Turut Berduka atas Bom Gereja Surabaya ; Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa

4

Category : tentang Opini

Belum usai duka menyelimuti timeline akun sosial media dan juga belasan karangan bunga bela sungkawa di sejumlah jalanan, utamanya depan pos dan kantor polisi, hari minggu pagi tadi keriuhan kembali terjadi. Tiga bom bunuh diri menyasar Gereja di kota besar Surabaya, dan seakan belum cukup, menyusul Dua bom lainnya dalam waktu yang berdekatan.
Semua orang seakan tersadarkan dari tidur panjang.

Teror dari kelompok yang sama. Setidaknya itu yang diyakini banyak orang. Kelihatannya tujuan yang diinginkan hanya satu. Membuat negeri ini chaos, lengkap dengan semua efek sampingnya.
Menumbangkan rupiah, atau bahkan mengganti Presiden yang saat ini masih bersusah payah membangun bangsa. Dan mereka tak pernah lelah memporakporandakannya.

‘Nggak usah berkelit bilang yang ngebom gak punya agama. We know exactly what are their religion’ ungkap akun @nuruliu pada timeline Twitter tengah hari tadi.
Saya setuju kali ini…

‘…mau sampai kapan kita akan membiarkan Islam dirusak oleh teroris2 keji ini?
Kalian gak marah kalo nama Islam akhirnya lekat dengan teroris?
Jangan salahin yang nuduh Islam itu teroris, salahkan teroris yang pake ajaran kita sembarangan’

Damn… tweet akun @SoundOfYogi ini juga benar adanya.

Satu benang merah yang seringkali terungkap saat aparat menangkapi orang per orang yang diduga terlibat atau bahkan mengaku sebagai pelaku adalah mereka jarang berinteraksi dengan tetangganya. Menutup diri dari pergaulan dan agenda sosial setempat. Kalian yang selama ini menaruh curiga pada orang ataupun kelompok teror semacam ini, sudah saatnya menyapa mereka. Mengetahui lebih jauh aktifitasnya di lingkungan kalian. Bila perlu ajak aparat terbawah untuk ikut serta. Jangan abai pada lingkungan.

Info terakhir, 13 orang dinyatakan tewas atas tragedi hari ini. Termasuk Bayu, relawan gereja yang memiliki istri dan anak yang masih bayi. Juga bocah sd 11 tahun.

Turut berduka untuk semeton kristiani di kota Surabaya.
Sudah saatnya pemerintah mampu menindak tegas para pelaku kelompok teror, pun para pembelanya termasuk parpol yang melindunginya.
Mereka bukanlah masyarakat Indonesia yang masih memiliki hak untuk diberikan HAM.

Sore Sandya Kala…

Category : tentang KHayaLan

Aku berjalan menyusuri pinggiran trotoar pada sebuah jalan yang sudah kukenal sebelumnya. Beberapa hari sebelum satu upacara keagamaan terbesar akan dilakukan.  Upacara untuk membersihkan Legian Kuta pasca pengeboman Oktober tahun 2002 lalu. Satu dua toko tampak sudah mulai berbenah mempersiapkan diri mereka akan malam yang kan datang menjelang. Beragam orang berlalu lalang disekitarku… dan mataku tertumpu pada satu tempat.

‘Bunga, Pak ?’ sapa seorang pedagang yang berada disekitar tanah tersebut. ‘Untuk mengenang orang yang Bapak sayangi…’ tambahnya.

‘Tidak, Terima Kasih… tak satupun dari mereka yang saya kenal.’

‘…atau untuk mereka yang…’ belum selesai si pedagang berucap, aku bertanya ‘Siapa mereka Bu ? yang tertawa ramai disitu ?’ tanganku menunjuk tanah kosong yang sedari tadi kuperhatikan. ‘Maksud Bapak ?’ ia balik bertanya…

‘Itu… yang menari gembira dan tertawa keras…’

‘Jangan menakut-nakuti saya Pak… ga’ada orang disitu… siapa yang Bapak maksud ?’ si Ibu pedagang mulai kebingungan.

Aku berjalan menuju tempat yang kumaksud, berbalik kearah Ibu pedagang sambil menuding kearah kerumunan orang yang tertawa riang. Belum sempat si Ibu memberikan reaksi atas tanda tanyaku, seorang dari kerumunan itu bertanya padaku. ‘Ada yang bisa kubantu Pak ?’

‘Ah, tidak… Aku hanya ingin bertanya, kenapa kalian tertawa riang disini ? Bukankah di tanah ini dahulunya adalah lokasi bar yang menjadi sasaran utama pengeboman Legian Kuta ? Tak seharusnya kalian bergembira…’

‘Maaf Pak, Kami hanya ingin mengungkapkan rasa senang kami, karena sebentar lagi kami akan menyatu dengan-Nya…’

Sejenak aku masih belum mengerti… ‘Maksudnya ?’

Tawa riang itu sungguh mengusik hatiku. Tak sepantasnya mereka melakukan itu… ‘Siapa kalian ini… ?’

‘Kami adalah orang-orang yang kalian tangisi… orang-orang yang barangkali tak menyadari bahwa mereka sudah tak lagi bisa dimiliki. Orang-orang yang meninggalkan sejuta kenangan indah bagi mereka yang mencintainya… dan katakan pada dunia bahwa kami tak lagi bersedih… Sampaikan Terima kasih kami pada semuanya…’

…dan aku pun kembali terhenyak…

pagi satu ketika…

16

Category : tentang KHayaLan

Entah bagaimana caranya aku bisa berada ditempat ini… Sebuah gang kecil yang kumuh, aku bersandar pada tembok, disela batu bata berlumut layaknya masa kecilku. Orang berlalu lalang didepan gang seakan tak peduli dengan kehadiranku…

Langkah seorang Bapak tua terhenti, berbalik memandangiku, menghampiri dan menyodorkan sebatang rokok putih yang kuhisap dengan rakus…

‘bukan orang sini Pak ?’ sapanya.

‘dimana ini Pak ?’ balik kubertanya.

‘Legian… Kuta…’ jawabnya sambil menghirup nafas dalam-dalam.

Terpekur kumenatap sekelilingku. Luluh lantak tak berbentuk…

‘Apa yang terjadi ?’ tanyaku kembali.

‘Bom…’ ucapnya terhenti.

‘…lagi ? Legian dibom ?’ tanyaku terheran seakan tak percaya… dan ekspresi yang ditampakkannya pun sama denganku.

‘Apa maksud Bapak dengan ‘lagi ?’

‘Seingat saya Legian dibom tujuh tahun lalu Pak. Tahun 2002, bulan Oktober… bagaimana bisa kini Legian kembali mengalami hal yang sama ?’ cecarku.

‘Apa maksudnya dengan ‘tujuh tahun lalu ? ini tahun 2002 Pak. Bulan Oktober…, apa Bapak lupa ?’

Tahun 2002… hari ini ? bagaimana mungkin ? aku kembali ke masa lalu ? jelas tak mungkin… dengan segera kuperiksa semua kantong yang kupunya, mencari ponselku yang tak jua kutemukan, hanya jam tangan ini yang kukenakan… dalam samar masih dapat kubaca, hari ini 20 November 2009 pukul 5.49 pagi…

…aku tersadar dengan badan penuh keringat…

Mohon Tas-nya dibuka Mas

15

Category : tentang KeseHaRian

Sebenarnya cerita ini sudah lama terjadi, tepatnya pasca pengeboman hotel JW Marriot yang akhirnya membuyarkan semua impian para fans fanatik Manchester United (MU), karena sedianya mereka bakalan bertandang ke negeri ini atas bantuan sebuah operator telekomunikasi.

Dua kali, baca : dua kali, dalam selang waktu seminggu saya mengalami kejadian dengan alur yang sedikit berbeda, namun intinya tetap sama. Dicurigai sebagai Teroris…

Kali pertama saat sepulang dari Bali Orange Communications (BOC), saya dihubungi Mertua dan diminta tolong untuk membeli sebuah obat (krim wajah) disebuah Klinik Kecantikan daerah Tanjung Bungkak. Dengan pe-de saya melangkah masuk areal klinik setelah memarkirkan mobil diparkiran depan, tanpa peduli teriakan satpam security. Ketidakpedulian saya ternyata berdampak buruk, langkah sayapun dihentikan. Mereka bertanya ‘Bapak mau kemana ?’ saya jawab ‘mau ke klinik, nyari obat krim…’

‘Bisa tunjukkan identitas ?’ sambung mereka. ‘Maksudnya ?’ saya balik bertanya karena saat saya kemari sebelumnya tidak pernah ditanya macam-macam. ‘Mohon Tas-nya dibuka Mas…’ pinta mereka. Loh ?

Setelah menunjukkan isi tas dan identitas, barulah saya dipersilahkan memasuki Klinik. Ternyata alasan mereka sungguh konyol. Wajah saya yang katanya mirip penduduk pendatang, berkacamata hitam (padahal kacamata minus), memakai jaket hitam dan membawa ransel. ealah… dikirain Teroris toh ?

Kali kedua malah lebih konyol lagi. Kebetulan Istri minta tolong untuk melegalisir Akte Perkawinan kami untuk melengkapi syarat pengangkatan status kepegawaian ke kantor Catatan Sipil yang berada disebelah timur kantor saya. Selepas makan siang sayapun meluncur ke lokasi masih dengan seragam Hansip (hijau) dan tentu saja menggendong ransel berisikan laptop. Malas meninggalkannya di meja kantor, khawatir ada apa-apa.

Masuk areal parkir Basement beberapa mata terlihat mulai mengawasi, namun segera berlalu saat saya menyapa (dengan bahasa Bali) seorang pedagang lumpia langganan kami dikantor yang sedang melayani pembeli disitu. Begitu sampai areal tangga dan mulai naik ke lantai 3, seorang pegawai tampak tergopoh-gopoh mengejar dan mencoba menghentikan langkah saya.

‘Bapak mau kemana dan ada keperluan apa ?’ tanya orang tersebut. ‘saya mau ke lantai 3 untuk melegalisir Akte Perkawinan”. “Bisa dibuka Tas-nya Pak ?’  pinta orang itu.

DAMN ! pertanyaan yang sama, bathin saya waktu itu. Orang ini pasti mencurigai saya sebagai Teroris (lagi). Sambil ngedumel saya membuka tas ransel saya ‘Apa dikantor ini gak ada Pegawai yang bawa laptop ya ?’

Indonesia Berduka demikian pula Tesis saya

6

Category : tentang DiRi SenDiri

PiLPres bisa jadi merupakan ajang luapan kegembiraan terakhir yang bisa dirasakan negeri ini, pula demikian dengan saya. Kegembiraan lantaran pada waktu lalu, akhirnya terpilih jua Presiden yang dinanti oleh sekian juta masyarakat untuk memimpin bangsa ini selama lima tahun kedepan… Kegembiraan lantaran dua hari lalu, saya telah menjalani ujian kelayakan Tesis yang merupakan ujian tahap 2 dari 3 tahap yang harus dilalui. Meski dinyatakan lulus dan bisa dilanjutkan, namun apa yang terjadi pada hari itu, cukup membuat saya terhenyak dan terdiam hingga hari ini.

Dua hari terakhir bisa dikatakan merupakan masa yang kelam bagi saya dalam perjalanan untuk menggubah sebuah tesis, tugas dan kewajiban terakhir yang harus saya penuhi untuk bisa menyelesaikan studi pasca sarjana yang notabene biaya kuliahnya harus saya tebus setiap bulannya selama empat tahun di Bank Pembangunan Daerah Bali.

Jumat siang sesuai perjanjian, dengan gontai saya melangkahkan kaki disepanjang lorong gedung pasca sarjana kampus Unud untuk bersua dengan Pembimbing satu, mendiskusikan langkah apa yang harus saya tempuh untuk memperbaiki ujian saya yang kedua kemarin.

Cukup lama saya berada diruangan BeLiau, yang akhirnya membawa saya pada satu keputusan perbaikan total pada apa yang telah saya capai selama empat bulan terakhir. Bahwasanya salah seorang Dosen Penguji saat ujian lalu mempertanyakan apakah apa yang telah saya hasilkan layak dijadikan sebagai bahan Tesis ? Apakah orisinalitas idenya bisa dijamin ?

Ah, sama saja seperti membungkam apa dan menjatuhkan vonis bahwa yang telah saya kerjakan selama ini adalah gak berguna. Gak ada artinya untuk sebuah tahapan bernama Tesis. Bahkan kalimat yang BeLiau lontarkan saat ujian lalu, benar-benar menohok saya sebagai pencetus dan pemilik dari sebuah sistem www.binamargabadung.com ….. Gak perlu menjadikannya sebuah Tesis, diberikan saja kepada seorang Web Programmer, selesai sudah semua tetek bengek yang saya ungkapkan dalam dokumen Tesis tersebut…

Hal ini kurang lebih sama dengan berkata ‘ah, saya juga bisa membuat gambar desain seperti ini’ pada sebuah gambar rancangan seorang Arsitek. ‘Apa susahnya ?’
Tesis 090717
Maka dengan gontai pula saya melangkah pulang dengan segudang perbaikan yang tak terlihat bentuknya hingga sore ini… Bahkan saat saya nekat menculik seorang Manager Distributor Nokia yang notabene merupakan teman sebangku saya saat SMA dulu, dan mengajaknya makan siang bareng, sekedar bertukar cerita pada apa yang telah kami lakukan, lama tak berjumpa…

Sempat shock juga saat mendengar bahwa negeri kita kembali mendapatkan Bom tadi pagi. Satu cerita yang bahkan belum saya sadari hingga pulang dari kampus tadi… bakalan membuat negeri ini kembali terperosok dalam jurang teroris, travel warning dan ancaman PHK. Satu hadiah paling istimewa pasca PiLPres dan PiLeg yang membawa kegembiraan bagi mereka yang beruntung bisa duduk di kursi panas negeri ini…

Rupanya tak hanya saya yang berada dalam nuansa kekecewaan, tapi juga mereka yang barangkali telah mengantongi tiket pertandingan sepakbola paling dinanti jutaan penggila bola di Indonesia, Manchester United dinyatakan batal bertandang ke negeri ini.

Rupanya tak hanya saya yang berada dalam nuansa kegelisahan, tapi juga mereka yang barangkali bakalan menjadi korban berikutnya pasca tragedi bom memilukan tadi pagi.

Aku dan Negeriku…