Paradox dan Penantian Panjang Perjalanan Pulang

Category : tentang Buah Hati

Memutuskan untuk melakoni liburan kali ini sebenarnya tidaklah mudah. Mengingat jarak yang akan ditempuh dengan menumpang bus pariwisata, dari kota asal hingga tujuan. Tidak dengan pesawat seperti biasanya.
Tapi demi sebuah janji, semua itu dijalani dengan ikhlas.

Duduk menanti kapal laut bersandar di Gilimanuk, rasa penat selama perjalanan mulai terasa. Apalagi tidak ada canda tawa riang anak-anak yang biasanya mengisi hari demi hari yang dilewati. Kangen banget dengan mereka kali ini.

Adalah Paradox, film Hongkong produksi tahun 2017 yang lumayan membuat penasaran lantaran awal kisah harus dipotong gegara kalah suara dengan penggemar dadakan Baahubali, berhasil diunduh saat malam masuk Kota Surabaya. Saat dinikmati pun ada air mata yang mengalir meskipun genre film adalah action. Tapi cerita yang yang diusung tidak lepas dari rasa cinta seorang ayah pada anak putrinya.

Jika saja saya berada dalam posisi yang sama, yakin tidak banyak yang bisa diperbuat. Baik saat silang pendapat di usia remaja nanti, ataupun keputusan untuk menikah dengan pria pilihannya. Entah apakah saya bisa kuat menerima saat itu tiba.

Paradox berakhir sedih jika melihat pada perjuangan sang ayah yang ingin bisa memeluk putrinya lagi. Meski ada Ayah yang yang bisa memberikan cerita kebahagiaan, namun sepertinya masih ndak rela kalo putrinya itu tidak ditemukan dalam kondisi sehat.
Dasar penggemar film Happy Ending.

Jalan pulang sudah makin dekat, dan penantian yang sudah sekian lama dipendam, bakal tertumpah sebentar lagi.

Tips Setup Perangkat Pintar untuk Anak

Category : tentang TeKnoLoGi

Memberikan bekal perangkat ponsel pintar ataupun yang berukuran besar laiknya tabletpc pada anak-anak agaknya sudah mulai lumrah dilakukan. Meski sebagian orang tua menyampaikan alasan demi masa depan dan pengetahuan mereka di jaman teknologi informasi ini, namun ada juga yang menganggap bahwa upaya ini adalah usaha meninabobokan anak agar tak mengganggu aktifitas orang tuanya. Mana yang benar, saya yakin kalian sebagai orang tua yang sebaya dengan saya pasti lebih tahu. He…

Jika melihat dari sistem operasi yang disematkan pada perangkat diatas secara, sepengetahuan saya hanya ada dua jaman sekarang ini. Android dan iOS.
Android yang dikembangkan oleh Google bisa ditemukan dalam beragam merek, spek dan besaran layar. Sedang iOS besutan Apple hadir dalam jumlah terbatas. iPad untuk ukuran tablet dan iPhone untuk ukuran ponsel.
Ada sih sistem operasi satu lawas yang mencoba peruntungan di pangsa mobile, namun kelihatannya belum begitu digemari, utamanya di kalangan anak-anak. Yup. Windows.

Tapi terlepas dari apapun itu perangkat yang dibekali, ada satu benang merah yang saya yakini menjadi penghubung atau kesamaan pola dalam melakukan aktifitas didalamnya.
Alamat Email.

Alamat email atau selanjutnya kita sebut saja dengan email, merupakan syarat mutlak untuk bisa menggunakan semua perangkat diatas. Minimal untuk bisa masuk kedalam pasar aplikasi secara resmi atau menyimpan semua history dan data selama kita berinteraksi dengan perangkat tersebut.
Untuk membuatnya gampang saja. Gunakan alamat email yang mudah diingat, dan percobaan password tanggal lahir. Sesederhana itu. Toh ini hanya untuk kepentingan perangkat yang nantinya akan digunakan lebih banyak untuk bermain dan belajar.

Langkah kedua, Pengaturan.
Mengingat secara fungsinya, pengaturan lebih lanjut bisa ditujukan kepada operasional mencakup layar, suara, daya tahan batere ataupun aplikasi yang dijalankan atau tidak. Pada dasarnya ya menyederhanakan kinerja perangkat agar tak banyak mengganggu aktifitas sang anak.
Kalau perlu, terkait Notifikasi aplikasi yang barangkali dianggap mengganggu.

Ketiga, suntikan Aplikasi tambahan.
Berhubung yang menggunakan lebih banyak anak-anak, perangkat bisa disuntikkan aplikasi utility yang mampu memblokir konten terlarang atau melaporkan aktifitas sang anak kepada orang tua, atau launcher user interface layar depan yang tidak memungkinkan anak untuk menghapus aplikasi secara tak sengaja. Semacam Lock Layar dalam posisi standby.

Langkah terakhir ya pengisian konten. Apakah berupa permainan yang nantinya akan mengedukasi si anak, belajar memahami pola dan alur, atau hiburan lainnya seperti video musikal ataupun filem keluarga masa kini. Bisa juga tivi series macamnya Marsha dan sejenisnya, ditambah motivasi psikologis untuk menambah semangat mereka.
Orang tua tentu lebih paham kebituhan anak mereka.

Berkaitan yang terakhir diatas, tentu dibutuhkan storage tambahan agar tak membebani kinerja perangkat akan kebutuhan ruang pada storage atau penyimpanan internal. Ukuran 32 atau 64 GB akan memberikan keleluasaan lebih untuk menyimpan dan memutar konten dengan beragam variannya.

Kira-kira begitu Tips hari ini dari saya.

Duka untuk Intan Olivia, Doa untuk Alvaro Sinaga

Category : tentang Buah Hati

Hati rasanya remuk saat membaca berita tentang Intan Olivia Marbun, gadis kecil usia 2,5 tahun yang akhirnya dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan di RS AW Sjahranie akibat luka bakar di sekujur tubuh pasca lemparan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda Kalimantan, Minggu 13 November lalu. Pelantun Kingkong badannya besar tapi kakinya pendek inipun mengharubirukan sejumlah netizen di dunia maya senin pagi kemarin.

Belum reda duka yang menghantam, mendapat kabar bahwa Alvaro Sinaga teman bermain Intan (alm) kini sedang dalam perawatan intensif dan akan segera dioperasi. Ia pun mengalami luka bakar, bersama dua kawan lainnya, meski tak separah apa yang dialami Intan.

Jika kalian masih punya hati, dan sedikit rasa kemanusiaan, berikanlah doa pada mereka.

Anak-anak tak seharusnya menjadi korban kebencian atas nama agama.

Untuk kalian, anak-anakku. Intan Olivia Banjarnahor (2,5 tahun), Anita Kristobel Sihotang (2 tahun), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4 tahun), dan Triniti Hutahaya (3 tahun). Salam sayang dari kami.

My Last Day

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Menonton beberapa film lama diantara waktu senggang jam kerja kantoran, cukup membuatku terpekur diam. Ingat pada kehidupanku dan sakit yang kuderita.

Diabetes

Perubahan gula darah yang mampu membunuh siapapun pengidapnya secara diam-diam, kelak akan membuka pintu bagi belasan penyakit tingkat tinggi lainnya, dan aku secara pribadi yakin tak akan mau mengalami itu semua di usia yang sangat muda.

Namun apa yang kusaksikan pada kisah-kisah sendu dalam film lama tadi, benar-benar membuatku berpikir keras, kira-kira jika aku diberikan waktu sehari lagi oleh-NYA sebelum ajal menjemput, apa yang akan kulakukan kelak ?

Mengajak anak-anak bermain dan berkata bahwa aku sangat menyayangi mereka dan juga istri dan orang tuaku ? Atau menangisi semua kesalahan yang pernah kuperbuat hingga Ia hanya memberikan sehari lagi waktu untuk bersama orang-orang yang kucintai ?

Maka saat ini pun aku mulai banyak merenung dan berharap bahwa hari terakhir itu tak akan pernah tiba. Karena tak pernah kubayangkan hidup anak-anak dan istri tanpaku. Tanpa kehadiran Bapaknya yang nakal dan jahil. Apa jadinya mereka kelak jika aku tak ada ?

Teringat juga akan satu pendapat bahwa sehebat-hebatnya atau sepenting-pentingnya posisimu dalam satu perusahaan, saat engkau sakit hingga tak mampu mengambil lagi rutinitas itu, maka perusahaan akan dengan segera mencari penggantimu, untuk bisa menjalankan perusahaan dengan baik. Bahwa ternyata kita tak sepenting atau sehebat yang kita pikirkan. Maka pulanglah, dan ajak anak anak bermain…

Teriakan dan Corat Coret

Category : tentang Buah Hati

Intan tampak kaget ketika neneknya menegur gara-gara ia mencorat coret tembok kamar tidur dengan pensil warna, kali kesekian yang nenek ingatkan padanya.

Entah karena ada sang bapak didekatnya yang tampak asyik nyariin barang di Lazada via ponsel, ia langsung berkeringat¬† dan ngos-ngosan. Bibir dan mimik wajahnya berubah seketika. Sambil sesegukan, ia membisikkan kata ‘ibu’ dengan sedih.

Tak berselang lama setelah dihibur sang bapak, ia kembali riang seperti biasanya. Kali ini main sambil teriak teriak kegirangan lantaran dicandai Mirah, kakaknya. Rumah jadi lebih bising dari biasanya.

InTan_1

Saya masih ingat saat dipetuahi pak Soetomo, rekan kerja sesama PNS dari Kota Bima, Lombok yang menjadi teman sekamar saat pelatihan tentang Jalan di Kuta, tahun 2006 lalu. Kalo gag salah diblog ini masih ada ceritanya. Waktu itu saya baru saja menikah dan belum dikaruniai anak. Berencana Program tapi tetap gag berhasil.

Beliau sempat mengingatkan saya bahwa ‘Rumah takkan lebih baik tanpa teriakan dan corat coret anak kecil’.

Saat itu karena belum paham maksudnya, saya sih simpel aja menjawabnya. Walaupun belum di karuniai anak, tapi kami memiliki belasan keponakan yang siap memberikan hal tersebut.

Beda, sangat berbeda, ungkap Beliau kembali. Dan mungkin baru kali ini saya paham maksudnya.

Mendengar Teriakan sejak Mirah dan Intan lahir atau saat mereka bertengkar, sudah menjadi hal yang biasa kini. Dan saya memang benar benar menikmatinya sambil tersenyum. Sangat jarang semua itu melahirkan bentakan, hanya ada elusan sayang sambil menghibur salah satunya, serta memberi nasehat pada yang lain. Begitu pula dengan corat coret.

Gag di Tembok, buku hingga pipi dan punggung sering menjadi sasaran kejahilan dan aktifitas keduanya saat mereka sudah memegang pensil ataupun crayon. Pokoknya semua kini menjadi tambah berwarna dan bagi saya -lagi lagi- sedap dipandang. Meskipun pendapat berbeda datang dari Ibu dan neneknya yang lebih senang dengan tembok yang bersih dan rapi.

Mereka berdua kini lagi nakal-nakalnya. Entah bagaimana jadinya kalo yang ketiga lahir dan besar nanti. Tambah ramai tentu saja. He…