Mau Pilih Rajin Absen atau Rajin Kerja ?

1

Category : tentang KHayaLan

Gak semuanya kok yang namanya PNS itu malas ngantor dan malas kerja, apalagi kalo hanya berpatokan ke soal absensi pagi dan sore. Ada juga oknum oknum yang merasa total saat berada di lapangan, sementara merasa gak ada gunanya berada di balik meja. Disamping ya memang ada juga yang memilih rajin absensi pagi sore tapi sepanjang pengamatan ndak ada masuk ke ruangannya.
Ada.
dan memang gak semuanya.
Tapi Ada.

Aturan yang dibuat belakangan sepertinya kelak akan membuat oknum oknum yang sebagaimana kalimat terakhir diatas bakalan makin berkibar. Karena patokannya ya absensi tepat waktu pagi dan sore. Kalo telat ya siap-siap aja dipotong, bahkan katanya sih ada hitungan per menit telatnya.
Wah, selamat deh.
Macet Macet deh sampe siang.

Lha sekarang era nya jadi tinggal milih. Mau Rajin Absen atau Rajin Kerja ?
It’s all yours. Terserah kaliannya.
dan dibalik keputusan itu tentu ada banyak konsekuensi yang hadir didalamnya.
Para PNS yang berstatus orang tua dengan anak yang berstatus murid sd sekolahan, mau gak mau harus bangun lebih pagi agar bisa mengantarkan si anak lebih pagi dan tiba di kantor tepat waktu. Atau mencarikan gojek alias tukang antar bolak balik rumah dan sekolah setiap pagi. Itu konsekuensi. Terserah bagaimana caranya.

Para PNS yang tempat tinggalnya di ujung Utara atau Selatan wilayah kerja pun harus rela kembali ke ruangan absensi meskipun saat mendekati jam pulang masih berada di lokasi dekat situ untuk mengawasi kegiatan. Diberkatilah kalian hai orang lapangan. Nanti akan saya ajukan saja bagi yang tinggal di Petang akan ditugaskan di Kuta Selatan, pun sebaliknya. Agar saat sore ndak begitu terbebani harus balik kantor lagi hanya untuk absensi sidik jari.

Efektif ? Ya harus.
Karena Itulah aturan. Dan Aturan memang harus ditaati. Kalo ndak ya siap siap dipotong.
Harus siap loh ya…

Nah trus ya belum kejawab, Mau Rajin Absen atau Rajin Kerja ?

Aturan Potong Insentif Pegawai Badung ?

4

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Menjadi PNS itu nikmat. Sudah ngantor siang, pulangnya mendahului, gaji dan tambahan penghasilan ya tetep aja full diterima. Ndak heran, banyak yang berusaha nyogok ataupun mbayar agar bisa lolos tes CPNS.
Begitu pendapat beberapa kawan saya baik masa sekolah maupun kuliah. Pun ada juga masyarakat yang saya temui di sela pemeriksaan lapangan.
Maka ndak heran kalo kemudian banyak yang kritis menghakimi, lantas menganggap semuanya ya sama saja. Lalu aturan baru pun dibuat.

Khusus pegawai negeri di lingkungan Kabupaten Badung, kini sedang diujicobakan aturan pemotongan insentif apabila pegawai jarang ngantor. Lalu apa dong tolok ukur yang dipake untuk kemudian memotong besaran insentif kalo si oknum terpantau ndak ngantor ? Ya absensi pagi dan sore.

Tapi apa iya hanya butuh peninjauan sesederhana itu ?

He… saya lagi membayangkan. Satu dua minggu nanti bakalan dicoba, absen pagi tepat waktu, trus balik pulang, kelayapan, ngobyek di luar dan akhirnya absen sore pun berusaha tepat waktu. Apa ini artinya saya bisa mendapatkan besaran insentif yang utuh selama bulan-bulan terkait ?
Bisa jadi. Karena logikanya begitu.

Nah trus kalo kemudian kasus-kasus khusus dimana tugas pokok dan fungsi kami sebagai tenaga lapangan, kebetulan ditugaskan di wilayah Kuta Selatan, dengan jarak akses 1-2 jam satu arah, sementara tempat tinggal berada dekat lokasi survey, apakah diwajibkan balik kantor hanya untuk absensi lalu pulang ? Widih… bisa jadi. Aturannya begitu.

Lalu apa yang harus dilakukan ?
Ya pasrah aja deh. Toh aturan dibuat memang untuk memberangus pembelotan jam kerja. Termasuk dan sekalian juga untuk orang-orang yang selama ini berdedikasi di lapangan.
Bagaimana menurut kalian ?

Diperiksa Tipikor (lagi)

Category : tentang KHayaLan

Diberi beban kerja sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen atau yang dahulu dikenal dengan sebutan PimPro untuk 54 paket fisik peningkatan Jalan Lingkungan Kabupaten Badung, ditambah 6 paket Perencanaan dan 6 Paket Pengawasan belum termasuk yang bersumber dari dana APBN seperti PNPM Mandiri Perkotaan dan PPIP, sebetulnya sudah membuat puyeng kepala dan juga dengan terpaksa mengorbankan kesehatan, nampaknya yang namanya cobaan dari Tuhan belum jua usai.
Kali ini ditambah satu lagi, pemeriksaan dari Tipikor Polres Badung, menindaklanjuti laporan dugaan tindak pidana korupsi pada salah satu paket diatas. Tentu proses pemanggilan ini berkaitan dengan tugas yang dibebankan pada saya diatas.
Berat ?
Ya… tapi dijalani saja.

Memikul tanggung jawab untuk sedikitnya 66 paket sebagaimana gambaran awal diatas, bagi sebagian orang sepertinya sudah mulai maklum apabila satu dua diantaranya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Masalah Sosial menempati urutan pertama. Berlanjut pada masalah Teknis, baru kemudian Administrasi. Mereka lalu menganggap wajar saat saya mulai mengganggu waktu senggangnya dengan curhat dan keluhan. Sedangkan sebagian lagi tentu saja menganggap saya salah, teledor dan kurang cermat.

Berusaha menyelesaikan masalah dengan Benar saja masih dianggap Salah. Apalagi diselesaikan dengan cara yang Salah ?

Kurang lebih begitu yang saya yakini dan rasakan sedari awal dipercaya memegang jabatan sebagai PPK di sejumlah Kegiatan Jalan Lingkungan.

PanDe Baik Tipikor 3

Akan tetapi ya… wajar juga sih kalau sebagian dari kawan dan rekan kerja saya menuntut kegiatan yang dapat diselesaikan secara perfect keseluruhan. Bukankah dana yang saya pegang ini merupakan dana rakyat ? Sebagian dari pajak yang mereka bayarkan selama setahun kemarin ?

Maka ketika obrolan kita balik lagi ke persoalan judul posting, ya wajar saja jika kemudian salah satu penyidik senior yang ditugaskan untuk memeriksa saya jumat pagi tadi merasa emosi saat satu dua pertanyaannya saya jawab ‘tidak ingat’. Wong dana paket kegiatan yang disangkakan pada saya mencapai angka 2 M.

Akan tetapi, saya sempat tekankan bahwa beda loh jika saya menjawab ‘Tidak Tahu’ dengan ‘Tidak Ingat’ jika mereka menyadari sepenuhnya posisi saya sebagaimana gambaran di paragraf pertama postingan ini. Jika menjawab ‘Tidak Tahu’ ya tentu wajar pak Penyidik marah akan hal itu. Sebaliknya jika ‘Tidak Ingat’ ? Kurang lebih artinya Tahu, namun baru bisa dijawab ketika sudah melihat dokumennya nanti. Bukankah wajar bahwa yang namanya ingatan akan sulit mengingat pada detail satu hal ditengah puluhan pekerjaan yang sama dan mirip ?

Tapi ya sudahlah. Tugas Penyidik ya memang menyidik. Melakukan pemeriksaan atas laporan dugaan tindak pidana korupsi pada salah satu kegiatan yang saya pegang di tahun 2015 ini. Sedang saya ? Sebagai PPK ya tugasnya tentu bertanggungjawab penuh pada kegiatan, menindaklanjuti usulan masyarakat, penugasan pimpinan hingga menyelesaikan semua persoalan yang terjadi di lapangan, termasuk potensi diperiksa Tipikor, bahkan menjadi Tersangka dan seterusnya.

dan sebagaimana yang sudah disampaikan diatas, ya dijalani saja.

Saya yakin Tuhan tidak akan Tidur. Seandainya pun nasib berkata lain, saya hanya berhadap keadilan hidup yang akan dirasakan oleh masing masing hamba-Nya.

Nasi be Guling warung Penatih nak nu jaen, pak Penyidik.
Demikian halnya dengan tawa renyah ketiga putri saya.
Untuk hal-hal itulah yang membuat saya tidak melakukan percobaan korupsi dalam bentuk apapun berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban saat ini. Cukup hanya waktu luang sebagai PNS saja yang masih kerap saya korupsi, untuk menuliskan unek-unek keluhan saya macam ini, atau mencuri-curi tidur saat lelah di kabin mobil, dibawah pohon yang rindang halaman parkir kantor.

* * *
…kamar mandi rumah di Nangka. 08.00 pm. Hanya sebuah cerita atas pemeriksaan Tipikor Polres Badung pagi tadi.

Genjot Jalan Lingkungan, Badung gelontorkan 100 Milyar

2

Category : tentang PeKerJaan

Demi mewujudkan kondisi infrastruktur dasar di lingkungan desa dan kelurahan, Kabupaten Badung siap menggelontorkan dana APBD untuk tahun anggaran 2014 sebesar 100 Milyar, sedikit lebih kecil bila dibandingkan dengan dana yang dianggarkan tahun 2013 kemarin. Ini terjadi karena terdapat enam desa kelurahan yang sudah tidak lagi mengajukan usulan perbaikan jalan lingkungan di wilayahnya, dengan alasan sudah tuntas ditangani.

Kegiatan peningkatan jalan lingkungan permukiman ini merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Badung untuk membantu berjalannya perekonomian masyarakat setempat serta dapat dimanfaatkan secara optimal demi kepentingan bersama.

PNPM PPIP Badung PandeBaik 3

Besarnya dana yang digelontorkan tersebut menyasar sekitar 56 desa kelurahan di seluruh wilayah Kabupaten Badung, dengan jenis kegiatan pavingisasi atau rabat beton di ruas gang maupun jalan yang berstatus lingkungan permukiman serta perbaikan drainase yang pula menjadi bagian dari infrastruktur dasar di lingkungan desa kelurahan.

Untuk mewujudkan rencana kegiatan tersebut, dalam waktu dekat beberapa paket fisik dan pengawasan terkait peningkatan jalan lingkungan permukiman ini sedianya siap dilelangkan secara online melalui Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Badung. Dengan harapan pada awal tahun 2014, sebagian besar paket sudah siap untuk dilaksanakan.

Sementara itu untuk kegiatan yang sama di tahun anggaran 2013 per minggu terakhir sudah memasuki progress kemajuan fisik rata-rata sebesar 95 %, dimana jumlah kegiatan yang tersisa dengan masa berakhirnya Kontrak di pertengahan Desember ini sebanyak 11 paket. Seiring dengan kemajuan yang ada, Kepala Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung Ir. Ni Luh Putu Dessy Dharmayanty, MT optimis bahwa seluruh kegiatan Peningkatan jalan lingkungan ini akan selesai pada waktunya.

Meskipun belum sepenuhnya keberadaan jalan lingkungan permukiman di Kabupaten Badung dapat tertangani secara tuntas tahun ini maupun tahun 2014 yang akan datang, namun dengan adanya dukungan dan komitmen dari Bupati Badung Anak Agung Gde Agung bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam perencanaan RAPBD dari tahun ke tahun, diharapkan agar segenap masyarakat tidak terjebak dalam perselisihan sosial akibat penanganan yang dilaksanakan secara bertahap.

PPK oh PPK

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Setelah mengalami tarik ulur dalam jangka waktu satu minggu lamanya, akhirnya penunjukan posisi sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen yang nantinya akan menghandle sekitar 69 paket kegiatan di Seksi Permukiman Dinas Cipta Karya di seluruh Desa se-kabupaten Badung, dialamatkan pada saya. Selamat deh, bathin saya…

Namun ucapan Selamat yang saya maksudkan diatas bukanlah satu ungkapan atas bersyukurnya langkah yang diambil, namun lebih ke kepasrahan diri pada sekian banyak tantangan dan kesulitan yang kelak bakalan dihadapi.

Bukan bagaimana, tapi jika mendengar adanya masalah yang terjadi sejak awal kepindahan saya ke posisi Kepala Seksi Permukiman, barangkali keputusaan yang diambil tersebut bakalan menjadi sebuah palu gada yang siap menghantam kepala dengan ratusan kasus yang bisa jadi berbeda.

Berlebihan ? tidak tentu saja. Serius…

Tapi ya sudahlah… minimal sedari awal saya sudah mengakui bahwa apa yang akan terjadi adalah miskomunikasi untuk masalah administrasi mengingat saya pribadi belum pernah memiliki pengalaman sebagai PPK sebelumnya. Dan itu bakalan menjadi masalah besar apalagi jumlah paket kegiatan yang ada sedemikian banyaknya.

Jika sudah begini, sangat wajar akibatnya pada pikiran dan suasana hati yang saya alami sejak awal penunjukan, menjadi makin menggalau dan terbebani. Dan waktu liburan menjadi sangat berarti untuk mengistirahatkan kepala dan rutinitas, berganti dengan waktu tidur yang lebih panjang dan bercanda dengan kedua putri kami lebih lama.
*fiuh…

Satu hal yang kemudian menjadi catatan saya hingga kini adalah… sepanjang kesalahan yang saya lakukan hanya sebatas administrasi penanggalan, dan bukan lantaran korupsi uang negara, setidaknya apapun hukuman yang kelak akan saya terima, tentu berharap itu bukan menjadi masalah yang besar secara pribadi. Toh semua hal tersebut masih bisa dan harus saya pelajari dalam waktu yang cukup singkat ini demi masa depan dan tindakan di masa yang akan datang.

Berharap semua bisa ditangani dengan baik.

PPK oh PPK… Nasib… Nasib…

Kangen *uhuk

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Belum genap seminggu saya bertugas sebagai Kepala Seksi Permukiman Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung, rupanya rasa kangen hampir setiap hari mendera. Mungkin ini merupakan efek dari suasana baru, yang kalo gag salah pernah pula saya rasakan saat berpisah dengan Tim 10 pelaksana LPSE Badung periode awal.

Namun kini, bisa dikatakan rasa kangen ini jauh lebih besar, mengingat saya meninggalkan tiga tempat yang hingga minggu lalu masih kerap disambangi.

Kantor Pengendalian dan Evaluasi Dinas Bina Marga dan Pengairan. Ruangan ini memang sejak awal saya tempati, pun sejak kami masih berkantor di jalan Beliton saat pertama kali lolos CPNSD tahun 2003/2004 lalu. Suasana kerjanya adem, apalagi menjadi salah satu karyawan tertua *eh terlama disitu, menjadikan saya sedikit lebih menguasai medan untuk beberapa pekerjaan. Syukurnya, ruangan ini berada di gedung dan lantai yang sama, jadi kalopun kangen dengan ruangan dan orang-orangnya, saya tinggal mampir bentar usai ke Toilet ataupun makan siang. :p

Kantor LPSE Badung. Ruangan kecil namun nyaman untuk saya tempati di lantai bawah, merupakan rumah kedua yang biasa disambangi saat senggang di kantor utama. Pun sebagai tempat untuk melakukan tugas jaga dan rutin sebagai Sekretaris Badung, memformulasikan Tim, Adminstrasi hingga hobby tanpa gangguan banyak hal.

Terakhir, tentu saja Rumah. Oke, memang tidak sepenuhnya saya meninggalkan rumah, namun waktu untuk bercanda, bersendagurau bersama Istri, dua putri dan orang tua, secara otomatis jadi berkurang. Apalagi dalam waktu seminggu pertama ini, BPK sedang gencar-gencarnya meminta data secara berulang. Maka jadilah saya berangkat pagi dan pulang malam. Tiba dirumahpun, baik MiRah dan Intan yang kini lagi lucu-lucunya tidak bisa saya ajak terlalu lama. Keburu tidur…

Terlepas dari ketiga hal tersebut, hubungan personal saya dengan Istri dan dua senior di LPSE pun jadi agak merenggang. Namun kalian jangan coba-coba mengambil kesempatan usai membaca kalimat diatas *uhuk

Jika dulu, Istri secara rutin saya ajak berangkat bareng, pulang bareng hingga makan siang bareng, kini sudah gag lagi. Apalagi dengan hadirnya BPK, jam pulang saya sudah molor jauh dari biasanya. Pun dengan jam makan siang yang terganggu akibat panggilan mendadak. Sedih sih kadang-kadang, gag ada yang bisa diajak sharing atau ketawa bareng, tapi kalo mengingat pada tugas, semua itu ya memang harus dijalani. Mungkin nanti ada masanya kami ngumpul lagi.

Demikian halnya dengan kedekatan terhadap dua senior di LPSE Badung. Jika dahulu kami secara rutin berkumpul untuk membahas hal-hal yang menjadi kesulitan seminggu terakhir dan berusaha memecahkannya, kini sudah mulai jarang ngumpulnya. Baik secara nyata atau langsung atau via whatsapp. Untuk yang ini, sedihnya gag sebesar kalo dengan istri, namun tetap saja merasa

kasihan dengan mereka berdua. Tapi yah, ini juga menjadi resiko atas kepindahan yang saya lakukan. Semoga saja kali lain bisa terwujud ngumpul-ngumpulnya.

Kangen…
Entah sampai kapan rasa ini bakalan menghantui hari-hari…