Selamat dan Sukses, Management Training LPSE Advance Badung Bali

2

Category : tentang PeKerJaan

Waktu sebenarnya telah menunjukkan pukul 8.30 pagi, saat kami Panitia Lokal event tingkat Nasional milik LKPP, Management Training LPSE Advance yang diadakan di Kabupaten Badung Propinsi Bali, 2 April 2013 kemarin, masih disibukkan oleh persiapan dan registrasi mengingat lokasi merupakan area kantor yang tidak memungkinkan kami meninggalkan sekian banyak barang disekitar ruangan. Maka jadilah pagi tersebut merupakan sesi paling berkeringat bagi saya pribadi sebagai salah satu dari Tim Panitia Lokal bentukan LPSE Badung. Ditambah jejalan pertanyaan yang diajukan oleh para pimpinan kami terkait waktu yang sudah molor hampir satu jam lamanya dari jadwal. Sementara Peserta, belum banyak yang tampak hadir di ruangan Kriya Gosana, bergeser dari rencana semula mengingat jumlah yang sampai pada kami H-1, tidak sebanyak yang diharapkan.

Rencana awal sesi Pembukaan kegiatan Management Training LPSE Advance, sebenarnya akan dilakukan oleh Bapak Bupati Badung, dimana draft Sambutan Beliau, masih saya kerjakan dan revisi hingga senin malam kemarin. Mengingat kalau tidak salah cerna, isinya masih merupakan hasil Copy Paste dari Sambutan Bupati Badung saat kegiatan milik ULP Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Badung dilaksanakan beberapa waktu lalu. Sayangnya, mengingat waktu yang tidak memungkinkan, maka acara diwakilkan oleh Bapak Kompyang Suandika selaku Sekda Kabupaten Badung mendampingi Bapak Patria Susantosa dari Direktorat e-Procurement LKPP.

image

Management Training LPSE Advance ini terpantau dari daftar absensi yang disediakan oleh pihak Panitia dari LKPP, sedianya akan diikuti oleh 23 LPSE dari berbagai penjuru nusantara. Namun dari daftar kehadiran yang ada pada kami, hanya 19 LPSE saja yang tercatat, itupun tidak dengan full team kehadiran personil sesuai daftar awal. Kabarnya sih beberapa diantara mereka terhalang kesibukan dan kondisi kesehatan. Maka itu, rencana penyiapan konsumsi dari sekitar 175 boks, jadi lumayan juga yang tersisa.

Pada sesi pertama kemarin, tepatnya pada topik Implementasi e-Procurement untuk Efisiensi dan Akuntabilitas Pengadaan barang/Jasa yang dibawakan oleh Bapak Patria, suasana diskusi rasanya masih terpengaruh oleh lelahnya kondisi masing-masing Peserta pasca perjalanan jauhnya, sehingga beberapa orang (termasuk saya) memilih berada di luar ruangan hingga stamina kembali meningkat. Ini terbukti saat sesi kedua pasca makan siang, diskusi berlangsung hangat terutama pada bahasan aplikasi Monev Online yang memang masih memiliki beberapa catatan seperti halnya Telaah Staf yang saya susun beberapa waktu lalu.

Dalam setiap event yang digelar oleh LKPP, bagi kami tentu saja serasa menjadi ajang Reuni untuk bertemu kembali dengan kawan-kawan yang sepemahaman dan seperjuangan *uhuk *uhuk… Terutama berkaitan dengan kemajuan teknologi dan pengembangan sistem yang kini diadopsi pada aplikasi SPSE, pun pemanfaatan perangkat yang saya lihat sih rata-rata sudah menenteng gadget dengan layar berukuran 7 inchi. Artinya yah, guna-guna yang kami sebarkan sejak Rakornas di Bali dua tahun lalu agaknya sudah menancap di jantung mereka akan pentingnya kepemilikan sebuah gadget *meski berharga murah sekalipun untuk memantau dan menggunakan aplikasi SPSE, demi kelancaran tugas yang diembankan oleh negara *uhuk

Akhirnya, Selamat dan Sukses untuk kegiatan Management Training LPSE Advance di Kabupaten Badung Propinsi Bali, 2-4 April 2013 mendatang. Mari kita wujudkan ‘100 % e-Procurement untuk Indonesia Bersih dan Sejahtera’ dengan ‘Pengadaan yang Tidak meng-Ada-Ada…’

Ohya, tak lupa bagi kawan-kawan LPSE yang berkeinginan untuk mengunduh materi terkait Management Training LPSE Advance ini, dapat diunduh melalui halaman milik LKPP di http://eproc.lkpp.go.id/.

Management Training LPSE Advanced Badung Bali

3

Category : tentang PeKerJaan

Dalam rangka peningkatan kapasitas dan kemampuan personil LPSE atau Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) rencananya akan menyelenggarakan kegiatan Management Training LPSE Advanced pada tanggal 2 hingga 4 April mendatang di Kabupaten Badung Provinsi Bali.

Adapun kegiatan ini masih terkait dengan kewajiban penggunaan Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden nomor 70 Tahun 2012 sebagai perubahan atas Peraturan Presiden nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Dalam Surat yang diajukan oleh LKPP dengan Nomor 1418/D-II/03/2013 kepada Bupati Kabupaten Badung pada tanggal 24 Maret 2013 yang lalu, terlampir kegiatan sedianya dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas beberapa ruang pertemuan milik Pemerintah Kabupaten Badung selama tiga hari sedari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Management Training LPSE Advanced Badung Bali

Kegiatan MT LPSE Advanced ini akan diselenggarakan dengan Agenda acara di hari pertama berupa pemaparan PP PSTE No. 82 Tahun 2012, SOP dan SLA LPSE, dilanjutkan dengan RUP, Monev, e-Katalog dan WBS, Regulasi Implementasi e-Procurement (PerPres 70 terkait e-Proc, PerKa LPSE, e-Tendering dan SBD, Inaproc Service Bus, Regional Report serta diakhiri dengan materi Information Security Management System (27001).

Berlanjut di hari kedua, untuk ranah Non Administrator System diarahkan pada Bimbingan Teknis Indeks KAMMI Kominfo, sedang untuk Administrator System diberikan informasi terkait IT Service Management (20000), Pengelolaan Data Center TIA 942 dan Aplikasi Monitoring System. Sedang di hari ketiga, terdapat penambahan terkait OSD.

Bagi kawan-kawan LPSE yang berminat untuk mengikuti kegiatan Management Training LPSE Advanced Badung Bali ini, dapat mendaftarkan diri secara online di halaman Jadwal milik LKPP, serta mengirimkan lembar konfirmasi kehadiran melalui email ke alamat [email protected] atau [email protected] Untuk setiap LPSE dapat mengirimkan Peserta minimal 3 (tiga) orang dengan komposisi 1 (satu) admin dan 2 (dua) non admin.

Beberapa hal yang barangkali perlu diketahui oleh setiap calon Peserta adalah kewajiban untuk membawa laptop/notebook, serta Akomodasi dan Transportasi ditanggung oleh masing-masing peserta.

Adapun, beberapa fasilitas Hotel atau Akomodasi yang tersedia diseputaran lokasi Kegiatan (wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar), dapat disampaikan sebagai berikut :

Inna Bali Hotel, lokasi di Jalan Veteran Kota Denpasar dapat dihubungi melalui 0361-225681 atau Fax 0361-235347, dengan harga kamar Twin Room mulai 650,000 IDR, tanpa dukungan fasilitas transportasi. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.innabalihotel.com

Kepundung Suite, lokasi di Jalan Kepundung Kota Denpasar dapat dihubungi melalui 0361-222976atau Fax 0361-242666, dengan harga kamar Twin Room mulai 600,000 IDR, dan terdapat dukungan Transportasi berupa Shuttle Bus. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.kepundungsuite-bali.com

Nikki Bali Hotel, lokasi di Jalan Gatot Subroto Kota Denpasar, dapat dihubungi melalui 0361-413888atau Fax 0361-412333 dengan harga kamar Twin Room mulai 600,000 IDR, tanpa dukungan fasilitas transportasi (Shuttle Bus + Charge tambahan). Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.hotelnikki-bali.com

Aston, lokasi di Jalan Gatot Subroto Kota Denpasar, dapat dihubungi melalui 0361-411999 atau Fax 0361-422999, terdapat dukungan fasilitas transportasi berupa Mini Bus. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.astondenpasar.com

Sun Royal, lokasi di jalan Sunset Road Kuta Kabupaten Badung, dapat dihubungi melalui 0361-8465828 atau Fax 0361-8465833, terdapat dukungan fasilitas transportasi berupa Shuttle Bus. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.sunroyalbali.com

Atanaya, lokasi di Jalan Sunset Road Kuta Kabupaten Badung, dapat dihubungi melalui 0361-8468600 atau Fax 0361-8947041/2, terdapat dukungan fasilitas transportasi berupa Shuttle Bus. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.atanaya.com

Harris, lokasi di Jalan Sunset Road Kuta Kabupaten Badung, dapat dihubungi melalui 0361-8947285 atau fax 0361-8947286, dengan harga kamar Twin Room mulai 525,000 IDR, terdapat dukungan fasilitas transportasi berupa Shuttle Bus. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.sunsetroad-bali.harrishotels.com

The Sunset, lokasi di Jalan Dewi Sri Kuta Kabupaten Badung, dapat dihubungi melalui 0361-761910 atau Fax 0361-764116, dengan harga kamar Twin Room mulai 850,000 IDR, terdapat dukungan fasilitas transportasi berupa Shuttle Bus. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.sunsetbalihotel.com

Adhijaya Sunset, lokasi di Jalan Sunset Road Kuta Kabupaten Badung, dapat dihubungi melalui 0361-8947171 atau Fax 0361-8947172, terdapat dukungan fasilitas transportasi berupa Shuttle Bus. Info selengkapnya dapat dilihat di halaman web www.adhijayasunsethotel.com

Informasi lebih lanjut agar dapat menghubungi saudara Arso Hadi Wardono di 085 292 763 369 atau saudari Mira Yanuarita di 085 619 733 98.

So, Be There… Kami tunggu kehadiran kawan-kawan LPSE.

Dibalik ‘HTC One Road to Bali the Final’

Category : tentang TeKnoLoGi

Semua berawal dari akun Twitter. Tepatnya saat akun Liburan Yogya menanyakan contact person komunitas Android Bali kepada admin Bale Bengong yang merekomendasikan akun saya sebagai salah satu yang bisa dihubungi.

Adalah Bapak Arya Dhiratara, perwakilan dari PT Sistech Kharisma yang kemudian menindaklanjuti hubungan lewat kontak telepon sekaligus menjelaskan maksud rencana gelaran HTC One Road to Bali sesi the Final, dalam kaitan promo perangkat HTC One X yang selama ini saya ketahui dari akun FaceBook HTC Indonesia. Dalam kontak tersebut, sayapun diminta untuk mencari lima Kawan dari komunitas Android Bali untuk ikut serta dalam gelaran tersebut.

Setelah menimbang-nimbang dengan admin BaliDroid Community, Aryaputra Pande yang selama ini hanya sempat kontak lewat dunia maya, pada akhirnya diputuskan untuk menawarkan kesempatan ini pada empat kawan lainnya, mengingat admin satu ini belum bisa memastikan kesanggupannya.

Lewat dua posting khusus, didapatlah nama-nama Kawan Droid dari Kadek Suantara aka Chymenk, Rahaji, Gus Tulank dan Didi Suprapta. Sayangnya saat tanggal gelaran telah diberitahukan, beberapa nama yang berhasil dihimpun tersebut secara mendadak memilih mengundurkan diri lantaran berbagai alasan. Untuk menggantikan nama Gus Tulank, rupanya admin Aryaputra bersedia menggantikannya. Nama Didi Suprapta kemudian diganti oleh mas Arieef Abi yang menyatakan baru bisa mengikuti gelaran pasca jam kerja. Sedang Rahaji yang menyatakan pengunduran dirinya satu jam sebelum kegiatan, sempat membuat saya kebingungan mencari penggantinya.

Adapun Rai Rahmayuda yang sempat dihubungi menyatakan tidak bisa ikut serta lantaran hajatan pernikahan sepupunya. Dan Made Dedi yang menjadi pilihan terakhir mengingat lokasi kerja yang bersangkutan ada di dekat gelaran, berusaha dihubungi lewat akun whatsapp dan sms serta menyatakan kesediaannya. Oke, jumlah peserta pun telah komplit. Maka berangkatlah saya menuju lokasi gelaran dengan memberi spare waktu satu jam untuk perjalanan.

Macet. Padat merayap. merupakan satu kondisi yang tidak mampu saya perkirakan sebelumnya. Jalan Imam Bonjol yang saya lalui sedari perempatan Teuku Umar hingga Nakula bisa dikatakan tak memberi ruang jalan yang berarti bagi para pengemudi kendaraan roda empat. Bersyukur keputusan untuk mengendarai Scorpio Merah mampu membelah jalanan dengan cepat hingga saya hanya mengalami telat sepuluh menit dari Rencana awal.

Berkenalan dengan HTC One X. Saat berkesempatan untuk memegang secara langsung jujur saja tidak ada sentuhan surprise yang dirasakan mengingat secara kebetulan tampilan ini memang sudah pernah dialami sebelumnya. Tepatnya ketika meReview HTC Sensation XE beberapa waktu lalu. Namun untuk tingkat kecerahan layar yang bagi saya hampir menyamai Retina Display-nya New iPad, tentu patut saya acungi jempol. Sesi perburuan foto yang diselenggarakan pasca proses Registrasipun saya lalui dengan setengah hati, mengingat pendeknya waktu perkenalan lebih banyak saya gunakan untuk mengoprek perangkat.

Setelah mengambil beberapa gambar (termasuk gambar vas bunga yang pada akhirnya memberikan peluang besar), secara perlahan saya memulai aktifitas oprek dengan mengeksplorasi satu persatu fitur serta kemampuan fotografi HTC One X yang begitu dibanggakan dalam gelaran kali ini. Dilanjutkan pula dengan uji Benchmark menggunakan aplikasi AnTuTu dan Quadrant. Minimnya sinyal koneksi yang saya dapatkan sepanjang gelaran, membuat proses uji kecepatan hanya berhasil saya lakukan pada AnTuTu saja. Sebagai tanda bukti aktifitas tersebut, beberapa rekaman gambar layar yang tampil saya ambil dengan cara lama, menekan dua tombol secara bersamaan (Power dan Home). Satu cara yang biasanya dilakukan untuk perangkat berbasis Android ICS. Sedikit mencontek cara pengambilan gambar yang dilakukan oleh perangkat iOS.

Sesi makan malam saya lalui dengan pendekatan pada mas Denny dari Sinar Gadget Shop terkait keinginan saya meminjam beberapa perangkat Android dalam tujuannya melakukan Review, sekaligus menanyakan bagaimana pendapatnya terkait Review HTC Sensation XE yang saya tulis di media Koran Tokoh beberapa waktu lalu. Tak lupa meluruskan sedikit salah pendapat dengan perwakilan dari Sistech Kharisma Regional Bali terkait masalah yang kami alami pada 4 perangkat dari 6 HTC Flyer milik LPSE Badung.

Memenangkan HTC One V. Oke, Dewandra Djelantik sang fotografer ternama yang sejak sore tadi memberikan Tips dan Trik pengambilan gambar dengan kamera ponsel, rupanya teman satu sekolahan SMP yang jujur saja agak penasaran juga ingin saya ketahui latar belakangnya. Mengingat nama Dewandra hanya saatu saja yang saya kenal. Ternyata feeling saya tepat. Di gelaran kali ini, selain menjadi narasumber, yang bersangkutan menjadi salah satu dewan juri yang didaulat untuk menilai hasil jepretan gambar baik yang dilakukan oleh kelompok Finalis maupun Umum. Entah karena unsur KKN tadi ataukah memang benar gambar yang saya ambil lebih menarik minat ketimbang yang lainnya, sayapun akhirnya memenangkan perangkat Android HTC One V, salah satu dari empat One series yang diposisikan pada level menengah. Padahal jujur saja, saya pribadi sudah mengikhlaskan ponsel tersebut dimenangkan oleh Peserta lainnya dan memilih untuk melakukan pengujian terhadap One X setelah mengambil empat gambar termasuk sesi Sunset yang ancur minah.

Berikut gambar vas bunga yang ada di meja pinggiran area makan malam hotel The Seminyak, diambil dengan menggunakan lensa HTC One X, kemudian cropping sedikit agar lebih enak dilihat komposisinya, diberikan efek menggunakan aplikasi Photo Editor miliknya Samsung Galaxy Tab 7+ (ups) dan dikirim kembali ke perangkat One X untuk diUpload ke meja Panitia. Hehehe…

Terakhir ada Goodie Bags dari HTC yang berisikan satu bolpoin, satu jam meja dan satu baju kaos yang langsung diserahterimakan pada MiRah dan ibunya. Saya ? cukup HTC One V-nya saja. ;p

Lantas, bagaimana hasil oprek dua perangkat Android HTC One X dan HTC One V yang berhasil saya lakukan disela gelaran acara HTC One road to Bali the Final ? tunggu saja hasilnya di media cetak Koran Tokoh. ?

Selamat dan Sukses Rakornas LPSE ke-7 di Sanur Paradise Bali

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

…akun Twitter @LPSEBadung 20 Oktober 2011, yang disampaikan langsung dari Lokasi rencana pelaksanaan Rakornas.

“Sore ini kami bersama”LPSE Prop.Bali dan Kota Denpasar menghadiri undangan Pertemuan Koordinasi ke-7 dari LKPP Jakarta”

“Adapun Agenda hari ini adalah pemaparan Rencana dan persiapan Rakornas ke-7 LPSE yang sedianya dilaksanakan di Bali”

“Rakornas ke-7 LPSE Nasional ini akan diselenggarakan pada tanggal 21-23 November 2011 dgn Tema “Bersatu Mengawal Pengadaan Bebas Korupsi”

“Untuk Panitia Pelaksana nantinya akan dipimpin oleh Tim e-Proc LKPP dan dibantu oleh Tim LPSE Prop.Bali, Kota Denpasar dan @LPSEBadung”

“Lokasi Kegiatan #RakornasLPSE sedianya dilaksanakan di Sanur Paradise Plaza Hotel bekerja sama dengan Grand Bali Beach”

“Peserta Rakor dapat melakukan Registrasi Online di halaman LPSE Nasional hingga 1 November 2011”

“Dari @LPSEBadung mengirimkan 8 orang wakil dari Tim generasi pertama dan kedua”

“Masih berkaitan dengan #RakornasLPSE pd tgl 20 November nanti rencananya akan diadakan AP e-GP Conference di Hotel Intercontinental Jimbaran”

“Adapun AP e-GP Yang dimaksud adalah Asia Pasific Regional electronic Goverment Procurement Conference

“Tujuan dilaksanakannya AP e-GP Conference ini adalah percepatan Pengadaan Barang Jasa yang Transparan dan Akuntabel

“Utk #RakornasLPSE sedianya akan dibuka pada tgl 21 November 2011 siang. Sebagai pembicara pertama oleh Wamen PPN Lukita D Tuwo”

“Dibandingkan #RakornasLPSE sebelumnya, kali ini akan ada Paparan e-Proc dari Negara lain -Korea Selatan dan Philipina-“

“Pada hari kedua, Diskusi dipecah menjadi 3 Topik Bahasan, salah satunya terkait Agregasi Data dan Infrastruktur”

“Dalam rangka #RakornasLPSE, LKPP memberikan kesempatan kepada LPSE di seluruh Indonesia utk penyusunan Paper terkait Tema yang diangkat”

…akun Twitter @LPSEBadung 21 Oktober 2011, yang disampaikan langsung dari Lokasi rencana pelaksanaan Rakornas.

“Selamat Pagi rekan @LPSEBadung, hari ini adalah session kedua Rapat Persiapan Panitia Rakor LPSE Nasional di Paradise Plaza Hotel”

“Session kedua, LKPP memperkenalkan halaman web penyelenggaraan #RakornasLPSE yang dapat diakses melalui alamat rakor.eproc.lkpp.go.id

“Di Halaman web #RakornasLPSE, peserta dapat memperoleh semua info Kegiatan sekaligus mendaftar secara Online”

“Selain itu hlmn web #RakornasLPSE dilengkapi pula dgn Agenda Kegiatan, unduhan materi& Peta lokasi agar Peserta memiliki gambaran sejak dini”

“Rapat Bersama Panitia Pusat dan Lokal Persiapan Rakor LPSE Nasional sesi ke-2 ditutup secara resmi oleh Tim LKPP Pusat”

…akun Twitter @LPSEBadung 03 November 2011, yang disampaikan langsung dari kantor @LPSEBadung di Mangupura Praja Mandala.

“Selamat Pagi Rekan @LPSEBadung, Selamat beraktifitas hari ini, jangan lupa sarapan dan tetap berlaku jujur”

“Dalam beberapa hari kedepan, @LPSEBadung bersama Kota Denpasar dan Prov.Bali akan turut serta mensukseskan Rakornas LPSE ke-7”

“Adapun Rakornas LPSE ke-7 akan diselenggarakan di hotel Sanur Paradise bekerja sama dengan Grand Bali Beach, 21 s/d 23 November 2011”

“Dengan mengusung Tema “Bersatu Mengawal Pengadaan Bebas Korupsi” Rakornas LPSE ke-7 mengundang seluruh LPSE yang telah berdiri se-Indonesia”

“Untuk Sebaran LPSE di seluruh Indonesia dapat dilihat pada halaman berikut maps.google.com/maps/ms?vpsrc=…

“Bersamaan dengan Rakornas LPSE ke-7 akan diselenggarakan pula Asia Pacific Regional E-GP Conferrence di Hotel Intercontinental Jimbaran-Bali”

“LKPP akan menetapkan 100 Koordinator LPSE yang turut serta dalam Rakornas LPSE ke-7 untuk hadir pada Asia Pacific Regional E-GP Conferrence

“Kehadiran 100 Koordinator LPSE sbg apresiasi atas keberhasilan dlm mengimplementasikan pengadaan scr elektronik di instansinya masing-masing”

“Untuk Registrasi dan Info lebih lanjut terkait Rakornas LPSE ke-7 silahkan akses halaman rakor.eproc.lkpp.go.id

“dari 3 hari Agenda Kerja Rakornas LPSE ke-7 kali ini, Materi Utama akan diberikan pada hari ke-2 dengan pemaparan 9 materi pilihan”

“Adapun 9 Materi pilihan Rakornas LPSE ke-7 tersebut akan dibagi menjadi 3 kelas dalam 3 sesi pertemuan”

“Bagi Rekan @LPSEBadung yang ingin mengetahui materi Unduhan, dapat diakses pula dari halaman yang sama di rakor.eproc.lkpp.go.id

“Count Down Menuju Rakornas LPSE ke-7 di Hotel Sanur Paradise terhitung 18 Hari 4 jam 11 menit dan 6 detik :p”

“Untuk informasi lebih lanjut terkait LPSE dan info Pengadaan lainnya, silahkan mampir ke halaman blog LPSE di lpse.blogdetik.com

Memperkenalkan Warga Pande di dunia maya

8

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan, tentang InSPiRasi

Seperti cerita Gigi dalam salah satu karyanya, semua yang kami alami setahun terakhir benar-benar berawal dari FaceBook. Namun pertemuan yang kami alami setahun lalu, membawa banyak cerita baru dalam setiap langkah yang kemudian kami ciptakan. Rasa persaudaraan itupun muncul ke permukaan. Membelah semua perbedaan yang ada di masing-masing kepala.

Saya masih ingat, Group Warga Pande Bali awal tahun 2010 lalu, malah sempat saya tinggalkan lantaran tak banyak informasi tentang keberadaan Warga Pande yang saya dapat. Putu Yadnya aka Pande Bali yang saat itu menjadi Admin (sekaligus pembuat halaman Group) pun jarang terlihat aktif berbagi informasi. Maka jadilah saya menurunkan satu tulisan yang bisa dikatakan ‘membakar perasaan setiap semeton Warga Pande yang membacanya di blog pribadi yang saya kelola.

Kadang Saya Malu Mengaku Nak Pande

Siapa sangka, tulisan inilah yang kemudian mempertemukan saya dengan Semeton Pande lainnya termasuk dengan admin Group Warga Pande Bali, Meski kami baru benar-benar bersua secara langsung saat pertemuan kedua di satu tempat makan seputaran jalan Drupadi.

Dari sinilah saya kemudian mengenal orang-orang yang selalu berusaha memberikan yang terbaik di bidang yang ia pahami dan kuasai. Putu Yadnya aka Pande Bali, Yande Putrawan yang kini didapuk sebagai Ketua Yowana Warga Pande Kota Denpasar, Dego Pande Suryantara pula sebagai Ketua Yowana Warga Pande Kabupaten Tabanan, bli Ande Tamanbali yang keberadaannya kini sudah mulai menyepi dari dunia maya dan Putu Adi Susanta seorang Radiografer Rumah Sakit Sanglah yang telah saya kenal sebelumnya di komunitas Bali Blogger Community.

Berangkat dari minimnya informasi yang bisa didapatkan baik secara tercetak dalam sebuah buku maupun dunia maya tentang keberadaan Warga Pande, kami pada akhirnya mulai mengumpulkan semeton lain satu persatu dan menggalang kekuatan untuk mengadakan satu dua kegiatan sosial yang sekiranya bisa memberikan arti positif pada kami semua. Maka jadilah kegiatan Dharmawecana itu digulirkan setahun lalu.

Tak hanya itu, kamipun berusaha untuk ikut serta dalam setiap kegiatan Ngayah yang dilakukan di Pura Penataran Pande Tamblingan dan syukur, masih bisa kami lanjutkan hingga kini. Termasuk kegiatan Penanaman Pohon dilingkungan Pura.

Pelan-pelan semua kegiatan itu kami dokumentasikan dan simpan dalam berbagai media yang telah ada. Baik blog pribadi maupun Group dan akun jejaring sosial FaceBook.  Sayangnya, informasi yang telah disimpan ini masih bersifat terbatas untuk dapat diakses oleh Warga Pande secara umum di dunia maya. Untuk itu, kami pun berkeinginan untuk membuat satu media komunikasi serta dokumentasi satu sama lain, sebagai ajang diskusi dan berbagi informasi di dunia maya tanpa harus dipaksa memiliki akun salah satu jejaring sosial. Maka diluncurkanlah alamat wargapande.org.

Dengan mengandalkan WordPress sebagai mesin utamanya, maka bisa dikatakan secara tampilan jadi tak jauh beda dengan blog pribadi yang saya kelola  www.pandebaik.com,  hanya saja wargapande.org jadi sedikit lebih garang lantaran halamannya yang didominasi warna Hitam dan Merah.

Web ini kemudian diperkenalkan secara resmi kepada Publik saat Loka Sabha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar yang dilaksanakan di Banjar Pande Desa Renon, 25 Juni 2011 lalu, bertepatan dengan Pelantikan Yowana Warga Pande Kota Denpasar Periode 2011-2016.

Harus kami akui bahwa segmen utama yang di sasar di dunia maya adalah Yowana atau Generasi Mudanya. Karena melalui Generasi inilah yang akan diharapkan dapat tetap eksis dan selalu aktif berbagi informasi tentang Dharma Kepandean kepada semeton Yowana atau generasi muda lainnya yang memang sudah tampak aktif berinteraksi di dunia maya, termasuk FaceBook salah satunya.

Masih jua merasa belum cukup dengan akun Group FaceBook Warga Pande Bali dan web wargapande.org, rupanya Putu Adi Susanta, tweeps teraktif yang pernah saya kenal sekaligus blogger kondang yang mengelola radiografer.net, sudah membuat akun Twitter @wargapande sedari pertengahan tahun lalu. Kalau tidak salah sejak kami, para Yowana Warga Pande, mulai ramai mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif.

Terpantau Tweet terakhir yang diluncurkan oleh Pak Putu Tarno (sapaan akrab kami pada Master Putu Adi lantaran yang bersangkutan jago sulap) sekitar bulan Agustus 2010. Tepatnya ketika Uwe Sutedja Neka, Jejeneng Keris yang mengelola Museum Neka Ubud, mulai menyajikan aksi yang memukau, mendirikan keris diatas gagangnya saat DharmaWecana berlangsung. Maka jadilah akun Twitter @wargapande ini menjadi yang ketiga kami perkenalkan dan coba kelola.

Memang akan ada banyak hambatan dan tantangan yang kami yakin bakalan ditemui sepanjang perjalanan nanti sembari mengelola tiga akun Warga Pande disela kesibukan kerja masing-masing. Namun harapannya cukup sederhana kok. Minimal apa yang sudah kami lakukan, bisa menginspirasi Semeton Warga Pande lainnya terutama yang datang dari usia Generasi Muda untuk ikut serta berbagi informasi terkait Dharma Kepandean, agar kelak Generasi kami berikutnya tidak akan merasakan ‘Malu untuk mengaku Nak Pande.

Link to :

Namaste Band, Ngiring Telebang Manah lan Sareng Menyame Beraya

7

Category : tentang InSPiRasi

Musik Bali dimata saya jujur saja hampir selalu identik dengan kata ‘beli, adi, iluh, demen, tresna atau sakit ati’, yang bisa dikatakan sangat monoton dan nyaris membosankan untuk dinikmati. Terkadang dalam satu saat, saya begitu merindukan beberapa karya lawas musisi senior seperti Bungan Sandat, Kusir Dokar, Jaje Kakne, Sopir Bemo, Jukut Pelecing, yang memang mengambil beberapa tema dan aransemen unik untuk dapat diingat dan dikenal walau telinga baru mendengar beberapa detik musik pembukanya.

Bersyukur masih ada beberapa generasi musisi bali yang walaupun belum sampai pada tahap aransemen musik unik dan mudah diingat seperti yang saya sebut diatas, namun secara tema sudah mulai merambah ke berbagai hal yang barangkali mulai luput dari keseharian dan pergaulan kita.

Salah satunya adalah Namaste. Enam musisi muda dari Kota Gianyar yang kebetulan pada bulan Mei tahun 2010 lalu merilis album Nyama Braya, berselang empat tahun lamanya dari launching album pertama mereka. Satu masa yang panjang untuk kategori musisi. Kalau tidak salah, ada Gus Juli pada Vokal, Dewa Gama dan Gus Eka pada Guitar, Abink pada Bass, Gede Donking pada Drum dan Komang Wedan pada Keyboard.

Dari 12 karya yang disajikan dalam album kedua ini, ada beberapa tema unik yang memang berusaha untuk diangkat. Mejaguran (mesiat/berkelahi antar nyame semeton bali), Bebotoh Paling, Politikus Brengkengan yang naik menjadi Wakil Rakyat hingga Buang Nenggel, satu kisah klasik anak muda dengan tema MBA, Married By Accident.

Melirik pada perjalanan Namaste yang tergolong baru, tepatnya sedari awal tahun 2005, berusaha untuk tetap eksis memang selalu dilakoni. Meluncurkan album pertama Telebang Manah di Balai Budaya Gianyar 4 Agustus tahun 2006 lalu merupakan awal perjalanan Namaste untuk bisa dikenal para penikmat musik Bali.

Album dengan 10 tembang Bali yang salah satunya bertemakan Pekak Playboy tampaknya hampir selalu dinanti oleh para pecinta musik Namaste disetiap pegelaran ataupun konser yang mereka tampilkan. Beberapa tembang seperti Sepilais atau Oh Mini pun hampir selalu dipinta untuk dimainkan.

Jikapun boleh saya berpendapat, mendengarkan beberapa karya mereka, malah mengingatkan saya pada beberapa musisi independen senior seperti Pas Band, atau bahkan beberapa musisi rock barat keluaran lama.

Namaste yang kabarnya bisa diartikan sebagai ‘Sebut Namaku’, kata dari Bahasa Sansekerta, beruntung mampu ikut serta menampilkan salah satu penampilan mereka dalam bentuk klip di media televisi lokal Bali. Padahal yang namanya Dana, bisa dipastikan selalu menjadi hambatan atau tantangan utama untuk bisa terus maju dan berkembang.

Bagi yang ingin mengenal lebih jauh bisa kontak langsung dengan mereka lewat jejaring sosial FaceBook di Halaman Namaste Band, atau lewat email di [email protected] (masih pake Yahoo ya ? :p ) dan ternyata sang pionir Namaste, Dewa Gama, rupanya berkenan membagikan karya Namaste melalui dunia maya untuk dapat dinikmati lebih luas loh. Silahkan mampir di halaman 4Shared untuk album pertama mereka Telebang Manah dan album kedua Nyama Braya.

Antara Rangda, Rarung dan Celuluk

3

Category : tentang KHayaLan

Diantara sekian banyak sosok sakral yang begitu populer di Bali, nama besar Rangda, Rarung dan Celuluk barangkali akan langsung mengingatkan pada satu lakon Calonarang, satu cerita yang hingga kini masih kerap dipentaskan oleh desa-desa adat Bali disela hiruk pikuknya upacara yadnya. Namun ada juga pementasan yang dilakukan dengan melibatkan salah satu diantaranya yaitu Rangda dalam lakon Barong Dance untuk kepentingan Komersial dan pengenalan Budaya Bali kepada para Wisatawan mancanegara.

Rangda seperti yang dikenal oleh seluruh Umat Hindu di Bali, merupakan satu sosok makhluk yang menyeramkan, digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku, lidah, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki gigi yang tajam. Namun sesungguhnya kata Rangda menurut Etimologinya, berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda. Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa, yaitu Waisya, Ksatria dan Brahmana. Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu apabila dierjemahkan dalam Bahasa Bali alusnya adalah Rangda.

Dalam perkembangannya, istilah Rangda untuk janda sangat jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang ‘aeng’ (seram) dan menakutkan, serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu apabila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak).

Dalam perwujudannya secara fisik, sosok sejenis Rangda ada pula yang dikenal dengan nama varian lain seperti Rarung dan Celuluk. Dalam lakon Calonarang, dua sosok Rarung dan Celuluk ini digambarkan sebagai antek-anteknya Rangda yang dalam budaya Bali bukan merupakan sosok yang disakralkan.

Ada dua perbedaan paling kentara yang dikenal ketika menyebutkan sosok Rangda dan Rarung. Apabila Rangda merupakan sebutan bagi Janda yang usianya tergolong tua (lingsir), Rarung merupakan sosok yang digambarkan jauh lebih cantik dan lebih muda. Dilihat dari segi warna yang digunakan, Rangda biasanya digambarkan dalam rupa yang lebih banyak menggunakan tapel atau topeng berwarna putih. Sedangkan Rarung ada yang menggunakan warna Merah, Hitam, Biru, Cokelat dan lainnya.

Lantas bagaimana dengan Celuluk ?

Tak jauh berbeda dengan dua sosok diatas, Celuluk pun digambarkan sebagai sosok yang sama menyeramkannya dan seperti yang telah disebutkan tadi, Celuluk dikenal sebagai antek-anteknya Rangda dalam lakon Calonarang.

Bagi saya pribadi, bentuk rupa perwajahan Celuluk jauh lebih menyeramkan ketimbang sosok Rangda yang disakralkan oleh Umat Hindu di Bali dan juga Rarung. Dengan bentuk batok kepala yang khas, ditambah seringai dan gigi yang besar serta tajam, sosok Celuluk kabarnya mampu menebarkan ketakutan bagi mereka yang menatapnya secara seksama hanya dari unsur tapel atau topengnya saja.

 

Mengenal Barong Landung

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Lima sosok tinggi besar itu tampak berjalan beriringan ditengah keramaian umat Hindu yang berjejal, beradu padu suara gambelan Batel, saat matahari masih bersemu merah diujung timur sana.

Barong Landung. Merupakan salah satu wujud susuhunan yang dikeramatkan oleh umat Hindu di Bali, dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu.  Sebuah Pralingga sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Ditarikan sepanjang jalan desa dengan harapan dapat menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru, seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk mengembalikan roh kehidupan.

Ada banyak versi cerita yang dapat diungkap untuk mengetahui sejarah keberadaan Barong Landung di tanah Bali. Salah satunya seperti yang diceritakan oleh Pande Ketut Wena (BaliPost/2005).

“Bersumber pada kisah Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, dimana kerajaannya berpusat di Panarojan, tiga kilometer di sebelah utara Kintamani yang dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.

Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri — Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei — itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.”

Akan tetapi Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya adalah duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda, dua sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh api akan menguap ke langit (I Bapa), sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri akan menurunkan hujan untuk menyuburkan bumi dan melahirkan kehidupan.

Kemungkinan besar Barong Landung adalah perwujudan I Bapa dan I Meme. I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde), simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi yang mengandung, memelihara, dan akan mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya telah tiba.

Dalam Barong Landung, undagi sepertinya sengaja membuat wujud yang sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa. Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan “dihidupkan” dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya — ang, ung, dan mang.

Jro Gde atau yang kami kenal dengan sebutan Ratu Gede, memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat, mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris. Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina. Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri, mengingat kiri sama artinya dengan pengiwa. Lawan pengiwa adalah penengen — tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus sebagaimana jalan kebenaran.

Di beberapa tempat di Bali (salah satunya lingkungan kami, Banjar Taensiat) ada juga Barong Landung yang lebih lengkap dari pada yang hanya sepasang saja, tetapi ada yang diberi peran seperti Mantri, Galuh, Limbur, Patih dan sebagainya. Selain sebagai Sesuhunan dan dipuja secara berkala, Barong landung terkadang juga dipakai sebagai anggota dalam pementasan yang membawakan lakon Arja (terutama didaerah Badung) dan diiringi dengan gamelan Batel.

Barong Landung yang ada di lingkungan kami berjumlah 5 (lima), dipuja setiap rahinan Kajeng Kliwon yang jatuh setiap 15 hari sekali. Secara berkala melakukan perjalanan (istilahnya Melancaran)  keliling desa dengan harapan seperti yang telah dipaparkan diatas, serta melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang disucikan seperti Beji dan Pasih (pantai) sebelum Hari Raya Nyepi dan juga Pura Dalem BonKeneng (jalan Ratna) setiap rahinan Manis Kuningan.

Mengenal Barong

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Bagi saya pribadi sosok sakral yang satu ini merupakan salah satu daya tarik mengapa para wisatawan mancanegara begitu penasaran dengan Bali, diluar keindahan alamnya. Ketertarikan tersebut saya yakin dirasakan pula oleh sebagian besar umat Hindu dan penduduk Bali lantaran pesona magis maupun penampilannya yang begitu mengigit.

Untuk pertama kalinya saya mengabadikan beberapa sosok Barong yang biasanya disakralkan oleh Umat Hindu kalau tidak salah, jaman perkuliahan. Meminjam sebuah kamera analog, sayapun berangkat menuju Art Centre, dimana di salah satu gedungnya terdapat berbagai macam Barong yang dipajang lengkap dengan cerita atau historynya.

Barong menurut I Made Bandem, adalah topeng yang berwujud binatang mitologi yang memiliki kekuatan gaib dan dijadikan pelindung masyarakat Bali. Dilihat dari ikonografi topeng-topeng barong yang ada di Bali, nampak adanya perpaduan antara kebudayaan Bali Kuna dengan kebudayaan Hindu, khususnya kebudayaan Hindu yang bercorak Budha. Topeng-topeng barong seperti itu terdapat pula di negara-negara penganut agama Budha seperti Jepang dan Cina. Di Cina, tradisi mengenai kepercayaan terhadap naga yang dianggap memiliki kekuatan gaib sudah tua umurnya. Contoh, naga-naga dalam kebudayaan Zaman Batu Baru (Neolithic) dilukis pada vas-vas bunga dan diukir pada batu giok. Pada Zaman Perunggu (Bronze Age) di Cina, naga-naga diasosiasikan dengan kekuatan dan manifestasi alam semesta, seperti angin, kilat dan petir.

Masih menurut I Made Bandem, ada versi lain mengenai munculnya barong di Bali. Banyak para sarjana memastikan bahwa asal mula barong adalah tari singa Cina yang muncul selama dinasti Tang (abad ke 7-10) dan menyebar ke berbagai negara bagian di Asia Timur. Nampaknya pertunjukan tari singa ini pada awalnya merupakan suatu bentuk pengganti dan pertunjukan singa asli oleh para penghibur keliling profesional (sirkus) yang tampil di setiap pasar malam atau festival musiman. Bila dihubungkan dengan Sang Budha,tari singa Cina memiliki konotasi sebagai pengusir bala yang hidup sampai masa sekarang. Dilihat dan fungsinya barong-barong di Bali juga melakukan perjalanan ke luar desanya, berkeliling mengunjungi desa-desa lain, mengadakan pementasan di jalan raya atau dirumah orang secara profesional, memungut uang untuk kepentingan kesejahteraan sekaa (group/kelompok) yang disebut ngalawang.

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait NgeLawang, menurut Babad Bali merupakan sebuah garapan tari kontemporer yang banyak diilhami oleh tari Barong Ket yang keberadaannya tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Kabarnya ngeLawang ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang berkeliaran di desa setempat, menyucikan desa hingga sebagai antisipasi pertama ketika desa diserang wabah penyakit.

Barong Ket dianggap sebagai manifestasi dari banaspati raja atau raja hutan. Orang Bali menganggap seekor singa sebagai raja hutan yang paling dasyat. Konsep yang sama juga terdapat di India, Cina, dan Indonesia. Di Jawa, figur Barong Ket seperti di Bali disebut Barong Singa, dan Reog Ponorogo. Jika diteliti secara mendalam mengenai ikonografinya, memang bentuk dasar dari topeng Kala itu ialah muka singa. Di India penggambaran ini disebut Shimamukha, atau Khirtimukha. Dalam hal ini singa dipilih sebagai figur barong adalah karena singa memiliki kemampuan untuk menghancurkan kekuatan jahat. Di Bali Barong Ket dianggap sebagai simbol kebaikan. Dalam pementasan tari barong di Bali, figur Barong Ket dijadikan simbol kemenangan dan Rangda merupakan simbol pihak yang kalah. Namun di luar konteks seni pegelaran, kedua figur itu duduk sejajar sebagai pelindung masyarakat.

Beberapa jenis Barong yang dikenal atau populer di kalangan Umat Hindu Bali ada Barong Ket atau Ketet (mengambil rupa singa, seperti cerita diatas tadi), Barong Bangkung (mengambil rupa Celeng atau Babi, biasanya digunakan pula untuk tradisi ngeLawang), Barong Macan (mengambil rupa Harimau), Barong Brutuk (mengambil rupa Lembu, biasanya ditarikan di daerah Trunyan) dan ada juga Barong Kadingkling atau yang dikenal pula dengan Barong Blasblasan (mengambil rupa wayang wong). Dua jenis barong yang disebutkan terakhir bisa dikatakan sangat jarang kita temui dalam kegiatan adat sehari-hari.

Di luar lima jenis Barong diatas tadi, ada juga yang dikenal dengan sebutan Barong Landung. Apa itu Barong Landung, tunggu tulisan selanjutnya ya.

 

Mari Mengenal Wayang Kulit

9

Category : tentang InSPiRasi

Wayang kurang lebih berasal dari Bayang. Bayang-bayangan kulit yang ditatah dengan nilai seni tinggi inilah yang ditonton orang dari balik layar dengan bantuan suluh lampu belencong, bergerak menghidupkan satu lakon diiringi lantunan gender, membuat orang bersorak sorai, bertepuk tangan, mencemooh terkadang menangis. Inilah Wayang Kulit.

Wayang hingga saat ini dipandang sebagai warisan Indonesia Purba –Pra Hindu, dimana baik tanah Jawa maupun Bali, Wayang telah dikenal dengan baik. Di Jawa Barat, dikenal adanya Wayang Golek yang terbuat dari kayu, dipentaskan tanpa kelir dan mengambil lakon dari ceritera Islam. Di Jawa Timur terdapat pula Wayang Klitik atau Krucil, terbuat dari kayu pipih dan mengambil ceritera Damarwulan. Ada juga Wayang Tingul dimana serupa dengan Wayang Golek hanya tanpa badan, digerakkan dengan memasukkan tangan kedalamnya dan juga Wayang Wong dimana Manusia-lah yang menjadi Wayangnya.

Pertunjukan Wayang Kulit biasanya sangat erat kaitannya dengan upacara Ruwatan atau upacara sakral yang berhubungan dengan kehidupan manusia sejak lahir, hidup dan mati. Sebuah pertunjukan Wayang Kulit merupakan satu pertunjukan teater yang lengkap dimana berbagai unsur seni berpadu didalamnya. Seni suara, sastra, seni rupa, gerak / tari dan juga drama. Peran sutradara, koreografer dan sekaligus pemain diborong sang Dalang. Tak mengherankan apabila seorang Dalang harus memiliki segudang Pengetahuan baik Filsafat, Agama, Hukum dan berbagai aspek kehidupan serta mampu merangkum semuanya dalam satu aktualitas yang segar. Apalagi jika iramu dengan lelucon yang mengocok perut penonton atau melagukan nyanyian yang meneteskan air mata. Disini pula letak perbedaannya dengan Dalang Jawa. Dalang Bali mengerjakan semuanya.

Seorang Dalang didampingi pembantunya yang disebut dengan Ketengkong atau Pengabih. Tugas utamanya adalah mempersiapkan wayang mana saja yang akan naik ke pentas kelir. Tentu saja sang Ketengkong ini harus paham pula dengan rencana ceritera yang dilakoni sang Dalang. Wayang-wayang ini biasanya diletakkan dan disimpan dalam sebuah Keropak atau kotak kayu yang dinamakan Gedog.

Pendamping Dalang lainnya adalah Penabuh Gender. Jumlahnya bisa dua (sepasang), empat atau lebih. Ini dilakukan apabila untuk mengiringi lakon yang dibawakan membutuhkan gambelan Batel, gambelan –musik tradisional Bali-  yang biasanya digunakan pula pada sebuah pertunjukan Barong.

Tak mengherankan apabila syarat untuk menjadi seorang Dalang itu tidaklah gampang. Dia mesti cakap atau paling tidak hafal dengan tetabuhan gender, bisa pula menyanyikan lagu kekawin, pupuh atau kidung, serta tahu tembang tertentu untuk jenis wayang yang tertentu pula. Dalang juga Harus pandai berbahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno) pun Bahasa Bali, Karena dalam setiap peran yang menggunakan Bahasa Kawi, diterjemahkan pula dalam Bahasa Bali oleh sang Punakawan. Mesti pula hafal berbagai lakon, filsafat agama Hindu serta Ilmu keBathinan. Sebab disamping sebagai seorang seniman, seorang Dalang biasanya berlaku pula sebagai seorang Rohaniawan, karena itulah disebut Pemangku atau Mangku Dalang –yang menyelesaikan upacara pensucian orang, ruwatan atau untuk keperluan upacara lainnya. Terkait Punakawan, silahkan baca kembali tulisan lama saya terkait Mengenal Punakawan dalam Wayang Kulit ya.

Persiapan untuk melakukan sebuah Pertunjukan Wayang Kulit tidak bisa sembarangan dilakukan, karena sudah baku sejak Wayang itu dikenal. Pamungkah adalah adegan dimana seorang Dalang mulai membuka peti kotak kayu atau Gedog Wayang, mengambilnya satu persatu. Dilanjutkan dengan Peguneman atau permusyawaratan antar beberapa tokoh yang akan mengambil peran dalam ceritera, Pemahbah saat dimana sang dalang mengucapkan rangkaian wacana memohon ijin pada Tuhan serta Bethara Bethari agar tidak terkena kutukannya, Lelampahan atau pertunjukan utama sesuai alur ceritera dan diakhiri dengan Pamempenan atau menyimpan kembali Wayang-wayang yang telah diampilkan kedalam keropak atau Gedog Wayang yang didahului  dengan upacara menghaturkan sesajen dan memohon air suci atau yang dikenal dengan Tirtha Wayang.

Pertunjukan Wayang Kulit yang mengambil lakon Mahabharata disebut dengan Wayang Parwa, dimana hanya membutuhkan atau diiringi 2 (dua) gender Wayang besar dan kecil. Sebaliknya Wayang Kulit yang mengambil lakon Ramayana yang disarati dengan “pemain” golongan Wenara atau Kera, harus mendapatkan iringan yang jauh lebih meriah. Karena itu diperlukan 2 (dua) pasang gender Wayang, sepasang kendang krumpungan lanang dan wadon, sebuah kempul atau kempluk, sebuah ricik atau cengceng cenik, sebuah atau lebih Suling dan sebuah Kajar. Dalam perkembangannya, kebutuhan akan gambelan pengiring ini makin meriah dengan adanya gambelan gong lengkap atau abarung seperti yang kerap dipertunjukkan oleh Dalang Nardayana atau yang lebih dikenal sebagai Wayang CenkBlonk.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

4

Category : tentang DiRi SenDiri