Waspadai 3 Gejala Janin Tidak Berkembang dalam Kandungan

Category : tentang Buah Hati

Tumbuh kembang pada janin dapat dipantau dengan melakukan USG di dokter kandungan, hal ini memang bukan sebuah kewajiban, mengingat untuk beberapa kalangan dana mungkin menjadi kendala untuk bisa melakukan USG janin. Namun tetap saja sangat penting, selain berguna dalam melihat jenis kelamin dari buah hati, dengan melakukan USG juga sangat bermanfaat di dalam melihat pertumbuhan buah hati dalam kandungan apakah sudah optimal atau tidak, begitu juga dengan meminimalisir resiko bayi lahir cacat.

Hal tersebut tentunya patut untuk diwaspadai, mengingat dalam beberapa kondisi justru janin juga bisa mati di dalam kandungan, padahal usianya sudah cukup untuk lahir, berikut ini diantaranya ada beberapa ciri yang harus dikenali ketika janin tidak berkembang dengan baik di dalam rahim ibunya, diantaranya adalah:

1. Tidak ada gerakan.
Umumnya memasuki usia kehamilan trimester ketiga bayi sudah mulai menunjukkan adanya pergerakan, diantaranya adalah dengan menendang, namun dalam intensitas yang cukup ringan sehingga tidak terasa sakit, Anda patut untuk mewaspadai jika seandainya setelah memasuki usia kehamilan tersebut namun bayi tak bergerak sama sekali.

2. Munculnya flek hingga darah keluar dari kemaluan.
Gejala lainnya yang juga harus diwaspadai oleh ibu hamil ketika keluar darah dari kemaluan, padahal sudah memasuki usia kehamilan hingga 1 bulan pertama, bisa jadi terjadi keguguran.

3. Hilangnya rasa mual dan muntah atau yang dikenal juga sebagai morning sickness.
Ini merupakan salah satu gejala yang akan dialami oleh wanita hamil pada trimester pertama, namun seiring dengan memasuki usia kehamilan di trimester pertama gejala tersebut akan hilang, namun ketika belum memasuki usia kehamilan trimester kedua, namun gejala tersebut sama sekali tak dialami, bisa jadi berhubungan dengan kesehatan dari janin yang dikandung.

Guna menghindari hal yang tak diinginkan, maka kemudian dilakukan USG. Para wanita hail harus memperbanyak pengetahuan terkait dengan kondisi kehamilan mereka jika tidak ingin bermasalah. Mulai dari trimester pertama, seputar kehamilan trimester kedua sampai dengan trimester ketiga atau jelang persalinan.

Mereka Cahaya yang selalu Ada

Category : tentang Buah Hati

Hari masih gelap, hanya ada sedikit penerangan yang masih menyala disekitaran rumah. Satu persatu langkah kaki perlahan menyusuri paving lama menunaikan tugas rutin pagi sebelum berangkat kerja. Tawa anak-anak terdengar nyaring dari kejauhan.

Ara dan Intan sudah bangun rupanya.

Dua wajah mungil itu hadir di kaca jendela memanggil-manggil Bapak dengan nada yang riang. Sesekali neneknya mengingatkan keduanya agar tak terlalu ribut lantaran ini masih pagi buta, belum banyak yang tersadar dari mimpi.

Si bungsu Ara, hari ini menginjak usianya yang ketiga tahun. Gak nyangka aja kalo ia sudah sebesar ini.
Bayi yang dulu pernah ditangisi saat terbaring lemah falam inkubator rumah sakit, tumbuh dengan segala kepintaran dan tawa candanya dengan nada bicara khas. Kalian yang biasa menghubungi kami lewat nomor rumah, pasti tau siapa pemilik suara penerima telepon kami.

Intan yang kini sudah masuk ke jenjang TK besar, merupakan teman setia si bungsu dalam bermain, bercerita dan juga bertengkar. Ia terlalu polos untuk berada diantara adik dan kakaknya. Selalu mengalah jika dijahati. Jadi paling cengeng dan sensi. Berusaha menarik perhatian kami, kedua orang tuanya jika sudah berada di rumah saat hari libur. Belakangan mulai tertarik untuk live secara rutin di akun instagram milik Ibunya.

Si sulung Mirah, tumbuh tinggi dan jangkung untuk anak seusianya. Apalagi saat bersanding dengan kawan-kawan sekelasnya. Selalu menginginkan segala sesuatunya bisa tampil sempurna termasuk soal waktu. Mirip neneknya. Sudah mulai keteteran jika berhadapan dengan mata pelajaran di sekolahnya meski hingga hari ini masih dipercaya memegang rangking tiga besar di kelasnya.

Anak-anak ini benar-benar karunia Tuhan yang paling indah. Banyak orang rela menghabiskan waktu luang untuk bisa menikmati tumbuh kembang mereka yang berharga. Banyak juga yang masih tetap berupaya bisa mendapatkan kesempatan yang sama menikmati anugerah-Nya. Namun banyak juga yang tak menginginkan keberadaannya.

Bagi kami, Mereka adalah cahaya yang kelak akan selalu ada bagi kedua orang tuanya.

Paradox dan Penantian Panjang Perjalanan Pulang

Category : tentang Buah Hati

Memutuskan untuk melakoni liburan kali ini sebenarnya tidaklah mudah. Mengingat jarak yang akan ditempuh dengan menumpang bus pariwisata, dari kota asal hingga tujuan. Tidak dengan pesawat seperti biasanya.
Tapi demi sebuah janji, semua itu dijalani dengan ikhlas.

Duduk menanti kapal laut bersandar di Gilimanuk, rasa penat selama perjalanan mulai terasa. Apalagi tidak ada canda tawa riang anak-anak yang biasanya mengisi hari demi hari yang dilewati. Kangen banget dengan mereka kali ini.

Adalah Paradox, film Hongkong produksi tahun 2017 yang lumayan membuat penasaran lantaran awal kisah harus dipotong gegara kalah suara dengan penggemar dadakan Baahubali, berhasil diunduh saat malam masuk Kota Surabaya. Saat dinikmati pun ada air mata yang mengalir meskipun genre film adalah action. Tapi cerita yang yang diusung tidak lepas dari rasa cinta seorang ayah pada anak putrinya.

Jika saja saya berada dalam posisi yang sama, yakin tidak banyak yang bisa diperbuat. Baik saat silang pendapat di usia remaja nanti, ataupun keputusan untuk menikah dengan pria pilihannya. Entah apakah saya bisa kuat menerima saat itu tiba.

Paradox berakhir sedih jika melihat pada perjuangan sang ayah yang ingin bisa memeluk putrinya lagi. Meski ada Ayah yang yang bisa memberikan cerita kebahagiaan, namun sepertinya masih ndak rela kalo putrinya itu tidak ditemukan dalam kondisi sehat.
Dasar penggemar film Happy Ending.

Jalan pulang sudah makin dekat, dan penantian yang sudah sekian lama dipendam, bakal tertumpah sebentar lagi.

Menjaga Ara dalam Kantuk

Category : tentang Buah Hati

Waktu menunjukkan pukul 12.44 dini hari, sementara mata belum bisa terpejam nyaman laiknya tidur sebelumnya.
Panasnya cuaca dan batuknya Gek Ara membuat istirahat malam ini sangat terganggu. Apalagi Ara dari kemarin siang sudah nda mau lagi didampingi ibunya. Hanya Bapak dan Ninik yang diminta. Gendong atau sekedar menemani tidurnya.
Repot juga.

Batuk Gek Ara keknya ndak ada perubahan dari awal kemarin. Makin menjadi malahan.
Malam ini kondisi Ara jadi hangat lagi, padahal seharian kemarin lumayan turun hingga ia sudah bisa bermain main dengan si kakak.

Badannya yang minggu kemarin sudah terlihat lebih berisi, kini tampak jauh lebìh kurus akibat sakit yang ia derita. Kasian banget liat Ara jadi lembek lembek begini. Istilah kakak sulungnya saat ia masih kecil dulu.

Menjaga Gek Ara dalam kantuk dilakoni dari semalam. Kini gantian dengan si ibu yang memilih tidur di kasur bawah, lantaran Ara menolak kehadiran ibu disisinya. Alamat begadang sampe pagi deh keknya…

Ara Demam (lagi)

Category : tentang Buah Hati

Anak sakit itu sebetulnya ya hal yang sudah biasa.
Bisa jadi karena perubahan cuaca yang nda menentu, perubahan pola makan yang aneh-aneh, hingga tumbuh gigi atau perkembangan tumbuh kembang si anak mau tambah pinter ngapain gitu ceritanya.

Tapi yang ada hari ini kok ya saya malah jadi ikutan sedih gegara si Ara, bungsu kami yang dulu sempat ditinggal lama di rumah sakit, demam yang kemungkinan besar akibat panas dalam, akibat tertular batuknya si mbak Intan yang nakal, atau ya aksi tumbuh gigi yang mana, sehingga menyebabkan aktifnya si anak kesana kemari mendadak hilang.

Ara pun tertunduk lesu dari Jumat kemarin.
Mih… akhir pekan pun jadi terasa sendu hingga malam ini menjelang.

Bisa jadi karena saat ini aktifitas bapaknya sudah ndak sebanyak dulunya, sehingga bisa full menemani kesehariannya Ara. Jadi ngikut lesu deh akhirnya.
Padahal rencana liburan minggu depan ke Amed rasanya sudah nda bisa dibendung lagi.
Jadi khawatir kerana kesehatan Ara tampaknya belum membaik dari kemarin.

Pening Bapakmu ini Gek…

Anak Anak sejauh ini

1

Category : tentang Buah Hati

Lahir bulan Maret tahun 2008 silam, Mirah putri pertama kami kini sudah menginjak usia delapan tahun. Sudah kelas 3 SD. Perawakannya tinggi jika dibanding anak seusianya. Mengambil porsi bapaknya. Boros di kain. Hehehe… Menari tak lagi menjadi hobi, sudah bergeser ke mainan Slime yang ndak jelas maksudnya itu. Sayang memang, tapi kelihatannya ia sudah mulai bosan akan rutinitas hariannya. Biarlah ia mengambil nafas dan beristirahat sejenak.

Sementara Intan, putri kedua kami lahir Oktober tahun 2012 lalu, kini sudah menginjak usia 4 tahun. Setidaknya apa yang ia cita-citakan hampir setiap hari terkait tiup lilin, potong kue, dan hiasan Frozen sudah terlaksana meski dalam edisi hemat. Kami mencoba memasukkannya di pendidikan PG saat tahun ajaran baru kemarin. Untuk mengenalkan ia pada dunia sosial, serta belajar berinteraksi dengan orang dewasa lainnya. Meski badannya mengambil porsi sang Ibu, pipi chubby dan kelakuan asalnya itu tetap saja mengambil porsi Bapaknya. Anak gado gado kalo menurut kami.

Tak lupa dengan si Bungsu Ara, hadir ke dunia bulan Februari tahun 2015, lama di rumah sakit untuk menyembuhkan sakit yang ia derita dari dalam kandungan. Cerita sedih tentu saja. Kini ia sudah berusia satu tahun delapan bulan. Baru saja bisa berjalan tanpa pegangan, kalo ndak salah sekitar sebulan terakhir ini. Selain itu ia baru bisa mengucap beberapa kata. Yang paling fasih sih memanggil ‘Bapak’ atau yang serupa, meminta ‘jajak’. Sementara saat memanggil ‘Bu’ dan ‘Nik’, suaranya terdengar agak kedalam, tidak selepas dua kata sebelumnya. Ia juga masih belajar mengatakan nama sang kakak. Sangat membahagiakan jadinya.

Anak Anak Sejauh Ini

Tiga putri kecil menghiasi keseharian kami.
Cerita yang bisa dibagi, selayaknya dongeng dan novel yang mengisahkan tiga gadis bersaudara seperti Kwak Kwik Kwek, 961-169-691, atau Three Stooges. Semacam itulah. He…

Mungkin lantaran usia yang tak terpaut jauh, antara Intan dan Ara lebih kerap nyambung dalam tawa dan canda ketimbang dengan si Sulung Mirah, yang sepertinya menjadi ‘musuh bersama’. Ara akan reflek mencubit sang kakak saat ia didekati dalam situasi apapun. Demikian halnya Intan, pasti menjadi ramai dan ribut saling menyalahkan saat mereka berdua berdekatan.

Riuhnya rumah sudah menjadi hal yang biasa. Kalo kata senior saya yang kini sudah masuk masa pensiun di Bima sana, semua adalah berkah Tuhan kepada hamba-Nya. dan memang belum lengkap rasanya jika tembok rumah belum ada coretan anak dalam bentuk apapun. Sebagaimana yang Beliau ungkap saat kami baru menikah dan belum dikaruniai anak.

Anak anak adalah kebanggaan dan kegembiraan.
Semua beban seakan sirna dalam sekejap saat mendapati senyum manis mereka dan rengek manja yang seandainya saja si orang tua tak sabaran, bakalan memberi cap sebaliknya, cerewet dan merepotkan.
Sementara kami, berusaha menikmatinya sebagai bagian dari apa yang sudah dikaruniai oleh-Nya.

Kangen Canda Tawa Anak Anak

Category : tentang Buah Hati

Baru tadi sore. Ya… baru tadi sore, rasa kangen itu terobati.

Baru tadi sore, akhirnya bisa ngumpul lagi bareng anak-anak kesayangan yang selama dua minggu lalu baik anak maupun bapak punya halangan sendiri-sendiri.

Kalo dilihat dari sisi anak, sudah dua minggu lebih dua bayi kami terpapar demam akibat radang dan tumbuh gigi. Enam sekaligus. Ealah…
Padahal sudah Sempat khawatir juga bakalan kena DB, karena tetangga-tetangga sudah pada ngamar duluan. Bahkan si Ara, bayi kecing kami sampai cek darah pula di Nikki Medika penampahan Galungan kemarin. Duh… krodit dah.

Sedangkan kalo dilihat dari sisi Bapaknya ya apalagi kalo bukan kesibukan kerja kantor yang akibat mendesaknya waktu yang diberikan kawan Bappeda pasca kegiatan Musrenbang kemarin, akhirnya disetrap beneran buat menyelesaikan usulan. Padahal kalo tahun tahun lalu, Jalan Lingkungan selalu diberikan porsi waktu paling terakhir.
Tapi lantaran kini sudah menjadi kegiatan Strategis, mau gak mau ya mendapat perhatian besar baik dari pimpinan, masyarakat maupun badan anggaran.
Sudah resikonya sih…

Mirah Intan Mutiara PanDeBaik

Jadi ya, senang sekali hati ini saat bisa ngumpul bareng mereka bertiga, sampe-sampe minta difotoin pas bangun tidur sore tadi.
Gimana ? imut imut kan mereka ?

Menyambut Hadirnya Bidadari Kecil

8

Category : tentang Buah Hati

23 Oktober 2012, sejenak usai makan siang… saya dan Yande Putrawan, baru saja bercerita tentang De Wira, putranda yang kini sudah berusia enam bulan. Ia menceritakan dengan antusias sambil menunjukkan beberapa video yang ada dalam perangkat tablet Samsung galaxy Tab 7+ yang baru saja ia beli menggantikan Tab lama. Ponselpun berdering.

Di ujung sana, Alit istri saya meminta diantarkan pulang, karena rasa sakit di perut sudah mulai terasa. Memang hingga jelang akhir bulan Oktober, istri belum mengambil cuti melahirkan, berhubung belum ada tanda-tanda. Tanpa bermaksud mengusir dan mengakhiri pembicaraan, kami memutuskan untuk bubaran. Yande menuju Dinas Cipta Karya untuk mengurus IMB-nya, sedang saya bergegas meluncur ke lobby kantor Dispenda Badung, sembari menghubungi dua atasan, kantor dan LPSE.

Sepanjang perjalanan saya terus meminta pada istri untuk segera memeriksakan kandungannya ke Bidan Wiratni sore ini. Tujuannya untuk mempertegas status kandungan, agar esok Rabu kami sudah bisa berbagi waktu, apakah mau ngantor kembali ataukan beristirahat dirumah. Perjalanan pulang yang kami lalui tak langsung menuju rumah. Istri masih sempat membeli ‘nyuh daksina’ (buah kelapa yang telah dikupas kasar), dan saya sendiri masih sempat membeli beberapa jajan untuk banten otonan (hari lahir Bali) MiRah putri pertama saya yang jatuh pada hari itu.

23 Oktober 2012 pukul 17.00 sore. MiRah sudah selesai mandi dan bersiap untuk Otonan. Alit, ibunya yang berencana natabin (menjalankan upakara) memilih duduk beristirahat lantaran sakit perutnya mulai menjadi. Akhirnya tugas natabin MiRah diganti neneknya. Saya sendiri masih sempat mengambil beberapa gambar upacara Otonan MiRah.

23 Oktober 2012 pukul 17.10. Sore yang panas. Saya memilih untuk mengguyur badan dengan air untuk membuat panas ini menjauh. Sementara itu, Air ketuban kandungan istri pecah. Ibu, neneknya MiRah tampak mulai kebingungan. Antara berkonsentrasi natabin upakaranya MiRah, dengan shock melihat kondisi Alit istri saya, mulai menggedor pintu kamar mandi. Sayapun diminta bergegas dan langsung menuju mobil. Meski Bidan Wiratni hanya beberapa langkah dari rumah, namun kondisi Istri tampaknya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan lagi.

23 Oktober 2012 pukul 17.15. Kami sampai di Bidan Wiratni. Dengan segera istri dibopong ke Ruang Bersalin untuk memeriksakan status kandungannya. Hasilnya cukup mengagetkan. Bayi sudah bersiap untuk dilahirkan. Dokterpun dipanggil beserta Bidan Wiratni, turun tangan langsung menangani kandungan istri. Saya masih berusaha untuk menghubungi rumah, meminta agar disiapkan roti serta air mineral untuk dibawa ke Bidan. Karena pengalaman saat kelahiran putri pertama kami, Alit cukup lapar pasca proses, bisa jadi lantaran tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan persalinan normal sangat menguras energi.

23 Oktober 2012 pukul 17.25. Tangis bayi memecah sore ruang tunggu Bidan Wiratni. Bayi kami lahir, dan sayapun masih shock lantaran kebingungan. Antara gembira, haru dan masih was-was usai pecah air ketuban tadi. Telepon rumah kembali dihubungi, untuk mengabarkan hal ini. Seisi rumah jelas ikutan shock. Kaget lantaran tidak menyangka jika proses persalinan berjalan begitu cepat.

23 Oktober 2012 pukul 17.25. Putri kedua kami lahir ke dunia. Sementara waktu kami belum punya nama untuknya. Di memo Tablet hanya ada draft nama yang saya catatkan untuk dua alternatif. Nama anak laki dan perempuan. Pada akhirnya Tuhan memberi yang kedua. Dan nama itu bertuliskan ‘Pande Made …… PradnyaniDewi’.

Nama yang bernuansa dan berarti Bali. Seperti halnya kakaknya ‘Pande Putu MiRah GayatriDewi’. Yang kemudian menjadi pertanyaan, nama tengah yang akan digunakan agar memiliki makna yang kurang lebih sama dengan MiRah (batu permata). Pilihannya ada dua, Intan (saran dari saya dan kakeknya) dan Mas (saran dadi nenek Canggu, ibu mertua saya). Kamipun hingga hari ini belum menjatuhkan pilihan. Sementara saya pribadi masih memanggilnya Gek Ade. Gek – Geg dari Jegeg (cantik dalam bahasa Bali), dan Ade – Made (sebutan untuk anak kedua dalam budaya Bali). Namun mengingat kami pernah memiliki satu insan yang gugur dalam kandungan akhir tahun 2011 lalu, nama Made masih kami ragukan untuk digunakan. Terserah apa permintaan sang bayi kelak saat ‘bertanya’ nanti.

Proses persalinan berlangsung cepat. Sayapun lalu bergantian dengan ibu, mengurusi kamar inap di Bidan Wiratni sambil mengambil beberapa perlengkapan yang sudah kami siapkan jauh sebelumnya. Jarak antara rumah dan Bidan Wiratni yang hanya beberapa meter menyebabkan proses berjalan cepat dan sandyakala semuanya sudah selesai dilakukan. Berdasarkan nasehat dari Ida nak lingsir Sri Empu yang kami hubungi, proses penanaman ari-ari bayi akan dilakukan esok pagi, berhubung hari lahir sang bayi merupakan hari dewasa ayu yang sangat dikeramatkan oleh sebagian besar umat Hindu.

23 Oktober 2012. Anggarkasih Tambir tepat jatuh pada Kajeng Kliwon. Merupakan hari lahir Bali yang sama dengan MiRah putri pertama kami. Alamat enam bulan kedepan, kami akan melaksanakan dua upakara otonan secara bersamaan. Beberapa keluarga menyatakan kekagetannya dengan kesamaan hari lahir, dan hari lahir yang dipilih oleh sang bayi untuk turun ke bumi. Mencirikan keteguhan hati dan kerasnya jiwa sang bayi kelak, demikian halnya dengan MiRah.

23 Oktober 2012, pula menjadikan hari lahir putri kedua kami ini bersamaan dengan hari lahir neneknya secara nasional. Mengambil bintang Libra, bintang yang senada pula dengan ibunya. Musti berhati-hati nih. Hehehe…

Lahir dengan berat 3,3 KG dan panjang 48 cm, sesuai dengan ramalan Dokter Wardiana, dokter kandungan yang kami hormati sejak kehamilan pertama dulu. Beliau pula yang menyarankan untuk melahirkan secara Normal dimanapun kami inginkan. Karena berdasarkan hasil USG masih memungkinkan untuk itu. Sesaat setelah kelahiran, sayapun mengabarkan Beliau tentang hal ini dan berTerima Kasih, sekaligus berjanji untuk program yang ketiga kelak. *uhuk

24 Oktober 2012. Kelahiran putri kami yang kedua ini terasa berbeda. Banyak hal baru yang kami lakoni, diantaranya pembaharuan tempat tidur yang kami desain khusus untuk kami berempat, aktifitas yang sudah mulai terpetakan sejak awal dan banyak kemudahan lainnya yang kami rasakan untuk berkabar. Namun Saking antusiasnya saya menyambut kehadiran putri kami yang kedua ini, tak satupun tulisan yang bisa saya lahirkan pada hari yang sama hingga pagi ini. Hampir tak ada waktu luang yang bisa dilakukan untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, disamping tidak ada kata dan kalimat yang mampu saya lukiskan untuk menggambarkan kegembiraan ini.

25 Oktober 2012. Rencana ngantor hari ini batal saya laksanakan. MiRah putri kami positif dijangikiti Flu Singapura. Pantas saja sejak kemarinnya ia mengeluhkan sakit pada rongga mulut untuk menelan makanan, juga adanya bintik-bintik merah di kedua siku lengan, telapak tangan dan kaki. Sayapun memutuskan untuk terfokus pada MiRah, sembari ibu dan neneknya fokus pada bayi kami. Setelah menghubungi dua atasan, hari-hari penuh kesibukanpun kembali dilakoni. Mencuci popok, menyiapkan air, membuat susu dalam botol hingga menggendong si kecil dengan riang. De Ja Vu, semua sudah pernah dilakoni sebelumnya, jadi tidak ada rasa canggung lagi. Tinggal mengingat dan melakukannya lagi.

26 Oktober 2012. Kemarin malam adalah malam pertama kami begadang. Bayi tampak lebih nyaman untuk digendong di ruang tamu yang jauh lebih adem ketimbang dibobokan di ruang tidur. Kamipun bergantian mengajaknya, namun susu tetap menjadi tanggungjawab saya untuk menyiapkan.

Ini hari ketiga saya sudah tidak berolahraga. Minimal jalan kaki dini hari ke lapangan alun-alun. Maka itu saya pun bertekad untuk melakoninya agar tidak sampai parah kadar gula darahnya.

Adanya Diabetes pada tubuh saya menyebabkan rasa was-was apabila terjadi satu dan lain pada tubuh saat kami diminta untuk fokus pada kelahiran kedua ini. Itu sebabnya sayapun berusaha untuk menjaga kesehatan secara sadar agar tetap bisa bersama tiga bidadari cantik ini.

26 Oktober 2012 pukul 10.00. semua aktifitas telah diselesai dilaksanakan. Alit dan bayi kami sidah tertidur, membayar hutang tadi malam. MiRah usai minum obat dan belajar, memilih untuk beristirahat agar Flu Singapura-nya segera menjauh. Dan saya usai menyetrika, mencoba untuk duduk didepan NoteBook untuk melahirkan satu tulisan ini. Sebagai catatan bagi kami dimasa datang, sebagai ingatan bagi Putri kami yang kedua saat ia besar nanti, dan sebagai kewajiban seorang blogger untuk terus menulis dan menulis. Masa’ tentang gadget rajin banget mempublikasikan di blog ? sementara untuk kisah tentang putri kami yang kedua, hingga tiga hari ini belum jua ada ?

Jadi, Terima Kasih untuk semua ucapan dari Man Teman lewat jejaring sosial FaceBook, Twitter atau berkesempatan menengok langsung. Dan untuk menyambut kehadiran bidadari kecil kami ini, sementara tulisan tentang Gadget dan eksplorasi Custom ROM, saya hentikan dulu tanpa batas waktu. Mohon untuk dimaklumi, karena dengan inilah salah satu usaha untuk mampu mengungkapkan rasa cinta pada anak dan keluarga.

Selamat beraktifitas kawan-kawan…

Selamat Tinggal Adik, Kami Sayang Padamu

15

Category : tentang Buah Hati

Saya yakin bahwa impian setiap pasangan orang tua dimanapun mereka berada adalah memiliki anak, putra putri yang kelak akan mereka banggakan pada setiap orang yang ditemui. Teman, Rekan, sanak saudara hingga yang tak dikenal sekalipun.

Setelah menanti tiga setengah tahun lebih, kabar gembira itu akhirnya kami dapatkan jua. Awal November lalu, Istri tiba-tiba membangunkanku dini hari sambil memperlihatkan hasil Test Pack. Ia positif hamil.

Seminggu kemudian kami memutuskan untuk melaporkan hal ini pada ketiga orang tua kami. Pertama orang tua dirumah sendiri, Kedua Ida nak Lingsir Sri Empu di PohManis yang selama ini banyak membimbing dan membantu serta Ketiga tentu saja Dokter Wardiana, Dokter Kandungan yang dahulu menangani kehamilan MiRah Gayatri, Putri pertama kami.

Untuk menjaga kesehatan kandungan yang kedua ini, tugas kami bagi agar sang ibu tak terlalu berat mengambil pekerjaan rumah. Jika mampu, cucian dan pakaian kering saya cicil diambil setiap hari agar tak menumpuk di akhir pekan. Pula MiRah, kini telah menjadi tanggung jawab bapaknya untuk memandikannya. Sungguh satu perubahan yang menyenangkan.

Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.

Setelah Dua pemeriksaan awal di Dokter Wardiana menyatakan bakal bayi berkembang Normal, untuk yang ketiga diagnosa sementaranya cukup mengejutkan. Denyut Jantung si bakal bayi sangat lemah. Pemeriksaan ini sebenarnya lebih awal dilakukan dari jadwal setelah Istri mengatakan ‘terjadinya flek setelah sempat terpeleset di Senin pagi lalu. Untuk meyakin diagnosa, kamipun melakukan uji lab di Prodia.

Virus Rubella. Dengan hasil poin yang sangat tinggi menurut Dokter, berpotensi membahayakan kondisi janin didalam sehingga salah satu saran Beliau saat itu adalah menyedot si bakal bayi keluar. Sungguh kami masih tak percaya dengan semua itu. Kamipun mengajukan USG kembali. Hasilnya, si bakal bayi sudah tak berdenyut lagi. Padahal dengan kondisi perkembangan yang normal, bakal bayi kami sebenarnya sudah mulai terbentuk.

Setelah berkonsultasi dengan kedua orang tua dan juga ida nak lingsir, pun membaca beberapa referensi terkait penyebab dan bagaimana Virus Rubella di dunia maya, kamipun memutuskan untuk melakukannya segera.

Rabu pagi, 21 Desember 2011 pukul 8 tepat sesuai saran Dokter kami sudah tiba dan menanti di Kamar Bersalin Wings Internasional RS Sanglah. Tindakan baru dilakukan pada pukul 10.15 dan kami baru meninggalkan RS pada pukul 14.00 siang hari. Setelah bakal bayi kami dikeluarkan, yang ada hanya darah halus yang kemudian kami tempatkan dalam sebuah periuk untuk dilarung/dihanyutkan ke pantai.

Matahari Terbit merupakan pantai yang kami pilih untuk melakukan prosesi larung bakal bayi. Sungguh tak menentu perasaan yang ada dalam pikiran kami berdua sebagai orang tua termasuk kakek neneknya dan tentu saja MiRah yang belum paham dengan kondisi sebenarnya.

Setelah menyampaikan beberapa kata dibarengi menghaturkan banten dipesisir pantai, darah halus tersebut kami larung ditengah laut.

Ada perasaan sedih yang tak mampu kami ungkap dan katakan lebih banyak. Namun tetap, sebuah catatan harus dibuat untuk mengenangnya.

Selamat Tinggal adik, bakal bayi yang sebetulnya ingin diberi nama Rangga oleh MiRah putri pertama kami. Baik-baik disana yah. Kami semua menyayangimu…

I MISS U MIRAH

5

Category : tentang Buah Hati

Sejak pemberlakuan Absensi Sidik Jari Januari lalu praktis waktu yang saya miliki untuk bisa bermain bersama MiRah GayatriDewi, putri kecil kami setiap harinya sangatlah terbatas. Dua hari libur dalam seminggu lantas dengan maksimal kami gunakan untuk menebus Lima Hari kerja yang telah berlalu. Itu baru untuk MiRah, belum yang lain.

Kadang kami merasa bahwa pemberlakuan Absensi Sidik Jari di PemKab Badung, tempat kami berdua bekerja terlalu ketat bahkan tidak adil. Apalagi bagi mereka yang benar-benar bekerja dibandingkan dengan mereka yang hanya menerapkan Pasal 73. Ngantor absen pagi pukul 7, lantas pulang kelayapan entah kemana, lalu absen sore pukul 3. Dan itu, sama sekali tidak ada teguran, hukuman, toleransi ataupun penghargaan.

Pagi, ketika kami bersiap berangkat kerja, ada perasaan bersalah yang saya rasakan pada MiRah, putri kecil kami. Pun pada kedua orang tua yang kami tinggalkan untuk mengajknya bermain seharian. Demikian pula saat kami pulang, hanya sempat beberapa jam untuk bisa bersamanya. Bersyukur bahwa MiRah masih bisa disayang oleh Keluarganya sendiri, lantas bagaimana ketika kedua kakek neneknya sudah tidak mampu lagi ?

Menatapnya saat tidur sungguh merupakan satu periode yang merindukan. Rindu akan tawa candanya yang nyaring dan renyah, Rindu akan kejahilannya yang tak kunjung padam, Rindu akan pijatan tangannya meng-Creambath kepala bak pegawai salon kelas wahid. Rindu pula pada masa kecilnya yang dahulu begitu saya puja.

Anak merupakan segalanya. Setidaknya itu yang kami berdua rasakan hingga saat ini. Saat kami berdua berangkat atau pulang kantor, hampir sepanjang perjalanan, jika topik kami bukan soal pekerjaan kantor, bisa dipastikan topik lainnya adalah MiRah dan kelakuannya. Dari kenakalannya yang membuat kami gemas, ocehannya yang kadang membuat kami kewalahan, hingga rencana-rencana kami kedepan untuk masa sekolahnya.

Moo, panggilan kesayangannya pada boneka Piglet yang saya belikan sepulang kuliah dahulu, kini hanya bisa tergeletak sendirian tanpa teman. Biasanya Moo selalu menemani hari-harinya kemanapun ia pergi. Namun sejak MiRah terjangkit batuk tanpa henti, Moo berusaha kami jauhkan dari MiRah. Mungkin, jika Moo bisa bicara, iapun akan merasakan hal yang sama.

MiRah, MiRah dan MiRah. Kecintaan kami pada buah hati yang lucu ini kerap menjadi buah bibir rekan kerja maupun teman yang dijumpai. Begitu bersua, mereka selalu menanyakan, ‘Bagaimana kabarnya MiRah ? kok gag diajak ?’. namanya begitu familiar mereka kenal, satu hal yang barangkali jarang terjadi. Mengingat nama putri kecil kami.

Entah mengapa hari ini saya begitu melankolis padanya. I MISS U MIRAH…

Made Nik ilig Otong ibi Ande

1

Category : tentang Buah Hati

Hampir setiap malam sebelum tidur putri kami meminta Kakek Neneknya untuk mendampinginya, sekedar mendongeng, bercerita tentang ’i pepet dan busuan’ (mirip cerita Bawang Putih dan Bawang Merah) hingga cerita tentang kecerdikan binatang kancil menghadapi monyet. Saking seringnya Mirah meminta, improvisasi kedua orang tua kami itu makin berkembang ke ranah keseharian. Menyelipkan nama kami (bapak ibunya MiRah) sebagai salah dua tokoh cerita. Harapannya tentu saja, MiRah mampu melafalkan namanya sendiri beserta nama kedua orangtuanya.

Pagi hari ketika MiRah terjaga dari tidur, saya yang kerap ditugasi untuk menunggui MiRah iseng bertanya perihal isi cerita yang disampaikan malam sebelumnya. Dari binatang apa yang terlibat didalamnya, bagaimana aksi sang monyet sampai ke cerita improvisasi, siapa nama Bapak dan Ibunya MiRah. Dengan suaranya yang cepat, MiRah ternyata mampu menyebutkan namanya sendiri, nama saya (bapaknya) dan nama istri (ibunya) dengan baik. Hanya saja terkadang diikuti dengan tambahan akhiran yang panjang. ’Ande Utu MiYah Ayati Ewi wi wi wi wi….’

Tergelitik dengan kemampuan menghafalnya MiRah, disela waktu mainnya saya lantas mencoba memperkenalkannya dengan nama kakek dan neneknya. Satu persatu dan diulang agar MiRah dapat menghafalkannya dengan baik. Tinggal diberi clue (petunjuk) nama depan, MiRahpun dengan sigap dapat menyebutkannya dihadapan kakek neneknya.

’Ande Etut A’ka’ (Pande Ketut Arka) dan ’Ande Made Cudi a’sih’ (Pande Made Sudiarsih).

Ohya, apakah saya pernah mengatakan kalo MiRah itu tergolong jahil untuk anak seusianya ?

Satu kali ketika kami mengajak MiRah kerumah kakek neneknya di Canggu, iseng kami tanyakan pada MiRah hasil ’pelajaran’ yang kami berikan padanya. Hasilnya sungguh tak disangka, MiRah malah menjawabnya dengan cara diplesetkan.

’siapa nama kakek ? Ketut…’ tanya saya sambil memberi clue nama depan, eh MiRah menjawabnya ’Etut A’ka Wibawa wa wa wa…’ (nama kakek disambung dengan nama bapaknya MiRah). Tawa kamipun meledak… belum lagi usai ibunya MiRah tertawa, langsung saya sambung dengan ’trus nama Nenek ? Made…’

’Made Nik ilig Otong ibi Andeeeeee….’ teriaknya lantang. Kamipun makin tak tahan untuk tertawa. Sekedar informasi, apa yang dikatakan MiRah tadi itu adalah sepotong lirik lagu anak-anak Bali ’Made Cenik’ yang ia sukai

”Made Cenik lilig montor ibi sanje… Montor Badung ke Gianyar… Gedebeg’e muat Batu…”