Menjajal iPhone 4 (Replika)

14

Category : tentang TeKnoLoGi

iPhone 4 (Replika) yang saya pegang kali ini bisa dibilang sebagai KW 1-nya iPhone 4 milik Apple yang dijual tiga kali gaji saya saat ini. Mengapa demikian ?

setelah mengingat-ingat atau membandingkannya dengan Replika iPhone 3GS yang tempo hari  sempat saya tulis pula disini, secara tampilan awal dan Packagingnya jelas jauh lebih meyakinkan ketimbang yang terdahulu. Charger original, pinset kecil pembuka slot simcard yang berada di sisi samping ponsel dan juga tanpa bekal batere dan stylus tambahan. Sempurna.

Demikian dengan tampilan Icon dan Menu yang menjadi Ciri Khas milik iPhone. Baik Setting, Camera maupun Phone, Contact dan keypad virtual-nya. Sangat jernih dan memuaskan. Begitu pula dengan cara pemindahan ShortCut icon Menu aplikasi antar HomeScreen dan aplikasi yang disertakannya. Saya malah menemukan Talking Tom, aplikasi favorit MiRah putri kami di ponsel Android, yang mampu menirukan suara si pembicara dalam versi Pro atau Full. Atau aplikasi yang hanya sebagai hiasan Jahil semata seperti Zippo, sebuah korek gas yang dapat dibuka, nyalakan dan tutup kembali dengan cara memperlakukan ponsel seperti memperlakukan sebuah korek api. Semua memang tampak meyakinkan, begitu pula Single Sim Card yang makin membuat saya terkagum-kagum plus keberadaan TV Digital (bukan Analog, yang biasanya menjadi ciri khas sebuah ponsel China).

Sayang, kekaguman saya pelan tapi pasti sirna begitu melihat tampilan File Manager yang tidak mendukung pengoperasian yang sederhana dan cepat khas ponsel iPhone, begitu pula dengan tampilan Browser bawaan Safari. Sangat mirip dengan tampilan File Manager serta Browser ponsel China.

Baru menyadarinya ketika saya mencoba mengutak atik Pengaturan Network dan Profile Manager yang memang penuh dengan tampilan tulisan China lengkap dengan keypad huruf China-nya. Waduh…

Mengingat ini adalah sebuah ponsel Replika, pantas saja saya tak menemukan icon App Store-nya sejak awal. Lantas, bagaimana bisa aplikasi Talking Tom dan Zippo yang saya temukan sebelumnya bisa hadir di ponsel ? hal inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi saya hingga hari ini.

Meski demikian, satu petunjuk penting yang saya dapatkan lebih lanjut adalah, ponsel Replika ini hanya mendukung aplikasi atau games yang berbasis Java saja. Buktinya terdapat icon Menu Java Manager lengkap dengan isinya (file aplikasi dan games Java) dan juga di beberapa folder yang terdeteksi dalam File Manager, memang benar bahwa terdapat beberapa file Jar dan Jad didalamnya. Sayang, hingga ponsel ini dikembalikan, saya tak menemukan cara untuk membuatkan icon Menu shortcut dari aplikasi ataupun games yang telah berhasil diinstalasi.

Keunikan lainnya adalah Tampilan besaran Memory yang ada di File Manager adalah 32 GB. Sangat mantap tentu saja. Namun saya tak menemukan cara bagaimana memeriksa berapa memory yang tersisa dari besaran 32 GB tersebut, karena meskipun saya jejalkan beberapa file audio melalui perangkat Bluetooth, tetap saja File Manager menyatakan sisa yang sama. 32 GB. Ealah…

Dunia Maya memang berhasil saya akses melalui pengaturan pada Jaringan (Network) dan Profile SIM Card yang digunakan, namun ada satu kendala yang saya temukan di perjalanan dan jujur saja kendala ini bisa dikatakan sangat mengganggu aktifitas saya untuk terkoneksi ke dunia maya, yaitu Profile yang kerap berubah sendirinya ke Pengaturan Default. Padahal pengaturan sebelumnya sudah tersimpan dan berhasil dijalankan. Awalnya saya sempat menduga bahwa perubahan ini sebagai dampak melakukan aksi Restart Ponsel, namun segera terpatahkan ketika Restart tak jua saya  lakukan dalam waktu yang lama. Pengaturan tetap kembali dengan sendirinya, sehingga untuk bisa terkoneksi kembali ke dunia maya, pengguna mutlak melakukan perubahan pada Pengaturan Profile Sim Card lagi secara manual. Sangat merepotkan tentu saja.

Kamera yang disematkan cukup besar, 2 Mega Pixel. Ditambah keberadaan lampu Flash pula. Namun lampu ini akan menyala secara terus menerus saat Pengaturan Flash diaktifkan. Tidak aktif secara otomatis saat gambar diambil.

Beberapa icon menu yang sebelumnya saya akses memang benar sangat mirip dengan tampilan Menu iPhone yang original. Namun tidak demikian halnya dengan icon menu lainnya. Beberapa tidak dapat diaktifkan mengingat sulitnya terhubung dengan Jaringan (mungkin karena perubahan Profile diatas), beberapa lainnya malah menampilkan huruf pada sekujur layar termasuk opsi pilihan dalam tampilan huruf China. Jelas ini sangat menyulitkan, meskipun Setting Pengaturan Bahasa yang dipergunakan pada ponsel sudah diatur ke English.

Naik turunnya daya tahan batere sebagai asupan daya utama juga membuat saya kebingungan, karena prosentase tidak pernah lebih dari 40% meski sudah di-Charge agak lama. Pun demikian saat berada pada low level atau sekitar 10%-an secara mendadak naik menjadi 17/18%.

Bagusnya, secara tampilan layar Menu atau HomeScreen, pengguna dapat melakukan perubahan Wallpaper ataupun tampilan Menu (sejenis Launcher) secara cepat dengan melakukan Tap atau sentuh pada salah satu icon Menu yang disediakan.

Menariknya tampilan luar namun ketahuan belangnya jika ditelusuri lebih dalam, membuat saya dapat memberikan saran yang sederhana saja. Gunakan seperlunya dan sebisa mungkin agar terlihat pada lingkungan sekitar secara sepintas bahwa benar ponsel yang digunakan merupakan iPhone 4 rilis terbaru. Silahkan bolak balik bodi ponsel dan mainkan. Atau gunakan Leather Case atau Hard case untuk lebih meyakinkan. Namun jika bisa, proteksi dengan pin atau password agar ketika ponsel digenggam orang, yang bersangkutan tidak dapat mengakses ponsel lebih lanjut. Mudah kan ?

Urusan Bergaya dan Gengsi tetap bisa dilakukan walau dengan harga yang tak sampai satu juta rupiah, hehehe…

Kerennya Godaan iPhone 4 (replika)

6

Category : tentang TeKnoLoGi

“Kesan Pertama, Begitu Menggoda…  Selanjutnya, Terserah Anda…”

Siapa nyana jika ponsel Apple iPhone 4 yang saya pegang awal bulan Agustus alu ternyata hanyalah sebuah Replika ?

Berawal dari telepon seorang Sepupu yang minta tolong untuk Setting Internet pada ponsel iPhone yang ia punya, lantaran setelah dibawa ke Rimo Trade Centre, gag satupun toko yang mampu melakukannya. Pikir saya saat itu sederhana saja. Sesulit itukah ?

Pertama melihat, sudah jelas sangat meyakinkan. Beberapa kali dibolak balik, pelan tapi pasti saya merasa kagum dengan penampilannya. Saat di-Compare sejajar dengan Samsung Galaxy Ace milik saya, betapa terlihat perbedaan yang tak mencolok saat dilihat secara seksama. Hanya dari ukuran, dan bentukan tombol saja.

Yang kemudian makin membuat saya tambah kagum adalah icon dan warna yang ditampilkan. Sangat jernih dan halus. Begitu pula dengan pergerakan antar halaman menu dan mencoba membuka beberapa icon yang memang menjadi ciri khas dari ponsel iPhone 4.

Sayangnya, semua kepalsuan dari sebuah Replika iPhone 4 ini baru saya ketahui saat membuka Menu jauh lebih dalam. Hampir saja ditawar balik dan tertipu. Hehehe…

Beberapa diantara yang membuat saya makin yakin adalah menu Browser bawaan atau yang disebut dengan Safari, tampilannya kok mirip dengan ponsel China ? begitu pula dengan File Manager-nya yang plek buatan China. Barulah saya ngeh, mengapa tak satupun Toko di Rimo Trade Centre mampu melakukan Setting Internet pada ponsel ini.

Selama setengah jam saya melakukan akses menu bolak balik, tak jua menemukan cara yang pasti. Namun, satu keyakinan saya bahwa, sebuah ponsel China memang memerlukan dua atau tiga kali Pengaturan untuk bisa terhubung dengan dunia maya. Tidak seperti ponsel Branded Global yang begitu mudah.

Namun kukuhnya usaha yang saya lakukan berbuah manis. Ponsel iPhone 4 Replika ini benar-benar bisa terhubung dengan dunia maya meski teramat sangat lelet. Sayapun diberikan keleluasaan mengoprek lebih jauh oleh siempunya ponsel, dengan harapan yang bersangkutan bisa terhubung dengan FaceBook kapan saja.

Siap Ndan. Jawab saya saat itu. Dan bersyukur banget, kalo saya diberi kesempatan untuk menjajalnya lebih jauh. Mau tahu bagaimana kelanjutannya ? simak di tulisan berikutnya. :p

Annoying Orange, Jeruk Oranye yang menjengkelkan

Category : tentang TeKnoLoGi

“Hey Apple… Hey Apple…Teenage Mutant Ninja Apple…”

Sapaan khas si wajah jeruk disertai tawa bernada mengejek menjadi hal yang biasa ditemui dalam setiap aksi komedi dengan aktor dan aktrisnya yang berbentuk buah-buahan. Mengambil durasi rata-rata yang hanya sepanjang 3 (tiga) menitan, aksinya hampir selalu mengakhiri adegan dengan kelakuan ‘sadis’ sang koki yang mengiriskan pisaunya setelah adanya peringatan dari sang aktor utama. ‘Knife…

Bagi yang hobi memantau portal penyedia video dunia maya YouTube,  saya yakin pasti pernah mengenal wajah oranye si buah jeruk ‘Orange’ yang hanya berhiaskan dua mata dan mulut saja. Annoying Orange merupakan video seri komedi yang mapan melalui dunia maya dibawah tempaan YouTube. Sang penciptanya Dane Boedighimer untuk pertama kali menayangkan si Orange Oranye ini sekitar 9 Oktober 2009. Saking banyaknya yang menonton Video rilisan Dane, kabarnya si Annoying Orange ini dalam waktu dekat bakalan dibuatkan dalam bentuk Serial Televisi.

Dari 49 (empat puluh sembilan) video yang saya unduh milik si Oranye, Lima yang kemudian menjadi favorit dan layak rekomendasi untuk dicoba untuk ditonton, adalah aksi mengejek si Apel Merah, aksi menyapa Apel Hijau dengan sebutan ‘Teenage Mutant Ninja Apple’, aksi telepon berantai para buah yang menyapa dengan kata ‘Whazzup, saat bersua buah Pear yang diplesetkan menjadi Bear (Beruang) ‘don’t eat meeee…’ atau kisah si Orange yang mendadak lupa ingatan gara-gara terbentur buah lain. Hehehe…

Orange Oranye dalam setiap penampilannya selalu didampingi oleh sobat akrabnya buah Pear. Selain si Apel Merah, beberapa jenis buah yang ikut terlibat dalam penampilan singkat sang jeruk diantaranya Apel Hijau, Pisang, Melon, Kiwi, Marshmallow, Markisa, Jeruk Nipis, Cabai bahkan Keju dan Pasta. Selain itu beberapa aksi si Jeruk yang menjengkelkan ini ada juga yang mengambil tema tertentu seperti edisi PacMan, Transformer atau si pembunuh horror Saw. Tentu semuanya ditampilkan dalam bentuk Joke atau Lelucon yang barangkali hanya beberapa orang saja paham akan maksudnya.

Selain mengejek dan mengata-ngatai buah lain, Orange kerap memplesetkan nama si buah seenaknya. Seperti Plumpkin untuk si Labu misalkan. Atau malah bersendawa dan membuat nada suara dengan lidah yang yakin banget bisa membuat orang (termasuk saya) cekikikan dan tertawa tertahan.

Meskipun Pisau kerap menjadi akhir dari setiap episode Annoying Orange, tidak menutup aksi memblender lawan main atau bahkan memasaknya menjadi Pie Apel menjadi selingan yang tak kalah serunya.

Aksi Annoying Orange ini bisa dikatakan mampu membuat hari-hari melelahkan akan rutinitas pekerjaan sedikit terobati. Apalagi ketika mulai terbiasa dengan peringatan ‘Knife yang dilontarkan sesaat sebelum adegan ditutup, serasa jadi pengen dan pengen lagi menonton yang lainnya.

Bagi yang penasaran ingin mengetahui apa dan bagaimana cerita si Annoying Orange ini, cari di portal video YouTube saja yah.

Compare TabletPC support by Forsel and Sinyal Tabloid

13

Category : tentang TeKnoLoGi

Bukan tanpa alasan saya menurunkan tulisan komparasi/perbandingan beberapa TabletPC kali ini, tepatnya untuk didedikasikan pada semua teman yang bertanya sebelum membeli perangkat TabletPC yang rupanya beneran booming di tahun 2011 ini. Entah akan digunakan untuk menunjang pekerjaan secara mobile ataupun hanya untuk sekedar pamer gadget dan gengsi. It’s all yours.

Seperti halnya judul tulisan diatas, kali ini source yang saya gunakan adalah dua bacaan wajib yang saya dapat rekomendasikan pula kepada teman semua apabila ingin berbicara Gadget dan Teknologi dengan lebih baik. Majalah Forsel dengan Edisi Super Android April 2011 lalu dan Tabloid Sinyal dengan Edisi 120 10 Juni 2011 yang menurunkan Edisi TabletPC. Well, seperti halnya majalah InfoKomputer April 2003 jaman dulu yang menurunkan Edisi PDA Konvergensi, bisa dikatakan kedua Source diatas rupanya mampu mematahkan apa yang saya yakini sebelumnya dan mulai berpindah ke lain hati.

Yuk kita mulai.

Samsung Galaxy Tab 7”. Rp. 4,8 jt. Tahun Rilis Oktober 2010. OS : Android 2.2 Froyo. Layar 1024×600 pixel. Kamera belakang 3,2 MP depan (video call) 1,3 MP. Procie 1 GHz. RAM 512 MB. Internal 16 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support Voice dan SmS. Batere Li Po 4000 mAh. Galaxy Tab bisa dikatakan sebagai ikon TabletPC di negeri ini. Ukurannya yang kompak dan speknya yang mumpuni menjadikannya produk terlaris dan paling diburu sejauh ini. Apalagi didukung dengan Sim Card slot yang mampu membantu penggunanya terhubung ke dunia maya tanpa harus mencari Wifi Gratisan.

HTC Flyer 7”. Rp. 6,9 Jt. Tahun Rilis Juni 2011. OS : Android 2.3 GingerBread. Layar 1024×600 pixel. Kamera belakang 5,0 MP depan (video call) 1,3 MP. Procie 1,5 GHz. RAM 1 GB. Internal 32 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support SmS tanpa Voice. Batere Li Po 4000 mAh. Dibanding Galaxy Tab, diatas kertas Flyer jelas jauh lebih mumpuni, baik dari segi kecepatan, sistem operasi dan daya simpan. Secara harga yang ditawarkan, jelas bisa dianggap wajar. Sayangnya minus telepon, meski sudah sim card support.

Dell Streak 7”. Rp. 5,5 Jt. Tahun Rilis Februari 2011. OS : Android 2.2 Froyo. Layar 800×480 pixel. Kamera belakang 5,0 MP depan (video call) 1,3 MP. Procie 1,0 GHz Dual Core. Internal 16 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support SmS tanpa Voice. Batere Li Po 2780 mAh. Streak 7” sangat menggoda dari segi Procie Dual Core dan konektifitas 4G. Sayangnya Daya yang dibekali sangat minim. Khawatirnya menguras energi lebih cepat dari yang diharapkan. Apalagi dilihat dari tahun rilis, sistem operasinya masih setia pada Froyo.

Acer Iconia Tab A100 7”. Rp. -. Tahun Rilis Februari 2011. OS : Android 3.0 Honeycomb. Layar 1024×600 pixel. Kamera belakang 5,0 MP depan (video call) 2,0 MP. Procie 1,0 GHz Dual Core. RAM 512 MB. Internal 8 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support SmS tanpa Voice. Batere Li On 1530 mAh.Tidak banyak keistimewaan yang ditawarkan oleh Acer dengan perangkat 7” ini selain prosesor Dual Core. Minimnya kapasitas memory internal dan juga daya batere yang selayaknya ponsel, kemungkinan besar bakalan menjadi faktor yang tidak direkomendasikan untuk dipilih.

LG Optimus Pad 8,9”. Rp. -. Tahun Rilis 2011. OS : Android 3.0 Honeycomb. Layar 1280×768 pixel. Kamera belakang Dual 5,0 MP (salah satunya berfitur 3D) depan (video call) 2,0 MP 3D. Procie 1,0 GHz Dual Core. Internal 32 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support SmS tanpa Voice. Batere Li On 6400 mAh. Optimus Pad bisa jadi sangat menggoda melihat sistem operasinya yang memang diperuntukkan bagi perangkat TabletPC dan juga Procie Dual Core. Didukung pula oleh resolusi layar wide layaknya NoteBook dan tentu saja besaran daya plus dual kamera belakang. Sayangnya, ukuran layar tergolong tidak biasa alias 8,9”, yang artinya tidak sekompak 7” dan tidak seribet 10”.

iPad 3G 10” (9,7”). Rp. 7,5 Jt. Tahun Rilis Desember 2010. OS : iOS 4. Layar 1024×768 pixel. Tanpa Kamera. Procie 1,0 GHz Apple A4. Internal 64 GB. Tanpa memory Eksternal. Sim Card Support tanpa SmS dan Voice. Batere Li Po. iPad generasi pertama ini memang sangat fenomenal kemunculannya, baik dinegara luar maupun dalam negeri. Apalagi kalo bukan lantaran nama besar Apple yang berhasil dengan perangkat iPhone mereka. Sayangnya, dari segi ukuran layar bisa dikatakan sangat sulit untuk dibawa kemana-mana kecuali memang tujuannya untuk menarik perhatian teman dan sekitarnya. Dirilis dalam dua versi, Wifi dan 3G+Wifi.

iPad 2 3G 10” (9,7”). Rp. 9,0 jt. Tahun Rilis 2011. OS : iOS 4.3. Layar 1024×768 pixel. Kamera belakang dan depan (video call) VGA 0,7 MP. Procie 1,0 GHz Aplle A5 Dual Core. Internal 64 GB. Tanpa memory Eksternal. Sim Card Support tanpa SmS dan Voice. Batere Li Po. Perangkat iPad rilis kedua ini diklaim 30% lebih tipis dengan kecepatan akses yang jauh lebih baik. Dibekali kamera depan untuk video call tampaknya sudah cukup memuaskan penggunanya yang memang rindu dengan fitur 3G memanfaatkan aplikasi FaceTime. Seperti halnya iPad generasi pertama, iPad 2 pun Dirilis dalam dua versi, Wifi dan 3G+Wifi. Jadi jangan sampe salah pilih ya.

Motorola XOOM 10”. Rp. -. Tahun Rilis Januari 2011. OS : Android 3.0 Honeycomb. Layar 1280×800 pixel. Kamera belakang 5,0 MP depan (video call) 2,0 MP. Procie 1,0 GHz Dual Core. RAM 1 GB. Internal 32 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support SmS dan Voice. Batere Li On. Dirilis dalam tiga versi, GSM, CDMA dan Wifi only. Rilisnya dilakukan sengaja berbarengan dengan perangkat iPad 2 yang pada akhirnya mengecewakan para petinggi Motorola akibat penjualan yang tidak sesuai harapan (tertinggal jauh dengan iPad 2).

Samsung Galaxy Tab 10”. Rp. -. Tahun Rilis 2011. OS : Android 3.0 Honeycomb. Layar 1280×800 pixel. Kamera belakang 8,0 MP depan (video call) 2,0 MP. Procie 1,0 GHz Dual Core. Internal 32 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support SmS dan Voice. Batere Li On 6860 mAh. Galaxy Tab rilis kedua ini rupanya ingin menyaingi keberadaan iPad 2 yang sama-sama mengadopsi layar 10”. Berbekal kemampuan spek yang tidak jauh berbeda, Galaxy Tab 10.1 ini malah menawarkan kamera belakang 8 MP dan juga daya yang terbesar diantara TabletPC lainnya.

ViewSonic ViewPad 10 Pro 10”. Rp. -. Tahun Rilis 2011. OS : Dual OS : Windows 7 dan Android 3.0 Honeycomb. Layar 1024×600 pixel. Tanpa Kamera belakang, depan (video call) 1,3 MP. Procie Intel Atom 1,5 GHz (setara NetBook). RAM 2 GB. Internal 32 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support tanpa SmS dan Voice. Batere Li On 3500 mAh. Tawaran Dual OS-nya memang sangat menarik perhatian siapapun yang mengujinya. Terlepas dari Brand yang dikenal sebagai produsen layar perangkat PC tampaknya secara spek yang ditawarkan pun tak jauh beda dengan perangkat NetBook. Sayangnya, semua kelebihan diatas tidak diimbangi dengan besaran daya yang sepadan untuk sebuah perangkat TabletPC.

Asus EEE Pad Transformer 10”. Rp. -. Tahun Rilis Juni 2011. OS : Android 3.0 Honeycomb. Layar 1280×800 pixel. Kamera belakang 5,0 MP depan (video call) 2,0 MP. Procie 1,0 GHz Dual Core. RAM 1 GB. Internal 16 GB. Eksternal up to 32 GB. Tanpa dukungan Sim Card. Batere Li po. Satu-satunya yang menarik dari perangkat Asus EEE ini adalah disertakannya keyboard fisik dalam paket penjualannya, yang jika disambungkan, mampu mengubah tampilannya menjadi sebuah NoteBook. Itu sebabnya dinamakan Transformer. :p

Acer Iconia Tab A500 10″. Rp. 5,0 Jt. Tahun Rilis Mei 2011. OS : Android 3.0 Honeycomb. Layar 1280×800 pixel. Kamera belakang 5,0 MP depan (video call) 2,0 MP. Procie 1,0 GHz Dual Core. RAM 1 GB. Internal 32 GB. Eksternal up to 32 GB. Sim Card Support tanpa SmS dan Voice. Batere Li Po 3260 mAh. Dirilis dalam dua versi memory internal yaitu 16 GB (4,2 Jt) dan 32 GB.

Dari sekian yang saya paparkan diatas barangkali hanya tiga TabletPC yang patut saya rekomendasikan sebagai pilihan, apabila Budget bukan lagi menjadi sebuah masalah. Pertama, HTC Flyer untuk perangkat 7”, Kedua ada iPad 2 bagi yang menginginkan perangkat bergengsi di kelas 10” dan Ketiga silahkan melirik Samsung Galaxy Tab 10.1 untuk perangkat yang powerfull. Sedangkan bagi yang memiliki BudGet terbatas, silahkan memilih Samsung Galaxy Tab 7” sebagai teman baru.

iPad 2 Evolusi sebuah Trendsetter

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan kesuksesan iPad generasi pertama yang dirilis pada awal tahun 2010 lalu, Apple Inc memutuskan untuk menurunkan iPad generasi kedua pada 11 Maret 2011 dengan klaim 33% Thinner and 15% Lighter.

Nama iPad dan juga Apple Inc. seakan sudah menjadi sebuah jaminan mutu akan sebuah perangkat mobile elektronik TabletPC yang diharapkan mampu menjembatani keterbatasan perangkat ponsel dengan perangkat NoteBook. di Indonesia sendiri, Penggunaan nama iPad sepertinya telah menjadi pengganti untuk penyebutan istilah perangkat TabletPC terutama bagi mereka yang kurang paham dengan jenis dan spesifikasi yang digunakan.

Masih menggunakan dimensi yang kurang lebih sama dengan iPad generasi pertama, iPad 2 hadir dalam ketipisannya yang membuat banyak vendor lainnya kemudian saling berlomba untuk merilis perangkat sejenis dengan ketipisan yang diklaim mengalahkan ipad 2. Meski demikian, tetaplah iPad 2 merupakan perintis dari semua ketercapaian keberhasilan tersebut.

Mengusung prosesor Dual Core chipset A5, Apple mengklaim kecepatan akses dan grafis yang mampu dihasilkan oleh iPad 2 jauh lebih baik dari generasi pertama. Kecepatan ini tentu belum seberapa apabila melihat perkembangan kecepatan prosesor yang mampu dikembangkan tiga bulan terakhir yang sudah mencapai Quad Core. Kekurangan inilah yang kemudian dijanjikan akan terjawab saat suksesor Apple Inc. berikutnya dirilis.

Disamping adanya peningkatan secara fisikal, iPad 2 telah pula menggunakan sistem operasi iOS 5 yang menjanjikan perubahan notifikasi baik untuk email, pesan dan lainnya dalam bentuk banner popup yang akan muncul sewaktu-waktu. Desain seperti ini sebenarnya telah digunakan sejak awal rilis sistem operasi Android yang kemudian dihilangkan dalam rilis terakhir mereka, Honeycomb dan ICS, sistem operasi yang diperuntukkan dan dikembangkan secara khusus bagi perangkat TabletPC rilis Android.

Seperti halnya iPad generasi pertama, iPad 2 dirilis dalam dua versi, Wifi dan Wifi+3G. Jika tidak ingin kerepotan dalam mengakses dunia maya atau mengoptimalkan koneksi perangkat, yang patut direkomendasikan adalah tentu saja dukungan 3G. Sayangnya, entah apakah ini yang dinamakan keunikan dari perangkat iPad 2 atau malah sebuah kekurangan, terkait besaran chip sim card yang didukung untuk mampu disematkan dalam slot yang tersedia. Berukuran setengah dari sim card biasa. Diperlukan sebuah alat khusus untuk bisa memotongnya tanpa merusak fisik lebih jauh.

Hal ini tentu akan berpengaruh pada kebiasaan pengguna dalam mengaktifkan paket data plan koneski internet yang digunakan. apabila menggunakan layanan PraBayar, saran kami adalah mengisi ulang pulsa sesuai kebutuhan paket data plan sebelum masa aktif paket data habis. Apabila kemudian hal ini tidak dilakukan kemudian paket data plan tidak bisa dilanjutkan, lantaran perangkat iPad tidak mendukung phone dialer untuk melakukan aktivasi paket data, pengguna diwajibkan datang langsung ke kantor pemasaran operator atau dealer penjual iPhone terdekat, mengingat kartu sim card tidak dapat digunakan di perangkat ponsel biasa.

Untuk masa penggunaan, iPad 2 diklaim mampu bertahan hingga 10 jam untuk pemakaian normal yang tentu saja jauh lebih irit daya ketimbang TabletPC lainnya dalam ukuran layar dan besaran daya yang sama. Hal ini bisa terjadi lantaran iPad 2 seperti halnya pula dengan iPad generasi pertama, tidak mendukung keberadaan Flash yang diduga sebagai penyebab utama borosnya daya perangkat TabletPC. Sayangnya, Ketiadaan ini mengakibatkan pengguna tidak dapat mengakses halaman web yang memanfaatkan Flash sebagai salah satu kontennya dengan baik.

Jika Rekan berminat, iPad 2 kini ditawarkan pada kisaran harga 6,5 juta rupiah untuk storage 16 GB dan tautan perbedaan kisaran 750ribu untuk kelipatan Storagenya.

iPad 2 bisa jadi hanyalah sebuah Evolusi dari Trendsetter yang telah diciptakan oleh iPad generasi pertama sejak awal. Mengingat tidak banyak perubahan desain dan juga kemampuan yang dapat dilakukan oleh iPad 2. Meski demikian, iPad 2 tetap mampu menginspirasi puluhan TabletPC lainnya untuk minimal melakukan pembaharuan demi melanjutkan masa kejayaan.

Mini Review iPad 2 (compare Samsung Galaxy Tab P1000)

17

Category : tentang TeKnoLoGi

Jarang-jarang bisa mendapatkan sebuah Gadget terkini untuk di-Review di blog www.pandebaik.com sejauh ini. Paling sering sih jauh sesudahnya bahkan bisa jadi ketika kehebohannya sudah mulai mereda. Tapi tidak untuk kali ini.

iPad 2. Siapa sih yang gag tau perangkat yang satu ini ? setelah sukses dengan pendahulunya, Apple di pertengahan tahun 2011 ini resmi meluncurkan perangkat tablet yang kabarnya jauh lebih cepat, lebih tipis dan tentu saja lebih dashyat secara multimedia dan terobosannya.

Pertama kali melihat video perkenalan perangkat iPad 2 yang dipaparkan the Founding Father Steve Jobs beberapa waktu lalu di portal penyedia video YouTube, bisa dikatakan sangat banyak fitur baru yang diperkenalkan di perangkat ipad 2 ini. Dari kabel converter yang memungkinkan pengguna untuk melakukan dua aktifitas sekaligus, smart cover yang secara otomatis mampu menonaktifkan fungsi layar saat ditutup sehingga menghemat daya, atau fitur Multimedianya yang memungkinkan beberapa pemusik mampu memainkan sebuah Live Concert hanya berbekalkan iPad 2. www.pandebaik.com beruntung bisa mendapatkan perangkat ini jauh lebih cepat dari perkiraan.

iPad 2 yang saya dapatkan, datang dengan Cover  kulit yang tadinya sempat saya kira malah dibungkus kardus. Kok aneh ya ? hehehe… tapi rasanya kok gak afdol kalo memegang perangkat iPad 2 harus bersama Cover kulit begitu. Maka jadilah untuk sementara covernya saya buka, dan benar, ketipisannya membuat saya gemetar akan kekwahatiran perangkat bakalan patah ketika saya genggam, saking tipisnya.

Kekaguman pertama yang hinggap dibenak saya adalah saat menjajal layar utama atau Homescreen, menggesernya kekanan dan kiri untuk mengakses halaman menu yang lain dan juga mencoba membuka salah satu menu yang ditampilkan. Jika dibandingkan dengan perangkat Android baik Samsung Galaxy ACE yang saya miliki ataupun Samsung Galaxy Tab yang beberapa waktu lalu sempat saya review pula, terlihat jelas perbedaan kelembutan sentuhan dan perubahan layarnya. iPad 2 jauh lebih soft dan menarik secara animasi dan responsif terhadap sentuhan jari.  Seperti halnya perangkat Android Premium, layar iPad 2 menggunakan layar Capatitive yang artinya pengguna dapat melakukan berbagai aktifitas dengan menggunakan kombinasi jari, dan bukan stylus. Selain itu, iPad 2 hanya memiliki halaman HomeScreen tanpa tambahan halaman Menu seperti halnya Android. Jadi semua aplikasi baik bawaan ataupun yang diunduh, akan secara otomatis tampil di halaman HomeScreen.

Uniknya, fitur Accelerometer yang disematkan mampu merotasi layar sesuai arah genggam si pengguna. Sehingga satu kali saya nyalakan dalam posisi terbalik (tombol home berada diatas layar), sayapun sempat kebingungan mencari tombol tersebut. Hehehe…

Resolusi layar yang digunakan termasuk besar atau standar desktop pc. 1024×768 pixel atau sedikit lebih besar ketimbang Samsung Galaxy Tab yang hanya 1024×600 pixel. Efek positifnya, pengguna dapat memanfaatkan layar yang lebih lapang (10”) untuk beraktifitas namun akan kesulitan dengan besaran perangkat yang cukup repot untuk ditenteng kemana-mana. Bagai membawa satu ubin besar ketimbang sebuah agenda.

Masuk pada Menu Pengaturan/Setting, pengguna dapat mengakses seluruh fitur Pengaturan baik yang ada dalam perangkat iPad 2 maupun aplikasi dari pihak pengembang dalam satu jendela. Ini jauh lebih memudahkan untuk melakukan kustomisasi perangkat dalam satu waktu.

Sayangnya saat menelesuri lebih jauh saya tak menemukan tombol Back/kembali untuk mengakses halaman sebelumnya. Tombol pilihan ini saya temukan hanya pada beberapa menu saja, sehingga bisa dikatakan sangat membingungkan dan dengan terpaksa menekan tombol Home untuk kembali ke halaman awal. Mungkin itu sebabnya produk iPad dan juga iPhone dikatakan tidak mampu melakukan aktifitas MultiTasking seperti halnya ponsel atau perangkat pintar lainnya.

Jika dahulu saya begitu mendewakan perangkat Android untuk soal dukungan pekerjaan, dengan terpaksa saya harus menarik ucapan tersebut kali ini. iPad 2 dengan bawaan Office Applicationnya ternyata mampu membaca format Microsoft Office Application baik versi 97 ataupun 2003. Beberapa format seperti doc, docx, xls, ppt maupun pdf dapat dibuka dengan baik pada perangkat ini.

Sayangnya apabila kembali diCompare dengan perangkat Tablet milik Android, ada 2 kekurangan yang saya temukan dalam Mini Review kali ini. Pertama, Ketiadaan slot SimCard yang memaksa pengguna untuk selalu mencari Hotspot gratisan terdekat hanya untuk berinteraksi dengan dunia maya atau malah beraktifitas dengan aplikasi yang membutuhkan koneksi data. Salah satu solusi yang bisa digunakan adalah dengan membeli perangkat Android murah yang mampu dimanfaatkan sebagai HotSpot portable. Tapi apa mau tuh, kalo musti beli perangkat Android lagi ?

Kekurangan kedua, berkaitan dengan ketiadaan slot SimCard adalah ketiadaan fitur Tethering alias mengubah perangkat menjadi Hotspot tadi. Jadi iPad 2 bisa dikatakan hanya berfungsi sebagai perangkat bagi pengguna dunia maya saja. Hehehe… Sedangkan efek lainnya dari ketiadaan slot sim card tentu saja, iPad tidak bisa digunakan untuk voice call dan sms. Cukup mengandalkan email dan Chatting saja.

Menengok App Store yang ada dalam perangkat iPad, bisa dikatakan fitur pengenalan setiap aplikasi/games yang ingin diunduh/dibeli jauh lebih informatif ketimbang Android Market. Ini bisa dimaklumi lantaran secara resolusi atau besaran layar memang jauh lebih baik. Mungkin untuk kategori ini kelak bisa disandingkan dengan perangkat Android 8,9” atau 10.1” milik Samsung Galaxy Tab terbaru.

Sayangnya, akibat minim waktu yang saya dapatkan untuk menjajal perangkat iPad 2, hingga si pemilik datang meminta kembali perangkat mantap keluaran Apple ini, saya belum jua menemukan cara untuk melakukan Transfer Data ke prangkat lain seperti Android ataupun NoteBook yang saya gunakan. Dengan terpaksa sayapun mencari akal lain yaitu memanfaatkan email untuk mengirimkan dua screenshot pada layar yang saya ambil sebagai bukti nyata. Minimnya waktu untuk melakukan Review lebih jauh, pula menjadikan alasan mengapa tulisan kali ini ini saya beri headline Mini Review iPad 2.

Ohya, sekedar informasi tambahan, untuk melakukan pengambilan gambar (ScreenShot) pada layar iPad 2 ini, bisa dilakukan dengan menekan tombol Home dan Power secara bersamaan, namun memang memerlukan sedikit kesabaran untuk mampu melakukannya dengan mulus.

Akhir tulisan, bagi rekan-rekan yang hingga kini masih bertanya-tanya tentang “lebih baik memilih perangkat iPad 2 atau Samsung Galaxy Tab sebagai Next Gadget”, silahkan memikirkan kembali sedikit Review saya diatas. Jika yang dibutuhkan itu adalah iMage dan  fitur Multimedia, saya sarankan pilih iPad 2, karena saya yakin banyak orang yang bakalan tertarik pada perangkat yang Anda tenteng dan gunakan di keramaian. Namun jika yang dibutuhkan itu adalah kemampuan berselancar di dunia maya kapanpun dimanapun dan tanpa bantuan perangkat apapun, termasuk masih menginginkan adanya fitur Voice Call atau pun sms, silahkan pilih Samsung Galaxy Tab P1000 dengan layar 7”. Karena kabarnya Samsung Galaxy Tab 10.1 yang kelak dirilis, bakalan meniadakan semua fitur diatas alias murni bersaing dengan iPad 2.

Well, semoga saja berguna untuk Mini Review iPad 2 kali ini. See You later…