Mengenal Android Market

34

Category : tentang TeKnoLoGi

Android Market merupakan sebuah toko aplikasi/games online yang dikembangkan oleh Google untuk perangkat teknologi bersistem operasi Android.  Perangkat Teknologi disini bisa berupa ponsel, tablet pc ataupun music player. Sejauh perangkat tersebut dapat terhubung ke dunia maya, maka hampir dapat dipastikan, bisa terhubung dengan Android Market .

Android Market menyediakan aplikasi-games yang dikembangkan oleh pihak ketiga, yang dapat diunduh secara gratis maupun berbayar. Dari pengalaman pertama saya menguji ponsel Samsung Galaxy ACE S5830, baru satu aplikasi saja yang saya temukan merupakan aplikasi Trial sehingga untuk bisa menggunakannya dengan baik, mutlak harus membeli aplikasi tersebut.

Sistem Operasi Android yang bersifat terbuka (open source) memungkinkan pihak ketiga terlibat dalam mengembangkan aplikasi untuk perangkat Android. Berdasarkan informasi yang tercatat pada Wikipedia, Pertama kali Android Market dibuka pada tanggal 22 Oktober 2008. Pertumbuhan jumlah aplikasi yang terdapat dalam Android Market bisa dikatakan sangat cepat. Untuk saat ini saja diperkirakan telah ada lebih dari 140.000 aplikasi padahal pada November 2009, jumlah aplikasi di Android Market hanya sekitar 2.300 aplikasi.

Dari puluhan ribu aplikasi tersebut, lebih dari setengahnya tidak berbayar. Meski banyak aplikasi yang di-gratis-kan, tidak berarti Android Market tidak mendatangkan keuntungan loh bagi para pengembang aplikasi tersebut. Keuntungan datang dari pengiklan yang dapat menyisipkan iklannya dalam aplikasi. Bila pengguna aplikasi mengklik iklan tersebut, pengembang bisa mendapat keuntungan sekitar 0,01 – 0,05 USD. Hal ini mirip dengan perilaku para Blogger yang memasang Adsense di halaman BloG-nya. Untuk aplikasi berbayar, Google menerapkan kebijakan pembagian keuntungan sebesar 70% untuk pengembang dan 30% untuk Google Market.

Android Market kabarnya hanya dapat diakses dari perangkat Android versi 2.1 ke atas. Namun ada juga beberapa vendor ternama yang masih betah menggunakan versi dibawahnya menyematkan  Android Market pada perangkatnya meski tidak semua dapat digunakan atau diinstalasi. Terkait mampu tidaknya digunakan/diinstalasi, saya memiliki pengalaman unik saat menemukan aplikasi Flash Player 10.2 yang ternyata tidak dapat disuntikkan kedalam perangkat Samsung Galaxy ACE S5830 yang saya miliki. Usut punya usut, ternyata perangkat yang notabene sudah berbasis Android 2.2 Froyo ini tidak mendukung aplikasi tersebut. Ealah…

Format aplikasi yang digunakan oleh ponsel Android adalah Android Package Files (APK). Aplikasi yang diunduh dari Android Market tidak secara otomatis terinstal manakala telah selesai diunduh. Diperlukan layanan file manager untuk menginstal aplikasi-aplikasi tersebut. Pada Android versi 2.1 kebawah, aplikasi akan terinstal di memori internal perangkat. Namun, pada Android versi 2.2, aplikasi dapat diinstal di memori eksternal, sehingga memori internal perangkat dapat lebih leluasa.

Sayangnya hingga saat ini saya belum menemukan cara agar pengguna memiliki kuasa penuh untuk mengatur dimana aplikasi itu diletakkan seperti halnya sistem operasi Symbian dan Windows Mobile. Lagi-lagi Android-lah yang kemudian mengatur, bahwa Aplikasi yang berkaitan dengan perangkat akan diinstalasi di memori internal sedangkan Games dan Aplikasi lainnya secara otomatis ditanamkan pada memori eksternal.

Langkah Instalasi aplikasi Android ini tergolong sederhana dan mudah.  Pertama, pengguna dapat Mencari aplikasi yang diinginkan berdasarkan klasifikasi, atau mengetikkan penggalan nama atau kata kunci pada fasilitas search yang disediakan. Kedua. apabila pengguna mengklik/memilih sebuah aplikasi, akan muncul deskripsi tentang aplikasi/games tersebut, rating yang diberikan oleh para penggunanya sekaligus dan review atau komentar. Lalu, bila pengguna mengklik/menekan tombol install, maka aplikasi akan segera diunduh dan proses unduhan akan berlangsung sebagai background process, sehingga pengguna dapat kembali berselancar di Android Market. Aplikasi yang telah diunduh dari Android Market akan tampil dalam menu downloads. Jikapun Pengguna merasa aplikasi ini tidak berguna, aplikasi yang telah diunduh tadi dapat dihapus dari Menu Task Manager.

Beberapa aplikasi yang hingga saat ini masih saya gunakan diantaranya AntiVirus, Ping, PaderSync (Trial), Opera Mini, Real Calculator, Compass, FxCamera, Barcode Scanner, Yahoo Messenger, Androidify, WordPress, Go Launcher Ex, Compass-Koi-Fish-Ballon Live Wallpaper, hingga jejaring sosial Waze, TweetDeck, FaceBook dan FourSquare. Sedangkan untuk Games ada Angry Birds, Brain Genius, Math Workout, Jewel, Unblock Me Free, Tangram, Word Search dan Sudoku.

Ohya, Android Market kini bisa juga diakses melalui PC/laptop loh. Yang dibutuhkan hanyalah alamat Email yang sama-sama digunakan pada perangkat Android. Jika berhasil, maka akan terlihat aplikasi/games yang digunakan pada perangkat Android pada menu akun Profile. Tak hanya itu, hingga nama perangkat yang digunakan pun terlihat dengan jelas. Itu sebabnya ketika saya iseng mencoba melakukan instalasi aplikasi Flash Player 10.2, apa yang terjadi sudah bisa ditebak kan ?

Trik Personalisasi Themes pada Android

8

Category : tentang TeKnoLoGi

Bosan dengan tampilan HomeScreen dan Menu Android yang itu-itu saja ? Silahkan personalisasi dengan tampilan Live Wallpaper. Gambar yang bergerak dan rata-rata bernuansa Dinamis ini minimal mampu memberikan sedikit warna untuk mengatasi kebosanan akan User Interface Android. Tapi kalo sampe bosan juga dengan yang namanya Live Wallpaper, apa ada solusi lain lagi ?

Silahkan coba aplikasi Go Launcher Ex yang dapat diunduh secara Free alias Gratis melalui Android Market. Ukuran installernya hanya sebesar 2,25 MB untuk versi terbaru 2.16. Sejauh ini Go Launcher merupakan salah satu aplikasi yang paling direkomendasikan oleh pengguna Android lantaran dapat memberikan sentuhan User Interface alias Theme yang berbeda dengan tampilan Default.

Dibandingkan tampilan HomeScreen milik Samsung Galaxy ACE S5830, dengan bantuan aplikasi Go Launcher Ex ini, selain menambah satu icon Browser Internet di posisi bawah layar, tampilan icon yang senada dengan wallpaper pun menjadi lebih unik dan menarik. Demikian halnya dengan tampilan Menu yang serupa dengan HomeScreen. Hanya saja apabila dibandingkan dengan tampilan Menu secara Default, terdapat tiga pilihan tambahan dibagian atas layar terdiri dari All (program yang terdapat pada handset), Recent (yang kerap atau terakhir digunakan) dan Running (yang sedang berjalan). Khusus pada pilihan Running ini, bisa juga difungsikan sebagai Task Manager alias menutup aplikasi yang sedang berjalan.

Bagusnya, Go Launcher Ex ini memberikan kesempatan pada pengembang lainnya yang ingin membuat paket Theme dengan menggunakan Go Launcher sebagai basis datanya. Itu artinya ada beberapa pilihan Theme lagi yang dapat dipilih selain Theme bawaan aplikasi.

Sebagai contoh ilustrasi, saya coba menggunakan Cartoon Theme yang memberikan nuansa anak muda yang begitu segar atau Sketch yang mengingatkan saya pada pendidikan Arsitektur dahulu atau Blux Theme hasil karya ZT Art yang elegant. Yang terpenting lagi adalah semua Theme ini bisa diunduh secara Free alias Gratis melalui Android Market.

Apabila ingin kembali pada tampilan Android secara Default, tutup saja aplikasinya melalu Menu Task Manager bawaan Android. Mudah bukan ?

Trik Personalisasi Nada RingTones pada Android

74

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa waktu lalu ketika saya bersua seorang kawan yang kebetulan memilih Pico Droid sebagai Jagoannya ketimbang BlackBerry, mengungkapkan kebingungannya terkait cara mengubah (baca:mempersonalisasi) nada dering baik Ringtones maupun Notification untuk SmS dan email pada Tablet Android yang ia punya. Keterbatasan kemampuan untuk mempersonalisasi nada ini sempat diungkapkan pula oleh seorang teman lainnya yang kebetulan baru memiliki ponsel iPhone 3GS yang di JailBreak ke iOS 4.

Jujur saja, saya pribadi baru menyadari hal ini saking asyiknya beraktifitas dengan Samsung galaxy ACE S5830, ponsel Android Froyo jagoan baru www.pandebaik.com. Sedari awal memang ni ponsel tidak saya gunakan untuk Voice Call ataupun Messaging. Hanya interaksi data atau internetan saja. Bahkan kartu sim card yang saya gunakan merupakan sim card XL yang dahulu saya gunakan sebagai alternatif koneksi pada modem saat Kuota IM2 Unlimited telah habis digunakan.

Keterbatasan kemampuan diatas tentu saja awalnya saya  maklumi. Lantaran belajar dari kepemilikan ponsel pintar terdahulu yang notabene berbasis Windows Mobile Pocket PC (Touchscreen) dan Smartphone (non TouchScreen). Sekedar informasi, kedua OS satu pabrikan tersebut secara Default memang memiliki keterbatasan Pengaturan nada Dering namun tidak menutup Peluang untuk mempersonalisasinya sesuai Keinginan. Satu hal yang patut dicatat adalah lokasi dimana Nada Dering itu ditempatkan.

Seperti halnya Windows pada NoteBook ataupun PC, kedua OS diatas tadi mensyaratkan lokasi nada dering mutlak ditempatkan pada folder /Windows/Media. Demikian halnya dengan Android.

Silahkan buka File Manager ponsel Android ataupun Tablet Android yang pada Samsung Galaxy ACE S5830 kebetulan disebut dengan MyFiles. Cari dan buka folder Media/Audio/ yang terdapat di dalam Memory Eksternal. Cara ini bisa dilakukan dengan menyambungkan ponsel atau handset Android melalui NoteBook/PC menggunakan kabel Data lalu buka melalui Explorer atau dengan membuka dan memasukkan Memory Card kedalam slot card pada NoteBook/PC.

Langkah kedua adalah membuat 3 (tiga) Folder baru didalam folder Media, yang masing-masing diberi nama Ringtones, Notifications dan Alarms. Jika sudah, siapkan file Nada Dering, Nada pengingat untuk SmS, Email dan Alarm dan pindahkan ke masing-masing folder sesuai peruntukkannya.  Lalu cabut kabel data atau masukkan kembali Memory Card-nya ke dalam Handset Android dan lakukan ReBoot atau Restart.

Saat Android dalam kondisi Siaga kembali, silahkan mengakses Pengaturan Nada Dering, Notification dan Alarm yang dalam ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 berada pada Menu Setting/Sound. Pilih Nada yang diinginkan lalu uji hasilnya.

Oya, untuk mendapatkan hasil nada dering yang jernih dan memuaskan, gunakan saja file berformat MP3 dengan bitrate minimal 128 kbps. Hal ini bisa dilihat melalui layar NoteBook/PC dengan memeriksa Detail Properties File yang dimaksud.

Semoga Trik kali ini bisa berguna.

Samsung Champ Duos, Mini Wifi nan Menggoda

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Tampaknya Samsung sebagai salah satu Brand papan atas benar-benar Serius ingin menghantam balik dominasi ponsel lokal yang dalam dua tahun terakhir benar-benar handal dalam memperebutkan kue penjualan. Setelah melepas dua varian Samsung [email protected], ponsel berkeypad QWERTY yang salah satunya mengadopsi dual sim card dan satu lainnya mengadopsi Wifi seharga 800ribuan saja, kini mereka sudah melepas ponsel dual sim card berlayar sentuh dan sudah Wifi pula. Samsung Champ Duos.

Terakhir dipantau (28/3) Samsung Champ Duos bisa dibawa pulang dengan menukarnya seharga 945ribu saja. Harga yang lumayan bersaing mengingat ponsel lokal yang memiliki kemampuan sejenis (dual sim, layar sentuh dan wifi) dilego dengan kisaran harga yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, bagi yang bosan dengan tampilan menu ponsel Lokal, bisa melirik ke Samsung Champ Duos ini kok.

Secara fisik bisa dikatakan Samsung Champ Duos tergolong ponsel Mini. Ketika beberapa kali saya genggam, tak ubahnya seperti membawa dompet gantungan kunci mobil yang Cuma berisikan STNK itu. Saking Mininya, Bisa jadi malahan orang gag akan tau kalo yang saya genggam itu adalah sebuah ponsel.

Dilepas dengan dua varian warna, Elegant Black dan Chic White, Samsung Champ Duos ini rupanya punya tongkrongan HomeScreen yang serupa dengan Android-nya Samsung Galaxy ACE. Saya pribadi sempat membathin, bahwa bagi yang awam, yakin banget bakalan mengira ni ponsel mengadopsi sistem operasi Android. Mengingat baik Samsung maupun brand lainnya sudah mulai melepaskan ponsel kalangan menengah berbasis Android dengan kisaran harga sejutaan saja.

Menilik HomeScreen atau tampilan layar utama, pengguna disajikan lima halaman yang dapat digeser-geser kesamping yang masing-masing terdapat empat icon aplikasi yang dapat di-Customize sesuai keinginan. Masuk pada Menu, pengguna disajikan grid icon 3×3 yang dapat digeser pula untuk mengakses menu yang lain. Sepintas, baik Tampilan HomeScreen maupun icon pada Menu yang digunakan, mengingatkan saya pada ponsel Samsung Galaxy ACE yang kini saya gunakan. Hanya saja berbeda kedalaman warna dan kejernihan grafisnya saja.

Dual Sim Card yang disematkan di badan ponsel dapat aktif secara bersamaan, dan uniknya, untuk bisa menelepon dengan kartu sim yang berbeda, pengguna tinggal menekan tombol kecil di sisi kanan bawah ponsel untuk mengaktifkan kartu sim mana yang ingin digunakan. Keunikan ini tentu berpengaruh pada perwajahan ponsel yang tidak menyajikan dua tombol hijau yang biasanya ada di ponsel-ponsel lokal.

Kameranya masih mengadopsi besaran 1,3 MP dengan Interface yang serupa pula dengan Samsung Galaxy ACE, serupa pula dengan Daftar Kontaknya yang bisa digulir dengan jari. Namun mengingat layar yang disematkan hanya berukuran 2,6 inchi, maka untuk melakukan input data, hanya disediakan keypad numerik virtual dan bukan QWERTY. Jelas ini jauh melegakan apalagi jika jari Pengguna tergolong sama dengan saya. Jempol semua. Hehehe…

Dari segi Multimedia, Samsung Champ Duos hanya menyediakan fitur Musik dan Radio minus Teve Analog. Untuk bisa mengaktifkannya, dalam paket penjualan sedah disediakan Headset yang berfungsi pula sebagai Antenna Radio.

Apa tadi saya sempat mengatakan bahwa Samsung Champ Duos ini sudah mengadopsi Wifi ? yup, itu benar. Ketika saya coba dengan menggunakan fitur Tethering-nya Samsung Galaxy ACE, aktifitas browsing pada Browser Internet bawaan dapat dijalankan dengan baik. Sayangnya, ketika kami mencoba mengunjungi alamat LPSE Badung yang notabene tidak memiliki Versi Mobile, kami kesulitan dalam mengakses halaman secara utuh. Hanya bisa dilakukan pada sisi kiri halaman dengan scroll atas bawah. Bisa jadi diperlukan sedikit pengaturan pada opsi Pilihan Browser. Ohya, bagi yang masih kagok dengan layar sentuhnya, Samsung menyediakan pula ‘Cotton Buds’ yang disematkan di cover belakang ponsel untuk membantu pengguna menunjuk-nunjuk layar layaknya ponsel PDA jadul itu.

Secara keseluruhan, ponsel Samsung Champ Duos ini bisa direkomenasikan bagi mereka yang menyukai ponsel simpel berlayar sentuh, dengan kebutuhan dual sim aktif dan telah mendukung koneksi Wifi. Dengan harga dibawah satu juta, ponsel berukuran mini ini tentu saja sangat menggoda untuk dimiliki.

Review Multimedia Samsung Galaxy ACE S5830

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Untuk ponsel sekelas Samsung Galaxy ACE S5830, suara yang dihasilkan dari speaker yang terletak di bagian belakang ponsel saat mendengarkan file Multimedia terasa kurang nendang jika dibandingkan dengan ponsel Nokia jadul N73 walaupun sama-sama terdengar jernih. Suara baru akan terdengar lebih baik apabila dilakukan melalui colokan headset yang disertakan dalam paket penjualannya. Ohya, Headset ini berfungsi pula sebagai antenna Radio seperti halnya ponsel lain. Terkait file Multimedia, Review kali ini masih saya bagi menjadi tiga sub bahasan yaitu Musik, Kamera dan tentu saja Video.

Musik

Dari beberapa jenis file Audio yang saya coba melalui music player bawaannya, hanya tiga format saja yang mampu dimainkan dengan baik. MP3, AAC dan Wave. Ketiga format file tersebut bisa dikatakan merupakan format umum yang biasanya digunakan untuk sebuah file audio.

Untuk menjalankannya, tidak tersedia tombol khusus menuju pemutar musik alias pengguna tetap harus mengaksesnya melalui halaman Menu atau membuatkan shortcut secara khusus di halaman Utama (HomeScreen). Ketika dijalankan, pengguna diberikan opsi pengaturan lanjutan mencakup Playlist, Equalizer atau bahkan pemutaran secara acak (Shuffle). Untuk memilih file audio mana yang akan dijalankan, pengguna diberikan tiga opsi pilihan urutan, apakah berdasarkan nama file, album atau artis. Seperti halnya ponsel pintar lainnya, file audio yang tersedia pun bisa dijadikan nada dering panggilan ponsel.

Kamera

Hampir tidak ada fitur istimewa yang disematkan dalam lensa kamera Samsung Galaxy ACE S5830 ini. Kendati sudah mencapai resolusi 5 MP ditambah autofokus dan Flash Light, hasil jepretan kameranya malah cenderung soft dan agak kabur. Hal ini jelas berbeda pendapat dengan beberapa Review ponsel yang dilansir media cetak maupun dunia maya, yang rata-rata menyanjung ketajaman hasil jepretan kamera Samsung Galaxy ACE S5830.

Besaran resolusi kamera Samsung Galaxy ACE S5830 rupanya tidak menjamin besaran resolusi video yang dapat dihasilkan. Paling besar hanya seukuran QVGA atau 320×240 pixel dengan frame rate per second hanya 15 fps.

Bandingkan dengan ponsel Nokia 6720 Classic yang saat pertama kali dilepas dahulu berada di kisaran harga 2,6 juta. Meski sama-sama beresolusi kamera 5 MP, namun secara kualitas baik jepretan kamera (Carl Zeiss Autofokus) pun dengan rekam videonya (VGA 640×480 30 fps) jauh lebih mumpuni dan memuaskan.

Jikapun pengguna merasa belum puas dengan hasil kamera yang diambil dengan menggunakan lensa milik Samsung Galaxy ACE S5830, silahkan Hunting aplikasi Kamera FX yang mampu memberikan sentuhan berbeda dalam setiap hasil yang diabadikan.

Video

Dari beberapa kali percobaan yang saya lakukan untuk memutar file Video di ponsel Samsung Galaxy ACE S5830, rupanya tidak semua format file bisa dijalankan dengan baik. Format file seperti MPG, DAT, FLV merupakan diantaranya. Sedangkan format file video 3gp dan MP4 rata-rata mampu dijalankan dengan baik meski tidak semuanya.

Untuk format file video MP4 hasil download portal YouTube misalkan. Tidak semua bisa dijalankan dengan baik malah terkadang ada juga yang tidak mau dijalankan. Agar dapat dijalankan dengan baik, pengguna wajib melakukan proses converter terlebih dahulu dengan menggunakan aplikasi Kies, semacam PC Suite-nya Samsung Galaxy ACE S5830 kemudian mentransfer hasilnya ke ponsel. Dibandingkan file aslinya, terdapat perbedaan yang mencolok disandingkan dengan hasil converternya. Paling nyata terlihat adalah resulosi Video yang dihasilkan tergolong High Definition (HD) dengan resolusi 720 pixel. Untuk itu, akan lebih baik apabila file asli yang digunakan sama-sama berkualitas HD agar hasil converternya tidak mengecewakan.

Saat file video tersebut dijalankan, layar akan secara otomatis berubah ke posisi landscape. Hal ini jelas berbeda dengan pemutaran file video lewat portal YouTube yang bisa juga dijalankan dengan tampilan Portrait. Mengingat hasil converter videonya tergolong HD, maka dibutuhkan space memory yang tidak sedikit untuk satu buah file video.

Tidak seperti pemutaran file Audio, saat file video dijalankan, tidak ada opsi pengaturan khusus yang diperuntukkan bagi pengguna. Hanya Play, Pause, Next dan Previous saja.

Review (LIVE) Wallpaper Samsung Galaxy ACE S5830

7

Category : tentang TeKnoLoGi

sih ingat dengan salah satu tulisan Review ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 yang berkaitan dengan User Interface ? kali ini saya ingin berbagi tentang (Live) Wallpaper yang digunakan di halaman Utama (HomeScreen).

Ada tiga opsi pilihan Wallpaper yang dapat digunakan sebagai latar belakang halaman Utama (HomeScreen) pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830. Hasil jepretan kamera atau editing pribadi, wallpaper Default dan Live Wallpaper. Untuk mengaksesnya bisa dilakukan dengan dua cara yaitu akses dari halaman Utama dan akses melalui Pengaturan Display.

Akses pemilihan ketiga opsi Wallpaper diatas dari halaman Utama dilakukan dengan cara menekan dan menahan halaman kosong pada area HomeScreen, kemudian pilih Wallpaper. Sedangkan cara lainnya adalah mengakses halaman Menu, kemudian masuk ke dalam Pengaturan (Setting), Display, Wallpaper.

Untuk menggunakan wallpaper hasil jepretan kamera ataupun editing pribadi, pengguna akan diarahkan pada Menu Gallery dimana bisa dipilih gambar mana yang akan diatur sebagai wallpaper nantinya. Jika pun gambar tersebut merupakan file kiriman dari ponsel lain, Samsung Galaxy ACE S5830 akan mendeteksinya dan menampilkannya dalam halaman Gallery. Tidak usah mengatur resolusi atau ukuran gambar seperti tulisan saya terdahulu terkait membuat Wallpaper untuk layar ponsel, karena sebelum gambar akan dijadikan wallpaper, pengguna dihadapkan pada satu opsi lagi, Pengaturan area gambar.

Pengaturan area gambar ini memberikan dua pilihan, apakah gambar akan dipotong (crop) secara horizontal (landscape) ataukah vertikal (portrait). Terdapat pula fitur perbesaran area gambar yang bisa digeser sesuka hati untuk mendapatkan area gambar yang sesuai dengan selera pengguna. Pengaturan ini serupa dengan langkah penerapan wallpaper pada ponsel Windows Mobile PocketPC yang biasanya diakses melalui Menu Pictures.

Terkait pemotongan diatas, hasil wallpaper yang diterapkan tentu saja akan berbeda antara yang dipotong dengan bentuk landscape dan portrait. Untuk wallpaper yang dipotong dengan bentuk landscape akan ditampilkan sebagian demi bagian, bergantung pada jumlah halaman Utama (HomeScreen yang digunakan). Jadi kalopun gambar yang digunakan adalah gambar panorama, maka bisa jadi pengguna akan menemukan gambar yang berkelanjutan ketika melakukan perpindahan halaman Utama. Sedangkan untuk wallpaper yang dipotong secara Portrait, akan menyajikan gambar yang sama di setiap pergeseran halamannya.

Untuk menggunakan wallpaper dari folder default, pengguna hanya diberikan pilihan secara terbatas, tergantung dari ketersediaan gambar yang ada. Dalam hal ini, tidak terdapat menu Pengaturan Area Gambar seperti langkah diatas.

Opsi ketiga atau terakhir adalah Live Wallpaper. Untuk yang satu ini bisa dikatakan sangat mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan. Mengagumkan lantaran gambar latar belakang yang digunakan adalah gambar bergerak layaknya animasi Flash. Jadi mengkhawatirkan lantaran ketika pengguna memutuskan untuk menggunakan Live wallpaper ini sebagai pilihan, daya batere akan menjadi sedikit lebih boros dari biasanya. Tapi, siapa yang peduli jika penampilan layar Utama jadi lebih kinclong dibuatnya ?

Secara Default, ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 telah menyertakan satu pilihan Forest Live Wallpaper dimana tampilannya bisa dilihat pada ilustrasi tulisan ini. Seandainya masih dirasa kurang, silahkan Hunting di Android Market untuk mendapatkan pilihan yang jauh lebih banyak. Beberapa yang sudah saya coba adalah versi Matrix, Nexus Google S, Shake Them All, Koi, Aquarium dan Bubble.

Uniknya, selain gambar latar yang ditampilkan dapat bergerak, pengguna juga bisa berinteraksi menggunakannya. Untuk versi Shake Them All, beberapa robot hijau Android akan berjatuhan kearah mana posisi ponsel digerakkan. Versi Bubble atau gelembung air, dapat dipecahkan ketika disentuh, Sedangkan Versi Koi malah mengingatkan saya pada HomeScreen serupa yang diadopsi Sony Ericsson Xperia pertama.

Satu saran saya, jangan perlihatkan tampilan Live Wallpaper ini pada anak-anak. Karena ketertarikan mereka pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 akan menjadi sangat besar. Jangan sampai ponsel terjatuh dan mengalami gangguan yang tidak diinginkan saat layar utama digunakan bermain oleh anak-anak. Hehehe…

Semua opsi yang ditawarkan dalam fitur atau Menu Wallpaper ini bisa dikatakan sangat menarik untuk dicoba. Mampu Memberikan satu pengalaman baru bagi setiap pengguna ponsel yang barangkali sudah mulai jenuh dengan tampilan layar ponsel yang monoton.

Review Browser Samsung Galaxy ACE S5830

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada yang belum familiar dengan istilah Browser ? Browser atau yang dikenal dengan istilah Peramban merupakan aplikasi wajib yang berfungsi untuk beraktifitas atau menjelajah dunia maya. Beberapa jenis Browser yang sudah familiar dikenal belakangan ini ada Google Chrome, Mozilla FireFox, Opera, Safari dan tentu saja Internet Explorer.

Beragamnya jenis Browser yang tersedia, kemudian menciptakan fanatisme tertentu di kalangan pengguna lantaran masing-masing Browser diatas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri yang dibanggakan atau masih dapat dimaklumi.

Pada ponsel berbasis Android 2.2 Froyo Samsung Galaxy ACE S5830 ini, kabarnya salah satu kekurangan Browser bawaan yang kerap dibicarakan dalam setiap Review baik media cetak maupun dunia maya adalah tidak didukungnya plugins Flash Player sehingga pada beberapa halaman yang menggunakan Flash sebagai salah satu konten, tidak dapat dibuka dengan sempurna. Hal ini kemudian dianggap sebagai salah satu pertimbangan penting untuk ‘tidak disarankan sebagai ponsel yang patut ditunggu berikutnya.

Kabar itu memang benar adanya. Browser bawaan tidak mendukung Flash Player bahkan plugins tersebut tidak dapat ditemukan dalam daftar Android Market.

Namun jangan khawatir. Jikapun memang Flash Player yang menjadikan pertimbangan utama Anda dalam memilih ponsel, silahkan unduh aplikasi Browser Dolphin atau SkyFire yang sudah diakui jauh lebih mumpuni dari Browser bawaan ponsel Android. Yang lebih penting lagi, kedua Browser tambahan ini sudah mendukung Flash Player loh.

Ukuran kedua aplikasi Browser tersebut rata-rata berada di range 1,5 MB. Bahkan untuk Dolphin Browser memiliki tiga varian berbeda, bergantung pada kebutuhan si Pengguna. Versi Lite, normal dan HD. Makin besar tingkatannya, makin besar pula kemampuannya. Yang artinya, makin besar pula kebutuhan memori yang dihabiskan. Positifnya, Dolphin memberikan opsi Pengaturan pada penggunanya untuk memilih, memori mana yang akan digunakan untuk menyimpan Cache dan History yang akan dijalankan. Apakah ditempatkan pada Memori Internal ataukah Eksternal ?

Meski demikian, gag usah terlalu khawatir bahwa dengan Browser bawaan ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 ini saja sudah lebih dari cukup kok. Beberapa halaman portal berita seperti Vivanews ataupun Detik bahkan blog www.pandebaik.com pun dapat ditampilkan dengan baik.

Saya katakan demikian, lantaran ponsel ini sudah mendukung fitur MultiTouch yang memungkinkan Pengguna melakukan permbesaran halaman (zoom) hanya dengan mencubit layar layaknya iPhone. Aktifitas ini jelas jauh mempermudah proses akses dari satu halaman web ke halaman lainnya.

Seperti halnya pada NoteBook atau PC, dalam membuka satu link ataupun alamat web, Pengguna diberikan opsi untuk memilih, Browser mana yang akan digunakan sebagai Browser Default selanjutnya. Jika Anda menginginkan sebuah browser yang powerful, arahkan saja pada Dolphin Browser.

Secara tampilan, Dolphin Browser tak jauh beda dengan Browser terkini yang ada pada NoteBook ataupun PC. Terdapat beberapa Tab (halaman baru di jendela yang sama) yang dapat digunakan secara bergantian tanpa menutup halaman lainnya. Tersedia pula opsi Mobile View apabila halaman web yang diakses terlalu rumit untuk ditampilkan. Untuk kecepatan Browsing atau jelajah masing-masing halaman web, tentu saja akan bergantung pada kecepatan koneksi yang digunakan.

Review User Interface Samsung Galaxy ACE S5830

15

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah me-Review ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 dilihat dari mata awam beberapa waktu lalu, kini giliran me-Review Antarmuka Pengguna atau yang dikenal dengan istilah User Interface. Review kali ini saya bagi dalam tiga sub pembahasan yaitu halaman Utama (HomeScreen), halaman Menu dan Taskbar.

HomeScreen

Secara default atau ketika ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 untuk pertama kali digunakan, layar halaman Utama atau HomeScreen ini akan menyajikan gambar wallpaper yang tampak memenuhi layar ditambah empat icon shortcut di sisi bawah layar. Adapun keempat icon tersebut merupakan akses menuju Telepon, Daftar Kontak, Pesan dan tentu saja Menu. Keempat icon ini akan selalu tampil dalam setiap halaman Utama atau HomeScreen dimana jumlah halaman dapat diperbanyak hingga sembilan halaman.

Dalam satu halaman Utama ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 dapat menampung setidaknya enam belas icon shortcut tambahan diluar keempat icon utama tadi. Sehingga apabila kemudian pengguna memiliki puluhan aplikasi tambahan yang diunduh dari Android Market, semuanya itu dapat ditampilkan dalam halaman Utama yang berbeda-beda. Sekedar informasi, setiap halaman dapat diakses dengan cara menggeser halaman ke kiri (menuju halaman berikutnya) dan ke kanan (untuk menuju halaman sebelumnya).

Dibandingkan ponsel Nokia ataupun BlackBerry yang berlayar sentuh, untuk melakukan pergeseran halaman pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 ini, tidak memerlukan kekuatan tangan atau tekanan yang kuat. Cukup sapuan halus, maka halaman Utama akan segera bergeser ke halaman lainnya.

Penambahan Shortcut pada halaman Utama berfungsi sama dengan shortcut pada layar homescreen NoteBook ataupun PC. Yaitu untuk mempermudah pengguna mengakses aplikasi atau Menu tertentu.

Untuk menambahkan puluhan icon shortcut tambahan pada layar utama, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, menekan dan menahan layar halaman Utama, kemudian memilih salah satu dari empat opsi yang ditawarkan. Widget, Shortcut, Folder dan Wallpaper. Widget berfungsi sama dengan Shortcut namun penampakannya lebih dinamis ketimbang shortcut yang hanya menampilkan gambar (icon) kecil. Misalkan saja Widget Analog Clock yang menyajikan penampakan jam bundar berisikan kedua jarum jam, untuk menunjukkan waktu sesuai yang berlaku. Ada pula Widget Dual Clock, Google Search, Android Market hingga Home Screen Tips yang akan membimbing pengguna dalam memanfaatkan area HomeScreen.

Dalam Opsi Shortcut, masih ada beberapa opsi tambahan yang ditawarkan, apakah menuju pada Aplikasi, Bookmark bahkan Pengaturan. Untuk Opsi Folder, akan memberikan pilihan Contact with Phone Number, Facebook PhoneBook atau Receive from Bluetooth. Sedangkan Opsi Wallpaper adalah pilihan untuk mengganti gambar wallpaper pada layar, meliputi HomeScreen Wallpaper (mengambil gambar dari hasil jepretan kamera), Live Wallpaper (gambar bergerak) dan Wallpaper Galery (mengambil gambar dari folder default).

Cara yang kedua untuk menambahkan Shortcut ke layar Utama adalah melalui Halaman Menu. Tekan dan tahan icon aplikasi yang diinginkan hingga halaman berpindah ke halaman Utama, kemudian letakkan icon shortcut-nya di halaman yang diinginkan.

Untuk menambah jumlah halaman Utama, tekan tombol Option yang berada disebelah kiri tombol Navigasi, lalu pilih Edit. Tambahkan seperlunya sesuai kebutuhan. Tambahan halaman Utama ini, bisa difungsikan untuk mengelompokkan icon shortcut sesuai fungsinya. Saya pribadi membaginya menjadi empat halaman, halaman Utama berisikan icon Utilities dan Pengaturan, halaman kedua berisikan icon Internet dan Bookmark, halaman ketiga berisikan icon Multimedia dan Office Application dan halaman keempat berisikan icon Games.

Jikapun sudah dirasakan tidak diperlukan lagi, icon-icon shortcut tersebut bisa dihapus dari halaman dengan cara menekan dan menahan icon tersebut kemudian geser ke gambar tempat sampah yang muncul di sisi bawah layar.

Halaman Menu

Serupa dengan Halaman Utama atau HomeScreen, dalam halaman Menu terdapat juga opsi penambahan halaman sesuai banyaknya aplikasi dan games yang dimiliki. Fungsinya pun dapat disamakan, untuk mengelompokkan kegunaan masing-masing aplikasi sehingga lebih mudah untuk dicari.

Hanya saja dalam halaman ini, tidak ada opsi untuk menambah atau menghapus icon shortcut seperti halnya layar halaman Utama. Yang ada hanyalah halaman pengaturan penempatan icon shortcutnya saja. Caranya, tekan tombol pilihan atau Option yang ada di sebelah kiri tombol navigasi lalu pilihlah Edit. Tekan dan tahan icon shortcut yang ingin dipindahkan lalu geser ke lokasi yang diinginkan. Jika sudah, pilih opsi untuk Menyimpannya.

Untuk mengakses halaman Menu ini, dapat dilakukan dengan menekan tombol Menu yang ada di setiap halaman Utama (HomeScreen) tepatnya pada icon paling kanan dari keempat icon utama yang ada. Untuk kembali ke halaman Utama (HomeScreen), pengguna tinggal menekan tombol navigasinya saja. Sekedar informasi, tombol navigasi ini berfungsi pula untuk menyalakan layar saat ponsel berada dalam kondisi idle, dan juga untuk mengakses Task Manager (dengan menekannya agak lama) yang berfungsi untuk mengatur aplikasi yang telah dbuka sebelumnya.

TaskBar

Baik dari layar halaman Utama (HomeScreen) ataupun halaman Menu, terdapat satu fitur yang sama sekali tak boleh diabaikan yaitu Taskbar. Taskbar ini posisinya berada di sisi atas layar yang berfungsi selain untuk menampilkan jam, status sinyal, daya batere dan juga koneksi jaringan, berfungsi pula sebagai halaman Notifikasi atau pemberitahuan apabila terdapat telepon masuk, sms, email ataupun pemberitahuan lainnya yang difungsikan oleh sejumlah aplikasi yang ada dalam ponsel. Selain itu, Taskbar dapat berfungsi untuk memantau seberapa jauh proses download aplikasi/games yang dilakukan melalui Android Market. Pun berfungsi sebagai shortcut Turn-On-Off pada beberapa fitur yang terdapat didalam badan ponsel seperti Wifi, Bluetooth, GPS, Profile (Silent) dan juga Auto Rotation.

Taskbar ini bisa diakses dengan menekan, menahan dan menggeser area TaskBar kearah bawah hingga memenuhi area layar. Pergeseran tangan ini serupa dengan cara menghapus icon shortcut pada layar halaman Utama, namun tidak harus digeser sampai sisi bawah layar. Cukup sapukan sedikit saja, maka area TaskBar akan turun dengan sendirinya. Demikian halnya saat menutup TaskBar, tinggal melakukan sapuan jari kearah sebaliknya. Aktifitas ini mirip dengan menurun-naikkan Rolling Door atau menarik turun tirai jendela. Apabila terdapat pemberitahuan atau Notifikasi baru, maka di pojok kiri atas akan terlihat icon (gambar) kecil yang menandakan pemberitahuan tersebut.

Review Samsung Galaxy ACE S5830

79

Category : tentang TeKnoLoGi

Sudah hampir dua Minggu ya, Samsung Galaxy ACE S5830 menemani hari-hari saya. Selama itu pula jadi jarang online dengan memanfaatkan sarana modem plus laptop milik LPSE. Koneksi XL yang dahulu saya gunakan sebagai pilihan alternatif dari IM2, berpindah tempat disematkan di slot ponsel berbasis Android ini. Hasilnya maknyus, tidak banyak keluhan yang saya dapatkan baik selama meng-explore seisi ponsel maupun beraktifitas dengannya.

Secara penampilan luar, sesungguhnya Samsung Galaxy ACE S5830 gag kalah aksi kok dibandingkan ponsel lainnya. Gorilla Glass yang menghiasi seluruh layar depan membuatnya tampil mempesona kendati menjadi rentan terkotori oleh sapuan jari. Back Cover yang rupanya terbuat dari plastik (bukan metal seperti dugaan sebelumnya), digrafir garis diagonal yang membuatnya tak licin ketika dipegang. Sayang, dalam paket penjualannya tidak disertakan back cover berwarna putih dan juga case pelindung seperti yang diperlihatkan pada video Unboxing di portal YouTube.

Bagi yang dahulunya familiar dengan ponsel berbasis Windows Mobile PocketPC, saya yakin tidak banyak hal yang harus dipelajari untuk memahami jeroan atau dalemannya Android plus User Interfacenya. Bisa dikatakan sama persis. Dari opsi Pengaturan, Task Manager, Aplikasi hingga pola pemakaiannya yang hanya membutuhkan sapuan atau sentuhan lembut, bukan ditekan layaknya layar sentuh milik BlackBerry. Namun demikian, bagi pengguna awampun jangan terlalu merasa khawatir, karena penggunaannya tak serumit Windows Mobile PocketPC. Terkait bagaimana menggunakan User Interface ini, nanti akan saya bahas secara khusus.

Secara kemampuan ketika disandingkan dengan ponsel berlayar sentuh milik Nokia atau BlackBerry, Samsung Galaxy ACE S5830 terasa jauh lebih mengasyikkan. Pengalaman serupa saya alami dahulu ketika berkesempatan mencoba layar sentuh iPhone 3GS. Sistem sentuh (touch) yang lembut cenderung berpengaruh pula pada pola pikir si pemakai, begitu kira-kira. Hehehe… tapi yang lebih mengasyikkan lagi adalah Multi Touch-nya yang sudah mendukung cubitan yang berfungsi sebagai zoom (perbesaran skala).

Seperti halnya ponsel berlayar sentuh lainnya, Samsung Galaxy ACE S5830 pun mendukung Auto Rotation sesuai dengan cara genggam pemiliknya. Hal ini masih membuat saya kebingungan ketika memegang ponsel dengan cara terbalik, pas dicari tombol navigasinya eh malah berada di sisi atas.

Di sekujur tubuh Samsung Galaxy ACE S5830, hanya terdapat tiga tombol yang tampak menonjol dari bidangnya. Tombol Navigasi di bawah layar berfungsi untuk mengembalikan halaman yang sedang aktif ke layar utama sekaligus untuk mengakses aplikasi yang digunakan sebelumnya (Multitasking). Tombol memanjang yang ada di sisi kiri ponsel berguna untuk memperbesar dan mengecilkan Volume. Sedangkan tombol yang ada di sisi kanan ponsel, berguna untuk mematikan, menyalakan sekaligus mengunci layar (ditekan sekali) dan junga untuk menyalakan dan menon-aktifkan ponsel (ditekan agak lama).

Kamera yang disematkan di belakang bodi memang sudah menjangkau resolusi 5 MP. Sayangnya, mungkin lantaran tidak menggunakan Lensa khusus seperti halnya Nokia dengan Carl Zeiss-nya, hasil jepretan tidak sebaik Nokia jadul N73 (3 MP) yang hingga kini masih saya gunakan. Padahal sudah didukung dengan Flash Light, tetap saja hasilnya Soft dan keseringan kabur. Demikian halnya dengan resolusi video yang hanya sebatas QVGA atau setara dengan 320×240 pixel 15 fps. Bandingkan dengan Nokia 6720 Classic yang dahulu saya peruntukkan bagi Mertua.

Sedari ponsel dinyalakan, secara otomatis akan langsung mengakses dunia maya tanpa bisa dihentikan secara manual. Satu-satunya cara paksa yang biasanya saya gunakan (jika memang diperlukan) adalah dengan mengaktifkan fitur Flight Mode. Namun lantaran nomor XL yang saya gunakan memang bukan untuk Voice Call atau Text Message, jadinya ya bukan satu masalah besar. Satu-satunya efek samping terkoneksinya ponsel ke dunia maya secara kontinyu hanyalah daya batere yang serupa dengan penggunaan handset BlackBerry. Hanya sehari, sudah harus di-Charge kembali. Jika kita lebih banyak beraktifitas dengan NoteBook, sambungkan saja kabel datanya (yang sudah diberikan dalam paket pembelian) ke colokan USB, aktifitas Charge akan secara otomatis dilakukan.

Terkoneksinya ponsel ke dunia maya secara otomatis ini akan memaksa penggunanya untuk mengaktifkan paket Unlimited. Untuk kartu XL yang saya gunakan, biaya paket Unlimitednya hanya berkisar 99.000 rupiah saja. Kecepatan yang didapatkan hanya sampai 384 kbps dengan batasan kuota 1 GB, dan selebihnya akan menurun pada kecepatan 128 kbps. Apabila koneksi ini masih dirasakan lambat, koneksikan saja Wifinya ke Hotspot terdekat. Kecepatan koneksi ini akan berbanding lurus dengan kecepatan akses ponsel pada halaman dunia maya yang memang mensyaratkan, seperti misalnya portal video YouTube.

Ngomong-ngomong soal Wifi dan Hotspot, berterimakasihlah pada sistem operasi Android yang disematkan dalam ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 yang sudah menggunakan versi 2.2 Froyo. Karena di versi inilah, kemampuan ponsel jadi makin bertambah maknyus berkat fitur Tethering atau Portable Hotspot-nya. Fitur ini akan sangat membantu ketika kita ingin berselancar di dunia maya dengan memanfaatkan layar NoteBook. Aktifkan fiturnya, kemudian nyalakan koneksi wifi pada NoteBook dan sambungkan. Secara default, koneksi Wireless yang terdeteksi bernama AndroidAP.

Layar sentuh yang sudah mendukung fitur MultiTouch akan sangat berguna ketika kita mengakses halaman web yang tidak mendukung tampilan Mobile. Halaman milik LPSE Badung misalnya. Ketika halaman depan diakses, saya yakin baik pengguna maupun tetangga yang melihatnya akan bergumam ‘wah, gemana browsing-nya nih ? tulisannya kecil begitu…’ tapi jangan khawatir, gunakan saja cubitan tadi. Maka dengan segera layar akan melakukan pembesaran skala (zoom) sesuai keinginan kita.

Membeli ponsel bersistem operasi Android, bisa dikatakan berBonus ratusan aplikasi Gratisan yang siap unduh. Saya pribadi sudah mencoba yang namanya games fenomenal Angry Bird, Unblock Me, Jewel dan tentu saja Sudoku. Ketersediaan aplikasi-nya pun sangat beragam. Dari AntiVirus, Office application, Kids Learning hingga yang berkaitan dengan Blog. Yang paling penting, Semuanya Free. Sayangnya satu hal yang membuat semua tawaran menarik ini menjadi mubazir adalah ketersediaan Memory Internal. Hanya 180 MB saja.

Berkaitan dengan keterbatasan Memory tersebut, lagi-lagi kita harus berterimakasih pada sistem operasi Android 2.2 Froyo yang disematkan pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830. Ketersediaan Opsi instalasi on SDcard (Memory External) menjadi salah satu pemecahannya. Sayangnya untuk bisa memilah aplikasi mana yang hanya boleh ditempatkan di Memory Internal, mana yang ditempatkan di Memory External, tidak disediakan opsi Manual seperti halnya yang dimiliki oleh sistem operasi Windows Mobile. Kekurangan ini tampaknya makin menguatkan Image ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 sebagai salah satu ponsel pintar. Karena dengan sendirinya akan memilah aplikasi yang berkaitan dengan kinerja ponsel ditempatkan pada Memory Internal, sedangkan yang bersifat Hura-hura dan tidak terlalu penting ditempatkan di Memory External. Mengagumkan bukan ?

Sebetulnya masih banyak hal yang bisa dikupas dalam tulisan Review kali ini. Namun semua itu kelak akan saya bagi dalam tulisan tersendiri sehingga bisa jauh lebih mendalam. Overall, ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 ini bisa dikatakan sangat memuaskan (kecuali daya batere) untuk dimiliki. Apalagi nilai jualnya juga tergolong sangat terjangkau. Jadi, masih berpikir untuk memilih ?

Samsung Galaxy ACE S5830, iPhone Banget

47

Category : tentang TeKnoLoGi

Sedari pertama kali berkesempatan memegang Samsung Galaxy ACE S5830 meski dalam versi Dummy di gerai Handphone Shop Teuku Umar beberapa waktu lalu, ada rasa kagum yang muncul melihat desain ponsel berbasis sistem operasi Android 2.2 Froyo ini. Makin terkagum-kagum ketika saya membaca dua review awal tabloid Pulsa dan Sinyal edisi terbaru. Baru merasa lega ketika mendapatinya kamis malam di gerai Cellular Shop. Ternyata benar dugaan saya, Samsung Galaxy ACE S5830 memang iPhone banget.

Secara desain yang membedakan hanyalah dimensi lebar ponsel dimana Samsung Galaxy ACE S5830 terlihat lebih ramping dibanding ‘kembarannya’ dan tombol navigasi yang juga berfungsi sebagai tombol Home. Apalagi jika dilihat Sepintas lalu, dari penampakan depan dan belakang memang mirip dengan perangkat fenomenal besutan Apple. Namun saya pribadi bersyukur bahwa secara bentukan jika dilihat lebih detail malah ditemukan lebih banyak lagi perbedaannya. Minimal kelak tidak di-cap sebagai Replika iPhone. Hehehe…

Di bagian depan, sesungguhnya terdapat dua tombol sentuh (beneran disentuh, bukan dipencet) yang berfungsi sebagai tombol Kembali (Undo) pada sebelah kanan navigasi dan Pilihan (Option) pada sebelah kiri navigasi. Di sisi atas ponsel terdapat lubang earpiece dan juga micro USB yang digunakan sebagai charger unit serta penukaran data sedang di sisi bawah hanya terdapat lubang kecil yang berfungsi sebagai Mic. Di sisi kiri ponsel hanya terdapat dua tombol volume yng tergolong mini untuk tangan saya yang jempol semua dan di kanan terdapat tombol Power dan juga slot MicroSD yang dalam paket penjualannya menyertakan memori sebesar 2GB.

Disandingkan dengan pendahulunya yaitu  Samsung Spica, ketiadaan tombol kamera juga pengunci layar merupakan satu kekurangan telak, namun jangan khawatir karena untuk tombol kamera bisa disentuh langsung pada layar dan fitur autofokus akan bekerja dengan sendirinya. Demikian halnya dengan pengunci layar, bisa diakses dengan menekan sekali tombol power.

Dalam paket penjualan untuk Regional Indonesia rupanya berbeda jauh dengan paket penjualan di luaran. Saya bisa mengetahuinya melalui beberapa video ‘unboxing dan review Samsung Galaxy ACE S5830 yang tersimpan dalam portal berbagi YouTube. Perbedaan paling menyolok yaitu ukuran box penjualan yang jauh lebih kecil dan ketiadaan tambahan cover belakang serta pengaman ponsel yang disertakan. Padahal saya berharap banyak pada kedua asesoris tambahan tersebut. Kecewa juga sih, tapi ya mau bagaimana lagi.

Memori internal yang minim merupakan salah satu kekurangan ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 ini. Namun jangan khawatir, berkat sistem operasi Android 2.2 Froyo yang disematkan dalam ponsel memberikan sedikit kemudahan pembagian lokasi penyimpanan aplikasi yang dialihkan ke kartu memori. Sayangnya, tidak semua aplikasi bisa dipindah lokasikan, bergantung pada kebutuhan dan kepentingannya. Sepengetahuan saya, jika itu berupa Games yang diunduh, akan dialokasikan ke kartu memori sedangkan aplikasi yang berkaitan dengan hardware tetap disimpan dalam memori internal. Tapi ups, hingga kini saya belum jua mengetahui bagaimana cara memindahlokasikan penyimpanan games ataupun aplikasi yang diunduh seperti halnya pada sistem operasi Windows Mobile. Kartu memori microSD yang disertakan dalam paket penjualan ‘hanya’ sebesar 2 GB saja, itupun masih bisa dimaksimalkan hingga 32 GB loh.

Kendati posisi kartu memori bisa diakses secara hotSwap, tidak demikian halnya dengan kartu sim. Slot kartu sim baru bisa ditemukan diatas posisi batere yang notabene bisa disematkan dengan membuka baterenya terlebih dahulu. Kekuatan batere yang disertakan untuk mendukung kinerja ponsel rupanya hanya sebesar 1350 mAh. Jauh lebih kecil dari yang saya harapkan. Dengan pemakaian normal, koneksi internet yang menyala sepanjang hari ditambah penggunaan yang tidak intensif dan berkelanjutan, usia batere bisa bertahan hingga satu hingga satu setengah hari. Akan semakin pendek ketika penggunaan aplikasi makin banyak (multitasking) tanpa diputuskan ketika telah usai digunakan.

Untuk bisa menggunakan ponsel dari kondisi off ternyata tidak perlu menunggu waktu terlalu lama seperti halnya pada ponsel bersistem operasi Windows Mobile. Caranya dengan menekan tombol power sedikit agak lama dan melepaskannya. Layar utama (homescreen) akan tampil dengan segera dan siap digunakan. Dengan menekan sekali tombol power, layar akan terkunci dan menghitam. Aktifitas ini akan lebih mampu menghemat daya batere namun jangan khawatir, layar akan segera menyala ketika ada panggilan ataupun pesan yang masuk.

Terakhir, untuk mematikan ponsel silahkan menekan tombol power sedikit agak lama lalu lepaskan. Layar akan menampilkan 3 (tiga) pilihan, Silent Mode, Flight Mode atau Power Off. Tahu yang mana harus dipilih kan ?

Mengapa Samsung Galaxy ACE ?

73

Category : tentang TeKnoLoGi

Dengan banderol harga 2,95 juta ada beberapa pilihan ponsel yang bisa saya dapatkan untuk dibawa pulang. BlackBerry yang dikenal luas dengan fitur Push Email dan BBM-nya menyediakan seri Curve 9300 atau yang lebih dikenal dengan istilah Gemini 3G, Pearl 9100 dan 9105. Dengan sedikit selisih dibawahnya Nokia menyediakan seri C6 yang notabene pula menyediakan input layar sentuh dan thumbboard siliding samping.

Dengan banderol harga 2,95 juta tentu saja saya tidak akan berangan-angan untuk menebusnya dengan dua brand ternama HTC yang menggandeng sistem operasi Windows Phone dan tentu saja si fenomenal iPhone. Perlu kelipatan dua-nya agar salah satu atau keduanya bisa dibawa pulang.

Mengapa Samsung Galaxy ACE ?

Android

Lagi-lagi kharisma robot hijau inilah yang membuat saya jatuh cinta. BlackBerry dengan pembaharuan OS 6 dan Nokia dengan Symbian^3-nya saya rasa tidak memberikan banyak pengalaman baru dalam menggunakannya. Lagipula jika saya tidak berlangganan paket internet tertentu BIS atau BES misalnya, ponsel BlackBerry bisa dikatakan Mubazir untuk dimiliki. Kalopun dipaksakan, biaya berlangganan untuk paket unlimited yang benar-benar unlimited (download, video streaming dsb) bisa dikatakan mahal untuk kantong saya setiap bulannya.

Selain itu diantara semua Sistem Operasi yang bisa saya jangkau dalam rentang harga yang sama, barangkali hanya Android saja yang bagi saya benar-benar memberikan pengalaman baru. Masih ingat dengan Simulator BlackBerry Torch 9800 yang tempo hari saya gunakan ? kecuali fitur BBM, hampir semua fitur lainnya bisa saya coba dan gunakan dengan baik di layar NoteBook walaupun secara fakta saya tidak memilikinya. Demikian halnya dengan Symbian 5th edition dan Symbian^3. Kedua Emulator inipun tidak luput dari usaha saya untuk menjajalnya lewat layar NoteBook. Keterbiasaan inilah yang kemudian membuat saya secara perlahan ilfil dengan ponsel BlackBerry dan juga Nokia.

Lantas Mengapa memilih Samsung Galaxy ACE, bukan Sony Ericsson Xperia X8, X10 Mini, X10 Mini Pro, LG Optimus atau AHA Touch dan Samsung Mini yang pula sama-sama ber-Android namun punya banderol setengahnya ?

Well, membeli sebuah ponsel ber-sistem operasi Android yang notabene membuatnya menjadi sebuah ponsel pintar, sama halnya dengan membeli layanan pula dukungan aplikasi selama penggunaan. Sejauh ini Sony Ericsson lewat tiga rilis ponsel Xperia X8, X10 Mini dan X10 Mini Pro, saya baca hanya mendukung Android hingga versi 2.1 EcLair yang artinya ada beberapa teknologi yang belum bisa dijajal atau dimanfaatkan.

Sedangkan terkait penggunaan Android 2.2 Froyo pada beberapa rilis ponsel kisaran harga 1,5 jutaan saya rasa gag asyik jika harus berhadapan dengan lag atau jeda saat mengakses beberapa aplikasi yang ada didalamnya. Ini terkait langsung dengan kecepatan Prosesor yang disematkan dalam tubuh ponsel dan juga dukungan grafis jikapun ada.

Diantara semua pilihan ponsel ber-Android rentang harga 1,5 hingga 3 juta sebenarnya LG Optimus One bisa dijadikan salah satu alternatif pertama mengingat secara fitur tidak berbeda jauh dengan Samsung ACE dan sudah bisa dibawa pulang dengan harga 2,3 juta saja. Penurunan harga ini sebagai imbas dari diluncurkannya Samsung Mini yang sudah mengadopsi Android 2.2 Froyo serta dibanderol sekitar 1,6 juta saja. Bahkan kabarnya dalam promo hanya ditawarkan sekitar 1,3 juta. Menarik bukan ?

Pendapat Istri saya ada benarnya juga. Jika ingin memilih sebuah ponsel pintar berlayar sentuh, kenapa gag sekalian saja yang berpenampilan mutakhir namun tetap dapat dijangkau secara budget. Samsung Galaxy ACE yang akhirnya saya pilih ini untuk sementara waktu masih berada di angka 2,95 juta, namun saya yakin dalam waktu dua tiga bulan mendatang, harganya bakalan masuk ke tingkatan stabil. Jadi, mengapa tidak ?

Pembenaran Sepihak

Barangkali jika Rekan-rekan yang berkunjung kemari dan membaca Opini saya diatas, bakalan menganggap ‘ah ini kan hanya sekedar Pembenaran Sepihak saja.’ Pendapat Itu Benar, karena bagaimanapun juga saya tetap harus bersyukur dan merasa bangga atas pencapaian saya kali ini. Meskipun bukan sebuah perangkat yang fenomenal seperti iPhone 4 misalkan.

Trus, bagaimana Kesan-kesan Penggunaannya ? Tunggu di tulisan berikutnya ya.