Mengurus Perpanjangan SIM ? Eh, ini Masukan saja Ya

3

Category : tentang iLMu tamBahan

Sebagai seorang Blogger Bali dan juga Warga Negara yang Baik, rasanya saya Wajib memberi masukan pada Bapak dan Ibu Pejabat yang berkantor di Poltabes Denpasar, dalam kaitannya dengan upaya Perpanjangan SIM *eh Pengajuan SIM Baru sebagaimana pengalaman yang saya dapatkan hari Rabu lalu.
Berikut diantaranya.

1. Sosialisasi
Pentingnya soisalisasi kepada Masyarakat luas baik lewat media cetak, media sosial, ataupun langsung termasuk melalui gerai SIM Keliling berkaitan dengan penerapan aturan baru soal Perpanjangan SIM, yang meskipun lewat sehari dari masa berlaku ditetapkan sebagai Pengajuan Baru.
Ini penting, karena kini masih ada kesimpangsiuran informasi Terkini yang bisa didapat melalui halaman web Ditlantas Polda Bali termasuk gerai SIM Keliling yang masih memperbolehkan perpanjangan selama masa berlaku belum lewat dari 3 bulan.
Artinya semua Pengendara WAJIB melakukan pembaharuan masa berlaku SIM sebelum masa berlaku dinyatakan habis atau terlewati.

2. Kami perlu Ruang Tunggu yang Nyaman, kalopun anggaran kurang, minimal Manusiawi. Dan Penerapan Nomor Antrean.
Jaman sekarang masih meminta Pemohon atau Masyarakat untuk menunggu antrean berdiri dan berdesak-desakan ? So Old Time… sudah jadi Masa lalu deh sebetulnya.
Jangan dulu minta yang ber-AC, kesannya kami sangat meminta untuk dimanja.
Tapi lihat saja sekelas Bank BNI yang dulunya masih harus antri berdiri dan mengular, kini konsumen sudah bisa duduk tenang dengan pengaturan nomor antrean pula. Saya rasa meskipun lama, semua dijamin tenang dan tidak kisruh.
Bandingkan dengan kondisi saat ini dimana pemanggilan yang entah kapan dapat giliran, dipanggil tanpa bantuan microphone sehingga radius jangkauan suara tidak sampai ke semua pemohon terutama yang berada jauh dari pintu masuk, pula harus berdiri, hingga dua tiga jam pula.
Kalopun mau ditinggal makan siang, bisa berabe dan bakalan kena bentak kalo pas dipanggil ndak ada yang nyaut.
Selain itu, kondisi terkini membuat pemohon rentan menyerobot antrean, mengingat ada juga oknum petugas yang bisa jadi berpraktek sebagai Calo atau sekedar membantu, memaksa petugas Verifikasi Data untuk mendahulukan berkas yang ia berikan. Sementara yang sudah menunggu lama, musti diam menerima ketimbang dimarah-marah.
Kalo sudah menerapkan Nomor Antrean, saya yakin ndak bakalan banyak pemohon yang menunggu tak pasti selama dua tiga jam di ruangan. Minimal ada yang meluangkan waktu menunggu dengan berjalanjalan disekitar lokasi, makan siang atau menyelesaikan pekerjaan lain. Jauh lebih membantu masyarakat bukan ?

3. Kejelasan Prosedur dan Pemahaman Persepsi.
Di Tulisan #2, saya ada mengeluhkan soal dipingpongnya kami soal tempat menunggu panggilan bagi Pemohon SIM Online dan manual. Sempat diusir bahkan, dan ternyata kami salah lagi.
Petugas sih enak, tinggal bentak dan mengatakan kami tidak mendengarkan mereka, tapi dengan pemahaman yang berbeda antar petugas, jangan pernah meminta pemahaman yang sama dari masyarakat.
Termasuk soal kejelasan Prosedur.
Antara yang Calo non Calo ya silahkan berbeda. Antara yang Non Calo Online fan Manual ya silahkan juga berbeda. Tapi kalo yang sudah sama-sama Non Calo, dan sama-sama Online, beda perlakuan ya siap-siap bingung deh. Ada yang sudah mengisi Form biru dan lengkap membayar, ada juga yang belum melakukannya namun bertemu di tempat yang sama.
Sekali lagi ini pengalaman saya bertanya tanya pada sekitar ya.

4. Kesiapan Perangkat dan SDM
Di ruang Permohonan SIM Online, terdapat cukup banyak Komputer yang sebetulnya bisa digunakan untuk melakukan verifikasi Data pemohon, untuk cepatnya pelayanan dan mengurangi penumpukan di kursi ruang tunggu. Saya yakin itu maksudnya.
Namun faktanya saat itu hanya ada 4 petugas yang aktif melayani.
Pindah ke bagian Foto, ada 3 perangkat yang tersedia, namun hanya 2 yang digunakan.
Itupun, saya agak nyengir ketika mengetahui Istri saat namanya dipanggil petugas setelah dua jam lamanya menunggu di luar ruang Ujian, ternyata diminta balik ke tempat Foto sebelumnya, karena hasil yang tampak saat dilakukannya verifikasi hanya menampilkan penampakan Jidatnya saja. What The Hell ?
Akhirnya setelah melakukan komplain ke tempat Foto dan minta didahulukan tanpa antrean berhubung sudah dilewati sebelumnya, istri bisa mengerjakan Ujian Teorinya kembali meski ada teguran karena saat dipanggil kembali, yang bersangkutan masih diambil gambar di tempat Foto. Hehehe…
Kalopun memang hasilnya ndak bagus atau sesuai, mbok ya langsung diperbaiki, atau bisa ganti pake foto selfie sekalian ?

5. Masukan terakhir, tentu soal Calo
Terserah deh kalo semua menyangkal bahwa Sudah Tidak Ada Calo lagi yang berkeliaran di Poltabes, karena Faktanya ya memang masih ada. Cuma kelihatannya ya jalur jalur tertentu seperti Ujian Teori, musti tetap dilakoni meski hanya formalitas. 
Info sementara sih, masih ada kok Calo yang bisa mengurus pengajuan SIM perpanjangan dengan Status Lewat Masa Berlaku namun tinggal foto doang. Tapi nanti deh ceritanya saya bagi. Semoga masih bisa. Hehehe…
Namun kelihatannya jenis Calo ini ada juga yang berasal dari Oknum petugas setempat. Karena ada kejadian Bapak Petugas di ruang Ujian Online tampak marah marah saat dipaksa koleganya yang membawa tiga empat berkas pemohon yang tidak lulus Ujian, untuk melakukan Ujian Ulangan saat itu juga.
Beralasan Sistem tidak mengakomodir, si Bapak menolak membantu.
Entah apakah ini artinya kalo Sistem mampu mengakomodir si Bapak akan mau membantu atau bagaimana, hanya Beliau dan Tuhan saja yang tahu.
Termasuk soal menyerobot antrean di masukan nomor 2 diatas. Ada kok yang begitu.

Nah kira-kira itu saja sih masukan dari saya sejauh ini. Saya kira sudah cukup mampu menggambarkan kegelisahan yang sama alami seharian di Poltabes hari Rabu lalu. Mungkin yang lain, nanti bisa menambahkannya kembali.

Semoga bisa ditingkatkan lagi pelayanannya, dan saya jangan diintimidasi lebih jauh ya Bapak Ibu yang terhormat.

Matur Suksema dan Selamat Siang

Mengurus Perpanjangan SIM ? Mending pake Calo atau Siap Mental Lahir Bathin #3

1

Category : tentang iLMu tamBahan

Dari 30 soal yang disajikan pada layar sentuh monitor besar didepan mata, faktanya hanya 18 saja yang mampu saya jawab dengan Benar.
‘Kurang 3 lagi Pak, syarat minimalnya…’
Ungkap bapak petugas yang melakukan verifikasi peserta ujian pengajuan SIM baru di dekat pintu sisi utara gedung lantai 2, paling selatan area Poltabes.
Yang artinya ?
Ya Ndak Lulus tentu saja.
Anjrit…

Tapi saya masih lebih mending.
Sejawat yang saya ajak ujian Teori bareng, yang memang menjalaninya tanpa bantuan Calo, hasilnya jauh lebih buruk. Bahkan Istri hanya 7 soal saja yang bisa dijawab dengan Benar.
Mau tau kenapa ?

Karena…

Karena… hehehe…

Karena rata-rata soal yang ditanyakan pada proses Ujian Teori, sebagian besar berasal dari Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang…

Tentang apa hayooo…

Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Kalian pernah baca ndak ?
Kalo ndak pernah, ya saya jamin deh, seandainya hari ini berhadapan dengan Test tulis Teori Pengajuan SIM Baru, bakalan bernasib sama dengan saya dan puluhan peserta lainnya.
Ndak bakalan Lulus.

SIM A PanDe Baik 5

Kecuali kalo mau pake Calo.

Kenapa untuk yang mau pake Calo dijamin lulus ?
Karena saat si Peserta melakukan ujian, ada pendampingan (he… macam BPKP saja ada pendampingan) dari si Calo yang akan memandu dalam menjawab soal.
Saya baru paham ketika beberapa orang berbaju hijau aparat menemani satu dua peserta dengan sabar. Inginnya menjiplak, apa daya soal yang diberikan untuk masing-masing Peserta Pengajuan SIM Baru yang melalui jalur Online, kelihatannya diacak. Bisa tau setelah melirik bahan soal tetangga sebelah yang ternyata sama-sama mengajukan pembaharuan SIM A.
Kapok dah…

Balik ke Soal Ujian, kira-kira kalo ditanya soal Emisi Gas Buang, kalian tau apa hayooo ?
Atau besaran desibel klakson minimal dan maksimal ?
Atau persyaratan keamanan kendaraan dan pendukungnya ?

Awalnya saya pikir, kisaran soal bakalan diberikan pada kasus per kasus yang kerap terjadi atau di temui di jalanan. Soal Rambu, etika, cara berkendara, dan lainnya.
Jika melihat pada faktanya, entah apakah soal-soal semacam ini bakalan dirilis pada Ujian Praktek atau malah ndak keluar sama sekali.

Namun saya bisa memaklumi apabila rupa Soal yang ditanyakan lebih bersifat Teoritis Undang Undang, lantaran bisa jadi agar si pemohon SIM Baru utamanya mereka yang berasal dari Usia Muda yang rentan pada aksi kebut kebutan, trek dan ugal ugalan, sedikitnya bisa lebih mampu memahami Aturannya sebelum bertindak di jalan raya.
Teorinya yah.
Akan tetapi kalo yang bersangkutan mengajukan permohonan melalui Calo atau bahkan kalo sampe ada yang tinggal Foto doang, saya kira ya akan sama saja hasilnya.
Maka itu Haruskah semuanya dipersulit apabila Praktek Calo masih ada dan diminati ?
Jangan tutup mata dan tutup telinga deh dengan fakta lapangan ini.

Nah berhubung saya statusnya ndak lulus Ujian Tulis, maka sesuai jadwal yang telah ditetapkan, saya musti balik lagi tanggal 22 Juni nanti.
Sebenarnya masih kepikiran mencoba dengan jalur lain alias memanfaatkan Calo yang kalo bisa tinggal foto doang. Cuma ndak tau bisa nemu atau enggak. Termasuk opsi SIM Keliling yang informasinya masih boleh dilakukan Perpanjangan selama masa berlaku SIM belum lewat 3 Bulan.
Doakan ya biar bisa salah satu diantara 2 opsi alternatif diatas.

Dan terkait pengalaman yang dituangkan dalam 3 tulisan terakhir, kalo mood menulisnya masih ada, mau saya tambahkan satu postingan lagi soal masukan bagi Bapak Ibu pejabat di Poltabes dalam kaitan proses pengajuan SIM Baru. Cuma masih bingung mau ditembuskan kemana. Karena saya pantau, di akun Twitter ndak ada tuh yang resmi milik mereka.
Atau ada saran dari Kalian ?

Mengurus Perpanjangan SIM ? Mending pake Calo atau Siap Mental Lahir Bathin #2

2

Category : tentang iLMu tamBahan

‘Masih belum dipanggil Pak ?’
Tanya saya pada beberapa orang yang tampak sudah mulai kelelahan berdiri mengantri di balkon lantai 2 gedung selatan Poltabes Denpasar.
Sudah lebih dua jam kami bersesaksesak tanpa tempat duduk. Sementara angin yang datang dari arah selatan lumayan membuat saya sedikit tak nyaman, serasa masuk angin. Alamat buruk, bathin saya.

Ini kali kedua saya antre di sisi selatan. Setelah salah seorang petugas menegur gadis muda yang dianggap salah tempat menunggu lantaran yang bersangkutan mengajukan Permohonan SIM Baru lewat jalur Online. Harusnya yang bersangkutan menunggu di pintu Utara, dimana sinar matahari jauh lebih terik terasa namun tanpa angin. Sedikit lebih nyaman menurutku, meski harus berdiri berpanas-panas. Namun belum lama kami berdiri di sini, seorang petugas wanita tampak mengusir dan membubarkan antrean depan, dan mengatakan bahwa tempat (bukan ruang ya) menunggu baik bagi yang mengajukan SIM melalui jalur manual dan online adalah sama, yaitu di sisi selatan gedung. Sedang di Utara adalah pintu keluarnya. Ealah… ini salah siapa sebenarnya ?

Nama istri terdengar sudah dipanggil dengan keras oleh petugas di pintu Utara. Sesaat setelah itu saya mendengar istri marah marah pada petugas, karena ia dibentak tidak menyahut saat dipanggil.
Oalah… bagaimana bisa terdengar jika kami antrenya di sisi selatan. Bukankah tadi perintahnya begitu ?
Aneh banget nih petugasnya, keluh beberapa kawan senasib disebelah saya.
Sementara nama saya belum dipanggil, iseng menerobos masuk ruangan, dan menemukan berkas diletakkan terpisah. Info dari petugas bahwa tadi nama saya sudah dipanggil berkali kali sambil membentak bahwa Pengajuan SIM Online harusnya standby di pintu sisi Utara gedung.
Ampun dah… ini infonya gak akurat banget antar petugas.
Tapi ya saya maklum, kenapa sampe gak terdengar, karena petugas memanggil calon peserta ujian pengajuan SIM dengan fasilitas seadanya. Alias suara sendiri. Tanpa Microphone atau pengeras suara lainnya. Wajar aja mereka membentak-bentak, karena selain suara yang sudah dikeraskan, ada banyak orang yang ngeyel minta didahulukan.
Kemungkinan yang saya pikirkan saat itu adalah, mereka ini tergolong yang memanfaatkan jasa Calo.

Calo.
Ya… Calo.

Jargonnya memang Proses Tanpa Calo. Tapi Calo ada bisa jadi karena kita yang membutuhkan untuk memotong jalur jalur rumit macam antrean penuh sesak mirip pembagian amplop saat hari raya di tipi, bisa juga menghilangkan proses panjang yang dipersyaratkan didalamnya. Harapannya tinggal Foto SIM, lalu jadi.

Akan tetapi meskipun kali ini pemanfaatan Calo masih ada, namun proses untuk melewati Ujian Tulis/Teori tampaknya memang harus tetap dilakoni. Jaminannya tentu ya Pasti Lulus.
Kenapa bisa ?
Karena proses pengajuan yang saya tanyakan satu persatu secara sampling disela menunggu, ternyata berbeda beda. Misalkan untuk yang sama-sama melalui jalur Online, yang menggunakan jasa Calo, ternyata sudah membayar duluan didepan, ke bank, sedang saya dan satu dua lainnya yang mencoba tanpa Calo, malah belum diminta membayar. Kelihatannya secara prosedur, pembayaran baru dilakukan saat SIM baru sudah dikeluarkan.

Menyimak banyaknya perbedaan proses menjalani prosedur yang dilakukan, saya menarik kesimpulan sementara bahwa belum semua petugas, calo ataupun masyarakat paham dengan tata cara permohonan SIM. Beda jauh dengan pengalaman saya tahun 2009 lalu yang ndak sampe sejam mengurus SIM perpanjangan di Poltabes. Secara saat itu, lewat dari masa berlaku masih bisa diperpanjang.

Setelah memohon maaf pada petugas karena saya teledor saat antre tanpa mampu mendengar panggilan petugas (ya kanggoang ngesor dulu karena berkepentingan), ujian Teori pun saya coba lakoni dengan tabah mental lahir dan bathin. Hehehe…

Mau tau soal ujiannya seperti apa ?
Simak di tulisan berikutnya ya.

Eh iya, karena topiknya sudah mengerucut pada proses Pengajuan SIM Baru, karena mutlak melewati Ujian Teori, harusnya judul postingan inipun diubah ke
Mengurus Pengajuan SIM Baru ? Mending pake Calo atau Siap Mental Lahir Bathin
Tapi berhubung tulisan ini masih merupakan lanjutan sebelumnya, maka ya tetep aja saya gunakan judul lama dengan penambahan tagar (#) 2.
Ndak apa apa kan ya ?

Mengurus Perpanjangan SIM ? Mending pake Calo atau Siap Mental Lahir Bathin

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Oke deh.
Jujur, saya agak bingung dengan proses perpanjangan SIM kali ini.
Jalan ceritanya beda jauh dengan Tulisan sebelumnya yang Gak Sampe Sejam Tanpa calo di Poltabes (2009)
Dan lagi-lagi, karena berkeinginan mengurus perpanjangan SIM Tanpa Calo sebagaimana jargon yang dikenal di seputaran lingkup kantor Poltabes Denpasar, sayapun berbaik sangka sebagai seorang masyarakat yang Baik pagi tadi.

Pertama soal Surat Keterangan Sehat. Lokasi dokter yang dulunya ada disisi timur Poltabes, kini sudah berpindah ke belakang supermarket Citra, sebelah barat Poltabes. Yang secara papan namanya tertera buka jam 8.00, namun sampai jam 9.00 rupanya belum ada yang membuka railing doornya. Akhirnya kami putuskan ke Puskesmas Kerobokan, dan setelah antre 10 nomor, Surat Keterangan Sehat pun kami dapatkan.

Oh iya, Upaya kali ini melibatkan Istri saya yang masa berlaku SIM A sudah lewat dari Oktober Tahun lalu. Saya sendiri baru 2 bulan lewat. Lokasi pengajuan di Poltabes Denpasar, sekitar pk. 8.30 pagi.
Nah, pas nyampe di Poltabes pasca pencarian SKH, Istri meluncur lebih dulu sedang saya masih kebingungan mencari Parkir kendaraan.

Masuk ke Proses Awal Pengajuan SIM, kami berdua diminta memeriksa dahulu identitas yang kami gunakan apakah sudah termasuk e-KTP atau belum di ruangan SIM Online yang ada di sisi ruangan paling selatan.
Setelah menaruh berkas berupa SKH dan fotocopi identitas, nama kami dipanggil dan diperiksa tanpa menggunakan nomor antrean.
Dari sini, kami diminta ke Loket Pengambilan Berkas di ruangan besar pengajuan SIM Manual, yang menyatakan bahwa baik Saya maupun Istri, dikenakan Pengajuan Baru, bukan perpanjangan.
Untuk Istri, saya masih bisa maklum. Tapi SIM yang saya gunakan belum lagi lewat 3 Bulan.
Tapi tetep, petugas ngotot bahwa seharipun lewat dari masa berlaku, Masyarakat diminta mengajukan permohonan SIM Baru yang artinya Mutlak lolos Ujian Teori dan Praktek.
Aturan baru infonya.
Padahal kalo dibaca di halaman web Ditlantas Polda Bali, sebelum lewat 3 Bulan masa berlaku, masih bisa dilakukan perpanjangan (namun kelihatannya hanya di SIM Keliling).

Baiklah, jadi ceritanya proses berlanjut. Sudah kepalang basah.

SIM A PanDe Baik 1

Kami lalu diminta ke loket BRI di sisi belakang kanan, untuk mengambil slip tanpa melakukan Administrasi Pembayaran terlebih dulu. Artinya hanya mengambil slip lalu meluncur kembali ke ruang SIM Online untuk verifikasi data.
Dari 10an komputer yang ada, hanya 4 petugas saja yang aktif.
Saya dan istri dibantu dengan cepat oleh Ibu Fransiska yang menjelaskan banyak hal yang saya tanyakan, utamanya kenapa saya tidak diminta mengisi form biru tanda permohonan, sebagaimana orang yang lain.
Usai diVerifikasi, kamipun diambil foto dan cap jari, masih diruangan yang sama.
Saya pikir semua proses sudah selesai, karena sebelumnya, usai foto, SIM tinggal dicetak, ditunggu dan diambil atau datang besoknya.
Lha ternyata saya salah.
Kami diminta meluncur ke Loket 2, Uji Teori, yang ada di gedung paling selatan, area Poltabes.

Yang ada malah kami harus terhenyak tak percaya…

Mau tahu kenapa ? Simak tulisan selanjutnya.

Hujan yang dinanti tak kunjung deras

Category : tentang KHayaLan

Panas menyengat yang menaungi langit Kota Denpasar selama beberapa bulan terakhir seakan sirna dalam sekejap. Disapu mendung dan sapaan guntur nun jauh disana. Meski hanya sebentar, paling tidak sudah bisa meredam makian ribuan manusia yang ada dibawahnya.

Bau tanah yang dibasahi air dari langit mulai terasa, hawa udara pun sudah mulai bisa membalur raga. Sejuk dan nyaman. Sayangnya hanya sebentar.

Butir-butir hujan tampaknya tak lagi deras. Bisa jadi sang dewa belum berkenan membaginya pada kota ini. Ataukah ada kekuatan lain yang bicara dan menghentikan semuanya ?