PanDe Baik mengucapkan Selamat Tahun Baru Caka 1935

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Selamat menjalankan Brata Penyepian bersama Keluarga…

image

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1934

1

Category : tentang DiRi SenDiri

www.PanDeBaik.com bersama Keluarga mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1934, semoga Bali selalu dalam keadaan Aman, Tentram dan tetap berTolenransi. Mari Jaga Bali bersama-sama baik dari segi kehidupan sosial bermasyarakat maupun selaras terhadap alam. Jangan lupa untuk tetap mentaati Catur Brata Penyepian, dan jika mampu laksanakan Puasa Makan dan Minum selama sehari penuh.
Akhir kata, Selamat menikmati sepinya hari ini dalam hening dan kesucian hati.

Denpasar, 00.01 dini hari, 23 Maret 2012…
www.PanDeBaik.com

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Mengenal Hari Raya Nyepi ; Tahun Baru Caka 1933

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Pagi itu terasa lengang, hari berlalu seakan tak bernafas. Panas terik yang berasa makin menyengat tak pupuskan tawa ceria kami asyik bermain disepanjang jalan.

Nyepi adalah satu-satunya hari yang paling kami nanti saat kecil dulu. Hari dimana kami bisa lepas bermain sejak pagi hingga sandya kala tanpa harus diganggu raungan motor dan laju kencangnya mobil dijalan depan rumah, walau sesekali harus kabur ke segala arah menghindari hardikan para Pecalang yang tampak garang di kejauhan. Malam haripun biasanya kami lalui dengan duduk bersenda gurau dikegelapan tanpa penerangan secuil pun.

Berjalan menyusuri sepanjang jalan Nangka dari ujung Selatan hingga Utara sepertinya tak pernah memberi rasa lelah sedikitpun karena para tetangga selalu siap menyambut kami dengan segelas kopi dan beberapa penganan. Nyepi tidaklah sesepi yang dibayangkan orang.

Hari Raya Nyepi adalah hari  yang dirayakan oleh Umat Hindu setiap kali mereka menyambut Tahun Baru yang disebut pula sebagai Tahun Baru Caka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (kesembilan) yang dipercaya merupakan hari penyucian dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi atau senyap). Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Berbeda dengan perayaan tahun Baru lainnya,  Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Udara Internasional, Rumah Makan, Perhotelan (dalam teorinya namun tidak dalam prakteknya) namun tidak berlaku untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuwana Agung/macrocosmos/alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena pantai  atau danau merupakan sumber air suci (tirta amerta) yang diharapkan dapat menyucikan segala leteh/mala (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang kesembilan), umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (sesajian) menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya ini masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama kesepuluh), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan(tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu,  juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Caka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan kesepuluh). Pada hari ini Tahun Baru Caka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan satu sama lain.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932

6

Category : tentang KeseHaRian

Tak terasa setahun sudah terlewati, tahun dimana begitu banyak hal yang terjadi dan ditumpahkan, baik dalam lingkup keluarga besar hingga personal. Demikian pula halnya dengan Umat Hindu. Setahun penuh dilewati dengan berkarya dan ber-yadnya.

Di tahun baru Caka inilah, umat Hindu dimanapun mereka berada dengan gembira menyambutnya dengan kesunyian alam atau dikenal dengan Hari Raya Nyepi. Satu hari dimana umat Hindu menerapkan empat pantangan yang tak boleh dilakukan. Amati Geni (tidak menyalakan api –termasuk cahaya), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan apapun), Amati Lelungan (tidak bepergian kemana-mana) dan Amati Lelanguan. Kembali pada titik Nol, kata orang. Bisa juga diartikan kembali pada pikiran yang kosong setelah selama setahun dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Nyepi merupakan salah satu hari yang disucikan oleh Umat Hindu,  dimana selama proses Hari Raya Nyepi ini biasanya Umat Hindu melaksanakan Tapa Brata atau berpuasa, dari tingkatan paling rendah 12 jam, 24 jam hingga 36 jam. Tidak makan dan minum dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Agama. Namun jangan salah sangka, tujuannya bukanlah menghapus dosa, namun menenangkan pikiran dan kembali ketitik Nol tadi. Titik dimana Umat Hindu akan memulai hari dengan aktifitas yang semestinya ia laksanakan.

Sayangnya belakangan sebagian Umat Hindu tak lagi mampu melaksanakan kewajibannya tersebut, dan memanfaatkan proses Hari Raya Nyepi untuk mabuk-mabukan, berjudi (maceki) dan saling mengunjungi antar keluarga. Ada juga yang kebablasan memasak dan menyiapkan makanan secara berlebihan atau memborong isi swalayan seakan-akan kehidupan akan terhenti sejak saat itu. Tentu saja harapan saya jangan sampai sejauh itu.

Nyepi saya rasa sama saja dengan hari yang lain, hari yang sama sekali tak patut kita khawatirkan, lain hal apabila ada kerabat yang meninggal atau malah kelahiran anggota keluarga baru. Hari yang sama, kurang lebih begitu. Hanya saja, khusus satu hari ini, kita sebagai umat Manusia kembali berserah pada alam, pada-Nya, pada yang menciptakan seisi bumi ini. Kita sebagai umat manusia diharapkan dapat sedikit merenung akan apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dan berharap esok akan kembali menjadi lebih baik lagi.

Bagi mereka yang mengenal dunia maya, apalagi yang melakukannya hanya sebatas hobby, entah nge-BLoG, tweet atau FaceBook-an, saya rasa bisa saja khusus pada satu hari itu tidak melakukan aktifitasnya, tidak terkoneksi dengan internet, tidak update status atau update tulisan dan lain-lain. Kira-kira bisa gak ya ???

Bagi sebagian lainnya, Nyepi bisa jadi kemudian menjadi inspirasi. Lahirnya ‘World Silent Day’, satu hari dimana dalam selama 4 (empat) jam, kita sebagai umat manusia diharapkan berkenan menghentikan segala aktifitasnya. Untuk memberikan ruang bagi alam dan kesunyiannya. Tidak jauh berbeda bukan ? namun hanya untuk 4 (empat) jam saja.

Selamat Tahun Baru Caka 1932, Selamat merayakan Hari Raya Nyepi bagi seluruh Umat Hindu khususnya dan Umat Manusia umumnya. Semoga ditahun yang akan datang kita sebagai Umat-Nya mampu berbuat jauh lebih baik lagi dari hari ini.

Salam dari PuSat Kota Denpasar, PanDe Baik beserta keluarga.