Nak Bali Sulit diajak Disiplin ?

1

Category : tentang Opini

Sembari kami mempersiapkan sarana persembahyangan di keramaian pemedek yang tangkil pada hari jumat lalu di Pura Batur Kintamani Bangli, berkali-kali Panitia lewat corong suara mengingatkan para pecalang utamanya yang berada di pintu keluar sisi Utara dan Selatan area Pura untuk menjaga agar tidak ada yang menerobos masuk dan menyarankan untuk menggunakan gerbang utama. Lantaran tak jua digubris oleh pemedek yang masih saja berusaha keras merayu para pecalang, pintupun ditutup paksa dan dijaga ketat.
Meski demikian, usai persembahyangan tetap saja pintu keluar ini menjadi area lalu lintas pemedek dua arah yang mengakibatkan penuh sesak dan terhimpitnya anak-anak hingga menimbulkan emosi dari banyak orang.

Wah Wah… kalau begini jadinya, susah juga ya mau beribadah dengan hati yang tenang…

Lain lagi saat persembahyangan dilakukan. Padahal sebelumnya panitia sudah menyarankan pemedek untuk mematikan ponsel agar nantinya suara notifikasi ataupun deringnya tidak mengganggu konsentrasi pemedek lain.
Tapi ya gitu deh… ada aja yang bandel… maka wajarlah banyak yang ngedumel saat kusyuknya persembahyangan tiba-tiba tersentak lantaran nyaringnya musik dangdut koplo dan denting bbm berkali-kali memecah sunyi.

Usai persembahyangan, meskipun sudah diingatkan untuk menjaga kebersihan, teteeeep aja yang namanya kelakuan dan kebiasaan untuk tidak mematuhi aturan dilakukan.
Masih perlu saya ceritakan seperti apa wajah area pura saat ditinggalkan pemedek ?

Hari sudah menunjukkan jam makan siang saat kami tiba di parkiran bawah Pura Besakih. Berbekal sedikit pengetahuan yang didapat lewat jejaring sosial soal harga makanan disini, kamipun berusaha mengabaikan tawaran banyak pedagang yang ada di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan.
Namun alangkah kagetnya saat masuk ke pelataran Pura Besakih penuh sesak oleh pedagang acung dan asongan, menjajakan berbagai makanan hingga mainan, campur aduk dengan para fotografer polaroid, tamu mancanegara yang berpakaian minim juga pemedek yang tampak asyik duduk bersama keluarga menikmati semuanya di sela itu semua. Wajah pelataran jadi makin tampak jorok dan kumuh lantaran sampah yang berserakan padahal semua anjuran tertera jelas dilengkapi dengan tong sampah yang sudah diatur terjangkau. Ini sebenarnya mau apa sih ?

Yang makin membuat parah adalah barisan pedagang (bali) tetap bisa dijumpai di sisi emperan, luaran pura Pedarman, berjualan sarana persembahyangan dan minuman.
Memang sih, event kayak gini merupakan ladang basah yang bisa dikeruk keuntungannya dari hari biasa, tapi apa gag kebablasan ?

Gag cuma itu, beberapa diantaranya tampak memaksa pemedek untuk membeli dagangan mereka dengan menaruh bunga dan canang lantas menagih sejumlah uang. Lantaran jengkel, beberapa pemedek tampak emosi menanggapinya. Namun dibalas enteng dan bahkan sedikit memelas. Kalo sudah begini, bagaimana caranya mau beribadah dengan hati yang tenang…

Usai menjalani semuanya, kamipun pulang dengan menyisir jalan aspal secara berhati-hati mengingat parkir kendaraan yang ada mengambil badan jalan hampir separuh lebih. Bersyukur lebar bodi kendaraan roda empat yang kami gunakan mampu melewatinya dengan baik. Gag kebayang kalo kendaraan orang lain yang sedikit lebih lebar.

Tapi tak disangka, beberapa orang tampak menghalangi jalur kendaraan dengan berjalan santai dan mengobrol seakan tak pernah ada kendaraan yang akan lewat.
Setelah terpaksa menekan klakson tiga kali untuk mengingatkan, orang-orang tersebut memberi jalan namun searah kemudian menggebuk dan melempar bawaan mereka ke bodi kendaraan sambil berteriak “gaya gen ci mare ngabe mobil…” (banyak tingkah kau baru membawa mobil)…
lha ? Bukannya sudah disediakan trotoar yang sedemikian bagusnya untuk pejalan kaki ?

Hati-hati jika Ketiduran !

Category : tentang PLeSiran

Maksudnya hati-hati jangan sampe ketiduran kalo lagi ngajak orang jail, yang suka iseng nge-shoot tingkah-tingkah yang kebetulan aneh. huehehehe….

Ini foto Bapak Ketut Nadi juga Bapak Wayan Susanta (karena dua-duanya udah punya momongan, makanya dipanggil Bapak !)

Dimana keduanya sempat terpikirkan untuk nge-shoot orang jail yang tertidur duluan, namun gak berhasil. akhirnya Tuhan berpihak juga, sukses nge-shoot mereka balik. huehehehe….

The Gank : Road to Temple

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PLeSiran

Saat beristirahat di Wantilan, terlihat beberapa teman dari sekian banyak orang dalam satu rombongan, sudah terlebih dulu slesai dan menunggu lainnya datang.
Terlihat di sisi kiri, Pak Ketut Nadi juga Wayan Susanta, dua orang pemikir untuk menjebak aku yang biasanya jail pada anggota rombongan kalo lagi kmana-mana namun tak jua berhasil, karena kamera kusembunyikan saat ketiduran di mobil. At last sempet balas dendam nge-shoot pose mereka saat terlelap tidur. Huehehehe…Yang diduduk ditengah ada barisan Oka Parmana sang leader sekaligus sopir, huehehehe….., Kermitt yang mahir nge-break pake HT milik kantor, juga Wayan Sudiana, staf paling macho di ruangan kami, sekaligus pula tampangnya yang Bali asli. Top dah !

Di sisi kanan pula terdapat Mbak Endang ‘Bunga ruangan’ bersama Pak Ketut Catur yang terlihat malu-malu saat diminta duduk disamping orang yang di-he-em-nya (sensor).

Sedangkan di sisi belakang kamera (tak terlihat pada gambar) terdapat orang tuinggi guede guendut besoar yang hobinya jailin orang dan akhirnya mendapatkan mosi tak dipercaya jika sudah dekat-dekat dengan obyek Penderita. Huahahaha…..

Yang laen ?
Ugh, entah pada kmana neh !

Pura Besakih : Road to Heaven

Category : tentang PLeSiran

Akhirnya tiba juga di Pura Besakih. Setelah meliwati jalan menanjak dan berliku serta kemacetan baik akibat padatnya umat yang tangkil maupun karena beberapa pengemudi mobil tak mampu mengendalikan mobilnya di daerah tanjakan.
Harapan untuk bisa parkir dekat Pura, terkabulkan karena ada sedikit lahan parkir dan harus menggeser-geser posisi sepeda motor lain.
Trus ngopi-ngopi dulu deh.Sebelum menuju Pura Penataran Besakih, terlebih dahulu kami menyebar ke masing-masing Pedarman, yang kebetulan posisi Pedarman (disebut Penataran) soroh Pande ada disebelah kiri atas Pura pusat.
Dengan nafas yang tersisa kakipun dipaksa menaiki tangga. Syukur bisa sampai di Pura Penataran Pande saat kondisi lagi sepi. Artinya acara utama sudah slesai dilakukan.
Usai dari sini meluncur lagi ke tempat yang berada lebih di atas, yaitu Prapen Pande, posisinya kurang lebih di sebelah barat laut Pura Gelap.

Sesampainya di Pura Penataran Besakih, telah berkumpul ratusan umat yang bersembahyang bersama dalam sekali shift. Dipandu beberapa orang yang disucikan menurut agama, upacara berjalan tertib dan lancar. Tak ada kesemrawutan, mencerminkan hati para umatnya.

Usai bersembahyang, tinggal menuruni tangga dan menuju Wantilan dimana teman-teman sudah menunggu sambil pula beristirahat sejenak.
Sampai juga rencana kami seharian ini, walopun waktu sudah menunjukkan angka 3.40 tanda Istri sudah berada dirumah.
Sempat mengabadikan momen saat umat berbondong-bondong datang dan pergi untuk memohonkan keselamatan pada-Nya.

Semoga Bali tetap damai dan Teroris pengebom bisa diberikan ‘pahala’ yang setimpal.

Pura Ulundanu Batur : Road to Heaven

Category : tentang PLeSiran

Akhirnya berkesempatan juga tangkil ke Pura Batur juga Besakih di hari Senin kemaren. Rombongan kantor Bina Marga Badung dalam rangka ‘Nganyarin oleh Kabupaten Badung’ berangkat sekitar pukul 9 pagi (sudah termasuk siang jika dibanding berangkat dengan keluarga jam 5 pagi). Jadi sudah bisa ditebak bagaimana saat nyampe di tujuan pertama Pura Batur. Macet minta ampun.
Hanya saja ada teman berkomentar, ini artinya Tuhan ingin menguji apakah hamba-Nya sabar ato tidak, memang kukuh untuk nangkil ato hanya tamasya. Nah !Macet pertama terjadi tak jauh dari tempat parkir umum Pura, masih di areal hutan Cemara, yang dipenuhi oleh bis-bis besar anak-anak sekolah, yang membuat kami memutar agak jauh, demi mencari tempat parkir dekat pura. Syukur dapet.

Macet kedua terjadi di areal Pura.
Begitu banyak umat yang tangkil, menyebabkan menyemutnya kerumunan orang yang bersiap masuk ke areal Pura. Hanya saja, setelah selesai sembahyang di Pura Penataran Pande, kerumunan ini masih tetap ada.
Wuih.
Akhirnya diambil kebijakan, bersembahyang dari luar (jaba tengah Pura Batur), dan menghaturkan sarana upacara dari tempat duduk masing-masing.

Walopun penuh dan sesak, umat yang hadir tetap saling menghormati dan membantu. Hingga saat persembahyangan selesai, Umat bisa dengan tertib meninggalkan Pura untuk bersiap menuju tempat tujuan berikutnya, Pura Besakih.

Usai bersembahyang, masih sempat melihat Gunung batur yang hari ini lumayan terlihat puncaknya (biasanya ditutupi awan). Ada rasa bangga, haru dan ingin bisa sampai di puncaknya.
Apalagi kalo bukan karena hasrat untuk melihat keanehan – keajaiban alam….
Pingin liat kawah yang kabarnya sudah tak aktif lagi.