Mengenal Barong Landung

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Lima sosok tinggi besar itu tampak berjalan beriringan ditengah keramaian umat Hindu yang berjejal, beradu padu suara gambelan Batel, saat matahari masih bersemu merah diujung timur sana.

Barong Landung. Merupakan salah satu wujud susuhunan yang dikeramatkan oleh umat Hindu di Bali, dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu.  Sebuah Pralingga sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Ditarikan sepanjang jalan desa dengan harapan dapat menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru, seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk mengembalikan roh kehidupan.

Ada banyak versi cerita yang dapat diungkap untuk mengetahui sejarah keberadaan Barong Landung di tanah Bali. Salah satunya seperti yang diceritakan oleh Pande Ketut Wena (BaliPost/2005).

“Bersumber pada kisah Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, dimana kerajaannya berpusat di Panarojan, tiga kilometer di sebelah utara Kintamani yang dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.

Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri — Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei — itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.”

Akan tetapi Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya adalah duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda, dua sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh api akan menguap ke langit (I Bapa), sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri akan menurunkan hujan untuk menyuburkan bumi dan melahirkan kehidupan.

Kemungkinan besar Barong Landung adalah perwujudan I Bapa dan I Meme. I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde), simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi yang mengandung, memelihara, dan akan mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya telah tiba.

Dalam Barong Landung, undagi sepertinya sengaja membuat wujud yang sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa. Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan “dihidupkan” dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya — ang, ung, dan mang.

Jro Gde atau yang kami kenal dengan sebutan Ratu Gede, memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat, mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris. Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina. Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri, mengingat kiri sama artinya dengan pengiwa. Lawan pengiwa adalah penengen — tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus sebagaimana jalan kebenaran.

Di beberapa tempat di Bali (salah satunya lingkungan kami, Banjar Taensiat) ada juga Barong Landung yang lebih lengkap dari pada yang hanya sepasang saja, tetapi ada yang diberi peran seperti Mantri, Galuh, Limbur, Patih dan sebagainya. Selain sebagai Sesuhunan dan dipuja secara berkala, Barong landung terkadang juga dipakai sebagai anggota dalam pementasan yang membawakan lakon Arja (terutama didaerah Badung) dan diiringi dengan gamelan Batel.

Barong Landung yang ada di lingkungan kami berjumlah 5 (lima), dipuja setiap rahinan Kajeng Kliwon yang jatuh setiap 15 hari sekali. Secara berkala melakukan perjalanan (istilahnya Melancaran)  keliling desa dengan harapan seperti yang telah dipaparkan diatas, serta melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang disucikan seperti Beji dan Pasih (pantai) sebelum Hari Raya Nyepi dan juga Pura Dalem BonKeneng (jalan Ratna) setiap rahinan Manis Kuningan.

Mengenal Barong

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Bagi saya pribadi sosok sakral yang satu ini merupakan salah satu daya tarik mengapa para wisatawan mancanegara begitu penasaran dengan Bali, diluar keindahan alamnya. Ketertarikan tersebut saya yakin dirasakan pula oleh sebagian besar umat Hindu dan penduduk Bali lantaran pesona magis maupun penampilannya yang begitu mengigit.

Untuk pertama kalinya saya mengabadikan beberapa sosok Barong yang biasanya disakralkan oleh Umat Hindu kalau tidak salah, jaman perkuliahan. Meminjam sebuah kamera analog, sayapun berangkat menuju Art Centre, dimana di salah satu gedungnya terdapat berbagai macam Barong yang dipajang lengkap dengan cerita atau historynya.

Barong menurut I Made Bandem, adalah topeng yang berwujud binatang mitologi yang memiliki kekuatan gaib dan dijadikan pelindung masyarakat Bali. Dilihat dari ikonografi topeng-topeng barong yang ada di Bali, nampak adanya perpaduan antara kebudayaan Bali Kuna dengan kebudayaan Hindu, khususnya kebudayaan Hindu yang bercorak Budha. Topeng-topeng barong seperti itu terdapat pula di negara-negara penganut agama Budha seperti Jepang dan Cina. Di Cina, tradisi mengenai kepercayaan terhadap naga yang dianggap memiliki kekuatan gaib sudah tua umurnya. Contoh, naga-naga dalam kebudayaan Zaman Batu Baru (Neolithic) dilukis pada vas-vas bunga dan diukir pada batu giok. Pada Zaman Perunggu (Bronze Age) di Cina, naga-naga diasosiasikan dengan kekuatan dan manifestasi alam semesta, seperti angin, kilat dan petir.

Masih menurut I Made Bandem, ada versi lain mengenai munculnya barong di Bali. Banyak para sarjana memastikan bahwa asal mula barong adalah tari singa Cina yang muncul selama dinasti Tang (abad ke 7-10) dan menyebar ke berbagai negara bagian di Asia Timur. Nampaknya pertunjukan tari singa ini pada awalnya merupakan suatu bentuk pengganti dan pertunjukan singa asli oleh para penghibur keliling profesional (sirkus) yang tampil di setiap pasar malam atau festival musiman. Bila dihubungkan dengan Sang Budha,tari singa Cina memiliki konotasi sebagai pengusir bala yang hidup sampai masa sekarang. Dilihat dan fungsinya barong-barong di Bali juga melakukan perjalanan ke luar desanya, berkeliling mengunjungi desa-desa lain, mengadakan pementasan di jalan raya atau dirumah orang secara profesional, memungut uang untuk kepentingan kesejahteraan sekaa (group/kelompok) yang disebut ngalawang.

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait NgeLawang, menurut Babad Bali merupakan sebuah garapan tari kontemporer yang banyak diilhami oleh tari Barong Ket yang keberadaannya tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Kabarnya ngeLawang ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang berkeliaran di desa setempat, menyucikan desa hingga sebagai antisipasi pertama ketika desa diserang wabah penyakit.

Barong Ket dianggap sebagai manifestasi dari banaspati raja atau raja hutan. Orang Bali menganggap seekor singa sebagai raja hutan yang paling dasyat. Konsep yang sama juga terdapat di India, Cina, dan Indonesia. Di Jawa, figur Barong Ket seperti di Bali disebut Barong Singa, dan Reog Ponorogo. Jika diteliti secara mendalam mengenai ikonografinya, memang bentuk dasar dari topeng Kala itu ialah muka singa. Di India penggambaran ini disebut Shimamukha, atau Khirtimukha. Dalam hal ini singa dipilih sebagai figur barong adalah karena singa memiliki kemampuan untuk menghancurkan kekuatan jahat. Di Bali Barong Ket dianggap sebagai simbol kebaikan. Dalam pementasan tari barong di Bali, figur Barong Ket dijadikan simbol kemenangan dan Rangda merupakan simbol pihak yang kalah. Namun di luar konteks seni pegelaran, kedua figur itu duduk sejajar sebagai pelindung masyarakat.

Beberapa jenis Barong yang dikenal atau populer di kalangan Umat Hindu Bali ada Barong Ket atau Ketet (mengambil rupa singa, seperti cerita diatas tadi), Barong Bangkung (mengambil rupa Celeng atau Babi, biasanya digunakan pula untuk tradisi ngeLawang), Barong Macan (mengambil rupa Harimau), Barong Brutuk (mengambil rupa Lembu, biasanya ditarikan di daerah Trunyan) dan ada juga Barong Kadingkling atau yang dikenal pula dengan Barong Blasblasan (mengambil rupa wayang wong). Dua jenis barong yang disebutkan terakhir bisa dikatakan sangat jarang kita temui dalam kegiatan adat sehari-hari.

Di luar lima jenis Barong diatas tadi, ada juga yang dikenal dengan sebutan Barong Landung. Apa itu Barong Landung, tunggu tulisan selanjutnya ya.

 

Mari Mengenal Wayang Kulit

9

Category : tentang InSPiRasi

Wayang kurang lebih berasal dari Bayang. Bayang-bayangan kulit yang ditatah dengan nilai seni tinggi inilah yang ditonton orang dari balik layar dengan bantuan suluh lampu belencong, bergerak menghidupkan satu lakon diiringi lantunan gender, membuat orang bersorak sorai, bertepuk tangan, mencemooh terkadang menangis. Inilah Wayang Kulit.

Wayang hingga saat ini dipandang sebagai warisan Indonesia Purba –Pra Hindu, dimana baik tanah Jawa maupun Bali, Wayang telah dikenal dengan baik. Di Jawa Barat, dikenal adanya Wayang Golek yang terbuat dari kayu, dipentaskan tanpa kelir dan mengambil lakon dari ceritera Islam. Di Jawa Timur terdapat pula Wayang Klitik atau Krucil, terbuat dari kayu pipih dan mengambil ceritera Damarwulan. Ada juga Wayang Tingul dimana serupa dengan Wayang Golek hanya tanpa badan, digerakkan dengan memasukkan tangan kedalamnya dan juga Wayang Wong dimana Manusia-lah yang menjadi Wayangnya.

Pertunjukan Wayang Kulit biasanya sangat erat kaitannya dengan upacara Ruwatan atau upacara sakral yang berhubungan dengan kehidupan manusia sejak lahir, hidup dan mati. Sebuah pertunjukan Wayang Kulit merupakan satu pertunjukan teater yang lengkap dimana berbagai unsur seni berpadu didalamnya. Seni suara, sastra, seni rupa, gerak / tari dan juga drama. Peran sutradara, koreografer dan sekaligus pemain diborong sang Dalang. Tak mengherankan apabila seorang Dalang harus memiliki segudang Pengetahuan baik Filsafat, Agama, Hukum dan berbagai aspek kehidupan serta mampu merangkum semuanya dalam satu aktualitas yang segar. Apalagi jika iramu dengan lelucon yang mengocok perut penonton atau melagukan nyanyian yang meneteskan air mata. Disini pula letak perbedaannya dengan Dalang Jawa. Dalang Bali mengerjakan semuanya.

Seorang Dalang didampingi pembantunya yang disebut dengan Ketengkong atau Pengabih. Tugas utamanya adalah mempersiapkan wayang mana saja yang akan naik ke pentas kelir. Tentu saja sang Ketengkong ini harus paham pula dengan rencana ceritera yang dilakoni sang Dalang. Wayang-wayang ini biasanya diletakkan dan disimpan dalam sebuah Keropak atau kotak kayu yang dinamakan Gedog.

Pendamping Dalang lainnya adalah Penabuh Gender. Jumlahnya bisa dua (sepasang), empat atau lebih. Ini dilakukan apabila untuk mengiringi lakon yang dibawakan membutuhkan gambelan Batel, gambelan –musik tradisional Bali-  yang biasanya digunakan pula pada sebuah pertunjukan Barong.

Tak mengherankan apabila syarat untuk menjadi seorang Dalang itu tidaklah gampang. Dia mesti cakap atau paling tidak hafal dengan tetabuhan gender, bisa pula menyanyikan lagu kekawin, pupuh atau kidung, serta tahu tembang tertentu untuk jenis wayang yang tertentu pula. Dalang juga Harus pandai berbahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno) pun Bahasa Bali, Karena dalam setiap peran yang menggunakan Bahasa Kawi, diterjemahkan pula dalam Bahasa Bali oleh sang Punakawan. Mesti pula hafal berbagai lakon, filsafat agama Hindu serta Ilmu keBathinan. Sebab disamping sebagai seorang seniman, seorang Dalang biasanya berlaku pula sebagai seorang Rohaniawan, karena itulah disebut Pemangku atau Mangku Dalang –yang menyelesaikan upacara pensucian orang, ruwatan atau untuk keperluan upacara lainnya. Terkait Punakawan, silahkan baca kembali tulisan lama saya terkait Mengenal Punakawan dalam Wayang Kulit ya.

Persiapan untuk melakukan sebuah Pertunjukan Wayang Kulit tidak bisa sembarangan dilakukan, karena sudah baku sejak Wayang itu dikenal. Pamungkah adalah adegan dimana seorang Dalang mulai membuka peti kotak kayu atau Gedog Wayang, mengambilnya satu persatu. Dilanjutkan dengan Peguneman atau permusyawaratan antar beberapa tokoh yang akan mengambil peran dalam ceritera, Pemahbah saat dimana sang dalang mengucapkan rangkaian wacana memohon ijin pada Tuhan serta Bethara Bethari agar tidak terkena kutukannya, Lelampahan atau pertunjukan utama sesuai alur ceritera dan diakhiri dengan Pamempenan atau menyimpan kembali Wayang-wayang yang telah diampilkan kedalam keropak atau Gedog Wayang yang didahului  dengan upacara menghaturkan sesajen dan memohon air suci atau yang dikenal dengan Tirtha Wayang.

Pertunjukan Wayang Kulit yang mengambil lakon Mahabharata disebut dengan Wayang Parwa, dimana hanya membutuhkan atau diiringi 2 (dua) gender Wayang besar dan kecil. Sebaliknya Wayang Kulit yang mengambil lakon Ramayana yang disarati dengan “pemain” golongan Wenara atau Kera, harus mendapatkan iringan yang jauh lebih meriah. Karena itu diperlukan 2 (dua) pasang gender Wayang, sepasang kendang krumpungan lanang dan wadon, sebuah kempul atau kempluk, sebuah ricik atau cengceng cenik, sebuah atau lebih Suling dan sebuah Kajar. Dalam perkembangannya, kebutuhan akan gambelan pengiring ini makin meriah dengan adanya gambelan gong lengkap atau abarung seperti yang kerap dipertunjukkan oleh Dalang Nardayana atau yang lebih dikenal sebagai Wayang CenkBlonk.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2011

19

Category : tentang InSPiRasi

Entah mengapa ketika mencermati penampilan beberapa Ogoh-Ogoh di seputaran Kota Denpasar nampaknya lebih banyak terinspirasi dari Juara Pertama Lomba Ogoh-Ogoh yang diselenggarakan Walikota Denpasar Tahun 2010 lalu. Chandra Bhairawa buah karya Sekaa Teruna Yowana Saka Bhuwana Banjar Tainsiat. Ogoh-ogoh yang menampilkan banyak perwajahan (dibuat dan disusun sedemikian rupa) tiga hingga sembilan wajah ditambah dua tiga pasang tangan, beraksi dengan pose yang nyaris sama.

Untuk Ogoh-ogoh berukuran besar didominasi dengan bahan gabus sebagai bahan dasar pembuatan sehingga memungkinkan terbentuknya otot dan lekukan tubuh sekecil dan sedetail apapun. Pose dan aksi mereka juga lebih banyak menantang, dari yang hanya berpegangan pada sebuah bambu, pohon, senjata ataupun kayu atau bahkan layaknya sedang terbang. Berkat pewarnaan dan hiasan yang diberikan, ogoh-ogoh yang tahun ini ditampilkan kembali di seputaran Alun-Alun Kota Denpasar ini jadi semakin hidup.

Dibandingkan Tahun lalu, secara jumlah Ogoh-ogoh yang tampil di seputaran Kota Denpasar saya rasa lebih sedikit, itupun secara sosok juga jadi kurang kreatif. Kendati begitu, beberapa diantaranya masih ada yang mengambil situasi sosial negeri diantaranya ogoh-ogoh Gayus Tambunan, Rabies atau KPK.

Berikut beberapa penampakan Ogoh-ogoh seputaran Kota Denpasar Tahun 2011 yang sempat saya ambil sore tadi.

Mengenal Hari Raya Nyepi ; Tahun Baru Caka 1933

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Pagi itu terasa lengang, hari berlalu seakan tak bernafas. Panas terik yang berasa makin menyengat tak pupuskan tawa ceria kami asyik bermain disepanjang jalan.

Nyepi adalah satu-satunya hari yang paling kami nanti saat kecil dulu. Hari dimana kami bisa lepas bermain sejak pagi hingga sandya kala tanpa harus diganggu raungan motor dan laju kencangnya mobil dijalan depan rumah, walau sesekali harus kabur ke segala arah menghindari hardikan para Pecalang yang tampak garang di kejauhan. Malam haripun biasanya kami lalui dengan duduk bersenda gurau dikegelapan tanpa penerangan secuil pun.

Berjalan menyusuri sepanjang jalan Nangka dari ujung Selatan hingga Utara sepertinya tak pernah memberi rasa lelah sedikitpun karena para tetangga selalu siap menyambut kami dengan segelas kopi dan beberapa penganan. Nyepi tidaklah sesepi yang dibayangkan orang.

Hari Raya Nyepi adalah hari  yang dirayakan oleh Umat Hindu setiap kali mereka menyambut Tahun Baru yang disebut pula sebagai Tahun Baru Caka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (kesembilan) yang dipercaya merupakan hari penyucian dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi atau senyap). Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Berbeda dengan perayaan tahun Baru lainnya,  Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Udara Internasional, Rumah Makan, Perhotelan (dalam teorinya namun tidak dalam prakteknya) namun tidak berlaku untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuwana Agung/macrocosmos/alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena pantai  atau danau merupakan sumber air suci (tirta amerta) yang diharapkan dapat menyucikan segala leteh/mala (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang kesembilan), umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (sesajian) menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya ini masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama kesepuluh), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan(tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu,  juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Caka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan kesepuluh). Pada hari ini Tahun Baru Caka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan satu sama lain.

Pecalang Perangkat Keamanan Panutan Desa Adat Bali

4

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Dalam beberapa hari kedepan, sosok tangguh yang satu ini bakalan kerap dijumpai disepanjang jalan pula Bali. Mereka akan hadir disetiap ujung jalan maupun persimpangan menjaga keamanan dan juga ketertiban pelaksanaan hari suci yang dipaling ditunggu-tunggu oleh semua umat Hindu. Tahun Baru Caka Hari Raya Nyepi 1933.

Pecalang adalah perangkat keamanan yang hadir disetiap desa adat yang secara tradisi diwarisi turun temurun dalam budaya Bali. Memiliki tugas untuk mengamankan dan menertibkan desa adat baik dalam keseharian maupun dalam hubungannya dengan penyelenggaraan upacara adat atau keagamaan.

Pada Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Caka, para pecalang ini melakukan ronda dari pagi hingga malam untuk memantau ketertiban pelaksanaan Brata Penyepian. Pakaian yang dikenakan dari satu daerah ke daerah lainnya bervariasi, namun pada umumnya tidak menggunakan baju atau atasan, sehingga penampilan Pecalang sekaligus sebagai ajang pamer kekekaran bidang tubuhnya. Meski demikian, ada juga pecalang yang mempergunakan baju perang tanpa lengan seperti rompi. Pecalang menggunakan Destar atau ikat kepala dan kain berwarna hitam, kampuh atau kain penutup badan bercorak belang khusus atau disebut poleng sudhamala. Setiap Pecalang biasanya menyungklit keris di bagian pinggang. Satu lagi yang tak kalah perannya adalah sebuah bunga kembang sepatu berwarna merah menyala yang terselip di telingan. Pucuk Arjuna.

Warna hitam yang mendominasi penampilan Pecalang melambangkan pengayoman dan pembinaan. Hal ini berkaitan dengan tugas dan kewajiban Pecalang yang diharapkan dapat membina ketertiban dan mengayomi masyarakat. Kain poleng Sudhamala sendiri yang memiliki tiga warna dasar, hitam, putih dan abu-abu memiliki arti atau makna ketegasan sikap yang mampu melebur segala kebusukan atau mala menjadi selaras dan harmonis.

Dengan bergesernya jaman, Pecalang dimasa kini hampir tidak lagi identik dengan badan yang kekar ataupun berwajah seram. Dari segi pakaian yang dikenakannya pun sudah mulai mengikuti perkembangan jaman. Atasan Kemeja berwarna gelap, dilengkapi dengan jaket hijau metalik yang biasanya digunakan pula oleh Polisi Lalu Lintas dan keris yang dahulunya kerap disandang, berganti dengan pentungan yang dapat dinyalakan sebagai tanda bagi para pengendara di jalan raya. Tidak jarang, perangkat komunikasi Handy Talkie pun disematkan di pinggang untuk mempermudah koordinasi jarak jauh.

Pecalang mulai naik daun ketika Bali diberi perhatian lebih untuk menyelenggarakan event-event besar baik dari kalangan partai politik maupun organisasi massa tertentu. Yang paling kentara adalah saat Kongres sebuah parpol berwarna dasar Merah yang dilaksanakan di lapangan Kapten Japa Padanggalak tahun 1999 lalu, peran Pecalang bisa dikatakan sangat dominan terlihat. Demikian halnya dalam setiap event berskala Regional digelar, Pecalang tak luput dari perhatian media.

Meski Pecalang memiliki tugas untuk membina ketertiban dan mengayomi masyarakat, ada saja satu dua oknum yang kemudian memanfaatkan emblem Pecalang ini untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang tak terpuji atau malah bertindak arogan dijalan raya. Itu sebabnya, terkadang ada saja yang terlihat petantang petenteng merasa paling berhak untuk mengatur segalanya.

Pecalang secara bahasa, kabarnya berasal dari kata ‘Celang’ atau Waspada. Sehingga diharapkan bagi mereka yang kemudian menyandang atau didaulat sebagai Pecalang harus mampu bersikap waspada terhadap segala tantangan baik itu yang datang dari masyarakat dan lingkungannya maupun dari diri sendiri. Pecalang memang sudah sepantasnya menjadi panutan bagi masyarakat.

Ogoh-Ogoh Gagah Dahulu dan Kini

9

Category : tentang InSPiRasi

Mengunjungi Bali belumlah lengkap jika belum menyempatkan diri untuk menonton arak-arakan Ogoh-Ogoh yang dilaksanakan setiap Tilem Sasih Kesanga atau Malam sebelum Umat Hindu merayakan Tahun Baru Caka yang dikenalpula dengan istilah Nyepi. Sebagai sa;ah satu produk seni Budaya Bali, Ogoh-ogoh hingga kini telah banyak mengalami perkembangan. Baik dari bahan dan cara pembuatannya, hingga penokohan atau makna yang dibawakannya.

Jika pada era tahun 90an, Ogoh-ogoh yang dibuat umumnya berwujud makhluk-makhluk menyeramkan dimana rangkanya dibuat dari dari bambu lalu dibungkus dengan kertas, kain atau benang pada bagian-bagian tertentu, maka pada tahun terakhir, jelas sangat jauh berbeda. Tak hanya dari segi rangka, bahkan secara keseluruhan Ogoh-ogoh lebih banyak dibuat dari bahan Gabus. Selain ringan, Kelebihannya lantaran Gabus lebih mudah dipahat dan dibuat menjadi macam-macam bentuk yang diinginkan tanpa memerlukan banyak waktu dan tenaga seperti halnya merakit bambu. Sayangnya secara finansial, penggunaan Gabus tentu jauh lebih banyak memerlukan modal ketimbang merakit bambu dan kertas.

Secara penokohan pun bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Siapa sih masyarakat Bali seputaran Kota Denpasar ataupun Sekaa Teruna Teruni yang bisa melupakan Ogoh-ogoh dengan figur Shincan tiga atau empat tahun yang lalu ? atau bahkan figur kenakalan anak-anak Negeri Tetangga Upin & Ipin ? ada juga yang mengambil figur Sangut Delem bahkan sang pedangdut ngeborpun ada.

Padahal secara makna, Ogoh-ogoh yang biasanya diarak keliling desa ini tidak lepas dari aktifitas Ritual, dalam hal ini kaitan upacara Bhutayadnya menjelang hari suci Nyepi. Ogoh-ogoh baru akan dihadirkan segera setelah usai pelaksanaan upacara. Diiringi suara gambelan –musik tradisional Bali- yang bertalu-talu ditingkah riuh rendah suara para pengarak. Semua itu mengandung makna untuk mengusir roh-roh jahat dari Desa yang bersangkutan. Maka itu sebabnya, perwujudan dari Ogoh-ogoh dibuat menyeramkan sebagai simbolisasi sifat-sifat keserakahan, ketamakan dan keangkaramurkaan.

Seiring perkembangan jaman, memang tidak salah sih jika profil ogoh-ogoh dibuat agak melenceng. Bahkan ada juga yang diselipi sindiran bagi para penguasa atau pejabat yang korup hingga yang berusaha untuk menyampaikan keluh kesah masyarakat secara vulgar. Wong roh jahat jaman edan begini tak lagi berbentuk menyeramkan, ada juga yang gagah, perlente bahkan berdasi. Hehehe…

Sayangnya Image ogoh-ogoh perlahan makin memudar seiring perilaku pengarak yang kerap bersentuhan dengan minum minuman keras atau bahkan kerap memicu perkelahian antar pengarak. Jiwa muda lebih banyak berbicara disini. Meski pada tahun lalu, Ogoh-ogoh sempat pula dilombakan oleh Walikota Denpasar untuk menarik minat wisatawan dan juga kreatifitas para generasi muda yang diharapkan tidak melulu berlaku negatif.

Sekedar Informasi, untuk tahun 2011 prosesi pengarakan ogoh-ogoh sedianya jatuh pada hari Jumat malam tanggal 4 Maret mendatang. Jadi, bagi kalian yang penasaran dan ingin menyaksikannya langsung, silahkan meluangkan waktunya dari sekarang.

(sebagian kecil dari sumber materi diatas saya ambil  dari buku Pesta Kesenian Bali Copyright Cita Budaya 1991 dan Ilustrasi Foto saya ambil dari besutannya Pak Ian Sumantika via FaceBook)

Gus Teja Rhythm of Paradise Inspiratif dan Menyejukkan

22

Category : tentang InSPiRasi

Valentine tahun 2011 ini rupanya membawa satu perubahan pada selera musik yang biasanya saya dengarkan saat senggang. Nama Gus Teja bisa jadi sudah familiar bagi mereka yang kerap menyambangi stasiun televisi DewataTV. Tidak demikian halnya dengan saya.

Gus Teja dengan album Rhythm of Paradise-nya, dikenalkan oleh seorang rekan kantor di unit LPSE Badung, Putu Budayasa, pagi hari disela kegiatan melatih dua belas anggota Gapensi Badung terkait pelaksanaan e-Procurement atau Pelelangan online di lingkungan Pemkab Badung. Galung, demikian nama panggilan pak Putu, Bapak tiga anak ini meminta saya untuk mencarikan album Rhythm of Paradise-nya Gus Teja di media Sharing 4Shared karena sepanjang pengetahuannya, salah satu tembang yang kerap ditayangkan di layar stasiun televisi DewataTV, Morning Happiness sangat inspiratif dan menyejukkan untuk mengantar tidur anak-anaknya.

Delapan track dari album tersebut dalam waktu tiga puluh menit berhasil saya dapatkan dan langsung diperdengarkan. Alunan sulingnya benar-benar menentramkan hati. Pun dengan petikan gitar yang jernih, lantunan gambelan dan tepukan perkusi. Sempat mengingatkan saya pada band Animo yang awal tahun 2008 lalu sempat tampil dalam Launching komunitas kami Bali Blogger Community.

Musik Bali Etnik karya Gus Teja membuat saya penasaran. Seperti biasa, untuk makin meyakinkan nafas sayapun berburu video musik yang bersangkutan melalui portal Video YouTube. Hasilnya Morning Happiness pun dapat saya nikmati dalam sebuah tampilan gambar yang jernih dan sangat indah. Mungkin inilah potret tembang Bali yang saya harapkan dapat terus dikembangkan, tidak hanya ber-Beli Adi, iluh jegeg ayu, tresna kanti mati.

Agus Teja, musisi muda dari Junjungan Ubud Bali ini sempat pula mengingatkan saya pada karya gitaris ternama Bali Wayan Balawan, yang dahulu pernah pula melahirkan beberapa tembang bersama Bali Ethnic Fusion-nya. Aransemen menarik dipadu dengan nuansa Bali yang kini telah dikenal diseluruh negeri.

Putri Cening Ayu, salah satu tembang yang ada dalam album Rhythm of Paradise sontak dikenal oleh MiRah GayatriDewi putri kami yang baru berusia 3 tahun. Tembang anak-anak Bali ini merupakan salah satu yang ia favoritkan sejak kecil. Meski demikian, saat mendengar aransemen baru dari Gus Teja ini, ia langsung bertanya ‘Pak, kok ndak ada yang nyanyi ? Gek iYah yang nyanyi ya’ lantas mengalunlah suaranya yang cadel itu disela lantunan musik Rabu pagi ini.

Tidak banyak informasi yang saya temukan di dunia maya terkait musisi satu ini. Kabarnya yang bersangkutan bisa ditemukan di jejaring sosial pertemanan FaceBook ataupun Twitter. Namun baik tembang Morning Happiness ataupun album Rhythm of Paradise milik Gus Teja ini benar-benar bisa menginsirasi pikiran saya hari ini.

Orang Bali yang sudah tak seperti dulu lagi

7

Category : tentang Opini

Saya pribadi bersyukur ketika sebuah media cetak mengabarkan bahwa kasus pencurian Pretima di seantero kota Denpasar dan Gianyar yang membuat gempar beberapa bulan lalu baik sudah mulai terkuak. Ditemukannya puluhan benda sakral dan magis di sebuah villa daerah Kuta Utara yang ironisnya ditempati seorang bule, merupakan satu awal yang dijarapkan dapat menyibak satu persatu siapa saja orang yang berada dibalik pencurian itu semua.

Adalah TuAJi, kira-kira demikian orang menyapanya, yang secara nama saya yakin merupakan orang yang dihormati dan disegani lingkungan sekitarnya di pulau Bali ini. Siapa sangka orang inilah yang kemudian ditenggarai terlibat dalam kasus pencurian Pretima.

Demikian pula saya amat sangat bersyukur ketika pada akhirnya Polisi menangkap pelaku sebuah tragedi di sebuah Pegadaian Singaraja yang pada akhirnya menyebabkan sang korban meninggal dunia. Tersangka Gede Mertayasa bahkan kabarnya sempat membenturkan kepala sang korban sebelum meninggalkan lokasi.

Yang tak kalah fenomenal adalah kasus pembunuhan Prabangsa, seorang wartawan media cetak Radar Bali yang rupanya dilakukan oleh sekomplotan manusia kelahiran Bali, tanah kelahiran kami tercinta. Nyoman Susrama dibantu beberapa anak buahnya, membantai secara sadis hanya karena pemberitaan dugaan kasus korupsi. Ironis.

Orang Bali (kini) sudah tak seperti dulu lagi…

Belasan tahun lalu, tamu domestik juga wisatawan manca negara selalu mengatakan bahwa Orang Bali itu ramah, Orang Bali itu ulet dalam bekerja, murah senyum yang kemudian menyebabkan mereka nyaman ketika berlibur ke Pulau Bali ini. Dimanakah mereka kini ?

Gempa di Pagi Hari…

3

Category : tentang KeseHaRian

…baru saja MiRah terlihat senang karena bisa menghabiskan nasi putih yang ada di piringnya… baru saja aku meneguk kopi dari mug kecil yang biasa menemani… baru saja kami sepakat untuk membatalkan rencana liburan kami ke sangeh lantaran ingin memperkenalkan MiRah dengan makhluk yang bernama Monyet…

Rumah bergetar mengagetkan aku yang masih duduk meladeni MiRah maem… Bapak langsung mengomandoi kami untuk segera keluar… jelas tampak pohon Jepun yang ada di Merajan kami bergoyang begitu keras… diiringi suara pecah yang langsung membuat aku teringat pada tragedi gempa yang selama ini melanda negeri ini…

Tak bisa aku bayangkan apabila rumah ini, tanah kelahiranku ini dilanda gempa yang jauh lebih keras… Tak bisa aku bayangkan apabila kami mendapatkan giliran menjadi korban berikutnya… Sungguh, Gempa di pagi hari ini membuat kami kebingungan, semburat lari keluar rumah, aku sendiri setelah menyerahkan MiRah pada Ibunya di halaman langsung masuk kerumah lagi untuk memutuskan arus listrik yang masih terpasang…

Gempa di pagi hari ini… kabarnya hingga 6,4 SR di 101 KM Tenggara Nusa Dua Bali… menyisakan gemetar pada tangan… mungkin akibat panik yang tiada tara… untuk menuliskan inipun, kepala rasanya masih bergoyang… perasaan yang sama seperti baru pulang dari berendam air di pantai…

Semoga setiap insan manusia, kami sekeluarga dan seluruh umat yang ada dilindungi oleh-NYA…