9 Hari di RS Sanglah bagian 4 : akhir cerita

Category : tentang PLeSiran

Seiring fase ‘kemaruk’ tadi berjalan, maka perlahan Trombosit beranjak naik kendati yang diminum hanyalah air putih, bukan lagi segala minuman suplemen yang kabarnya mampu pula menaikkan trombosit secara cepat. Bukti nyata ini berlangsung dari titik terendah 11, naik merangkak berturut-turut menjadi 14, 16, 20, 29, 30, trus langsung loncat ke 75, dan saat naik pada angka 111, yang ada dikepala hanya satu. Pulang kerumah.

Maka pada hari terakhir usai hasil 111 tadi dikabarkan, apa yang telah dilalui sebelumnya kembali diulang dengan semangat yang jauh lebih besar, dengan tujuan akhir tentu harapan untuk pulang kerumah. Rasanya sudah tak sabar lagi untuk sua si kecil Gek Mirah, yang kata kakek neneknya selama ditinggal menginap di RS Sanglah, berat badannya naik menjadi 4,5 Kg dan pipinya ? tambah tembem. Hmmmphhh… jadi gemes pengen liat.

Nyatanya begadang tiap hari, mantengin infus agar tak lewat kering dan sempat 4 kali menaikkan darah walopun bersyukur hanya sampai di pergelangan tangan, juga mantengin jam alarm yang disetel tiap 30an menit agar tak sampe lupa mengingatkan Istri untuk tetap minum. Namun seiring rasa capai melanda diatas jam 2 agi, maka seperti biasa kata istri, alarm yang suaranya mirip dagang mie tok tok yang lewat di jalanan, bersuara sesuka hatinya, mengingat si penunggu pasien sudah tidur kelelahan sampe-sampe harus dibangunkan oleh si pasien. Aduh !

9 Hari di RS Sanglah bagian 3 : kemaruk

Category : tentang PLeSiran

Saat kondisi Istri menurut keterangan pak Dokter juga para perawat merupakan titik balik untuk naiknya trombosit yang sedianya merangkak, naik dalam jumlah satuan (ini jauh lebih baik daripada loncat jauh yang memiliki kemungkinan untuk turun kembali), maka hari-haripun dipenuhi dengan semangat tinggi untuk memompa stamina saat malam tiba. Artinya bukan dalam konotasi negatif namun untuk membangunkan Istri dalam interval waktu tertentu (30-45 menit), agar mau minum segelas dua air putih sesuai saran Dokter melihat dari efek negatif minuman yang tadinya dikatakan mampu menaikkan trombosit. Dalam interval waktu tersebut pula diharapkan Istri mampu beristirahat secara maksimal dan dapat mencapai tidur nyenyaknya tanpa harus capai dan penat saat pagi menjelang nanti.

Rupanya seluruh usaha dan doa selama ini didengar oleh-NYA, Istri perlahan tapi pasti mulai menunjukkan tanda-tanda ia kembali segar dan bisa makan seperti hari-hari biasa. Hanya saja benar kata Dokter dan para perawat, si penunggu pasien memang harus siap dengan segala sikon pasien yang sewaktu-waktu bisa merasakan lapar secara mendadak. Ini yang mereka namakan fase ‘kemaruk’ yang artinya tanda-tanda penyembuhan si pasien DB. Maka apapun yang diinginkan Istripun paling tidak diusahakan didapat dalam waktu cepat, agar nafsu dan niatan makannya tak hilang seiring waktu yang berjalan. Namun bersyukur, Istri sangat mengerti situasi saat ia meminta sehingga diperbolehkan jeda sampe sehari gar bisa ngedapetin apa yang ia inginkan.

Contohnya saja, saat semua makanan sudah habis, jam 11 malam, Istri mengeluh laper dan meminta nasi goreng dan mie goreng pinggir jalan. Maka kecewalah ia saat tau yang datang malah 2 bungkus nasi ayam sekaligus permohonan maaf karena apa yang ia minta tak ada si areal RS sanglah hingga perempatan patung Ibu menyusui. Syukur Istri mengerti dan menandaskan sebungkus nasi ayam yang dibeli tadi.

Jam 3 pagi, Istri sudah laper lagi, kali ini minta Pop Mie. Walah, mau beli dimana jam segini ? lagi-lagi Istri dibujuk agar mau menghabiskan satu bungkus nasi ayam tadi dan berjanji begitu pagi dan Koperasi Kamadhuk dibuka, Pop Mie dijamin tersedia didepan mata.

9 Hari di RS Sanglah bagian 2 : perjuangan

Category : tentang PLeSiran

Hari hari berikutnya dimulai dengan mempelajari situasi ruangan dan kebiasaan baru sang Istri yang sedikit berubah lantaran sakit yang dideritanya.

Satu persatu saudara datang menjenguk sambil membawakan apa yang sekiranya mampu memberikan kesehatan pada si pasien, lengkap dengan segudang cerita dan pengalamannya. Rata-rata bawaannya adalah minuman yang bisa meningkatkan trombosit pasien DB setidaknya menurut pendapat mereka. Maka dicobalah untuk memberikan satu persatu minuman tadi yang ternyata memberikan efek berbeda dan semuanya negatif pada Istri. Satu kesimpulan, ternyata apa yang dikatakan oleh si pemberi, tak semuanya cocok diberikan pada seluruh pasien penderita DB (mengenai ini selanjutnya akan diposting khusus). Kembali dan tergantung pada sikon tubuh si pasien.

Maka segala harapanpun seketika padam saat Istri merasakan efek samping dari semua minuman tadi, yang sempat pula membuat kalang kabut dan keringat dingin menetes, merasa kasihan pada Istri yang tak jua membaik. Namun disaat semua terasa gelap, ada yang mampu memberikan secercah penerangan dan harapan baru, yaitu dari Dokter yang menangani langsung dan juga para perawat yang begitu antusias memberikan kesejukan hingga hari-hari yang dilalui saat trombosit beranjak turun, tak lagi menjadi satu mimpi buruk tiap malamnya.

Bahkan saat trombosit Istri mencapai titik terendah sekalipun, Dokter dan para perawat tetap optimis akan kondisi Istri mengingat masih banyak faktor lain yang jauh lebih penting nyatanya mampu memberikan nilai dan kondisi normal. Terimakasih kepada Dokter Susila yang secara rutin menengok pasien setiap pagi, juga para perawat yang dengan lembut dan dengan suasana kekeluargaannya menghibur hati agar tetap semangat juga optimis menanti fase turunnya trombosit berakhir….

9 Hari di RS Sanglah bagian 1 : kisah awal

1

Category : tentang PLeSiran

Kamis 17 April, sehari setelah Ultah dirayakan bertiga, Ibu si kecil mendadak panas badannya, hingga angka 39,5?C. awalnya diperkirakan akibat dari ngempu si kecil yang rewel malam tadi, sedari jam 12 malem hingga pagi blom mau tidur juga. Setelah periksa ke dokter, diberikanlah obat parasetamol untuk menurunkan panas tadi. Apa daya, panas blom jua mau turun. Akhirnya sore, sempat dilarikan ke UGD Sanglah, untuk tes darah, namun ditolak dan disarankan kembali tanggal 19, tanpa ada tindakan penanganan apa-apa.

Jumat dini hari jam 1 pagi, Ibu si kecil mulai mual dan muntah. Sementara panas badan mulai naik menjadi 40,3?C. yang ada di pikiran, hanyalah UGD Sanglah. Namun mengingat tiadanya tindakan awal dan juga penolakan tes darah tadi sore, akhirnya setelah menimbang-nimbang, diputuskan untuk tutup mata, nekat dan ngotot dilakukan tes darah dan injeksi panas untuk Istri malam ini. Usaha nyatanya gak sia-sia, setelah tes, Trombositnya masih menunjukkan angka 187 sementaran HB darah masih normal. Usai diinjeksi dan diberikan obat penurun panas, Istri kembali kerumah jam 3 pagi.

18042008193.jpg

Masih dihari yang sama, sore jam 3an, panas badan Istri kembali naik dan muntahnya jauh lebih banyak, artinya kondisi tubuhnyapun lemas tak mampu untuk menyusui lagi. Diantar mertua, Istri dilarikan kembali ke UGD, untuk di tes darah dan hasilnya Trombositnya sudah turun ke angka 137 hanya dalam hitungan jam. Ngotot meminta diinapkan di RS Ranglah rupanya pawa awalnya ditolah oleh tim dokter berhubung ruangan dimana-mana penuh. Namun beralasan dirumah ada bayi yang baru berumur 1 bulan, akhirnya usai menunggu dua-tiga jam rencana bakalan dititipkan di Sanjiwanipun dibatalkan, dan segera menempati sal Wijaya Kusuma yang tergolong kelas VIP C, lebih tinggi dari jatah askes wajib yang dimiliki. Itu artinya akan ada sisa biaya yang harus dibayarkan untuk kamar tersebut setelah biayanya dipotong askes.

Memasuki ruangan yang diisi 1 bed pasien dan kursi panjang plus matras untuk tempat istirahat penunggu pasien, rasa-rasanya cerita camping berdua diluar rumah bakalan segera dimulai.

Welcome Home : 9 hari di RS Sanglah

3

Category : tentang PLeSiran

Tidak ada hal yang lebih mengasyikkan daripada ‘pulang kerumah’. Tempat dimana seluruh keluarga berkumpul dan bersenda gurau dalam suasana hangat, tempat dimana istirahat bakalan kembali nyaman dirasakan, tempat dimana putri kecil kami menunggu kehadiran orang tuanya yang selama 9 hari ‘terpaksa’ menginap di RS Sanglah.

9 hari menjalani hidup di RS Sanglah bagi sebagian orang mungkin akan tampak menakutkan mengingat image pelayanan RS Sanglah dikenal sangat buruk dan menjelimet birokrasinya. Namun 9 hari yang dilewati secara terpaksa benar-benar mampu dilewati dengan penuh rasa kekeluargaan diberikan oleh segenap staf dan perawat yang berada di sal perawatan ‘Wijaya Kusuma’ (kelas VIP C), sehingga selama sekian hari itu pula bener2 gak terasa seperti berada jauh dari rumah.

Berada 9 hari di RS Sanglah pastilah identik dengan adanya satu penyakit yang bersarang atau dialami oleh tubuh. ya, tapi tubuh Istri. Yang positif terkena Demam Berdarah. Satu penyakit yang tak ada obatnya selain makan dan minum banyak. Satu penyakit yang selama sebulan ini mewabah di lingkungan rumah, hingga puncaknya pada satu halaman rumah menjangkiti 5 tubuh yang berbeda tempat perawatan.

Pertama, keponakan kelas 3 SD, sempat menginap di sal Jempiring Sanglah, sedang adiknya yang baru kelas 1 SD, menginap terpisah di sal Pudak. Sementara Istri di sal Wijaya Kusuma 11, satu ipar di Dharma husada dan yang terakhir masuk, keponakan kelas 2 SD di Prima Medika masuk ICU pula. Hingga malam minggu ini tinggal satu orang terakhir saja yang masih dirawat, sementara empat lainnya sudah diperbolehkan pulang.

Mungkin esok, bakalan banyak cerita berkaitan keluh kesah dan kesan 9 hari berada di RS Sanglah, plus sisi lain dari sakit Demam Berdarah yang saat ini ditakuti oleh banyak orang, dan juga hal-hal unik yang ditangkap selama berada di sal wijaya Kusuma 11. namun untuk hari ini, cukuplah satu posting ini mewakili semua cerita nanti, paling tidak sudah mampu menjelaskan 10 hari absennya isi Blog, yang menyebabkan melonjaknya isi email sampe angka 387, angka yang tergolong fantastis, padahal biasanya seharinya paling nerima gak sampe 10an eamil. Dan juga traffic pengunjung di posting sebelumnya sampe angka 2ribuan. Mungkin sebagian malah bertanya-tanya kok tumben sampe hitungan 9 hari, isi blog blom jua ter-update.

Semoga posting pertama usai menginap di RS Sanglah yang sampe hari ini gak menyediakan Warnet dipelosok arealnya (sayang sekali gak bisa ngblog jadinya), bisa sekaligus menjadi permakluman bagi para rekan yang sudah bersusah payah berkunjung ke blog ini.

Seperti yang pernah saya ungkap dalam posting sebelumnya, dan pula kembali diulang pada awal posting ini, memang gak ada yang lebih menyenangkan daripada ‘pulang kerumah’. Fiuuuh… jadi bisa ngblog lagi.

J