Mari Berbenah Diri

9

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2010 yang baru saja kita jelang bersama. Banyak hal yang terjadi di masa lalu, masa dimana semua keprihatinan itu muncul dipermukaan, secara nasional hingga personal. Entah apakah hari esok semua itu masih akan tetap kita nikmati…

Persoalan yang timbul bisa jadi merupakan buah kelalaian kita terhadap sesama dan lingkungan. Bisa juga karena kurangnya kesadaran pada diri sendiri masing-masing karena yang namanya ego selalu berusaha dikedepankan. ‘Jika saya belum merasa puas, mengapa harus peduli dengan orang lain ?’

Satu persatu ketidakadilan itu dirampas dari yang seharusnya berhak memilikinya. Untuk melegalkan apa yang dilakukannyapun kebohongan demi kebohongan terus didoktrin pada mereka yang belum mampu menentukan sikapnya sendiri. Maka terpecahlah semua berkeping-keping.

Hari ini adalah awal dari ratusan hari berikutnya yang akan kita jalani, entah suka ataupun duka yang nantinya akan didapat. Semua bergantung pada sikap dan tentu saja keputusan-Nya yang takkan bisa kita tebak. Sudah semestinya kita berbenah. Jangan berharap orang lain akan memulainya lebih dulu, karena jika bukan diawali dari diri sendiri harus menunggu siapa lagi ?

Berbenah diri. Sederhana namun tak sesederhana bayangan kita. Menyadari sikap dan ego yang barangkali dahulu lebih kita utamakan ketimbang kepentingan bersama adalah hal yang sulit dilakukan. Hal itu tak akan bergantung pada tingkat intelegensia seseorang, pendidikan ataupun usia. Karena nyatanya masih banyak yang bersikap seperti anak kecil, ‘jika masih memungkinkan milikmu adalah milikku tapi milikku ya milikku sendiri, kalian ga’boleh ganggu…’

Demikian pula dengan privacy dan toleransi. Seakan dinegara ini sudah tak ada lagi dua hal tersebut. Semua ditabrak demi mendapatkan apa yang diinginkan. Entah demi materi ataukah rating sebuah tayangan, bisa juga klaim atau pendapat orang pada diri mereka.

Sudah saatnya kita berbenah, dimulai dari diri sendiri. Apalagi bagi mereka yang kini masih harap-harap cemas menanti hari kiamat 2012, sudah seharusnyalah berpasrah diri pada-Nya, menyerahkan pada mereka yang sudah semestinya menjadi hak, jangan hanya kewajiban saja yang mutlak dituntut untuk dipenuhi. Namun jika kesalahan itu terjadi dua kali, karena kita tak mau belajar dari pengalaman masa lalu, dan tetap mendongak keatas seakan tak ada lagi yang memiliki kemampuan lebih, bolehlah kita lupakan mereka.

Mari kita berbenah diri, jangan hanya bicara saja…

Pemadaman Listrik itu Sejenak Membawaku ke Masa Lalu

6

Category : tentang InSPiRasi

Gelapnya malam mulai turun, areal persembahyangan masih tampak lengang, hanya ada nyala api yang menari didepan sebuah pelinggih dikelilingi anak-anak yang penasaran. Pemadaman listrik kali ini dilakukan lebih awal, yang biasanya mulai pukul 6 sore, hari ini maju dua jam, jadi gak bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jika biasanya setiap kali pemadaman dilakukan, banyak terlontar makian yang diperuntukkan bagi ‘si petir’, bisa jadi malam ini terasa berbeda.

Entah ide dari siapa mendadak anak-anak tersebut berkumpul melingkar, satu dua orang mengarahkan mereka untuk berbaris dan dua lainnya saling memegang tangan dan mengacungkannya keatas. Beberapa anak masih tampak belum percaya, terlihat bingung dan khawatir, tidak yakin dengan arahan ini. Setelah berusaha meyakinkan mereka, terdengarlah nyanyian yang dahulu pernah familiar kudengar…

‘Ular naga panjangnya… bukan kepalang… menari-nari kian kemari… umpan yang besar itulah yang dicari… inilah dia yang terbelakang…’ ‘apel apa salak ???’

Untuk sejenak, pemadaman listrik itu membawa kami kemasa lalu, masa dimana kami masih merasakan ketidaksabaran menunggu hari esok untuk bermain kembali…

…dan biarkanlah semua itu berlalu…

6

Category : tentang DiRi SenDiri

Setiap orang saya yakin pasti pernah memiliki masalah, entah itu kecil atau besar atau yang membuat hati terbelenggu kekhawatiran dalam waktu lama.

Masalah itu muncul ketika kita tak lagi merasa nyaman untuk menjalani kehidupan yang kita miliki. Masalah itu muncul ketika orang lain merasa terusik dengan kenyamanan yang kita ciptakan untuk jalan hidup kita. Masalah itu muncul ketika apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan.

Sulit untuk mengatakannya… karena masing-masing orang memiliki jalan dan pola pikir yang berbeda, apalagi jika tidak dilandasi dengan niat baik, maka apa yang kita inginkan untuk hari depan barangkali tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Padahal inti dari semua masalah itu hanyalah komunikasi. Menyampaikan apa yang kita inginkan harapkan kepada orang lain yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Untuk itu dibutuhkan kejujuran dan kebesaran hati. Sayangnya tidak setiap orang mampu melakukannya, sehingga menimbulkan berbagai dugaan masing-masing.

Apa sih susahnya untuk menyampaikan sesuatu hal apabila sudah didasari oleh niat baik ?

Faktor pendidikan, lingkungan dan EGO menjadi penyebabnya. Maka itu melihatlah keluar jendela, karena diluar masih ada banyak masalah besar yang menanti. Ungkapkan pendapat dengan pemikiran otak dan bukan kebetuhan isi perut.

Wajah-wajah masam itu kini menghiasi keseharian. Wajah yang dahulunya sumringah saat kebaikan itu diberikan. Begitu mudahnya kita melupakan kebaikan seseorang dimasa lalu… Berubah menjadi wajah picik yang siap menenggelamkan siapapun yang menghalangi keinginannya.

Berbesar Hatilah, karena semua itu adalah jalan menuju kedewasaan…

…dan biarkanlah semua itu berlalu…

…dan mereka kian tak tahu malu…

18

Category : tentang DiRi SenDiri

Sesungguhnya semua ini berawal dari keinginan untuk memperjelas sesuatu hal yang sudah lama terpendam, sudah lama kian tak jelas maksud apa dan bagaimana nantinya. Namun mereka yang terusik oleh kenyamanan yang mereka buat selama ini untuk dirinya sendiri dan sekelompok orang yang mendukung, pelan-pelan mulai merapatkan barisan mengumpulkan orang-orang yang mulai dihinggapi krisis kepercayaan, dan fitnahpun mulai disebarkan.

Satu persatu pernyataan yang kami buat dipelintir dan disangkutpautkan berdasarkan kemampuan dan daya nalar mereka sendiri, membuat satu kesimpulan yang menyesatkan untuk kemudian disebarkan kembali agar kelompok yang mereka kini banggakan, percaya dengan propaganda-propaganda tengik. Adu domba, senjata ala penjajah jaman dahulu digunakan untuk memecah belah orang-orang yang menginginkan terkuaknya kebenaran itu. Cerita yang sangat familiar bukan ?

Rumah bukan lagi satu tempat tinggal yang nyaman. Rumah bukan lagi satu tempat dimana kita ingin kembali usai menjalani rutinitas keseharian karena kini Rumah telah dipenuhi oleh banyak ‘musuh dalam selimut’ yang kian tak tahu malu. Mereka mulai menyebarkan cerita yang mereka buat sendiri agar orang-orang lain disekitar kami percaya, bahwa apa yang kami dambakan hanyalah sebuah keserakahan atas dasar keinginan pribadi. Tak hanya orang tua, anak-anakpun di-doktrin agar tak seenaknya mengumbar senyum pada kami, agar tak seenaknya bertegur sapa seperti dahulu yang membuat sebuah senyum dan tegur sapa itu jauh lebih mahal dari sebuah ponsel BLackBerry.

Mereka boleh menjatuhkan kami, merekapun boleh membunuh kami secara perlahan, namun kami tetap yakin bahwa satu saat nanti kebaikan itu akan memenangkan semua pertarungan. Bahwa kejujuran adalah puncak segalanya. Bahwa fitnah dan kedengkian mereka akan berbalik pada diri mereka sendiri.

Semua ini sebenarnya sudah pernah terjadi sebelumnya, namun mereka tetap tak mau belajar dari pengalaman di masa lalu. Tetap saja mengulang kesalahan yang sama, tetap saja berusaha mewujudkan keinginan mereka dengan cara picik.

Jaman telah banyak berubah, pendidikan kian tinggi dapat digapai. Kemajuan teknologi sudah begitu peliknya, namun api permusuhan itu kian besar. Entah kapan kita bisa maju, mewujudkan sebuah mimpi yang ada pada pikiran kami akan sebuah keluarga besar yang rukun sejahtera. Saling membantu dan saling menghormati.

…dan toleransi itupun sudah tiada lagi… Musnah oleh doktrin yang mereka tanamkan.

…dan kenyamanan itupun entah kapan bisa kami temui lagi…

Rumah hanyalah sebuah tempat yang dipenuhi kebisingan dan muka-muka masam…

Pada Akhirnya Kekuatan Alam-lah yang Berbicara

33

Category : tentang Opini

2012 menjadi Box Office dimana-mana, tak terkecuali di negeri ini. Tiket terjual SOLD OUT setiap harinya kendati antrean masih panjang. Mereka yang geram dengan cerita ‘mendahului kehendak Tuhan’ ini mulai menunjukkan aksi, menolak penayangan film tersebut di tanah air…

2012 hanyalah salah satu dari sekian banyak film besutan Hollywood yang mengisahkan begitu menakutkannya sebuah kekuatan yang berasal dari Alam, siap menelan manusia yang sedari dulu selalu dan tak pernah lelah merusaknya. ‘Day After Tomorrow’ juga salah satunya. Global Warning telah didengungkan, rekomendari telah disuarakan, namun tak ada yang berubah, manusia tetap saja merusak alam sekehendak hati mereka.

Negeri ini bukanlah satu dua kali tertimpa bencana yang diakibatkan oleh Alam. Gempa ataupun Tanah Longsor adalah berita yang kerap menghiasi headline media cetak. Tsunami Aceh, Tsunami YogYa hingga yang diakibatkan oleh keteledoran manusia, Lumpur Lapindo. Semua itu adalah cermin dari kekuatan Alam yang telah murka pada manusia, dan kita semua tak juga mau menyadarinya.

Hutan terus saja dibabat, laut atau pantai terus saja direklamasi, dan dipercaya atau tidak, tak ada yang mau memperbaiki sikap perilaku mereka, apalagi kalo bukan karena soal uang, komisi, amplop yang barangkali dalam sekejap berubah menjadi sampah kehidupan masa depan.

Tak ada artinya lagi teknologi dan kemajuan peradaban manusia, semua sama rapuhnya ketika berhadapan dengan kekuatan alam, dan kita sudah kerap diperingatkan oleh-Nya…

Haruskah kita menunggu untuk berbenah diri ?

Anak Hukum itu pintar ya ?

10

Category : tentang KHayaLan

‘Mas, 1+1 jadinya brapa ?’ ‘tergantung pada siapa situ nanya…’ sahut seorang mantan mahasiswa fakultas Hukum yang lulus dengan predikat cumlaude.

‘loh maksudnya bagemana Mas ?’

‘Kalo situ nanya ke ahli matematika ya jawabannya pasti dua (2). Kalo nanya ke ahli ekonomi, jawabannya ya tergantung suku bunga bank terakhir. Minimal harus lebih besar dari dua (2). Malah kalo nanya ke sepasang suami istri, jawabannya bisa tiga (3), empat (4) bahkan lebih, tergantung kesiapan mereka berdua. :p’

‘Kok bisa gitu Mas ?‘ ‘Ya iyalah masa Ya iyadong ? segala sesuatu yang terjadi atau yang dipertanyakan itu gak bisa disamakan pola jalan pemikirannya dengan matematika, dimana 1+1=2. Perlu ditelusuri terlebih dahulu siapa, bagaimana dan latar belakang pendidikan orang yang bersangkutan.’

‘Kok saya makin gak ngerti ya Mas ?’ ‘Gini loh, satu masalah sederhana bisa saja berubah menjadi rumit ketika masalah tersebut disodorkan pada banyak orang. Malah yang sebenarnya gampang ditebak, malah bisa dibelokkan kesana sini atas dasar alasan tertentu, tergantung pintarnya si pelaku. Tergantung pada bidang yang sering mereka geluti dan pahami.’

‘Trus saya musti nanya kemana Mas tentang 1+1 jadinya brapa ?’ ‘lha ? situ sendiri emangnya ndak bisa ?’ si mantan mahasiwa balik bertanya.

‘Ndak Mas, saya orang yang gak pernah belajar.’ ‘Ndak pernah belajar apa ndak mau belajar ? beda loh…’ timpal si mantan mahasiswa lagi.

‘Tepatnya ndak pernah mau blajar. Hehehe…’ ‘Trus maksudnya nanya 1+1 jadinya brapa itu bagemana ?’ tanyanya lagi.

‘Gini loh… waaaah saya jadi ikut-ikutan kata-kata Mas tadi. Hehehe… Anak saya yang baru sekolah TK tadi pagi nanya, Pak 1+1 itu jadinya brapa ? Lantaran saya ndak tau ya nanya ke Mas aja. Kan katanya Mas itu lulusan terbaik ?’

‘ealah… ta’pikir tadi itu situ mau nguji saya… ampuuunnn Tuhan….’

‘Ternyata lulusan ilmu Hukum itu pintar-pintar ya Mas ? hehehe…’

Menularkan semangat kepada Semua Orang

20

Category : tentang DiRi SenDiri

Sungguh menyenangkan apabila orang-orang disekitar kita secara perlahan atas kesadaran mereka sendiri mengikuti hobby atau rutinitas yang kita lakukan. Menularkan semangat belajar itu memang gak gampang, minimal musti diperlihatkan dahulu dimana letak keasyikkannya.

Menularkan semangat nge-BLoG pada teman-teman yang pernah sua ataupun sekedar kontak via chat, adalah salah satu yang hingga kini masih saya lakukan. Walaupun apa yang saya dapatkan selama tiga tahun nge-BLoG belum sampai pada tahap kepuasan materi. Untuk bisa mengetahui isi hati, keseharian hingga sudut pandang teman-teman blogger baru ini terhadap lingkungan kita saja sudah sangat membanggakan. Ternyata apa yang saya jelaskan bisa mereka pahami dengan baik.

Menularkan semangat kerja via PC atau laptop, memudahkan segala bentuk pekerjaan yang barangkali dahulunya memerlukan waktu yang sangat banyak untuk bisa menyelesaikannya. Belajar menggunakan, memelihara hingga selalu berusaha untuk lebih kreatif dalam menyikapi satu dua masalah setidaknya bagi saya pribadi sudah menunjukkan satu kemajuan besar dalam perjalanan lima tahun terakhir.

Menularkan optimalisasi ponsel, tidak hanya digunakan untuk alat komunikasi telepon dan sms tapi juga internetan, mendukung pekerjaan minor hingga memanfaatkan fitur yang ada didalamnya, ternyata memberikan banyak keuntungan. Bisa menjajal beberapa seri ponsel yang barangkali seumur-umur gak bakalan bisa dimiliki adalah keuntungan pertama. Mengetahui kelebihan serta kekurangan dari sebuah karya teknologi memberikan satu kepuasan ketika siempunya ponsel bisa mengetahui serta memahami lebih jauh, tidak hanya terbuai dari iklan yang menyesatkan.

Menularkan keasyikan ber-FaceBook adalah yang terbaik dari segala hal yang pernah saya lakukan. Secara bertahap dari rekan-rekan kuliah, rekan kantor, teman lama hingga yang terakhir pada keluarga, pelan tapi pasti telah terhubung oleh canggihnya teknologi pertemanan di dunia maya. Cerita lama, kenangan itu satu persatu muncul kembali. Mengingat apa yang dahulu pernah kita lakukan, kini bisa dilihat kembali. Secara nyata. Bertukar kabar, bertukar pikiran hingga bertukar ilmu walaupun disadari atau tidak ada juga yang memanfaatkannya untuk memuluskan tindakan kriminal, menjual ganja, prostitusi terselebung, togel dan sebangsanya.

Apapun bentuk yang kita pelajari, memilah dan mengumpulkan hal yang positif untuk digunakan kembali dalam meretas masa depan adalah hal terbaik yang pernah kita lakukan. Jangan pernah lelah atau merasa puas lalu menghentikan langkah kita hari ini, karena jalan itu masih panjang…

FaceBook untuk Semua

Tulisan ini saya persembahkan untuk Istri yang selama sebulan terakhir sudah mulai terkontaminasi untuk mencoba jejaring sosial FaceBook, dalam tujuan membunuh waktu luang saat jam kantor. Ketimbang bergosip atau melakukan sesuatu yang tidak baik katanya… tidak lupa belajar memahami kemajuan teknologi terkini. Agar tak ketinggalan kereta ya Sayang ?

Khayalan Tingkat Tinggi untuk PLN

30

Category : tentang KHayaLan

‘Selamat Pagi Pak, Hari yang cerah bukan ? bagaimana kabarnya hari ini ?

‘Kami dari PLN dengan nomor hotline xxxxxxx ingin menginformasikan dan mohon permakluman dari Bapak bahwa rumah atau perusahaan Bapak ini dalam lima jam kedepan akan mengalami pemadaman listrik dimulai pada pukul 12 siang.  Silahkan mempersiapkan diri dan mesin yang digunakan agar dimatikan terlebih dahulu agar tidak mengalami kerusakan kelak. Terima Kasih…’

* * *

PLN

…itu hanyalah khayalan tingkat tinggi yang terlintas dibenak saya ketika PLN akan memutuskan arus aliran listrik pada rumah atau perusahaan pelanggannya. Diberitahukan sejam sebelumnya, entah itu melalui telepon atau sms, tentu saja dengan kesepakatan nomor yang telah diketahui kedua pihak, menghindari penyalahgunaan ataupun teror ga’jelas.

Lantas bagaimana kalo si pelanggan ternyata sedang memberikan pelayanan pada konsumen mereka yang barangkali menyangkut keselamatan atau nyawa ? Sebuah Rumah Sakit yang sedang melakukan operasi bedah dan memerlukan pasokan listrik dalam sekian jam kedepan ?

Inilah manfaatnya bagi mereka. Pihak RS dapat melakukan antisipasi terlebih dahulu mengambil alih listrik yang digunakan dengan genset misalnya, serta mengorbankan beberapa titik yang barangkali bisa dipadamkan untuk sementara.

Yah, namanya juga khayalan saya tingkat tinggi, boleh dong…

* * *

Listrik PLN byar pet, masyarakat merugi. Yang paling banyak terkena dampaknya adalah usaha Warnet yang memang jarang mempersiapkan genset sebagai pasokan listrik cadangan atau fasilitas UPS misalnya, yang mampu menyuplai arus listrik selama satu jam kedepan, sambil mempersiapkan diri mematikan perangkat agar tidak terjadi kerusakan. Industri rumahan juga salah satunya.

Lain lagi dengan Rumah Sakit, dimana pelayanan akan sangat diutamakan. Pernah gak membayangkan satu waktu dimana sebuah operasi bedah sedang dilakukan dan pada titik kritis yang terjadi pada pasien tiba-tiba seluruh listrik di RS tersebut padam. Bagaimana jadinya ? Mungkin jarang ada kejadian begitu, tapi bagaimana kalo ada ? siapa yang bakalan dituntut seandainya terjadi apa-apa dengan si pasien ?

* * *

‘Halo… Selamat Pagi. Dengan PLN ? kami dari bagian Humas Pemerintah Daerah xxx ingin menginformasikan bahwa apabila diperlukan pemadaman listrik, baiknya padamkan saja listrik yang berada pada areal perkantoran kami di sore hingga pagi hari. Toh kami tidak menggunakannya diluar jam kerja.

Untuk lampu taman dsb, biar kami gunakan arus dari genset yang dibeli dari anggaran lima tahun lalu. Masih berfungsi dengan baik.

Keamanan lingkungan kami ? tak perlu khawatir. Jika Masyarakat tahu bahwa listrik yang mereka gunakan tidak terkena pemadaman karena pemadaman listrik dialihkan ke areal kantor kami, kami yakin Masyarakat akan ikut serta menjaganya. Bukankah Pemerintah yang baik itu bertujuan untuk melayani Masyarakatnya ?’

* * *

…halah, khayalan tingkat tinggi lagi nih…

Mana ada sih pejabat yang mau melakukan hal itu demi rakyatnya ?