#HPjadul China Multi Media Murah Meriah

Category : tentang TeKnoLoGi

Sebelum demam Android dan iPhone menyerang pasar Indonesia, ponsel China pernah booming dengan penawaran fitur dukungan tayangan sejumlah TV Lokal. Hal ini sempat menggoyahkan iman sebagian besar pengguna yang mulai bosan dengan harga ponsel yang selangit namun tidak mampu memanfaatkan fitur-fitur yang ada secara maksimal.

Ciri khas ponsel jadul China jaman old adalah layar yang cukup besar dengan kemampuan sentuh untuk ukuran layar ponsel saat itu, dan fitur televisi lengkap dengan antenna panjang yang disematkan pada badan ponsel atau dibekalinya tombol khusus untuk akses cepat ke fitur sebagai pemanis.
Yang lebih unik lagi, sekaligus pembeda antara ponsel China dengan Branded jaman itu adalah susunan keypadnya yang berpola 4×3. Dimana posisi tombol angka ‘0’ tidak berada di sisi bawah tombol angka ‘8’ laiknya standar ponsel lainnya, namun berada di sebelah kanan tombol angka ‘6’.

Ada banyak vendor yang mencoba masuk pangsa pasar ponsel jadul China dengan fitur jualan tayangan televisi ini. Termasuk fitur Multi Media lainnya seperti Radio yang tidak lagi harus mengandalkan headset, video, musik mp3 atau perekaman suara. Semua bisa didapat dengan harga yang Murah Meriah, mudah dijangkau oleh kantong pengguna pemula sekalipun.

Sayangnya untuk kualitas dan ketahanan ponsel memang tidak bisa disandingkan dengan yang versi Branded macam Nokia yang saat itu telah menjadi raja di puncak penjualan. Yang mengakibatkan tergerusnya banyak nama akibat tidak mampu bertahan pasca serbuan iPhone dan Android yang merangsek pasar tanpa ampun.

#HPjadul #china #tivi #televisi #lokal

#HPjadul Venera V1 QWERTY Lokal Rasa Blackberry

Category : tentang TeKnoLoGi

Dalam setiap masa keemasan suatu produk yang booming di tanah air, selalu saja ada versi KW atau tiruan, dirilis oleh sejumlah pengusaha lokal tentu dengan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau meski harus mengabaikan soal kemampuan dan fungsionalitas yang bisa dilakukan.
Termasuk era ponsel BlackBerry.

BlackBerry mulai dikenal di pasar ponsel Indonesia, setidaknya saat seri Bold 9000 dirilis pada tahun 2008 silam. Saat itu, ada sejumlah fitur yang mulai banyak dilirik sebagai timbal balik harga jualnya yang cukup selangit. Dari bentukannya yang bulky gegara deretan keypad qwerty dengan tingkat kenyamanan extra leluasa, push email yang realtime dan gegas, BlackBerry Messenger yang mampu mengumpulkan sejumlah kawan dalam satu ruang chat, hingga TrackBall atau tombol gulir yang dikenal jauh lebih lincah dalam operasional ponsel ketimbang keypad 5 arah yang saat itu sudah terlanjur tenar lewat ponsel konvensional.

Keunikan-keunikan inilah yang kemudian rata-rata ditiru dalam setiap desain ponsel lokal rilisan jaman itu. Baik bentukan bodi dan layar yang melebar, pula keypad qwerty yang seabrek. Bahkan ada juga yang ikut menyematkan tombol gulir bahkan meniru plek desain beberapa ponsel seri BlackBerry lainnya. Salah satunya ya #HPjadul Venera Voyager V1 ini.
Fitur-fitur yang ditawarkan cukup lengkap untuk ukuran ponsel yang berbasis Java. Dari ketersediaan memory internal yang cukup lega, dukungan slot memory tambahan untuk penyimpanan musik dan video, juga browser opera mini untuk berselancar nyaman.

Ada banyak vendor yang ikut serta menjajal pangsa pasar ponsel qwerty semacam ini. Seperti Nexian, Imo, Mito atau Cross.

#HPjadul #lokal #china #blackberry #qwerty

Pembunuhan Massal Ponsel China

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Di penghujung akhir tahun 2010, tampaknya puluhan ponsel China mulai tak tahan dengan gempuran ponsel murah ala brand ternama Nokia, LG, Samsung bahkan Sony Ericsson. Maka itu, mereka beramai-ramai menurunkan harga jual ponsel, meskipun yang namanya inovasi tetap mereka lakukan.

Kisaran harga 500ribu untuk sebuah ponsel dengan fitur menawan, tak lagi hanya menjadi sebuah mimpi. Maka berterimakasihlah pada ponsel China. Kendati kualitasnya masih diragukan, bukankah jauh lebih menarik apabila sedari awal sebagai konsumen sudah harus menyadari hal tersebut ketimbang mengeluh di belakang hari ?

Anggaplah kita membeli sebuah mp3 player atau televisi berbonus ponsel dan juga memori dengan harga yang terjangkau. Untuk penggunaan selama setahun saja, itu sudah untung. Apalagi kalo sampe memiliki fitur internet dan kamera. Nilai tambah yang lumayan bukan ?

Sayangnya dibalik penurunan harga tersebut, sepertinya akan ada skenario pembunuhan massal ponsel China oleh brand ternama yang saya sebutkan diatas tadi.

Pertama Nokia. Mereka kini sudah mulai mampu merilis ponsel murah dengan beberapa fitur yang menawan seperti keyboard QWERTY, layar lega, memori eksternal, kamera 2MP dan juga koneksi Wifi. Semua itu ada pada seri C3 yang mereka rilis pertengahan tahun 2010 lalu. Demikian pula dengan seri C5, seri murah Symbian 3rd Edition, 5233 berlayar sentuh murni atau X3 Touch and Type yang mengawinkan konsep layar sentuh dengan keypad standar. Pun kabarnya dalam waktu dekat, Nokia bakalan merilis seri X2-01, QWERTY paling murah mereka yang bakalan dijual dibawah harga 1 juta rupiah.

Kedua ada LG. Untuk pangsa pasar murahnya, LG sudah merilis seri layar sentuh berbasis jejaring sosial, Cookies Series. Ponsel yang dibanderol pada harga satu juta rupiah ini, tentu saja sangat menggoda untuk dimiliki mengingat input layar sentuhnya yang murni tanpa bantuan keypad dan juga akses ke berbagai jejaring sosialnya yang mudah. Disamping itu, ada juga seri QWERTY murah GW300, GW305, dan juga Wink yang rata-rata berada pada kisaran harga 600ribu hingga 900ribuan saja.

Ketiga ada Samsung. Sejak awal, Samsung memang dikenal rajin merilis seri ponsel murah dengan beragam fitur menawan. Kendati terkadang yang namanya Menu User Friendly jarang bisa ditemukan yang senyaman Nokia. Di pangsa pasar ini, Corby tampaknya masih tetap menjadi idola, ditambah seri [email protected] 322 yang ditawarkan dengan harga dibawah satu juta, dengan fitur dual Sim. Menarik bukan ? bagi yang lebih menyukai keberadaan sistem operasi, ada seri C6625 yang sudah mengadopsi Windows Mobile 6.1 dan terakhir turun pada harga 1,1 juta saja. Demikian halnya dengan versi layar sentuh, selain ada Corby, Champ dan Star Wifi, Samsung kabarnya baru saja merilis seri Genoa dengan jualan TV. Sudah mulai mirip dengan fitur ponsel China bukan ?

Terakhir ada Sony Ericsson. Setelah lelah berjuang dengan Symbian UIQ yang setia mereka gunakan hingga penghujung tahun 2007 lalu, kini mereka mulai melirik sistem operasi Android yang dikenal dengan open sourcenya. Adalah seri X8, ponsel layar sentuh dengan suntikan Anroid 1.6 mengekor keberhasilan seri X10, X10 Mini dan X10 Mini Pro, ponsel berkelir putih ini kabarnya dibanderol sekitar harga 1,8 juta saja. Saking murahnya harga jual ditambah minimnya persediaan, banderol ini sempat naik hingga angka 2,2 juta. Sedangkan di kisaran harga satu jutaan ada seri Walkman Zylo dan Spiro, plus seri bisnis J108 Cedar, ponsel dengan jaringan HSDPA ini cukup ditebus dengan harga 800ribuan.

Gempuran empat brand ternama dengan seri ponsel murah mereka, sejauh ini sudah cukup membuat barisan ponsel China menurunkan harga jual mereka pada kisaran harga 300ribu hingga 500ribuan saja. Satu tawaran menarik, mengingat tidak hanya dua sim, namun ada juga yang mendukung tiga sim card (gsm-gsm-cdma), tv analog, mp3 player dan tentu saja internet.

Kira-kira apakah mereka masih bisa bertahan disepanjang tahun 2011 ini gag ya ?

Saatnya Berburu Ponsel Branded

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Melewati ruas jalan Teuku Umar Denpasar sabtu malam lalu, mata menangkap antusiasme pengunjung di beberapa konter kecil penjualan ponsel hingga sekelas Cellular City, BTC atau Handphone Shop. Saat kami kembali melewati ruas jalan yang sama 2 jam sesudahnya tampak pengunjung makin menyemut dan kendaraan yang mereka parkirkan disekitar lokasi sempat membuat kemacetan kecil saking banyaknya.

Tahun 2010 ini yang namanya ponsel QWERTY nampaknya masih menjadi trend di kalangan masyarakat. Serbuan brand lokal maupun China tampaknya mulai menggusur pasar beberapa merk branded yang dua tiga tahun lalu masih berkibar dengan kencangnya. Lambat laun brand sekelas Motorola bahkan Sony Ericsson harus mengakui bahwa kebutuhan pasar telah beralih begitu jauh hingga kedua brand tersebut tampaknya tidak mampu mengikuti pemasaran dalam rentang harga yang dikuasai sang lawan.

Maraknya pasar yang hampir dipenuhi ponsel bertipe QWERTY merupakan salah satu efek dari booming penggunaan jejaring sosial pertemanan di dunia maya FaceBook dan juga histeria pasar dalam menanggapi layanan BlackBerry yang lebih terfokus pada fitur Messaging dan Messenger. Beberapa brand lokal bahkan sudah mulai menawarkan fitur serupa (FaceBook dan Messenger) yang mampu digunakan dengan baik antar pemilik brand yang sama.

Poin Utama yang menjadi pertimbangan utama masyarakat lebih menyasar ponsel dari brand lokal ataupun China ketimbang branded adalah soal harga. Dengan kisaran 500ribuan hingga satu juta mereka siap menggelontor pasar dengan ponsel berfitur terkini (TV Tuner, kamera megapixel, java, multi tasking hingga koneksi wifi) kendati secara kualitas masih kalah jauh dibanding merk branded. Tapi siapa yang peduli ? Saya yakin setiap orang yang memutuskan untuk memilih ponsel brand lokal atau China ketimbang branded pasti sudah menyadari soal kualitas fitur maupun ponsel yang akan dibeli. Maka tidak salah jika umur ponsel tidak terlalu diharapkan mampu bertahan selama ponsel branded umumnya.

Pangsa pasar yang terlanjur diambil dan pelan mulai dikuasai membuat ponsel yang dirilis oleh merk branded secara perlahan mulai menurun hingga kisaran harga yang sudah terjangkau oleh kantong. Bandingkan dengan harga awal yang mereka rilis dahulu. Sudah jauh dari bayangan.

Bagi yang jeli dengan soal kualitas diatas tidak ada salahnya mengumpulkan pundi-pundi anggaran sedikit lebih tinggi dari standar harga ponsel brand lokal atau China. Mumpung sudah mulai terjangkau sepertinya kini saatnya untuk berburu ponsel branded.

Mau tahu apa saja pilihannya ? tunggu tulisan saya selanjutnya.

5 alasan Mengapa Tidak Membeli Ponsel China

14

Category : tentang TeKnoLoGi

Masih menyambung tulisan saya sebelumnya tentang 5 (lima) alasan mengapa pantas membeli ponsel China, kali ini sebagai pelengkap pertimbangan sebelum memutuskan untuk benar-benar membeli ponsel China, saya menurunkan tulisan tentang 5 (lima) alasan mengapa tidak membeli ponsel China. Silahkan simak berikut ini :
China 2
1. Kamera kerap tidak sesuai spec
Alasan pertama ini ditujukan bagi mereka yang menjadikan fitur kamera sebagai bahan pertimbangan setelah keberadaan TV Analog. Sudah bukan rahasia lagi kalo resolusi kamera yang tercatat pada dus box luar, seringkali tidak sesuai dengan kenyataannya. Ini

Padahal jelas-jelas tertera baik di dus box luar dan bodi belakang ponsel, resolusi kamera yang dibekali adalah 2 megapixel. Dalam kenyataannya hanya VGA alias 0,3 megapixel. Bagaimana gak kecewa, kata seorang teman. Beberapa lainnya malahan ngedumel gak jelas dan memilih mengembalikan ponsel yang baru dibelinya itu kepada sang penjual. Sekarang aja diboongin, apalagi nanti, ujar mereka. He…

2. Fitur Internet kurang memadai
Belakangan setelah demam BLackBerry melanda, memang ada beberapa seri ponsel yang sudah mengadopsi fitur internet sehingga mampu mengakses Facebook hingga membaca aplikasi Java seperti eBuddy. Sayangnya ini tidak berlaku bagi ponsel-ponsel yang beredar sebelum demam BLackBerry dimulai. Pun begitu belum semua ponsel China rilisan terkini mampu memberikan pengalaman yang sama.

Sekalipun ponsel bisa terkoneksi dengan internet, ada berbagai macam permasalahan yang kerap terjadi diantaranya koneksi yang putus nyambung, browser bawaan selalu terhubung dengan area China (sekalipun sudah mengakses google.co.id tetep aja yang nampak adalah bahasa China), atau format akses masih berupa WAP alias full text. Jelas mengganggu saat akan mengakses halaman seperti Facebook misalnya. Selain huruf yang tampak besar, penampilan icon submit ya gak ada bedanya dengan huruf teks biasa.

3. Layar Sentuh kurang responsif
Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, jangan pernah membandingkan fitur dan kemampuan yang dimiliki oleh ponsel China dengan brand papan atas yang memiliki fitur dan kemampuan yang sama.

Teknologi Input Layar Sentuh misalnya. Saya bahkan sampe geregetan dan jadi gag enak hati kalo sampe kliatan menekan layar sentuh pada beberapa ponsel China yang dimiliki oleh teman-teman, lantaran saat disentuh dengan lembut ya gak ada reaksinya sama sekali. He…

4. Keypad keras dan tak biasa
Seperti kata seorang teman, ada harga ada kualitas. Demikian pula dengan media input keypad konvensional yang disediakan. Gak semua ponsel China memiliki tuts keypad selembut milik brand papan atas. Jelas sangat mengganggu, saat digunakan untuk mengetikkan pesan SmS misalnya.

Belum lagi pola grid yang dimiliki oleh rata-rata ponsel China yang gak sekonvensional ponsel jadul. Artinya kurang lebih, membutuhkan banyak pengalaman dan pembiasaan perilaku untuk dapat mengakses tombol *, 0 dan # yang berada pada barisan paling kanan.

5. Layanan Purna Jual
Alasan terakhir merupakan alasan paling lumrah. Mengingat pertumbuhan brand ponsel China bak jamur di musim penghujan, gak semua brand ponsel tersebut memiliki layanan purna jual atau yang disebut dengan Service Centre.

Walopun belum separah yang dialami RIM sebagai produsen BLackBerry, mengingat isi dan jeroan dari berbagai jenis ponsel China ini kurang lebih sama, maka untuk kerusakan atau keluhan ya bisa saja diserahkan ke layanan purna jual brand lain. Tentu saja dengan menambahkan biaya extra, lantaran bukan produk milik mereka. He…

Oke deh, segitu dulu masukan dari saya, Semoga saja apa yang saya sampaikan dalam empat tulisan terakhir bisa berguna. Salam dari Pusat Kota DenPasar.

5 alasan Mengapa Pantas Membeli Ponsel China

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Masih menyambung tulisan saya sebelumnya tentang serbuan ponsel ber-keypad QWERTY dalam rangka meramaikan pangsa ponsel yang ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’, ternyata hasil perburuan saya tersebut lebih didominasi oleh kehadiran ponsel China ketimbang brand yang sudah mapan.

Bisa dimaklumi, lantaran keberadaan ponsel China lebih banyak mendompleng (baca:plagiat) keberadaan brand ponsel papan atas terutama dari segi desain perwajahannya. Berbanding terbalik dengan fitur dan kemampuan yang ditawarkan. Walo begitu tetap saja brand ponsel China tetap disukai oleh pengguna ponsel tanah ar. Hmm… Kenapa yah ?

Seakan mencoba menjawab pertanyaan tersebut, kali ini saya ingin memberikan 5 (lima) alasan, mengapa pantas untuk membeli Ponsel China. Silahkan simak berikut ini :
China 1
1. Harga Murah
Bagi sebagian besar pengguna ponsel ditanah air bisa jadi aspek value menjadi dasar pertimbangan pertama sebelum memutuskan untuk membeli atau mengganti ponsel yang dimiliki saat ini dengan ponsel terkini. Termasuk saya salah satunya. Hwahahaha….

Ponsel China dikenal dengan harganya yang murah. Apabila dibandingkan dengan brand ponsel papan atas seperti Nokia atau Sony Ericsson pada jenjang harga yang sama, bisa jadi fitur yang ditawarkan oleh brand ponsel China jauh lebih oke. Tentu saja jangan menyamakan kualitasnya dengan ponsel brand papan atas yang memiliki fitur yang sama.

2. Desain Menawan
Siapa yang gag pengen dipandang sedkit berkelas oleh tetangga sebelah baik saat nongkrong maupun bergaul. He… Bukan rahasia lagi kalo brand ponsel China rata-rata mengadopsi perwajahan terinspirasi (lagi-lagi baca: Plagiat) dari desain ponsel papan atas macam Nokia hingga iPhone dan BLackBerry.

Tapi, siapa yang kuat kalo musti ditebus dengan tabungan gaji setaun ? Jadi berterimakasihlah pada brand ponsel China yang mampu mencontek desain briliant ternama dan cukup ditukar dengan uang gaji sebulanan. He…

Dari sekian banyak brand ponsel China yang ada barangkali hanya brand IMO yang mampu meniru desain brand papan atas secara sempurna. Katakanlah IMO B9000 yang plek banget dengan seri BLackBerry BoLD atau IMO G910 yang plek dengan Nokia E71. IMO G9 yang nyaris serupa dengan Nokia Communicator E90, IMO TV500 yang mencontek habis desain Nokia E51 dan IMO L600 serupa tak sama dengan Nokia E66 terbaru…

3. Layar Sentuh
Sekitar tiga sampai empat lalu yang namanya ponsel masih jarang mengadopsi layar sentuh sebagai media input, selain keypad konvensional yang telah tersedia. Teknologi layar sentuh lebih banyak digunakan oleh PDA (Personal Digital Assistant) yang identik dengan ponsel hign-end dengan harga mahal.

Sebaliknya kini dengan kisaran harga 1-2 juta, yang namanya teknologi layar sentuh sudah dapat dinikmati oleh sebagian besar pengguna ponsel ditanah air. Apalagi kalo teknologi tersebut didukung oleh desain wajah ponsel yang tak kalah menarik. He…

4. TV Analog
Ponsel China itu nyaris identik dengan ponsel TV. Inilah rata-rata alasan utama mengapa para pengguna ponsel ditanah air kepincut untuk ikut-ikutan memiliki, setelah barangkali diperlihatkan oleh rekan lain saat berada di area minim listrik dan tak memungkinkan untuk membawa dan menonton televisi segede gajah. Katakanlah di tengah sawah misalnya. Hehehe…

Ada juga yang lebih memilih membeli ponsel TV ketimbang ponsel mewah, padahal jelas mereka mampu untuk memilikinya. Alasannya sederhana, biar bisa nonton GP seandainya berada dalam suasana rapat warga. Hehehe…

5. Brand yang beragam
Bisa dikatakan serbuan brand ponsel China ditanah air bagaikan jamur yang tumbuh silih berganti. Begitu yang satu rontok, yang lainpun bermunculan. Pernah denger brand ‘ToCall’ ? He… itu brand terakhir yang terdaftar loh…

Fenomena ini mirip dengan serbuan motor China beberapa tahun lalu. Padahal isi dan jeroannya gak jauh beda, tapi brand yang mengusungnya beragam. Masing-masing punya trik untuk menggaet pelanggannya. Dari yang rame digunakan ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’ hingga ke ponsel ‘bling-bling’ untuk menyebutkan rilis ponsel full lampu hias disekujur bodi ponsel.

Demi mendapatkan pelanggan loyalpun antar brand malah saling berlomba untuk menawarkan harga rendah pada produk mereka.

Ngomong-ngomong soal brand ponsel China, kalo yang diatas tadi itu adalah 5 (lima) alasan mengapa pantas untuk membeli Ponsel China, simak tulisan saya berikutnya sebelum benar-benar memiliki keyakinan untuk memiliki ponsel China. He…

Compare antar Ponsel China

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Makin tingginya minat rekan-rekan kantor untuk memiliki ponsel multifungsi merek China, yang ditawarkan dengan harga yang murah dan bersaing, lebih banyak mempertimbangkan fitur yang tersedia dibanding jaminan kualitas produk itu sendiri.

Dengan harga rata-rata dibawah angka 2 jutaan, sudah bisa memiliki alat komunikasi canggih yang bisa menampung dua nomor beda jaringan gsm-cdma dan aktif bersamaan, satu pertimbangan utama bagi mereka yang bosan dan kerepotan harus membawa dua ponsel setiap saat.

Belum lagi fitur lain yang ditawarkan rata-rata melebihi fitur yang dimiliki oleh ponsel branded dalam rentang harga yang sama. Katakanlah televisi analog (tanpa pulsa), layar sentuh nan lebar, musik player dengan speaker yang jernih pada rentang volume tertentu, 2 buah kamera -dimana kamera depan bukanlah berfungsi sebagai video call layaknya ponsel 3G atau malahan buat foto diri bagi yang narzis, tapi hanya sebatas kamera tambahan yang digunakan sebagai web cam saat disambungkan dengan PC via kabel datanya.

Ngomong-ngomong kamera, rata-rata besaran yang disematkan adalah sekelas 1,3 MP namun hasil jepretannya setara kualitas kamera VGA dari ponsel branded, macam Nokia misalnya. Hanya saja yang paling menarik diungkap adalah hasil yang nyaris blur, rupanya sama antara satu ponsel dengan lainnya. Kebetulan ponsel teve yang penulis dapatkan dari GStar kmaren dan merk D-One.

compare.jpg

Secara default, pengaturan dimensi kamera ponsel China di-set dalam ukuran QVGA (320×240 pixel) yang tentunya harus diatur lagi saat ingin menggunakan besaran paling maksi. Yang patut diingat ya kamera kedua pada ponsel tadi (diatas layar depan), tidak dapat digunakan sebagai foto diri ataupun video call. Jadi pengaturan kamera depan ini takkan ditemukan dalam pengaturan Kamera manapun. Kamera depan bakalan terpakai apabila kabel data terpasang pada handset ke pc setelah diset sebagai Web cam. jadi fungsinya ya cuman satu itu dengan resolusi Cif.

Tapi memang bukan hanya hasil kameranya yang sama, tapi juga tampilan menu dan aksesnya pun tak jauh beda. Mirip-mirip MP4 Player. Termasuk satu kesulitan saat menetapkan satu file musik (format mp3) sebagai nada dering panggilan, yang harus di-set terlebih dahulu pada musik playernya, baru diubah lagi via Profil.

Hanya saja dengan keterbatasan jumlah nada yang bisa ditampung dalam Profil (ini biasanya terjadi pada ponsel Nokia angkatan jadul layar item putih), pengaturan dari musik player tadi bisa saja gagal dilakukan, jika keterbatasan tadi mencapai jumlah maksimum. Jadi musti dilakukan pergantian dahulu baru bisa di-set sebagai nada panggil. Ribet banget !

Ada Dual On tapi Tetap Setia pada Nokia

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Ditengah maraknya rilis baru ponsel produksi China yang tentunya menawarkan beragam fitur canggih masa kini dalam balutan desain yang mirip ponsel ternama, namun dapat dimiliki dengan harga jauh lebih murah. Apalagi ada juga yang meringkas dua jaringan frekuensi gsm-cdma dalam satu ponsel. Bagaimana gak tertarik tuh ?

Tapi biarpun begitu gencarnya promo masing-masing merek yang berbeda dalam tiap skala waktunya, penulis tetap saja setia pada satu brand ponsel yang sedari awal selalu menemani, yaitu Nokia.

Terakhir ini, untuk jaringan gsm dipakai oleh Istri yang menyayangkan mengganti nomor cantiknya dengan cdma, termuat dalam handset Nokia seri N73 Black. Sedangkan penulis sendiri, masih make satu jaringan cdma saja, termuat dalam ponsel seri 6275i.

nokia-still.jpg

Lantas apa yang membuat kesetiaan itu tidak luntur termakan promo murahnya ponsel China ?

Paling pertama tentu Faktor ketahanan. Nokia dikenal bandel, kalopun jatuh tak sengaja dari meja atau gengaman, tu ponsel dijamin masih awet dipakai, apalagi kalo sudah disematkan pelindung kuliat maupun mika. Tapi jangan dengan sengaja dilempar ke tembok atau dilindas motor ya.

Kedua tentu dari layanan purna jual ataupun service diluar dealer resmi. Biasanya sih jauh lebih ringan lantaran baik sistem yang digunakan sudah jauh familiar, spare partnya pun dijamin gak bakalan susah nyarinya.

Ketiga ya Harga Jual kembali. Biasanya harga nawarnya gak jauh dengan yang ditetapkan oleh majalah dan tabloid ponsel, atau hanya beda dikit dengan harga baru.

Keempat tentu kemudahan pengoperasian, pemakaian dan pairing untuk keselamatan data. Jadi baik daftar nomer telepon, hingga ke lain-lainnya masih bisa tercover dan disinkronisasi tiap waktu dengan mudah dan cepat.

Kelima tentu, sangat jarang terjadi komplain atau kekecewaan dari konsumennya, dan kalopun ada itu tak sampai mengganggu penjualan seri yang sama maupun seri lainnya. Terbukti hingga kini ponsel brand Nokia masih didapuk sebagai brand terlaris paling gak di negeri ini.

Oya, yang terakhir ato keenam (angka keberuntungan penulis), lantaran bandel dan masih bagusnya kondisi ponsel yang dipakai selama jangka lama, tak jarang pula para pemilik ponsel lebih memilih menyimpan ponselnya dibandingkan untuk  dijual, tujuannya tentu berjaga-jaga seandainya ponsel baru nanti ada apa-apa, jadi masalah komunikasi bisa make tipe yang dahulu lagi. J

Menjajal ponsel Dual On GStar

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Berkesempatan memegang dan menjajal sebuah ponsel China -mereknya kalo ndak salah Gstar- baru gres milik seorang rekan kantor yang akhir-akhir ini terjangkiti demam gadget. Kabarnya untuk mendapatkan ponsel seharga 2 jutaan ini, ia sampe menjual 2 buah ponsel gsm-cdma merk Nokia-nya, dengan harga satu juta pas.

Fiturnya seperti biasa, sistem Dual On ato dikenal juga sebagai Dual Mode, dimana dua jaringan gsm-cdma terangkum dan tergunakan dalam satu fisik ponsel. Ringkas ? jelas…

ponsel-china.jpg

Dari segi desain, yang mencolok tentu keypad navigasinya yang kalo ditutup sebagian pada keypad numeriknya, mirip banget dengan Nokia seri N95, terutama layar lebarnya itu loh. Hanya saja, untuk numeriknya gak beda jauh dengan ponsel produksi China lainnya, yaitu penempatan * 0 # ada disisi kanan angka atau terbagi atas grid 4×3. Diperlukan pembiasaan pemakaian bagi mereka yang dahulunya pemakai setia Nokia.

Yang ia paling senangi ternyata fitur layar sentuhnya (minimal menyamai pda T-Mobile milik penulis terdahulu), walopun agak sedikit kecewa lantaran gak mampu untuk menampilkan Google Earth pada layar ponselnya. Namun sedikit terhibur akan fitur televisi tanpa beban pulsa yang lumayan nangkep jaringan beberapa saluran teve lokal. Sangat pas dipake survey ke daerah sawah he… bisa nonton teve ditengah sawah, tanpa asupan listrik-.

Saat ditelisik, nyatanya dari segi menu yang ditawarkan gak jauh beda dengan ponsel produksi China, beda merek. Kalo pernah punya MP4 Player, dapat dipastikan bakalan familiar dengan tampilannya yang memang mengadopsi menu tersebut. Namun bagi mereka yang familiar dengan menu ponsel Nokia, apalagi yan ber-Symbian, dijamin bakal kelimpungan dengan penempatan fitur yang ditawarkan ‘tidak ada tempatnya’.

Seperti fitur Bluetooth, ditempatkan pada folder Hiburan pada Nokia sih biasanya pada Setting/Pengaturan- yang saat diuji pairing dengan ponsel Nokia maupun Laptop, ada beberapa gangguan yang menyebabkan tak terdeteksinya fitur gigi biru si ponsel China, yang kalaupun bisa, dijamin gagal dalam pengiriman file audio mp3 misalnya- maupun lainnya. Gak tau kenapa.

Fitur kameranya ya jangan berharap banyak. Disandingkan dengan hasil jepretan Nokia cdma seri 6275i, jelas saja kalah jauh, walopun si Nokia blom mengadopsi autofokus.

Ohya, untuk bagian Menu-nya sendiri, penulis jadi teringat pada menu yang ditawarkan oleh brand Samsung, terutama untuk melihat file-file yang ada didalamnya, bukan lewat galeri, namun melalui Pengatur File.

Keribetan lainnya dapat dilihat lewat Pemutar Video, yang gak mampu membaca file video yang berada di dua tempat sekaligus ponsel dan kartu memori- sehingga diperlukan pemilihan lagi, memori mana yang akan dipakai.

Entah kebetulan atau tidak, panggilan masuk yang diterima, dibatasi dengan waktu sekitar 2 menit, langsung putus. Namun saat dilihat pada menu Pengaturan Panggilan, dimana ada satu pilihan Pembatasan Panggilan, tak mampu me-non aktifkan pembatasan tersebut, sehingga bagi yang memilikinya harus rela dihubungi atau menghubungi rekannya setiap 2 menit. Capeee deeeeh…