No Friends No Games, Little Mice GAME OVER!!

Category : tentang SKetSa

Topik bahasan Muhammad Mice Misrad kali ini seperti mengabulkan harapan saya di masa lalu akan diceritakannya sejumlah permainan masa kecil yang lebih banyak dilakukan di luar rumah, yang tentunya amatlah menyenangkan. Membuat saya kangen pada sejumlah teman masa SD yang penuh cerita.

Kisah dimulai saat hujan mendera, dimana Mice teringat pada masa kecilnya yang jika berada dalam situasi seperti ini, ia langsung melepas baju dan celana, lalu berlari keluar rumah untuk bermain hujan. Hal yang sama, namun tidak sampai telanjang, kerap saya lakukan dengan berbagai alasan, agar disempatkan ‘mekocel-kocel’ diluaran.

Mice 3

Masa Senapan Kayu, mungkin bukanlah masuk di jaman saya dahulu. Namun untuk Pletokan, mungkin iya. Bahkan untuk bahan baku senjatanya, kami menggunakan buah jambu yang masih muda dan kecil untuk ditembakkan ke arah lawan. Kebetulan di halaman rumah kami jaman dulu, terdapat tiga pohon jambu berukuran jumbo yang siap mengotori tanah dibawahnya dengan ‘kampuak’ dan serpihan bunga serta daunnya.

Bola Gebok, permainan yang dilakukan secara berkelompok ini sebenarnya bisa dipadukan dengan petak umpet dimana tumpukan batu dijaga dengan baik agar tidak sampai diruntuhkan oleh kelompok lawan dengan lemparan bahkan tendangan dadakan. Dan biasanya kalopun ada salah satu anggota yang ngambek akibat ‘jadi’ terus menerus, barulah permainan bubar dengan sendirinya. He…

Ada lagi permainan Gelatik, yang kalau di masa kami lebih dikenal dengan nama Tak Til. Bermodalkan batang kayu pohon terdekat, dimainkan berdua atau lebih, dengan kemampuan yang semakin hari makin diasah kehebatannya memukul batang pendek hingga bisa jatuh lebih jauh. Baik di rumah maupun sekolah, ini adalah permainan yang amat sangat saya sukai saat waktu luang tiba.

Gundu atau Kelereng, pula merupakan salah satu permainan yang begitu digemari. Sayapun termasuk didalamnya. dan di Bali, nama permainan ini lebih dikenal dengan Guli. Mengandalkan sentilan jari tengah dan telunjuk dengan kekuatan yang jauh lebih baik ketimbang jari lainnya. Istilah-istilah yang disebutkan oleh Mice disini, benar-benar mirip dengan istilah yang kami gunakan dalam permainan Guli sehari-hari. Stik, Jus, Tipis hingga Stand untuk pose berdiri, terutama bagi pemain yang berada di posisi dekat tembok. Macam-macam Guli atau kelerengpun saya miliki, dari yang bening, bermotif warna hingga susu. Dari yang ukuran normal, kecil hingga jumbo. Dan tempat yang digunakan untuk menampung kelereng jaman itu ya kaleng biskuit Khong Guan seperti yang digambarkan di salah satu halamannya.

Mice 4

Ada lagi kalo gag salah main Gala, benteng, kartu remi, empat satu, cangkul, joker, atau Kik (yang ini untuk anak perempuan, dengan ikatan bunga jepun yang ditendang-tendang vertikal). Atau kwartet, dimana masa itu masih dipenuhi dengan gambar Megaloman atau Voltus 5… ah, masih banyak lagi yang rupanya belum sempat dibahas.

Yang Unik, tentu saja gambaran Profil Bocah era 70-80an yang diekspresikan ingusan, dekil, berkeringat dan borokan atau koreng, tentu berbeda jauh dengan profil anak masa kini, era tahun 2000an. Jujur saja, saat kecil memang ada beberapa kawan persis seperti gambaran tersebut, gag kebayang kalo anak seperti itu masih ada di jaman kekinian kota besar. Pasti jadi heboh deh. Hehehe…

Namun yang paling menggelitik dari semua kisah yang ada, saat bagaimana diceritakan akhir buku dicapai, yaitu saat sang anak yang mengeluhkan batere ipad yang sudah lobet (lowbatt), satu gambaran yang lumrah ditemui di era kekinian. Ya, anak tak lagi ramai bermain di luaran bersama kawannya, namun asyik dalam kesendirian gadget akibat tahun lahir di jaman layar sentuh. *menarik nafas panjang

Football’s Coming Home! by Mice

Category : tentang SKetSa

Lain Benny Rachmadi, lain pula sang kawan sekaligus rival, Muhammad Mice Misrad.

Mengambil tema asyik sepakbola, dalam rangka perhelatan tingkat dunia tempo hari, kartunis kelahiran Jakarta 23 Juli 1970 ini mencoba menerjunkan kisah sepenggal demi sepenggal gambaran masa kecil yang dapat ia ingat  disertai beberapa pengenalan istilah Komentator Bola yang dibukukan dalam satu jilid dua muka.

Mice 2

Dikisahkan tentang Mice kecil dikisaran tahun 1978 (tahun lahir saya nih), dimana saat itu yang namanya lahan hijau nan lapang masih banyak bertebaran di seantero kota Jakarta, lahan yang dipikirnya tak bertuan.

Sebagaimana kisah anak kecil jaman dahulu, sebelum lahan dimanfaatkan sebagai ajang tanding sepakbola, selalu didahului dengan aksi fantasi dunia anak, seperti misalkan silat kungfu. Atau bermain meriam bambu serta mendirikan tenda kardus dan sarung layaknya camping. Sayangnya, dalam kasus ini, tidak banyak kisah yang dapat dituangkan oleh Mice melalui goresan ringannya. Namun sedikit banyak bisa bercerita perihal bola plastik yang dibeli patungan Rp.25,- per orang (jaman itu), serta kisah unik yang terjadi didalamnya.

Lain cerita masa kecil, lain lagi kalo bercerita soal Kamus Istilah Komentator Bola. Untuk kasus yang satu ini sih, gag perlu pendapat banyak yah, mengingat yang namanya komentator biasanya sih jauh lebih pintar ngomongnya daripada prakteknya. Namanya juga komentator. Hehehe…

Jadi ceritanya si Mice lagi kepengen berbagi pemahaman akan berbagai istilah para Komentator Bola yang dianggap menggelikan di telinga kita, diantaranya Belanja Pemain, Pemain Pinjaman, Pemain Veteran, Penyerang yang Tajam, Bola Muntah hingga Diving atau Gantung Sepatu. Yakin banget bagi yang hobi mantengin bola, pasti tahu arti istilah yang sebenarnya, namun bagi Mice ya semacam dugaan pemahaman bagi awam, seperti saya misalnya. Hehehe…

Melanjutkan kisah Tiga Manula Benny Rachmadi (2)

Category : tentang SKetSa

Jika dalam perjalanan awal menyusuri jalur Pantura atau Pantai Utara berakhir di Trowulan Mojokerto, maka untuk melanjutkan kisah perburuan Tiga Manula dalam rangka menemukan Desa Tingal Wetan, kelahiran Waluyo, Liem dan Sanip memutuskan untuk menjelajahi jalur selatan Jawa sambil pulang ke Jakarta.

Buku seri kedua dari kisah perjalanan Tiga Manula dalam pencarian jati diri sang tokoh Waluyo, merupakan seri ketiga cerita yang sama yang pernah diluncurkan oleh Benny Rachmadi, kartunis jebolan studi Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1993. Dicetak pertama pada Desember 2013, berselang setahun dari seri pertama Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura, memulai kisah lanjutannya dari wilayah Jombang yang kemudian mengingatkan mereka pada… Gombloh ? Atau Sutan Batoegana ? *ealah… Gus Dur om… hehehe…

Tiga Manula 2

Perjalanan selanjutnya pun masuk ke Blitar, mengunjungi kompleks Makam Bung Karno, presiden RI pertama serta biar komplit, lanjut ke Karanganyar, peristirahatan terakhir Pak Harto, presiden kedua RI yang berkuasa lebih dari 30 tahun lamanya. Tak lupa blusukan ke Kota Solo, tempat asal Calon Presiden RI tahun 2014 nanti. *uhuk

Seperti biasa, selain berbagi Tips terkait ke-khas-an masing-masing daerah yang dilewati, tidak lupa mencicipi kuliner daerah seperti Selat Solo, Bestik, Tengkleng dan Sate Kere, atau Kopi Areng yang jujur saja baru kali ini saya tahu. :p

Makin aneh lagi ketika masuk ke bahasan Sate Klathak dengan tusukan Jeruji sepeda, Jadah Tempe yang dimodif jadi Big Mac :p hingga Nasi Tutug Oncom khas Tasikmalaya.

Sedangkan objek wisata ada Alun-Alun selatan Keraton Jogyakarta, Candi Borobudur dengan salah satu stupa yang ‘mengabulkan harapan’, hingga Benteng Karang Bolong di Nusakambangan.

Tampaknya kisah yang ingin dibagi oleh Benny Rachmadi tak melulu soal kelucuan kartun, namun juga eksplorasi budaya dan melimpahruahnya kebhinekaan yang ada di negara kita. Patut diacungi jempol tentu saja.

Jadi, bagi kalian yang ingin tahu meski secara tidak langsung soal kuliner, objek wisata hingga hal-hal yang sekiranya unik ditemukan di seantero Pulau Jawa, dua buku Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura dan Selatan Jawa bisa dijadikan pilihan asyik sembari terkikik. Selamat menikmati yah…

Melanjutkan kisah Tiga Manula Benny Rachmadi

Category : tentang SKetSa

Masih ingat cerita kocak Tiga Manula Waluyo, Sanip dan Liem si juragan tajir yang beruntung bisa jalan-jalan ke Singapura, pasca banjir keuntungan dagangan tablet ? Kini mereka kembali lagi lewat kisah jalan-jalan ke Pantura atau jalur Pantai Utara. Bagi yang kerap mudik, saya yakin pasti tau dan pernah menyambanginya.

Adalah Waluyo, salah satu dari tiga Tokoh Manula yang menjadi peran utama selama perjalanan, merasa kangen dengan desa kelahirannya Tingal Wetan dan memilih untuk rendeman di dalam sebuah sumur. Merasa kasihan, si juragan Liem lalu berupaya untuk mengantarkan si Waluyo mudik ke desa asal, yang rupanya kelupaan kalo Tingal Wetan itu ada dimana. Maka diusulkanlah untuk menyusuri Jalur Pantura atau Pantai Utara dengan harapan, Waluyo bisa mengingat kembali dimana Desa kelahiran Tingal Wetan berada.

Seperti biasa, Benny Rachmadi sang kartunis mengawali kisah dengan memberikan beberapa Tips ringan terkait persiapan perjalanan. Termasuk rute pertama yang dikunjungi dari Cikampek.

Tiga Manula 1

Berkarya dan Berkarya.

Kurang lebih begitu yang dapat saya gambarkan untuk seorang Benny Rachmadi, kartunis kelahiran Samarinda 23 Agustus 1969 silam. Setidaknya kemampuannya terus terasah dari seri komik strip di mingguan Kompas, ke bentuk buku dengan berbagai topik nakal. Diantaranya yang pernah dikisahkan dalam blog ini ada 100 Peristiwa yang Bisa Menimpa Anda, 100 Tokoh yang mewarnai Jakarta, dobel kisah Dari Presiden ke Presiden, atau Lost in Bali jilid 1 dan 2 yang merupakan tandem bareng Mice sang rekan termasuk kisah Tiga Manula seri pertama, Jalan-Jalan ke Singapura.

Seperti halnya tulisan seorang blogger atau kolumnis yang merasa sudah jatuh cinta pada dunianya, tak semua karya kemudian bisa memuaskan hasrat para penggemarnya, demikian halnya saya akan karya Tiga Manula lanjutan kali ini. Namun demikian, apa yang tergambar saya yakini memang benar adanya, yang kemudian seakan menampar wajah sendiri. Jadi antara ngakak, senyum simpul hingga miris sendiri, dapat timbul begitu saja tergantung dari sudut pandang orang yang menikmatinya. Tapi mengingat tujuan diluncurkannya buku Tiga Manula ini adalah untuk bersenang-senang atau menertawai diri sendiri, jadi ya dinikmati saja apa adanya.

Saat melalui beberapa rute perjalanan, selain Tips ada juga diberikan beberapa jenis kuliner yang kurang lebih bisa diartikan sebagai hal yang patut dicoba dari ke-khas-an dari daerah tersebut, bisa juga ‘iklan sponsor’ yang dipesan. Hehehe… jadi ya tergantung dari sudut pandang tadi. Katakanlah Nasi Jamblang Cirebon, Kupat Glabed ‘Ibu Inah’ Brebes, Rawon Kalkulator atau Nasi Gandul kota Pati.

Tiga Manula 3

Uniknya, ada juga ke-khas-an lain yang coba ditunjukkan dalam cerita seperti Batik Mega Mendung Cirebon, Ikan Dewa objek wisata Cibulan Jawa Barat, 67 Toilet Bersih Tegal, Batik Tulis Pekalongan, hingga Kakek Misterius Alas Roban. Semua diramu dengan ciri kartun Mas Benny yang menggelitik.

Cerita Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura yang diterbitkan pertama pada November 2012 ini secara tidak sengaja (atau memang sengaja), dilahirkan di era kekinian dimana salah satu ‘petunjuk’ penting yang dapat dilihat secara jelas adalah sosok kendaraan yang digunakan, Honda CRV edisi terakhir, lengkap dengan wajah baru dan buritan belakang yang bengkok. Meskipun bisa jadi beberapa ide dan penuangannya sempat dibuat jauh sebelumnya. Jadi tergolong anyar-lah untuk dinikmati.

Politik Santun ‘PSSI’ dalam Kartun Mice Misrad

Category : tentang InSPiRasi

Berikut beberapa gambar goresan kartun karya Muhammad Mice Misrad dalam buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ tentang kisah PSSI dan Nurdin Halid ditambah beberapa Isu Internasional yang sempat hadir di Indonesia.

*

*

*

* > Isu Internasional

*

*

*

*

*

Politik Santun ‘Penegak Hukum’ dalam Kartun Mice Misrad

Category : tentang InSPiRasi

Berikut beberapa gambar goresan kartun karya Muhammad Mice Misrad dalam buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ tentang kisah KPK, Menteri dan para Penegak Hukum yang kerap dipertanyakan kredibilitas serta kesungguhannya dalam memberantas Korupsi.

*

*

*

* > KPK

*

*

* > Menteri

*

*

Politik Santun ‘Partai’ dan ‘Korupsi’ dalam Kartun Mice Misrad

Category : tentang InSPiRasi

Berikut beberapa gambar goresan kartun karya Muhammad Mice Misrad dalam buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ tentang kisah Partai Politik yang begitu lekat dengan Budaya Korupsi.

*

*

*

*

*

*

* > Korupsi

*

*

*

Politik Santun ‘Kasus Besar’ dalam Kartun Mice Misrad

Category : tentang InSPiRasi

Berikut beberapa gambar goresan kartun karya Muhammad Mice Misrad dalam buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ tentang kisah Gayus dan Nazaruddin, dua tokoh fenomenal kasus korupsi serta beberapa Kasus Besar yang agaknya bakalan begitu mudah dilupakan dan dimaafkan.

*

*

*

*

* > Gayus dan Nazaruddin

*

*

*

*

*

Politik Santun ‘DPR’ dalam Kartun Mice Misrad

1

Category : tentang InSPiRasi

Berikut beberapa gambar goresan kartun karya Muhammad Mice Misrad dalam buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ tentang kisah anggota Dewan kita yang Terhormat DPR.

*

*

*

*

*

*

*

*

Politik Santun ‘Presiden’ dalam Kartun Mice Misrad

Category : tentang InSPiRasi

Berikut beberapa gambar goresan kartun karya Muhammad Mice Misrad dalam buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ tentang kisah pak Presiden BeYe.

*

*

*

*

*

*

*

*

Politik Santun dalam Kartun Mice Misrad

Category : tentang InSPiRasi

MIRIS

Barangkali satu kata diatas sudah cukup kuat untuk menggambarkan perasaan saya saat membuka lebar demi lembar halaman buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ yang digoreskan oleh Muhammad Mice Misrad, sebuah kumpulan kisah karut marutnya Indonesia secara menggelitik namun tetap unik dan menarik. Halah…

Demi memberi apresiasi kepada Mice Misrad dari duo Benny & Mice yang tampaknya cukup produktif dalam merilis buku kumpulan kartun, kelihatannya Satu Minggu ini blog www.pandebaik.com bakalan berisikan beberapa gambar hasil comotan buku ‘Politik Santun dalam Kartun’ yang saya anggap pantas mewakili dan patut untuk dikenang serta dipertanyakan kembali.

Cover Depan (atas) dan Belakang (bawah)

Dan seperti halnya tulisan ataupun berita media, goresan kartun karya Mice Misrad pun merupakan satu catatan sejarah yang patut dibanggakan keberadaannya, minimal mampu mengingatkan kita sebagai masyarakat Indonesia akan segala topik hangat partai politik dan pemerintahannya yang menurut saya pribadi sangat mengecewakan. Bagi yang rajin mengikuti perkembangan lewat media cetak ataupun televisi, saya yakin gag akan membutuhkan waktu lama untuk memahami maksud hati yang tertuang dalam goresan tersebut.

Penasaran ? tunggu mulai besok yah