Tips (Nekat) Minimkan Lelet Lag pada ponsel Android

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa kawan yang membeli Android kerap mengeluhkan kinerja ponsel yang lelet, meski ponsel dalam kondisi standby ndak dipake. Kenapa bisa begitu ?

Karena secara bawaan, ada beberapa aplikasi yang dijalankan meski ponsel tak digunakan. Bisa dipantau dari menu Pengaturan, Manajer Aplikasi.
Dari situ bisa diketahui, beberapa aplikasi yang memang dijalankan secara default oleh ponsel bergantung pada vendor.

Nyaris ndak ada yang bisa dilakukan utk mencegah leletnya ponsel Android, karena secara bawaan sisa RAM yang bisa digunakan paling sekitar 30%an.
Jika ada yang berbagi Tips dengan menghentikan aplikasi melalui Task Manager atau memanfaatkan aplikasi tambahan, kelak tetap saja aplikasi tersebut akan aktif lagi.

Ini salah satu kekurangan atau efek samping kemampuan Multitasking yang dimiliki oleh ponsel Android. Beda dengan iOS atau iPhone versi awal.

Maka itu, meski besaran RAM yang disediakan sampe hitungan GB, tetep saja satu saat ponsel bakalan mengalami lag. Ini pengalaman pribadi loh.
Meski demikian, sejauh ini ada juga satu upaya yang kerap saya coba lakukan untuk mengurangi konsumsi RAM dengan harapan meminimalkan lelet.
Mau tau?

Yaitu dengan cara menonaktifkan aplikasi ataupun fitur bawaan ponsel utamanya, yang kedapatan berjalan meski ponsel dalam kondisi standby.
Cara ini cukup beresiko bagi pengguna Android Pemula. Tapi kalo paham fungsi apps atau fitur dimaksud, bisa lebih aman kira-kira. Hehehe…

disable-apps-android-pande-baik

Coba akses Menu Pengaturan (Setting), Manajer Aplikasi (Apps Manager), geser ke kiri, cari Tab ‘All’.
Akses menu ini Kemungkinan berbeda di ponsel kalian.
Secara Default, Tab ‘All’ akan ada pada urutan paling kanan, dan menampilkan semua Aplikasi juga System ponsel Android.
Dari daftar Aplikasi dan Sistem bawaan ponsel Android tersebut, ada beberapa bawaan yang bisa diNonAktifkan, ada juga yang Ndak Bisa…

Untuk yang sekiranya tidak kalian butuhkan, bisa diNonAktifkan untuk sementara, sambil melihat efek samping yang diakibatkan.

Misalkan saja seperti beberapa fitur bawaan Google sebagaimana gambar yang saya NonAktifkan.
Dan beberapa diantaranya merupakan aplikasi yang sebelumnya dijalankan secara default saat ponsel standby.

Dengan meNonAktifkan beberapa aplikasi yang sebelumnya berjalan, selain mampu mengurangi beban RAM, juga menambah sisa Internal Storage ponsel ?
Cara ini juga bisa ditempuh apabila ponsel terpantau Lelet akibat kehabisan space Internal Storage, karena terlalu banyak Aplikasi yang diinstalasi.

Akan tetapi ada juga kehabisan space sisa Internal Storage akibat penggunaan aplikasi berkapasitas besar yang kerap menyimpan cache.
Misalkan Games, FaceBook atau aplikasi lainnya yang bisa disegarkan kembali dengan menghapus Cache didalamnya.

Hanya saja ketika aksi penghapusan Cache Games/Apps dilakukan, biasanya akan terjadi aktifitas Log Out dari akun yang digunakan. Jadi hati-hati.

Pengalaman mengenaskan kemarin pas nyoba menghapus Cache aplikasi Chat BBM. Setelah Sukses dan mencoba akses aplikasi, ternyata…
Akun BBM Log Out, malah lupa email mana yang digunakan dan sialnya lupa juga passwordnya apaan. Alhasil ndak berhasil dibalikin ?

Balik ke upaya mengurangi leletnya kinerja ponsel, cara tadi setidaknya mampu memberi kinerja yang lebih baik pada beberapa ponsel percobaan.
Salah satunya HTC One V yang cuma didukung RAM 512 MB dengan sisa sekitar 100 MB defaultnya.
Juga Samsung Galaxy Tab 7+, perangkat lama yang masih menggunakan prosesor Dual Core dan RAM 1 GB.

Dulu sempat mangkel pas make Samsung Galaxy Note 3 yang meski dah menggunakan prosesor Delapan Inti dan RAM 3 GB, tetep aja lag pas ngeTweet.
Tapi setelah dicobain upaya tadi, udah mulai jarang lag lagi termasuk Hisense PureShot+ dan AndroMax E2+ yang punya RAM ‘cuma’ 2 GB ?

Fitur lain yang sekiranya bisa diNonAktifkan lagi di luar Aplikasi tadi adalah fitur bawaan Operator, siapa tahu beda jaringan yg digunakan.
Termasuk Live Wallpaper, kontak dengan perangkat keras lain seperti printer, tv, dan lainnya yang sekiranya memang Tidak Dibutuhkan.

Untuk beberapa vendor ponsel yang dikenal dengan User Interface (launcher) tertentu yg memberatkan kinerja ponsel bisa ganti dengan yang lebih ringan.
Launcher model ini bisa dimanfaatkan sebagai pengganti UI ponsel bawaan. Ndak bisa diganti permanen tapinya.

Kirakira itu yang bisa saya bantu terkait leletnya kinerja ponsel meski dalam kondisi standy tak digunakan. Lain kali disambung lagi.

Sebelum berganti topik, tetap hati-hati kalo mau nyoba tips tadi. Pasti ada resikonya, jadi backup selalu semua akun email beserta password ?

Unboxing AndroMax A, ponsel Android 4G LTE (paling) Murah untuk Semua

Category : tentang TeKnoLoGi

Pada tulisan pertama terkait AndroMax A kemarin, sudah disampaikan bagaimana kesan pertama yang bisa ditangkap baik secara visual perwajahan luar hingga dalemannya. Namun rasanya kurang lengkap kalo belum menyajikan gambar per gambar tampilan dari ponsel seharga Rp. 649.000 ini.
Simak ya.

Unboxing paket penjualan, dari kartu garansi, petunjuk penggunaan, kartu SmartFren berukuran micro berjaringan 4G LTE, earphone, kabel data sekaligus charger dan tentu saja ponsel dengan batere yang dapat dilepas.

Unboxing Android A PanDe Baik 7

Pada layar depan, terdapat lembar stiker penutup layar yang dapat difungsikan sebagai pelindung, untuk mencegah permukaan dikotori oleh sidik jari. berhubung biasanya ponsel baru tergolong susah untuk bisa menemukan screen guard spesifik.

Tampilan Menu dan Layar Depan menggunakan User Interface Trebuchet, sebagai pengaturan defaultnya.

Unboxing Android A PanDe Baik 1

Menu Pengaturan dan Gesture. Bisa diaktifkan untuk mengakses fitur tertentu dari layar dalam posisi nonaktif.

Unboxing Android A PanDe Baik 2

Pengaturan Kamera baik depan maupun belakang, sama sama memiliki resolusi 5 MP namun hanya sisi belakang saja yang dibekali lampu LED Flash. Plus Pengaturan Suara yang rupanya mengadopsi teknologi Snapdragon Audio+ untuk kualitas suara yang lebih baik saat mendengarkan musik ataupun menonton Video.

Unboxing Android A PanDe Baik 3

Terakhir ada Menu Pembaharuan dan fitur Black List. Bisa ditemukan pada opsi Panggilan perangkat.

Unboxing Android A PanDe Baik 4

Untuk kecepatan benchmarking perangkat rasanya ndak perlu sejauh itu saya sampaikan, pula uji jaringan SmartFren 4G LTE kan ya ?
Toh di tulisan sebelumnya, karena seri A masih mirip dengan spesifikasi E2, sempat pula saya sampaikan jauh lebih detail.

Android E2, Standar tapi Menarik

Category : tentang TeKnoLoGi

Dengan harga jual yang tergolong murah, berada di angka Rp 899.000, sebenarnya tak banyak harapan yang saya berikan pada kehadiran Andromax E2. Apalagi melihat para kompetitor yang bermain di tentang harga yang sama.

Soal Prosesor Qualcomm Quad Core 32 bit, bolehlah dikatakan sudah menjadi Standar baku ponsel Android masa kini. Begitu pula dengan memory RAM 1 GB. Minimal sudah mampu menjalankan beberapa games yang boros space macam Fifa. Apalagi soal kamera 5 MP yang disematkan pada punggung dan depan ponsel seakan sudah wajib dibekali mengingat Trend Selfie makin deras dilakoni konsumen smartphone.
Lalu hal menarik apa yang ditawarkan oleh SmartFren dengan bekerjasama bareng Haier saat ini ?

PanDe Baik AndroMax E2 07

Apalagi kalau bukan akses jaringan 4G LTE, dan teknologi Voice Call memanfaatkan jaringan tersebut yang dinamakan VoLTE.

Jaringan 4G sebenarnya sudah lama digaungkan. Namun fakta lapangannya baru per tahun lalu mulai ramai dibicarakan dan diadopsi oleh berbagai operator negeri ini diantaranya SmartFren. Bisa dipantau di tulisan saya sebelumnya.

Sedangkan untuk teknologi yang dinamakan VoLTE bisa dikatakan merupakan teknologi lama semacam Skype, Viber dan lainnya yang mampu menyajikan komunikasi Video Call antar pengguna maupun Voice murni dengan kejernihan suara yang dihasilkannya.
Kenapa bisa begitu ?

Karena fitur Voice Over LTE ini akan memanfaatkan kecepatan optimal jaringan 4G LTE yang ditangkap dari area sekitar, dan pada saat yang sama dapat pula digunakan untuk aktifitas Internet (download) dengan kecepatan yang sama pula. Info lainnya dari VoLTE ini adalah kemampuannya untuk berpindah fitur antar layanan Voice ke Video Call, begitupun sebaliknya.

Hanya saja, fitur ini baru bisa dimanfaatkan apabila pada area notifikasi atau sisi atas layar ponsel terpantau dan tersedia jaringan 4G LTE. Disajikan dengan logo atau tulisan dimaksud.

PanDe Baik AndroMax E2 True

Selain menawarkan teknologi VoLTE tadi, khusus untuk pengguna Andromax E2 maupun R2, ponsel yang ditawarkan dengan spesifikasi dan harga jual yang lebih tinggi, sama-sama memiliki keuntungan memanfaatkan paket data True Unlimited dengan biaya Rp 75.000 sebulan, tanpa batas FUP. Info lengkap paket ini dan pengalamannya bisa dibaca pula di postingan lama saya di blog ini.
Hanya sayangnya, untuk paket True Unlimited yang diPromosikan sejak November tahun lalu hanya berlaku selama 6 bulan saja, yang notabene akan jatuh pada bulan April depan. Belum ada informasi resmi dari SmartFren apakah paket ini akan dilanjutkan atau tidak. Jadi ya sebetulnya nanggung juga sih…
Sedangkan untuk satu minggu pertama sejak aktivasi, pengguna diberikan Bonus paket data sebesar 2 GB + 6 GB tanpa penambahan pulsa sepeserpun.

Ohya, selain harga, spesifikasi dan penawaran diatas, hal lain yang perlu diketahui sebelum menjatuhkan pilihan pada Andromax E2 adalah resolusi layar yang tergolong standar yaitu 854×480 pixel dengan ukuran 4,5 inchi, kemudian dari 1 GB memory RAM yang bisa digunakan hanyalah kisaran 445 MB saja, serta memory ROM sebesar 8 GB yang hanya dapat dimanfaatkan sebesar 4 GB saja untuk data dan galeri.

PanDe Baik AndroMax E2 Basic

Dari pengujian kecepatan dan kinerja dengan menggunakan aplikasi Antutu Benchmark, Android E2 mampu hadir pada poin 21117 dibawah Lenovo K3 Note, LG G4 dan Google Nexus 6.
Sedangkan saat dilakukan pengujian dengan aplikasi Quadrant, hasil yang disajikan adalah 1533 dibawah Galaxy Nexus dan Nexus S.
Terakhir dengan menggunakan aplikasi Geekbench, hasil pengukuran kinerja juga serupa. Yaitu 1117 setara Galaxy S III dan Motorola G juga X.

PanDe Baik AndroMax E2 Antutu

PanDe Baik AndroMax E2 Quadrant

PanDe Baik AndroMax E2 GeekBench

Dengan kapasitas batere yang pula masih tergolong standar, kalo ndak salah 2000 mAh, daya tahan dalam memanfaatkan jaringan cepat 4G LTE nya pun gak sampe seharian. Jadi bisa menyiapkan power bank tambahan kalo mau dibawa kemana-mana.

Bagi kalian yang menginginkan ponsel murah dan terjangkau namun punya fitur menggiurkan macam jaringan 4G LTE dan paket data Unlimited tadi, bisa mencoba AndroMax E2. Apalagi kalo difungsikan sebagai Hotspot dengan kemampuan Tetheringnya, anggap saja ini seperti membeli sebuah modem dengan bonus telepon komunikasi. Menarik bukan ?

Samsung Android and Me

Category : tentang TeKnoLoGi

Sekalikali pengen #ngAndroid nok. Tapi referensi kayanya gak berkembangkembang karena kini jarang baca info #Android.

Taunya cuma Samsung. Ya karena dirumah pakenya ada 4 produk Galaxy series. Tab 7+ dipake si Intan, Tab 3V milik si Mirah, Note 2 si ibu dan Note 3 si bapak. Syukur Note 3 Neo nya dah laku tempo hari, coba kalo ndak ? Ada 5 deh. diReplace @HisenseID #Pureshot+ nya…

Setia dengan Samsung karena suka dengan operasionalnya yang ndak ribet. Juga shared memory nya asyik. Ndak perlu root lagi deh. Tapi ini sepertinya berlaku buat Samsung #Android yang pake 1 GB RAM yah. Tapinya kini masih ada ndak yang dibekali RAM dibawah itu ?

Meski demikian, ada 2 hal yang saya benci dari Samsung. Mahal… dan Terlalu banyak Varian. Ini mirip Nokia di era Symbian 60 terdahulu.
Rahman Nemo #019 @Rahmanizr @pandebaik banyak varian yang mirip mirip ? asus sudah on the track nih… awas pasar jenuh… > Terutama Asus Zenfone 2 ada banyak variannya kalo ndak salah… beda di RAM > Rahman Nemo #019 @Rahmanizr @pandebaik iya banyak banget ? beda nomer seri 500KG, 500kl , 550, 551 ? mumet…

Ngomongin Samsung, seri pertama dibeli itu Galaxy Ace S5830 2011an awal. Trus ganti pake Tab 7+ di 2012an awal. Trus selang dua tahun ambil Galaxy Note 3. Sementara seri terakhir 3V dibeli setaun lalu kalo ndak salah.

Berbekal pengalaman menggunakan ponsel #Android merek lain macam HTC, Sony, Nokia, HP dan AccessGo, jadinya milih tetep setia dengan Samsung. Meski setelah kenal dengan @HisenseID lantaran ada bonus paket 4G LTE nya @smartfrenworld, ponsel Samsung jadi jarang dibawa kemanamana ? . Meski untuk aktifitas menulis draft blog hingga publikasi, juga ngeTweet kaya gini, masih lebih nyaman pake Samsung. Keyboardnya nyaman

Berbekal pengalaman pake Samsung Galaxy Note 3 dan @HisenseID #Pureshot+ jujur aja jadi mikir buat beli ponsel yang kategori nanggung. Mending duitnya ditabung sekalian, trus diambilkan seri Flagship dengan spek terkini, biar ndak nyesel dan lama dipakenya. Tapi tentu ya musti dijagain juga biar ndak remuk dibanting atau diinjek si kecil ? Apalagi nyemplung air, atau hilang. Weleh kasian uangnya.

Sejauh ini pengalaman ponsel sendiri sampe ringsek dan gak bisa dipake lagi belum pernah sih. Tapinya Tab 7+ yang dibawa Intan dah retak ? . Garagaranya si Intan mangkel sama baba-nya *sebutan untuk Tab 7+ yang dihibahkan ke ybs, trus diinjek dan diduduki. Ancur dah layar depannya.

Tapi saran untuk sekalian ambil ponsel flagship ya khusus untuk dipake pribadi loh ya. Untuk anakanak mah cari yg murmer tapi RAM 1 GB lah. Kalo yang anakanak biar puas ngeGame carikan spek tambahan internal memory 8 GB, kalo bisa sih 16 GB. Gak rekomend yg dibawah itu…

Trus karena saya sukanya Samsung, untuk seri Flagship sepertinya cuma ngeh dengan Note series nya aja. Selainnya enggak deh kayanya. Apalagi Galaxy S series, spek masih tergolong nanggung kalo disanding dengan Note, disamping itu ya jauh lebih mahal pula.

Dari Note series pasca 3, yang menarik seperti seri 4 sementara ini, karena seri 5 kabarnya ndak support eksternal memory. Bener gak sih ? Tapi infonya Note 5 ini ada yang 128 GB ya internalnya ? Itu berapaan harganya ya ? Ngeri ngebayanginnya. Setara motor kali ya ?

Rasanya sejauh ini secara harga Note 4 ditambah microSD 64 GB sudah lumayan buat nyimpen 50an film 720p ? ketimbang Note 5 ? . Tapi ya sutralah… ini cuma iseng ngeTweet aja. Kalikali ada yang mau nyumbangin Note series ke saya nanti *uhuk

Tapi masih nyambung soal Samsung #Android tadi sempat mupeng dengan Galaxy Gear S2 classic. Mirip Huaweii di cover @tabloidpulsa kemarin. Saya mah masih suka tampilan jam tangan klasik dengan wajah bulet dan strap logam. Biar saru ? kali aja pas lagi dilirik pak Ahok.

Cuma kalo buat beli jam tangan dengan harga segitu, plus musti rajin charge, rasanya kasian uangnya… bukan orang kayah soalnya… Mending beli jam KaWe satu lah, duaratustigaratusan dapet tapi umurnya setahun doang, duluan jamuran karena keringet ?

Eh ngomong ngomong dari tadi ngeTweet rasanya cuma satu akun aja yang nanggepin. Si @Rahmanizr ? . mosok follower seribu yg komen cuma satu ? Bisa jadi dari kualitas tweet saia masih kalah jauh dengan akun @blogdokter @wakilgubernurKW apalagi si @victorkamang yg doyan ngelucuk itu. > Rahman Nemo #019 @Rahmanizr @pandebaik hahaha mungkin followernya sudah pada hijrah ke facebook lagi ??? > Ya… akun twitter selama ini suka sok serius, terlalu berat buat dipantengin di jam senggang ?

He… abaikan 2 tweet terakhir tadi. Cuma becanda kok… Tapi yang paling awal, itu tetep #BaliTolakReklamasi ya. Yang dukung, ya nanti… ?

Sekalikali menuhin TL kalian di Twitter. Biar gak bosen baca akun orang aja dari setaun ini ? . Pak RK apa kabarnya ?

ngTweet panjang bisa, nulisin Blog kok malah susah ? Dilema terlena pada Sosmed. Duh !

eh Masih ngeBlog kan ya ? @baliblogger @bali_blogger

Android Devices makin menggila

Category : tentang TeKnoLoGi

Lama gak memantau berita perkembangan sistem operasi terFavorit disela kesibukan kerja dan keluarga, malah jadi kaget pas baca dua Tabloid ponsel yang masih eksis hingga kini, Pulsa dan Sinyal.

Bukan apa-apa sih, tapi pasca pilihan ke Note 3 dua tahun lalu memang bikin gak terlalu minat buat melirik perangkat Android lainnya baik ponsel maupun tablet pc, baik merek besar hingga nubie, lantaran sudah merasa cukup dengan kemampuan yang diberikan. Hanya sesekali ya menuliskan hal-hal baru yang sekiranya menarik bagi orang lain, agar dapat diketahui dengan cepat.

Sebut saja Samsung.
Merek asal Korea ini tampaknya makin mengekor kesuksesan Nokia satu dekade lalu. Saat mereka masih jaya lewat ponsel Symbian dengan merilis puluhan seri yang serupa namun tak sama, juga melepas dengan spesifikasi yang tak jauh beda. Yang hebatnya, masuk dalam pangsa pasar di semua lini.
Akal Nokia dengan membuat banyak varian penamaan juga diikuti plek. Setelah kita familiar dengan seri S, Galaxy atau Note, kini ada seri A, J, E, On atau Grand. Bagi yang gak mengikuti perkembangan Samsung dijamin bakalan bingung saat dimintakan rekomendasinya.

Meski tak serakus Samsung dalam upaya merebut pasar Android Devices, Sony, LG bahkan HTC tampaknya masih jugs tetap setia menggelontorkan seri-seri ternama mereka melanjutkan sukses yang pernah diraih sebelumnya. Katakanlah ada seri Z nya XPeria, seri G nya LG atau One series nya HTC. Meluncur dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda satu sama lainnya.

Berusaha bermain aman di kecepatan Quad Core, 1 GB RAM dan 8 GB internal Storage, atau bersaing di ranah flagship 3 GB RAM dengan harga jual terjangkau ketimbang brand korea tadi.

Pangsa ini bahkan kini telah dipenuhi oleh merek-merek kenamaan yang lebih dulu jaya di kancah personal komputer. Ada Acer, Lenovo, HP bahkan Asus.
Nama terakhir ini bahkan jauh lebih getol dari kawan seangkatannya dengan rajin merilis ponsel-ponsel dengan spek menggiurkan dan dalam varian yang berbeda baik dari besaran internal storage yang ditanamkan, juga RAM untuk dapat memproses aplikasi dengan cepat.

Sementara merek lokal tampaknya memang jauh lebih menggila. Mereka berani tampil dengan menggunakan spesifikasi perangkat yang tak jauh berbeda namun dengan harga yang lebih murah. Tentu ada pertimbangannya di balik itu semua, misalkan mengganti jenis prosesor yang disematkan dengan buatan China yang biayanya jauh lebih murah.
Meski begitu, di era kekinian dimana Google selaku pengembang sistem operasi Android, mulai berupaya mengenalkan ponsel murah pada konsumen  dunia, tampaknya sudah tak ada keraguan lagi bagi mereka yang ingin memiliki perangkat Android tanpa perlu khawatir dengan pilihan Update baik untuk aplikasi maupun sistemnya sendiri.

Maka tidak heran, jika belakangan perangkat Android tampak makin menguasai pasar dibanding para pesaingnya. Sedikitnya 82% sebagaimana dilansir halaman IDC perangkat berbasis Android mengambil kue pada quartal kedua tahun 2015 ini. Turun sedikit ketimbang tahun lalu.
Penurunan ini kelihatannya merupakan imbas dari pindahnya para pengguna Android ke iOS Apple seiring dirilisnya seri 6 yang meskipun secara harga jauh lebih tinggi namun informasinya jauh lebih stabil secara aplikasi.

Hisense Pureshot, Android (real) 4G dengan Kamera mengagumkan

Category : tentang TeKnoLoGi

Kelihatannya belum banyak yang dapat menjadi pilihan di pasar Indonesia setidaknya untuk saat ini, ponsel Android berjaringan 4G yang dapat digunakan atau kompatibel dengan seluruh operator. Tidak heran jika Hisense lewat produk canggih terbaru mereka Pureshot series mengklaim sebagai ponsel pertama yang mampu melakukannya. Untuk mendukung hal ini Hisense menyematkan jaringan 2G, 3G maupun 4G, yaitu WCDMA 2100Mhz, GSM 900/1800Mhz, CDMA EVDO 850Mhz, 1x 800 Mhz, TDD B40 serta FDD B2, B3, B5, B8 dan B26. Ditambah fitur Dual SIM, Pureshot series bisa digunakan untuk kartu GSM dan CDMA sekaligus.

Dilihat dari penampilan, Hisense Pureshot tampaknya ingin menonjolkan kesan elegan dengan menyajikan sisi sudut yang melengkung pada layar depan, minim tombol fisik di permukaan serta tipisnya bodi ponsel yang nyaris menyamai beberapa produk flagship brand lainnya. Terdapat tiga tombol utama di sisi kanan ponsel yang berfungsi untuk Power serta Volume, yang dapat dimanfaatkan untuk fungsi tambahan lainnya seperti End Call atau Zooming kamera. Dengan tiadanya tombol fisik di permukaan layar, berganti dengan tiga tombol sentuh yang berfungsi sebagai Home, Undo dan Multitasking. Tidak ada yang berfungsi sebagai Pilihan dalam beberapa aplikasi aktif, sebagaimana ponsel Android lainnya.

Hisense Pureshot PanDe Baik

Jika ponsel lain yang rata-rata menempatkan lubang speaker di sisi belakang ponsel, Hisense Pureshot menaruhnya di sisi bawah tepatnya di kanan dan kiri slot charger agar suara ringtone ataupun notifikasi lainnya yang masuk, terdengar lebih jelas bahkan saat ponsel disimpan di atas meja maupun disimpan dalam saku. Tidak hanya itu, Hisense juga memanfaatkan teknologi Dual Silicon Microphone, untuk menghasilkan suara terbaik dan noise reduce, sehingga saat kalian menelpon suara jadi lebih jernih dan mampu meredam noise dari luar.

Masih soal speaker, saat diuji coba dengan memutar beberapa file Musik, suara yang dihasilkan tergolong keras. Sayangnya dalam aplikasi pemutar musik tidak ditemukan opsi untuk mengatur keluaran suara laiknya ponsel lain. Namun jangan khawatir, karena perangkat Hisense tampaknya menempatkan fungsi tersebut dalam menu khusus di Dolby Audio, yang digandeng untuk memberikan kualitas suara sinematik di berbagai kebutuhan pengguna. Jadi ceritanya terdapat pengaturan lanjutan yang akan memungkinkan kalian menikmati kualitas suara yang berbeda, saat memainkan games, memutar musik, menonton video atau berbicara. Keren kan ? Uniknya lagi, terdapat opsi untuk mematikan musik secara otomatis atau yang biasanya dikenal dengan Sleep Mode pada perangkat televisi atau layar pc.

Menilik spesifikasi Hisense Pureshot+ HS-L695, tampaknya memang diperuntukkan bagi mereka yang menginginkan produk flagship dengan harga menengah. Menggunakan jeroan Octa Core atau prosesor delapan inti 1,3 MHz 64 bit, dikombinasi dengan 2 GB RAM dan 16 GB Internal Storage plus dukungan Eksternal hingga 128 GB, sudah menjadi satu jaminan mutu akan gegasnya kinerja yang diuji melalui aplikasi Antutu Benchmark. Hasilnya lumayan, berada tepat dibawah perangkat Samsung Galaxy Note 4, Asus Zenfone 2, LG G4 dan Meizu MX5, dengan score sebesar 33.559.

UI

Sebagaimana ponsel Android terkini lainnya, Hisense Pureshot series sudah menggunakan versi 5.0.2 Lollipop dengan dukungan Vision User Interface yang secara penyajian tampilan icon menyerupai iOS milik iPhone. Meniadakan Menu Aplikasi dan menggeber semuanya di halaman depan. Meskipun dalam pengaturan terdapat opsi Hide Apps untuk menyembunyikan icon aplikasi yang tidak penting, sayangnya proses Alignment atau pengaturan icon pasca pemindahan harus dilakukan secara manual.

Terdapat beberapa aplikasi bawaan yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut diantaranya, (1) Smartcall yang berfungsi untuk melakukan panggilan dengan memanfaatkan paket data layaknya Skype, dimana pasca instalasi kalian akan diberikan sebuah nomor prepaid yang dapat dihubungi balik tanpa harus memaksa lawan bicara menginstalasi aplikasi yang sama, meski dengan ponsel jadul sekalipun ; (2) Calendar dengan fungsi agenda dan memiliki tampilan icon laiknya iOS, berubah sesuai penanggalan dan hari ; (3) PlayBoard, sebuah aplikasi yang menyediakan beragam pilihan aplikasi menarik, termasuk sebagai fungsi sharing apabila kalian membuat satu diantaranya ; (4) TouchPal untuk melakukan kustomisasi pada keyboard bawaan, serta pengaturan lanjutan yang berkaitan dengan inputting perangkat ; serta (5) Firewall yang berfungsi untuk memberikan aspek keamanan berupa pemblokiran nomor telepon yang dianggap mengganggu baik secara voice maupun test messages.

Untuk memuaskan hasrat Selfie bagi pengguna ponsel belakangan ini, Hisense Pureshot series siap memanjakan kalian dengan dua kamera resolusi besar berkualitas mengagumkan. 13 Megapixel di sisi belakang dan 5 Megapixel di sisi depan. Terdapat bantuan lampu kilat/flash yang ditempatkan di sebelah masing-masing lensa kamera, seakan menguatkan harapan pengguna untuk mendapatkan hasil terbaik. Berikut hasil tangkapan kamera belakang Hisense, yang jika boleh disandingkan dengan hasil tangkapan kamera dengan resolusi sama milik Samsung Galaxy Note 3.

Foto

Hadir dalam dua varian ukuran layar yaitu 5” dan 5,5” dengan resolusi standar, Hisense Pureshot series ini sudah dapat ditemukan pada gerai selular terdekat di kota kalian, dengan harga yang cukup terjangkau. 2,7 juta untuk varian layar 5” dan 3,2 Juta untuk varian 5,5”. Dalam paket penjualannya terdapat sebuah earphone standar serta colokan charger yang terpisah dengan kabel sehingga dapat dimanfaatkan pula untuk kebutuhan data melalui pc. Yang menarik bahwa perangkat Hisense Pureshot+ HS-L695 ini hadir dengan bundling nomor Smartfren jaringan 4G yang menawarkan paket data sejumlah 2 GB + 6 GB, berlaku selama 7 hari setelah masa aktif kartu. Untuk melihatnya, kalian bisa memanfaatkan aplikasi My Smartfren Info yang ada di Google Play Store. Sedangkan untuk Uji Coba kecepatan akses data Smartfren 4G ini akan disampaikan dalam tulisan terpisah. Jadi tunggu yah lanjutannya.

Paket Data

Hisense, Pendatang Baru di Kancah Android

Category : tentang TeKnoLoGi

Meski saat ini perkembangan sistem operasi besutan Google sudah mencapai tahap stagnan alias tak banyak kemajuan dibandingkan tiga empat tahun lalu, tampaknya masih saja ada peminat baru yang mencoba peruntungannya untuk mencuri pangsa pasar di Indonesia yang sudah sedemikian padat, melebarkan sayap dari negeri China.

Hisense adalah sebuah perusahaan multinasional yang didirikan di kota Qingdao, di pesisir timur China pada tahun 1969. Demikian kalimat pertama yang saya kutip dari halaman resmi Hisense Indonesia. Diceritakan lebih lanjut, bahwa Awalnya Hisense hanya memproduksi radio. (dan) Dengan mengutamakan 4 elemen yaitu: Teknologi, Kualitas, Integritas dan Tanggung Jawab, kini Hisense adalah salah satu Top 5 Perusahaan Elektonik Dunia yang produknya sudah merambah ke Amerika, Eropa, Australia, dan Asia. Tahun 2015 Hisense telah mengakuisisi Sharp di Amerika.

Hisense Android PanDe Baik

Tahun 2009 Hisense tercatat memasuki pasar Indonesia dan memulai kesuksesan bersama operator CDMA. Sejak 2012 Hisense adalah supplier utama produk Andromax – Smartfren dan mencapai penjualan sebanyak 4 juta handset. Kesuksesan ini pun diikuti dengan komitmen dalam menyediakan layanan After Sales yang baik di 13 kota se-Indonesia, yaitu Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Semarang, Bali, Makassar, Palembang dan Medan serta akan menyusul kota besar lainnya.

Menyimak pemaparan singkat Hisense, saya jadi teringat dengan perusahaan serupa dari Taiwan sana, yang awalnya merupakan supplier utama barisan nama besar pengusung perangkat pocketpc berbasis sisstem operasi Windows Mobile maupun Palm yang kemudian dengan sangat ppercaya diri tampil menggunakan namanya sendiri hingga kini masih eksis bersaing di pasar Android.

Nama Hisense sendiri, jujur saya baru tahu. Bisa jadi karena sejak dua tahun terakhir sudah tidak lagi aktif dalam dunia teknologi perponselan. Makanya tadi itu sempat kaget saat mengetahui seorang konsumen di gerai selular ternama di jalan Teuku Umar, menyampaikan kekagumannya pada produk ini. Kebetulan yang ia beli versi Mini dari yang saya pegang saat ini. Banyak bocoran yang ia sampaikan terkait teknologi yang menjadi jualan Hisense. Tapi nanti deh, saya cerita lebih banyak.

Balik ke Hinsense, Tahun 2015 melalui pasar terbuka Indonesia, mereka menghadirkan smartphone canggih dengan teknologi terbarunya 4G LTE. Mau tahu lebih jauh ? Tunggu di tulisan berikut.

Android Ponsel Android

Category : tentang TeKnoLoGi

Lima tahun lalu, saat masih setia mendampingi mentor pengadaan Pak Made Sudarsana bersama Kabag Pembangunan yang kini menjadi Kepala Dinas Cipta Karya ke event event LPSE, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Android dan ponsel Android. Kalo gak salah, perangkat satu ini masih tergolong rilis awal, pionir yang memulai peruntungan dengan menjual sistem operasi besutan Google.

Samsung Galaxy Spica I5700 dengan versi Androidnya, Eclair.

Dibandingkan dengan perangkat yang sedang ngeTrend saat itu, godaan Android jauh lebih menarik hati. Sehingga hanya berselang enam bulan kemudian, saya berkenalan dengan perangkat Android pertama yang dimiliki, Samsung Galaxy Ace S5830. Lewat perangkat inilah, satu persatu tulisan yang ada di halaman Android blog ini lahir dan berkembang lebih jauh.

Empat tahun kemudian, rasa cinta saya pada Android dan ponsel Android ternyata masih utuh, sementara beberapa kawan sudah mulai berpindah ke lain sistem, merasa lebih nyaman dengan iOS besutan Apple. Mengapa ? Mungkin karena fleksibilitasnya yang mudah melakukan aksi ‘copy paste’ ke perangkat lainlah yang membuat kesetiaan itu ada. Meski sempat pula mencicipi iOS yang hingga kini masih saya pegang lewat iPhone 4 cdma.

Android Ponsel

Terhitung belasan perangkat Android yang pernah dicoba dalam periode tersebut. Beberapa diantaranya bahkan masih aktif digunakan hingga hari ini.
– Samsung Galaxy Ace S5830 – dijual kembali
– HTC Flyer milik LPSE – dikembalikan
– HTC One V kenang-kenangan dari HTC Road to Bali – slot sim card rusak, hanya berfungsi layaknya iPod
– Samsung Galaxy Tab 7+ – dihibahkan pada Intan
– Samsung Galaxy Note 10.1 milik LPSE – dikembalikan saat mendapat promosi ke Cipta Karya
– Samsung Galaxy Note II – digunakan Istri hingga kini
– Samsung Galaxy Note III – perangkat utama
– AccessGo 4E – dihibahkan pada ipar
– Nokia X – dihibahkan pada Ibu
– HP Voice Tab 7 – digunakan MiRah
– Samsung Galaxy Note Neo – uji coba aplikasi Pantau
Belum termasuk yang pernah singgah seperti Axioo Pico Pad, Samsung Galaxy Tab 7, Samsung Galaxy Tab 10, Samsung Galaxy Tab 8.9, HTC Sensation XE, Sony XPeria P, Samsung Galaxy Prime, Asus Fonepad 6, Samsung Nexus S, Acer Iconia,  Samsung Galaxy Y, Samsung Galaxy S 5.0 wifi, Samsung Galaxy Tab 7 #2, Samsung Galaxy Pocket, Samsung Galaxy Note, Vandroid T2, Samsung Galaxy Tab 7.7, Cross A20 hingga beberapa Emulator yang diinstalasi pada perangkat PC.

Dari kesemua perangkat yang pernah dijajal tadi, tentu ada satu hal yang kemudian menjadi kesimpulan saat ini. Bahwa apapun perangkatnya, apapun merek dan serinya, Android yang diusung tetap sama. Yang membedakan hanyalah spek hardware yang digunakan dan versi OS dan segala kelebihannya.

Ini mengingatkan saya pada perangkat PocketPC yang satu dasa warsa lalu telah saya kenali lewat beberapa perangkat. Dari T-Mobile, O2, Audiovox dan lainnya. Jadi sebetulnya gak ada kekhawatiran lagi ketika diminta untuk mengeksplorasi sebuah perangkat Android yang berasal dari berbagai vendor tadi.

Akan tetapi makin kesini, ada beberapa standar baku yang kemudian saya tetapkan sebagai syarat minimal dalam pembelian ataupun pemilihan ponsel Android untuk kepuasan bagi si pengguna ponsel kedepannya.

Pertama, besaran Memory RAM Minimal 1 GB. Memang berapapun RAM yang dibekali pada setiap ponsel Android, belum sekalipun saya merasakan memory sisa yang lega. Maksimal kisaran 500 hingga 700 MB, itupun saat ponsel berada dalam posisi standby. Akan tetapi dengan besaran Memory RAM sebesar minimal 1 GB ini, beberapa permainan ataupun aplikasi yang membutuhkan resources besar, saya kira gak akan menjadi satu masalah lagi.

Kedua, besaran memory Internal Storage minimal 16 GB. Bagi yang gemar menginstalasi aplikasi maupun permainan berukuran besar, saya yakin bakalan menemukan kendala penyimpanan saat jumlahnya mencapai belasan. Gak akan muat, sehingga diwajibkan menghapus beberapa aplikasi yang sekiranya tidak terpakai, mengingat secara umum yang saya ketahui, besaran memory Internal Storage akan dibagi dua terlebih dahulu untuk memberikan ruang bagi aplikasi dan data. Sangat lega jika internal Memory yang dimiliki berada pada besaran itu.

Jenis Layar TFT atau lebih baik lagi, Amoled dsb. Silahkan bandingkan dengan layar IPS yang biasanya digunakan pada perangkat Android murah, dari vendor lokal hingga branded macam HP. Saya yakin bagi kalian yang sudah nyaman dengan layar berjenis TFT bakalan merasa terganggu dengan penggunaan IPS, utamanya saat perangkat di lihat dari sudut pandang samping.

Dengan adanya Tiga standar minimal tersebut, saya yakin secara besaran budget yang harus disediakan, memang cukup besar. Namun sebanding dengan kepuasan penggunaan perangkat dengan umur lebih dari setahun. Seperti halnya beberapa perangkat yang hingga kini masih tangguh untuk digunakan. Samsung Tab 7+ dan angkatannya.