Cerita dibalik Proses Verifikasi Usulan Bantuan Rumah Kabupaten Badung

Category : tentang PeKerJaan

Tim kami terdiri dari 14 tenaga kontrak usia muda yang direkrut melalui berbagai kegiatan dibawah Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Tahun Anggaran 2017. Membimbing mereka laiknya melihat ke masa lalu dimana saat saya seusia mereka, yang namanya semangat dan juga idealisme masih begitu menggebu. Bisa jadi lantaran belum ada beban dan tanggung jawab besar yang dipikul pada bahu.

Mereka kemudian dipecah menjadi 7-8 Tim kecil, bergantung pada stok pendampingan yang ada dan juga waktu serta kesempatan. Tidak ada istilah kawan spesial diantara mereka, sehingga mau tidak mau harus siap bertugas dimanapun ditempatkan, pula dengan siapapun kawannya.

Jika di awal proses Verifikasi mereka dilepas begitu saja tanpa pendampingan, kini setelah dua kali evaluasi, ada pendampingan khusus dari kami, tenaga berseragam cokelat. Ini dilakukan semata-mata untuk memberikan suntikan semangat bagi mereka yang diturunkan ke medan tempur, serta menciptakan rasa bersaing sehat antar tim dalam satu hari kerja yang sama.

Selain berusaha mengayomi lantaran jiwa muda mereka yang cenderung meledak-ledak, kami pula wajib memantau setiap pertanyaan yang muncul bail secara langsung di lapangan atau lewat group whatsapp, dan sigap menanggapi. Kalau tidak ? Bakalan jadi rame. Hehehe… dan seperti biasanya, musti ada selingan humor atau rewards bagi mereka disela kesibukan kerja.

Menjaga kinerja tim menjadi pekerjaan rumah terbesar yang kini sedang saya hadapi. Bagaimana caranya agar mereka bisa produktif sejak jam kerja pagi dijelang, hingga pasca makan siang dan waktu pulang. Dari membagi porsi, menyediakan makan siang bersama, hingga menyiapkan daftar rumah tangga sasaran setiap harinya, baik yang masuk dalam proses melanjutkan hari sebelumnya, atau sama sekali baru hasil berburu sehari dua sebelumnya. Proses ini mengingatkan saya pada agenda kerja tahun 2014, saat dimana secara nekat melakukan kunjungan satu persatu ke desa kelurahan di seantero wilayah kabupaten Badung, untuk menularkan visi dan misi yang kita inginkan demi efektifitas kerja nantinya. Jadi tambah semangat pasca kebosanan menangani jalan lingkungan 3,5 tahun sebelumnya.

Ada rasa haru ketika kami masuk door to door ke rumah warga di lingkungan desa atau kelurahan kabupaten Badung, menemukan fakta lapangan bahwa masih banyak dari mereka yang memang benar berada dibawah garis kemiskinan sementara Badung merupakan penghasil PAD terbesar di Provinsi Bali ini. Meski ada juga rasa jengkel yang tercipta lantaran ngototnya sebagian kecil atau oknum masyarakat untuk bisa diprioritaskan sebagai calon penerima bantuan, sementara menurut kaca mata kami, mereka ini sudah tergolong mampu ketimbang lingkungan dimana mereka berada. Hanya atas dasar pemerataan pemberian bantuan atau faktor kedekatan dengan aparat yang terlibat, mereka berupaya untuk mematahkan semua aturan yang ada. Miris…
Meski ada juga yang memang sudah paham Aturan ataupun keinginan pimpinan teratas, dan menyerahkan sepenuhnya keputusan yang nantinya akan diambil.

Namun bagaimanapun juga, kami hanyalah manusia biasa.
Ketika berhadapan dengan masyarakat yang sudah berupaya menerima kami sejak awal, ada satu dua gratifikasi yang diberikan dengan bahasa kedekatan mengingat kami bekerja toh juga untuk kepentingan mereka. dan semua itu musti dijaga dengan benar agar tidak sampai ada pungutan liar atau permintaan uang kepada pihak-pihak yang membutuhkan.
Tapi kalau hanya sekedar dua jerigen tuak yang baru turun dari pohonnya, ya tak apalah. Selama tidak membuat mabuk dan membuyarkan kinerja yang lainnya.

Catatan terkait Proses Verifikasi Usulan Bantuan Rumah Kabupaten Badung

Category : tentang PeKerJaan

Untuk bisa mendapatkan Bantuan Rumah yang terbagi atas tiga kategori dan nilai dari APBD Badung Tahun 2017 ini, kalian wajib melewati proses Verifikasi yang kami lakukan sejak awal bulan Maret lalu. Proses Verifikasi ini selain bertujuan untuk memilah usulan calon penerima bantuan yang disampaikan oleh masing masing desa atau kelurahan di seantero wilayah kabupaten Badung, pula untuk memperkecil peluang salah sasaran sebagaimana yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Tadinya, satu persyaratan utama yang diberlakukan oleh Dinas Sosial dalam menentukan calon penerima bantuan rumah adalah masuk dalam database rumah tangga sasaran penerima beras miskin yang ditetapkan dalam surat keputusan Bupati Badung tahun 2015, pasca temuan BPK di waktu lalu, yang menegaskan agar Bantuan harus menuntaskan terlebih dahulu daftar penerima tersebut sebelum berupaya memasukkan usulan diluar daftar.
Hal ini serta merta dipatahkan oleh pimpinan yang menegaskan kembali agar kami mampu mengakomodir semua usulan bantuan rumah tanpa terkecuali, dengan melakukan prioritas ulang berdasarkan kebutuhan yang ada.

Ketika nama kalian masuk kedalam daftar rumah tangga sasaran penerima bantuan beras miskin, sebenarnya bisa dikatakan pula bahwa kalian tergolong masyarakat miskin dengan penghasilan utama dibawah upah minimun rata-rata provinsi.
Disamping itu, persyaratan tambahan lainnya adalah ‘belum pernah mendapatkan bantuan rumah dari pemerintah selama 10 tahun terakhir’ serta ‘ tidak memiliki barang yang dapat dijual secara cepat senilai minimal 30 juta rupiah’. Kira-kira begitu legalitas utama yang kami berlakukan sebagaimana aturan yang ada dalam menentukan calon penerima bantuan rumah di kabupaten Badung.

Ada Tiga kategori Bantuan Rumah yang diberikan sebagaimana isi postingan Verifikasi Usulan Bantuan Rumah di Kabupaten.Badung yang diturunkan hari Sabtu, 15 April lalu yaitu senilai 55 Juta rupiah untuk mereka yang masuk dalam kategori kepemilikan rumah dengan tingkat kerusakan berat atau belum memiliki rumah, 30 juta rupiah untuk peningkatan kualitas rumah sehat yang memenuhi syarat kepemilikan rumah dengan tingkat kerusakan sedang, dan 15 juta rupiah untuk mereka yang masuk dalam kategori masyarakat berpenghasilan rendah dengan tingkat kerusakan ringan pada bangunan rumah yang dimiliki.

Disamping kepemilikan rumah, yang gak kalah pentingnya lagi adalah persoalan legalitas tanah yang ditempati. Khusus untuk Bantuan Rumah yang kali ini masuk dalam kelompok Rumah Swadaya, legalitas tanah menjadi penting.
Tidak masalah apabila tanah merupakan warisan orang tua, duwe tengah atau milik bersama, bahkan ayahan desa, yang penting bukan berstatus Kontrak. Jadi yang merupakan warga pendatang, yang kos di lahan orang, meskipun miskinnya gak ketulungan ya gak bakalan bisa dibantu. Dijamin bakalan salah sasaran. Yang ada ketika rumah mereka diperbaiki, usai itu si penghuni diusir pemilik rumah.
Bisa dipahami kan ya ?

Selebihnya, persyaratan yang kami berlakukan gak seUrgent catatan diatas tadi. Akan tetapi minimal ada Pernyataan akan keseriusan untuk mewujudkan perbaikan kualitas rumah atas bantuan dana yang diturunkan, tidak dialokasikan ke pembelian sembako, bayar hutang, apalagi beli motor baru.
Jangan ya. Jangan sekali-kali mencoba. Karena akan ada upaya hukum setelahnya.

Verifikasi Usulan Bantuan Rumah Kabupaten Badung

Category : tentang PeKerJaan

Satu bulan belakangan ini, saya dibebani tanggung jawab untuk menyelesaikan proses Verifikasi Usulan Bantuan Rumah di Kabupaten Badung untuk Tahun Anggaran 2017 bersama tim kerja yang pada akhirnya dibagi dua untuk lebih mengefektifkan waktu kerja dan produktifitasnya. Satu tim terdiri dari 7-8 group dilepas ke lapangan dan saya komandoi satu persatu, tim yang lain tetap standby di kantor untuk melakukan tabulasi data hasil verifikasi lapangan tadi.
Sungguh nikmat rasanya menjalani rutinitas baru setelah bosan membidani Jalan Lingkungan selama 3,5 tahun kemarin.

Proses Verifikasi Usulan Bantuan Rumah di Kabupaten Badung ini merupakan awal kegiatan sebelum nantinya akan menurunkan bantuan rumah bagi 1.700an Rumah Tangga Sasaran yang dibagi atas 625 RTS untuk pembangunan rumah baru dengan nilai bantuan sebesar 55 Juta Rupiah per RTSnya, 625 RTS untuk Peningkatan Kualitas Rumah Sehat atau PKRS yang hingga tahun ini masih ditangani oleh Dinas Sosial dengan nilai bantuan sebesar 30 Juta Rupiah per RTSnya, 440 RTS untuk Peningkatan Kualitas rehab ringan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah atau MBR dengan nilai bantuan sebesar 15 Juta Rupiah per RTSnya, dan terakhir Bantuan Rumah akibat Bencana bagi 20 RTS lainnya.
Total anggaran yang digelontorkan oleh Bupati Badung ini adalah 60an Milyar Rupiah hanya di tahun 2017 ini dan akan berulang di tahun berikutbya hingga target Tuntas pada tahun 2019.

Menarik Bukan ?

Adapun proses Verifikasi Usulan Bantuan Rumah di Kabupaten Badung ini sebenarnya sudah dimulai pada bulan Maret lalu, namun setelah melakukan dua kali Evaluasi pelaksanaan kegiatan tampaknya masih jauh dari harapan. Sehingga dalam dua minggu terakhir, diputuskan untuk merombak pola dan metode survey lapangan.
Tantangan inilah yang nyaris membuat saya pribadi jarang menulisi blog lagi mengingat waktu kesibukan yang luar binasa namun memberikan inspirasi lebih untuk dituliskan. Hanya inspirasi, belum sampai ke waktu menuliskannya. Hehehe…

Proses ini berjalan sedemikian rupa diawali dengan invasi tim ke Desa Taman Kecamatan Abiansemal, lalu menyebar di sisi Mengwi Selatan, lanjut menyusur ke wilayah Utara. Satu demi satu Desa/Kelurahan yang data usulannya kami miliki, dituntaskan agar tahun depan, harapannya tak ada lagi proses yang sama berulang kembali.
Bagaimana cerita dibalik itu semua ?

Simak di postingan berikutnya.

April Mop Tahun 2017 ?

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

Hari ini saya jadi sedikit mellow. Gegaranya dapat info bahwa salah satu pimpinan terBaik yang saya miliki, per pagi ini akan dipindahtugaskan ke Unit lain. Kalo ndak salah, hari ini memang ada jadwal pelantikan Eselon II di Kabupaten Badung.

Empat Tahun sudah saya berada dibawah kepemimpinan Beliau. Satu masa yang panjang kalo dilihat dari banyaknya pengalaman didapat sejauh ini.
Mangkel dan kecewa, ah itu sudah biasa.
Yang tidak biasa adalah rasa Bangga yang muncul, saat menyadari bahwa apa yang sesungguhnya Beliau pinta, bisa saya siapkan sebelum dikatakan.
Aneh aja kalo sampai begitu sebetulnya.

Sosok pemimpin yang satu ini mengingatkan saya pada figur Miranda sang pemimpin sebuah majalah fashion ternama pada film Devil Wears Prada yang diperankan oleh Meryl Streep, sosok yang keras pada bawahan namun diyakinkan bahwa ia seperti itu, hanya karena menjalankan tugasnya saja.
Jika sampai mengeluh akan kejamnya perlakuan yang didapat, maka mundur saja. Masih banyak antrean di luar yang rela antre untuk dapat ditempatkan pada posisi kerja sang bawahan.
Edan memang…

Sayangnya ini kali kedua saya kehilangan mentor yang sedemikian hebat menanamkan pola pikir dan etos kerja sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Badung dari saat menjadi staf di Bina Marga terdahulu sampai duduk di kursi jabatan strategis yang bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah.
Sehingga sebetulnya saya hanya bisa berharap, bahwa ini hanyalah sebuah April Mop di awal tahun 2017. Mengingat masih banyak rencana yang tadinya akan dilakukan bersama-sama di unit baru, tempat saya ditugaskan kini.

dan Entah bagaimana perjalanan ini akan berproses nantinya…

GA415 tujuan Jakarta

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Perjalanan kali ini bisa dikatakan saya lakoni tanpa beban.

Tapi meskipun ada, ya ndak sebesar perjalanan terakhir. Atau segalau kisah kemarin.
Ada hanya lantaran saya berangkat mendampingi Pimpinan yang merasa penting untuk bisa ikut serta lantaran pertemuan kali ini di Kementrian PU dan Perumahan Rakyat, ada kaitannya dengan opd baru yang dibentuk akhir tahun 2016 lalu.
Selebihnya ya biasa saja.

Mengambil perjalanan sehari sebelum jadwal acara, bertujuan agar kami tak perlu berkejaran dengan waktu untuk bisa menghadiri pembukaan rapat koordinasi terkait penyediaan perumahan di auditorium kementrian jalan Pattimura, sebagai hal sebelumnya.
Saya sendiri akan mengambil trip hingga selesai acara dan langsung balik malam harinya, sementara pimpinan mengambil pesawat pagi mengingat ada agenda khusus yang dilakukan terkait pemeriksaan BPKP.

Maka dilakonilah perjalanan ini kembali.

Lebih Santai
Seperti yang dikatakan diatas, perjalanan ini nyaris tanpa beban. Mengingat secara penugasan, kini saya tak lagi dibebani tanggung jawab sebagai PPK, tak satupun, baik untuk paket kegiatan Jalan Lingkungan yang dulu dilakoni, maupun kaitan dengan Perumahan, dinas penugasan kini.
Maka untuk agenda berangkat pun sepertinya tak seberat dulu. Hanya kepikiran dengan si kecil Ara yang biasanya saya temani tidurnya di malam hari, begitupun kesibukan keluarga jelang rahinan Tumpek Landep, sabtu besok.

Online dan Online
Semua transaksi yang dijalani selama 3 hari kedepan, dilakukan dengan memanfaatkan kemudahan Online.
Di jaman begini, ya harus nekat mencoba atau bahkan menggantikannya secara permanen, dari pemesanan tiket pesawat, booking hotel, hingga transportasi pengantaran.
Online dan Online.
Bersyukur bisa berada di era kekinian dimana koneksi internet sudah tidak lagi mahal untuk ditebus pakai.
dan ini adalah kali pertama pengalaman saya memanfaatkan kemajuan teknologi yang sebenarnya sudah lama dikenal.

Gangguan Mata
Sayangnya, aksi kali ini malah sedikit terganggu oleh kondisi mata yang belum jua membaik. Padahal sudah nyaris seminggu saya lakoni.
Mata merah, bengkak dan berair.
Belakangan malah bertambah banyak volume cairan yang keluar dari kelopak mata. Menyebabkan kantung mata penuh dengan bayangan bayangan semu yang menyulitkan jarak pandang.
Entah apa karena memang harus demikian prosedur kesembuhannya ataukah ada kaitannya dengan Diabetes yang saya derita selama ini ?

Tapi apapun itu, saya berharap ada banyak pengetahuan baru yang bisa didapatkan selama tiga hari kedepan ini.
Bisa ikut di doakan ya Kawan kawan…

Masih Terbawa Mimpi

Category : tentang PeKerJaan

Antara sadar atau tidak, semua kerjaan itu seakan hadir menyeruak diantara aktifitas yang ada dalam mimpi. Mengingatkanku untuk selalu waspada dalam setiap langkah seakan enggan menyia-nyiakan waktu luang yang ada di awal tahun 2017 ini.
Satu hal yang buruk terasa sekali dalam pikiran.
Satu ekspresi antara keengganan untuk beranjak atau mungkin belum siapnya untuk berpindah pekerjaan.
Entahlah…

Tiga setengah tahun menangani Jalan Lingkungan, bisa jadi hanyalah sebuah waktu yang sekejap mata baru saja terlewatkan.
Namun bisa juga merupakan perjalanan panjang yang melelahkan jika kalian mengalami semua tantangan yang ada didalamnya.
Termasuk semua hiasan baik dan buruknya.

Maka ya wajar saja apabila semua rutinitas itu selalu hadir dalam mimpi tidur panjangku.
Baik pemeriksaan lapangan, ataupun koordinasi untuk mengingatkan semua staf agar bergegas mengumpulkan pekerjaan di hari Senin nanti, dan bisa dieksekusi lebih lanjut bersama-sama.

Jadi terhenyak saat mata terbuka.
Pikiran seakan berusaha meyakinkan dunia nyata.
Fakta yang ada.
Bahwa aku telah masuk masa pensiun dari Jalan Lingkungan.
Semuanya.

Ada rasa kecewa, kangen, dan juga gembira.
Bahwa aku telah melewati semuanya.
Entah dengan kesan baik ataupun buruk.
dan kini harus bersiap diri mengahadapi tantangan baru yang memiliki tensi lebih rendah dari pendahulunya.

Salah Duga Pengalaman Pertama di Surabaya

1

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

“Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan…”

Ehem, maaf keknya saya terlalu terhanyut dengan hari ini.
Ada banyak hal bersliweran di kepala sejak awal tahun 2017 dijejakkan.
Galau.
Pusing.
Pengen segera menyudahi semuanya.
dan untuk itulah, saya ada di Surabaya kali ini.

Surabaya ternyata Bersih kawan.
Saya jadi berdecak kagum ketika mobil yang ditumpangi masuk jalanan di Pusat Kota.
Hasil kerja walikota Bu Risma benar benar terasa.
Hal serupa disampaikan Pak Juari, sopir taxi Sang Bima apa tadi namanya. Maaf saya lupa. Kurang fokus dalam mengingat.
Bahwa Beliau bangga punya pimpinan macem itu.

Proses Pencairan Jaminan Pelaksanaan paket kegiatan kami tahun lalu, berjalan lancar. Sekurangnya sekitar 2,5 jam saya disetrap oleh bagian Bank Garansi Bank Jatim, namun sudah tidak terasa lagi. Bahkan laparpun ndak berani muncul gegara keruhnya otak memikirkan hal ini sejak pagi.
Padahal awalnya mengira bahwa proses ini akan jauh lebih lama.
Terima Kasih Tuhan, semuanya sudah dimudahkan dan dilancarkan hari ini.

Berhubung penyelesaian urusan jadi agak lama, persoalan makan siang pun jadi mundur jauh.
Yang tadinya berpikir akan kesulitan kemana-mana, saya memilih ditunggui Pak Juari, sopir taxi yang bikin kesepakatan antar sana sini sekitaran 50ribu sejam. Ya sudah, dijabani saja ketimbang kebingungan.
Maka rute makan siang pun dipilih Soto Ayam Surabaya Pak Sadi Aseli !
Nda tau juga dimana bedanya dengan yang nda Aseli. He…

Nah berhubung tiket pesawat yang tersisa cuma Lion Air, jadi mikir lagi buat pulang.
Lebih baik meluangkan sehari buat liburan di Surabaya, ketimbang gedeg gegara delay cem tempo hari.
Maka persoalan tempat tidur pun jadi pikiran.
Awalnya milih Emerald di jalan Ambengan. Trus atas saran mba di Bank Jatim, untuk melirik Ibis disebelah, eh pengen juga. Lalu ada Hotel Santika yang lingkungannya agak meragukan keknya.
Terakhir ingat Inna Simpang. Hotel dekat Tunjungan Plaza yang jadi destinasi kunjungan tahun 2008 lalu bareng temanteman Bina Marga.

Akhirnya ya pilihan terakhir ini yang diambil. Agak nyesel juga sih lantaran persoalan harga kamar cukup lumayan ketimbang pilihan pertama.
Tapi diantara semua pilihan, hanya Inna yang punya fasilitas Spa.
Aktifitas pilihan untuk membuang waktu yang paling tepat sejauh ini.
Terbukti, saya ketiduran dan ngorok saat dipijat tadi.
Wih… capeknya luar binasa…

GA 341 menuju Surabaya

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Melaksanakan tugas dinas keluar kota sendirian sebenarnya bukan lagi hal yang baru, hanya saja hari ini merupakan perjalanan pertama yang menggunakan uang pribadi baik tiket dan agenda menginap di tujuan nanti.
Ya, meskipun agenda ini masih dalam kaitan pemutusan kontrak paket kegiatan Jalan Lingkungan di tahun 2016 lalu, tampaknya yang namanya uang perjalanan dinas belum bisa diamprah lantaran rupa kegiatan tahun berjalan juga belum tahu.
Jadi anggaplah ini sebuah aksi jalan-jalan paket hemat.

Melintasi udara dengan pesawat Garuda Indonesia GA 341, menempati tempat duduk 45H, dua deret ekor pesawat, ditemani filem blockbuster Ada Apa Dengan Cinta 2 di layar depan sandaran kursi.
Rasa rindu pada anak anak dan istri sedikit terobati lewat kelucuan adik bayi yang ada di seat 43C. Jadi inget Ara dan Intan waktu kecil.

Tak ada rencana khusus yang saya susun demi melewati waktu seharian ini. Yang terpikir hanyalah menyelesaikan urusan secepatnya di Surabaya, menemui pimpinan pelaksana, deal or no deal, saya balik pulang. Toh sudah berupaya merelakan semuanya.
Akan tetapi keknya perjalanan ini mubazir kalo dibuang percuma. Liburan sehari mungkin nda ada ruginya. Cuma ya kangen pada keluarga menyebabkan semua rencana tambahan tersebut lebih baik untuk tidak dijalankan.
Entah nanti.

Pesawat ini rupanya tak sebesar yang saya bayangkan. Seat H yang tertera pada boarding pass tampaknya tidak menjamin jumlah penumpang yang ada di satu deret. Nyatanya ya hanya 6 orang saja. A, B, C dan H, J dan K.
Kenapa ya ?

Jalan Panjang ke Surabaya

Category : tentang PeKerJaan

Tak pernah sekalipun terlintas dalam kepala untuk melintasi pulau dengan pesawat di awal tahun menjalankan tugas kedinasan apalagi dengan tujuan penyelesaian satu masalah dari sebuah pengambilan keputusan yang sangat bodoh.
Namun demikianlah adanya.
dan seperti biasa, ada kegalauan di setiap langkah.
Satu demi satu, menyusuri jalanan kota Denpasar menuju Bandara.

Keragu-raguan yang ada sejalan dengan apa yang dinikmati dalam dua minggu keseharian ini.
Rasanya memang tak akan bisa melepaskan penat dalam dada. Mungkin perlu waktu yang lama untuk bisa melupakannya.

Menunda semua kelihatannya bukan satu pemikiran yang bijak. Karena hutang sudah seperti pisau yang siap menghujam dada tanpa ampun.
Maka sudah sewajarnyalah perjalanan panjang ini dilakoni.

Surabaya, akan tiba sebentar lagi…
GA341, 45H…

Menanti Putusan Rotasi Staf

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Weekend kali ini rasanya memang sedikit lebih lama dari biasanya.
dan Hal ini nda hanya saya sendiri yang merasakan. Tapi juga beberapa kawan yang deg deg an menanti putusan pimpinan terkait rotasi staf di lingkungan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Badung.

Sedianya dilakukan mulai 2 Januari lalu.
Hari pertama ngantor pasca perpindahan seluruh eselon, baik yang tetap berada di tempat tugasnya semula, pindah ke skpd lain ataupun bertugas di skpd baru sesuai usulan OPD tempo hari.
Yang sayangnya harus molor seminggu lantaran kesibukan dan juga pemindahan ruangan dan arsip, berhubung dengan adanya OPD baru ini, bidang termasuk semua dokumen yang mengikutinya musti menyesuaikan dengan penempatan tugas baru nantinya.

Saya sendiri kini menempati ruangan yang dahulu digunakan oleh kawan kawan Bidang Pertambangan. Cukup luas untuk menampung tiga Kepala Seksi beserta staf yang kelak ditugaskan, beserta Kepala
Bidangnya, plus sebagian Arsip yang dipandang perlu.
Ruangan ini berada di lantai 2 sisi utara, masih di gedung yang sama.

Meja kerja, saya memilih yang ada di pojokan timur. Meja yang dahulunya ditempati senior semasa prajabatan cpns tahun 2004 lalu, memiliki pandangan yang searah ke seluruh ruangan.
Semacam meja pemantauan di ruangan tersebut.
Mirip dengan posisi meja kerja di ruangan saya terdahulu, bedanya suasana yang tercipta jadi sedikit lebih gelap lantaran minimnya bukaan cahaya di dinding sekitarnya.

Ada 12 orang staf yang membantu saya melaksanakan tugas dan aktifitas harian selama tiga setengah tahun terakhir ini. Dua diantaranya berstatus diperbantukan dari Seksi lain, yang sudah saya anggap sebagai Staf sendiri baik dari segi pembagian tugas maupun hak masing masing.
Tiga diantaranya berusia lebih muda dari saya. Sisanya jauh lebih tua.
Menjadi beban tersendiri untuk bisa bekerja sama dengan mereka semenjak tiba di ruang Permukiman, bulan Mei tahun 2013 lalu.
Berusaha menjadikan hubungan Atasan dengan Staf selayaknya Teman Kerja setara, sepertinya ampuh meleburkan semua kepentingan yang ada, bahu membahu meski masih ada cerita suka dukanya, juga mangkel mangkelnya.
Tak lupa bersikap adil dengan semua tanpa mengedepankan ego pribadi sebagai atasan.

Esok, semua kelihatannya akan berakhir sementara.
Menanti putusan rotasi yang kabarnya khusus ruangan kami akan dipecah menyebar mengingat secara tugas, dahulunya kamilah yang mengeksekusi kegiatan yang kini dikelola PRKP. Mungkin sebagai bentuk reward atas hasil kerja selama ini, atau mungkin juga semacam bentuk hukuman karena kami tergolong Staf yang terbandel sejauh ini.
He…

OPD Baru, Semangat pun Harus Baru

2

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Di Akhir tahun 2016 lalu, beberapa Organisasi Perangkat Daerah baru Pemerintah Kabupaten Badung dibentuk dan disahkan oleh Bupati Giri Prasta. Salah satu yang saya ketahui pasti adalah adanya Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman atau yang kelak disebut sebagai PRKP.
Dinas ini merupakan pengembangan dari Seksi Permukiman dimana saya bertugas dahulu, yang dipecah tugasnya menjadi 2 Bidang yaitu Bidang Perumahan dan Bidang Kawasan Permukiman.
Dua hal yang dalam setiap aturan maupun kebijakan selalu menjadi satu kesatuan atau yang kalau disingkat menjadi PKP.

Saya sendiri ditugaskan pada Seksi Peningkatan Kualitas Perumahan yang berada dibawah Bidang Perumahan dengan tugas pertama yang paling jelas terlihat adalah mengawal Program Bedah Rumah baik Rumah Sehat yang diperuntukkan bagi Rumah Tangga Miskin atau Masyarakat penerima Beras Miskin yang dulunya ditangani oleh Dinas Sosial, dan Rumah Layak Huni bagi mereka yang masuk dalam Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang memiliki Rumah Tidak Layak Huni. Khusus RTLH terakhir ini ditangani oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang menjadi induk kebijakan Dinas PRKP Badung.

Meski demikian, info sementara saya diberikan tugas tambahan untuk menangani sebagian paket kegiatan Peningkatan Jalan Lingkungan Perumahan dan Permukiman, berbagi dengan Bidang Kawasan Permukiman mengingat banyaknya jumlah paket yang harus diselesaikan.
Ditambah lagi Program Kotaku atau Kota Tanpa Kumuh, plus Ranperda Kebijakan terkait PKP, RP3KP dan Database Perumahan.
Ampun deh…

Padahal rencana awal, dengan adanya kepindahan ini saya bisa jauh lebih santai menghadapi rutinitas tapi keknya ya sama saja. Bahkan bertambah lagi dengan kegiatan yang dulunya ditangani Ibu Kabid.
Yang kalo kata pimpinan cemnya ‘Ngelidin Setra Nepukin Sema’ ya sama saja. Duh !

Tapi dengan adanya perubahan OPD baru ini, saya berharap semua semangat yang dahulu pernah hilang, bisa terbaharukan kembali. Minimal ya untuk mencoba beradaptasi dengan pekerjaan baru, kawan-kawan baru dan pimpinan yang baru.
Namun begitu, hutang saya pun sebenarnya masih sisa satu dari pekerjaan tahun lalu yaitu terkait Pemutusan Kontrak yang saya harap bisa selesai dalam minggu-minggu ini.
Karena bagaimanapun juga, OPD baru sudah siap untuk mengeksekusi sejumlah kebijakan yang diturunkan oleh Bupati Terpilih.
Mau tidak mau ya kita harus siap menghadapi dan menyelesaikannya dengan Baik.

Kira-kira Begitu.
Jadi yuk ah, kita semangat lagi Kawan…
Jangan menggalau terus bawaannya…