Menarik Diri dari Media Sosial

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Entah kesambet apa, semingguan ini saya malas untuk terhubung ke Media Sosial. Kalopun masuk, paling liat timeline bentar, lalu balik lagi ke rutinitas…

Lagi keranjingan Scoop.
Mungkin itu salah satu alasan yang tepat.
Apalagi setelah menghabiskan banyak waktu, banyak memori dan banyak kuota serta banyak batere, rasanya aktifitas ini jadi jauh mengasyikkan ketimbang sebelumnya. Meski yang namanya ambil screenshot layar tetap dilakukan jika menemukan sesuatu yang menarik.

Perkembangan Politik belakangan ini ?
Iya juga.
Pasca kekalahan pak Ahok di Pilkada DKI dan penjatuhan Vonis Penjara 2 tahun, keknya sudah melengkapi semua kegalauan yang saya alami sejauh ini.
Gak respek lagi dengan yang namanya idealisme, keBhinekaan dan rasa percaya pada pimpinan negeri. Semua jadi mengalir begitu saja tanpa ada rasa lagi.

Radikalisme, saling Hujat dan Caci Maki, begitu gampangnya bersliweran di timeline. Bikin enegh dan gak mengasyikkan lagi semuanya.
Begitulah dinamika politik ketika dikaitkan dengan agama. Runyam hidup ini.
Rasanya memang Lebih Baik Menarik Diri dari Media Sosial, untuk Sementara Waktu demi kewarasan berpikir dan menyerahkan semua ini pada-NYA.
Nanti pasti, ada waktunya untuk kembali lagi…

DKI Jakarta Punya Gubernur Baru, Selamat ya…

1

Category : tentang Opini

Wiii…
Selamat ya pa Anies dan pa Sandi…
Akhirnya lolos lubang jarum juga ke kursi Gubernur DKI… Ini adalah kemenangan kita semua, bahkan termasuk saya yang bukan Warga DKI Jakarta, makanya ndak mencoblos pa Ahok. Hehehe…

Lebih dari 51 % hasil Quick Count nya kalo ndak salah.
Itu artinya ya Mayoritas Penghuni Jakarta memang sudah bosan memiliki Gubernur yang punya mulut comberan, tukang gusur, gak se-Iman dan Penista Agama…
atau Bisa juga ya Mayoritas Penduduk Muslim di Jakarta memang Takut Masuk Neraka…

dan ketika pa Anies yang dulu katanya dipecat pa Jokowi gegara nda becus mimpin Kementrian Pendidikan padahal tingkat serapan anggarannya terbesar, malah bisa jadi memang sengaja dilengserkan agar bisa punya kesempatan duduk di kursi Gubernur DKI. Ya siapa tahu kan ?

Jadi, kedepannya Jakarta bakalan jadi Role Model lagi bagi daerah lainnya. Baik dari segi tata pengelolaan pemerintahnya, kualitas pelayanan birokrasi hingga ke persoalan toleransi umat beragamanya. Serta titik akhir dari semua itu adalah tingkat korupsi yang hadir ditengah-tengah kepemimpinan, apakah memang bertujuan mensejahterakan masyarakat Jakarta dan membangun kepercayaan atau apalah ? He…

Saya harap siy PilGub Bali tahun depan bisa lebih adem ketimbang DKI Jakarta…

Tapi ah, Saya jadi ingat cerita pendek di halaman akhir Intisari beberapa waktu lalu. Dimana seorang lelaki di sebuah desa berada dalam posisi terancam banjir bandang yang akan menghantam rumahnya…
Ketika Pak eRWe datang dan memintanya pergi meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri, si lelaki berkata ‘akan ku tunggu Tuhanku, aku yakin Dia akan menolongku…’
Pak eRWe pun pergi meninggalkannya…
Tidak lama ketika air sudah naik ke lantai 2 rumah si lelaki, pasukan SAR yang membawa perahu karet pun datang menghampiri dan meminta si lelaki untuk naik menyelamatkan diri, namun lagi lagi si lelaki berkata ‘akan ku tunggu Tuhanku, aku yakin Dia akan menolongku…’
dan Pasukan SAR pun beranjak Pergi untuk menolong warga yang lainnya.
Saat banjir sudah setinggi atap dan si lelaki mulai tampak kebingungan di atas genteng rumahnya, sebuah Helikopter polisi datang mendekati dan berteriak agak si lelaki menjangkau tali temali yang diturunkannya, dan lagi lagi si lelaki berkata ‘akan ku tunggu Tuhanku, aku yakin Dia akan menolongku…’
dan Helikopter itupun berlalu mencari warga desa yang tersisa…

Tak berapa lama, banjir bandangpun akhirnya menghanyutkan rumah serta menewaskan si lelaki tersebut.
Saat bertemu dengan Tuhan, ia pun melayangkan protes sambil marah-marah. “Tuhan, aku menyembahmu setiap hari, tapi ketika aku butuh pertolongan dariMu, tak kudapatkan itu…”

Tuhanpun menjawab…
“Aku sudah mengirimkan pak eRWe kepadamu, tapi kau tolak… Aku kirimkan pasukan SAR, kau tolak juga… bahkan ketika Helikopter kudekatkan, kau tolak lagi… lalu Pertolongan apa lagi yang kau harap dariku ?”

Menanti Hasil Pilkada DKI

Category : tentang Opini

Akhirnya datang juga…
Hari yang dinanti…
Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta rasa PilPres…

Saya sebenarnya ngeri sendiri kalo ngeliat perkembangan politik di DKI.
Macam Muslim vs Non Muslim…
Tapi sesungguhnya ini adalah pertempuran antara Muslim Radikal yang ingin meruntuhkan keBhinekaan dengan Muslim Moderat yang ingin mempertahankan NKRI.

Dan melihat apa yang terjadi selama Pilkada DKI, saya sebagai bagian dari kaum minoritas, non muslim, terkadang merasa lucu atau geli saat melihat kekhawatiran sebagian umat Muslim yang khawatir pindah keyakinan atau masuk Neraka apabila memilih atau dipimpin oleh mereka yang Non Muslim.
Aduh…
Hidup ya dijalani saja. Persoalan mati, toh ada kehidupan selanjutnya… yang secara rasa, saya yakin tidak akan kita alami sebagaimana kehidupan saat ini. Tapi ya gimana ? Ini soal keyakinan…

Pula ada rasa khawatir apabila kaum Radikal sampai menguasai DKI, ya siap siap saja PilPres depan bakalan bernasib serupa.
Bersyukur sudah menghapus akun FaceBook dari lama… kalo ndak, yakin banget bakalan stress baca linimasa sosial media.

Menanti Hasil Pilkada DKI…
Sore nanti kayak apa ya Jakarta ?

Polling akun Twitter Bang @iwanfals Bikin Gerah

Category : tentang InSPiRasi

Sosial Media Twitter belakangan ramai pasca dimulainya Gong Pilkada DKI Jakarta yang menyajikan 3 pasangan calon Cagub dan Cawagub. Jadi makin ramai setelah aksi Bela Agama tanggal 4 November lalu yang sepertinya memiliki agenda lain dari apa yang dikoarkan banyak pihak. Namun terlepas dari semua karamaian itu, rupanya ada satu akun yang bisa jadi berawal dari keisengan belaka, sudah membuat jagat Twitter tambah gerah. Akun miliknya Bang Iwan Fals.

@iwanfals terpantau per tanggal 12 November kemarin mengunggah sebuah polling khas Twitter yang menanyakan soal ‘andai pilkada dki dilaksanakan sekarang, siapa pilihanmu ?’
Wiii… ndak kurang dari 38ribuan Votes yang memberikan suara dadakan terkait opsi pilihan yang ada. (20%) agus ; (62%) ahok ; dan (18%) anies. 38,117 votes – Final results. Edan ya ?

Dan bisa ditebak, banyak dari para Follower Legenda Musik Tanah Air ini mempertanyakan balik keberpihakannya setelah melihat hasil Polling. Padahal semua hasil yang terpampang tentu datang dari para netizen baik berstatus follower diantara 930K itu, atau teman si follower. Lucu…

Demi menetralkan suasana, sehari kemudian muncul Polling susulan dari akun yang sama. ‘duh bikin polling kok pada berantem, jadi mending dihapus apa nggak ya pollingnya ?’

Sepuluh persen dari jumlah Votes sebelumnya, menyatakan (24%) hapus ; dan (76%) jangan hapus. 3,310 votes – Final results. Makin heboh deh. Hehehe…

Saking Hebohnya, di hari yang sama muncul lagi Polling baru. ‘Kerja Jokowi ?’ (73%) bagus ; (12%) buruk ; dan (15%) biasa saja. 16,374 votes – 1 hour left (kalian masih boleh Votes saat tulisan ini dibuat, kalo mau).

polling-iwan-fals

‘oke, lanjut ya, tema2 lagu yg menarik ?’ (34%) cinta ; (20%) lingkungan hidup ; (40%) sosial & politik ; dan (06%) religi. 9,444 votes – 4 hours left. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya Bang @iwanfals masih dikangeni banyak Followernya untuk membuat karya yang senada kisah perjalanannya ketimbang tema Cinta yang akrab digeluti pasca Reformasi. Hehehe… Tapi yang satu ini ada yang menenggarai hanyalah sebuah Polling Pengalihan Isu dari Polling pertama yang Kontroversial itu.

‘hehe klo boleh tau berapa usiamu’ (3%) 0-17 ; (68%) 18-35 ; (27%) 36-53 ; dan (02%) 54 dstnya. 9,618 votes – 4 hours left.
‘lalu tingkat pendidikanmu’ (2%) sd ; (02%) smp ; (21%) sma ; dan (75%) mahasiswa. 8,909 votes – 4 hours left.
Dua Polling diatas, bisa jadi merupakan satu gambaran umum siapa follower Bang @iwanfals, meskipun secara jumlah pemberi suara gak sebanyak Polling sebelumnya.

‘klo gitu soal 4 juta penonton yg dulu itu gimana ya’ (70%) setuju ; sedangkan (30%) tidak setuju. 5,642 votes – 7 hours left. Khusus Polling ini kalo ndak salah terkait cita-cita yang bersangkutan menggelar konser musik yang sejauh ini masih tertunda.

‘Apakah Ahok Menistakan Agama’ (27%) ya ; (65%) tidak ; dan (08%) bingung. 14,459 votes – 13 hours left. Heladalah… Meskipun Votes masih berlangsung dan mayoritas mengatakan ‘Tidak’, rupanya banyak juga yang mengecam. Baik ditujukan pada pak Ahoknya, maupun pada si pemilik Polling, Bang @iwanfals. Hihihi…

‘oh ya, gimana dgn Habib Rizieq?’ ( 19%) oke ; (68%) nggak oke ; dan (13%) biasa saja. 4,920 votes – 15 hours left. Huahahaha… Polling terakhir yang saya tahu per pagi ini malah menyulut banyak pihak, utamanya mereka yang menganggap objek yang ditanyakan adalah Ulama. Sehingga banyak juga yang menganggap bahwa Bang @iwanfals menghina Ulama.

Padahal jawaban datang dari para Netizen loh… dan Netizen yang memberikan suara pada setiap Polling yang ada, bisa jadi tidak hanya terkonsentrasi di DKI Jakarta atau merupakan Semeton Muslim saja, seperti saya misalkan. Hehehe…

’64 Persen PNS Kemampuannya hanya Juru Ketik ?’

3

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Video yang diunggah oleh akun Instagram @punapibali rabu malam (26/10) kemarin, sempat menggelitik pikiran saya sedari awal menontonnya. Bagaimana tidak ?

Bahwa dari 4,7 Juta, 64 persen PNS kemampuannya hanya Juru Ketik ?

Emejing…

Dan kalimat berikut yang tampil adalah ‘dengan kemampuan terbatas itu… mereka bingung mengerjakan apa di kantor…’

Sangat Emejing…
Tapi kenapa baru nyadar sekarang ya ?
Padahal kalo menurut pandangan saya pribadi, hal ini sudah berlangsung sejak lama. Dari jaman saya berstatus baru jadi PNS, semua pertanyaan itu sudah berkeliaran di kepala.
‘Serius nih, kemampuan kawan-kawan seruangan hanya segini ?’
Sementara saya masih ingat, seminggu sebelum diminta ngantor pertama kali, saya sudah menyiapkan diri untuk tidak gugup bekerja sebagai abdi negara. Jika saja Blog dan Sosial Media sudah menjadi Trend saat itu, saya yakin status atau postingan keresahan saya sebelum menghadapi hari jadi tersebut akan bisa dibaca kembali hari ini.
Ya, saya kecele…
Ini terjadi gegara saya terbiasa bekerja disiplin dengan orang di sejumlah perusahaan konsultan lepas materi kuliah hingga dinyatakan diterima sebagai PNS tahun 2003 lalu.

Owh enggak. Tulisan ini bukan untuk membangga-banggakan bagaimana perjalanan saya menjadi seorang PNS yang saya sendiri meyakini, tidak masuk dalam prosentase 64 diatas. Meskipun jika boleh dikatakan, kemampuan saya sejauh ini pun masih sangat terbatas, jika disandingkan dengan sejumlah kawan yang kini kerap saya ajak berinteraksi di komunitas ataupun sosial media.
Saya akui kok.

pns-pande-baik

Tapi apa yang disampaikan oleh Menpan RB Asman Abnur itu memang benar adanya.

Katakanlah di posisi saya saat ini.
Memiliki sejumlah staf yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, seperempatnya bisa dikatakan ya memang secara kemampuan hanya juru ketik. Tidak mampu menganalisa, membuat konsep surat ataupun notulen rapat sekalipun, bahkan seperempatnya lagi tidak bisa mengetik.
Emejing kan ?

Sementara saat saya masuk ke ruangan besar di pojokan barat lantai dua gedung lama, sebagian diantara kami seingat saya malah punya rutinitas membaca koran pagi, membolakbalikkan semua halaman hingga siang, lalu ngeloyor entah kemana. Dan itu fakta.
Maka ya ndak heran kalo diantara kami yang dijejali berbagai macam pekerjaan, tugas dan lainnya oleh pimpinan, sempat merasakan bahwa ‘mereka yang berusaha rajin bekerja ya akan terus diberikan pekerjaan, sementara yang malas ya dibiarkan. Tidak ada upaya meningkatkan kompetensi atau kemampuan, baik dari atasan apalagi dari dirinya sendiri… Nyaris tidak ada Sanksi atau ancaman pemecatan karena secara aturan terkait disiplin pegawai ya memang tergolong masih longgar.’

Akan tetapi belajar dari pengalaman semenjak jadi PNS, membuat saya selalu berupaya untuk memanage mereka yang terpantau memiliki keterbatasan kemampuan sebagaimana cerita diatas.
Meski tak sempurna, minimal staf yang saya miliki tak sampai duduk diam dari pagi hingga sore, apalagi sampai berhari-hari.
Untuk mereka yang tak mampu mengoperasikan komputer, saya berikan tugas pengawasan lapangan secara rutin, dan melaporkan hal-hal yang sekiranya dianggap penting atau tidak dapat diselesaikan permasalahannya dilapangan melalui akun BBM atau Whatsapp, ada juga yang ditugaskan untuk pencatatan administrasi manual yang hingga kini masih digunakan dalam alur kerja birokrasi. Sementara bagi mereka yang kemampuannya hanya sebatas juru ketik, saya tinggal memberikan konsep dokumen, menugaskan mereka bekerja dan selalu melakukan koreksi saat selesai dikerjakan.
Agak repot sih sebenarnya.

‘ada PNS jago gosok batu akik tapi tak bisa ngetik…’ kata Pak Ahok, masih dalam video yang sama.
Ya memang ndak heran, sebagaimana yang seringkali saya ungkapkan dalam postingan blog terkait kinerja kami, para PNS yang posisinya diidam-idamkan banyak orang.
Justru itu baru satu tipe yang spesifik.
Jika saja kalian menyadari ada banyak ragam tipe PNS di luar itu, mungkin ndak hanya caci maki yang saya dapatkan secara pribadi hanya lantaran kalian mengeneralisir bahwa keberadaan kami sama semua.
Dari tipe yang ngulik rumus matematika ‘Togel’, baca koran seharian tadi, omong doang tapi ndak mau bantuin kerja, hingga calo perijinan. Dan ada juga tipe yang nyambi jualan, entah kain kebaya, cincin hingga ponsel kawe. Ah, itu mah biasa.
Hanya saja memang tak terlihat secara kasat mata saat kalian mengunjungi kami ke ruangan. Percaya deh.

‘Dia (Menpan) mengakui Kompetensi PNS masih rendah…’

Ya begitulah adanya.
Dan saya lihat, itu lebih banyak menjangkiti mereka yang kini sudah berusia 40-an tahun keatas, dimana sudah mulai merasakan bahwa otak tak mampu lagi mengimbangi kemajuan teknologi yang kini makin berkembang. Tapi kalo sebatas urusan nge-FaceBook atau nonton YouTube ya masih diupayakan lah.
Hei, ini fakta Kawan.

Tapi ya… kenapa nyadarnya baru sekarang ?

Pak Ahok, yang diCerca, yang diPuja

1

Category : tentang Opini

Sudah sangat jarang kita menyaksikan sosok seorang pemimpin yang mampu menyatakan kepatuhannya pada 4 (empat) pilar kebangsaan saat ini… Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Setidaknya demikian yang saya tuliskan di akun jejaring sosial Facebook beberapa waktu lalu. Tepatnya pasca menonton rekaman pembukaan festival Beleganjur yang diadakan di Cibubur oleh Pak ‘Ahok’ Basuki Tjahya Purnama, Wakil Gubernur DKI terpilih.

Hebat… Luar Biasa… bathin saya…

Di saat para pejabat terlihat begitu patuh dan manut sesuai perintah atasannya, atau bahkan bungkam saat ormas dengan seenaknya menginjak-injak bangsa ini, Beliau berani untuk mengungkapkan isi hatinya (yang disampaikan tanpa teks, dengan lancar pula), dan membuktikan, bahwa orang atau pejabat seperti inilah yang kita butuhkan saat ini.

Pejabat harus paham Konstitusi.

Tidak seenaknya main pindah jabatan hanya karena persoalan beda agama, apapun alasannya.

Setidaknya demikian akar masalah yang terjadi antara dua pejabat tinggi negeri ini. yang satu seorang Wakil Gubernur yang dikenal begitu lugas saat bertugas, sedang lawan mainnya adalah seorang Menteri yang notabene seharusnya mampu mengayomi masyarakat lantaran merupakan pilihan dari orang nomor satu negeri ini. Sayangnya, statement yang ia keluarkan, tidak demikian adanya.

Saya yakin, dalam bersikap, berkata dan berpikir, Pak ‘Ahok’ Basuki Tjahya Purnama hanya memiliki dua modal utama. Pertama, Pintar atau Cakap dalam arti Positif.

Pintar dalam memahami sejauh mana tugas, tanggung jawab serta beban pekerjaan yang sedang dan akan diembannya kedepan, sehingga apapun yang dipersoalkan, dipertanyakan, ia mampu menjawabnya dengan baik dan benar (sesuai rel konstitusi). Sedang modal kedua adalah Iman yang bagus, setidaknya dalam bentuk agama yang Beliau anut. Jika tidak demikian, lantas dari mana datangnya keberanian itu ? Yang saya yakin satu-satunya kekhawatiran Beliau hanyalah persoalan tanggungjawabnya kepada Tuhan, dan itu tidak bisa dipaksakan.

Alhasil, kini panggung politik Indonesia seakan disuguhi tayangan Heroik akan usaha seorang pejabat daerah, dalam hal ini DKI Jakarta, dengan pejabat Pusat yang tidak hanya lucu, namun pula menyedihkan…

Benar kata Pak Ahok. Jika memang didasarkan atas adanya demo, mengapa Pak SBY tidak ikut dipindahkan ? Atau Pak Jokowi juga dipindahkan ? Kan ada banyak orang yang mendemonya hingga kini ?

jadi tidaklah salah jika kemudian saya berandai-andai…

Untuk Jangka Pendek, minimal saya harus mampu untuk memahami tugas, pekerjaan dan tanggung jawab yang diemban kini… namun untuk jangka panjang… saya harus bisa belajar banyak dari Pak Ahok. Setidaknya, meskipun itu hanya sebuah mimpi di siang bolonh, lantaran saya tak memiliki dua modal diatas, tapi masih bolehlah mumpung belum dilarang dan menyalahi konstitusi, bukan ? :p

Selamat Datang Jokowi-Ahok, Selamat Tinggal Foke-Nara

6

Category : tentang Opini

Beberapa lembaga survey telah menunjukkan hasil hitung cepat yang mereka lakukan sejak siang kemarin. Rata-rata menyiratkan nilai prosentase yang tak jauh berbeda dengan hasil survey lapangan yang telah dilakukan sebelum masa pemilihan dimulai. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi pilkada DKI saat putaran pertama dilakukan tempo hari. Kabarnya, salah satu lembaga ini mengakui bahwa mereka memang dibayar oleh salah satu Cagub untuk menggelembungkan suara demi pengakuan publik.

Meski demikian, jauh-jauh hari sebenarnya sudah banyak yang mampu menebak bahwa hasil akhir pilkada DKI akan melibas incumbent yang memang sangat buruk kinerjanya. Ditambah lagi dengan faktor emosinya yang tak tanggung-tanggung. Membuat banyak kalangan menyayangkan sekaligus mempertanyakan perubahan yang ia lakukan sesaat sebelum Pilkada. Memang sih ini salah satu jualan kalo lagi mau pilkada.

Namun yang lebih patut dicermati lagi adalah soal Dukungan. Rupanya dukungan warga jauh lebih berarti ketimbang Dukungan Parpol. Meski mesin politik dari unsur partai tidak kalah pentingnya untuk mengusung calon. Bukti nyata terpampang di pilkada DKI saat ini. Pasangan Foke-Nara yang notabene didukung oleh banyak partai, dilindas habis oleh pasangan calon yang hanya didukung oleh dua partai. Maka bisa ditebak bahwa ini membuktikan parpol tak lagi mendapat tempat di hati rakyat, namun Figur lah yang penting dan menjadi pertimbangan utama dalam memberikan hak suara.

Seharusnya inilah yang kini menjadi cerminan banyak pihak, baik pilkada di daerah ataupun kelak pertaruhan calon legislatif. Bahwa apa yang kalian lakukan saat ini, akan menentukan pilihan dari orang banyak di masa yang akan datang. Jadi jangan salahgunakan kepercayaan yang telah diberikan sebelumnya.

Unik dan menarik, sekali lagi saya ungkapkan datang dari akun anonim Twitland.

Adalah akun @TrioMacan2000 aka Ade Ayu S (dulunya Sasmita, kini hanya S), hingga H-1 pemilihan begitu gencar melancarkan keburukan CaGub-CaWaGub Jokowi-Ahok, lengkap dengan jaminan bahwa data yang mereka (bukan ia, lantaran ada banyak orang yang terhimpun dalam akun tersebut) dapatkan adalah Valid. Dari persoalan kamuflase pemindahan Pasar Tradisional Solo, keberpihakan Jokowi pada umat Nasrani dalam dana Bansos, kebohongan Ahok selama memimpin Bangka Belitung, soal ke-Islaman Jokowi yang tidak paham arti ramadhan dan tidak bisa menunaikan Wudhu dengan baik, hingga tiadanya dukungan DPRD Solo apabila pasangan ini memenangkan Pilkada DKI. Menang Percuma kata mereka.

Uniknya, semua bahan Twit itu direkap menjadi satu tulisan dengan judul yang cukup menohok melalui halaman chirpstory, lalu di ReTweet oleh akun-akun bodong yang dapat dibeli, kemudian diPrint Out dan disebarkan. Modus Kampanye Hitam.

Makin menjadi Menarik, saat pasangan Jokowi-Ahok tampil sebagai pemenang. Dengan segera, setelah Foke mengakui kekalahannya dengan Legowo, akun @TrioMacan2000 menghapus daftar Favoritnya dan juga twit yang pernah mereka lontarkan terkait usaha pembunuhan karakter pasangan calon Jokowi-Ahok. Tak lupa menyulap diri menjadi sok bijak dengan memberi banyak petuah dan pesan kepada Jokowi-Ahok sambil mengakui keburukan Cagub yang hingga H-1 menggelontorkan banyak dana untuk kepentingan Kampanye Hitam Twitland. Demikian pula dengan BIO akun yang diubah, padahal sehari sebelumnya terpampang jelas kalimat ‘Jangan Memilih Jokowi-Ahok’. :p

Tiada yang abadi di dunia ini. Entah apakah publik Republik Twitter kelak akan melupakan usaha pembohongan publik yang diskenariokan oleh pihak-pihak yang sakit hati dengan kebijakan-kebijakan negeri ini atau meninggalkan akun-akun anonim yang rentan dengan penyalahgunaan informasi.

Balik ke Pilkada, sepertinya diluar program kerja, visi dan misi, siapa yang akan diajak untuk bekerja sama pun menjadi poin penting yang harus diperhatikan. Warga Jakarta mungkin sudah mengalami ketidakpercayaan Foke pada Wakil Gubernurnya sendiri hingga Prijanto memutuskan untuk mengundurkan diri demi politik yang bersih. Demikian halnya dengan pencalonannya kini, seakan menomorsekiankan Nara pasangannya yang tampak tak pede dan cenderung bersikap SARA terhadap pasangan calon lainnya. Belum lagi soal ‘tingkat kecerdasan’ yang banyak dipertanyakan, makin membuat Nara terpojok oleh kemampuan Ahok sang lawan.

Selamat Datang Jokowi-Ahok, Selamat Tinggal Foke-Nara.

Semoga Jakarta benar-benar bisa menjadi Baru, minimal pelayanan Publik kini harus dikedepankan.
Dan salut juga untuk Cameo Project yang selama pilkada kemarin sempat membuat video-video Kreatif sebagai bentuk Dukungan kepada pasangan calon Jokowi-Ahok. Memang beginilah cara yang cerdas untuk menunjukkan dukungan. Bukan lagi dengan persoalan Agama dan SARA.

Yak, Warga Jakarta sudah menunjukkan kecerdasan mereka dalam berpolitik. Kapan giliran kita yang berada di daerah ?

Pilih Foke atau Jokowi ?

1

Category : tentang Opini

Menonton video Debat cagub Pilkada DKI yang secara kebetulan sempat saya unduh disela kegiatan Sosialisasi perpres hari selasa lalu, seakan menyadarkan saya akan banyak hal.

Pertama soal bahasa, etika dan komunikasi politik. Adalah Foke, incumbent dalam Pilkada DKI yang tampak sangat emosional dalam menanggapi semua kritikan Jokowi dan pasangan Ahok, ditambah saat presenter berusaha menyela tanggapan Beliau. Jika dibandingkan dengan apa yang diharapkan, sungguh sayang apabila kata-kata ‘This is My Show’ terlontar begitu arogannya seakan ia lupa bahwa presenter pula merupakan cerminan audiens dan penonton dirumah, yang notabene bisa jadi merupakan calon pemilihnya kelak. Demikian halnya dengan sang Cawagub, Nara tampak melontarkan Joke berbau SARA ‘Haiya Ahok’. Memang sih boleh-boleh saja mereka mengatakan ‘itu hanya sekedar bercanda’ namun hati pemilih, siapa tahu ?

Berbeda dengan pasangan Jokowi Ahok yang memang tampil santai namun serius dalam menanggapi banyak hal, isyu serta pendapat lawan tanding mereka. Bukan, saya bukan membela mereka, namun fakta telah memperlihatkan bahwa beginilah sosok pasangan Cagub-Cawagub yang seharusnya.

Kedua, SARA. Lontaran joke oleh Nara seperti tersebut diatas mungkin baru sebagaian kecil. Namun apa yang kerap dilontarkan oleh pasangan Cagub nomor urut 1 ini dalam beberapa kampanyenya memang sangat menohok keberadaan Cawagub asal Bangka Belitung, Pak Ahok. Padahal jika kita mau melihat bagaimana seharusnya seorang pemimpin tampil didepan publik, terlepas dari embel-embel SARA, ya lihatlah pada penampilan Pak Ahok sepanjang Debat Cagub.

Ketiga, Kepercayaan dan Janji. Ini adalah modal besar dari sebuah kampanye dan pilkada. Sayangnya secara pribadi saya menyayangkan sepak terjang sang Incumbent yang memang gag sesuai dengan harapan banyak pemilih 5 tahun lalu. Itu sebabnya ketika yang bersangkutan menyatakan ‘akan, rencananya, nanti…’, semua malah bertanya-tanya, apa yang telah dilakukan selama 5 tahun ini ?

Dan Keempat yang saya rasakan adalah aura Peperangan, saling menyindir dan menjatuhkan di sepanjang Debat. Memang sih ini lumrah dan biasa, tapi… ah sudahlah…

Sesuai jadwal, hari ini 20 September 2012 menjadi tonggak bersejarah bagi semua masyarakat DKI Jakarta. Karena hari ini mereka akan turut serta menentukan arah kemana Jakarta akan berlari.

Mungkin banyak dari kita yang akan mengingat bahwa Pilkada kali ini adalah yang terunik dan mahal. Bayangkan saja saat masa kampanye, kebakaran berturut-turut terjadi di seantero jakarta yang disinyalir untuk membungkam suara yang pada putaran pertama memilih pasangan lain. Ditenggarai demikian lantaran lokasi kebakaran merupakan kantong-kantong suara terbanyak dari salah satu Cagub.

Belum lagi Twitwar yang digawangi oleh akun @TrioMacan2000. Yang pada awalnya mencela pasangan nomor satu, namun di putaran kedua, menghajar habis pasangan Jokowi Ahok dengan ratusan bahkan ribuan twit bernuansa SARA. Dari sini tampak jelas keberpihakan akun yang dahulunya banyak digugu oleh Tweeps dunia maya, namun kini rata-rata memilih untuk tidak memperdulikannya lagi.

Jakarta hari ini akan memilih, jika bisa gunakanlah hak pilih Anda sebaik mungkin. Bisa jadi akan banyak tantangan yang dihadapi untuk menyalurkan aspirasi dan pilihan, bukan tidak mungkin itu akan menyangkut masa depan kalian.

Dan untuk kedua Calon Cagub yang bertanding, semoga dapat legowo menerima hasil pemilihan putaran kedua kali ini, dan tidak mengobarkan kebencian atas nama rakyat pada sang pemenang. Cheers Up.