Cross A20, Android Murah sih, tapi…

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Layar lebar 5 inchi memang kadang suka menggoda mata, apalagi begitu tahu harga tergolong murah dan terjangkau… tapi kalo secara spek sudah meragukan, satu saran pasti dari saya sih, mending urungkan niatmu, nabung dikit lagi, dan ambil yang beneran terbaik di kelasnya.

Adalah seorang kawan yang sudah sejak lama mengangan-angankan sebuah perangkat Android Phablet (Phone Tablet) berlayar lebar 5 inchi, demi mengabulkan harapan sang anak yang memang ingin menjajal berbagai games ternama lebih jauh. Hal ini sebagai lanjutan kekecewaan yang bersangkutan akan pendeknya umur perangkat TabletPC dari brand ternama yang ia miliki dari setahun lalu.

Sebenarnya hanya satu saran saya padanya. Cari perangkat Android dengan besaran RAM 1 GB, terserah mau ambil merek apa.

Saran diatas selalu saya sampaikan pada siapapun yang bertanya, akan rekomendasi apa yang sebaiknya dipilih jika ingin mencari perangkat Android terkini. Tujuannya satu, biar gag nyesel belakangan.

Lantas kenapa harus 1 GB ? Karena RAM biasanya akan berkaitan dengan kemampuan perangkat untuk menjalankan segudang aplikasi dalam waktu bersamaan atau lebih familiar dikenal dengan istilah MultiTasking. Memang sih, disitu ada fitur Task Manager yang mampu menghentikan aplikasi yang sedang berjalan sehingga dt membebaskan RAM lebih banyak, namun bukankah lebih baik memiliki sisa yang lebih daripada kekurangan nantinya ?

Cross A20

Cross A20. Jika kalian hunting diberbagai belahan dunia maya, banyak yang merekomendasikan perangkat ini sebagai pilihan terbaik dari perangkat Android berlayar 5 inchi lantaran murahnya harga jual yang bisa dijangkau oleh calon pengguna. 800ribuan saja. Bandingkan dengan perangkat sejenis dari brand ternama, Samsung Galaxy Grand yang dipatok 4-5 kali lipatnya. Tapi tentu saja, harga jual sudah pasti bakalan mencerminkan kualitasnya kok. Rata-rata sih begitu.

Pada Box luaran sebenarnya spek Cross A20 sudah tergolong agak meragukan. ROM 4 GB (512 MB), dan RAM 2 GB (256 MB). Entah apa maksudnya. Dan sialnya, si kawan seakan tidak peduli, meskipun si penjual pun merasa kebingungan dengan maksud spesifikasi tersebut. Dan setelah dibuka dan diuji, barulah ketahuan belangnya.

Adakah yang Masih ingat dengan perangkat serupa, Android murah yang tempo hari sempat saya ceritakan sistem shared memorynya ? Dari ROM 4 GB (Internal Memory), yang bisa diplot sebagai space aplikasi hanyalah sebesar 512 MB saja. Sisanya untuk file multimedia dan hiburan. Sayangnya, entah mengapa dari besaran ini yang tersisa dalam kondisi default (belum diinstalasi aplikasi lain, masih bawaan pabrik), hanya berkisar 80an MB saja. Dimana dengan sisa space sesedikit ini, saya berkali-kali mengalami kegagalan transfer data berupa file APK dari Samsung Galaxy Tab 7+ yang saya miliki, meski ukurannya hanya berkisar 5 MB saja.

Yang jauh lebih unik lagi, dengan kondisi kosongan tanpa memory eksternal dalam paket penjualannya, fitur kamera malah tidak bisa digunakan lantaran ‘ketiadaan memory yang tersisa, dan mengharapkan pengguna bisa mengalihkannya ke eksternal memory sebagai media penyimpanan.

Seakan belum puas dengan minimnya ketersediaan Internal Memory yang dimiliki, hal sama juga muncul dari sisa memory RAM yang dari 256 MB shared, hanya menyisakan RAM sebesar 46 MB dalam kondisi default standby. Nah, mau menjalankan aplikasi apa ya kira-kira ?

Dua hal ini saja sudah cukup membuat saya ilfil sebenarnya, maka sepantasnyalah apabila secara OS, Android yang digunakan pun sudah tergolong jadul untuk era masa kini, yaitu versi 2.3.6 GingerBread. Ini bisa dimaklumi lantaran minimnya dua spek tadi, tapi ya kasihan juga sih dengan pengguna yang terlanjur membeli Cross A20.

Susah payah mengambil direntang harga 800ribuan, eh gag bisa diapa-apain kecuali memanfaatkan jalur komunikasi Dual Sim.

Nah, apa masih mau dilanjutkan lagi reviewnya ?

Ponsel ber-Layar Sentuh Murah ? Yummy

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Di Awal Tahun 2000-an, ponsel berlayar sentuh selalu identik dengan harga yang mahal serta teknologi yang terdepan. Kendati saat itu belum banyak ditemukan perangkat ponsel yang mengadopsi Teknologi ini, namun ada beberapa Brand ternama sudah mencoba merilisnya dengan berbagai tawaran menarik.

Katakanlah HP Jornada. Bagi yang mengikuti Trend PDA atau Personal Digital Asisstant saat itu saya yakin pasti pernah melihat rupa atau minimal mendengar nama yang satu ini. Awal mula Sebuah perangkat konvergensi yang selain berfungsi utama sebagai Buku Agenda secara digital, disuntikkan pula kemampuan Voice Call untuk membantu para penggunanya beraktifitas bisnis dengan koleganya.

Teknologi layar sentuh makin jauh berkembang ketika sistem operasi Windows Mobile memasuki masa jayanya. Memegang sebuah perangkat sejenis di jaman itu rasanya benar-benar  mirip dengan memegang sebuah BlackBerry Torch atau sebuah TabletPC di masa kini. Selalu menjadi perhatian orang yang memang penasaran dengan kemampuan dan penampilannya.

Kini berselang satu dekade, tampaknya teknologi layar sentuh masih menjadi Favorit bagi sebagian besar brand atau merek ponsel untuk tetap diadopsi. Bedanya, untuk bisa membeli sebuah perangkat tak lagi memerlukan biaya tinggi lantaran dari segi jeroan dan sistem operasi tak membutuhkan spesifikasi yang tinggi.

Jika untuk sebuah brand global ternama harga yang harus ditebus masih berada di atas kisaran harga 1 Juta, maka untuk beberapa brand lokal masalah harga sudah bisa ditebus dengan kisaran 400 s/d 500 ribuan saja. Menarik bukan ?

Mengingat rentang harga yang bisa dikatakan sangat terjangkau, maka untuk urusan isipun sudah seharusnya bisa dimaklumi. Akan banyak keterbatasan kemampuan yang sedianya tidak dapat dilakukan pada sebuah perangkat layar sentuh kebanyakan. Dari jenis layar Resitif yang mutlak membutuhkan sentuhan alat bantu Stylus, tingkat kepekaan area sentuh menuju Menu ataupun fitur tertentu, kedalaman warna yang mengakibatkan tampilan gambar pada layar jauh lebih rendah ataupun tingkat kecerdasan perangkat untuk melakukan aktifitas multitasking penggunanya.

Lantas Varian apa saja yang bisa ditawarkan pada pengguna untuk barisan ponsel berlayar sentuh murah ? berikut daftarnya.

LG Cookies Series. Ponsel yang menyasar segmen anak muda ini sebenarnya sudah dikenal sejak lama oleh pasar, buktinya ada beberapa rilis seri yang berbeda dari keluarga ini. Syarat utamanya Cuma satu. Mampu terhubung dengan jalur Social Media seperti FaceBook, Twitter ataupun sekedar Chatting. Beberapa diantaranya sudah mendukung koneksi data Wifi sehingga jauh lebih memudahkan penggunanya dalam mengakses dunia maya. Harga yang ditawarkannya pun beragam. Dari kisaran 750 hingga 900 ribuan.

Samsung Genoa, Samsung Champ dan Samsung Corby Series. Seperti halnya LG, Samsung merupakan salah saru vendor ternama yang masih setia menggelontorkan pasar dengan ponsel layar sentuh murah, untuk menyasar segmen tertentu. Genoa Series misalnya. dengan mengandalkan User Interface khas milik Samsung TouchUI, Geno tampil dengan teknologi yang dahulu hanya mampu ditemukan pada ponsel dari brand lokal, yaitu TV Analog. Berbeda lagi dengan Champ Series yang sudah mengadopsi koneksi data Wifi dan salah satunya bahkan mengadopsi konsel Dual Mode GSM. Demikian halnya dengan Corby Series yang lebih menyasar kaum Social Media dengan tampilan khasnya yang nyaris menyerupai HomeScreen milik perangkat Android. Kisaran harga yang musti ditebuspun kisaran 900ribuan saja.

Nexian Series. Nama Nexian bisa dikatakan sebagai salah satu pemain lama yang berhasil dan masih bertahan hingga kini. Di tahun 2011, Nexian tampaknya makin pede merilis seri layar sentuh mereka. Nexian G857 Snap, G868 Tap, G868 Tap Music, G860 Cappucino, G889 Princess dan G065 Champion merupakan jajaran ter-Gres yang coba ditawarkan pada publik. Dengan rentang harga 500 s/d 850 ribuan, jelas saja ini sangat menggiurkan. Apalagi koneksi data Wifi sudah menjadi senjata utama jualannya.

IMO Series. Mengingat nama brand satu ini, saya pribadi bakalan langsung teringat dengan Form tampilan ponsel yang kerap ‘meniru’ desain ponsel papan atas. Katakanlah seri B9800 yang mengadopsi bentukan BlackBerry Torch, atau B9200 yang serupa Nokia C7. Terkini yang dirilis adalah bentukan yang menyerupai PSP, perangkat Gamers milik Sony dan ditawarkan dengan harga 600ribu saja. Spesifikasi di tiap perangkat ponsel layar sentuhnya nyaris sama satu dengan lainnya. Dual Mode, TV Tuner, Koneksi Data dan Memory tambahan merupakan hal yang sangat lumrah untuk diadopsi.

SkyBee Touch. Mengambil rupa Samsung Champ series, SkyBee tampaknya tak mau ketinggalan dalam merilis ponsel murah berlayar sentuh. Dengan penawaran harga yang hanya 475 ribu saja, SkyBee Touch sudah dapat dibawa pulang oleh pengguna. Menawarkan konsel Dual Mode, TV Tuner dan tentu saja iming-iming terhubung dengan berbagai akun Social Media, SkyBee Touch diharapkan mampu mengambil hati sebagian kecil segmen anak muda.

Cross Mobile PD100T. Dari segi Jualan dan spesifikasi tampaknya Cross tak jauh beda dengan perangkat SkyBee. Hanya saja dari segi desain, Cross lebih mudah dikenali lantaran bentukannya yang menyerupai salah satu perangkat ponsel Android ternama. Mungkin itu sebabnya, harga jual ponsel Cross inipun sedikit lebih mahal ketimbang rivalnya.

Polytron PG 2000T. Ini ponsel atau perangkat multimedia ? hehehe… Di Negeri ini nama Polytron memang identik dengan perangkat multimedia. Namanya bahkan sudah dikenal jauh sebelum teknologi ponsel mulai familiar di tanah air. Sayangnya, tidak banyak gebrakan yang diluncurkan untuk seri ponsel terbaru mereka. Malah bisa dikatakan dengan harga jual yang memang terjangkau, secara spesifikasi dan kemampuan tidak jauh berbeda dengan perangkat lokal.

Jika memang yang namanya Budget amat sangat terbatas namun hasrat begitu menggube untuk mencoba nikmatnya ponsel berlayar sentuh, tak ada salahnya untuk mencoba salah satu dari sekian varian diatas.