Pingu si Pinguin animasi Boneka Pertama MiRah GayatriDewi

6

Category : tentang Buah Hati

Menginjak usia satu bulan, MiRah GayatriDewi putri kecil kami diharuskan berpisah sementara dengan ibunya yang dinyatakan positif terjangkit Demam Berdarah. Kurang lebih selama 9 (sembilan) hari lamanya, kami harus menahan rindu terhadap buah hati yang baru saja mengisi hari-hari penuh tangis bayi. Untuk menebus rasa bersalah karena kami tinggalkan dan titipkan pada kakek neneknya, kami membelikan MiRah sebuah boneka kecil yang kebetulan dijual di Koperasi Kamadhuk RS Sanglah. Boneka itu kami beri nama Pingu.

Pingu si Pinguin, satu nama yang begitu saja terlintas di kepala ketika boneka ini kami putuskan untuk menjadi teman bobo MiRah yang akan menjaganya selama kami jauh. Bukan tanpa alasan nama itu kami berikan. Entah mengapa kami langsung teringat pada animasi Pingu yang dahulu pernah sesekali menghiasi layar televisi sebagai bagian dari sebuah iklan komersial air conditioner.

Animasi Pingu yang rupanya telah diproduksi sejak tahun 1986 untuk TV Switzerland ini mengisahkan tentang satu keluarga burung pinguin yang tinggal dalam sebuah Iglo di kutub selatan (sebenarnya Iglo berada di Antartika Kutub Utara) dan ceritanya difokuskan pada Pingu dan rekannya Robbie si anjing laut. Tidak lupa diceritakan pula tentang kehidupan keluarganya ditambah kehadiran Pinga si adik kecil. Dari pola cerita dan animasinya, Pingu mengingatkan saya pula dengan satu animasi anak Postman Pat, cerita tentang aktifitas seorang tukang pos dengan mobil kotak merah yang ditemani teman kecilnya, si kucing.

Sayangnya dibutuhkan kemampuan lebih untuk memahami cerita yang dikisahkan dalam masing-masing episodenya. Jelas-jelas tidak menggunakan bahasa universal atau bahasa negara manapun. Sehingga untuk bisa dinikmati oleh anak-anak usia balita, sangat diperlukan pendampingan orang tua untuk menjelaskan satu demi satu scene yang berjalan. Kabarnya bahasa yang dipergunakan dalam animasi ini disebut sebagai bahasa Pinguin.

Beberapa Video animasi Pingu saya temukan berkat jasa salah satu penyedia portal video terbesar YouTube disela Pelatihan terkait LPSE di Propinsi beberapa waktu lalu. Ada sekitar 42 episode yang saya unduh dari 105 yang diklaim dihasilkan selama masa produksi. Salah satu yang kemudian menjadi favorit MiRah adalah episode ‘Bedtime Shadow’ yang menceritakan kisah Pingu dan adiknya Pinga beradu kepintaran membuat bayangan dengan tangan didepan tembok sesaat sebelum tidur. Jika Pingu membuat kapal laut khas anak-anak, pinga jauh lebih pintar dan membuat bayangan kapal layar (walaupun sesungguhnya bayangan itu mustahil dilakukan dengan mengandalkan tangan). Demikian pula saat pingu membuat bayangannya Robbie si anjing laut, pinga mampu menyajikannya lebih mendetail. Puncaknya ketika Pingu membuat bayangan Bapak mereka, maka saat giliran Pinga muncullah bayangan sang Bapak lengkap dengan gaya marah-marahnya. Meski akhirnya menyadari bahwa itu adalah siluet sang Bapak, bukan hasil ‘karya’ Pinga, ending story dibuat begitu manis. Bapak, Pingu dan Pinga akhirnya tertidur dalam satu ranjang kecil yang sebenarnya merupakan ranjang milik Pingu…

Pingu si Pinguin bisa menjadi salah satu alternatif tambahan tontonan bagi si kecil, selain animasi Upin & Ipin yang mendidik ala negara tetangga Malaysia dan juga si beruang Bernard. Cobain deh…

Kesialan Bernard Bear Kegembiraannya MiRah GayatriDewi

3

Category : tentang InSPiRasi

Tulisan akhir Agustus yang sempat tertunda lantaran aksi mbolosnya Pak Dewan Wakil Rakyat kita itu. Sebetulnya pengen nulis lagi terkait aksi coretannya Om Pong Harjatmo ‘jujur Adil Tegas’ di atap Gedung DPR, tapi khawatir malah bakalan menimbulkan reaksi tidak baik dari berbagai kalangan. So, mendingan balik lagi ke tema yang gak jelas. Seperti biasanya… :p Maaf.

* * *

Lagi-lagi berkat jasa YouTube. Melalui portal video inilah saya pertama kali mengenal tokoh kartun animasi Bernard Bear, Bernard si Beruang saat berusaha mencarikan tayangan kartun yang layak (baca:pantas) ditonton oleh anak seusia MiRah. Kalau tidak salah sekitaran akhir tahun 2009 lalu, saat yang sama dimana getol-getolnya mengunduh film animasi pendek milik PiXar.

Pada awalnya MiRah kecil (saya tayangkan di layar tipi saat usianya setahun dalam format vcd) takut menonton kartun Bernard Bear lantaran ‘kesialan’ yang hampir selalu dialami saat beraktifitas. Ketika berolahraga, ber-ice climbing atau ber-gantole. Sebaliknya Mirah lebih memilih Geries Game, cerita tentang seorang kakek yang bermain Catur buah karya PiXar.

MiRah baru mulai menyukai Bernard setelah perlahan saya katakan bahwa Bernard Bear itu mirip Bapaknya lantaran memiliki perut gendut yang sama. Itu sebabnya, setiap kali ia menonton video Bernard, MiRah selalu berteriak ‘Bapak… Bapak…’. Kata pertama yang (paling mudah) ia ucapkan. Perlahan MiRah mulai menyukai video Bernard dan kerap meminta kami memutarkannya di layar tipi.

Bernard Bear sebenarnya punya nama lain untuk pangsa pasar Asia Pasifik, Backkom. Itu sebabnya beberapa video yang saya unduh saat itu ada yang menggunakan nama Backkom ada juga yang menggunakan nama Bernard. Dalam videonya yang rata-rata berdurasi pendek tersebut, Bernard jarang terlihat beruntung dengan aksinya. Dari yang terantuk peralatan olahraga, jatuh dari tebing salju, terbakar dibawah pohon kelapa hingga diterbangkan pesawat saat berusaha bermain gantole. Sayangnya dari sekian banyak yang saya unduh, tak satupun berisikan tokoh kartun pendukung lainnya seperti Lloyd dan Eva penguins, Zack  si kadal, Goliat chihuahua, bayi Tyler, si anjing Pilot, Pokey dan Santa Claus.

Animasi produksi Korea ini jujur saja akhirnya saya favoritkan juga sebagai tayangannya MiRah selain Upin & Ipin produksi negeri jiran Malaysia. Selain lucu dan menggemaskan, tampilan animasinya juga halus dan jalan ceritanya mudah dipahami oleh anak-anak meskipun sebagai orang tua, tetap harus mendampingi mereka untuk menjelaskannya.

Bersyukur stasiun televisi swasta TPI (entah mulai kapan) menjadikan Bernard Bear sebagai salah satu program mereka selain Upin & Ipin. Daripada meracuni putra putri dengan tayangan SHITnetron dan infoTAIment, bukankah lebih baik menonton Bernard Bear bareng-bareng ?

Wimcycle Strawberry Sepeda Baru MiRah GayatriDewi

8

Category : tentang Buah Hati

Diam-diam MiRah rupanya mulai belajar menaiki sepeda milik kakak sepupunya tiap kali kami ajak pulang kampung ke Canggu. Kami baru menyadarinya ketika awal bulan Juni lalu MiRah dengan santainya mengayuh sepeda kecil beroda dua yang ditambah dua roda kecil disisi samping sebagai bantuan. Untuk menaikinya MiRah dibantu kedua kakaknya yang dengan hati-hati mendampinginya.

Dibandingkan dengan anak seusianya (dua tahun tiga bulan), MiRah tergolong cepat beradaptasi dengan sepeda jenis tersebut. Sedikit berbeda dengan saudara yang sepantaran dengannya, masih suka menggunakan sepeda roda tiga ketimbang mencoba sepeda yang kerap digunakan MiRah.

Bisa ditebak, ketika semua saudaranya bergembira bersepeda, MiRah langsung minta dibelikan.

Sebetulnya ada banyak pilihan jenis sepeda yang kami tawarkan pada MiRah. Dari yang ada bonekanya, keranjang, dengan setang lurus sampai pada akhirnya MiRah memilih tipe Strawberry dari produk milik Wimcycle. Padahal secara ukuran, MiRah masih belum mampu menjangkau sadel –tempat duduk- sehingga terkadang memerlukan bantuan kami untuk menaiki maupun turun dari sepedanya tersebut.

Hanya berselang satu bulan, MiRah kini sudah mulai pintar menggunakannya. Jika pada awalnya ia hanya bisa berputar-putar pada satu tempat, kini sudah bisa mengitari halaman rumah. Bahkan beberapa hari terakhir, ia sudah menemukan cara untuk mencapai sadel tanpa bantuan juga turun dengan sempurna.

Sebagai anak-anak, MiRah rupanya sama nakalnya dengan yang lain. Walau sudah kami ingatkan, kerap ia membunyikan bel sepeda dimalam hari atau pagi buta hingga mengejutkan mereka yang sedang beristirahat. Kalau sudah begini, MiRah Cuma bisa nyengir. Hihihi…

MiRah GayatriDewi dan aksi ULang Tahun yang ke-2

2

Category : tentang Buah Hati

…berikut beberapa skrinsyut MiRah GayatriDewi dalam aksi bersemangatnya merayakan ULang Tahun yang ke-2 bersama Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek…

MiRah dengan gaya 2 jarinya…

…MiRah berpose bareng Kakek NeNek…

…testing by MiRah… :p

…bersemangat menyanyikan lagu SeLamat ULang Tahun, favoritnya…

…and at last… maem kue ULang Tahun yang dinanti” sedari sore… :p

MiRah GayatriDewi sudah 15 bulan loh

1

Category : tentang Buah Hati

Hmmm…. Sepertinya cerita tentang Putri kecil kami ini tak pernah habis untuk dituliskan dalam BLoG. Mungkin bagi orang lain akan terasa membosankan, sebaliknya bagi kami, tumbung kembang malaikat kecil kami ini akan terasa seperti menyaksikan keajaiban dari Tuhan.

Sebuah buku dari ‘Parents Guide’ yang pernah saya baca mengatakan bahwa tumbuh kembang anak bukanlah sebuah kompetisi yang harus dikejar dari setiap anak berusia sama. Masing-masing memiliki atau membawa karakternya masing-masing. Maka tidak heran jika ada yang begini ada pula yang begitu. Kami berdua selalu berusaha menanamkan pengertian tersebut pada setiap orang yang membanding-bandingkan kemajuan yang dialami putri kecil kami dengan putra putri mereka.

Kurang lebih dalam waktu seminggu kedepan, usia MiRah sudah mencapai angka 15 bulan. Satu usia yang kabarnya sudah cukup mapan untuk bisa berjalan dengan kedua kakinya. Akan tetapi putri kami yang memiliki badan tergolong bongsor ini agaknya masih kesulitan untuk itu, masih memerlukan bantuan kami untuk ikut memegangnya.

Kemajuan si kecil lainnya adalah adanya 8 gigi depan dan bakal gigi geraham (kalo ndak salah) yang membuatnya kini sudah bisa maem sendiri. ia mulai kebiasaan ini dengan menggunakan kedua tangannya untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya. Diantara sekian banyak jenis makanan, yang paling ia sukai adalah nasi dan krupuk. Termasuk krupuk Rambak Sapi Melu-nya Mas Hendra. He…

maem-mirah

Ngomong-ngomong tentang kerupuk, yang makin membuat kami geregetan yakni saat MiRah dituntun untuk berjalan, ia selalu meminta kami menuntunnya ke warung depan rumah, dan selanjutnya ia tinggal mengatakan “…puk…” untuk meminta krupuk kesukaannya pada Ibu dagang. Weleh-weleh….

Selain itu, putri kami lebih menyukai makanan tradisional ketimbang modern. Ia lebih menyukai kerupuk biasa, ketimbang snack macam Chitato atau sejenis Chiki. Ia juga lebih menyukai jajan uli dan begina ketimbang kue bolu. Ubi juga merupakan salah satu makanan favoritnya ketimbang sosis. Itu sebabnya kami tidak terlalu kesulitan untuk memberinya makan. MiRah pun sudah mulai bisa memegang minumnya sendiri, dari susu botol juga air dalam gelas kecilnya.

Berkat didikan dari banyak orang –ibu, nenek juga kakak-kakak sepupunya- MiRah sudah mulai menirukan apa yang kami katakan, walau hanya satu suku kata terakhir. Mulai dari kata-kata umum seperti ibu, bapak, ninik, kakek, ubi, dan lainnya, hingga ke nyanyian anak-anak seperti ‘naik kereta api, ‘hujan, ‘topi saya bundar, dan lainnya. Sengaja kami tidak memperkenalkan lagu-lagu gaul dan trend kaum remaja agar putri kami tidak menjadi dewasa sebelum saatnya. Huahahaha….

Mainan MiRah bisa dikatakan kelewat sederhana ketimbang ketiga kakak (langsung) sepupunya. Anak dari kedua kakak saya. Selain boneka pemberian saya, Kakek dan juga sepupu-sepupu jauhnya, MiRah hanya memiliki beberapa biji miniset alat masak, bulat-bulatan donat yang bisa disusun berdasarkan besarannya, juga benda-benda yang menarik perhatiannya seperti bunga kayu yang biasanya menghias meja tamu kami, kotak kecil (box) kopi Good Day, atau buku-buku koleksi Intisari milik Kakeknya.

Pelan-pelan MiRah kami kenalkan dengan majalah, koran dan buku-buku yang ada gambar-gambarnya. Dari semua itu, MiRah mulai mengenal mana yang namanya mobil (istilahnya -bak bung- karena suara mobil itu bung bung bung…) mana pula yang namanya motor. Tapi ya itu, MiRah baru bisa mengucapkan suku kata terakhirnya saja. Untuk itu, kami selaku pengasuh tetap dituntut untuk bisa mengerti apa yang MiRah maksudkan saat berbicara dengannya.

coretan-mirah

Ngomong-ngomong tentang bicara, MiRah juga sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit kata-kata yang kami ucapkan atau permintaan yang kami sampaikan padanya. Mulai dari kencing sebelum bobo (agar MiRah tidak ngompol nantinya), menghabiskan maem, duduk menunggu dan lainnya.

Berhubung MiRah lahir di tengah Kota Denpasar, praktis ia belum banyak mengenal jenis binatang yang familiar dengan kehidupan kami. Untuk itu, setiap hari Sabtu Minggu, kami selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampung di Canggu, dimana ia bisa mengenal beragam hewan dari ayam, bebek, sapi, babi, burung hingga capung. Maklum, dirumah kami hanya ada cecak, semut, tikus dan kupu-kupu.

Kakek adalah pengasuh favoritnya saat pagi dan sore menjelang. Kakek selalu dipanggilnya untuk meminta diputarkan video Tari Bali. Tarian favoritnya adalah Tari Jauk Keras. Untuk hal ini, MiRah selalu mengatakan “…gel…” untuk kata ‘ngigel’ –menari- dan meminta “…uk…” untuk Tari Jauk. Jika sudah begini, secara reflek MiRah akan menarikan kedua tangannya menirukan gerakan tari.

Ah MiRah… Rasanya tak kan habis cerita keajaiban tentang dirimu Nak….

SimuLasi ULang Tahun MiRah GayatriDewi

5

Category : tentang Buah Hati

Gak terasa sudah hampir setahun kehidupan kami diramaikan oleh celoteh dan tangis bayi, Putri sekaligus Malaikat Kecil bagi keluarga kami. Hari itu begitu spesial, hari yang telah dinanti selama sembilan bulan kehamilan, hari yang kami dambakan sejak awal pernikahan….

Selasa Kliwon 18 Maret 2008, akhirnya BeLiau memberikan kepercayaannya pada kami, dan mengabulkan apa yang kami pinta dan harapkan.

‘Pande Putu Mirah Gayatridewi’. Nama itu adalah pemberian Neneknya di Canggu (Mertua)…. dan kami mensyukuri apa yang telah kami dapatkan hingga hari ini.

***

Hari Ulang Tahun putri kecil kami yang pertama, jatuh tepat pada Hari Raya Galungan, hari yang dinantikan oleh seluruh umat Hindu dan dirayakan dengan penuh suka cita. Oleh karena itu pula, akhirnya kami berusaha menyisihkan sedikit tabungan (berhubung THR yang kami dapat sudah dialokasikan sepenuhnya untuk banten dll), agar kami bisa merayakan walaupun dengan sangat sederhana. Ulang tahun sekaligus syukuran untuk ‘Gek MiRah (nama panggilan kami untuknya) yang pertama.

Karena ini adalah yang pertama bagi ‘Gek Mirah, maka atas inisiatif beberapa kakak-kakak sepupunya (ada sekitar 5 dari 16 orang keponakan), mereka mengadakan simulasi kecil, dan berusaha melatih putri kecil kami untuk menyambut hari jadinya tersebut.

Dari tepuk tangan saat nyanyian ‘Selamat Ulang Tahun’, ‘Tiup Lilin’ dan ‘Potong Kue’ hingga meniup ‘lilin’ pada ‘kue’ ulang tahun. Kenapa saya katakan ‘kue’, karena ‘kue’ yang dimaksudkan hanyalah berupa tumpukan mainan yang disusun serupa kue ulang tahun, dan diisi batang kecil diatasnya. Hahahaha…. Ada-ada saja ni anak-anak….

Walaupun para kakaknya ‘Gek Mirah berusaha melakukan simulasi ini setiap harinya sejak seminggu lalu, kelihatannya putri kami ‘Gek Mirah, tak terlalu antusias mengikutinya. Lihat saja, ia asyik dengan diri sendirinya bermain disebelah para kakak yang duduk melingkar. Cuek….

Biarpun begitu, ketika Neneknya ‘Gek Mirah (Ibu saya) menyanyikan lagu thema anak-anak TK dengan keras, ‘Gek Mirah langsung aja dengan refleknya bergaya sesuai lirik lagu tersebut. Ia akan menaikkan tangannya keatas dan direntangkan sekaligus dengan badan yang bergoyang-goyang. Hahahaha….

Apalagi kalo nyanyian tersebut sudah sampai ada bait terakhir, oalah…. penjiwaannya keren banget. Gek Mirah akan bergaya sesuai dengan lantunan lirik lagu….
“satu dua… satu dua… taaangaaaan taruh di pinggang. baaadaaaan bergoyang-goyang. awas aaawas ! jangan salah ! maaari kita berjabat taangan.”

Saya yang biasanya tergelak tertawa, hanya bisa terheran-heran akan kelincahan geraknya, saat mengikuti lantunan sang nenek.

“….uuugghh !!! Bapak jadi geregetan Nak….”

MiRah GayatRiDewi MaLaikat KeCiLku

2

Category : tentang Buah Hati

Seperti yang pernah aku ungkapkan tentang putri kecilku MiRah GayatRiDewi pada posting beberapa waktu lalu, keberadaannya adalah anugerah bagi kami, aku dan Istriku.

Mungkin lantaran ia hadir setelah kami menunggu lama akan seorang buah hati, buah cinta kami berdua saat mengikat janji Desember tiga tahun lalu.

Kini MiRah GayatRiDewi sudah berusia delapan bulan, satu usia dimana ia mulai belajar berjalan, duduk tegak serta ikut mengoceh saat kami berbicara. MiRah juga mulai menampakkan kenakalannya saat kami ajak bepergian baik pulang kampung hingga berbelanja ataupun sekedar berjalan-jalan ke tempat keramaian.

Jujur, saat hari kerja dan kuliah aku hanya bisa menemaninya sebentar saja, pagi hari saat bangun tidur sambil menunggu waktunya ia mandi, sore pulang kerja usai menyetrika jikapun masih sempat aku ajak ia duduk diteras menyaksikan kakak-kakaknya bermain dihalaman, dan malam hari saat ia terjaga dari tidurnya untuk pipis sebentar lalu tertidur lagi.

Mungkin hal itu pula yang menyebabkan aku begitu mendewakan hari libur atau akhir pekan. Seakan lupa dengan kewajibanku menyelesaikan Thesis yang hingga kini belum jua kulanjutkan, seakan lupa kalau diluaran masih banyak kewajiban aku sebagai seorang pegawai negeri sipil dalam kapasitas sebagai pengawas kegiatan-kegiatan Dinas. Aku malah lebih memilih tinggal dirumah agar bisa meihat ia tumbuh kembang dengan segala kelucuannya itu.

Saat aku mencintai seseorang (termasuk Istriku) dengan hati yang tulus, aku jarang sekali mengungkapkannya dalam bentuk kata. Padahal kata orang bijak seharusnyalah kata-kata itu diucapkan dengan keras agar orang lain dan juga orang yang kita cintai tahu akan perasaan kita yang sebenarnya. Paling sering aku ungkapkan lewat kreativitas yang bisa aku persembahkan.

Sama halnya dengan MiRah. Apalagi aku yakin ia belum mengerti ucapanku atau bisikanku bahwa aku menyayanginya, sehingga ungkapan kasih sayangku lebih banyak aku ungkapkan lewat foto dan terkadang tulisan pada posting BLoG ini. Hingga dalam waktu delapan bulan usianya ini pula, ia memiliki banyak koleksi foto dalam berbagai momen dan ekspresi. Seperti halnya sang Ibu (Istriku) dan juga salah seorang keponakan kami, Ngurah Bagus yang menjadi pengobat rindu akan buah hati saat MiRah belum hadir ditengah kami.

Tak jarang, dari sekian banyak foto, aku lantas memilihkannya beberapa yang aku anggap pas untuk dicetak dan diperbesar untuk dipajang diruang keluarga dan ruang tamu. Agar orang lain tahu bahwa ada malaikat kecil dirumah kami ini.

Tapi yang namanya kreativitas tetap tak bisa aku bendung, masih ada satu keinginan untuk membuat satu sketsa si kecil dalam bentuk kartun karikatur. Hanya saja menyadari keterbatasan yang aku miliki, maka foto-foto itu pula yang menjadi sasaran terlebih dahulu, di cropping, filter dan diberi efek tertentu, dicoba-coba untuk melahirkan satu sudut pandang baru akan kelucuan sikecil putri kami.

Maka jadilah dua puluh foto si kecil yang aku oprek dan diberikan sentuhan grafis sebisa kemampuanku saja. aku kerjakan disela kesibukan kantor dan tentu saja aku cetak kembali agar bisa mejadi kenangan baginya kelak saat ia beranjak remaja nanti.

Yah, anak adalah anugerah yang patut dibanggakan seperti kataku tempo hari…. dan aku sangat menikmati saat-saat indah bersamanya.

> PanDe Baik saat menulis posting ini ditemani alunan instrumen musik degung yang mengaransemen ulang lagu-lagu Bali tempo dulu, angkatannya Yong Sagita, Ketut Bimbo dan Alit Adiari. Ada juga si Sarinem Terikasem, Bayu KW dan beberapa tembang anak-anak. Sangat merdu sehingga putri kamipun bisa tertidur dengan lelap bersama Ibunya….. <

Salam dari Pusat Kota Denpasar

Teman si kecil MiRah GayatRiDewi

Category : tentang Buah Hati

Pertengahan bulan ini, putri kami MiRah GayatRiDewi genap berumur 8 bulan kalender. Yang diwujudkan dengan perkembangan fisiknya jadi makin bulet juga kelucuan tingkah lakunya seakan tak pernah bosan mengisi hari-hari kami selaku orang tuanya.

Terakhir, si MiRah udah bisa duduk sendiri dari aktivitas bangun tidurnya. Caranya dengan merebahkan badannya kesamping kiri trus bangun dan duduk. Walopun blom bisa berlama-lama tapi beneran, kami surprais dibuat olehnya.

Tak hanya itu, kalo setelah upacara 3 bulanannya kemaren, si kecil MiRah sudah mulai menunjukkan kenakalannya dengan memonyongkan bibirnya seperti bibir bebek, kini ia mulai belajar menjulurkan lidahnya kalo lagi bersua dengan orang yang disukainya. Ohya, si kecil manja banget kalo sudah berhadapan dengan kakek neneknya juga si Bapak. He… tinggallah sang IbuNDa yang merayu-rayu si kecil agar mau berlama-lama dengannya saat BunDa pulang makan siang dari kantor.

Putri kami sejak dilahirkan hingga kini menjalani waktu-waktu bobonya dengan kami kedua orangtuanya. Jadilah springbed pesanan khusus 180×230 cm itu dibagi rata agar si kecil tak ditindih oleh badan Bapaknya yang tambah Ndut saja belakangan ini.

Teman bobonya pertama, Putu Pingu. Boneka Pinguin kecil ini dibeli saat si kecil berusia 1 bulan, saat yang sama Ibunya dirawat di RS Sanglah lantaran mengidap Demam Berdarah. Jadi pengobat kangen kami saat jauh, yang kemudian dititipkan pada Kakek Neneknya saat mau pulang dari menjenguk kami.

Teman mainnya yang kedua Ni Made BeKu (Bebek Kuning), plus 3 anaknya yang kecil dan lucu. Dibeli di Hero Gatsu, sebagai teman mainnya si kecil saat mandi.

Teman mainnya yang ketiga sekaligus digulat saat bermain ditempat tidur, NYoman PinkY, boneka beruang merah jambu ini hadiah dari Kakeknya diusia sikecil menginjak 6 bulan kemaren. Dibeli di Matahari Sudirman kalo ndak salah. Besarnya sepadan dengan badan si Mirah. Lebih besar dikit malah. Walo awalnya MiRah agak takut dengan bodi si PinkY yang besar dan membawa Jantung Hati ditangannya, tampaknya topi si PinkY-lah yang menarik perhatian MiRah. Terakhir PinkY sudah mahir menemani si kecil MiRah bergulat dan membiarkan wajahnya digigit (padahal blom punya gigi), saking gregetannya si MiRah.

Teman keempat sekaligus terakhir yang MiRah dapatkan adalah si KetuT Odock. Dalam dimensi badan yang seperempatnya Pinky. Jadi gampang dipeluk oleh MiRah. Ini kado dari salah seorang teman KuLiah, yang memang masih ingat kalo sapaan akrab Bapaknya ini adalah Dok –yang berasal dari PanDe KoDok- He…. Tak heran kalo boneka yang diberikan pada si kecil ini adalah berwujud KoDok, lengkap dengan matanya yang besar dan peyutnya yang Ndut. Mirip Bapaknya MiRah. He…

Diantara keempat teman si MiRah, paling cuman si Pinky dan Odock aja yang setia berada ditempat tidur, tepatnya berada dekat Bapak, sehingga makin menyempitkan ruang tidur si Bapak yang badannya udah segede gajah. Huahahaha….

Tentang Mirah Gayatridewi, Malaikat Kecilku

1

Category : tentang Buah Hati

Anak adalah Anugerah, kata orang Bijak. Untuk itu pula sebagian orang rela melepaskan segala sesuatu miliknya pula hari-harinya, demi mendapatkan sebuah hadiah Terindah dari-Nya setelah memutuskan untuk melangkah ke perkawinan, ikatan dua insan manusia dengan dua sifatnya yang berbeda pula.

Anak juga merupakan suatu pertumbuhan keajaiban yang hingga hari ini masih sangat diharapkan terutama bagi mereka yang sudah sangat lama menginginkan kehadirannya, walaupun sebenarnya ada jalan lain seperti mengadopsi.

Untuk itu pula Anak setelah ia dilahirkan, harus menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya secara sadar dan penuh cinta kasih sayang agar ia tumbuh menjadi satu kesatuan dari dua sifat orang tuanya yang berbeda, dengan harapan yang jauh lebih baik tentunya.

Anak adalah Rejeki, kata mereka yang senantiasa berusaha melahirkan malaikat-malaikat kecil mereka, walaupun usia dan kondisi ekonomi dalam kondisi terdesak. Yang penting makan mereka semua terpenuhi kata sang orang tua tak kalah bijak. Karena malaikat kecil yang mereka lahirkan toh adalah Anak-Anak Tuhan pula.

Anak adalah Bencana, ini berlaku bagi mereka yang belum siap menghadapi sebuah ikatan perkawinan maupun menjalani tanggung jawab menjadi orang tua yang baik, sehingga pilihan yang ada hanyalah dengan menunda perkawinan ataupun kehamilan.

Anak adalah Kebanggaan, karena tak ada orang yang lama tak bersua bakalan saling menanyakan ‘berapa kekayaan yang dimiliki’ atau ‘berapa mobil mewah yang parkir digarasi’, melainkan ‘sudah ada berapa putra-putrinya’ atau ‘anak-anak sehat bukan ?’

Anak adalah cerminan Diri. Untuk itu pula diperlukan kesabaran dan ketekunan dalam merawat dan menemani hari-harinya untuk tumbuh kembang, tak jarang seperti melihat ego diri sendiri yang barangkali harus dibina sejak awal, agar tak menjalani kelamnya masa lalu sang orang tua.

Anak adalah segalanya, untuknyalah semua hal dipertaruhkan agar mampu mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik.

mirah-gayatridewi.jpg

Untuk itu semua pula aku berTerima Kasih pada Tuhan, karena dikaruniai malaikat kecil yang lucu nan menggemaskan, Mirah Gayatridewi. Anakku.

Sangat bangga bisa memilikinya.

OtoNan MiRah GayatRiDewi

7

Category : tentang Buah Hati

Akhirnya Datang Juga…. (nyulik tag acara teve)

Bisa jadi begitulah kata hati ini saat pagi tiba. Hari ini, 14 Oktober 2008 sesuai rencana adalah hari yang paling kami nantikan sebulan terakhir, Upacara Otonan putri kami, MiRah GayatRiDewi, sebagai rangkaian upacara setelah kelahirannya 18 Maret lalu. Dilakukan setelah usia putri kami menginjak 6 bulan dalam hitungan kalender BaLi.

Sesuai rencana pula, acara hari ini bisa dimulai tepat waktu yaitu pukul 11 siang. Hanya saja sanak saudara maupun teman yang datang tak sejumlah yang kami undang. Ini karena pada hari ini merupakan hari baik bagi umat Hindu di BaLi, yaitu Anggara Kasih Tambir bertepatan dengan Kajeng KliWon dan Purnama Kapat (keempat). Hari dimana umat melakukan pemujaan kehadapan Sang Hyang Ayu dan Sang Hyang Ludra, berharap atas Welas Asih-Nya, semua kekotoran didunia ini menjadi lebur. (Kalender Bali susunan IBG Budayoga)

Acara yang selain dihadiri sanak saudara, rekan kantor hingga beberapa teman kuliah di Arsitektur Udayana angkatan 95 dahulu, berjalan tanpa ada hambatan yang berarti, hingga rangkaian upacara boleh dikatakan lancar sesuai rencana pula.

Tampak pada foto-foto dibawah : (1) Suasana rumah setelah persiapan selesai ;

(2) BaBi GuLing yang dipesan 2 biji, satu ekor diberikan oleh Bli Putu ALit Suantara dan satunya lagi tentu dari Bapaknya MiRah, karena Otonan pertama ini jatuhnya bertepatan dengan Purnama ;

(3) Muspa memohon keselamatan bagi putri kami ;

(4) Canda tawa kami saat mendengar ocehan sikecil Mirah usai Muspa ;

(5) MiRah GayatRiDewi usai maen air di kolam kecil yang telah dipersiapkan sebelumnya berisikan dua ekor ikan, untuk mengambil cincin yang ditaruh didalamnya, dilanjutkan dengan masuk kedalam kurungan kecil ;

(6) Sesi medagang-dagangan dimana MiRah diceritakan berdagang dan pembelinya dari kakak-kakaknya maupun sanak saudara yang hadir, diharapkan agar si kecil murah Rejeki ;

(7) upacara dilanjutkan dengan persembahyangan di Perempatan Jalan memohon kerahayuan keselamatan Putri kami, dan diakhiri dengan cerita si kecil MiRah berbelanja kembali menggunakan uang hasil jualannya tadi.

Aaaah… Akhirnya selesai juga prosesi upacara hari ini, berharap putri kami dapat memberikan Cahaya yang baik bagi kami sekeluarga dalam masa depannya. Sehat selalu dan tentu Berbakti pada kedua orangtuanya.

I LoVe U my Baby

PerSiapan Upacara OtoNan MiRah GayatriDewi

Category : tentang Buah Hati

Sesuai rencana, mulai hari ini mulai ngambil cuti kantor yang masih tersisa 6 hari lagi. Ini dilakukan agar dapat berkonsentrasi penuh pada persiapan dan Upacara Otonan (pada usia 6 bulan Kalender BaLi) putri kecil kami, MiRah GayatriDewi, yang jatuh pada hari SeLasa besok, tepat pada PurNama Kapat (keempat) Anggarkasih KliWon.

Satu hari yang dianggap sangat baik bagi sebagian HinDu BaLi. Ini bisa dilihat dari banyaknya upacara yang dilakukan dengan mengambil hari baik ini. OdaLan besar hingga makta (membawa) Tipat Bantal bagi Pengantin baru. He…

Berhubung hari ini (Senin) masih merupakan H-1 nya, maka persiapan untuk jalannya upacara pun dilakukan sejak pagi, melanjutkan apa yang sudah dimulai hari Minggu kemarin. Diantaranya ngaturang (menghaturkan) PeJati ke beberapa Pura al. Pura Desa – BaLe Agung, Pura Ibu, Pura Dalem, Pura Taman, Griya Nak Lingsir PohManis hingga ke Pasih-Segara-Pantai.

Tak kalah sibuknya, dirumah pula dilanjutkan dengan mempersiapkan banten upakara yang dikomando oleh Ibu (neneknya MiRah), serta menghias meja untuk nantinya dipakai sebagai meja banten, meja makan hingga dapur darurat. He… tak lupa memasang Tenda (dipesan dari BaLi Sarana Dekorasi -0361 7441718) serta mempersiapkan kursi tamu (disewa dari BanJar Tainsiat).

Hingga waktu menunjukkan jam 8.30 malam, barulah semua persiapan ini selesai dilakukan dan diakhiri dengan makan bersama seluruh keluarga. Berharap esok, Upacara Otonan putri kami ini dapat berjalan dengan baik. SemoGa.

Huaaaahhh… Capeknyaaaa…