MemBahasa Gaulkan Bahasa Indonesia

8

Category : tentang Opini

Saya tidak merasa heran ketika satu saat yang lalu, sebuah media menyatakan bahwa sebagian besar siswa siswi negeri ini mendapatkan nilai rendah untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, saat Ujian Akhir Nasional. Padahal ‘Apa yang terjadi’ sebetulnya pantas menjadi sebuah pertanyaan. Bandingkan saja dengan sekitar 15-20 tahun yang lalu dimana barangkali mata pelajaran exact atau bahasa Inggris masih menjadi momok.

Saya yakin banyak generasi seusia saya yang akan memakluminya, karena memang dahulu kami belajar di jaman yang berbeda. Jaman dimana yang namanya Bahasa Gaul, Bahasa Alay ataupun bahasa komunikasi sms tidak dikenal luas. Bahkan, sejumlah media remaja atau pendidikanpun masih dengan setia menurunkan topik atau tema mereka dengan Bahasa Indonesia berbasis EYD atau Ejaan Yang Disempurnakan. Sedangkan Bahasa Inggris ataupun Exact belum sebebas sekarang dapat diakses dan dipelajari informasinya sedari dunia maya.

Dengan lahir dan besar di jaman yang berbeda, maka bisa dimaklumi pula seandainya saya (dan juga banyak orang diluar) yang masih bingung dengan istilah bahasa gaul, alay maupun komunikasi sms yang digunakan oleh para abegeh atau anak muda usia sekolahan. ‘Lebay, Alay, Jayus dan banyak lagi sebetulnya sering terdengar telinga, namun pemahaman kami akan arti kata tersebut belum sampai untuk dapat dimengerti.

Parno misalnya. Bagi sebagian orang yang tidak paham, saya yakin makna kata ini dianonimkan sebagai porno atau jorok. Padahal kalau tidak salah, Parno yang berasal dari kata Paranoid, dapat dianonimkan semacam rasa khawatir, was-was atau takut. Sayangnya, kata ini sama sekali tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tebalnya dapat dijadikan bantal tidur, sehingga agak menyulitkan bagi yang tidak paham untuk mengetahui maknanya secara gamblang. Sedangkan saya yakin, untuk bertanya pada para abegeh malah ada rasa segan. Hehehe…

Belum lagi yang namanya bahasa ‘singkat’ ‘komunikasi sms. Untuk bahasa ini, lebih banyak komunikasi dilakukan via teks atau pesan yang disampaikan melalui ponsel. Entah karena memang sudah bakunya dari sana (bahkan saya sempat menemukan satu buku pedoman bahasa ‘singkat’ komunikasi sms ini di Gramedia) atau karena alasan penghematan pulsa pengiriman, menjadikan si pembaca atau si penerima tak kalah bingungnya dan dituntut jauh lebih menguasai. Ciri-ciri dari bahasa ini adalah penghilangan huruf vocal ‘a, i, u, e o’, menyingkat dua kata menjadi satu atau menggunakan angka sebagai pengganti huruf.

‘bgm kbrna pk?gipain?’

‘4k mnt prm3nna dnk’

Kira-kira, bisa dimengerti gag ya seandainya sebaris ‘kalimat’ pertama diatas sampai di layar ponsel Anda ? kurang lebih arti panjangnya, ‘bagaimana kabarnya Pak ? lagi ngapain ?’ hehehe… atau yang baris kedua ? yang arti panjangnya ‘aku minta permennya dong’. Hihihi…

Kalo yang dituju itu sobat sebaya sih gag masalah, tapi kalo yang bersangkutan berstatus dosen pengajar (apalagi penguji), pejabat ataupun orang tua pengirim, gag terbayang deh apa reaksi mereka. Yang ada malah kening berkerut dan (saya pribadi) malah cenderung mengabaikannya.

Sayangnya, penggunaan bahasa komunikasi tak resmi ini didukung pula oleh pemaksaan pergaulan social yang cenderung memberikan cap ‘tidak gaul atau tidak eksis’ pada sesamanya apabila tidak menggunakan bahasa komunikasi tersebut. Sehingga lama kelamaan, Bahasa Indonesia yang seharusnya lebih dipahami oleh generasi muda bangsa ini pun makin jauh menghilang ditelan bumi.

Bagaimana pendapat Anda ?

Teknologi bagi ABG

Category : tentang TeKnoLoGi

Pesatnya informasi yang disebarluaskan via teknologi, bener-bener udah ngerambah berbagai usia hingga remaja dan anak-anak sekalipun. Ponsel yang dahulunya hanya dibawa dan diminati kaum dewasa kini anak-anak sekalipun bahkan sudah dibekali hanphone oleh orang tua mereka, alasan agar gampang kalo ada apa-apa.

Handset yang dibekalipun gak sembarangan, rata-rata Nokia minded. Mungkin lantaran gampang dipake. Istilah kerennya user friendly. Tapi yang paling menonjol kalo disimak secara lebih teliti, rata-rata ponsel yang mereka bawa, minim punya koneksi infrared ato bluetooth yang paling familiar saat ini. Kelebihannya tentu memudahkan mereka untuk saling bertukar informasi antar teman, hanya dengan memakai bantuan teknologi yang dinamakan ponsel.

Maka jadilah berbagai informasi seperti nomor telepon teman, sms lucu, gambar/foto pribadi, ringtone, hingga yang berbau pornopun dijamin ada. Hal ini pula sempat memicu seorang rekan kantor juga atasan langsung, sempat bertanya, ponsel apa yang cocok diberikan untuk anak2 mereka ? tujuan pertanyaan tentu untuk meminimalkan potensi pertukaran informasi yang berbau cabul antar teman anaknya tadi.

Namun ternyata apa yang disarankan dimentahkan oleh si anak dengan alasan, ponsel yang direkomendasikan gak isi koneksi seperti diatas, itu artinya si anak udah tau lebih dahulu, perihal ponsel yang memang dimaksudkan agar gak sampe terjadi pertukaran informasi segampang yang terjadi saat ini.

Jadilah si orang tua menyerahkan pilihannya pada si anak, sambil hhc (harap-harap cemas) kalo anaknya bakalan berbuat diluar jalur sebagai efek dari tukeran info antara abg.

Tapi wajarlah mereka itu kayak begitu, wong emang sudah saatnya, yang namanya puber hinggap pada tubuh yang makin beranjak gede. Walopun orangtuanya berusaha melarang, tapi yang namanya abg pasti selalu berusaha mendapatkan apa yang diinginkan tanpa toleransi. Kita juga waktu muda ya gitu toh ? hehe… smp udah bisa beli majalah dewasa diam-diam, dan mandangin sosok sexy yang ada didalamnya sambil berharap dan glek glek glek. Wekekekek…