Canggu, Surga Villa dan peSurfing Mancanegara

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Hari masih pagi saat kaki ini melangkah cepat mengikuti irama musik yang didengar melalui earset bluetooth. Melanjutkan agenda rutin olahraga harian, meski kini berada jauh dari rumah. Tetap berupaya menjaga kesehatan, agar kesehatan tetap prima adanya.

Satu persatu bangunan mentereng dilewati. Tak tampak kehidupan didalam sana. Sepi tanpa penghuni.
Beberapa iklan tertempel rapi ditembok depan bangunan. Villa dan Villa.
Edan.

Canggu pagi ini, tampak jelas banyak hunian yang mengganggur tanpa orderan. Satu dua diantaranya malah bertuliskan ‘for sale’. Sempat berandai-andai, perkiraan harga yang ditawarkan mengingat lokasi dan megahnya penampilan rasanya bakalan sulit digapai jika melihat trend penurunan harga sewa kamar harian jaman now yang didiskon gila-gilaan. Mending ambil sewa harian ketimbang membeli dan melakukan pemeliharaan saat sulit begini.

Masuk kilometer ketiga perjalanan, mata menatap lekat tiga remaja yang mendekap papan surfing, berjalan bersama dua rekan dewasa menuju arah pantai. Pantai Canggu tampaknya memang surganya para pecinta ombak. peSurfing mancanegara.
Bahkan diujung jalan tempat kami menginap, ada satu gerai penyewaan papan surfing dalam jumlah besar yang dijaga dua security kelahiran Bali.
Ombak yang besar menantang mereka untuk menikmatinya lebih awal. Tak heran jika perairan hari ini tampak belasan peSurfing sudah berada di tengah pantai dengan aksi mereka yang menantang.

dan saya hanya bisa memandangnya…

Perkembangan Pesat Pesisir Kuta Utara

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Menyusuri jalanan pinggiran kota menuju Ecosfera Hotel, Canggu Kecamatan Kuta Utara, serasa berada di area Kuta saja. Hanya disini suasananya cukup lengang, masih ada jeda ruang terbuka untuk sawah diantara club atau cafè atau tempat nongkrong para wisatawan. Belum penuh sesak dengan bikini dan telanjang dada turis mancanegara.

Secara pekerjaan, satu setengah tahun ini rasanya sudah sangat jarang bisa main sampai ke pelosok desa semacam ini. Biasanya hanya sampai kantor Desa/Kelurahan, lalu menyerahkan proses cek lapangannya kepada tim.
Sebaliknya secara pribadi pun, arah main selama memiliki waktu luang sepertinya ndak pernah lewat ke area ini, paling seputaran tempat bermain anak, atau melintasi sejumlah ruas jalan raya untuk mengejar target langkah setiap harinya.

Maka itu kaget juga, saat mengetahui perkembangan pesat yang tumbuh di kampung istri sejauh ini. Bahkan istri yang lahir disini pun tak kalah kagetnya pas mengetahui perubahan fungsi yang terjadi begitu cepat dan meranggas setiap sisi depan lahan dan rumah warga yang kami yakini memiliki nilai jual yang tinggi meski hanya seuprit.

Apalagi saat melihat sendiri aktifitas pagi hari seputaran pantai yang nyaris dipenuhi fasilitas bagi wisatawan mancanegara. Cafè, club hingga penyewaan board surfing.
Sementara orang kita, penduduk asli Bali harus rela menjadi satpam security atau penjaga parkiran, menempati rumah kecil ditengah serbuan villa dan resort.

Sesekali menarik nafas panjang untuk bisa tetap berpikiran waras di tengah pemandangan asing malam ini.

Liburan Dadakan di Bulan April

Category : tentang PLeSiran

Gak ada Planning sama sekali, dan sebelum keputusan liburan diambil, saya masih menunggu antrean dokter di Poli RS Bhakti Rahayu. Kontrol Gula Darah.
Edan…

Tujuannya hanya satu.
Liburan ke Canggu.
Rumah Kakek dan Nenek Canggu, plus anak-anak yang masih sebayaan dengan dua bayi kami, Intan dan Ara. Cuma karena terkendala kamar untuk menginap, keputusan untuk mencari tempat untuk tidur malam pun harus diambil secepatnya. Mengingat saat antrean kontrol dilakukan, waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam.

Ecosfera Hotel, merupakan pilihan ketiga kami lantaran biaya menginap per malamnya nyaris sejutaan. Sementara pilihan pertama dan kedua yang ada, opsi Family Room yang menyediakan dua bed, double dan single, yang kami pantau secara langsung by phone, rupanya sudah terisi.
Traveloka musti melakukan pengecekan yang lebih teliti jika mampu terkait ini.

Lokasi ada di pinggir pantai Echo, Batu Mejan, Banjar Canggu. Kurang lebih sekitar tiga sampai lima menitan berjalan kaki dari hotel, kita sudah tiba di gerbang pantai yang dijaga bapak tua dengan segenggam karcis di tangan. Cuma lantaran ombak yang besar, rasanya ndak rekomend untuk area berenang bagi anak-anak.

Liburannya cukup seru, karena anak-anak sejak awal menduga kami bakalan menginap di rumah kakek nenek Canggu. Tapi ketika mengetahui kendaraan parkir didepan area hotel, mereka girangnya bukan main.
Melupakan tangis sedih lantaran meninggalkan kakek nenek Tainsiat nya berdua di rumah.
Ya, sekali-sekali liburan bareng Keluarga Kecil, ndak apa-apa kan ya ?

Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak.

Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai.

Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu.

Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh sesuai beban kerja. Layak dan impas dengan semua pengorbanan.
Sepertinya…

Namun jika pikiran mau dibawa ke sisi yang positif, ada banyak hikmah yang bisa diambil di balik kurang kerjaannya saya kali ini.

Pertama, soal waktu luang tadi. Ada aktifitas menulis yang kembali bisa dilakoni secara rutin dan menyenangkan pikiran. Ada senda gurau dengan anak-anak selepas kerja lantaran bisa pulang tepat waktu. Ada juga olah raga yang hampir selalu disempatkan saban hari, pagi saat libur dan sore usai bekerja.

Kedua, soal beban, pikiran dan kesehatan. Hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Setidaknya kini tak lagi diganggu dering telepon meski saat perjalanan pulang ke rumah, atau saat leyeh-leyeh memandang langit, bisa dirasakan penuh nikmat atas kuasa-Nya. Utamanya tentu, gula darah bisa lebih stabil meski yang namanya berat badan otomatis naik lagi. Kampret dah.

Ketiga, jalan-jalan.
Dalam arti sebenarnya tapi. Meski harus dibungkus dalam kedok koordinasi ke tingkat Desa/Kelurahan. Dulu, mana sempat. Pagi teng nyampe kantor, telepon ruangan berdering, menghadap pimpinan, lanjut aktifitas lain hingga jam pulang menjelang. Kini ? Ayo kabur…
Istilah lainnya, menikmati pekerjaan laiknya hobby.

Keempat dan terakhir, tentu saja Touring.
Hehehe… sejatinya tak sebanding dengan definisi asli, namun rasanya eman kalo beli motor baru hasil jerih payah ngayah selama 4 tahun di Jalan Lingkungan, kalo tak dibawa touring jauh ke lingkup pekerjaan. Eh…
Meski raungan knalpot XMax tak segarang Scorpio terdahulu, namun bicara soal kenyamanan berkendara, tentu jauh lebih baik.
Yang membedakan hanya soal latar belakang objek foto saja. Jika dulu selalu dijejali paving natural dan juga warna merah, kini lebih natural dan lapang. Jalan raya.

Jadi biarpun kini lebih banyak tampak kurang kerjaan, namun yang namanya hidup, harus tetap bisa kita nikmati. Ya nggak ?

5 Tempat Makan Khas Sunda Bernuansa Alam di Lembang

Category : tentang PLeSiran

Sumber : tempatwisataindonesia22.blogspot.co.id

Jalan-jalan ke ke Lembang tentu incaran utamanya adalah berwisata di alam. Mencari kesejukan udara dan ademnya suasana khas Lembang yang ngangenin. Usai berwisata tentu perut perlu diisi, berada di tanah parahyangan tak lengkap jika tak menyantap menu Sundaan yang khas dengan sambel terasi dan lalapan segarnya.
Biasanya di tempat wisata juga dilengkapi dengan fasilitas restoran, tapi terkadang harga dan rasa jauh dari ekspektasi. Tak sedikit pula wisatawan yang lebih memilih mencari tempat makan diluar area wisata demi kenyamanan dan kenikmatan rasa makanan.
Tak perlu jauh mencari di daerah Kota Bandung, di Lembang sendiri ada banyak resto yang menyajikan makanan khas Sunda yang tak perlu diragukan rasanya. Bahkan beberapa diantara sering didatangi artis-artis ibukota dan jadi tempat shooting. Berikut 5 tempat makan khas Sunda bernuansa alam yang ada di Lembang.

Sapu Lidi
Ini nih salah satu resto di Lembang yang sering nonggol di televise nasional karena memilki tempat yang oke punya, namanya Restoran Sapu Lidi. Berbeda dengan resto Sunda yang kental dengan nuansa bambunya, di resto ini gazebonya berbahan kayu-kayu besar berwarna coklat dengan atap dari jerami. Sajian menu berupa masakan Sunda yang hampir semua dibungkus atau dialasi dengan daun pisang.
Beragam nama makananya pun sangat Bandung pisan karena menyelipkan kosa kata Bahasa Sunda seperti Ikan Lieur, Sate Ayam Edan, Tahu Kukuliringan dan masih banyak yang lainnya. Suasana pedesaannya pun lebih terasa karena gazebo-gazebonya berada diantara sawah-sawah. Tak hanya sekedar tempat makan, ternyata Sapu Lidi juga dilengkapi dengan galeri serta resort yang tiap kamarnya berada di atas kolam. Untuk menuju ke tiap rumah joglonya, pengunjung harus menaiki sampan terlebih dahulu.
Meskipun jika kamu ingin ke Bandung tak perlu mencari tiket pesawat, tapi tak ada salahnya kamu cek harga penerbangan Bandung-Malaysia lho. Kadang-kadang malah lebih murah berangkat dari Bandung daripada dari Jakarta.

Dusun Bambu
Memiliki 3 restoran dengan konsep dan menu makanan yang berbeda, pengunjung tetap bisa makan masakan khas Jawa Barat di resto Bamboo Gazebo Saung Purbasari. Letak gazebonya yang berada di pinggir danau akan membuat kegiatan makan bersama kelurga makin syahdu karena ditemani dengan pemandangan yang memukau dan tentunya instagramable.
Di resto ini kamu bisa pesan menu yang Sunda pisan seperti nasi liwet, lotek, karedok, dan beragam pepes. Sehabis makan pengunjung bisa berkeliling untuk melakukan kegiatan lain seperti bermain Balad Lodaya, menanam padi di Paddy Field, atau berbelanja di Pasar Khatulistiwa. Dusun Bambu juga terkenal loh dengan paket menginap ala “Glamour Camping” dengan fasilitas wah dan harga yang sesuai.

Kampung Daun
Memiliki area sekitar 3 hektar, Kampung Daun memiliki banyak puluhan saung untuk menampung pengunjung. Terasa kental dengan suasana alam yang penuh dengan rimbun tanaman juga sungai kecil, Kampung Daun Culture Gallery & Café sudah ada sejak tahun 2010. Terkenal dengan menonjolkan budaya tanah Parahyangan, café ini juga banyak dikunjungi pejabat-pejabat dan tamu asing.
Tak hanya menikmati sajian tradisional Indonesia saja, café ini juga menawarkan menu western. Pengelola memanfaatkan area yang luas dengan menempatkan kios-kios jajanan Bandung, aksesoris, dan juga oleh-oleh di area pintu masuk. Untuk menuju ke saung-saung makan, pengunjung harus jalan terlebih dahulu melewati area ini dan reservasi tempat di bagian resepsionis.

Gubug Makan Mang Engking
Jauh dari kata “gubug” tempat makan satu ini juga memberikan pengalaman makan di saung bambu dengan pemandangan kolam atau orang sunda biasa menyebutnya “balong.” Memiliki menu juara gurame cobek dan udang bumbu mentega, tempat makan ini selalu ramai setiap hari. ada juga menu lain seperti karedok,olahan sapi maupun ayam yang juga dilengkapi dengan sambal dadakan yang nikmat. Untuk menyantap menu lengkap dengan harga lebih murah, resto ini juga menyediakan pilihan paket yang bisa disesuaikan dengan jumlah pengunjung.
Memiliki fasilitas mushola dan kamar mandi yang bersih juga parkiran yang luas, pengunjung betah berlama-lama di Gubug Makan Mang Engking ini. Resto Mang Engking juga memiliki beberapa cabang yang tersebar di Bandung dan sekitarnya.

Natural Resto And Strawberry Land
Memiliki area yang cukup luas yakni leboh dari 1 hektar, pengelola tak hanya membangun resto saja namun sekaligus wisata petik strawberry. Pengalaman ini hanya bisa didapat di Natural Strawberry Land Lembang, tempat makan yang sekaligus menawarkan wisata petik strawberry. Kelebihan strawberry yang merupakan buah tak kenal musim tentu membuat pengunjung bisa kapanpun berkunjung.
Ada tiket masuk khusus jika ingin wisata petik strawberry, namun setelahnya bisa makan buah strawberry di kebun sepuasnya tetapi jika ingin dibawa pulang perlu membayar sesuai dengan timbangan buahnya. Berada di Jl Tangkuban Perahu no 109, Lembang, wisata ini tentu menyajikan masakan khas Sunda yang bisa dinikmati bersama keluarga maupun sahabat. Ada dua pilihan tempat makan yakni di ruangan besar yang memanjang di atas kursi dan meja atau lesehan diatas saung bambu dengan suasana yang lebih privat.

Nah, kalau mau menginap di beberapa tempat makan yang sekaligus punya tempat penginapannya ini, kamu bisa cek daftarnya di Reservasi.com. Selain lebih lengkap, kamu juga bisa mendapatkan harga promo hotel terbaik dengan diskon murah setiap harinya.

Laju Kencang Sepur Antarkan ku Pulang

Category : tentang PLeSiran

Ratusan bahkan ribuan rumah dan hamparan sawah kami lewati sejauh mata memandang, di tengah gerbong eksekutif Sepur Mutiara Timur dari Stasiun Gubeng Surabaya pagi tadi. Ini kali pertama saya naik kereta api setelah nyaris 40 tahun lamanya hanya bisa menyanyikannya.

Meski tak seindah cocot gabener yang dipenuhi pepohonan hijau dan kicauan burung, namun pengalaman ini mampu memberi kesan menarik atas jerih payah dan kerja keras kepala batu mantan menteri perhubungan mas Jonan, dan terjadi di era pak Presiden Jokowi. Salut banged.

Penampilan interior kereta api ini meski belum senyaman kelas Kereta Udara eh Pesawat Terbang maksud saya, namun dengan harga tiket yang nyaris setengah atau bahkan seperempatnya, kedua kaki saya yang jenjang mampu berselonjor tanpa harus terantuk sandaran kursi yang diduduki penumpang didepan.

Dari jadwal perjalanan yang sekiranya memakan waktu sekitaran enam jam lamanya, meski secara kecepatan laju tak sekencang kereta api sikansen miliknya Jepang, kalo ndak salah dari tadi ibu Pramugari Keretanya sudah menyapa kami sekitaran 5-6 kali tiap kali mampir ke Stasiun yang dilewati. Durasi kereta berhenti pun bisa beragam.
Semua dinikmati meski pantat sudah mulai terasa panas lantaran duduk diam sambil mantengin dua unduhan Baahubali filem Korea yang aksionnya sangat menawan serupa trilogi makhluk astral pecinta batu akik itu.

Jarak menuju rumah kelihatannya masih cukup jauh.
Waktu tidur siang pun jadi bertambah sekitar 9-10 kali lipatnya pasca mata kecapekan membaca komik, mendengar musik, mengarungi dunia maya hingga sekedar pencitraan di media sosial.
Kangen anak-anak, juga ibunya.
Kira-kira mereka lagi main kemana ya ?

Liburan ke Lintas Kota

Category : tentang PLeSiran

Cuaca hari ini di Jatim Park cukup bersahabat. Jauh lebih baik dari hawa dua mingguan terakhir, ungkap Mas Marzuki tour leader lokal yang menggantikan Mas Bagong. Melintasi kawasan edukatif yang lebih pantas dinikmati oleh anak-anak usia sekolah ini, mampu menghabiskan jatah jalan kaki harian saya hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Cuma memang ndak direkomendasikan buat para usia lanjut yang kerap mengeluhkan sakit pada kaki saat berjalan jauh.

Demikian halnya Kota Malang. Proses check out dari Hotel Kartika Graha pagi tadi pun berjalan lancar. Lalu lintas jalanan tak semacet di Denpasar. Entah karena ini weekend atau masih hari sekolah, namun perbedaan yang ada amat sangat terasa.

Kota Batu dimana sejumlah wahana dan objek wisata berada rupanya hanya melingkupi tiga kecamatan saja. Dan kini sudah berstatus sebagai kota administratif dengan besaran pendapatan daerah cukup tinggi.
Jawa Timur Park Group selaku pengelola sebagian besar wahana sepertinya cukup jeli melihat peluang. Kawasan yang luas tidak akan mampu membayarkan pajak kepada daerah bila gak ditangani dengan baik.
Setelah Jatim Park 1 dan 2, versi 3 nya pun tampak sudah disiapkan dengan menu hidangan jaman dinosaurus. Gak sabar menanti saya ini.

Liburan ke Lintas Kota sedianya akan berakhir besok di Surabaya. Kami hanya singgah bermalam usai kunjungan sore ke museum Angkut, dan rencananya bakalan menjajal kenyamanan kereta api hingga ke Banyuwangi lanjut balik pulang. Rute yang cukup melelahkan sepertinya.

Tapi bukankah ini yang namanya Liburan ?
Jadi ya dinikmati saja semuanya ini.

Menikmati Malam di Jalanan Kota Batu

Category : tentang PLeSiran

Hari yang cukup cerah seharian ini. Meski hujan gerimis sempat menyambut kami saat masuk Kota Batu.
Perjalanan jadi menyenangkan dan melegakan.

Suasana malam di Kota Batu banyak berubah. Ada beragam venue hiburan baru yang dijumpai sepanjang jalan. Salah satunya ya BNS, Batu Night Spectaculer. Wahana bermain yang dibuka di malam hari, kalau tidak salah. Tempat asyik untuk mengajak anak-anak serta sebenarnya. Sayangnya diantara kami yang ikutan kali ini, tidak ada yang berani menjual jantung dan tekanan darahnya untuk semua tantangan yang ada. Padahal kebelet banget pengen nyobain. Cuma ndak seru kalo teriak sendirian. He…

Perjalanan dalam Bus Bali Radiance bekerja sama dengan travel Bali Daksina, bisa dikatakan sangat nyaman. Disamping mundurnya lima rekan kami yang sedianya ikut serta, memberikan banyak keleluasaan dalam menikmati kursi 40 seat. Istirahat jadi full, tanpa harus bersesak peluh dengan rekan disebelah. Hiburan yang ada pun bisa dinikmati dengan riang.
Bolehlah melupakan sejenak semua beban kerja yang pernah ada.

Menginap di Kota Malang, dengan jadwal yang terlewat jauh dari agenda. Dan pagi ini kami akan menikmati dua wahana hiburan lainnya yaitu Jatim Park dan Museum Angkut. Standar baku Kota Malang jaman Now.

Kalo kalian, liburan kemana kali ini ?

Perjalanan Dinas Tutup Tahun 2017

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Ini kali pertama tugas luar kota bersama staf yang diemban selama menjabat di Pemkab Badung. Ya, ini kali yang pertama.
Biasanya kalo bukan mendampingi pimpinan, perjalanan yang dilakukan selalu sendirian. Mungkin karena akomodasi yang ditanggu selama dinas ya memang hanya 1 orang. Tapi hari ini, saya didampingi 3 orang staf yang bernaung pada seksi dimana saya bertugas, serta satu kolega sesama Kepala Seksi.

Tujuan kali ini ke Jakarta, untuk mendiskusikan kebijakan Bupati terkait pemberian dana Bantuan Rumah Layak Huni bagi masyarakat Kabupaten Badung, pula penanganan Prasarana Sarana dan Utilitas Perumahan yang dibangun oleh Pengembang. Menyasar dua tempat, dibawah Dirjen Penyediaan Perumahan, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Secara pribadi sebenarnya sudah tidak tertarik lagi untuk melakoni perjalanan dinas luar kota begini. Karena kalo mau hitung-hitungan, tahun ini sudah ada 6 kali melawat ke luar pulau. Bosan dan jenuh berhadapan dengan proses di bandara. Masih lebih enak leyeh-leyeh dengan anak-anak sambil becandain mereka.
Tapi ya ini sudah penugasan. Musti dijalani.

Mengingat keberangkatan kali ini saya didaulat untuk memimpin, ya kagok juga jadinya. Gimana nggak, ini kali pertama mengajak staf turut serta. Meski demikian, patut disyukuri juga karena ketiganya cukup mapan dalam urusan pengalaman ke luar daerah. Jadi ndak banyak yang harus disiapkan kesana-kemari berhubung mereka sudah menyiapkannya lebih dulu. Yang kurang hanya soal komunikasinya saja.

Oke deh, menjelang pukul 9 pagi. Saatnya berbenah dan pesan Grab. Sampai jumpa di Jakarta siang nanti.

Alun-Alun Malang dan Batu, Destinasi Wisata yang Seru dan Murah Meriah

Category : tentang PLeSiran

Source: travel.kompas.com

Batu dan Malang adalah dua daerah bertetangga di Jawa Timur yang sangat menarik untuk masuk dalam daftar destinasi wisata favorit. Di sana, ada banyak spot wisata keren yang menawarkan sensasi liburan berkesan. Selain itu, ada pula beberapa tempat wisata berkelas internasional yang disukai turis lokal maupun mancanegara. Menariknya, tidak semua destinasi keren di Batu dan Malang membuatmu harus merogoh kocek sedalam-dalamnya. Di sana, banyak pula tempat menarik yang bisa dikunjungi dengan harga yang murah, bahkan ada pula yang gratis seperti Alun-Alun. Namun jangan skeptis dulu dengan kata murah dan gratis ini. Soalnya, sensasi liburan yang bisa kamu dapat di alun-alun yang ada di kedua kota tersebut tetap dapat membuat momen liburanmu terasa berkesan.
Sekarang, sambil mencari promo hotel murah di Malang, yuk simak terlebih dahulu sedikit ulasan tentang alun-alun yang ada di Kota Malang dan Batu berikut ini:

Alun-Alun Merdeka Malang


Source: travel.kompas.com

Sebenarnya, Kota Malang memiliki dua alun-alun yang jaraknya cukup berdekatan, yaitu Alun-Alun Malang di jalan Merdeka dan Alun-Alun Tugu di depan Balaikota Malang. Kedua alun-alun ini menarik untuk dikunjungi karena memiliki suasana liburan menyenangkan dan murah meriah.

Alun-Alun di jalan Merdeka yang juga dikenal dengan sebutan Alun-Alun Merdeka dibangun pada tahun 1882 oleh pemerintah Belanda. Alun-alun ini tak hanya jadi ruang terbuka publik biasa, melainkan sudah jadi salah satu ikon wisata di kota Malang. Bagi penduduk setempat, Alun-Alun Merdeka jadi tempat rekreasi menarik yang hemat biaya. Sedangkan bagi pengunjung dari luar kota, Alun-alun Merdeka jadi tempat yang sayang untuk tidak dikunjungi saat berada di Kota Malang. Alun-alun ini dikelola dengan sangat baik oleh pemerintah setempat.

Di ruang terbuka publik ini, dibangun taman-taman yang cantik, air mancur, jalur pejalan kaki, dan fasilitas menarik lainnya. Di depan alun-alun ini, berdiri pula Masjid Jami Malang yang megah. Itulah sebabnya banyak penduduk dan wisatawan yang menyebut ruang terbuka ini dengan nama Alun-Alun Jami. Selain untuk kebutuhan ibadah umat Muslim, masjid yang cantik ini pun jadi background foto yang sangat Instagramable. Uniknya, di Alun-Alun Malang banyak burung Merpati yang hinggap. Jika sekawanan burung Merpati itu hinggap tepat di hadapan masjid Jami Malang, suasana akan sedikit terasa seperti berada di Istanbul, Turki.
Suasana yang terasa di Alun-Alun Merdeka pun sangat nyaman, sejuk, dan bersih. Saat berada di sana, para wisatawan akan merasa betah dan terkadang lupa untuk beranjak dari tempat tersebut.
Mengingat lokasinya yang sangat strategis, wisatawan akan dengan mudah temukan hotel murah di Malang di dekat alun-alun Merdeka.

Alun-Alun Batu


Source: travel.kompas.com

Tak mau kalah dengan Kota Malang, Kota Batu juga memiliki alun-alun yang mampu menjadi salah satu ikon wisata di sana. Bagi wisatawan yang sedang liburan di Kota Batu, rasanya belum lengkap kalau belum menginjakan kaki di ruang terbuka publik ini. Di alun-alun yang ada di jalan Agus Salim ini, banyak hal seru yang bisa dilakukan. Soalnya, di sana dibangun beberapa wahana permainan menarik seperti Bianglala. Pemandangannya pun sangat cantik. Selain karena penataannya yang baik, kita juga bisa melihat pemandangan dataran tinggi Kota Batu dari kejauhan, terutama saat sedang menaiki Bianglala. Apalagi saat malam tiba, lampu-lampu hias pun akan menyala dengan indah di alun-alun Batu.

Public space ini pun sangat ramah bagi anak dan ibu hamil. Hal ini bisa dilihat dari adanya smoking area di beberapa titik. Jadi, udara yang ada di area utama alun-alun tergolong cukup bersih dari polusi yang dihasilkan asap rokok. Maka tak heran banyak orang tua yang senang mengajak anaknya bermain di sini tanpa perlu khawatir terhadap pencemaran asap rokok.

Di sekitar alun-alun Batu, terdapat banyak penjual makanan dan oleh-oleh. Jadi setelah puas bermain di sana, wisatawan bisa segera mengisi energi atau membeli oleh-oleh untuk orang di rumah.
Tapi meskipun di sekitar alun-alun batu terdapat beberapa penjual makanan, tempat ini tetap terlihat bersih. Soalnya, pemerintah setempat sudah menyediakan tempat sampah di berbagai sudut sehingga para pengunjung tidak malas membuang sampah pada tempatnya.
Dengan suasana yang nyaman, bersih dan asyik, serta fasilitas publik yang baik, alun-alun Batu layak dinobatkan sebagai salah satu ruang terbuka publik terbaik yang ada di Indonesia.

Kalau kamu ingin merasakan langsung keseruan yang ada di alun-alun Batu dan Malang ini, yuk langsung saja buat rencana liburan ke sana. Tapi jangan lupa, cari promo hotel murah di Malang sejak jauh hari.
Untuk itu, kamu bisa temukan hotel murah di Malang di reservasi.com karena di sini ada banyak promo hotel murah di Malang yang bisa kamu dapatkan dengan penawaran harga terbaik.

Ikutan MaxiDay Yamaha for Karangasem

Category : tentang PLeSiran

Gak ada rencana jelas sebenarnya sedari awal, berhubung kesibukan kerja begitu menyita waktu hingga sore semingguan ini. Namun lantaran penasaran dengan jenis variasi yang biasanya nyantol di bodi bongsor XMax 250, satu hal yang lumrah dilihat dalam event semacam ini, ya iseng saja ikutan demi kepoin yang satu ini.

Maxi Day, kabarnya sih ini event pertama yang digelar di Bali oleh Yamaha lokalan, menggabungkan konsep touring pendek dari Kota Denpasar hingga Bali Zoo Gianyar, dengan gelaran society for Karangasem.
Diikuti oleh seribuan lebih peserta yang menggiring pengguna motor NMax, Aerox, XMax dan tentu saja satu dua keluarga TMax. Dalam berbagai macam warna dan variasi.
Nah ini yang paling menarik perhatian saya sejak awal tiba di gerai motor Yamaha Arundaya Gatsu Barat.

Mengikuti gelaran semacam ini menjadikan prosesi tour beriringan di sepanjang jalan menuju BaliZoo, merupakan pengalaman pertama saya selama memiliki motor Yamaha.
Keriuhan sirene, klakson baik yang berasal dari rombongan maupun lawan di jalan, cukup membuat saya was-was lantaran menduga ini semua bakalan jadi trending topic di sosial media dalam 1-2 hari ke depan.
Ya bagaimana tidak ?
Rombongan peserta yang dibagi 2 baris berbanjar, seakan berupaya menghentikan waktu pengendara motor dan mobil yang dilaluinya. Semua dihentikan demi memberi jalan dan ruang yang leluasa pada mereka yang melintas tanpa mematuhi lagi rambu dan lampu lalu lintas lantaran sudah dikawal mobil patroli polisi di barisan paling depan.
Saya yakin, ketika berada dalam posisi sebaliknya, melihat aksi begini dijamin mendongkol dan memaki sambil gatal untuk Update Status lalu menghujat dan lainnya.

Gelaran Maxi Day for Karangasem ini bakalan menyampaikan sumbangan kepada para pengungsi erupsi Gunung Agung yang kini lagi viral dimana-mana, dengan memanfaatkan pemasukan dari tiket kepesertaan yang senilai 30ribuan itu. Padahal, tiket masuk Bali Zoo, sewa lokasi hingga makan siang gratis bagi para peserta, saya yakin mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Tapi ya ini Yamaha loh…

Sayangnya, kekurangrapihan panitia menyampaikan informasi kepada para peserta MaxiDay for Karangasem ini mengakibatkan sebagian orang memilih balik kanan bubar karena ketidaktahuan mereka acara bakalan digelar dimana. Sementara saya pribadi yang sejak awal memang tidak berniat mengikuti rundown acara, memilih cuci mata di sepanjang parkiran, memantau sejumlah variasi motor yang digonta ganti pemiliknya, untuk menambah garang penampilan. Asyik juga…