saya, merawat luka yang ada di kaki, hingga menimbang beras merah yang boleh dikonsumsi serta berbelanja jenis makanan yang bisa saya nikmati semingguan ini.
Seorang istri yang baik, bukan ?

Ya, kini saya pun mulai mencoba mengkonsumsi Beras Merah. Jenis yang dahulu kerap direkomendasi oleh banyak orang, kawan hingga kerabat, yang jika boleh saya katakan, nyaris tak digubris.
Pun ditakar sesuai saran dari ahli gizi titipan istri, pula mengubah buah Apel menjadi snack tetap, ditambah tomat sisa yang tak termakan di kulkas sejauh ini.

Berhasil ?
Entah.
Saya sendiri belum tahu pasti.

Namun berdasarkan pemantauan kadar Gula Darah, per Jumat pagi kemarin, dengan test acak usai mandi, didapat angka 178 mg/dl yang merupakan hasil puasa seminggu ditambah konsumsi obat racikan dokter BPJS, dan luka di kaki pun sudah menjadi sedikit lebih mending dari sebelumnya.

Terima Kasih ya Tuhan. Ini adalah hasil Test Gula Darah Terbaik saya dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

dan berharap, seminggu kedepannya malah bisa lebih baik lagi.

Janji deh Tuhan…
Jika saya bisa sembuh dari luka ini, saya akan imbangi pula dengan berolahraga kapan sempatnya, sebagaimana anjuran dokter lewat jejaring YouTube yang saya unduh kemarin.

Semoga, kelak Diabetes yang saya derita ini, bukan lagi menjadi ‘the Silent Killer’ seperti slogan yang dibangga-banggakannya selama ini, namun menjadi hiasan dinding saat melihat Anak anak saya berhasil meraih S2 nya di kemudian hari.
Doakan saya ya Kawan…

Intermezzo 24 Mei

Category : tentang DiRi SenDiri

Tuhan akhirnya memberikanku sakit semenjak pintaku kemarin.
Dan itu tak mengenakkan.

Aku pada akhirnya membuat khawatir orang-orang yang kusayang, sementara lingkungan kerja mungkin tak se-khawatir itu…
Jadi teringat dengan nasehat Om Bob Sadino almarhum.

Kesehatanku minggu ini mulai dipertaruhkan.

Benjolan pada kaki, pada tulang kering kaki kanan tampaknya sudah mulai menampakkan puncaknya.
Per tadi sore, nanah bersama darahnya mulai tampak keluar dari ujungnya. Membasahi perban yang menutupinya seharian ini. Mirip bisul, bathinku.

Efek yang terasa adalah, kaki ini seperti sebatang kayu yang berat untuk dibawa. Meski masih bisa berjalan dengan baik namun pelan, ada kekhawatiran akan kemungkinan terburuk dari apa yang aku baca dan tonton di dunia maya, akibat gula darah tinggi terhadap kaki si penderita.

Amputasi.

Aku tak mau ya Tuhan…

Cukuplah sakit yang kupinta dan yang Kau beri hanya yang aku alami sedari Minggu malam kemarin. Rasanya tak nyaman kalau diteruskan.

Aku berjanji, akan menggerakkan kaki lebih banyak hingga alun alun jika Kau sembuhkan luka ini.
Aku berjanji, akan mengurangi aktifitas yang tak berguna dan meluangkannya untuk keluarga jika Kau turunkan gula darah ini.
Aku berjanji ya Tuhan.
Aku berjanji…

Makin Kurus, Makin …

Category : tentang DiRi SenDiri

Struktur tubuh rasanya tinggal Tulang belulangnya saja. Lekukan di pergelangan tangan makin terlihat dengan nyata. Kulit juga makin keriput, bahkan lebih terasa bintik-bintiknya. Bisa jadi ini karena Gula Darah yang makin tak terkontrol belakangan ini.

504 mg/dl.
Petugas lab saja sempat kaget dengan hasil test acak yang dilakukan jumat pagi kemarin. Selain pikiran, banyak hal yang kemudian menjadi kambing hitam. Pantas saja makin kesini terlihat makin kurus.

Banyak yang mengatakan begitu. Tapi tetap saja berkilah mengurangi asupan makan. Agar tak semua khawatir. Cukup pikiran ini saja yang melambai kemana mana mencari akal buat menurunkan gula darah. Kasihan anak-anak masih kecil jika kelak ditinggal mati gegara Diabetes ini.

Berat Badan sudah turun mencapai angka 92 Kg. Turun 10 Kg dalam satu periode terakhir. Tapi Dokter menyarankan ya masih harus turun lagi jadi sekitar 85 atau 80 Kg kalo bisa. Ambil berat badan ideal. Belum kebayang nantinya jadi sekurus apa.

Selain mengganti nasi dengan kentang, istri setia membuatkan rebusan daun singapore dan kini diimbangi dengan asupan obat plus biji klentang. Duh…

My Last Day

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Menonton beberapa film lama diantara waktu senggang jam kerja kantoran, cukup membuatku terpekur diam. Ingat pada kehidupanku dan sakit yang kuderita.

Diabetes

Perubahan gula darah yang mampu membunuh siapapun pengidapnya secara diam-diam, kelak akan membuka pintu bagi belasan penyakit tingkat tinggi lainnya, dan aku secara pribadi yakin tak akan mau mengalami itu semua di usia yang sangat muda.

Namun apa yang kusaksikan pada kisah-kisah sendu dalam film lama tadi, benar-benar membuatku berpikir keras, kira-kira jika aku diberikan waktu sehari lagi oleh-NYA sebelum ajal menjemput, apa yang akan kulakukan kelak ?

Mengajak anak-anak bermain dan berkata bahwa aku sangat menyayangi mereka dan juga istri dan orang tuaku ? Atau menangisi semua kesalahan yang pernah kuperbuat hingga Ia hanya memberikan sehari lagi waktu untuk bersama orang-orang yang kucintai ?

Maka saat ini pun aku mulai banyak merenung dan berharap bahwa hari terakhir itu tak akan pernah tiba. Karena tak pernah kubayangkan hidup anak-anak dan istri tanpaku. Tanpa kehadiran Bapaknya yang nakal dan jahil. Apa jadinya mereka kelak jika aku tak ada ?

Teringat juga akan satu pendapat bahwa sehebat-hebatnya atau sepenting-pentingnya posisimu dalam satu perusahaan, saat engkau sakit hingga tak mampu mengambil lagi rutinitas itu, maka perusahaan akan dengan segera mencari penggantimu, untuk bisa menjalankan perusahaan dengan baik. Bahwa ternyata kita tak sepenting atau sehebat yang kita pikirkan. Maka pulanglah, dan ajak anak anak bermain…