Polemik Jalan ShortCut Desa Canggu – Tibubeneng

3

Category : tentang Opini

Ruas jalan ini adalah salah satu akses alternatif yang menghubungkan Desa Canggu dengan Desa Tibubeneng dari sisi selatan, yang bisa dicapai melalui jalur jalan Nelayan tepatnya sebelum menuju pantai Batu Bolong.

Jalan ini kerap dikeluhkan Netizen lokal, hingga regional Bali bahkan Nasional. Kalau tidak salah sampai ada julukan Jalur Neraka.
Apa sebabnya ?

Karena hanya di Ruas Jalan ini saja, begitu banyak kendaraan roda 4 yang kedapatan nyemplung ke sisi kanan dan kiri Jalan saat dipaksakan untuk berpapasan dengan kendaraan roda 4 lainnya, padahal secara logika, lebar jalan tidak cukup mampu menampung dua kendaraan roda 4 berjajar.

Lantas siapa yang Salah ?

Pemerintah Kabupaten Badung ? Yang seakan Diam dan Tidak Bertindak padahal memiliki PAD tinggi ?
Atau Pak Polisi yang tidak mau menjaga Lalu Lintas setempat ?

Yang belum pernah melewati Jalan ShortCut Canggu – Tibubeneng ini, yang menurut Google Maps dikenal dengan Jalan Echo Beach, kalau boleh saran, lebih baik jangan ikut-ikutan menyalahkan, karena akan terlihat jelas bahwa sesungguhnya tidak paham fakta di lapangan.

Pertama sudah Jelas, Masyarakat kita artinya Buta Huruf dan Buta Rambu.

Ini saran saya kepada Dinas Pendidikan agar menggalakkan lagi program Membaca dan Memahami Huruf dan Kalimat, dibantu Dinas Perhubungan untuk membaca dan memahami Arti Rambu Lalu Lintas. ? MAAF, saya bercanda.

Karena Sudah jelas itu jalan satu arah, yang kalau tidak salah hanya diijinkan dari arah Canggu ke Tibubeneng, dari arah Barat ke Timur, tidak sebaliknya…

Jadi kalaupun ada yang ngeyel ya jangan menyalahkan orang lain ? salahkan dulu diri sendiri yang tidak paham situasi, atau mereka yang melanggar Rambu lalin dari arah Timur.

Saya yakin, jika semua Patuh pada Rambu setempat, gak akan ada mobil nyemplung lagi atau gambar Jalan Alternatif Jaman Now seperti yang dishare semeton tiang sebelumnya.

Persoalan Kedua adalah Kendala di Lapangan terkait Opsi Pelebaran Jalan. Yaitu proses pembebasan lahan di kanan kiri Jalan ShortCut Canggu – Tibubeneng.
Berhubung informasinya, di awal pelebaran jalan terdahulu, pemilik Lahan sudah merelakan sebagian lahan untuk dimanfaatkan pelebaran tersebut. Masa kini harus merelakannya lagi ? ?

Namun jika masuk ke Proses Pembebasan Lahan, yang menjadi Kendala lagi adalah soal Nilai Jual Tanah yang akan digunakan untuk maksud pelebaran tsb. Apakah Pemilik Lahan rela menjual sebagian kecil lahannya kembali sesuai dengan NJOP yang telah ditetapkan Pemerintah, atau sebaliknya, apakah Pemerintah boleh membeli lahan dengan harga Pasar atau kesepakatan yang rawan mark up dan lainnya ?

Ketiga adalah Dugaan Penundaan dari Pemerintah ataupun Pemilik Lahan di kanan dan kiri jalan dimaksud, dengan alasan kekhawatiran akan perubahan alih fungsi lahan ketika jalan tersebut nantinya akan diperlebar dan diaspal hotmix. Meskipun bisa bernilai jual tinggi, namun bukan tidak mungkin bakalan mengurangi lahan hijau yang kini masih tampak asri dipandang. Masuk akal bukan ?

Matur Suksema

* Sebagaimana diPosting pada akun Sosial Media FaceBook group Suara Badung, 29 April 2018 pagi tadi.
Untuk tanggapan, komentar dan masukan dari para netizen Suara Badung bisa dilihat pada link disini.

Memberi Pelayanan Terbaik bagi Konsumen, atau Mengabaikannya ?

Category : tentang Opini

Terlepas dari kemudahan yang diberikan atas pilihan pengambilan menu bazaar yang kerap dilakukan oleh sejumlah yayasan atau perkumpulan di provinsi Bali ini, secara pribadi sebetulnya kangen juga kalo saat ditodong paksa untuk membeli dua hingga empat lembar sekaligus, menyasar lokasi di lingkungan banjar atau desa setempat. Namun bisa jadi lantaran ribetnya prosedur dan persiapan, pengadaan ba?aar kini sudah malih rupa menjadi menu cepat saji semacam McDonalds atau KFC.

Jika hanya diberi opsi dua pilihan diatas, kalo boleh memilih, mending ambil yang McD ketimbang KFC.
Satu pertimbangan utama adalah pola pengambilannya, yang bilamana sedang tidak punya banyak waktu, untuk McD masih bisa diambil melalui jalur Drive Thru dimana Konsumen tidak lagi perlu antre berdiri.

Kondisi jadi semakin tak nyaman, ketika kejadian hari Jumat 13 April lalu, saat sudah antre untuk sekitaran 5-7 orang dalam satu barisan, rupanya opsi Nasi Putih yang seharusnya ada dalam paket, habis lantaran membludaknya pengunjung. Tentu yang nasibnya tak beruntung seperti saya, musti menunggu lagi di meja depan kasir, dengan estimasi sekitar 15 menitan yang nantinya pesanan akan diantar sendiri oleh petugas.
Begitu kata pramusaji gerai KFC jalan Kebo Iwa/Gatsu Barat Denpasar.

Setelah menunggu sekitar 15 menitan, pesanan tak kunjung datang.
Tumben dalam sejarah mengambil kupon bazaar hingga empat puluh menit lamanya, belum juga selesai. Coba kalo di gerai McD ? Gak sampe nunggu lama, kendaraan langsung cusss meninggalkan lokasi.
Hmmm… langsung ngeTweet ke akun KFC dan baru mendapat tanggapan esok harinya, 14 April pk.10.44 AM.

Memberikan Pelayanan yang Terbaik bagi Konsumen sih, sudah seharusnya dipegang teguh oleh para Produsen jika yang namanya loyalitas kelak diharapkan akan diterima tanpa tedeng aling-aling.

Saya jadi ingat dengan pelayanan Agung Toyota yang ada di ruas jalan Cokroaminoto Denpasar.
Setiap kali mampir secara rutin untuk servis kendaraan, ada saja penambahan fasilitas yang diberikan kepada konsumen saat menunggu proses servis selesai dilakukan. Dari pijat refleksi, pijat elektrik, kantin makan minum hingga makan siang gratis saat konsumen melakukan booking service pada jam makan siang. Kaget tentu saja. Tahu begini kan tiap jam makan siang saja servisnya.

Saat dikonfirmasi ke salah satu staf di bagian kasir, itu adalah bentuk terima kasih mereka pada konsumen yang begitu setia pada brand Toyota, meskipun kini ada brand lain yang mulai masuk pada lini yang sama dan mengambil kue perolehan penjualan setiap bulannya.
Hal yang sama sepertinya berlaku juga untuk layanan cepat saji fast food tadi. Cuma entah apakah mereka memang sengaja mengabaikannya.

Canggu, Surga Villa dan peSurfing Mancanegara

2

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Hari masih pagi saat kaki ini melangkah cepat mengikuti irama musik yang didengar melalui earset bluetooth. Melanjutkan agenda rutin olahraga harian, meski kini berada jauh dari rumah. Tetap berupaya menjaga kesehatan, agar kesehatan tetap prima adanya.

Satu persatu bangunan mentereng dilewati. Tak tampak kehidupan didalam sana. Sepi tanpa penghuni.
Beberapa iklan tertempel rapi ditembok depan bangunan. Villa dan Villa.
Edan.

Canggu pagi ini, tampak jelas banyak hunian yang mengganggur tanpa orderan. Satu dua diantaranya malah bertuliskan ‘for sale’. Sempat berandai-andai, perkiraan harga yang ditawarkan mengingat lokasi dan megahnya penampilan rasanya bakalan sulit digapai jika melihat trend penurunan harga sewa kamar harian jaman now yang didiskon gila-gilaan. Mending ambil sewa harian ketimbang membeli dan melakukan pemeliharaan saat sulit begini.

Masuk kilometer ketiga perjalanan, mata menatap lekat tiga remaja yang mendekap papan surfing, berjalan bersama dua rekan dewasa menuju arah pantai. Pantai Canggu tampaknya memang surganya para pecinta ombak. peSurfing mancanegara.
Bahkan diujung jalan tempat kami menginap, ada satu gerai penyewaan papan surfing dalam jumlah besar yang dijaga dua security kelahiran Bali.
Ombak yang besar menantang mereka untuk menikmatinya lebih awal. Tak heran jika perairan hari ini tampak belasan peSurfing sudah berada di tengah pantai dengan aksi mereka yang menantang.

dan saya hanya bisa memandangnya…

Perkembangan Pesat Pesisir Kuta Utara

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Menyusuri jalanan pinggiran kota menuju Ecosfera Hotel, Canggu Kecamatan Kuta Utara, serasa berada di area Kuta saja. Hanya disini suasananya cukup lengang, masih ada jeda ruang terbuka untuk sawah diantara club atau cafè atau tempat nongkrong para wisatawan. Belum penuh sesak dengan bikini dan telanjang dada turis mancanegara.

Secara pekerjaan, satu setengah tahun ini rasanya sudah sangat jarang bisa main sampai ke pelosok desa semacam ini. Biasanya hanya sampai kantor Desa/Kelurahan, lalu menyerahkan proses cek lapangannya kepada tim.
Sebaliknya secara pribadi pun, arah main selama memiliki waktu luang sepertinya ndak pernah lewat ke area ini, paling seputaran tempat bermain anak, atau melintasi sejumlah ruas jalan raya untuk mengejar target langkah setiap harinya.

Maka itu kaget juga, saat mengetahui perkembangan pesat yang tumbuh di kampung istri sejauh ini. Bahkan istri yang lahir disini pun tak kalah kagetnya pas mengetahui perubahan fungsi yang terjadi begitu cepat dan meranggas setiap sisi depan lahan dan rumah warga yang kami yakini memiliki nilai jual yang tinggi meski hanya seuprit.

Apalagi saat melihat sendiri aktifitas pagi hari seputaran pantai yang nyaris dipenuhi fasilitas bagi wisatawan mancanegara. Cafè, club hingga penyewaan board surfing.
Sementara orang kita, penduduk asli Bali harus rela menjadi satpam security atau penjaga parkiran, menempati rumah kecil ditengah serbuan villa dan resort.

Sesekali menarik nafas panjang untuk bisa tetap berpikiran waras di tengah pemandangan asing malam ini.

Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak.

Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai.

Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu.

Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh sesuai beban kerja. Layak dan impas dengan semua pengorbanan.
Sepertinya…

Namun jika pikiran mau dibawa ke sisi yang positif, ada banyak hikmah yang bisa diambil di balik kurang kerjaannya saya kali ini.

Pertama, soal waktu luang tadi. Ada aktifitas menulis yang kembali bisa dilakoni secara rutin dan menyenangkan pikiran. Ada senda gurau dengan anak-anak selepas kerja lantaran bisa pulang tepat waktu. Ada juga olah raga yang hampir selalu disempatkan saban hari, pagi saat libur dan sore usai bekerja.

Kedua, soal beban, pikiran dan kesehatan. Hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Setidaknya kini tak lagi diganggu dering telepon meski saat perjalanan pulang ke rumah, atau saat leyeh-leyeh memandang langit, bisa dirasakan penuh nikmat atas kuasa-Nya. Utamanya tentu, gula darah bisa lebih stabil meski yang namanya berat badan otomatis naik lagi. Kampret dah.

Ketiga, jalan-jalan.
Dalam arti sebenarnya tapi. Meski harus dibungkus dalam kedok koordinasi ke tingkat Desa/Kelurahan. Dulu, mana sempat. Pagi teng nyampe kantor, telepon ruangan berdering, menghadap pimpinan, lanjut aktifitas lain hingga jam pulang menjelang. Kini ? Ayo kabur…
Istilah lainnya, menikmati pekerjaan laiknya hobby.

Keempat dan terakhir, tentu saja Touring.
Hehehe… sejatinya tak sebanding dengan definisi asli, namun rasanya eman kalo beli motor baru hasil jerih payah ngayah selama 4 tahun di Jalan Lingkungan, kalo tak dibawa touring jauh ke lingkup pekerjaan. Eh…
Meski raungan knalpot XMax tak segarang Scorpio terdahulu, namun bicara soal kenyamanan berkendara, tentu jauh lebih baik.
Yang membedakan hanya soal latar belakang objek foto saja. Jika dulu selalu dijejali paving natural dan juga warna merah, kini lebih natural dan lapang. Jalan raya.

Jadi biarpun kini lebih banyak tampak kurang kerjaan, namun yang namanya hidup, harus tetap bisa kita nikmati. Ya nggak ?

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Category : tentang Opini

Sesaat usai aktifitas rutin Senin Pagi kemarin, kabar menghenyakkan datang dari rumah sebelah.
Bu Kadek, istri dari alm.PakMan Panji meninggal dunia setelah lama dirawat di RS Sanglah.
Saya lupa sakit apa yang ia derita.

Kabar duka ini cukup membuat saya shock, berhubung baru tiga tahun lalu, suami yang bersangkutan meninggal dunia akibat serangan jantung. Keluarga ini meninggalkan empat anak remaja dengan status masih bersekolah.
Seketika mengingatkan saya pada dua buku kecil yang dibeli tempo hari.

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Dua buku dengan tema serupa ini berisikan sejumlah cerita kenangan tentang sosok Ayah dan Ibu saat mereka masih ada. Cukup menyentuh, ketika kita membacanya, mengingatkan pada kedua sosok orang tua yang sudah jauh meninggalkan.
Namun betapa beruntungnya saya ketika dua sosok tadi masih ada dan dalam keadaan sehat.

Kehilangan dua sosok yang selama ini kita kagumi, tentu akan membawa sejuta rasa kepada mereka yang ditinggalkan. Rindu bahkan rela membayar sebesar apapun untuk bisa melihat mereka lagi jika diijinkan. Maka itu, ketika mereka masih ada, saya berusaha membahagiakan keduanya.

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Ini pertama kalinya saya merasakan kesedihan luar biasa, dengan kehilangan dua sosok idola bagi empat putra putri mereka. Belum bisa membayangkan jika itu terjadi kelak.

Mumpung Sehat, Ayo Semangat Olah Raga

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Minimal sekali kalo pas Hari Kerja, atau paling ndak ya tiga kali lah pas Hari Libur.
Eh, ini bukan soal main ke Stadium Jakarta yang ditutup Pak Ahok tempo hari loh Mas… tapi soal frekuensi per hari agenda Jalan Kaki, jalan cepat tepatnya. Olah Raga kalo istilah kerennya.

Keputusan diatas saya ambil pas ada kawan kantor yang banyak nanya, soal aktifitas rutin yang saya coba jalani dua bulan terakhir.
Jalan kaki, jalan cepat. Sebagai olah raga di kala senggang. Ya ndak heran juga kalo berefek langsung pada semangat bloggingnya. Jauh berkurang. Eh…

Sebelumnya, target olah raga harian masih mengacu ke standar Samsung Gear S3, jam tangan pintar yang mengatur 6000 langkah per harinya.
Namun ketika kejadian gula darah berada tinggi diatas awan, target ini jadi bertambah.
Minimal 10ribu langkah pas Hari Kerja, dan 15 hingga 20ribu langkah pas Hari Libur. Lengkap sudah…

Selain memang mensyaratkan adanya keringat setiap kali melakukan aksi jalan cepat ini, rupanya baru mengucur kalo sudah berjalan pada rentang waktu minimal 1 jam-an. Itu setara sekitar 5-6 km jauhnya jarak tempuh. Kalo sebatas 2-3 km sepertinya masih belum berarti.

Mumpung Sehat, ya ayo kita semangatkan olah raga. Kurang lebih begitu, jargon harian yang saya upayakan bisa ditepati, sementara ini. Entah kalo sudah bosan nanti.
Tapi eh, ya memang beneran. Karena kalo pengen gula darah turun gila-gilaan dari atas awan, sepertinya hanya dengan berOlah Raga ini saja pengobatan paling alaminya. Ndak usah memilih jalan tak manusiawi dengan menelan rebusan air daun-daunan yang pahit. Cukup olah raga dan mengatur pola makan. Itu saja.

Konsumsi Tuak dan Konsekuensinya

Category : tentang Opini

Nyaris empat puluh tahun hidup dan beraktifitas, baru dalam setahun terakhir ini berani membawa pulang miras dan menyimpannya dalam kulkas, serta dinimati secara terang-terangan di rumah sendiri.
Efek pergaulan di luar rumah memang terasa bedanya.

Tapi eits, jangan Negatif Thinking dulu kawan.
Miras atau minuman keras yang saya bawa ini tentu bukan miras sembarangan apalagi oplosan.
Bukan pula minuman campur sari yang ditambah-tambahi gerusan obat nyamuk bakar atau rendaman pembalut wanita.
Ini Tuak.
Tuak adalah Nyawa.

He… kurang lebih begitu nyanyian lokalan Bali yang lagi ngeTrend selama setahun terakhir. Hasil kolaborasi genjekan semeton kangin, melahirkan theme song baru bagi kalangan anak-anak muda Bali peminum Tuak, yang kalau tidak salah, mengambil nada teriakan ole ole ole sepak bola dunia.

Tuak sendiri dari info yang saya baca adalah minuman hasil fermentasi dari pohon jaka atau aren yang banyak ditanam penduduk desa, utamanya di Desa Sibang Gede atau Desa Taman, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Ini salah dua desa yang saya ketahui sebagai penghasil Tuak Terbaik sejauh ini.
Bisa jadi masih banyak desa lainnya, jika mau ditelusuri lebih jauh.
Yang kalau difermentasi lebih mendalam lagi, bakalan berubah menjadi miras terbaik di pulau Bali, yaitu Arak Bali.
Saya mah berani mengkonsumsi sampai tingkat Tuaknya saja.

Dilihat dari Hasil Tuak yang difermentasi, ada beragam juga yang saya dengar. Namun dari sekian banyak varian yang ada, Tuak wayah dari Desa Sibang Gede ini saja yang menjadi favorit saya sejauh ini. Tahu kenapa ?

Karena selain efek yang diakibatkan pasca mengkonsumsi Tuak wayah Sibang Gede, yaitu pening kepala dan rasa kantuk yang teramat sangat, manfaat lainnya adalah mampu menurunkan kadar gula darah secara drastis bila dikonsumsi secara berkala. Entah benar atau tidak, dari beberapa kali pemeriksaan gula darah pasca mengkonsumsi Tuak, memang terpantau turun drastis meski sebelumnya berada pada titik diatas 200 mg/dl.
Bisa jadi karena pengaruh sugesti juga sih.

Namun demikian, saya pribadi tidak menyarankan Tuak dan minuman semacam ini jadi konsumsi kalian kedepannya, lantaran efek dan konsekuensi yang mampu ditimbulkannya tadi, cukup berat dirasakan bagi sebagian orang. Utamanya bagi mereka yang belum mampu mengendalikan diri fan nafsu saat berada dalam situasi lupa akan kesadaran diri sendiri.
Saya yang kerap mengkonsumsi Tuak saja tidak membutuhkan waktu lama untuk mengubah warna kulit wajah menjadi merah padam. Memudahkan kawan kerja di ruangan untuk segera menyadari bahwa saya sudah terkontaminasi kandungan Tuak. Memabukkan.
Lantas memilih tiduran ketimbang bicara ngelantur. Jauh lebih aman bagi diri sendiri juga lingkungan.

Sama seperti menggunakan Pisau atau Sosial Media. Mengkonsumsi Tuak ada sisi Positif, juga sisi Negatifnya. Tergantung dari kalian memilih opsi yang mana.

24 Jam Tanpa YouTube, Perayaan Nyepi di Bali

Category : tentang Buah Hati, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Kalian yang berdomisili dan liburan menikmati Nyepi di Bali, apa kabarnya hari ini ?
Sudah dapat main kemana saja sejak pagi ?

Ditinggal tidur siang sejam lamanya, akhirnya rencana Pemutusan Jaringan Internet di Bali, jadi juga dilaksanakan. Setidaknya pada jaringan yang kami gunakan sejauh ini di rumah. IndiHome.
Padahal sejak pagi tadi, koneksi masih aman lantjar djaja. Dipakai unduh majalah oke, dipake YouTube-an oleh anak-anak pun Nevermind. Aman…

Tapi apa kata Dunia saat bangun dari tidur pasca menenggak dua gelas Tuak usai olah raga tadi, Internet mendadak hilang dan jaringan dua arah berganti menjadi tanda seru ?
Biarkan saja. Selow…

Toh juga anak-anak, pangsa pasar pengguna utama halaman YouTube di gawai mereka masing-masing, sudah diinfokan dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Bahwa Pak YouTube pada Hari Raya Nyepi besok gak bakalan bisa dipake, karena Internetnya Capek.
Done. Selesai sudah.
Mereka paham, dan nggak ada rewel sejak pagi tadi hanya karena ndak bisa menonton video Upin Ipin, Doraemon atau Banjir Air Mata-nya Fun Cican.
Lebih memilih menikmati puluhan koleksi video serupa yang sudah diunduh sebelumnya.
Anak-anak dan ketergantungan mereka pada YouTube, gawai juga koneksi internet adalah satu hal yang mengkhawatirkan sejumlah kawan netizen penghuni dunia maya saat agenda pemutusan internet selama pelaksaan Hari Raya Nyepi diberlakukan di Bali.

Sebagai gantinya, mereka asyik bermain boneka sejak pagi, bermain andai-andai di sejumlah tempat sekitaran rumah, hingga berlagak bermain dengkleng padahal saya yakin mereka tak paham sama sekali bagaimana cara bermainnya.
Sungguh menarik dunia anak-anak sesungguhnya.

24 Jam tanpa akses ke halaman YouTube hari ini.

Dinikmati saja, toh hanya sehari ini.

Pelaksanaan Nyepi dan agenda Pemutusan Internet di Bali

Category : tentang Opini

Salah satu pertimbangan khusus yang diambil oleh PHDI dibalik rencana dan usulan pemutusan jaringan Internet kepada Kominfo dan sejumlah operator jaringan telekomunikasi di Bali pada pelaksanaan Hari Raya Nyepi tahun ini adalah untuk mencegah polemik yang ditimbulkan di dunia maya, dari orang per orang yang tidak puas dengan pemberlakuan Catur Brata Penyepian sebagai budaya seluruh Umat Hindu di Bali. Ketidakpuasan mereka biasanya diunggah melalui status akun media sosial FaceBook yang memang belakangan makin lumrah digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat bahkan anak ABeGeh tingkat eSDe sekalipun, yang secara nalar bisa jadi belum paham, mana yang pantas diumbar secara luas, mana yang hanya untuk konsumsi pribadi. Meski yang namanya pembatasan umur minimal 13 tahun sudah ditetapkan oleh pihak FaceBook. Tetap saja bisa ditembus dengan mudah.

Bagi sebagian besar pengguna Internet di Bali tentu saja hal ini menimbulkan pro dan kontra. Ada yang setuju, ada juga yang sebaliknya. Namun ada juga yang memilih selow, macam saya. Just kidding.

Mereka yang Tidak Setuju hadir dari kalangan pengguna Internet tingkat mahir, yang bertanggungjawab pada keluhan Customer dan Client untuk Jasa terkait Data ataupun lainnya yang disampaikan secara online, atau mereka yang khawatir akan penyampaian informasi Bencana utamanya Gunung Agung bakalan tersendat, pula hadir dari kalangan freak pemain games Mobile Legend. Apa kata Dunia jika tak bisa War seharian nanti ?

Sementara kalangan yang Setuju dengan pemberlakuan kebijakan diatas, bahkan yang memilih Selow dan abai, hadir dari kalangan yang bisa jadi tidak memerlukan jaringan Internet secara permanen, hanya digunakan untuk berSosial Media dan aktifitas ringan lainnya, atau yang sudah menyadari tantangan yang bakalan timbul setiap Hari Raya Nyepi dilaksanakan. Seperti saya. Hohoho…

Kenapa bisa Selow saja menanggapi pemberlakuan agenda pemutusan Internet ini, ya toh hanya sehari saja. Bukan seminggu, bahkan sebulan penuh.
Hanya 24 Jam, terhitung dari pukul 06.00 pagi hari saat Hari Raya Nyepi hingga pukul 06.00 hari minggu esok harinya. Itupun dikurangi sekian jam waktu tidur malam dan siang kalo ada.
Mengurangi keuntungan atau menimbulkan Kerugian ? Hanya sehari juga.

Pro dan Kontra terkait rencana Pemutusan Internet rupanya tidak hanya terungkap di kalangan Netizen yang berdomisili di Bali. Di luaran juga ada. Oleh mereka yang bukan Umat Hindu pun juga ada.
Bisa begitu lantaran bisa jadi mereka belum pernah mengetahui kasus per kasus penghinaan Nyepi yang terjadi saban Hari Raya Suci ini dilaksanakan. Kalian yang penasaran bisa mencarinya di halaman blog saya ini, dengan menggunakan kata kunci terkait tadi. Ada banyak kejadian dalam waktu yang berbeda.

Persoalan rencana Pemutusan Internet bagi kalangan Umat Hindu yang terbiasa menjalankan Tapa Brata Penyepian, saya yakin bukanlah satu masalah besar.
Karena kalaupun mau mengambil langkah yang lebih ekstrem lagi, bagi kalian yang memiliki kondisi kesehatan tanpa sakit yang berbahaya macam Diabetes, saya jaminkan tidak akan mati hanya karena tidak mengkonsumsi apapun selama 24 bahkan 36 jam kedepan. Jadi seandainya kalian hidup sendirian tanpa teman di kosan, nggak usah ikutan antre di supermarket, membeli jatah makan sebulan hanya karena merasa bakalan dikurung dalam rumah selama Nyepi.
Yang notabene dalam ajaran Hindu, aktifitas ini memang dianjurkan untuk menahan hawa nafsu selama melaksanakan Catur Brata Penyepian, dan yang paling gampang dilakukan adalah menahan lapar.

Lantas Nikmat apa lagi yang kau jadikan alasan untuk tidak menikmati Nyepi di Bali ?

Rahajeng Nyepi Caka 1940 lan Saraswati

Category : tentang Opini

Menyelesaikan tugas atau kewajiban di pagi hari, tepat pukul 6 sudah menjadi hal yang biasa dilakoni selama beberapa tahun terakhir. Menggantikan istri juga ibu untuk menghaturkan banten canang sehari-hari hingga kali ini Nyepi Caka 1940 yang jatuhnya berbarengan dengan hari suci Saraswati.
Kami umat Hindu disarankan untuk dapat menyelesaikan proses atau ritual persembahyangan pada pukul 6 pagi, untuk selanjutnya masuk ke tahap melaksanakan tapa brata penyepian.

Ada yang kurang tentu saja.
Hari ini berhubung salah satu dari empat catur brata penyepian, melarang kami untuk bepergian ke luar rumah, maka rutinitas berolahraga pun dipaksa absen. Harus puas berganti dengan jalan-jalan di halaman rumah tanpa keringat yang membasahi baju. Ya, kecepatannya tak sebanding dengan aktifitas sebelumnya.

Sembari duduk mencari matahari pagi, langit Bali tampak cerah. Senang melihat suasana yang nyaman begini. Tanpa hiruk pikuk lalu lintas pinggiran jalan. Hanya suara burung dan gemericik air kolam yang terdengar nyaring di kedua telinga.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan hari ini.
Meski informasinya Internet off baik yang berkaitan dengan jaringan komunikasi maupun rumahan, namun hingga detik ini, Indi Home masih bisa berfungsi dengan baik. Untuk menguji kecepatan aksesnya pun, sejumlah majalah terbaru dari aplikasi S-Lime, Update aplikasi di Google Play, hingga mengunduh video dari beberapa akun Instagram yang mengabadikan sosok ogoh ohoh Ratu Sumedang semalam pun bisa sukses dilakukan. Entah kenapa.

Aktifitas untuk mensyukuri Hari Raya Nyepi Caka 1940 sudah selesai dilakukan. Demikian halnya Hari Suci Saraswati.
Tinggal sarapan dan melanjutkan aktifitas harian seperti biasa.