Yamaha XMax 250, Kendaraan Operasional Proyek

Category : tentang Opini

Bagi sebagian orang, kehadiran motor roda dua Yamaha NMax sudah cukup besar untuk rata-rata orang kita di Indonesia. Bahkan saat disandingkan dengan sejawatnya seperti Honda PCX yang memiliki kapasitas mesin lebih besar pun, NMax terlihat masih mendominasi. Lalu datanglah sang penantang baru 250cc, Yamaha XMax.
Semua berangsur jadi terlihat mungil, utamanya di mata saya.

Cerita diatas mengingatkan saya pada gurauan kawan-kawan kantor yang dulunya sudah menganggap beberapa orang besar secara bodi, adalah standar tertinggi yang pernah dikenal. Namun ketika saya hadir di tengah-tengah mereka, praktis saat melakukan foto bersama, hampir selalu gambar saya harus dicrop sendiri dan diperkecil 80-90% agar tingginya setara yang lain.
Kalau tidak ?
Siap-siaplah menerima kenyataan, semua orang tampak cebol. Merusak skala ceritanya.

Secara kasat mata, penampilan Yamaha XMax 250 memang demikian adanya.
Saat parkir sendirian di kejauhan apalagi berjajar dengan model sejenis, ndak tampak beda sedikit pun dengan kendaraan motor biasa. Tapi saat sudah diparkir ke area umum, baru terasa perbedaannya.
Itu sebabnya bagi sebagian orang kita di indonesia, infonya sih, Yamaha XMax 250 menjadi kendaraan dewa, yang hanya dikendarai saat melakukan touring saja.
Tidak demikian halnya dengan saya.

Yamaha XMax 250 berwarna silver/hitam yang sudah dibesut sekitaran dua bulan ini, malah menjadi kendaraan operasional proyek konstruksi yang saya awasi sejak bulan Oktober lalu.
Dari pencapaian antar gang dan jalan lingkungan, hingga rumah ke rumah untuk usulan bantuan rumah layak huni. Namun mengingat seri XMax ini belum banyak ditemukan dijalanan Kota Denpasar dan Badung, wilayah dimana saya bekerja, saban kali lewat wara wiri, lumayan mendapat tatap mata perhatian orang yang dilewati. Bangga karena masih belum banyak yang punya, khawatir karena memang secara ukuran bisa dibilang bukan standar normal. He…

So far, Yamaha XMax 250 ini asyik buat ditunggangi kemana-mana. Handlingnya mantap, dan larinya pun tak kalah. Hanya karena ini masuk golongan motor matic, pas nyalip kendaraan depan saja yang kurang terasa hentakannya. Tapi berhubung sudah terbiasa dengan kecepatan 40-60 km/jam, suasana sepanjang jalan raya ya memang benar-benar dinikmati.

Dengan bodi motor yang panjang dan besar, kendala utama menjadikannya sebagai motor operasional proyek adalah manuver balik arah ketika memasuki gang sempit dan terbatas. Bersyukur lantaran terbiasa memutar setir non power steering pada mobil kijang terdahulu, membuat semuanya jadi jauh lebih mudah. Kalo soal motor kan bisa dilihat semua sudut sudutnya ?

At last, dengan bagasinya yang besar, muat anak gajah baru lahir, menjadikan Yamaha XMax, kendaraan roda dua yang benar benar memuaskan sejauh ini. Minimal barang bawaan ukuran big size macam saya, tidak lagi khawatir menclok sana menclok sini. Apalagi kalo saat hujan deras.
Tinggal masukkan semua perangkat yang tidak tahan air ke bagasi, sisanya ya nyeker sampe rumah.
Asyik kan ?

Yamaha XMax 250, Matic Jumbo kelas Premium

1

Category : tentang Opini

Wara wiri di seputaran kota Denpasar dan Kabupaten Badung selama seminggu terakhir diatas Yamaha XMax 250, rasanya memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan pengalaman terdahulu menggunakan motor lakik Yamaha Scorpio 225, yang kini sudah melanglang jauh ke Indonesia timur bersama pemiliknya yang baru.
Perjalanan panjang tak lagi terasa jauh dan melelahkan.
Bisa jadi lantaran posisi duduk yang bisa diatur dalam tiga set pengaturan kaki, dan salah satunya mirip dengan pose rider motor besar tipe jelajah.
Khusus satu ini tentu dengan kelebihan aktifitas kaki dibebaskan dari semua beban serta tanggung jawab.
Nyamannya bukan main.

Yamaha XMax 250, Matic Jumbo kelas Premium.
Harganya masih tergolong muahal dan tak masuk di akal untuk kelas motor dengan mesin satu silinder. Ini pendapat seorang kawan yang lulusan Teknik Mesin.
Mengingatkan saya pada produk sebuah smartphone yang dibanderol seharga motor matic baru kelas pemula, utamanya saat mengetahui jeroan yang digunakan tergolong rendah untuk kelas masa kini.
Sepertinya ia lupa, bahwa ada banyak pertimbangan lain yang menyebabkan motor matic berukuran jumbo ini dilego kisaran 56,6 Juta on the road wilayah Bali.

Selain kenyamanan berkendara tadi, secara perlahan pada akhirnya bisa juga beradaptasi dengan si bongsor satu ini.
Dari membuka tangki bahan bakar yang ada di sisi bawah depan jok, membuka kompartemen kiri untuk menyimpan kedua ponsel, membuka bagasi hingga mengunci setang yang sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah.
Termasuk saat bermanuver disela kendaraan berlalu lintas ramai, menarik tuas rem dadakan atau ngetem di persimpangan lampu merah dengan pandangan kagum dari belasan mata yang ada.

Konsep premium Yamaha XMax 250 inipun kerap terlintas di kepala. Penampilan digital speedometer laiknya kendaraan roda empat, rasanya bakalan membutuhkan dana pemeliharaan tinggi apabila terjadi kerusakan atau gangguan satu saat nanti.
Begitu juga ketiadaan starter kaki. Rasanya bakalan kesulitan saat motor mogok di jalan. Musti cari akal agar tak sampai kejadian sampai sejauh itu.
Eh tapi kenapa ketiadaan starter kaki bisa saya katakan sebagai bagian dari konsep premium sebuah kendaraan bermotor ? Ya lihat saja kelas kendaraan roda empat. Gak ada starter kakinya juga kan ya ? He…

Cuma saya masih agak ragu saat meninggalkan Yamaha XMax 250 ini di keramaian parkir.
Selain manuvernya susyah jika sampai terjebak ditengah-tengah area, fungsi kunci yang tanpa kunci atau dikenal dengan istilah immobilizer ini, bakalan mampu menjaga kendaraan dari tangan tangan jahil ?
Karena ketika meninggalkan motor dalam kondisi off tanpa kunci setang, kendaraan akan mudah dinyalakan kembali saat saya masih berada di sekitar motor untuk sebuah keperluan. Kalo masih bisa dilihat sih syukur. Lha kalo terhalang tembok ?
Ya wajib kunci setang tentu saja biar ndak khawatir.

Hingga saat ini, ni motor sudah melahap jalanan sepanjang 300an KM tanpa adanya gangguan yang berarti. Hanya saja agak kurang nyaman saat diajak ke ruas jalan dengan kontur kasar seperti paving, atau permukaan lain yang dalam kondisi rusak.

Secara keseluruhan, ni motor matic jumbo cukup memuaskan saya kok. Apalagi agenda awal untuk menggantikan sosok Scorpio 225 sudah tercapai sesuai harapan.
Cuma memang musti rela menahan diri untuk memodif atau variasi motor di awal-awal ini. Secara nilai memang tergolong premium dibanding motor lain. Mungkin nanti setelah berumur setahun dua, bakalan ada perubahan penampilan dengan memanfaatkan cutting sticker besutan Anreas Bali Modification kelak.

Kalian ndak tertarik ?