Rekomendasi Ponsel Android Batere Besar, Buat Apa ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Lama nda nulis nulis soal rekomendasi Ponsel Android, kali ini saya pengen bikin tulisan terkait besarnya kapasitas batere yang disematkan para vendor demi lamanya daya tahan yang mampu dilakoni guna kepuasan dan kenyamanan penggunaan.

Kenapa ini menjadi penting ?
Karena di jaman serba online, persoalan daya tahan tentu menjadi masalah. Mengingat rata-rata hanya bisa bertahan hingga setengah hari dengan kondisi penggunaan wajar. Jika saja aktifitas ini tidak dibackup dengan ketersediaan Power Bank yang belakangan makin ngeTrend, siap siap saja bakalan kehilangan banyak kesempatan seperti yang saya alami setahun lalu.

Yakin Banget, ini bakalan penting ?
Ya iyalah kalo persoalan ponsel merupakan salah satu sarana untuk mencapai sukses, maka kalian wajib mengikuti rekomendasi saya kali ini.

Ponsel Android dengan batere standar masa kini, kalo nda salah rata-rata dibesut pada kapasitas 3000an mAh. Bahkan ada juga yang sudah ditingkatkan menjadi kisaran 3500 atau 4000an mAh. Akan tetapi, jika ponsel dipergunakan dalam kondisi online penuh seharian, saya jamin ponsel nda akan bisa bertahan hingga waktunya pulang kerja, meskipun daya penuh 100% tercapai di pagi hari. Perlu beberapa trik tambahan agar ponsel bisa sukses melampaui 8 jam kerja dalam sehari, aktifitas standar pekerja kantoran. Misalkan mencuri kesempatan colok kabel data di usb laptop, atau menonaktifkan semua fitur pemakan batere sebagaimana saran dan tips banyak orang.
Tapi ya nda asik kalo begitu caranya…

dan inilah kandidat yang bisa saya sarankan pada kalian.

Samsung Galaxy A9 Pro.
Ponsel pertama yang jadi Rekomendasi ini, merupakan ponsel Android terkini yang saya pegang. Bukan bermaksud promosi atau apa, tapi ya pyas banget menggunakan seri A terlebar dari segi layar dan terbesar dari segi kapasitas baterenya.
5000 mAh.
Kuat berapa lama memangnya ? Seharian.
Ya Seharian…
Berbagi Pengalaman, pagi setengah jam di kamar mandi, prosentase hanya berkurang 1-2% kalo digunakan untuk memantau akun Twitter atau Instagram plus beberapa email. Berkurang hingga 4-5% kalo saya gunakan memutar beberapa video musik sembari membilas diri. Hal yang bakalan habis dua kali lipat bahkan lebih saat menjalani rutinitas dengan ponsel lama.
Adapun fungsi yang diaktifkan pada ponsel yang hanya bisa didapat di gerai EraFone ini adalah Wifi atau Paket Data, Location untuk dukungan Maps dan GPS saat survey, Brightness kecerahan saat berada dibawah sinar matahari, Bluetooth agar tetap tersambung dengan Gear S3 Frontier. Belum cukup ?
Khusus saat berada di kendaraan, biasanya akan tersambung dengan Bluetooth Audio Receiver untuk menikmati musik selama berada di perjalanan.
Hasilnya malam saat saya gunakan sebelum tidur, prosentase batere masih tersisa sekitar 30an persen. Tinggal dicolok dengan kabel charge ‘fast charging’, saat tengah malam terbangun untuk membuatkan susu si bungsu, biasanya sudah full. Tinggal cabut dan tinggal tidur.

Asus Zenfone Max.
Ponsel satu ini setahu saya sih sudah nda ada rilis barunya. Kalopun nemu bisa jadi stok lama yang belum terjual.
Kapasitas baterenya setara A9 Pro. Cuma karena dirilis satu dua tahun lalu, spek yang disematkan kalo nda salah masih tergolong standar saat itu. RAM 2 GB.
Kabarnya seri ini sudah tergantikan lewat seri 3s Max yang hadir dengan standar RAM 3 GB masa kini. Tapi ada ditemukan di pasaran lokal nda ya ?

Lenovo Vibe P1.
Serupa dengan Asus dan A9 Pro diatas, vendor satu ini seakan tak mau ketinggalan pula ikut serta. Spek tergolong menengah keatas yaitu RAM 3 GB dan CPU Octa Core 64 bit.
Kekurangannya cuma satu waktu itu. Nda bisa digunakan untuk maen Pokemon Go. Hehehe… tapi sekarang sudah bisa kan ya ?

Polytron Zap 6 Power.

Berbeda dengan tiga ponsel rekomendasi diatas, untuk satu ini dibenamkan batere dengan kapasitas yang lebih besar yaitu 5800 mAh, dan dijual dengan harga yang terjangkau.
Na ini…
Cuma sayangnya, spek masih bertahan pada segmen yang lama, RAM 2 GB serta prosesor Quad Core.
Tapi ya dimaklumi kok. Kan harganya oke punya ?

Evercross Elevate Y2 Power.
Ponsel lokal yang jadi rekomendasi terakhir, menembus kapasitas 6000an mAh yang serupa dengan Polytron diatas, dapat jadi pilihan pada rentang harga terjangkau. Menarik bukan ?

Nah itu dia ponsel rekomendasi dari saya saat ditanyakan pilihan apa saja kalo yang dibutuhkan itu punya syarat utama persoalan daya tahan ?
Sudah tahu jawabannya kan ?

Samsung Gear S3 Frontier, Lebih Jauh

Category : tentang TeKnoLoGi

Dalam paket penjualannya, selain dibekali strap band yang berbeda antara seri Frontier dengan Classic, Samsung Gear S3 hadir bersama kabel charger dan docking tambahan, yang memudahkan pengguna melakukan proses charging hanya dengan meletakkannya tanpa harus repot colok mencolok. Nyaris tidak ada benda penting lainnya, di luar kartu garansi juga petunjuk penggunaan.

“…Kesan pertama begitu menggoda,
Selanjutnya terserah Anda…”

Bezel logam yang menghiasi seluruh permukaan wajah Gear S3 ini hadir dengan tampilan yang lebih sporty laiknya jam konvensional sejenis, berfungsi untuk memindah-mindahkan tampilan menu ataupun halaman aktif si pengguna.
Kesannya jadi jauh lebih mantap ketimbang seri Gear sebelumnya.

Menu disajikan dalam bentuk rounded, melingkar di wajah ponsel, dengan urutan yang dapat diatur sedemikian rupa melalui aplikasi Samsung Gear yang ditanamkan pada ponsel. Sedangkan isi dari masing masing Menu disajikan dalam bentuk urutan vertikal satu persatu. Tidak ada pilihan drop down laiknya sub menu pada ponsel, hanya fungsi aktif tidak aktif saja.

Untuk dapat mengambil gambar pada layar 1,3 inchinya, kalian bisa melakukannya dengan menekan tombol Menu yang ada di sisi kanan bawah perangkat, sambil menyapukan jari lainnya dari sisi kiri layar ke arah kanan. It’s Done.
Gambar tersimpan pada Menu Gallery yang dapat dipindah kopikan ke layar ponsel dengan menekan opsi pilihan tiga titik yang ada di sisi kanan layar.

Selain berfungsi laiknya jam tangan konvensional lengkap dengan beragam pilihan wajah yang dapat diunduh pada Pasar Aplikasi milik Samsung, Gear S3 ini dapat digunakan untuk memantau denyut jantung atau nadi rata-rata dalam setiap jamnya, jumlah langkah kaki yang dicapai per harinya, atau akses lantai melalui tangga. Apabila dianggap belum cukup, pilihan dapat ditambahkan dengan opsi jogging, cycling atau lainnya, sesuai dengan rutinitas yang dilakoni. Semua aktifitas fisik harian diatas dapat dipantau secara lengkap dan dilaporkan dalam bentuk summary setiap minggunya lewat aplikasi S-Health yang dikembangkan oleh Samsung.

Disamping itu, kedua varian Samsung Gear S3 bisa digunakan untuk berkomunikasi laiknya ponsel biasa. Sebagaimana yang disampaikan pada tulisan sebelumnya, semua terwujud lantaran dibekalinya speaker out dan microphone pada sisi permukaan perangkat, termasuk pencarian kontak dan penerimaan atau pengiriman sms.
Menyambung soal speaker, maka urusan musik pun bisa diakomodir dengan baik pula.

Untuk penyimpanan file multimedia, Samsung Gear S3 dibekali internal storage sebesar 4 GB yang hanya bisa dimanfaatkan sekitar 2,5 GB saja, serta prosesor dua inti 1,0 GHz dan RAM 768 MB. Cukup lumayan untuk sebuah perangkat berukuran mini.
Sedangkan Apps bawaan masih bisa ditambah atau bahkan dikurangi sesuai kebutuhan masing-masing pengguna.
Saya sendiri menghapus aplikasi NewsFeed dan Browser bawaan lantaran paham bahwa kedua apps ini ndak bakalan pernah bisa optimal saya gunakan. Inginnya menghapus beberapa lainnya, cuma sayang ndak bisa di-uninstall sembarangan. Hehehe…

Samsung Gear S3 Frontier

Category : tentang TeKnoLoGi

Hingga di akhir tahun 2016 kemarin, saya masih suka mantengin halamannya TokoPedia, untuk sekedar mencari tahu model terkini jam tangan KaWe dengan lingkar permukaan 5 inchi.
Sejauh pengalaman yang ada sih ada nemu beberapa, dengan harga yang murah. Cuma ya memang setara dengan kualitasnya.
Untuk ukuran pegawai negeri macam saya, memang harus pintar-pintar berstrategi sebetulnya. Kalo mau tampil gaya, biar nda memberatkan kantong atau pengeluaran, ya cari barang tiruan yang secara penampilan gak kalah menarik. Dipakainya paling seumuran bulan, gak nyampe setahun dah ganti model lagi.

Tapi semenjak Samsung Gear S3 Frontier diperkenalkan ke pasar lokal, aktifitas diatas nyaris tak lagi dilakoni.
Mengingat secara visual luar, penampilan smartwatch yang satu ini bisa dikatakan setara dengan keinginan atau harapan saya sejak awal. Apalagi strap band yang digunakan, bisa digonta ganti dengan mudahnya. Apakah berwarna yang catchy menarik mata, soft atau elegant berbalut logam. Semua bisa disematkan hanya dalam hitungan detik.

Disamping itu, Samsung Gear S3 Frontier tampaknya bisa berfungsi laiknya sebuah jam konvensional yang mampu beroperasi tanpa kehadiran ponsel pendamping, meski harus menghilangkan fungsi voice call-nya.
Ngomong-ngomong soal Voice Call, berkat adanya Speaker dan lubang microphone pada perangkat, SmartWatch satu ini jadi bisa digunakan sebagai alternatif untuk berkomunikasi utamanya pada situasi yang tidak memungkinkan mengangkat telepon. Saat berkendara misalnya.
Meski demikian, lantaran speaker yang otomatis aktif saat menerima panggilan, topik pembicaraan yang berlangsung tak lagi menjadi Private, karena bisa didengar oleh orang lain disekitar kita. Jadi, selektiflah dalam menerima panggilan. Hehehe…

Salah satu kekurangan Gear S3 yang dibesut oleh Samsung ini adalah tidak serta mertanya layar menjadi aktif saat pergelangan tangan diputar. Ini terjadi beberapa kali saat awal percobaan.
Jadi agak mengesalkan apabila kalian menggunakan tampilan wajah jam yang tidak mendukung fungsi dim atau sleep pada layar.
Namun hal ini memang tak lantas dianggap mengganggu apabila menggunakan pilihan wajah bawaan Samsung atau beberapa pilihan lain yang mendukung fungsi diatas, sehingga pada saat pergelangan tak diputar pun, tampilan jam masih bisa terlihat laiknya konvensional. Maka berterima kasihlah pada fitur ‘Always On’ yang disematkan pada opsi Pengaturan.

Sayangnya, dengan mengaktifkan fitur ‘Always On’ pada perangkat Gear S3 ini ditenggarai menyebabkan umur daya tahan batere jadi sedikit tergerus ketimbang klaim awal yang infonya bisa mencapai 4 hari dalam sekali charge penuh.
Saya sendiri merasakan betul pengurangan ini.
Dalam kondisi terhubung dengan perangkat ponsel, dan fitur ‘Always On’ aktif terus menerus, daya tahan batere hanya mampu dimanfaatkan hingga hari kedua saja. Tapi meski demikian, untuk ukuran Gadget, dengan daya sebesar bisa bertahan sekian lama sudah cukup lumayan kok. Toh jika pun dibutuhkan, proses charge bisa dilakukan di malam hari saat kita beristirahat. Uniknya, demi mempermudah proses charging, Samsung membekali docking tambahan yang disambungkan dengan kabel charger, sehingga Gear S3 tinggal diletakkan begitu saja pada docking untuk proses charging.

Gear S3 Frontier merupakan salah satu dari 2 varian yang hadir dengan OS Tizen 2.3, sistem operasi besutan Samsung, dengan wajah sporty dan bezel bergerigi. Berbahan dasar logam terbaik yang biasanya digunakan untuk jam tangan konvensional, lebih pantas digunakan bagi mereka yang memiliki aktifitas outdoor. Sedangkan varian Classic hadir dengan warna dan perwajahan kalem, halus mulus, pantas bagi kalian yang memiliki aktifitas indoor.
Apabila seri Frontier dalam paket penjualan dibekali strap model rubber berwarna hitam, seri Classic datang dengan leather kulit gelap.
Ukurannya sedikit lebih lebar ketimbang pendahulunya, dan di salah satu sisi ujung terdapat kait untuk memudahkan pengguna melepas strap dari ujung perangkat.

Diatas sempat diungkap soal gonta ganti strap. Yup. Benar.
Dipasaran, katakanlah TokoPedia, saya menemukan beberapa gerai yang menjual strap band Gear S3 Frontier dengan harga terjangkau. Soal kualitas ya tentu saja KaWe.
Namun untuk kebutuhan jangka pendek, ini bisa dijadikan alternatif bergaya bareng smartwatch satu ini. Dari warna merah, kuning, hijau army, biru muda, putih bahkan kakhi pun ada pilihannya. Bahkan jika menginginkan yang berbahan logam pun, ayo.

Sementara jika berkaitan dengan perwajahan jam yang mampu ditampilkan pada layar berukuran 1,3 inch, pengguna bisa mengunduhnya melalui aplikasi Samsung Gear di Google Apps Store, dari versi gratisan hingga berbayar. Dari analog hingga digital. Dari tampilan polos hingga chrono dan lainnya.
Kalau itu belum jua bisa memuaskan kalian, bisa unduh aplikasi Gear Watch Designer dari Samsung untuk mendesain sendiri wajah jam yang diinginkan.
Aplikasi ini tidak berbeda jauh dengan sejumlah aplikasi desain lainnya yang menyajikan opsi layer dan timeline. Jadi bagi yang sudah gape di aplikasi semacam ini, pasti bukan persoalan sulit lah ya.

Samsung Gear S3 Frontier. Kalian nda berminat ?

Berkenalan dengan Samsung Gear S3 Frontier

Category : tentang TeKnoLoGi

Awalnya menjadi perdebatan panjang, dalam hati tapinya, he…
pasca Istri menawarkan opsi pembelian gadget satu ini mengingat secara harga masih setara dengan perangkat konvensional yang dijual di outlet seputaran Kota Denpasar.
Mempertimbangkan apakah yang satu ini sudah layak beli dan begitu dibutuhkan, pula memilih antara yang berpenampilan classic sebagaimana model yang saya sukai selama ini, atau sporty ?

Samsung Gear S3 Frontier, akhirnya menjadi pilihan yang diambil pasca mengetahui perbedaan lebih lanjut dengan versi satunya. Diklaim punya wajah lebih garang, dengan dimensi yang sedikit lebih besar. Tentu berakibat pada berat yang harus. Dibebankan pada pergelangan tangan.

Di awal kemunculannya, Samsung Gear sudah menarik hati saya selaku salah satu konsumen yang loyal sejauh ini. Namun karena secara bentuk masih belum sesuai dengan keinginan, Gear seri pertama keknya diabaikan jauh-jauh dari pikiran.
Demikian halnya dengan seri kedua. Hadir dengan bentuk bulat dan dimensi yang kecil, lebih menyiratkan jam tangan bagi kaum hawa yang dijamin dan sudah pasti lucu saat disematkan pada pergelangan tangan saya yang diatas normal umumnya.
Baru pada rilis ketiga, ada rasa aneh saat memandang penampakannya. Maka seijin Istri, seri Sporty yang hadir dengan warna gelap dan bezel bergigi inipun berpindah tangan dari gerai Cellular World di Teuku Umar sana.

Mau tahu bagaimana kesan saya dalam menggunakan Samsung Gear S3 Frontier sejauh ini ?
Ikuti tulisan selanjutnya.

Ponsel Rekomendasi bagi Orang Tua atau Awam Teknologi

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Berawal dari diskusi di akun Twitter beberapa waktu lalu, seorang kawan mengeluhkan upayanya mengenalkan iPhone kepada sang orang tua dengan klaim OS paling mudah digunakan semua orang, yang pada akhirnya Beliau malah gagal paham dan sulit mengerti akan penggunaan ponsel berbasis iOS tersebut.
Saya pun memakluminya. Karena dengan pengalaman menggunakan iPhone beberapa waktu lalu, akhirnya ketemu juga kelemahan sistem operasi ini, utamanya ketika berupaya menyasar pangsa pasar orang tua atau anak-anak. Ya wajar sih, karena iOS memang dasarnya lebih pantas digunakan oleh mereka yang paham benar teknologi itu seperti apa.
Tidak termasuk saya tentu saja. Ha…

Merekomendasikan penggunaan sebuah ponsel bagi para orang tua yang masuk generasi pengguna ponsel Nokia atau istilahnya basic phone, pula orang yang awam perkembangan teknologi masa kini, sebenarnya gampang saja, sejauh kalian paham aktifitas apa saja yang biasanya akan mereka lakukan terhadap ponsel tersebut.
Maksud saya, sama halnya dengan konsep para Arsitek dalam mendesain rumah bagi para kliennya, satu hal yang mutlak diketahui sebelumnya adalah persoalan aktifitas. Kebutuhan apa saja yang sekiranya nanti akan diadopsi menjadi sebuah konsep rekomendasi. Kira kira begitu bahasa sulitnya. He…

Sederhana.
Saya yakin para orang tua maupun mereka yang awam teknologi masa kini, lebih sering melakukan hal-hal sederhana, rutin dan terbatas atau berulang dalam aktifitasnya sehari-hari. Tidak termasuk kalian generasi X atau Y yang pernah mengenal Windows XP, Word atau Excel untuk mengerjakan Skripsi, meskipun menyandang status yang sama bagi anak-anak yang unyu dalam setiap aksi di akun instagram mereka.
Sehingga kalau di analogikan ke penggunaan sebuah ponsel, minimal yang paling sering diakses adalah Telepon, Daftar Kontak (syukur-syukur bisa mencari nama dengan scroll tampilan ke bawah atau mengetikkan nama), Pesan (sekedar SMS), dan opsionalnya ya Kamera (tingkatan lanjut sekedar aksi mengambil gambar si cucu). Begitu berulang.
Jadi kalopun mau diperkenalkan dengan yang namanya FaceBook, Path, Line apalagi Twitter, rasanya belum perlu-perlu banget.

Disamping itu, satu kelemahan sistem operasi iOS sepanjang pengetahuan saya adalah ketiadaan opsi Menu, yang kalo secara pemahaman para pengguna iOS sebenarnya lebih efisien, tapi secara awam termasuk para orang tua, saya yakin jadi bumerang yang kerap dikeluhkan ‘hilangnya aplikasi atau games secara tidak sengaja akibat menekan tanda silang sebagai tanda lanjutan aksi Uninstall di iOS.
Ini juga biasanya terjadi ketika perangkat disentuh sentuh jari anak anak yang berpotensi memindahtempatkan icon ke halaman HomeScreen lainnya.

Lalu apa Ponsel Rekomendasi yang bisa saya share kepada kalian, untuk bisa dipergunakan oleh para orang tua juga orang yang awam teknologi ?
Satu-satunya pilihan hanyalah ponsel Android. Apapun mereknya, berapapun harganya.
Akan tetapi, kalo boleh ditambahkan soal spesifikasi minimalnya ya yang standar masa kini lah. RAM 1 GB, internal storage 4-8 GB. Selebihnya silahkan disesuaikan dengan budget.
Kenapa Android ya karena pertimbangan diatas.

Persoalan Kedua, ketika sudah memegang ponsel Android, langkah apa yang bisa dipersiapkan ?
Install Launcher tambahan bernama Apex.
Kenapa Apex ?
Karena selain didukung sejumlah tampilan icon pack atau themes yang menarik, Apex adalah satu-satunya atau bisa jadi salah satu Launcher yang memiliki fitur ‘Lock HomeScreen’ demi melindungi penekanan yang tak sengaja pada icon aplikasi ataupun games yang berpotensi menampilkan tanda silang berlanjut pada aksi uninstall, termasuk mencegah perpindahan icon tersebut ke halaman homescreen lainnya.

Jika Apex Launcher sudah diinstalasi, langkah selanjutnya adalah melakukan Pengaturan HomeScreen dengan mengatur jumlah grid yang ditampilan pada layar depan, dan mengisinya dengan icon aplikasi yang kerap atau akan digunakan secara lebih sering nantinya.
Bisa dengan jumlah grid paling sederhana 2×2, 3×2, 3×3 atau tergantung kebutuhan nantinya. Saran saya sih 3×3 atau 3×4 (3 rows/baris horisontal dan 4 column vertikal).
Isinya apa saja ?

Untuk Baris paling bawah, bisa diisi fitur sederhana dan minimal tadi, seperti Phone, Contact dan Pesan, atau Kamera.
Baris tengah, bisa diisi Widget tambahan berupa Kontak Favorit yang menyajikan daftar kontak yang paling sering dihubungi, seperti anak, menantu, telepon rumah dan lainnya. Jadi fungsi widget ini adalah untuk aksi cepat menghubungi semua nomor diatas dengan cara menekannya saja.
Sedang Baris paling atas, bisa digunakan untuk menempatkan akses ke opsi Menu, pilihan Cleaner RAM untuk pembersihan storage dengan cepat, bisa juga widget menutup aplikasi secara permanen atau mungkin widget untuk mematikan layar tanpa menyentuh tombol power. Ya enaknya kalian lah…
dan kalopun yang Baris paling atas dianggap ndak terlalu perlu, grid bisa di set ulang menjadi 2 Baris saja.
Efisien bukan ?

Nah, ketika pengaturan halaman depan sudah selesai dilakukan, langkah terakhir adalah mengunci HomeScreen dan Restart Ponsel untuk melihat hasil Terbaiknya.

Apabila langkah-langkah dan Rekomendasi diatas belum jua dirasa memuaskan secara visual, kalian bisa mencoba menambahkan Themes atau Icon Pack demi mengubah tampilan icon jadi seragam dan menarik.
Bahkan ada juga Theme yang menyerupai tampilan iOS jika masih belum bisa Move On ke lain OS. Hehehe…

Dan terkait Apex Launcher, kalian bisa mampir di halaman www.pandebaik.com dengan melakukan pencarian di halaman Google menggunakan kata kunci ‘apex pande baik’ ntuk bisa menemukan penjelasan lebih lanjutnya.

Semoga Berguna

Keranjingan Local Guide

Category : tentang TeKnoLoGi

Lama nda muncul di halaman Blog ini, jadi kangen buat nulis serius lagi. Hanya karena kesibukan kerja menggantikan sementara pak Kepala Bidang yang musti ikutan Diklat, plus tugas pokok dan pendampingan pemeriksaan BPK, bikin semuanya berantakan.
Utamanya sih persoalan mood. Hehehe…

Tapi di balik itu, sebenarnya saya lagi keranjingan untuk menjadi seorang Local Guide yang baik disela hobi motret hal yang nda penting sejak awal kenal lensa kamera versi digital, dan juga kesempatan jalan-jalan baik seputaran Kota Denpasar dan wilayah kerja di Kabupaten Badung, pula luar daerah saat menjalankan tugas dinas.
Ketimbang mubazir pas mengambil gambar dan menyimpannya pada ponsel, mending ya dibagikan pada orang lain.

Local Guide yang saya maksud diatas adalah Pemandu Lokal yang bernaung dibawah nama besar Google, yang memiliki kegemaran (semacam tugas yang berawal dari hobi atau keisengan) untuk melengkapi berbagai macam venue yang terdaftar dalam peta milik Google atau Maps dalam perangkat ponsel pintar kalian, berupa ulasan singkat, data tambahan, nomor kontak hingga bisa jadi foto terkait.
Kira-kira begitu gambaran umumnya.

Selain ‘tugas nda resmi’ diatas, seorang Local Guide pada Google Maps juga mampu berperan untuk menata ulang venue yang sudah kadung ada dan tercatat didalamnya. Misalkan memberikan saran pemindahan lokasi venue apabila menemukan tidak berada pada tempat yang seharusnya. Atau mungkin menyarankan penutupan venue apabila di lokasi tersebut diyakini tidak ada satupun venue dimaksud. Dan lainnya…

Ada beberapa tingkatan atau level yang disematkan pada seorang Local Guide. Dari 1 sampai 5.
Tingkatan ini akan meningkat seiring semakin seringnya aktifitas yang dikontribusikan kepada Google, termasuk memberikan Review atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seputaran venue yang kita pernah kunjungi atau temukan.
Saya sendiri sampai saat ini sudah mencapai tingkatan atau level 5 dengan jumlah kontribusi sebanyak 600an poin. Soal poin dan level bisa dibaca lebih jauh di halaman Help mereka.

Lalu apa reward yang diberikan oleh Google atas masukan atau kontribusi yang kita lakukan sejauh ini ? Ada banyak. Satu diantaranya yang saya ingat adalah Free penyimpanan di Google Drive sebesar 100 GB selama setahun. Entah ini hanya satu bentuk promosi atau pemaksaan agar kita membayar di tahun kedua, atau bagaimana ? Hahaha…

Tapi menjadi seorang Local Guide bagi peta milik Google ya bagi saya pribadi, memberikan kesenangan tersendiri kok.
Minimal bisa membantu orang lain dalam menemukan venue yang diharapkan melalui saran atau review yang pernah disampaikan sebelumnya. Bisa juga memanfaatkan sejumlah gambar yang pernah diambil jauh sebelumnya, lalu dipublikasikan ketimbang tersimpan dan terhapus begitu saja.

Kalian nda tertarik untuk ikutan ?