Ketika Tidak Ada Lagi Cinta Diantara Kita

3

Category : tentang Opini

Menarik sekali ketika bisa menyimak pembicaraan terbatas buk ibuk milenial di kendaraan saat meluncur ke arah Denpasar siang hari kemarin, dimana topik yang lagi hangat-hangatnya bisa diperbincangkan dengan kepala dingin dari sudut pandang orang kelima. Yang artinya, bukan siapa-siapa bahkan host infoTAIment sekalipun.

Namun kisah yang kerap terjadi pada banyak orang ini rupanya dialami juga oleh orang-orang terdekat kita, yang dikasihi atau bahkan yang menjadi panutan dan disegani sekalipun.
Kisah Cinta antar dua manusia yang berbeda kelamin tentu saja, namun seiring berjalannya waktu dan usia, menciptakan situasi ketika tidak ada lagi Cinta diantara Kita.

Berbagai analisa dan alasan yang dikemukakan, sesungguhnya belum mampu menjadi pembenaran diantara kedua pihak. Karena memiliki sisi positif dan negatif secara bersamaan. Sama seperti semua cerita kehidupan yang lain.
Tapi jelas yang paling terpukul dari kasus perceraian jika sampai itu terjadi, tidak hanya jatuh pada sang anak yang kelak bakalan diperebutkan hak asuhnya. Namun berimbas pula pada sang Ibu atau pihak perempuan, utamanya jika pernikahan ini dilakukan dalam adat dan budaya Bali ataupun Hindu.

Pemikiran ini muncul lantaran dalam budaya Bali, pihak perempuan harus menjalani prosesi ‘mepamit’ atau mohon ijin meninggalkan keluarga asal, untuk menjadi bagian di keluarga suami, baik secara sekala kepada orang tua, maupun niskala kepada para leluhur dimana ia lahir dan tinggal. Membayangkan posisi yang bersangkutan pasca perceraian tentu akan menjadi gamang, karena tidak bisa ‘dikembalikan’ begitu saja bak meninggalkan barang bekas di pinggiran jalan.

Akan menjadi lebih sulit lagi ketika perpindahan status si perempuan sampai melibatkan soal kultur dan keyakinan. Katakanlah sampai rela mengubah budaya serta agama yang dianut sebelumnya.
Hal ini amat sangat berbeda jauh ketika proses perkawinan dan perpindahan kultur serta keyakinan terjadi dalam kondisi sebaliknya. Si perempuan cenderung disayang dan dijaga betul sehingga kerap menjadikannya memiliki fanatisme yang jauh lebih besar dan lebih dalam ketimbang sang suami yang sudah sejak awal memeluk agama dan budayanya.
Masuk akal.

Jadi teringat pada cerita dari seorang kawan, saat ia berkunjung ke rumah bersama salah satu putranya yang sudah beranjak dewasa. Perkawinannya kandas di tengah jalan.

Akan ada saat dimana tidak akan ada lagi Cinta diantara kita. Diantara dua manusia yang mengikat janji jauh sebelumnya dan berupaya untuk saling setia dihadapan sanak saudara atau handai taulan.
Dan ketika berada dalam situasi ini, yang tersisa hanyalah sebuah komitmen. Sebuah janji yang sebenarnya wajib dan harus kita tepati hingga ajal dan kematian yang akan memisahkan.

Disinilah dua manusia itu akan diuji oleh-Nya atas semua keputusan yang dahulu pernah diambil.

Apakah akan berpisah dengan alasan sudah tidak ada lagi Cinta diantara kita, dengan alasan tidak ada kecocokan, atau dengan alasan bosan dan telah berpaling ke makhluk-Nya yang lebih menggoda ?
Atau akan meneruskan kapal hingga akhir pertemuan ?

Siapa yang tahu ?

Doa dalam Hening

Category : Cinta, tentang Buah Hati

…terpisah dalam jarak

…dua disana

…dan dua disini

…harapan tetap menyala

…untuk menyatukan semua

…dalam keluarga

…ada doa dalam keheningan ini cantik

…hanya untuk kalian semua

…aku disini menanti

…sepi sendiri

Termangu akan Nostalgia Masa Lalu

Category : tentang KHayaLan

Hujan turun dengan deras, Diiringi halilintar yang seakan marah tiada habisnya. Menjawab prasangka yang dipikirkan sejak sore tadi.

Ini pertama kalinya selama kurun waktu sembilan tahun yang saya kenal, duduk sendirian diatas sofa bale Bali yang dahulu menjadi saksi bisu pernikahan kami 2005 silam. Pikiran pun menerawang jauh mencoba mengingat semua perubahan fisik yang dialami pada tanah kelahiran istri yang dicintai.

Bale Daja yang dahulu digunakan untuk tempat tidur Mertua dan putri bungsunya, kini telah disulap menjadi jauh lebih tinggi dan megah. Menghapus semua kenangan yang ada, karena wajahnya lebih menyerupai sang arsitek ketimbang pemiliknya. Bangunan yang biasanya selalu dikhawatirkan setiap kali turunnya hujan, kini telah jauh lebih baik dan kokoh.

Begitu pula dengan Bale Dauh yang dahulu ditempati kakak ipar dan istrinya, pun kami yang biasanya secara rutin menginap disini. Disulap menjadi bangunan semi minimalis dengan ketinggian lantai yang sudah pula terangkat jauh dari aslinya. Tidak banyak berubah dari desain awal. Hanya memecah kamar mandi menjadi dua lokasi dan memberikan ruang terbuka pada bagian sisanya.

rps20141216_163304

Soal halaman, sebenarnya saya jauh lebih nyaman dengan penataan awal atau kondisi eksistingnya. Dimana ruang terbuka masih bisa digunakan untuk bermain anak-anak. Kini sudah jauh lebih sempit lantaran adanya pulau taman di tengah-tengah natah juga areal didepan bale.

Satu lagi perubahan yang paling terasa adalah sanggah atau merajan yang ada di posisi kaja kangin, posisinya menjadi paling tinggi diantara semuanya. Dulu saat Istri mepamit, disitulah kami menyembah-Nya memohon jalan terbaik bagi kami berdua dan seluruh keluarga.

BerNostalgia dengan masa lalu, mengingat pahitnya perjuangan mendapatkan restu dari kedua Mertua, karena status saya yang dahulu mendua, dimana feeling memang jauh lebih baik ketimbang fakta yang ada. dan Bersyukur pilihan saya tepat.

Hujan belum jua reda, dan saya masih duduk disini termangu.

Menyambut Hadirnya Bidadari Kecil

8

Category : tentang Buah Hati

23 Oktober 2012, sejenak usai makan siang… saya dan Yande Putrawan, baru saja bercerita tentang De Wira, putranda yang kini sudah berusia enam bulan. Ia menceritakan dengan antusias sambil menunjukkan beberapa video yang ada dalam perangkat tablet Samsung galaxy Tab 7+ yang baru saja ia beli menggantikan Tab lama. Ponselpun berdering.

Di ujung sana, Alit istri saya meminta diantarkan pulang, karena rasa sakit di perut sudah mulai terasa. Memang hingga jelang akhir bulan Oktober, istri belum mengambil cuti melahirkan, berhubung belum ada tanda-tanda. Tanpa bermaksud mengusir dan mengakhiri pembicaraan, kami memutuskan untuk bubaran. Yande menuju Dinas Cipta Karya untuk mengurus IMB-nya, sedang saya bergegas meluncur ke lobby kantor Dispenda Badung, sembari menghubungi dua atasan, kantor dan LPSE.

Sepanjang perjalanan saya terus meminta pada istri untuk segera memeriksakan kandungannya ke Bidan Wiratni sore ini. Tujuannya untuk mempertegas status kandungan, agar esok Rabu kami sudah bisa berbagi waktu, apakah mau ngantor kembali ataukan beristirahat dirumah. Perjalanan pulang yang kami lalui tak langsung menuju rumah. Istri masih sempat membeli ‘nyuh daksina’ (buah kelapa yang telah dikupas kasar), dan saya sendiri masih sempat membeli beberapa jajan untuk banten otonan (hari lahir Bali) MiRah putri pertama saya yang jatuh pada hari itu.

23 Oktober 2012 pukul 17.00 sore. MiRah sudah selesai mandi dan bersiap untuk Otonan. Alit, ibunya yang berencana natabin (menjalankan upakara) memilih duduk beristirahat lantaran sakit perutnya mulai menjadi. Akhirnya tugas natabin MiRah diganti neneknya. Saya sendiri masih sempat mengambil beberapa gambar upacara Otonan MiRah.

23 Oktober 2012 pukul 17.10. Sore yang panas. Saya memilih untuk mengguyur badan dengan air untuk membuat panas ini menjauh. Sementara itu, Air ketuban kandungan istri pecah. Ibu, neneknya MiRah tampak mulai kebingungan. Antara berkonsentrasi natabin upakaranya MiRah, dengan shock melihat kondisi Alit istri saya, mulai menggedor pintu kamar mandi. Sayapun diminta bergegas dan langsung menuju mobil. Meski Bidan Wiratni hanya beberapa langkah dari rumah, namun kondisi Istri tampaknya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan lagi.

23 Oktober 2012 pukul 17.15. Kami sampai di Bidan Wiratni. Dengan segera istri dibopong ke Ruang Bersalin untuk memeriksakan status kandungannya. Hasilnya cukup mengagetkan. Bayi sudah bersiap untuk dilahirkan. Dokterpun dipanggil beserta Bidan Wiratni, turun tangan langsung menangani kandungan istri. Saya masih berusaha untuk menghubungi rumah, meminta agar disiapkan roti serta air mineral untuk dibawa ke Bidan. Karena pengalaman saat kelahiran putri pertama kami, Alit cukup lapar pasca proses, bisa jadi lantaran tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan persalinan normal sangat menguras energi.

23 Oktober 2012 pukul 17.25. Tangis bayi memecah sore ruang tunggu Bidan Wiratni. Bayi kami lahir, dan sayapun masih shock lantaran kebingungan. Antara gembira, haru dan masih was-was usai pecah air ketuban tadi. Telepon rumah kembali dihubungi, untuk mengabarkan hal ini. Seisi rumah jelas ikutan shock. Kaget lantaran tidak menyangka jika proses persalinan berjalan begitu cepat.

23 Oktober 2012 pukul 17.25. Putri kedua kami lahir ke dunia. Sementara waktu kami belum punya nama untuknya. Di memo Tablet hanya ada draft nama yang saya catatkan untuk dua alternatif. Nama anak laki dan perempuan. Pada akhirnya Tuhan memberi yang kedua. Dan nama itu bertuliskan ‘Pande Made …… PradnyaniDewi’.

Nama yang bernuansa dan berarti Bali. Seperti halnya kakaknya ‘Pande Putu MiRah GayatriDewi’. Yang kemudian menjadi pertanyaan, nama tengah yang akan digunakan agar memiliki makna yang kurang lebih sama dengan MiRah (batu permata). Pilihannya ada dua, Intan (saran dari saya dan kakeknya) dan Mas (saran dadi nenek Canggu, ibu mertua saya). Kamipun hingga hari ini belum menjatuhkan pilihan. Sementara saya pribadi masih memanggilnya Gek Ade. Gek – Geg dari Jegeg (cantik dalam bahasa Bali), dan Ade – Made (sebutan untuk anak kedua dalam budaya Bali). Namun mengingat kami pernah memiliki satu insan yang gugur dalam kandungan akhir tahun 2011 lalu, nama Made masih kami ragukan untuk digunakan. Terserah apa permintaan sang bayi kelak saat ‘bertanya’ nanti.

Proses persalinan berlangsung cepat. Sayapun lalu bergantian dengan ibu, mengurusi kamar inap di Bidan Wiratni sambil mengambil beberapa perlengkapan yang sudah kami siapkan jauh sebelumnya. Jarak antara rumah dan Bidan Wiratni yang hanya beberapa meter menyebabkan proses berjalan cepat dan sandyakala semuanya sudah selesai dilakukan. Berdasarkan nasehat dari Ida nak lingsir Sri Empu yang kami hubungi, proses penanaman ari-ari bayi akan dilakukan esok pagi, berhubung hari lahir sang bayi merupakan hari dewasa ayu yang sangat dikeramatkan oleh sebagian besar umat Hindu.

23 Oktober 2012. Anggarkasih Tambir tepat jatuh pada Kajeng Kliwon. Merupakan hari lahir Bali yang sama dengan MiRah putri pertama kami. Alamat enam bulan kedepan, kami akan melaksanakan dua upakara otonan secara bersamaan. Beberapa keluarga menyatakan kekagetannya dengan kesamaan hari lahir, dan hari lahir yang dipilih oleh sang bayi untuk turun ke bumi. Mencirikan keteguhan hati dan kerasnya jiwa sang bayi kelak, demikian halnya dengan MiRah.

23 Oktober 2012, pula menjadikan hari lahir putri kedua kami ini bersamaan dengan hari lahir neneknya secara nasional. Mengambil bintang Libra, bintang yang senada pula dengan ibunya. Musti berhati-hati nih. Hehehe…

Lahir dengan berat 3,3 KG dan panjang 48 cm, sesuai dengan ramalan Dokter Wardiana, dokter kandungan yang kami hormati sejak kehamilan pertama dulu. Beliau pula yang menyarankan untuk melahirkan secara Normal dimanapun kami inginkan. Karena berdasarkan hasil USG masih memungkinkan untuk itu. Sesaat setelah kelahiran, sayapun mengabarkan Beliau tentang hal ini dan berTerima Kasih, sekaligus berjanji untuk program yang ketiga kelak. *uhuk

24 Oktober 2012. Kelahiran putri kami yang kedua ini terasa berbeda. Banyak hal baru yang kami lakoni, diantaranya pembaharuan tempat tidur yang kami desain khusus untuk kami berempat, aktifitas yang sudah mulai terpetakan sejak awal dan banyak kemudahan lainnya yang kami rasakan untuk berkabar. Namun Saking antusiasnya saya menyambut kehadiran putri kami yang kedua ini, tak satupun tulisan yang bisa saya lahirkan pada hari yang sama hingga pagi ini. Hampir tak ada waktu luang yang bisa dilakukan untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, disamping tidak ada kata dan kalimat yang mampu saya lukiskan untuk menggambarkan kegembiraan ini.

25 Oktober 2012. Rencana ngantor hari ini batal saya laksanakan. MiRah putri kami positif dijangikiti Flu Singapura. Pantas saja sejak kemarinnya ia mengeluhkan sakit pada rongga mulut untuk menelan makanan, juga adanya bintik-bintik merah di kedua siku lengan, telapak tangan dan kaki. Sayapun memutuskan untuk terfokus pada MiRah, sembari ibu dan neneknya fokus pada bayi kami. Setelah menghubungi dua atasan, hari-hari penuh kesibukanpun kembali dilakoni. Mencuci popok, menyiapkan air, membuat susu dalam botol hingga menggendong si kecil dengan riang. De Ja Vu, semua sudah pernah dilakoni sebelumnya, jadi tidak ada rasa canggung lagi. Tinggal mengingat dan melakukannya lagi.

26 Oktober 2012. Kemarin malam adalah malam pertama kami begadang. Bayi tampak lebih nyaman untuk digendong di ruang tamu yang jauh lebih adem ketimbang dibobokan di ruang tidur. Kamipun bergantian mengajaknya, namun susu tetap menjadi tanggungjawab saya untuk menyiapkan.

Ini hari ketiga saya sudah tidak berolahraga. Minimal jalan kaki dini hari ke lapangan alun-alun. Maka itu saya pun bertekad untuk melakoninya agar tidak sampai parah kadar gula darahnya.

Adanya Diabetes pada tubuh saya menyebabkan rasa was-was apabila terjadi satu dan lain pada tubuh saat kami diminta untuk fokus pada kelahiran kedua ini. Itu sebabnya sayapun berusaha untuk menjaga kesehatan secara sadar agar tetap bisa bersama tiga bidadari cantik ini.

26 Oktober 2012 pukul 10.00. semua aktifitas telah diselesai dilaksanakan. Alit dan bayi kami sidah tertidur, membayar hutang tadi malam. MiRah usai minum obat dan belajar, memilih untuk beristirahat agar Flu Singapura-nya segera menjauh. Dan saya usai menyetrika, mencoba untuk duduk didepan NoteBook untuk melahirkan satu tulisan ini. Sebagai catatan bagi kami dimasa datang, sebagai ingatan bagi Putri kami yang kedua saat ia besar nanti, dan sebagai kewajiban seorang blogger untuk terus menulis dan menulis. Masa’ tentang gadget rajin banget mempublikasikan di blog ? sementara untuk kisah tentang putri kami yang kedua, hingga tiga hari ini belum jua ada ?

Jadi, Terima Kasih untuk semua ucapan dari Man Teman lewat jejaring sosial FaceBook, Twitter atau berkesempatan menengok langsung. Dan untuk menyambut kehadiran bidadari kecil kami ini, sementara tulisan tentang Gadget dan eksplorasi Custom ROM, saya hentikan dulu tanpa batas waktu. Mohon untuk dimaklumi, karena dengan inilah salah satu usaha untuk mampu mengungkapkan rasa cinta pada anak dan keluarga.

Selamat beraktifitas kawan-kawan…

Selamat Berbagi di Hari kasih Sayang

6

Category : Cinta

Aura Pink sepertinya sudah mulai melanda seputaran Kota Denpasar, dari supermarket hingga pedagang bunga, dari toko boneka hingga status facebook milik teman. Terhitung hari Senin kejepit depan, ratusan ribuan pasang anak muda bahkan lebih bakalan melaksanakan ritual tahunan bersama orang tercinta atau dikasihi. Lantas bagaimana dengan yang telah menikah ?

Valentine’s Day merupakan hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Diwujudkan dengan saling berkirim benda baik kartu, boneka, cokelat yang bernuansa cinta, jantung hati, cupid kepada orang yang diharapkan. Belakangan makin berkembang menjadi sms, email bahkan status Facebook pun bernuansakan cinta.

Hari Valentine atau yang lebih dikenal sebagai hari kasih sayang inipun kabarnya berasal muasal datang dari sebuah hari raya Katolik Roma. Mungkin itu sebabnya baik para alim ulama umat Muslim sempat mengharamkan Valentine’s Day untuk dirayakan, demikian pula tokoh Hindu yang sempat pula mengatakan bahwa dalam Agama Hindu tidak ada yang namanya tradisi Valentine’s Day ini. Tapi apa boleh buat, kalangan generasi muda sudah kadung terpaku ingatannya (termasuk saya) bahwa setiap tanggal 14 Februari merupakan hari yang patut dinanti.

Bila melintas ke masa lalu, Valentine’s Day selalu merupakan nightmare bagi saya. Maklum, di masa remaja saya tergolong Nerd, kuper bahkan kurang dikenal oleh teman sekolah. Salah satu penyebab utamanya adalah rasa minder akibat kurang ‘berpunya’. Jangankan mobil, motorpun tidak saya miliki hingga masa SMA kelas dua. Masih berpeluh mengayuh sepeda balap pulang pergi sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

Valentine’s Day baru mulai terasa bermakna ketika pernikahan itu ada. Mewujudkan Cinta dalam arti sebenarnya kepada Istri, makin bertambah dengan kehadiran buah hati kami yang sudah makin meninggi, MiRah GayatriDewi. Tak hanya itu, rasa cinta dan bhakti kepada kedua orang tuapun tumbuh dengan sendirinya, karena memang hanya mereka yang masih saya miliki hingga hari ini.

Berbagi kepada sesama di Hari Valentine pun baru dua tahun terakhir ini saya lakoni. Sekantong darah saya coba sumbangkan di PMI untuk mereka yang membutuhkan. Mencoba konsisten dengan apa yang telah saya mulai, pagi inipun rencana untuk mendonorkan darah tetap ditepati. Meski tidak tepat di hari Kasih Sayang lantaran merupakan Hari Kerja, setidaknya pemikiran untuk tetap berbagi dapat terlaksana.

Berbagi kasih kepada orang yang dicintai ataupun kepada sesama memang sudah sepatutnya tidak hanya dilakukan saat Valentine’s Day. Jika boleh saya sarankan, lakukan setiap hari dan teruskan semampunya. Cara ataupun jalan yang dilakukan ya terserah pada keahliannya. Seperti menulis lewat BLoG inipun saya rasa sah-sah saja.

Ayo, lebih rajin untuk berbagi… dan Selamat berHari Kasih Sayang…

Membuktikan Cinta di Uya emang Kuya

9

Category : tentang KeseHaRian

Entah sejak kapan tayangan berbau hipnotis yang di-Host Uya Kuya menjadi santapan wajib kami setiap sore dan menjelang malam. Makin menjadi ketika Uya tampil sebagai host di acara award sebuah stasiun tipi swasta beberapa waktu lalu. Kami dibuat penasaran olehnya.

Dari sekian kali tayang, rata-rata jalannya hipnotis hampir selalu diakhiri dengan kata ‘putus’. Maklum, yang disasar Uya lebih banyak pasangan yang masih dalam tahap pacaran, meskipun kadang sempat juga yang kami tonton ada ibu-ibu dengan hobi minjemin uangnya, satu keluarga kecil atau bahkan pasangan yang mengajak orang ketiga. Hehehe…

Putusnya hubungan yang terjadi pasca hipnotis gag lantas membuat kami menyalahkan Uya Kuya. Masalahnya, ketimbang semua unek-unek itu dipendam dan dapat meledakkan perasaan satu saat nanti, mending diungkap sejak dini.

Yah, bagaimana tidak kami maklumi. Wong yang lucu itu kadang suka ‘gag pernah kami bayangkan sebelumnya’. Si cowok yang dihipnotis duluan ngaku punya gebetan lain eh si cewek ternyata punya juga, malah lebih banyak. Meski begitu, gag sedikit juga yang kemudian merasa gag puas dengan sifat pasangannya. Kurang ini kurang itu, atau terlalu ini dan terlalu itu.

Memang sih, masa pacaran adalah masa mencari dan memilih satu diantaranya. Jangan sampe salah pilih hanya karena ‘terlanjur sayang’ seperti kata Memes. Gag puas itu wajar, tapi jangan sampe hanya bisa menuntut tanpa bisa memberi, well itulah yang namanya Cinta.

Bisa dikatakan hanya satu dua yang mampu membuktikan rasa cinta mereka terhadap pasangannya dan tetap menyajikan hubungan mesra meski keduanya saling mengetahui latar belakang dan keluhan satu sama lain. Masa lalu biarlah berlalu, sepanjang masa depan masih bisa dirajut. Karena yang namanya hidup, sangatlah wajar kalo yang namanya rasa tidak puas itu akan selalu ada. Begitu kurang lebih.

Terlepas dari kebenaran tidaknya tayangan yang disajikan, hipnotis Uya emang Kuya rupanya mampu memberikan sedikit hiburan disela tayangan Plesiran mafia pajak Gayus Tambunan ataupun Bencana Merapi yang hampir tiap hari selalu bersliweran dimata kami.

Terpekur Sepi dalam Kesendirian

5

Category : Cinta

‘Meniti hari… Meniti Waktu…

‘Membelah langit… belah samudra…

‘ikhlaslah Sayang… kukirim kembang…

‘Tunggu Aku… Tunggu Aku…

Jika biasanya aku yang selalu bersenandung ketika sendiri jauh dari anak dan istri, kini malah sebaliknya. Sudah dua minggu… tak terasa memang. Bisa jadi lantaran banyaknya kegiatan yang aku lakoni sedari awal bulan, bisa juga lantaran terbiasa.

Jauh dari istri sebenarnya bukan pilihan, namun lantaran kewajiban toh semua harus dijalani. Jadilah aku setiap pagi dan sore berusaha untuk meluangkan waktu menemani MiRah GayatriDewi putri kami, lebih intensif. Beberapa aktifitas yang dahulu kerap kulakukan, mendadak terganti oleh pernak pernik kelucuan dan kenakalan anak kecil. Tak jarang yang namanya kesabaran itu diuji…

Kesendirian sudah mulai menjadi bagian dari hidup. Terutama ketika hari beranjak malam, saatnya MiRah bobo bersama kakek neneknya dan meninggalkanku dalam ruang kamar ini. Awalnya memang susah, hampir tak ada waktu bersantai kulewati. Pelan tapi pasti semua kembali seperti biasa lagi.

Memasuki minggu ketiga aku dilanda kesendirian masih saja tak banyak yang bisa kulakukan. Menulis dua tiga tulisan dalam sekali waktu rasanya sudah tak mungkin lagi. Mengingat sang inspirasi berada jauh dimata.

‘Rinduku dalam… semakin dalam…

‘Perjalanan… pastikan sampai…

‘Penantianmu… s’mangat hidupku…

‘Kau Cintaku… Kau Intanku…

(Ikrar/Iwan Fals/Belum Ada Judul)

Kehilanganmu

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Menjalani hari-hari dalam kesendirian sebenarnya bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi jika kita mulai terbiasa dengan tawa canda riang dan kehangatan keluarga kecil. Padahal kelihatannya semua berjalan seperti biasa, namun ada satu emosi yang kerkadang siap diledakkan sewaktu-waktu. Hal yang sangat berbahaya menurutku.

Ketika kata-kata itu sudah tak lagi bisa diterima oleh telinga, ketika pikiran sudah ditutupi oleh kabut kelam dan ketika seluruh urat nadi sudah mulai menegang, ketika itu pula satu hal kecil dapat memantik kobaran api sedemikian besar. Membakar rumah dan isinya lantas menghilang tanpa kata.

Kehilanganmu seperti membunuh diriku. Terdiam dalam bisu tanpa kata dan tawa. Pikiranku hanya bisa menerawang tak jelas… dan tiba-tiba saja aku ingin berlari.

Suara kecil itu bertanya padaku, hanya jawab yang tak menentu bisa kukatakan. Kasihan dirimu Nak…

Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan Bapakmu ini.

Terdiam bersamamu

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Tangis kecil itu meraung saat ia berada dalam dekapan ibunya, entah apa yang terjadi. Aku datangi dengan sejuta tanya yang ada hanyalah dua tangan kecil yang berusaha meraihku. Ada apa Nak ?

Suara lain terdengar jauh lebih keras, kali ini dengan nada bentak, aku jadi semakin bertanya.

Tangis kecil mulai mereda, yang ada hanyalah sesegukan dan rasa takut setiap kali ia memandangmu. Kuputuskan untuk menjauh dan mulai bercanda. Tapi bentakan itu tak jua mereda.

Satu hal kecil yang memantik kobaran api begitu besar… dan tinggalkan aku terdiam bersamamu disudut jalan hanya bisa memandang lalu lalang orang tak menentu…

Sebuah Cermin dari Anang Krisdayanti

14

Category : Cinta

Siapapun tak akan mengira cerita perceraian akhirnya menghinggapi sepasang insan yang terlihat begitu mesra dan serasi Anang dan Krisdayanti, demikian pula halnya saya.

Anang Krisdayanti, jujur saja menjadi sebuah inspirasi hubungan kami, saya dengan Istri sejak kami memutuskan untuk melanjutkan kehidupan bersama ke jenjang pernikahan, bahkan sebaris kata-kata yang teruntai dalam salah satu tembang Cinta mereka, kami cantumkan dalam kartu undangan pernikahan kami tahun 2005 lalu. Sungguh, saya pribadi tak menyangka bahwa hal yang saya perkirakan jauh hari sebelumnya terjadi juga.

Melihat perjalanan Anang Krisdayanti, saya jadi terngiang dengan cerita, impian dan harapan seorang adik perempuan masih sepupu saya, yang kini entah ada dimana. Bahwa setiap wanita pasti ingin selalu “dimengerti”. Bahwa mereka tetap ingin terlihat cantik dan sempurna. Bahwa didasar hatinya mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari kemampuan yang mereka miliki. Sehingga seorang laki-laki diwajibkan untuk mampu memberikan serta mengabulkan “pengertian” yang mereka dambakan, jika tidak, masih banyak laki-laki lain yang bisa melakukannya…

Hingga hari ini saya masih tercenung akan kata-katanya itu… khawatir bahwa perempuan yang saya pilih akan memiliki atau bermaksud dengan hal yang sama dengan pemikiran tersebut… apakah kelak saya mampu memenuhinya ? bagaimana jika tidak ?

Membaca perpisahan mereka memang sudah sejak lama saya menyadari itu. Apalagi Krisdayanti adalah seorang Diva papan atas di dunia entertaiment, namun siapakah yang berada dibalik ketenaran dan keindahan seorang Krisdayanti selama ini jika bukan Anang sebagai seorang suami yang begitu mencintai Istrinya ? Seseorang yang begitu bertalenta mengembangkan kemampuan Krisdayanti sedari bawah, dan kini setelah berada di atas, semua itu seakan terlupakan…

Anang KD

Come On siapa pula yang peduli dengan cerita lalu ? hasut seorang kawan saya saat menyaksikan pasangan ini di layar televisi. ‘Uang adalah segalanya, dengan Uang kita bisa membeli bahkan memiliki apa yang kita inginkan, dan itu tidak dimiliki oleh seorang Anang… Uang adalah Dewa yang mampu mengubah pikiran dan kesetiaan kita menjadi kesesatan… dan sekali lagi, Anang barangkali tidak pernah memiliki hal itu…’

Damn ! untuk saat ini kata-kata itu benar adanya, bahkan dijaman teknologi informasi sedang berkembang pesat, orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan gaya hidupnya, masih ingat dengan remaja Jepang yang rela menjual diri hanya demi sebuah ‘Tamagotchi’ atau remaja kita dalam kisah ‘Virgin’ ? Bisa jadi ini yang menjadi inti dari sebuah kisah Anang Krisdayanti dan patut kita jadikan cermin dalam kehidupan rumah tangga sendiri…

Sedemikian piciknya pemikiran akan sebuah ikatan pernikahan itu ?

Tahun KeTiga

6

Category : Cinta

Dear Cinta, gak banyak yang bisa aku ungkapkan hari ini. Berhubung kondisi kesehatanku yang kurang mendukung. Begitu pula kesibukan kita masing-masing yang gak memungkinkan terciptanya suasana mesra seperti yang pernah kita harapkan sebelumnya. Walau begitu, aku yakin kau kan tetap selalu setia menantikan waktu dimana kita bisa saling bicara, disela celoteh putri kita yang kian lucu dan menggemaskan.

Hari ini adalah spesial bagi kita berdua. Karena hari ini tiga tahun lalu, menurut agama yang kita anut, men-sah-kan hubungan yang telah dibina dengan penuh kasih. Karena hari ini tiga tahun lalu, kita akhirnya merasakan jua apa yang orang-orang nantikan dalam hidupnya. Bersatunya dua insan dalam ikatan cinta pernikahan.

Aku tahu tak banyak yang bisa aku berikan padamu tiga tahun ini. Tapi aku yakin bahwa kau akan selalu mengerti bahwa Cinta tak selamanya berupa Materi. Cinta itu ada karena kita inginkan. Cinta itu ada karena kita memang berharap banyak padanya. Cinta itu ada dalam diri Putri kita.

Dear Cinta, hari ini Tahun keTiga Pernikahan kita.

”Kita Begitu Berbeda dalam Semua, Kecuali Dalam Cinta”

> PanDe Baik mengutip kalimat terakhir dari GIE yang sempat tampil pula pada kartu undangan pernikahan kami tiga tahun lalu. Kali ini tanpa iringan lantunan musik, hanya rintik air hujan yang turun sambil menunggu Istri pulang kerja di sore hari yang mendung. Akhirnya membatalkan kuliah lantaran kondisi kesehatan yang tak kunjung membaik. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar