Uji Kekuatan Sinyal My Mobile Coverage

Category : tentang TeKnoLoGi

‘Jangan Pernah Setia pada satu Operator’

Salah satu cara untuk memilih operator ataupun layanan data yang pernah saya rekomendasikan tempo hari pada tulisan ‘Bagaimana Memilih Paket Data Internet yang Nyaman digunakan adalah mencobanya satu persatu, membeli paket harian (termurah), lalu mengujinya dengan mengunduh beberapa file entah itu dokumen, audio maupun video. Apabila kecepatan pengunduhan berlangsung sesuai iklan dan juga harapan, maka operator tersebut dapat dijadikan alternatif pilihan untuk digunakan pada tempat tersebut. Lakukan hal ini secara berulang pada beberapa lokasi yang kerap disinggahi secara berkala setiap harinya. Rumah, kantor, tempat nongkrong, dsb.

Namun jika hal tersebut dipertanyakan dengan data yang dapat dilihat secara akurat dan terpercaya, barangkali akan sulit dibuktikan. Karena apa yang saya rekomendasikan kemarin hanya merupakan pengalaman pribadi setelah melakukan perpindahan penggunaan operator untuk beberapa layanan paket data. Dari Starone Indosat, Telkomsel Flash, XL Unlimited hingga kini Axis Pro Unlimited dan IM2 Broom.

My Mobile Coverage merupakan salah satu aplikasi yang berjalan pada perangkat mobile berbasiskan Android dan BlackBerry, dikembangkan oleh CORTxT, Inc dengan ukuran installer 2,55 MB, direkomendasikan oleh Tabloid Sinyal edisi 160/Tahun IX untuk mendapatkan data yang tercatat dan akurat terkait dukungan kekuatan sinyal (coverage) voice dan data dari operator yang digunakan, sekaligus uji kecepatan layanan data yang dapat dijangkau pada satu wilayah tertentu. Manfaat lain dari aplikasi ini adalah pengguna dapat mencatatkan kemampuan tersebut secara realtime sehingga bisa menjadi referensi bagi pengguna lain.

Dalam pengujian yang saya lakukan di enam titik seputaran Kota Denpasar dan Kabupaten Badung secara bertahap, mencoba menguji kekuatan dan kecepatan dari dua operator yang kebetulan saat ini sedang digunakan, Axis dengan paket layanan data Pro Unlimited dan IM2 Broom milik Indosat. Adapun pengujian ini memanfaatkan dua perangkat TabletPC berbasis Android yaitu Samsung Galaxy Tab 7+ P6200 untuk operator Axis, dan Samsung Galaxy Note 10.1 GT N8000 untuk IM2.

Sedangkan enam titik lokasi yang saya gunakan untuk melakukan pengujian adalah :
1. Rumah sendiri (Jl. Nangka Denpasar Bali 80231),
2. Pura Dalem (Jl. Ratna Denpasar Bali 80239),
3. Rumah sepupu (Jl. Ahmad Yani Denpasar Bali 80111),
4. Depot Durian (Jl. Gatot Subroto Barat Denpasar Bali 80117),
5. Rumah Mertua (Jl. Raya Pipitan Canggu Kabupaten Badung ) dan
6. Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung (Jl. Raya Sempidi Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung 80351).

Mau tahu bagaimana hasilnya ? Simak penjelasan singkat yang dapat saya gambarkan berdasarkan pengambilan beberapa gambar screenshot di kedua perangkat.

Untuk Operator Axis.

Dalam pengujian yang saya lakukan di enam titik lokasi seperti tersebut diatas, dapat digambarkan bahwa coverage area operator Axis untuk kategori layanan data di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung cukup mumpuni. Ini dilihat dari hasil pemantauan pada gambar, setidaknya Axis menjadi puncak di empat lokasi posisi lima besar sedang dua lainnya masuk di urutan kedua.
Jujur, kekuatan dan kecepatan layanan data milik Axis, memang saya rasakan sejak setahun terakhir. Dengan besaran kuota 500 MB (kini 1,5 GB) dengan biaya 49 ribu, saya kerap menghabiskannya sekitar 4 s/d 7 GB setiap bulannya tanpa adanya penambahan biaya. Memang secara teori yang digambarkan dalam iklan layanan Axis bahwa apabila pengguna melewati batas kuota akan dikenai penurunan kecepatan hingga 64 kbps, namun dalam prakteknya tidak demikian. Rata-rata kecepatan download yang saya rasakan berada di kisaran 200 hingga 300 kbps. Lihat saja kecepatan unduh yang tampak dalam hasil uji Test Speed untuk lokasi Rumah sendiri, jauh melampaui batas rata-rata yang ada. Ini tentu saja sangat memuaskan.

Meski demikian, harus diakui pula bahwa saat pengujian dilakukan, tampaknya Axis tidak mampu lolos test uji kecepatan menggunakan Speed Test, terutama ketika dilakukan di wilayah Jalan Ahmad Yani (lokasi pengujian berada di pinggiran sungai) dan Rumah Mertua yang memang berada di pinggiran kota. Dan itu memang wajar saya rasakan mengingat beberapa kali berada di lokasi yang sama, urusan download data, Axis benar-benar tidak dapat diandalkan. Namun setidaknya yang menjadi prioritas pemilihan layanan data milik operator Axis selama ini lebih menyasar pada dua lokasi saja. Rumah sendiri dan kantor. Jadi ya tidak masalah sejauh ini.

Hebat di urusan layanan data, tidak demikian halnya dengan urusan Voice. Terpantau operator Axis di enam lokasi pengujian untuk kategori Best Voice Coverage, berada di urutan keempat dan kelima, namun dengan tingkat dropped call yang masih cukup memuaskan (rata-rata berada di posisi kedua). Ini bisa dilihat dari statistik voice dimana kemungkinan terjadinya dropped calls hanya di kisaran 1-2 %, sementara failed calls hanya 5 % saja. Bandingkan dengan tingkat Dropped Calls rata-rata semua operator ditempat yang sama.

Untuk Operator Indosat.

Seperti halnya Axis, coverage area operator Indosat bisa dikatakan tergolong mumpuni. Meskipun rata-rata berada di posisi kedua, namun secara kekuatan dan kecepatan unduh dapat dilihat secara jelas di lima lokasi berada di kisaran 1 Mbps.

Dari pengalaman pribadi yang saya alami setahun terakhir menggunakan layanan data milik Indosat IM2 Broom, tingkat kecepatan unduh terutama saat berada di Rumah sendiri, memang benar berada di kisaran 1,8 s/d 1,9 Mbps, meski dipecah menjadi beberapa file unduhan. Hal ini tentu saja menggembirakan, mengingat di awal pemakaian terdahulu, Indosat lebih sering mengalami blank sinyal sehingga beberapa kali pula saya mengajukan komplain ke pihak Indosat. Apalagi kalo sudah berurusan dengan top up/perpanjangan paket data setiap bulannya. Sedikit lebih sulit dan ribet ketimbang operator Axis yang saya gunakan di perangkat Samsung Galaxy Tab 7+.

Berbanding lurus dengan kecepatan download, kecepatan upload milik operator Indosat inipun tampak memuaskan untuk ukuran pengiriman email, gambar dan juga video ke situs YouTube. Dalam beberapa kali pengujian yang saya lakukan dengan meng-Upload video berdurasi 5 menitan, kecepatan yang diraih tak sampai satu menit. itu artinya, proses dan kecepatan UpLoad seperti yang digambarkan dalam gambar screenshot aplikasi My Mobile Coverage, dapat dipercaya.

Sedangkan untuk urusan Voice tampaknya Indosat masih kalah jauh dengan operator Axis yang saya gunakan. Terpantau tingkat dropped calls yang terjadi di keenam titik lokasi pengujian berada pada kisaran 3-14 %, bahkan untuk dua lokasi diantaranya, aplikasi tidak mampu menemukan prosentase seperti yang dihasilkan di lokasi lainnya. Entah apakah ini merupakan pengaruh dari kartu IM2 Broom yang saya gunakan memang tidak mendukung teknologi Voice, ataukah memang ini merupakan akumulasi dari sekian banyak masukan yang dilakukan oleh pengguna lain di operator yang sama.

* * * *

Pemanfaatan aplikasi My Mobile Coverage sebagai bahan uji sekaligus merekomendasikan pilihan layanan data dan voice dari sekian banyak operator yang ada di Indonesia, tampaknya bisa dijadikan patokan baru untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Baik melalui pengujian yang dilakukan berdasarkan sinyal secara real time ataupun pengujian yang dihimpun atau di akumulasi dari masukan sekian banyak pengguna di lokasi yang sama.

Tentang Rakor ke-8 LPSE Nasional

3

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

Melelahkan. Kurang lebih begitu pendapat bathin secara pribadi. Tiga hari melawat ke Jakarta bersama Tim Pelaksana LPSE Badung dengan segudang rencana awal yang kemudian dibuyarkan begitu cepat oleh jadwal dadakan pihak penyelenggara, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Republik Indonesia LKPP yang kabarnya kali ini bekerja sama dengan sebuah EO Event Organizer demi menghandle banyaknya pekerjaan.

Tidak heran. Mengurusi 513 (semoga tidak salah) utusan dari LPSE seluruh Indonesia yang masing-masingnya mengirimkan minimal 2 hingga 5 orang personel (bahkan kabarnya ada juga yang hingga 7 orang), tentu bukan perkara gampang. Hal ini pernah disampaikan oleh rekan-rekan LKPP saat kegiatan yang sama digelar di Hotel Sanur Paradise, November 2011 lalu.

Yang membuat kami cukup terperangah adalah pola pembagian hotel yang rupanya diatur secara acak. Artinya Rekan kami sesama Tim pelaksana LPSE Badung sudah bisa ditebak berada di lokasi yang berbeda-beda. Saya selaku Sekretaris LPSE Badung berada di Grand Cempaka, Ibu Kepala LPSE di Aston Marina Ancol, dan Pak Made Aryawan Admin PPE kami yang kali ini diundang sebagai Narasumber berada di Novotel Gajah Mada. Penyebaran ini bisa jadi dimaksudkan untuk makin mengakrabkan kami, Tim Pelaksana LPSE seluruh Indonesia, satu dengan lainnya. Minimal untuk menambah wawasan antar daerah.

Namun kelemahan dari pola penyebaran ini adalah sulitnya kami berkoordinasi satu sama lain dalam tim yang sama, terutama terkait sesi diskusi yang harus diikuti, kesimpulan yang dapat kami tarik lalu dipertanyakan kembali hingga hal-hal sepele seperti persiapan untuk pulang.

Rakor ke-8 LPSE Nasional ini cukup unik. Mengingat di sesi awal atau pembukaan, LKPP mengundang seorang praktisi sekaligus akademisi ternama yang telah malang melintang di dunia Linux, Jaringan dan Securitas, Bapak Onno W Purbo. Selama sesi, Beliau banyak bertukar cerita dan membagi pengalaman terkait ancaman serangan, cara pembobolan akun baik email, password hingga kode pengamanan yang lumayan membuat kepala cenat cenut dan was was sendiri akan kondisi ‘nyata’ yang sebenarnya di lapangan.

Jika saja selama sesi pembelajaran Rakor ke-8 LPSE Nasional ini saya mendapatkan rekan sekamar yang sesuai dengan aturan LKPP, saya yakin rasa lelah itu akan makin bertambah mengingat banyaknya hal yang harus dipersiapkan termasuk cara bersosialisasi yang baik atau penyesuaian lingkungan antar suku dan etnis. Bersyukur saya bersua dengan sobat sesama blogger Bali yang memang sudah saya kenal sejak lama. I Gusti Agung Made Wirautama, S.Kom seorang dosen IT sekaligus Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kampus STP Nusa Dua, pemilik blog imadewira.net. Kali ini Beliau hadir sebagai Admin Agency LPSE STP Nusa Dua, satu tugas yang dahulu pernah saya emban.

Maka jadilah selama masa istirahat pasca diskusi panel, bahan obrolan kami tidak jauh dari keluarga, putrinya Nindi serta Mirah dan Intan dua putri saya, hingga ke Adsense, tugas wewenang LPSE dan tentu saja honor atau tunjangan. *uhuk

Ada banyak hal yang kami dapatkan selama sesi diskusi panel berlangsung. Selain kawan baru, pertemuan dengan kawan lama yang pernah saya kenal di Rakor dan TOT atau Train of Trainer sebelumnya, pula bersua dengan orang-orang yang sebetulnya hanya saya kenal di dunia maya saja. Beberapa diantaranya kawan dari LPSE Kabupaten Pati, Trenggalek dan Sumatera Barat.

Tidak hanya itu, pertukaran informasi serta teknologi yang dikembangkan di masing-masing LPSE dengan tujuan untuk mempermudah operasional, pelaporan dan pelayanan pun dapat diserap dengan baik lewat paparan dan diskusi yang kadang berlangsung hingga masa istirahat. Tak lupa guyonan Pak iPep Fitri dari Universitas Diponegoro, seorang instruktur pengadaan barang/jasa yang juga bertugas sebagai Trainer di LPSE Undip, mengocok perut kami selama sesi pembelajaran.

Sementara dari sisi perkembangan LPSE, dalam usia dini LPSE Nasional berhasil meraih penghargaan dari FutureGov Asia Magazine sebagai Winner ‘Technology Leadership 2012’ se-Asia Pasifik. Sedangkan LPSE Badung sendiri masuk dalam daftar 4 besar nominasi Award LPSE kategori ‘User Support Performance’, Peringkat 2 Tingkat Kabupaten untuk jumlah Paket Pengadaan Terbanyak pada Tahun 2012, serta Peringkat 2 Tingkat Kabupaten untuk Nilai Pagu Pengadaan Tertinggi pada Tahun 2012.

Sedangkan perkembangan dari sisi proses sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa pun patut diapresiasi. Jika dahulu masih dilaksanakan dengan cara Konvensional/tertulis, kini sudah dapat dilakukan secara komputerisasi di 27 lokasi se-Indonesia, dan harapan kedepan di tahun 2013, sudah dapat diakomodir melalui sistem online langsung dari lokasi Peserta berada. Dimana proses penilaian tidak lagi membutuhkan waktu lama seperti terdahulu, maksimal 2 jam setelah proses ujian selesai dilakukan, lulus tidaknya peserta sudah dapat diketahui secara langsung.

Lalu, berbicara soal standarisasi prosedur operasional LPSE baik dari segi proses pendaftaran Penyedia, proses pelelangan, hingga pemeliharaan sistem dan aplikasi tentu sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan di masing-masing LPSE.

Tak lupa dalam sesi Pemaparan dan Review aplikasi SPSE versi 4.0 dan Spam Kodok rupanya memiliki banyak fitur pembaharuan yang lebih memudahkan penguna atau user sesuai dengan beberapa saran dan masukan yang pernah kami berikan sedari proses Train of Trainer TOT dan konsultasi ke LKPP sebelumnya.

Di hari ketiga kegiatan Rakor ke-8 LPSE Nasional ini, LKPP menggelar parade bersama jalan kaki dari Monumen Nasional (Monas), menuju Bundaran Hotel Indonesia HI lalu kembali lagi menuju Monas dan mendeklarasikan ‘100% e-Procurement untuk Indonesia Bersih dan Sejahtera’. Sesi akhir ini dimeriahkan pula dengan pembagian door prize dan seperti biasa kami tak mendapatkannya satupun. :p

Rakor ke-8 LPSE Nasional kali ini memang benar melelahkan. Bahkan saat tiba dirumah Minggu pukul 22 malam pun rasanya masih belum bisa menghilangkan rasa penat meski tiga bidadari yang disayang sudah menanti. Ditambah dua jam tertidur senin siang di rumah mertua dan istirahat lebih awal malam harinya, mood untuk menuliskan semua laporan, pe er, rencana sosialisasi, pelatihan hingga draft tulisan untuk blog dan Koran Tokoh pun belum jua muncul. Baru pada Selasa siang semua inisiatif tersebut mulai terkumpul satu persatu. Dan tulisan inipun menjadi salah satu pembuktiannya.

Sebetulnya saya pribadi menginginkan suasana Rakor yang terkumpul di satu tempat. Dimana malam pasca diskusi atau sesi sarapan, kami masih bertemu satu sama lain termasuk dengan para kamerad LKPP yang kami hormati. Pak Ikak, Pak Nanang, Pak Arso, Pak Bima dan banyak lagi. Termasuk para artisnya yang tampil di video khusus besutan LKPP dengan tema e-Procurement. Karena suasana inilah yang kelak akan membuat kami selalu terkenang dan bangga bisa bergabung di unit LPSE.

Merasakan Dinginnya Pagi di Yogyakarta

2

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Waktu masih menunjukkan pukul 7.50 pagi waktu Bali saat burung besi Garuda Airways GA 251 menapakkan cakarnya di landasan Adisucipto Yogyakarta, tepat waktu dari apa yang telah diperkirakan sebelumnya.

Dikejauhan satu dua kendaraan berlalu lalang menghampiri setiap manusia yang tampak sudah tak sabar melakukan aktifitasnya hari ini. Dering nada pembuka ponsel mulai bersahutan terdengar menyapa setiap sapa yang ada di ujung sana. Mengabarkan keselamatan yang kami pinta sejak dini hari tadi.

Tak membutuhkan waktu lama hingga kami menjejakkan kaki di halaman depan Sheraton Yogyakarta, lokasi kali ini rupanya sangat dekat dengan parkiran pesawat yg terhenti dengan sempurnanya. Bau rumput yang diterpa embun seakan belum jua menyadarkanku dari dinginnya pagi di Yogyakarta.

Rupanya Kami datang jauh lebih pagi dari jadwal yang seharusnya ditentukan, namun itu semua lantaran tiada pilihan lain ketimbang menanti senja, maka jadilah kaki ini mulai berjalan mengelilingi area hotel untuk sekedar melihat sejauh mana esok bisa menggerakkan badan demi melanjutkan pola kehidupan yang baru.

Satu persatu tomat merah kuhabiskan, bekal dari ibu yang setia membelikanku setiap pagi di pasar dekat rumah, ‘hanya ini yang bisa aku beri untuk kesehatanmu Nak’ ucapnya. Mungkin hanya bisa bertahan untuk hari ini saja…

Menghadirkan satu Tim lengkap LPSE Badung di agenda Rapat Koordinasi Teknis LPSE yang diselenggarakan LKPP kali ini tentu bukannya tanpa alasan. Pembaharuan sistem dan aplikasi yang sudah mencapai rilis 4 membuat kami sedikit khawatir dengan perubahan pola kerja dan cara, sehingga merasa perlu dipahami oleh semua bidang, minimal satu dari setiap bidangnya.

Selama tiga hari kedepan, kami akan berada di sunyinya pagi Sheraton Yogya, tempat yang sejuk layaknya rumah, berdampingan dengan penduduk yang tak menunjukkan perbedaan kulturalnya. Jadi tak merasa jika ini Yogayakarta.

image

Banyak hal baru yang kulihat disini, dari candi Selamat Datang yang menyerupai bentuk Prambanan lengkap dengan ornamen khas bersejarahnya, ukiran yang menghiasi setiap sudut ruangan dan juga putusnya struktur atap membuat pikiran sedikit bertanya, apa maksudnya?

Terakhir melewatkan malam di Malioboro pertengahan tahun 1995, rangkaian Studi Tour yang kami lakoni beberapa saat sebelum perpisahan masa SMA, mengingatkanku pada banyak teman lama yang baru bulan lalu bisa berkumpul kembali di pernikahan kawan.

Entah apa yang akan kami kenang kali ini…

Merasakan Dinginnya Pagi di Yogyakarta

2

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Waktu masih menunjukkan pukul 7.50 pagi waktu Bali saat burung besi Garuda Airways GA 251 menapakkan cakarnya di landasan Adisucipto Yogyakarta, tepat waktu dari apa yang telah diperkirakan sebelumnya.

Dikejauhan satu dua kendaraan berlalu lalang menghampiri setiap manusia yang tampak sudah tak sabar melakukan aktifitasnya hari ini. Dering nada pembuka ponsel mulai bersahutan terdengar menyapa setiap sapa yang ada di ujung sana. Mengabarkan keselamatan yang kami pinta sejak dini hari tadi.

Tak membutuhkan waktu lama hingga kami menjejakkan kaki di halaman depan Sheraton Yogyakarta, lokasi kali ini rupanya sangat dekat dengan parkiran pesawat yg terhenti dengan sempurnanya. Bau rumput yang diterpa embun seakan belum jua menyadarkanku dari dinginnya pagi di Yogyakarta.

Rupanya Kami datang jauh lebih pagi dari jadwal yang seharusnya ditentukan, namun itu semua lantaran tiada pilihan lain ketimbang menanti senja, maka jadilah kaki ini mulai berjalan mengelilingi area hotel untuk sekedar melihat sejauh mana esok bisa menggerakkan badan demi melanjutkan pola kehidupan yang baru.

Satu persatu tomat merah kuhabiskan, bekal dari ibu yang setia membelikanku setiap pagi di pasar dekat rumah, ‘hanya ini yang bisa aku beri untuk kesehatanmu Nak’ ucapnya. Mungkin hanya bisa bertahan untuk hari ini saja…

Menghadirkan satu Tim lengkap LPSE Badung di agenda Rapat Koordinasi Teknis LPSE yang diselenggarakan LKPP kali ini tentu bukannya tanpa alasan. Pembaharuan sistem dan aplikasi yang sudah mencapai rilis 4 membuat kami sedikit khawatir dengan perubahan pola kerja dan cara, sehingga merasa perlu dipahami oleh semua bidang, minimal satu dari setiap bidangnya.

Selama tiga hari kedepan, kami akan berada di sunyinya pagi Sheraton Yogya, tempat yang sejuk layaknya rumah, berdampingan dengan penduduk yang tak menunjukkan perbedaan kulturalnya. Jadi tak merasa jika ini Yogayakarta.

Banyak hal baru yang kulihat disini, dari candi Selamat Datang yang menyerupai bentuk Prambanan lengkap dengan ornamen khas bersejarahnya, ukiran yang menghiasi setiap sudut ruangan dan juga putusnya struktur atap membuat pikiran sedikit bertanya, apa maksudnya?

Terakhir melewatkan malam di Malioboro pertengahan tahun 1995, rangkaian Studi Tour yang kami lakoni beberapa saat sebelum perpisahan masa SMA, mengingatkanku pada banyak teman lama yang baru bulan lalu bisa berkumpul kembali di pernikahan kawan.

Entah apa yang akan kami kenang kali ini…

Apa Kabarnya LPSE Badung di Tahun 2012 ?

2

Category : tentang PeKerJaan

Setiap hal yang ada di dunia ini, pasti mengalami perubahan. Demikian pula kami di LPSE Badung.

Malah bisa dikatakan ada banyak perubahan yang kami alami disini sejak Surat Keputusan Pembentukan Unit Layanan Pengadaan diturunkan awal Desember 2011 lalu.

Dengan adanya Pembentukan ULP atau Unit Layanan Pengadaan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, sebagian besar anggota Tim Pengelola LPSE Badung akhirnya dipaksa Hijrah ke unit tersebut mengingat secara basic pengetahuan, memang expertnya dibidang tersebut. Maka dari 10 personil yang dahulu membidani kelahiran LPSE Badung, hanya menyisakan tiga orang saja untuk tetap tinggal dan bertugas seperti sebelumnya. Perpindahan ini pada awalnya bisa saya katakan sangat sulit. Karena semua kekompakan dan rasa persaudaraan yang kami bina sejak awal mulai terasa jauh dan jauh.

Selain itu, terjadi pula perubahan manajemen Pengelolaan dimana jika dahulu kami bernaung di bawah Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah, kini berpindah ke Bagian Perlengkapan dan Asset. Perubahan inipun menjadikan semua proses baik operasional dan pemenuhan kebutuhan yang dahulu berjalan seperti aliran air, kini malah mandeg lantaran ada rasa ‘ewuh pakewuh’ serta penambahan kewajiban secara mendadak.

Untuk mengatasi perpindahan anggota Tim Pengelola LPSE sebelumnya, maka Bagian perlengkapan dan Asset merancang penunjukan delapan orang anggota Tim Pengelola yang bisa dikatakan sama sekali baru dan awam soal Sistem SPSE. Hal ini tentu saja bagi kami, anggota Tim sebelumnya seperti mempertaruhkan kredibilitas dan kepercayaan yang selama ini pernah dibebankan. Tak ingin menunggu waktu terlalu lama untuk mengisi kekosongan, kamipun mengajukan beberapa nama yang sekiranya mau dan mampu untuk bergabung dalam keanggotaan Tim yang baru, sisanya baru kami serahkan sepenuhnya ke Bagian Perlengkapan dan Asset.

Selain perubahan Personil dan Manajemen, kamipun mengalami perubahan Tugas mengingat anggota Tim Pengelola sebelumnya yang hijrah ke Unit ULP salah satunya memegang posisi sebagai Sekretaris LPSE. Nah, permasalahannya dari delapan Tim Teknis tambahan yang kami tunjuk tak satupun memahami pengetahuan LPSE dengan baik, maka dari itu satu-satunya pilihan ya mengambil salah satu dari tiga anggota yang tersisa dari Tim Pengelola sebelumnya.

Jika di periode sebelumnya kami hanya mendapatkan tunjangan fungsional sekitar 600 ribu perbulannya untuk satu orang Tim Teknis, maka di periode ini kami diberikan tambahan tunjangan hingga 2 Juta rupiah per orang mengacu pada besaran Tunjangan Fungsional yang diberikan kepada Unit ULP yang baru. Menjadi sekian karena kami mengambil opsi tengah-tengah antara tunjangan yang diberikan kepada anggota yang bertugas di Administrasi Umum dengan Tim Teknis ULP. Satu peningkatan yang tentu saja diharapkan sesuai dengan peningkatan kinerja kami dalam mengelola LPSE Badung.

Dalam perjalanan kami seiring dilakukannya Perubahan-perubahan diatas ternyata menemui banyak kendala dari yang mampu kami tangani sendiri hingga membutuhkan bantuan mantan atasan yang dahulu pernah berada di satu Tim Pengelola LPSE tahun 2011. Kendala ini bisa terjadi lantaran minimnya pengetahuan delapan anggota Tim Pengelola LPSE sesuai Surat Keputusan Bupati Tahun 2012 dan juga faktor emosional yang terjadi diantara kami Tim Pengelola sebelumnya. Satu hal yang lumrah tentu saja. Bersyukur semua bisa diselesaikan dengan baik.

Untuk mengatasi minimnya pengetahuan dan pemahaman delapan anggota Tim Pengelola LPSE yang baru, rencananya tanggal 21 Februari Selasa besok, kami mengirim mereka untuk dilatih dan dididik secara langsung di LKPP Jakarta, seperti halnya yang pernah kami lakukan pada tahun 2010 lalu.

Kegiatan TOT atau Train of Trainer ini tentu saja menjadi sangat penting mengingat kedelapan orang Rekan kami yang baru ini belum familiar sepenuhnya akan tugasnya masing-masing, meskipun dalam dua bulan terakhir sempat kami ajarkan apa dan bagaimana cara menjalankan tugasnya, plus kelak akan menjadi narasumber bagi stakeholder LPSE lainnya. Sudah demikian, dari segi sistem ada peningkatan Versi SPSE dari 3.2.3 yang tahun lalu pernah kami tularkan ke beberapa orang diantaranya, menjadi versi 3.2.5 per tanggal 10 Februari lalu.

Selain mengirim delapan anggota Tim Teknis Pengelola LPSE yang baru, rencananya kamipun akan ikut serta mendampingi selama pembelajaran berlangsung dengan mengusung tujuan yang lain yaitu konsultasi atas beberapa kesulitan dan permasalahan yang timbul sejak dibentuknya ULP yang baru. Baik itu terkait banyaknya perubahan perilaku dari Admin Agency, posisi dimana dahulu saya melaksanakan Tugas, dan juga dari sisi ULP atau Panitia Pengadaan yang memang membutuhkan penanganan cepat.

Jadi… doakan saja bahwa apa yang kini kami rintis lagi sedari awal, mampu kami lewati dan laksanakan sebaik mungkin. Tujuannya hanya satu, demi Pengadaan Barang Jasa di lingkungan Pemkab Badung yang Transparan dan Akuntabel.

Sampai bertemu di Jakarta hari Selasa depan.

***
Mangupura, 19 Februari 2012
Sekretaris LPSE Badung
Pande Nyoman ArtaWibawa, ST., MT

Alasan Kami (LPSE Badung) Memilih HTC FLYer

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu Pertimbangan Utama kami dalam memilih perangkat Mobile berbasis Internet bagi LPSE Badung sejak awal adalah Kebutuhan Mobilitasnya yang mudah dibawa dan digunakan dalam berbagai kondisi dan situasi, terutama dalam kaitannya dengan kegiatan adat dan agama. Seperti yang sudah diketahui banyak orang bahwa budaya Bali dikenal dengan dengan banyak upacaranya, sehingga kami yang menjadi bagian didalamnya mau tidak mau akan sering terlibat dalam situasi tersebut tanpa pengecualian. Adalah tidak mungkin (tepatnya:malu) untuk membawa, membuka dan beraktifitas dengan sebuah perangkat NoteBook plus Modem Mobile Internet dalam situasi tersebut lantaran permintaan untuk meng-e-Proc-kan paket pengadaan tidak lagi harus dilaksanakan pada jam kerja. Belum lagi waktu yang dibutuhkan bagi sebuah perangkat NoteBook tidak dapat sesegera perangkat telekomunikasi yang selalu siap digunakan dalam kondisi apapun.

Terkait Mobilitas diatas, ukuran kemudian menjadi pertimbangan. Mengambil pilihan TabletPC berukuran 10 inchi membutuhkan tambahan sebuah tas berukuran sedang untuk menyelipkannya atau harus menentengnya kemana-mana layaknya sebuah map besar. Sedang mengambil pilihan perangkat Telekomunikasi berukuran normal akan berimbas pada tingkat kenyamanan mengingat rata-rata aktifitas yang kami lakukan memutuhkan Typing Text dan area kerja yang lebar. Maka untuk mengambil jalan tengah, kami memutuskan untuk mengambil pilihan ukuran 7 inchi. Ukuran tersebut tergolong mudah untuk diselipkan dalam saku berukuran lebar atau didalam tas pinggang. Jadi tidak akan terlihat mencolok ataupun kerepotan membawanya.

Menyisir TabletPC ukuran 7 Inchi, tentu saja pilihan sistem operasi yang kami dapatkan pada pertengahan Tahun 2011 lalu saat usulan itu disampaikan adalah berbasis Android dan Windows. Mengingat para pesaing sistem operasi lainnya hanya merilis dalam bentukan 10 inchi saja, seperti BlackBerry PlayBook atau iPad dari Apple.

Ketika sudah memutuskan pilihan pertama pada ukuran layar 7 inchi, maka pertimbangan kedua yang kami persyaratkan adalah soal kecepatan dan kemampuannya. Diantara beberapa alternatif TabletPC yang ada saat itu, hanya dua varian yang kemudian kami putuskan menjadi sebuah pilihan. Samsung Galaxy Tab 7 dan HTC FLYer. Mengapa ? karena berdasarkan Spesifikasi Teknisnya, hanya kedua TabletPC inilah yang memiliki besaran Prosesor minimal 1 GHz dengan RAM 512 MB dan kapasitas memory Internal 16 GB. Sebuah Syarat yang bagi kami sudah cukup mumpuni untuk membantu meningkatkan kinerja kami di LPSE Badung. Maka ketika kami mengajukan dua varian ini kepada atasan, kami diberikan saran untuk memilih spesifikasi terbaik diantara keduanya, yang artinya pilihan tertuju kepada HTC FLYer.

Hanya saja, ada tambahan pertanyaan yang diajukan atasan kami saat itu, bahwa terlepas dari ukuran, mengapa tidak memilih perangkat dengan sistem operasi yang sudah jauh lebih terbukti kemampuannya ? BlackBerry atau iPad misalnya ? Maklum, sistem operasi Android masih tergolong awam bagi sebagian orang termasuk atasan kami.

Maka, berbekal beberapa perangkat yang kami pinjam, uji coba darurat perangkat yang menggunakan berbagai sistem operasipun dilakukan. Pertama, OS Android 2.2 Froyo yang dipasang dalam perangkat Samsung Galaxy Tab 7, sesuai dengan oprek yang saya lakukan jauh sebelumnya berhasil melewati semua persyaratan aplikasi yang diajukan. Kedua iPad 1 dan iPad 2 yang kondisinya masih original pabrikan, belum di-Hack atau JailBreak, tidak mampu menyediakan beberapa aplikasi secara gratis untuk diunduh dan digunakan mengingat satu-satunya jalan yang diberikan adalah menggunakan AppleID yang mensyaratkan Kartu Kredit. Sayangnya, saya pribadi baru mengetahui Trik pembuatan akun Apple ID tanpa Kartu Kredit ini jauh setelah Pengajuan Usulan dilakukan. Ketiga, OS BlackBerry di perangkat PlayBook yang malah tidak ditemukan beberapa aplikasi yang kami butuhkan. Maka dengan memberikan Hasil uji coba yang kami lakukan, atasanpun menyetujuinya meski masih sedikit meragukannya.

Sayang memang, bahwa saat usulan kami ajukan perangkat tabletPC Samsung Galaxy Tab 7 Plus sama sekali belum ada kabar pastinya kapan akan dirilis resmi di Indonesia. Itu sebabnya kami tetap memilih HTC FLYer sebagai perangkat tambahan LPSE Badung saat itu.

Manfaat iPad (baca:TabletPC) bagi LPSE Badung

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Pada akhir November lalu, sebuah Media Cetak lokal menurunkan sedikitnya lima kali liputan secara beruntun terkait pemanfaatan dana APBD untuk pengajuan 60 buah perangkat iPad yang akan diberikan kepada para pejabat eselon di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung. Dalam salah satu liputannya, sempat merembet sedikit ke pengajuan 6 buah iPad yang sudah dilakukan sebelumnya dan diperuntukkan bagi tim pengelola LPSE Badung.

Saya pribadi sebagai salah satu anggota dari Tim LPSE Badung yang mendapat kehormatan (baca:kebagian) untuk memegang salah satu dari 6 buah iPad yang diajukan, merasa sedikit tergelitik dengan setidaknya 2 hal penting dalam liputan tersebut. Pertama, istilah ‘iPad’ yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai TabletPC karena dalam praktek dunia Pengadaan tidak boleh menyebutkan satu merek tertentu secara spesifik. Dan Kedua, soal pertanyaan apakah dengan keberadaan ipad tersebut diperkirakan akan dapat meningkatkan kinerja pemegangnya mengingat ‘image’ kami sebagai PNS sudah kadung lekat dengan hal-hal negatif dan birokrasi yang menjelimet.

Namun, saya pribadi lantas memakluminya lantaran secara penyebutan, orang akan lebih familiar dengan sebutan ‘iPad’ untuk mengatakan perangkat sentuh berlayar lebar ketimbang TabletPC yang notabene berbasis banyak OS (sistem operasi) yang berbeda. Selain itu, bagi seorang pejabat eselon, sangatlah wajar jika harapan peningkatan kinerja itu dipertanyakan mengingat dari segi usia sudah tidak lagi produktif untuk belajar, menguasai serta memanfaatkan Teknologi yang mampu dilakukan mengingat segala proses yang berlangsung dalam dunia ke-pemerintahan masih bersifat Konvensional. Lantas bagaimana dengan kami di LPSE Badung ?

Sebagaimana fungsi atau tugas kami selaku Unit yang menjembatani kepentingan Penyedia Barang/Jasa dengan Panitia/Unit Layanan Pengadaan dalam beraktifitas secara online, adalah satu kewajiban bagi kami untuk tetap terhubung dengan dunia maya kapanpun dan dimanapun. Selain untuk menjaga agar sistem dapat tetap berjalan secara normal, kebutuhan kami akan ‘selalu terhubung’ akan berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab yang kami pikul masing-masing selaku tim pengelola LPSE.

Katakanlah terkait tugas saya selaku Admin Agency LPSE Badung. Selain melakukan inputing paket pekerjaan yang akan di-e-Proc-kan melalui LPSE, pula harus melakukan input daftar Kepanitiaan (yang kini disebut sebagai Pokja) plus memberikan UserID serta Password masing-masing pelakunya. Aktifitas ini bisa saja dilakukan melalui fasilitas NoteBook dan juga tambahan Modem Mobile Internet yang telah diberikan sebelumnya. Namun dalam situasi tertentu, diluar jam kerja tentu saja, kedua perangkat tersebut tidak dapat saya bawa dan lakukan dengan bebas. Terutama yang berkaitan dengan kegiatan Adat misalnya.

Adapun kemudian Maret 2011 lalu, saya beruntung bisa membeli sebuah perangkat komunikasi tambahan berbasis Android menggantikan ponsel Nokia N73 yang sudah kelewat jadul itu. Setelah dioprek beberapa hari, saya menemukan fakta bahwa perangkat ini kendati berukuran kecil namun kemampuannya mampu meng-cover hampir semua kegiatan saya yang berkaitan dengan LPSE. Baik itu inputing data, mengelola akun ID Panitia, menerima email dari banyak pihak atau malahan melakukan Ping atau checking kondisi Server LPSE yang dahulunya barangkali hanya dapat kami lakukan dengan mengandalkan perangkat NoteBook.

Kenyataan inilah yang kemudian menjadi satu laporan tambahan dari kami kepada atasan, bahwa untuk kedepannya masing-masing personil yang masuk dalam Tim Pengelola LPSE yang membutuhkan aktifitas ‘selalu terhubung dengan dunia maya’ minimal dibekali pula dengan perangkat mobile seperti yang saya miliki. Adapun personil yang saya maksud diatas meliputi Ketua LPSE, Sekretaris, Admin Sistem, Admin Agency, Verifikator dan HelpDesk.

Kepentingan antaran Ketua dan Sekretaris LPSE adalah terkait Koordinasi antar lembaga ataupun intern LPSE dan para pelaku Pengadaan termasuk pula Pengelolaan Rumah Tangga LPSE, Admin Sistem dalam kaitannya dengan Server pula aplikasi SPSE, Admin Agency terkait inputing Data Panitia/Pokja dan Paket e-Proc, Verifikator terkait pengelolaan akun ID para Penyedia Barang/Jasa dan HelpDesk yang berlaku layaknya Customer Service LPSE mutlak memeriksa akun email ataupun halaman Tanya Jawab secara berkala.

Bersyukur Bahwa kebutuhan akan perangkat Mobile berbasiskan Internet ini bisa dikabulkan dan diadakan pada kuartal ketiga Tahun 2011 lalu. Sehingga jujur saja beberapa aktifitas yang kami lakukan sejauh ini bisa dikatakan amat sangat terbantu terutama ketika dilakukan diluar jam kerja dan diluar rumah sekalipun. Lantas apa pertimbangan kami memilih perangkat HTC FLYer sebagai perangkat Mobile berbasiskan Internet yang diperuntukkan bagi LPSE Badung ? Bukan BlackBerry ataupun iPad ? Tunggu tulisan selanjutnya.

@LPSEBadung Informasi seputar Tips Pemasukan Penawaran oleh Rekanan LPSE Pemkab Badung

2

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

“Topik @LPSEBadung hari ini adalah Tips Pemasukan Penawaran paket lelang e-Procurement..” (24 Juni)

“Untuk bisa memasukkan penawaran dengan baik, silahkan Unduh aplikasi #Apendo terlebih dahulu di halaman User masing-masing” (24 Juni)

“Bagi yang belum paham apa itu #Apendo dan cara penggunaannya, silahkan pantau Tweet kami sebelumnya perihal #Apendo di @LPSEBadung” (24 Juni)

“Bagi Rekanan yang memiliki lebih dari satu bendera, disarankan untuk menggunakan aplikasi #Apendo yang berbeda untuk setiap bendera” (24 Juni)

“Untuk mengakali penggunaan #Apendo di setiap bendera, berikan nama folder yang berbeda sesuai dengan nama Bendera yang digunakan” (24 Juni)

“Tidak disarankan menggunakan satu aplikasi #Apendo untuk bendera atau nama perusahaan yang berbeda” (24 Juni)

“Prosedur pengiriman dokumen penawaran hanya mampu melakukan pengiriman satu file yang sudah di-#Apendo berupa file dengan ekstensi RHS” (24 Juni)

“Satu file RHS dapat mengandung satu atau lebih file dokumen penawaran dalam berbagai format. doc, xls, ppt, pdf, txt, jpeg, dwg dan lainnya” (24 Juni)

“(1) #Tips Sebelum melakukan enkripsi data dokumen penawaran dengan menggunakan aplikasi #Apendo, Rekanan diharapkan untuk : ” (24 Juni)

“(2) #Tips. Menyiapkan semua dokumen yang akan dikirim dalam satu folder terpisah” (24 Juni)

“(3) #Tips. Menutup semua Dokumen Penawaran secara permanen sebelum di-eksekusi” (24 Juni)

“(4) #Tips. Memindahkan semua file dokumen Penawaran kedalam hard disk (bukan dalam flash disk) ” (24 Juni)

“ (5) #Tips. Periksa kembali apakah dokumen Penawaran yang akan dikirim sudah benar dan dapat dipertanggungjawabkan” (24 Juni)

“(6) #Tips. lakukan kompresi sebilamana perlu untuk memperkecil besaran file yang akan dikirimkan” (24 Juni)

“(7) #Tips. Semua tips diatas bertujuan untuk mempercepat proses Enkripsi data dengan memanfaatkan aplikasi #Apendo” (24 Juni)

“(8) #Tips. Apabila terjadi hambatan (hang, crash ataupun proses yang terlalu lama) silahkan terapkan ‘semua’ tips tadi” (24 Juni)

“(9) #Tips. Semua Tips mutlak dilakukan untuk keberhasilan proses Enkripsi data dengan memanfaatkan aplikasi #Apendo” (24 Juni)

“Sebanyak apapun file Dokumen Penawaran beserta lampirannya, akan menghasilkan satu file yang berekstensi RHS untuk dikirim ke Sistem LPSE” (24 Juni)

“Apabila terjadi Perubahan Penawaran sebelum Jadwal Pembukaan Penawaran dilakukan, Rekanan dapat mengubah kembali file Penawarannya” (24 Juni)

“Untuk melakukan perubahan pada Dokumen Penawaran, Rekanan tinggal melakukan Proses Enkripsi Data dengan #Apendo dan mengirimkannya kembali” (24 Juni)

“Tidak ada batasan berapa kali file Dokumen Penawaran dapat dikirimkan oleh Rekanan, selama jadwal Pemasukan Penawaran masih berlaku” (24 Juni)

“Yang perlu dipahami oleh Rekanan bahwa Dokumen Penawaran yang akan diakui oleh Sistem adalah Dokumen yang terakhir kali dikirim oleh Rekanan” (24 Juni)

“Sebelum Rekanan mengirimkan file Dokumen Penawaran, periksa kembali ukuran file Penawaran (dalam format ekstensi RHS) ” (24 Juni)

“Bandingkan ukuran file RHS yang dihasilkan oleh aplikasi #Apendo, dengan file aslinya yang dikompresi menggunakan aplikasi WinZip/WinRar” (24 Juni)

“Apabila ada kemiripan ukuran besaran file, bisa dipastikan file RHS yang akan dikirimkan sudah valid dan benar” (24 Juni)

“Sistem SPSE hanya akan menerima file yang berekstensikan RHS saja, bukan yang lain. Jika tidak percaya, uji saja” (24 Juni)

“Salah satu hambatan terbesar saat melakukan Pengiriman file Dokumen penawaran adalah kecepatan Koneksi Internet yang digunakan” (24 Juni)

“Satu Tips manjur terkait Pengiriman Dokumen Penawaran adalah, lakukan H-1 atau sebelumnya atau diluar jam sibuk” (24 Juni)

“Keluhan yang paling sering kami dapatkan adalah sulitnya memasukkan File Dokumen Penawaran satu jam sebelum jadwal ditutup” (24 Juni)

“Bagi yang kesulitan saat memasukkan atau meng-Upload Dokumen Penawaran, silahkan datang ke gedung @LPSEBadung, tidak dipungut biaya kok” (24 Juni)

“Untuk kelancaran Proses lelang bagi Rekanan, Penyedia maupun panitia, kami @LPSEBadung menyediakan beberapa fasilitas yang siap digunakan” (24 Juni)

“Ada 6 PC di Ruang Bidding yang sudah tersambung LAN diperuntukkan bagi para Rekanan, Penyedia dan Panitia untuk memudahkan aktifitasnya” (24 Juni)

“Ada 10 PC di Ruang Latihan yang bisa juga digunakan untuk kebutuhan Training serta Kursus Kilat” (24 Juni)

“dan jika itu masih kurang, silahkan membawa NoteBook pribadi dan nikmati Free Wifi kami untuk dapat terhubung ke alamat @LPSEBadung” (24 Juni)

“Sekian Tweet @LPSEBadung hari ini terkait Tips pemasukan Dokumen Penawaran, Sampai jumpa hari Senin depan. Terima Kasih” (24 Juni)

“Sekedar mengingatkan, silahkan Kontak kami di lpse.badungkab.go.id atau e-mail di [email protected] atau follow @LPSEBadung