Criminal Case, temukan petunjuk pelaku kejahatan

Category : tentang TeKnoLoGi

Kemungkinan pertama adalah mencurigai orang terdekat atau yang kedua, mencurigai orang yang tak mungkin dicurigai

Kalimat itu selalu terngiang saat membaca atau menemukan sebuah kisah kasus pembunuhan yang kalau tidak salah saya dengar dari salah satu petinggi kepolisian atau bisa jadi saat membolak balik komik manga jepang Kindaichi atau Conan. Ah, saya terlalu banyak mengkhayal rupanya.

Tapi eh benar loh, karena dari 20-an kasus yang saya temui dan tangani selama ini, para tersangka yang terbukti melakukan kejahatan dengan mengumpulkan lima petunjuk per kasusnya, memang mengarah pada orang terdekat atau orang yang kelihatannya tidak bersalah.

Setidaknya begitu alur cerita Criminal Case, permainan mobile yang saya mainkan lewat layar ponsel sejak mulai merasa bosan dengan Paradise Island atau Plants vs Zombie 2. Tersedia dalam dua platform baik iOS maupun Android. He… jadi jangan ditanggapi serius yah.

Criminal Case Pande Baik 1

Criminal Case itu singkatnya sebuah permainan apa yah kalo disebut kategorinya ? puzzle mungkin, yang pola permainannya adalah menemukan petunjuk serta kumpulan benda yang disebutkan dalam sebuah list, dari 7, 9, 12 hingga 60an pieces setiap stage nya, yang dibayar dengan sejumlah kecil uang dan progress bersatuan xp. Uang yang dikumpulkan dapat digunakan untuk membeli karakter tokoh yang dimainkan, ekspresi wajah, fashion hingga asesorisnya. Jadi pemain bisa berkhayal sedikit mau jadi seganteng apa atau secantik siapa. Sedang progress akan menaikkan level satu tingkat secara periodik untuk mendapatkan bonus tenaga atau poin, sebagai syarat memainkan stage dalam setiap kasusnya. Sudah begitu ada progress dalam bentuk bintang yang hadir maksimal 5 buah di setiap lokasi kejadian, untuk membuka dan mencari lebih jauh petunjuk yang ditemukan. Kurang lebihnya begitu.

Dalam satu kali permainan, tersedia sebanyak 110 energi atau poin yang bisa digunakan, dengan rincian 20 poin energi di setiap kali stage dimainkan. Sehingga setiap kali permainan dimulai, pemain hanya bisa menggunakannya untuk lima kali stage saja dan menyisakan 10 poin tanpa mampu dilanjutkan kembali. Poin akan bertambah saat petunjuk berhasil ditindaklanjuti.

Oke, gambaran awamnya begitu.

Criminal Case Pande Baik 3

Namun setelah sekian kali memainkan Criminal Case di perangkat iPhone 4 cdma yang kini beralih fungsi menjadi iPod, ada beberapa tips yang bisa dibagi untuk kalian kalopun berminat ikut memainkannya kali ini.

Satu, buatlah akun kedua masing-masing sosial media untuk diinputkan dalam permainan semacam ini agar tak mengganggu timeline kalian dimata kawan sejawat. Karena update tindakan selalu dipostingkan di halaman profile kita setiap kali dimainkan. Akan mengganggu kalo timeline kawan sejawat dipenuhi notifikasi tampilan game yang kita mainkan. Saya sendiri membuat akun Made Dwi, nama sederhana dan mudah diingat, khusus untuk memainkan games sejenis. Jadi kalo menemukannya di jejaring FaceBook dan Twitter, jangan pangling liat foto profilnya yah. Kalo kalian pemain juga, silahkan di add. Hehehe…

Dua, bertemanlah dengan pengguna permainan yang sama. Peran mereka nanti akan sangat berguna dalam menambah bonus yang didapat, baik berupa tambahan 1-2 energi yang dapat dimanfaatkan saat kepepet, atau kartu remi yang dapat ditukar dengan bonus lainnya. Fungsi teman dalam permainan juga bisa mempercepat akses ke kasus berikutnya tanpa harus menunggu waktu tiga hari kedepan setiap kali menyelesaikan satu kasus.

Tiga, gunakan dua atau tiga lebih perangkat jika mampu untuk menambah kesempatan bermain, mengingat terbatasnya kemampuan permainan setiap kali dimainkan. Maksimum 5 kali saja dalam kasus normal. Masih ingat tulisan sebelumnya yang kebanyakan gadget itu ? saya menginstalasi games yang sama di empat perangkat Android lainnya setelah tahu games Criminal Case telah tersedia di Google Play Store. Jika sudah, masukkan akun sosial media yang sama dalam setiap perangkat, sehingga dalam sekali waktu bermain, ada penambahan 5 kali kesempatan sesuai jumlah perangkat yang diinstalasi. Memang ribet, tapi nikmati saja. Mosok kalah dengan berita hoax cewek china yang memainkan 50 akun permainan Clash of Clan itu ?

Empat, perhatikan sisa energi atau poin yang ada dalam setiap permainan. Jika tersisa sekitar 10 poin, bisa memanfaatkan bonus harian yang diberikan setiap kali memulai permainan, dengan wujud minuman botol 50 poin energi. Artinya ada tiga kali tambahan kesempatan bermain nantinya. Sedangkan jika sisa energi mepet mepet kuota persyaratan minimal memainkan games, bisa melirik notifikasi bonus dari daftar teman yang ada. Syukur-syukur ada beberapa poin tambahan yang dikirim oleh beberapa kawan yang dimiliki.

Lima, banyaknya petunjuk yang ditemukan juga bisa menjadi alternatif tambahan poin energi, kisaran 1-8 untuk permainan biasa (tersedia 9 poin dalam kondisi penuh), dan 1-18 poin untuk permainan tambahan (Elite Mode). Semakin banyak poin yang didapat, bonus progress xp dan uang juga makin banyak didapat.

Enam, fokus dan mainkan Criminal Case saat Happy Hours yang menawarkan bonus bonus tertentu, 2 kali xp, full hints, 2 kali bonus bintang atau 2 kali uang. Lamanya Happy Hours biasanya berlangsung selama 1-3 jam lamanya. Penambahan jumlah gadget akan sangat menguntungkan ketika Happy Hours diberikan.

Tujuh, secara default permainan berjalan sesuai settingan bahasa yang digunakan perangkat. Mengingat ponsel yang saya pergunakan menggunakan English pada pengaturannya, nama-nama benda dan juga alur kisahnya tentu disampaikan dalam bahasa Inggris juga. Bagus untuk belajar sebenarnya, juga belajar mengingat. Namun seandainya persoalan English menjadi hambatan besar, nama benda disa ditranslate ke Indonesia dengan mengubah menu Pengaturan Ponsel. Bisa jadi lebih memudahkan, bisa juga jadi membingungkan lantaran kata translatenya agak aneh. Misalkan Hangman (boneka yang digantung pada leher), diartikan sebagai Algojo. Jadi bingung nyari wajah Algojo yang seram namun diarahkan ke wajah boneka culun itu.

Criminal Case Pande Baik 2

Delapan, ingatan manusia biasanya agak terbatas jika digunakan secara berkala. Maka selesaikanlah lima bintang yang ada dalam setiap lokasi kejadian, karena nama benda yang dicari cenderung berulang, sehingga tidak membingungkan saat mencoba peruntungan di setiap stagenya.

Sembilan, poin energi akan bertambah 1 poin untuk tiap menit yang dilalui. Rasanya begitu. Jadi interval permainan yang bisa dilakukan baiknya sih setiap dua jam sekali agar tidak mengganggu waktu kerja, tidur maupun bercengkrama dengan keluarga. Waktu tersebut untuk memenuhi kembali kuota maksimal energi sebanyak 110 poin.

Sepuluh, terkait penggunaan banyak perangkat untuk memainkan satu akun sosial media, dibutuhkan restart ulang permainan apabila saat berhasil melakukan login, jumlah akhir progress yang didapat pada perangkat sebelumnya tidak sesuai. Cek pada progress xp atau jumlah bintang yang didapat. Agar permainan yang dilakukan tidak mubazir lagi kemajuannya.

Oke deh, ini posting terakhir saya minggu ini rasanya. Selamat menjalankan liburan panjang, Selamat merayakan Galungan bersama Keluarga dan selamat Mudik Lebaran juga bagi kalian semeton Muslim.

Kebanyakan Gadget

Category : tentang TeKnoLoGi

- Samsung Galaxy Note 3
- Samsung Galaxy Note 3 Neo *hibah dari aplikasi Pantau
- iPhone 4 CDMA *masih pake nomor Flexy tapi keseringan AirPlane Mode
- Modem Connex M1
- Modem Andromax 4G M2P
- Power Bank Samsung 50K mAh

Itu semua perangkat yang kini selalu hadir dalam tas pinggang cokelat, diselempang lantaran makin berat. Tapi kalopun secara rute gak butuh daya baterai lama, Power Bank biasanya ditinggal di rumah.

- Samsung Galaxy Note 2 – milik istri
- Samsung Galaxy Tab 7 Plus – baba nya Intan
- Samsung Galaxy Tab 3V – baba nya mbojek iYah
- Nokia Lumia 520 – ponsel kakek
- Nokia X – ponsel nenek

Yang ini barisan perangkat yang harus di charge ulang tiap malamnya, agar esok pagi bisa dipergunakan secara maksimal oleh masing masing pemiliknya. Sementara sisa colokan yang ada dalam jangkauan terdekat hanya ada 5. Sehingga yang sering mengalah adalah iPhone, modem, Nokia dan Baba-nya mbojek lantaran jarang dipakai.

Urusan kelistrikan sih sudah jadi kewajiban saya sehari-hari. Dari awal dulu. Tapi kini masih mending karena MP3 player sudah gak difungsikan lagi. Yang menjadi masalah terbesar kini adalah biaya internet bulanannya saja. Mengingat secara rumah, sudah ada wifi routernya Telkom Speedy dengan biaya 75ribu sebulan, akses Unlimited dengan kecepatan terbatas up to 512 KBps, ditambah Axis Pro Unlimited 50ribu di kali dua perangkat. Sementara Paket Indosat di Galaxy Note Neo, hanya seperlunya apabila sedang berada di luar kota, dimana jaringan Axis tidak mampu menjangkaunya. Paket yang diambil seharga 29ribu sebulan. Kini malah nambah dua calon lagi untuk dua Modem SmartFren yang sepertinya bakalan diisi ulang apabila mendesak sekali. Mengingat yang saya lihat masa berlaku paket internet atau sisa kuota data yang ada di kedua modem tersebut, masih cukup lama bisa dinikmati. Sedang perangkat lain, mutlak non aktif langganan paket data, hanya disambungkan bilamana perlu pada koneksi yang disebutkan tadi.

Kebanyakan Gadget. Itu yang saya rasakan. Padahal beberapa waktu lalu, pikiran sudah cukup tenang seiring aksi Deactivate akun FaceBook, dan dihibahkannya ponsel AccessGo 4E pada kakak ipar. Eh kok malah dapat hadiah lagi yang jauh lebih banyak.

Inginnya nanti mau dihibahkan lagi pada yang memerlukan. Sementara ini baru terlaksana satu saja, modem M2P yang satunya lagi, jadi ada dua modem yang diberikan oleh SmartFren, dipindahtangani ke Sloka Institute, induk Bale Bengong dan komunitas Bali Blogger Community. Ketimbang Mubazir, tidak tergunakan.

Sedang Note 3 Neo, inginnya tak balikin ke Developernya, mengingat secara aplikasi kini sudah mampu dijalankan di Note 3 yang saya miliki.

Rasanya satu Gadget itu sudah pas. Dan kalopun mendesak, ada tambahan Modem Connex M1 rasanya lebih dari cukup. Buat jaga-jaga saat kekurangan sinyal jaringan internet, atau kekurangan daya baterai mengingat modem tipe ini punya fungsi tambahannya juga.

Duuuhhh… Kebanyakan Gadget kok malah bingung ya ?

Android Ponsel Android

Category : tentang TeKnoLoGi

Lima tahun lalu, saat masih setia mendampingi mentor pengadaan Pak Made Sudarsana bersama Kabag Pembangunan yang kini menjadi Kepala Dinas Cipta Karya ke event event LPSE, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Android dan ponsel Android. Kalo gak salah, perangkat satu ini masih tergolong rilis awal, pionir yang memulai peruntungan dengan menjual sistem operasi besutan Google.

Samsung Galaxy Spica I5700 dengan versi Androidnya, Eclair.

Dibandingkan dengan perangkat yang sedang ngeTrend saat itu, godaan Android jauh lebih menarik hati. Sehingga hanya berselang enam bulan kemudian, saya berkenalan dengan perangkat Android pertama yang dimiliki, Samsung Galaxy Ace S5830. Lewat perangkat inilah, satu persatu tulisan yang ada di halaman Android blog ini lahir dan berkembang lebih jauh.

Empat tahun kemudian, rasa cinta saya pada Android dan ponsel Android ternyata masih utuh, sementara beberapa kawan sudah mulai berpindah ke lain sistem, merasa lebih nyaman dengan iOS besutan Apple. Mengapa ? Mungkin karena fleksibilitasnya yang mudah melakukan aksi ‘copy paste’ ke perangkat lainlah yang membuat kesetiaan itu ada. Meski sempat pula mencicipi iOS yang hingga kini masih saya pegang lewat iPhone 4 cdma.

Android Ponsel

Terhitung belasan perangkat Android yang pernah dicoba dalam periode tersebut. Beberapa diantaranya bahkan masih aktif digunakan hingga hari ini.
- Samsung Galaxy Ace S5830 – dijual kembali
- HTC Flyer milik LPSE – dikembalikan
- HTC One V kenang-kenangan dari HTC Road to Bali – slot sim card rusak, hanya berfungsi layaknya iPod
- Samsung Galaxy Tab 7+ – dihibahkan pada Intan
- Samsung Galaxy Note 10.1 milik LPSE – dikembalikan saat mendapat promosi ke Cipta Karya
- Samsung Galaxy Note II – digunakan Istri hingga kini
- Samsung Galaxy Note III – perangkat utama
- AccessGo 4E – dihibahkan pada ipar
- Nokia X – dihibahkan pada Ibu
- HP Voice Tab 7 – digunakan MiRah
- Samsung Galaxy Note Neo – uji coba aplikasi Pantau
Belum termasuk yang pernah singgah seperti Axioo Pico Pad, Samsung Galaxy Tab 7, Samsung Galaxy Tab 10, Samsung Galaxy Tab 8.9, HTC Sensation XE, Sony XPeria P, Samsung Galaxy Prime, Asus Fonepad 6, Samsung Nexus S, Acer Iconia,  Samsung Galaxy Y, Samsung Galaxy S 5.0 wifi, Samsung Galaxy Tab 7 #2, Samsung Galaxy Pocket, Samsung Galaxy Note, Vandroid T2, Samsung Galaxy Tab 7.7, Cross A20 hingga beberapa Emulator yang diinstalasi pada perangkat PC.

Dari kesemua perangkat yang pernah dijajal tadi, tentu ada satu hal yang kemudian menjadi kesimpulan saat ini. Bahwa apapun perangkatnya, apapun merek dan serinya, Android yang diusung tetap sama. Yang membedakan hanyalah spek hardware yang digunakan dan versi OS dan segala kelebihannya.

Ini mengingatkan saya pada perangkat PocketPC yang satu dasa warsa lalu telah saya kenali lewat beberapa perangkat. Dari T-Mobile, O2, Audiovox dan lainnya. Jadi sebetulnya gak ada kekhawatiran lagi ketika diminta untuk mengeksplorasi sebuah perangkat Android yang berasal dari berbagai vendor tadi.

Akan tetapi makin kesini, ada beberapa standar baku yang kemudian saya tetapkan sebagai syarat minimal dalam pembelian ataupun pemilihan ponsel Android untuk kepuasan bagi si pengguna ponsel kedepannya.

Pertama, besaran Memory RAM Minimal 1 GB. Memang berapapun RAM yang dibekali pada setiap ponsel Android, belum sekalipun saya merasakan memory sisa yang lega. Maksimal kisaran 500 hingga 700 MB, itupun saat ponsel berada dalam posisi standby. Akan tetapi dengan besaran Memory RAM sebesar minimal 1 GB ini, beberapa permainan ataupun aplikasi yang membutuhkan resources besar, saya kira gak akan menjadi satu masalah lagi.

Kedua, besaran memory Internal Storage minimal 16 GB. Bagi yang gemar menginstalasi aplikasi maupun permainan berukuran besar, saya yakin bakalan menemukan kendala penyimpanan saat jumlahnya mencapai belasan. Gak akan muat, sehingga diwajibkan menghapus beberapa aplikasi yang sekiranya tidak terpakai, mengingat secara umum yang saya ketahui, besaran memory Internal Storage akan dibagi dua terlebih dahulu untuk memberikan ruang bagi aplikasi dan data. Sangat lega jika internal Memory yang dimiliki berada pada besaran itu.

Jenis Layar TFT atau lebih baik lagi, Amoled dsb. Silahkan bandingkan dengan layar IPS yang biasanya digunakan pada perangkat Android murah, dari vendor lokal hingga branded macam HP. Saya yakin bagi kalian yang sudah nyaman dengan layar berjenis TFT bakalan merasa terganggu dengan penggunaan IPS, utamanya saat perangkat di lihat dari sudut pandang samping.

Dengan adanya Tiga standar minimal tersebut, saya yakin secara besaran budget yang harus disediakan, memang cukup besar. Namun sebanding dengan kepuasan penggunaan perangkat dengan umur lebih dari setahun. Seperti halnya beberapa perangkat yang hingga kini masih tangguh untuk digunakan. Samsung Tab 7+ dan angkatannya.

Yuk, Custom PIN BlackBerry Messenger-mu

Category : tentang TeKnoLoGi

Kalo kalian masih ingat di era jadul terdahulu, jaman messenger BBM baru nge-trend dan hanya bisa digunakan pada perangkat ponsel BlackBerry saja, ada beberapa kawan dan saudara yang ngotot menginginkan PIN BBM yang nantinya dibeli atau mengganti yang dimiliki untuk dapat di-Custom seenak udel. Sesuai Tanggal Lahir atau menggunakan Nama yang bersangkutan.

Padahal yang namanya PIN BBM jaman itu, secara default sudah baku tertanam pada ponsel BlackBerry masing-masing.

Harapan dan keinginan itu jadi semakin besar setelah yang namanya rumor beredar di pasaran, bahwa PIN BBM bisa diganti dengan membayarkan sejumlah uang kepada pada ‘ahlinya’ yang sampai saat ini sepertinya sih masih diragukan kebenarannya.

Sehingga selain harus menghafalkan nomor ponsel yang dipakai, pengguna ponsel BlackBerry diwajibkan pula menghafalkan atau minimal tahu cara mencari PIN BBM yang disematkan pada ponselnya, saat ditanya sesamanya. Ribet memang. Tapi ini pun kemudian berkembang menjadi sebuah Gengsi Ekslusif, utamanya dikalangan pengguna ponsel tanah air.

‘Hari Gini masih gak punya PIN BBM ?’ ejek beberapa kawan saat itu setelah mengetahui saya masih setia menggunakan ponsel Nokia lalu beralih ke Android tanpa mau mencicipi ponsel BlackBerry.

Lama berselang setelahnya, aplikasi Messenger BBM mulai menyambangi ponsel bersistem operasi lain macam Android dan juga iOS besutan Apple. Kalo gak salah sih sudah sejak dua tiga tahun lalu. Sayapun pada akhirnya mau tidak mau memaksakan diri menggunakan aplikasi ini setelah rata-rata rekan kerja yang ada dalam ruangan penugasan baru gak ada yang mau menginstalasi aplikasi messenger Whatsapp sebagaimana yang saat itu saya gunakan untuk berkomunikasi secara massal (grup). Alasannya sederhana, karena ponsel yang mereka gunakan kerap hang saat dicoba menggunakan Whatsapp. Ya sudah, yang mampu ya memang harus mengalah. Maka BBM pun mulai disuntikkan ke ponsel saat itu.

Di awal tahun 2015, tampaknya BlackBerry kembali ingin memberikan kejutan kepada pengguna setianya dengan mengabulkan harapan banyak pengguna pada era jadul terdahulu itu, yaitu dengan menyuntikkan fitur ‘Customize My PIN’ atau membuat kreasi PIN BBM sendiri sesuai keinginan, dengan cara membayar biaya sebesar Rp. 19.800 per bulannya.

Mau tahu bagaimana caranya ? yuk dibaca di tulisan berikutnya.

Bye Bye Game Insight

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Sedari awal perkenalan saya dengan ponsel Android, games yang satu ini sebetulnya tetap masuk dalam daftar yang wajib dimainkan walau tempo hari sempat jengkel dengan semua syarat yang diajukan untuk pengembangannya. Tapi setelah dilakoni dengan sabar dan tekun akhirnya satu persatu level sulitpun dengan mudah dilalui. Tanpa Cheat ataupun mod-mod-an itu. Yup, Paradise Island.

Paradise1

Tipikal Gamesnya sebetulnya sederhana. Gak seperti Clash of Clans yang musti bertarung dulu dan melengkapi diri dengan tameng dan senjata, Paradise Island lebih mirip dengan belajar Investasi namun dengan banyak kemudahan didalamnya. Ada banyak tawaran menarik selama bermain, baik gedung yang bernilai tinggi dengan diskon pembelian, maupun fitur kemampuan menaikkan pajak serta penghasilan dan menurunkan biaya pemeliharaan. Semua itu legal dalam permainan Paradise Island. Sayangnya ada banyak celah bermain didalamnya dimana semua Gedung ternyata tidak membutuhkan akses jalan disekelilingnya, maka itu tanah yang mahal bisa dimanfaatkan betul untuk bangunannya dan mengabaikan ruang hijau juga infrastrukturnya. Buik…

Ada 3 perangkat yang saya gunakan untuk memahami triknya bermain. Samsung Galaxy Tab 7+ yang dulu saya gunakan dan kini sudah dihibahkan pada putri saya itu, Samsung Galaxy Note 3 yang bentar lagi mau dieksekusi dan iPhone 4 CDMA sebagai leader dari semuanya itu, dengan kemajuan yang cukup pesat disana. Bahkan opsi untuk menambahkan penduduk kalo tidak salah sudah mentok hingga batas maksimal. Jadi ya sudahlah…

Dibandingkan Paradise Island yang sudah tergolong cukup mudah bagi saya, tidak demikian halnya dengan Airport City, games berkonsep sama dari developer yang sama pula. Disini untuk menambah pundi pundi uang kertas tidak semudah menambah uang koin. Dan sialnya, untuk bisa mewujudkan banyak impian memerlukan uang kertas dalam jumlah yang banyak. Jika tidak ya karir pemilik Airport ya bakalan tetep segitu gitu aja. Maka Cheat-pun dicoba dengan menginstalasi permainan serupa namun memiliki kemampuan Mod Money dan lainnya.

Airport1

Namun kemampuan Cheat Mod Money dll tidak dengan cara disediakannya sejumlah besar uang siap pakai, namun semua dimulai dari angka Nol. Lalu akan bertambah seiring semakin banyak uang koin maupun kertas juga minyak yang digunakan. Jadi gag bakalan ada kemungkinan habis tergunakan seiring makin banyaknya hal yang bisa dibeli. Aneh tapi ya asyik juga untuk dijalani.

Dengan mudahnya tantangan dalam permainan maka bisa ditebak, semua alur jadi terasa membosankan. Tidak ada trik yang bisa dibagi, dan tidak ada tips yang bisa disharing. Eh sama aja ya ?

Maka itu, ketika semua level sudah ditangani tuntas, maka kisahnyapun berjalan sama dengan Paradise tadi. Stagnan tanpa kemajuan yang berarti. Jadi ya gag salah kalo keduanya kemudian saya hapus kembali dari perangkat. Lha mau bilang apa lagi coba ?