Lapindo ow ow Lapindo

Category : tentang KeseHaRian

Majalah Tempo edisi 2006, sempat menuangkan tema lumpur Lapindo, yang menceritakan rincian terjadinya luapan lumpur di sebuah desa tak terkenal, Sidoarjo.Walopun kini Lapindo bisa dijadikan salah satu obyek wisata untuk membantu pengumpula dana bagi para korbannya, namun orang yang paling bertanggung jawab atas semua hal ini, malah masih melenggang kangkung saat penghuni TAS sibuk memblokade jalan, karena kecewa dan marahnya mereka, tak juga disantuni hingga hari ini.

Perbuatan mereka tentu mencoreng luka yang lebih dalam, dan jangan menyalahkan kami, jika kami apriori pada segala tindakan pejabat dan tentunya pemborong proyek lapangan.

Hey, dimanakah hati nurani kalian ?
Telah tertutup oleh milyaran uang yang disodorkan sang penggagas luapan lumpur ?

Ternyata mental orang-orang yang bertanggungjawab akan hal ini bisa terjadi, gak ubahnya mental otak udang, namun herannya masyarakat masih aja terbuai dengan musibah transportasi dibanding Lumpur Lapindo ini.
Huh.

Sumbangan Untuk Gempa Djogja

Category : tentang KeseHaRian

Djogja dilanda gempa, sudah hampir seminggu ini berlalu, namun dikoran-koran tetap saja muncul masalah klise, bantuan yang datangnya terlambat.Namun di Denpasar, seperti biasa, muncul banyak orang yang membawa kotak sumbangan dijalan-jalan, untuk mencari para dermawan yang bersedia menyumbangkan sedikit uangnya sebagai rasa berbela sungkawa atas bencana yang menimpa Djogja.

Tapi apakah kita pernah terlintas dalam ikiran, apakah dana yang masuk dalam sumbangan yang digelar di tengah-tengah jalan, dengan mengatasnamakan satu LSM atau organisasi tertentu, memang benar akan disalurkan ke daerah yang terkena bencana, ataukah tidak ada pertanggungjawaban lanjutan, sehingga dana tersebut malah masuk ke kantong pribadi ?

Ini juga sempat terlintas pada saat Pemerintah menggalang dana bantuan , namun mengingat klisenya permasalahan yang sering terjadi, dana bantuan disunat, dengan alasan administrasi, atau lainnya.

Aku rasa ini semua kembali pada moral sang penggagas sumbangan, dan pertanggung jawaban secara pribadi pada Tuhan nantinya, yang aku yakin takkan bisa dihapus sedemikian mudahnya dengan amal-amal yang ia lakukan untuk mendapat sekedar publisitas di mata masyarakat.

Indonesia-ku

Category : tentang KeseHaRian

Bencana Djogja terjadi, Acehpun sudah lebih dulu tertimpa Tsunami, dan yang lebih membuat miris, bangsa-bangsa yang berada diluar Indonesia seakan-akan berlomba untuk menyampaikan bantuannya lebih dulu ke lokasi bencana, entah karena alasan kemanusiaan ataukah politis ? Sebagian orang yang dulunya asyik berdemo, kini mengecam tindakan-tindakan bangsa-bangsa luar yang memberikan sumbangan, dengan berbagai macam pembenaran atas alasan-alasan yang mereka kemukakan dapat mengancam persatuan bangsa Indonesia ini.

Lain lagi dengan orang-orang maupun tokoh masyarakat dan partai politik setempat, juga ikut berlomba memberikan sumbangan, tapi tentunya dengan mengundang pers terlebih dahulu, guna meliput kegiatan tersebut.

Masyarakat yang dulunya lebih banyak berdiam diri, menyaksikan para politikus saling hantam dalam pemerintahan, kini mulai bersuara, mendukung bangsa-bangsa luar yang begitu sigap memberikan bantuan secara riil, dan berharap bisa mencapai keseluruhan korban bencana.

Organisasi LSM maupun Instansi Pemerintah juga berlomba menggalang dana untuk disalurkan entah apakah sampai secara langsung dan utuh, ataukah disunat terlebih dahulu untuk kepentingan pribadi tertentu.

Ada juga Petinggi-petinggi Negara, yang lebih banyak melakukan Kunjungan terlebih dahulu, mengecek ke lokasi, apakah memang benar bencana memporakporandakan lokasi, ataukah itu hanya sekedar hal yang dibesar-besarkan oleh koran dan media lainnya, untuk kemudian ditindak lanjuti melalui birokrasi yang panjang dan rumit, dan mungkin saja setelah sebulan lebih baru dananya bisa terealisasi.

Masyarakat yang akhirnya menunggu terlalu lama, sudah tidak sabar, karena yakin bahwa Pemerintah tidak akan peduli begitu cepat menyalurkan bantuan, lantas menjarah tempat-tempat tertentu, hanya untuk mengganjal perutnya yang lapar.

Bersyukur, masih ada orang-orang yang menjadi relawan kemanusiaan, tanpa dibayar atas segenap peluh yang dikeluarkannya untuk membantu korban bencana di lokasi kejadian.

Itu semua baru 1 bencana dari sekian hal yang terjadi di Indonesia. Belum lagi masalah-masalah yang lalu, belum dapat diselesaikan secara maksimal oleh Pemeintah Indonesiaku, walaupun sudah mencapai waktu Tahunan.

Mungkin Indonesia sudah lupa dengan Aceh dan Tsunaminya, Mahasiswa dan Tragedi Semangginya, Poso Sampit dengan Perang Antar Sukunya, Papua dengan Freeportnya, Bali dengan 2 buah Bom di 2 tempat, atau malah Kudatuli yang mungkin saja melibatkan Petinggi-petinggi Negara saat itu, dan yang paling terlihat adalah Soeharto dan Kroninya….

Entah sampai kapan, Bangsa ini harus menunggu Indonesia yang makmur loh jinawi. Duuuh…

Hikmah dibalik Gempa Jogja

Category : tentang KeseHaRian

Setelah 2 hari Gempa Jogja berlalu, baru terbersit keinginan untuk menulis kembali di Blog ini, tentunya ikut mengeluarkan Uneg-uneg berkaitan dengan Gempa tersebut. Bukan ingin menyorot kelambatan Pemerintah dalam menangani korban gempa atau penjelasan ilmiah kenapa gempa sampai terjadi, hanya ingin bicara mengenai apa yang aku yakini, bahwa ‘Orang yang mati muda, adalah orang yang Tugas dan Kewajibannya dalam dunia ini sudah selesai’.

Sedangkan orang yang tersisa, selamat dari Bencana, adalah orang yang memiliki masih Tugas Tambahan, untuk membayar hutang-hutangnya di masa lalu..

Dalam Agama Hindu, disebut Karmapala.

Orang-orang yang mati dalam Bencana, baik Aceh maupun Djogja, bagiku adalah orang yang beruntung.. karena kematiannya tidak didahului dengan kesakitan.. mati begitu saja.
Mungkin ada orang yang tidak sependapat denganku, bahwa mati terbaik, adalah mati saat kita tidur, seperti yang dialami adik sepupuku (alm).
Semakin muda usia orang itu melakoni kematian, semakin cepat proses kematiannya, bagiku adalah orang-orang yang beruntung (seperti kata-kata Soe Hok Gie).
Karena mereka tidak mengalami kesedihan akibat ditinggalkan, atau tidak ikut berbagi tugas dalam menyelesaikan proses kematiannya, atau yang paling besar, ikut serta dalam memecahkan persoalan yang ada dalam lingkungannya maupun Bangsa ini..

Kita, orang-orang yang tersisa, adalah orang-orang yang diminta oleh-Nya, untuk dapat berbagi kasih, saling menolong sesama yang menjadi korban gempa, maupun orang-orang yang memerlukan nantinya, atau mungkin saja Dia meminta pada kita untuk menghentikan aksi-aksi yang bertujuan untuk memecah belah Persatuan Bangsa ini.

Ironis kan  ?
Kita, orang-orang yang tersisa, bukanlah Orang yang Beruntung, masih dapat melihat gadis cantik melintas didepan mata, masih dapat menikmati kecanggihan teknologi yang ada, karena semua itu akan kembali pada-Nya nanti, saat kita sudah dihadapkan pada kematian.

Apa yang akan kita bawa ke alam kematian ?
Teknologi ? Gadis cantik ? Uang hasil jerih payah selama hidup ?
Tidak ada.

Jadi, Berbuat Baiklah mulai kini.
Banyak tersenyum dan berbagi…
Mungkin saja hari ini akan menjadi hari terakhir bagi kita dalam menjalani hidup, mungkin aja, gak sampai 5 menit setelah posting ini selesai, bisa saja ajal sudah menanti didepan, so, jadilah yang ¬†Terbaik dalam hidup…

(Pande)