Hari Pertama Sekolah MiRah GayatriDewi

7

Category : tentang Buah Hati

Rasanya baru kemarin MiRah GayatriDewi, putri kecil kami lahir. Eh, hari ini (11 Jul lalu-Red) ia sudah memasuki hari sekolahnya yang pertama. PlayGroup.

Rencana MiRah untuk ikut serta dalam tahap sekolahan PlayGroup yang secara kebetulan berlokasi di Banjar Taensiat lingkungan rumah, sebetulnya sudah lama kami pikirkan bersama. Tujuannya Cuma satu. Agar MiRah bisa bergaul dan bersosialisasi dengan anak seusianya lebih dini. Mengingat lingkungan rumah tak lagi ramah untuk mau menyapanya.

Maka, sedari satu dua bulan sebelumnya, pelan-pelan MiRah kami tanamkan bahan ajaran awal terkait Angka dan Huruf. Meski terkadang mengalami kesulitan dalam memperkenalkan semua itu, MiRah terpantau cukup mampu untuk mengenali karakter Angka dan menuliskannya satu persatu meski harus diberikan sedikit ‘Clue atau petunjuk terlebih dahulu. Seperti angka 7 yang menyerupai sosok putrinya Mr.Crab, pemilik restoran Crabby Patty-nya Sponge BoB, atau angka 8 yang merupakan dua telor bertumpuk.

Untuk Hari Pertama MiRah bersekolah, ia diantar langsung oleh Ibunya yang memang secara khusus memohon ijin kantor, untuk absen setengah hari. Padahal sedari awal MiRah sudah tegas mengatakan bahwa ia akan diantar Kakek Neneknya dengan berjalan kaki.

Ketidaksabaran MiRah akan hari pertama sekolahnya ini sudah tampak sejak sehari sebelumnya. Ia selalu bertanya bagaimana sekolah itu, apa yang harus dibawa dan apa yang diberikan. Namun, sejelas apapun kami menerangkannya, hanya satu kesimpulan yang dia dapat, bahwa di sekolah akan diberi makanan dan susu. Hehehe…

Pukul 5.30 pagi MiRah terjaga dari tidur tanpa dibangunkan. Kalimat pertama yang terlontar adalah “sekolah yuk Pak…” dengan nada yang keras. Walah… ni anak semangat 45 rupanya. Maka usai mandipun MiRah dengan segera meminta untuk dikenakan baju seragam yang seupa anak TK namun tanpa Badge untuk membedakannya.

Sebelum berangkat, MiRah saya sempatkan untuk berpose sebentar dengan menggunakan seragam barunya. Cantik bukan ?

Selamat Ulang Tahun yang ke-3 MiRah GayatriDewi

2

Category : tentang Buah Hati

Tumben tulisan ini terlambat saya buat. Penyebab utama adalah kesibukan kerja seperti yang sudah pernah saya sampaikan tempo hari. Bisa dikatakan efek kejenuhan akibat padatnya jadwal masih berpengaruh hingga jumat malam. Tidur jadi lebih awal.

Kendati begitu, Jumat Malam jadi terasa spesial lantaran kami pada akhirnya bisa jua merayakan Ulang Tahun MiRah GayatriDewi, putri kecil kami yang kini telah berusia 3 tahun. Ulang tahun yang sederhana, namun sangat bermakna bagi kami. Tidak ada kerabat yang diundang, hanya kami berlima. Ayah Ibunya serta Kakek Neneknya.

Terkait Ulang Tahun, sudah sejak lama MiRah antusias menantinya. Bahkan ia mampu mengingat bahwa hari Ulang Tahunnya kali ini jatuh pada hari Jumat. Itu sebabnya perayaan Ulang Tahun Mirah maju sejam lebih awal. Hehehe…

Seperti biasa, MiRah tidak terlalu peduli dengan adanya kado dari kami. Karena baginya, sebuah kue tart lengkap dengan lilin saja sudah lebih dari cukup. Bisa menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun ‘Tiup Lilin dan juga ‘Potong Kue saja, ia sudah senang bukan main. Apalagi ditambah dengan foto bersama dengan posenya yang ceria. Entah apakah nanti saat beranjak besar ia akan berubah keinginannya.

Lantaran kesibukan kerja pula, aktifitas sebagai Jumperpun harus terbengkalai hingga melewatkan hampir sepuluh BadGe FourSQuare saat event SXSW digelar di Austin kemarin. Pun demikian halnya dengan Review ponsel berbasis Android 2.2 Froyo, Samsung Galaxy ACE S5830 yang baru mulai esok pagi bisa saya tayangkan kembali.

Jadi, untuk sementara waktu ya “Selamat Ulang Tahun dulu deh untuk MiRah GayatriDewi, Malaikat kecil kami yang ke-3 tahun. Semoga bisa menjadi anak yang berbhakti pada kedua orang tuanya, kakek neneknya dan tentu saja lingkungannya. Salam penuh cinta dari Ibu dan Bang Thoyib… eh Bapak maksudnya. :p

Tentang MiRah GayatriDewi dan Moo

4

Category : tentang Buah Hati

Tangan kecil itu mencubitku ditengah malam yang panas, bibirnya masih ditemani dot panjang berisi air putih biasa, keringat pada dahinya terlihat membintik membuatku hanya bisa tersenyum dan membiarkannya. Sudah menjadi kebiasaan si kecil ketika ia akan beranjak tidur.

Sungguh tak pernah kami bayangkan sebelumnya bahwa bayi kecil yang dahulu ditimang dan dibelai kini telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil penuh tawa canda yang terkadang dihiasi teriakan lengking tangisnya. Gadis kecil itu bernama MiRah.

Siapapun gak bakalan menyangka bahwa tubuhnya MiRah akan berkembang begitu cepat, tinggi besar untuk anak batita seusianya. Jadi maklum kalo kemudian banyak orang yang salah kaprah mengira MiRah sudah mulai sekolah. Padahal secara usia Mirah baru saja menginjak 2,5 tahun.

Terkadang kami begitu terheran-heran menatapnya saat ia tertidur, tak mengira bahwa si kecil yang telah lama kami nantikan kehadirannya kini telah mampu mendatangkan tawa lantaran aksi jahil yang tiada habisnya.

Kata orang, perilaku anak lebih banyak meniru perilaku orang yang mengasuhnya. Tidak heran apabila ada satu cerita tentang ibu muda yang mengeluhkan anaknya kok makin mirip perilaku pembantu mereka. bahkan si anak tidak akan mau diam kalo belum mendapatkan pelukan pembantu yang notabene merupakan sang pengasuh sejak kecil. Demikian pula dengan Mirah. Perilakunya kini tak jauh berbeda dengan perilaku neneknya. Cenderung keras dan tak mau mengalah. Walaupun perilaku ini terkadang terlihat mirip pula dengan perilaku orang tuanya. :p

MiRah yang tak mau mengalah, kerap berteriak ketika mainannya diambil atau bahkan lagu yang ia putarkan pada layar televisi dinyanyikan orang. Sebaliknya MiRah akan selalu bersikap manis dan ngemong pada adik sepupunya yang baru berusia 1,5 bulan. Kendati demikian rasa sayangnya paling besar diberikan pada Moo, boneka pink berbentuk Piglet yang salah nama sejak awal ia dibelikan. Moo adalah boneka sapi hitam putih yang dibeli beberapa bulan setelah Piglet. Sedangkan Piglet yang hingga kini dipanggilnya sebagai Moo aku belikan sepulang kuliah dahulu untuk teman bobonya MiRah saat kutinggal belajar.

Hampir setiap saat, kemanapun tujuan, Moo selalu ada dalam pelukannya. Moo adalah satu-satunya yang tak pernah dimarah dan dicubit pula kerap didandani dan diberi susu layaknya ngemong adik bayi. Alasannya ‘kasian masiy kecil… Meski demikian Moo terkadang mendapatkan pula perlakuan yang ‘gak bener’ seperti saat Moo ditenggarai bakalan pipis didalam mobil (khayalan MiRah tentu saja), ibunya MiRah sempat nyeletuk ‘jangan sampe kena kursinya ya…’ eh MiRah langsung bilang ‘besok aja ya pipisnyaaaa…’

Dibandingkan bonekanya yang lain, bisa dikatakan hanya Moo yang mendapat perlakuan khusus. Entah mengapa, boneka beruang besar yang dibelikan kakek atau boneka mini mouse yang tak kalah besar hadiah dari uwaknya tak pernah ia pedulikan sekalipun. Moo adalah yang terbaik, setidaknya demikian bagi si gadis kecil MiRah…

Pingu si Pinguin animasi Boneka Pertama MiRah GayatriDewi

6

Category : tentang Buah Hati

Menginjak usia satu bulan, MiRah GayatriDewi putri kecil kami diharuskan berpisah sementara dengan ibunya yang dinyatakan positif terjangkit Demam Berdarah. Kurang lebih selama 9 (sembilan) hari lamanya, kami harus menahan rindu terhadap buah hati yang baru saja mengisi hari-hari penuh tangis bayi. Untuk menebus rasa bersalah karena kami tinggalkan dan titipkan pada kakek neneknya, kami membelikan MiRah sebuah boneka kecil yang kebetulan dijual di Koperasi Kamadhuk RS Sanglah. Boneka itu kami beri nama Pingu.

Pingu si Pinguin, satu nama yang begitu saja terlintas di kepala ketika boneka ini kami putuskan untuk menjadi teman bobo MiRah yang akan menjaganya selama kami jauh. Bukan tanpa alasan nama itu kami berikan. Entah mengapa kami langsung teringat pada animasi Pingu yang dahulu pernah sesekali menghiasi layar televisi sebagai bagian dari sebuah iklan komersial air conditioner.

Animasi Pingu yang rupanya telah diproduksi sejak tahun 1986 untuk TV Switzerland ini mengisahkan tentang satu keluarga burung pinguin yang tinggal dalam sebuah Iglo di kutub selatan (sebenarnya Iglo berada di Antartika Kutub Utara) dan ceritanya difokuskan pada Pingu dan rekannya Robbie si anjing laut. Tidak lupa diceritakan pula tentang kehidupan keluarganya ditambah kehadiran Pinga si adik kecil. Dari pola cerita dan animasinya, Pingu mengingatkan saya pula dengan satu animasi anak Postman Pat, cerita tentang aktifitas seorang tukang pos dengan mobil kotak merah yang ditemani teman kecilnya, si kucing.

Sayangnya dibutuhkan kemampuan lebih untuk memahami cerita yang dikisahkan dalam masing-masing episodenya. Jelas-jelas tidak menggunakan bahasa universal atau bahasa negara manapun. Sehingga untuk bisa dinikmati oleh anak-anak usia balita, sangat diperlukan pendampingan orang tua untuk menjelaskan satu demi satu scene yang berjalan. Kabarnya bahasa yang dipergunakan dalam animasi ini disebut sebagai bahasa Pinguin.

Beberapa Video animasi Pingu saya temukan berkat jasa salah satu penyedia portal video terbesar YouTube disela Pelatihan terkait LPSE di Propinsi beberapa waktu lalu. Ada sekitar 42 episode yang saya unduh dari 105 yang diklaim dihasilkan selama masa produksi. Salah satu yang kemudian menjadi favorit MiRah adalah episode ‘Bedtime Shadow’ yang menceritakan kisah Pingu dan adiknya Pinga beradu kepintaran membuat bayangan dengan tangan didepan tembok sesaat sebelum tidur. Jika Pingu membuat kapal laut khas anak-anak, pinga jauh lebih pintar dan membuat bayangan kapal layar (walaupun sesungguhnya bayangan itu mustahil dilakukan dengan mengandalkan tangan). Demikian pula saat pingu membuat bayangannya Robbie si anjing laut, pinga mampu menyajikannya lebih mendetail. Puncaknya ketika Pingu membuat bayangan Bapak mereka, maka saat giliran Pinga muncullah bayangan sang Bapak lengkap dengan gaya marah-marahnya. Meski akhirnya menyadari bahwa itu adalah siluet sang Bapak, bukan hasil ‘karya’ Pinga, ending story dibuat begitu manis. Bapak, Pingu dan Pinga akhirnya tertidur dalam satu ranjang kecil yang sebenarnya merupakan ranjang milik Pingu…

Pingu si Pinguin bisa menjadi salah satu alternatif tambahan tontonan bagi si kecil, selain animasi Upin & Ipin yang mendidik ala negara tetangga Malaysia dan juga si beruang Bernard. Cobain deh…

Kesialan Bernard Bear Kegembiraannya MiRah GayatriDewi

3

Category : tentang InSPiRasi

Tulisan akhir Agustus yang sempat tertunda lantaran aksi mbolosnya Pak Dewan Wakil Rakyat kita itu. Sebetulnya pengen nulis lagi terkait aksi coretannya Om Pong Harjatmo ‘jujur Adil Tegas’ di atap Gedung DPR, tapi khawatir malah bakalan menimbulkan reaksi tidak baik dari berbagai kalangan. So, mendingan balik lagi ke tema yang gak jelas. Seperti biasanya… :p Maaf.

* * *

Lagi-lagi berkat jasa YouTube. Melalui portal video inilah saya pertama kali mengenal tokoh kartun animasi Bernard Bear, Bernard si Beruang saat berusaha mencarikan tayangan kartun yang layak (baca:pantas) ditonton oleh anak seusia MiRah. Kalau tidak salah sekitaran akhir tahun 2009 lalu, saat yang sama dimana getol-getolnya mengunduh film animasi pendek milik PiXar.

Pada awalnya MiRah kecil (saya tayangkan di layar tipi saat usianya setahun dalam format vcd) takut menonton kartun Bernard Bear lantaran ‘kesialan’ yang hampir selalu dialami saat beraktifitas. Ketika berolahraga, ber-ice climbing atau ber-gantole. Sebaliknya Mirah lebih memilih Geries Game, cerita tentang seorang kakek yang bermain Catur buah karya PiXar.

MiRah baru mulai menyukai Bernard setelah perlahan saya katakan bahwa Bernard Bear itu mirip Bapaknya lantaran memiliki perut gendut yang sama. Itu sebabnya, setiap kali ia menonton video Bernard, MiRah selalu berteriak ‘Bapak… Bapak…’. Kata pertama yang (paling mudah) ia ucapkan. Perlahan MiRah mulai menyukai video Bernard dan kerap meminta kami memutarkannya di layar tipi.

Bernard Bear sebenarnya punya nama lain untuk pangsa pasar Asia Pasifik, Backkom. Itu sebabnya beberapa video yang saya unduh saat itu ada yang menggunakan nama Backkom ada juga yang menggunakan nama Bernard. Dalam videonya yang rata-rata berdurasi pendek tersebut, Bernard jarang terlihat beruntung dengan aksinya. Dari yang terantuk peralatan olahraga, jatuh dari tebing salju, terbakar dibawah pohon kelapa hingga diterbangkan pesawat saat berusaha bermain gantole. Sayangnya dari sekian banyak yang saya unduh, tak satupun berisikan tokoh kartun pendukung lainnya seperti Lloyd dan Eva penguins, Zack  si kadal, Goliat chihuahua, bayi Tyler, si anjing Pilot, Pokey dan Santa Claus.

Animasi produksi Korea ini jujur saja akhirnya saya favoritkan juga sebagai tayangannya MiRah selain Upin & Ipin produksi negeri jiran Malaysia. Selain lucu dan menggemaskan, tampilan animasinya juga halus dan jalan ceritanya mudah dipahami oleh anak-anak meskipun sebagai orang tua, tetap harus mendampingi mereka untuk menjelaskannya.

Bersyukur stasiun televisi swasta TPI (entah mulai kapan) menjadikan Bernard Bear sebagai salah satu program mereka selain Upin & Ipin. Daripada meracuni putra putri dengan tayangan SHITnetron dan infoTAIment, bukankah lebih baik menonton Bernard Bear bareng-bareng ?

Wimcycle Strawberry Sepeda Baru MiRah GayatriDewi

8

Category : tentang Buah Hati

Diam-diam MiRah rupanya mulai belajar menaiki sepeda milik kakak sepupunya tiap kali kami ajak pulang kampung ke Canggu. Kami baru menyadarinya ketika awal bulan Juni lalu MiRah dengan santainya mengayuh sepeda kecil beroda dua yang ditambah dua roda kecil disisi samping sebagai bantuan. Untuk menaikinya MiRah dibantu kedua kakaknya yang dengan hati-hati mendampinginya.

Dibandingkan dengan anak seusianya (dua tahun tiga bulan), MiRah tergolong cepat beradaptasi dengan sepeda jenis tersebut. Sedikit berbeda dengan saudara yang sepantaran dengannya, masih suka menggunakan sepeda roda tiga ketimbang mencoba sepeda yang kerap digunakan MiRah.

Bisa ditebak, ketika semua saudaranya bergembira bersepeda, MiRah langsung minta dibelikan.

Sebetulnya ada banyak pilihan jenis sepeda yang kami tawarkan pada MiRah. Dari yang ada bonekanya, keranjang, dengan setang lurus sampai pada akhirnya MiRah memilih tipe Strawberry dari produk milik Wimcycle. Padahal secara ukuran, MiRah masih belum mampu menjangkau sadel –tempat duduk- sehingga terkadang memerlukan bantuan kami untuk menaiki maupun turun dari sepedanya tersebut.

Hanya berselang satu bulan, MiRah kini sudah mulai pintar menggunakannya. Jika pada awalnya ia hanya bisa berputar-putar pada satu tempat, kini sudah bisa mengitari halaman rumah. Bahkan beberapa hari terakhir, ia sudah menemukan cara untuk mencapai sadel tanpa bantuan juga turun dengan sempurna.

Sebagai anak-anak, MiRah rupanya sama nakalnya dengan yang lain. Walau sudah kami ingatkan, kerap ia membunyikan bel sepeda dimalam hari atau pagi buta hingga mengejutkan mereka yang sedang beristirahat. Kalau sudah begini, MiRah Cuma bisa nyengir. Hihihi…

MiRah GayatriDewi dan aksi ULang Tahun yang ke-2

2

Category : tentang Buah Hati

…berikut beberapa skrinsyut MiRah GayatriDewi dalam aksi bersemangatnya merayakan ULang Tahun yang ke-2 bersama Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek…

MiRah dengan gaya 2 jarinya…

…MiRah berpose bareng Kakek NeNek…

…testing by MiRah… :p

…bersemangat menyanyikan lagu SeLamat ULang Tahun, favoritnya…

…and at last… maem kue ULang Tahun yang dinanti” sedari sore… :p

MiRah GayatriDewi sudah 15 bulan loh

1

Category : tentang Buah Hati

Hmmm…. Sepertinya cerita tentang Putri kecil kami ini tak pernah habis untuk dituliskan dalam BLoG. Mungkin bagi orang lain akan terasa membosankan, sebaliknya bagi kami, tumbung kembang malaikat kecil kami ini akan terasa seperti menyaksikan keajaiban dari Tuhan.

Sebuah buku dari ‘Parents Guide’ yang pernah saya baca mengatakan bahwa tumbuh kembang anak bukanlah sebuah kompetisi yang harus dikejar dari setiap anak berusia sama. Masing-masing memiliki atau membawa karakternya masing-masing. Maka tidak heran jika ada yang begini ada pula yang begitu. Kami berdua selalu berusaha menanamkan pengertian tersebut pada setiap orang yang membanding-bandingkan kemajuan yang dialami putri kecil kami dengan putra putri mereka.

Kurang lebih dalam waktu seminggu kedepan, usia MiRah sudah mencapai angka 15 bulan. Satu usia yang kabarnya sudah cukup mapan untuk bisa berjalan dengan kedua kakinya. Akan tetapi putri kami yang memiliki badan tergolong bongsor ini agaknya masih kesulitan untuk itu, masih memerlukan bantuan kami untuk ikut memegangnya.

Kemajuan si kecil lainnya adalah adanya 8 gigi depan dan bakal gigi geraham (kalo ndak salah) yang membuatnya kini sudah bisa maem sendiri. ia mulai kebiasaan ini dengan menggunakan kedua tangannya untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya. Diantara sekian banyak jenis makanan, yang paling ia sukai adalah nasi dan krupuk. Termasuk krupuk Rambak Sapi Melu-nya Mas Hendra. He…

maem-mirah

Ngomong-ngomong tentang kerupuk, yang makin membuat kami geregetan yakni saat MiRah dituntun untuk berjalan, ia selalu meminta kami menuntunnya ke warung depan rumah, dan selanjutnya ia tinggal mengatakan “…puk…” untuk meminta krupuk kesukaannya pada Ibu dagang. Weleh-weleh….

Selain itu, putri kami lebih menyukai makanan tradisional ketimbang modern. Ia lebih menyukai kerupuk biasa, ketimbang snack macam Chitato atau sejenis Chiki. Ia juga lebih menyukai jajan uli dan begina ketimbang kue bolu. Ubi juga merupakan salah satu makanan favoritnya ketimbang sosis. Itu sebabnya kami tidak terlalu kesulitan untuk memberinya makan. MiRah pun sudah mulai bisa memegang minumnya sendiri, dari susu botol juga air dalam gelas kecilnya.

Berkat didikan dari banyak orang –ibu, nenek juga kakak-kakak sepupunya- MiRah sudah mulai menirukan apa yang kami katakan, walau hanya satu suku kata terakhir. Mulai dari kata-kata umum seperti ibu, bapak, ninik, kakek, ubi, dan lainnya, hingga ke nyanyian anak-anak seperti ‘naik kereta api, ‘hujan, ‘topi saya bundar, dan lainnya. Sengaja kami tidak memperkenalkan lagu-lagu gaul dan trend kaum remaja agar putri kami tidak menjadi dewasa sebelum saatnya. Huahahaha….

Mainan MiRah bisa dikatakan kelewat sederhana ketimbang ketiga kakak (langsung) sepupunya. Anak dari kedua kakak saya. Selain boneka pemberian saya, Kakek dan juga sepupu-sepupu jauhnya, MiRah hanya memiliki beberapa biji miniset alat masak, bulat-bulatan donat yang bisa disusun berdasarkan besarannya, juga benda-benda yang menarik perhatiannya seperti bunga kayu yang biasanya menghias meja tamu kami, kotak kecil (box) kopi Good Day, atau buku-buku koleksi Intisari milik Kakeknya.

Pelan-pelan MiRah kami kenalkan dengan majalah, koran dan buku-buku yang ada gambar-gambarnya. Dari semua itu, MiRah mulai mengenal mana yang namanya mobil (istilahnya -bak bung- karena suara mobil itu bung bung bung…) mana pula yang namanya motor. Tapi ya itu, MiRah baru bisa mengucapkan suku kata terakhirnya saja. Untuk itu, kami selaku pengasuh tetap dituntut untuk bisa mengerti apa yang MiRah maksudkan saat berbicara dengannya.

coretan-mirah

Ngomong-ngomong tentang bicara, MiRah juga sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit kata-kata yang kami ucapkan atau permintaan yang kami sampaikan padanya. Mulai dari kencing sebelum bobo (agar MiRah tidak ngompol nantinya), menghabiskan maem, duduk menunggu dan lainnya.

Berhubung MiRah lahir di tengah Kota Denpasar, praktis ia belum banyak mengenal jenis binatang yang familiar dengan kehidupan kami. Untuk itu, setiap hari Sabtu Minggu, kami selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampung di Canggu, dimana ia bisa mengenal beragam hewan dari ayam, bebek, sapi, babi, burung hingga capung. Maklum, dirumah kami hanya ada cecak, semut, tikus dan kupu-kupu.

Kakek adalah pengasuh favoritnya saat pagi dan sore menjelang. Kakek selalu dipanggilnya untuk meminta diputarkan video Tari Bali. Tarian favoritnya adalah Tari Jauk Keras. Untuk hal ini, MiRah selalu mengatakan “…gel…” untuk kata ‘ngigel’ –menari- dan meminta “…uk…” untuk Tari Jauk. Jika sudah begini, secara reflek MiRah akan menarikan kedua tangannya menirukan gerakan tari.

Ah MiRah… Rasanya tak kan habis cerita keajaiban tentang dirimu Nak….