Jalan Munduk Catu, Tuntut Pengaspalan Abaikan Persoalan Tanah

Category : tentang PeKerJaan

Sebetulnya sama sekali nggak menyangka bakalan bisa main ke ruas jalan, yang tempo hari jadi perdebatan di media sosial FaceBook, group Suara Badung lantaran hingga kini belum jua diperbaiki atau ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Badung, padahal memiliki PAD yang cukup besar.

Jalan Munduk Catu.
Dilihat dari namanya, kelihatan banget kalo ruas jalan ini ada kaitan dengan fungsi lahan disekitarnya yang kini sudah beralih fungsi menjadi permukiman.
Sawah.
Entah awalnya apakah ini merupakan akses menuju lahan sawah masyarakat dengan lebar terbatas yang diperbesar seiring tambahan fungsi selain sawah oleh masyarakat sekitar ? Siapa yang tahu ?

Akan tetapi ketika bicara kewilayahan, memang akan amat sangat mengundang pertanyaan, mengapa hingga kini jalan yang kondisinya sudah bergelombang dan becek saat musim penghujan tiba ternyata belum diapa-apakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung ?

Rupanya yang menjadi alasan utama adalah persoalan status tanah masyarakat yang diperlebar tanpa adanya pemberian ganti rugi. Ya jelas lah, kalo kemudian jalan Munduk Catu hingga kini belum diAspal Hotmix sebagaimana ruas jalan lain disekitarnya.
Kalaupun kemudian nekat ditangani, kemungkinan besar bakalan menjadi persoalan hukum di kemudian hari.
Gak elok kan kalo Pemerintah Kabupaten sampai digugat oleh masyarakatnya sendiri ?

Canggu, Surga Villa dan peSurfing Mancanegara

2

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Hari masih pagi saat kaki ini melangkah cepat mengikuti irama musik yang didengar melalui earset bluetooth. Melanjutkan agenda rutin olahraga harian, meski kini berada jauh dari rumah. Tetap berupaya menjaga kesehatan, agar kesehatan tetap prima adanya.

Satu persatu bangunan mentereng dilewati. Tak tampak kehidupan didalam sana. Sepi tanpa penghuni.
Beberapa iklan tertempel rapi ditembok depan bangunan. Villa dan Villa.
Edan.

Canggu pagi ini, tampak jelas banyak hunian yang mengganggur tanpa orderan. Satu dua diantaranya malah bertuliskan ‘for sale’. Sempat berandai-andai, perkiraan harga yang ditawarkan mengingat lokasi dan megahnya penampilan rasanya bakalan sulit digapai jika melihat trend penurunan harga sewa kamar harian jaman now yang didiskon gila-gilaan. Mending ambil sewa harian ketimbang membeli dan melakukan pemeliharaan saat sulit begini.

Masuk kilometer ketiga perjalanan, mata menatap lekat tiga remaja yang mendekap papan surfing, berjalan bersama dua rekan dewasa menuju arah pantai. Pantai Canggu tampaknya memang surganya para pecinta ombak. peSurfing mancanegara.
Bahkan diujung jalan tempat kami menginap, ada satu gerai penyewaan papan surfing dalam jumlah besar yang dijaga dua security kelahiran Bali.
Ombak yang besar menantang mereka untuk menikmatinya lebih awal. Tak heran jika perairan hari ini tampak belasan peSurfing sudah berada di tengah pantai dengan aksi mereka yang menantang.

dan saya hanya bisa memandangnya…

Liburan Dadakan di Bulan April

Category : tentang PLeSiran

Gak ada Planning sama sekali, dan sebelum keputusan liburan diambil, saya masih menunggu antrean dokter di Poli RS Bhakti Rahayu. Kontrol Gula Darah.
Edan…

Tujuannya hanya satu.
Liburan ke Canggu.
Rumah Kakek dan Nenek Canggu, plus anak-anak yang masih sebayaan dengan dua bayi kami, Intan dan Ara. Cuma karena terkendala kamar untuk menginap, keputusan untuk mencari tempat untuk tidur malam pun harus diambil secepatnya. Mengingat saat antrean kontrol dilakukan, waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam.

Ecosfera Hotel, merupakan pilihan ketiga kami lantaran biaya menginap per malamnya nyaris sejutaan. Sementara pilihan pertama dan kedua yang ada, opsi Family Room yang menyediakan dua bed, double dan single, yang kami pantau secara langsung by phone, rupanya sudah terisi.
Traveloka musti melakukan pengecekan yang lebih teliti jika mampu terkait ini.

Lokasi ada di pinggir pantai Echo, Batu Mejan, Banjar Canggu. Kurang lebih sekitar tiga sampai lima menitan berjalan kaki dari hotel, kita sudah tiba di gerbang pantai yang dijaga bapak tua dengan segenggam karcis di tangan. Cuma lantaran ombak yang besar, rasanya ndak rekomend untuk area berenang bagi anak-anak.

Liburannya cukup seru, karena anak-anak sejak awal menduga kami bakalan menginap di rumah kakek nenek Canggu. Tapi ketika mengetahui kendaraan parkir didepan area hotel, mereka girangnya bukan main.
Melupakan tangis sedih lantaran meninggalkan kakek nenek Tainsiat nya berdua di rumah.
Ya, sekali-sekali liburan bareng Keluarga Kecil, ndak apa-apa kan ya ?

Termangu akan Nostalgia Masa Lalu

Category : tentang KHayaLan

Hujan turun dengan deras, Diiringi halilintar yang seakan marah tiada habisnya. Menjawab prasangka yang dipikirkan sejak sore tadi.

Ini pertama kalinya selama kurun waktu sembilan tahun yang saya kenal, duduk sendirian diatas sofa bale Bali yang dahulu menjadi saksi bisu pernikahan kami 2005 silam. Pikiran pun menerawang jauh mencoba mengingat semua perubahan fisik yang dialami pada tanah kelahiran istri yang dicintai.

Bale Daja yang dahulu digunakan untuk tempat tidur Mertua dan putri bungsunya, kini telah disulap menjadi jauh lebih tinggi dan megah. Menghapus semua kenangan yang ada, karena wajahnya lebih menyerupai sang arsitek ketimbang pemiliknya. Bangunan yang biasanya selalu dikhawatirkan setiap kali turunnya hujan, kini telah jauh lebih baik dan kokoh.

Begitu pula dengan Bale Dauh yang dahulu ditempati kakak ipar dan istrinya, pun kami yang biasanya secara rutin menginap disini. Disulap menjadi bangunan semi minimalis dengan ketinggian lantai yang sudah pula terangkat jauh dari aslinya. Tidak banyak berubah dari desain awal. Hanya memecah kamar mandi menjadi dua lokasi dan memberikan ruang terbuka pada bagian sisanya.

rps20141216_163304

Soal halaman, sebenarnya saya jauh lebih nyaman dengan penataan awal atau kondisi eksistingnya. Dimana ruang terbuka masih bisa digunakan untuk bermain anak-anak. Kini sudah jauh lebih sempit lantaran adanya pulau taman di tengah-tengah natah juga areal didepan bale.

Satu lagi perubahan yang paling terasa adalah sanggah atau merajan yang ada di posisi kaja kangin, posisinya menjadi paling tinggi diantara semuanya. Dulu saat Istri mepamit, disitulah kami menyembah-Nya memohon jalan terbaik bagi kami berdua dan seluruh keluarga.

BerNostalgia dengan masa lalu, mengingat pahitnya perjuangan mendapatkan restu dari kedua Mertua, karena status saya yang dahulu mendua, dimana feeling memang jauh lebih baik ketimbang fakta yang ada. dan Bersyukur pilihan saya tepat.

Hujan belum jua reda, dan saya masih duduk disini termangu.