Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak.

Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai.

Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu.

Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh sesuai beban kerja. Layak dan impas dengan semua pengorbanan.
Sepertinya…

Namun jika pikiran mau dibawa ke sisi yang positif, ada banyak hikmah yang bisa diambil di balik kurang kerjaannya saya kali ini.

Pertama, soal waktu luang tadi. Ada aktifitas menulis yang kembali bisa dilakoni secara rutin dan menyenangkan pikiran. Ada senda gurau dengan anak-anak selepas kerja lantaran bisa pulang tepat waktu. Ada juga olah raga yang hampir selalu disempatkan saban hari, pagi saat libur dan sore usai bekerja.

Kedua, soal beban, pikiran dan kesehatan. Hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Setidaknya kini tak lagi diganggu dering telepon meski saat perjalanan pulang ke rumah, atau saat leyeh-leyeh memandang langit, bisa dirasakan penuh nikmat atas kuasa-Nya. Utamanya tentu, gula darah bisa lebih stabil meski yang namanya berat badan otomatis naik lagi. Kampret dah.

Ketiga, jalan-jalan.
Dalam arti sebenarnya tapi. Meski harus dibungkus dalam kedok koordinasi ke tingkat Desa/Kelurahan. Dulu, mana sempat. Pagi teng nyampe kantor, telepon ruangan berdering, menghadap pimpinan, lanjut aktifitas lain hingga jam pulang menjelang. Kini ? Ayo kabur…
Istilah lainnya, menikmati pekerjaan laiknya hobby.

Keempat dan terakhir, tentu saja Touring.
Hehehe… sejatinya tak sebanding dengan definisi asli, namun rasanya eman kalo beli motor baru hasil jerih payah ngayah selama 4 tahun di Jalan Lingkungan, kalo tak dibawa touring jauh ke lingkup pekerjaan. Eh…
Meski raungan knalpot XMax tak segarang Scorpio terdahulu, namun bicara soal kenyamanan berkendara, tentu jauh lebih baik.
Yang membedakan hanya soal latar belakang objek foto saja. Jika dulu selalu dijejali paving natural dan juga warna merah, kini lebih natural dan lapang. Jalan raya.

Jadi biarpun kini lebih banyak tampak kurang kerjaan, namun yang namanya hidup, harus tetap bisa kita nikmati. Ya nggak ?

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Category : tentang Opini

Sesaat usai aktifitas rutin Senin Pagi kemarin, kabar menghenyakkan datang dari rumah sebelah.
Bu Kadek, istri dari alm.PakMan Panji meninggal dunia setelah lama dirawat di RS Sanglah.
Saya lupa sakit apa yang ia derita.

Kabar duka ini cukup membuat saya shock, berhubung baru tiga tahun lalu, suami yang bersangkutan meninggal dunia akibat serangan jantung. Keluarga ini meninggalkan empat anak remaja dengan status masih bersekolah.
Seketika mengingatkan saya pada dua buku kecil yang dibeli tempo hari.

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Dua buku dengan tema serupa ini berisikan sejumlah cerita kenangan tentang sosok Ayah dan Ibu saat mereka masih ada. Cukup menyentuh, ketika kita membacanya, mengingatkan pada kedua sosok orang tua yang sudah jauh meninggalkan.
Namun betapa beruntungnya saya ketika dua sosok tadi masih ada dan dalam keadaan sehat.

Kehilangan dua sosok yang selama ini kita kagumi, tentu akan membawa sejuta rasa kepada mereka yang ditinggalkan. Rindu bahkan rela membayar sebesar apapun untuk bisa melihat mereka lagi jika diijinkan. Maka itu, ketika mereka masih ada, saya berusaha membahagiakan keduanya.

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Ini pertama kalinya saya merasakan kesedihan luar biasa, dengan kehilangan dua sosok idola bagi empat putra putri mereka. Belum bisa membayangkan jika itu terjadi kelak.

Mumpung Sehat, Ayo Semangat Olah Raga

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Minimal sekali kalo pas Hari Kerja, atau paling ndak ya tiga kali lah pas Hari Libur.
Eh, ini bukan soal main ke Stadium Jakarta yang ditutup Pak Ahok tempo hari loh Mas… tapi soal frekuensi per hari agenda Jalan Kaki, jalan cepat tepatnya. Olah Raga kalo istilah kerennya.

Keputusan diatas saya ambil pas ada kawan kantor yang banyak nanya, soal aktifitas rutin yang saya coba jalani dua bulan terakhir.
Jalan kaki, jalan cepat. Sebagai olah raga di kala senggang. Ya ndak heran juga kalo berefek langsung pada semangat bloggingnya. Jauh berkurang. Eh…

Sebelumnya, target olah raga harian masih mengacu ke standar Samsung Gear S3, jam tangan pintar yang mengatur 6000 langkah per harinya.
Namun ketika kejadian gula darah berada tinggi diatas awan, target ini jadi bertambah.
Minimal 10ribu langkah pas Hari Kerja, dan 15 hingga 20ribu langkah pas Hari Libur. Lengkap sudah…

Selain memang mensyaratkan adanya keringat setiap kali melakukan aksi jalan cepat ini, rupanya baru mengucur kalo sudah berjalan pada rentang waktu minimal 1 jam-an. Itu setara sekitar 5-6 km jauhnya jarak tempuh. Kalo sebatas 2-3 km sepertinya masih belum berarti.

Mumpung Sehat, ya ayo kita semangatkan olah raga. Kurang lebih begitu, jargon harian yang saya upayakan bisa ditepati, sementara ini. Entah kalo sudah bosan nanti.
Tapi eh, ya memang beneran. Karena kalo pengen gula darah turun gila-gilaan dari atas awan, sepertinya hanya dengan berOlah Raga ini saja pengobatan paling alaminya. Ndak usah memilih jalan tak manusiawi dengan menelan rebusan air daun-daunan yang pahit. Cukup olah raga dan mengatur pola makan. Itu saja.

Konsumsi Tuak dan Konsekuensinya

Category : tentang Opini

Nyaris empat puluh tahun hidup dan beraktifitas, baru dalam setahun terakhir ini berani membawa pulang miras dan menyimpannya dalam kulkas, serta dinimati secara terang-terangan di rumah sendiri.
Efek pergaulan di luar rumah memang terasa bedanya.

Tapi eits, jangan Negatif Thinking dulu kawan.
Miras atau minuman keras yang saya bawa ini tentu bukan miras sembarangan apalagi oplosan.
Bukan pula minuman campur sari yang ditambah-tambahi gerusan obat nyamuk bakar atau rendaman pembalut wanita.
Ini Tuak.
Tuak adalah Nyawa.

He… kurang lebih begitu nyanyian lokalan Bali yang lagi ngeTrend selama setahun terakhir. Hasil kolaborasi genjekan semeton kangin, melahirkan theme song baru bagi kalangan anak-anak muda Bali peminum Tuak, yang kalau tidak salah, mengambil nada teriakan ole ole ole sepak bola dunia.

Tuak sendiri dari info yang saya baca adalah minuman hasil fermentasi dari pohon jaka atau aren yang banyak ditanam penduduk desa, utamanya di Desa Sibang Gede atau Desa Taman, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Ini salah dua desa yang saya ketahui sebagai penghasil Tuak Terbaik sejauh ini.
Bisa jadi masih banyak desa lainnya, jika mau ditelusuri lebih jauh.
Yang kalau difermentasi lebih mendalam lagi, bakalan berubah menjadi miras terbaik di pulau Bali, yaitu Arak Bali.
Saya mah berani mengkonsumsi sampai tingkat Tuaknya saja.

Dilihat dari Hasil Tuak yang difermentasi, ada beragam juga yang saya dengar. Namun dari sekian banyak varian yang ada, Tuak wayah dari Desa Sibang Gede ini saja yang menjadi favorit saya sejauh ini. Tahu kenapa ?

Karena selain efek yang diakibatkan pasca mengkonsumsi Tuak wayah Sibang Gede, yaitu pening kepala dan rasa kantuk yang teramat sangat, manfaat lainnya adalah mampu menurunkan kadar gula darah secara drastis bila dikonsumsi secara berkala. Entah benar atau tidak, dari beberapa kali pemeriksaan gula darah pasca mengkonsumsi Tuak, memang terpantau turun drastis meski sebelumnya berada pada titik diatas 200 mg/dl.
Bisa jadi karena pengaruh sugesti juga sih.

Namun demikian, saya pribadi tidak menyarankan Tuak dan minuman semacam ini jadi konsumsi kalian kedepannya, lantaran efek dan konsekuensi yang mampu ditimbulkannya tadi, cukup berat dirasakan bagi sebagian orang. Utamanya bagi mereka yang belum mampu mengendalikan diri fan nafsu saat berada dalam situasi lupa akan kesadaran diri sendiri.
Saya yang kerap mengkonsumsi Tuak saja tidak membutuhkan waktu lama untuk mengubah warna kulit wajah menjadi merah padam. Memudahkan kawan kerja di ruangan untuk segera menyadari bahwa saya sudah terkontaminasi kandungan Tuak. Memabukkan.
Lantas memilih tiduran ketimbang bicara ngelantur. Jauh lebih aman bagi diri sendiri juga lingkungan.

Sama seperti menggunakan Pisau atau Sosial Media. Mengkonsumsi Tuak ada sisi Positif, juga sisi Negatifnya. Tergantung dari kalian memilih opsi yang mana.

24 Jam Tanpa YouTube, Perayaan Nyepi di Bali

Category : tentang Buah Hati, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Kalian yang berdomisili dan liburan menikmati Nyepi di Bali, apa kabarnya hari ini ?
Sudah dapat main kemana saja sejak pagi ?

Ditinggal tidur siang sejam lamanya, akhirnya rencana Pemutusan Jaringan Internet di Bali, jadi juga dilaksanakan. Setidaknya pada jaringan yang kami gunakan sejauh ini di rumah. IndiHome.
Padahal sejak pagi tadi, koneksi masih aman lantjar djaja. Dipakai unduh majalah oke, dipake YouTube-an oleh anak-anak pun Nevermind. Aman…

Tapi apa kata Dunia saat bangun dari tidur pasca menenggak dua gelas Tuak usai olah raga tadi, Internet mendadak hilang dan jaringan dua arah berganti menjadi tanda seru ?
Biarkan saja. Selow…

Toh juga anak-anak, pangsa pasar pengguna utama halaman YouTube di gawai mereka masing-masing, sudah diinfokan dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Bahwa Pak YouTube pada Hari Raya Nyepi besok gak bakalan bisa dipake, karena Internetnya Capek.
Done. Selesai sudah.
Mereka paham, dan nggak ada rewel sejak pagi tadi hanya karena ndak bisa menonton video Upin Ipin, Doraemon atau Banjir Air Mata-nya Fun Cican.
Lebih memilih menikmati puluhan koleksi video serupa yang sudah diunduh sebelumnya.
Anak-anak dan ketergantungan mereka pada YouTube, gawai juga koneksi internet adalah satu hal yang mengkhawatirkan sejumlah kawan netizen penghuni dunia maya saat agenda pemutusan internet selama pelaksaan Hari Raya Nyepi diberlakukan di Bali.

Sebagai gantinya, mereka asyik bermain boneka sejak pagi, bermain andai-andai di sejumlah tempat sekitaran rumah, hingga berlagak bermain dengkleng padahal saya yakin mereka tak paham sama sekali bagaimana cara bermainnya.
Sungguh menarik dunia anak-anak sesungguhnya.

24 Jam tanpa akses ke halaman YouTube hari ini.

Dinikmati saja, toh hanya sehari ini.

Pelaksanaan Nyepi dan agenda Pemutusan Internet di Bali

Category : tentang Opini

Salah satu pertimbangan khusus yang diambil oleh PHDI dibalik rencana dan usulan pemutusan jaringan Internet kepada Kominfo dan sejumlah operator jaringan telekomunikasi di Bali pada pelaksanaan Hari Raya Nyepi tahun ini adalah untuk mencegah polemik yang ditimbulkan di dunia maya, dari orang per orang yang tidak puas dengan pemberlakuan Catur Brata Penyepian sebagai budaya seluruh Umat Hindu di Bali. Ketidakpuasan mereka biasanya diunggah melalui status akun media sosial FaceBook yang memang belakangan makin lumrah digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat bahkan anak ABeGeh tingkat eSDe sekalipun, yang secara nalar bisa jadi belum paham, mana yang pantas diumbar secara luas, mana yang hanya untuk konsumsi pribadi. Meski yang namanya pembatasan umur minimal 13 tahun sudah ditetapkan oleh pihak FaceBook. Tetap saja bisa ditembus dengan mudah.

Bagi sebagian besar pengguna Internet di Bali tentu saja hal ini menimbulkan pro dan kontra. Ada yang setuju, ada juga yang sebaliknya. Namun ada juga yang memilih selow, macam saya. Just kidding.

Mereka yang Tidak Setuju hadir dari kalangan pengguna Internet tingkat mahir, yang bertanggungjawab pada keluhan Customer dan Client untuk Jasa terkait Data ataupun lainnya yang disampaikan secara online, atau mereka yang khawatir akan penyampaian informasi Bencana utamanya Gunung Agung bakalan tersendat, pula hadir dari kalangan freak pemain games Mobile Legend. Apa kata Dunia jika tak bisa War seharian nanti ?

Sementara kalangan yang Setuju dengan pemberlakuan kebijakan diatas, bahkan yang memilih Selow dan abai, hadir dari kalangan yang bisa jadi tidak memerlukan jaringan Internet secara permanen, hanya digunakan untuk berSosial Media dan aktifitas ringan lainnya, atau yang sudah menyadari tantangan yang bakalan timbul setiap Hari Raya Nyepi dilaksanakan. Seperti saya. Hohoho…

Kenapa bisa Selow saja menanggapi pemberlakuan agenda pemutusan Internet ini, ya toh hanya sehari saja. Bukan seminggu, bahkan sebulan penuh.
Hanya 24 Jam, terhitung dari pukul 06.00 pagi hari saat Hari Raya Nyepi hingga pukul 06.00 hari minggu esok harinya. Itupun dikurangi sekian jam waktu tidur malam dan siang kalo ada.
Mengurangi keuntungan atau menimbulkan Kerugian ? Hanya sehari juga.

Pro dan Kontra terkait rencana Pemutusan Internet rupanya tidak hanya terungkap di kalangan Netizen yang berdomisili di Bali. Di luaran juga ada. Oleh mereka yang bukan Umat Hindu pun juga ada.
Bisa begitu lantaran bisa jadi mereka belum pernah mengetahui kasus per kasus penghinaan Nyepi yang terjadi saban Hari Raya Suci ini dilaksanakan. Kalian yang penasaran bisa mencarinya di halaman blog saya ini, dengan menggunakan kata kunci terkait tadi. Ada banyak kejadian dalam waktu yang berbeda.

Persoalan rencana Pemutusan Internet bagi kalangan Umat Hindu yang terbiasa menjalankan Tapa Brata Penyepian, saya yakin bukanlah satu masalah besar.
Karena kalaupun mau mengambil langkah yang lebih ekstrem lagi, bagi kalian yang memiliki kondisi kesehatan tanpa sakit yang berbahaya macam Diabetes, saya jaminkan tidak akan mati hanya karena tidak mengkonsumsi apapun selama 24 bahkan 36 jam kedepan. Jadi seandainya kalian hidup sendirian tanpa teman di kosan, nggak usah ikutan antre di supermarket, membeli jatah makan sebulan hanya karena merasa bakalan dikurung dalam rumah selama Nyepi.
Yang notabene dalam ajaran Hindu, aktifitas ini memang dianjurkan untuk menahan hawa nafsu selama melaksanakan Catur Brata Penyepian, dan yang paling gampang dilakukan adalah menahan lapar.

Lantas Nikmat apa lagi yang kau jadikan alasan untuk tidak menikmati Nyepi di Bali ?

Rahajeng Nyepi Caka 1940 lan Saraswati

Category : tentang Opini

Menyelesaikan tugas atau kewajiban di pagi hari, tepat pukul 6 sudah menjadi hal yang biasa dilakoni selama beberapa tahun terakhir. Menggantikan istri juga ibu untuk menghaturkan banten canang sehari-hari hingga kali ini Nyepi Caka 1940 yang jatuhnya berbarengan dengan hari suci Saraswati.
Kami umat Hindu disarankan untuk dapat menyelesaikan proses atau ritual persembahyangan pada pukul 6 pagi, untuk selanjutnya masuk ke tahap melaksanakan tapa brata penyepian.

Ada yang kurang tentu saja.
Hari ini berhubung salah satu dari empat catur brata penyepian, melarang kami untuk bepergian ke luar rumah, maka rutinitas berolahraga pun dipaksa absen. Harus puas berganti dengan jalan-jalan di halaman rumah tanpa keringat yang membasahi baju. Ya, kecepatannya tak sebanding dengan aktifitas sebelumnya.

Sembari duduk mencari matahari pagi, langit Bali tampak cerah. Senang melihat suasana yang nyaman begini. Tanpa hiruk pikuk lalu lintas pinggiran jalan. Hanya suara burung dan gemericik air kolam yang terdengar nyaring di kedua telinga.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan hari ini.
Meski informasinya Internet off baik yang berkaitan dengan jaringan komunikasi maupun rumahan, namun hingga detik ini, Indi Home masih bisa berfungsi dengan baik. Untuk menguji kecepatan aksesnya pun, sejumlah majalah terbaru dari aplikasi S-Lime, Update aplikasi di Google Play, hingga mengunduh video dari beberapa akun Instagram yang mengabadikan sosok ogoh ohoh Ratu Sumedang semalam pun bisa sukses dilakukan. Entah kenapa.

Aktifitas untuk mensyukuri Hari Raya Nyepi Caka 1940 sudah selesai dilakukan. Demikian halnya Hari Suci Saraswati.
Tinggal sarapan dan melanjutkan aktifitas harian seperti biasa.

Menyambut Pagi Hari Raya Nyepi

Category : tentang Opini

Antusiasme masyarakat tampak begitu terasa akan pencapaian STT Yowana Saka Bhuwana melalui tangan dingin seniman Kedux melahirkan ogoh ogoh Ratu Sumedang yang diarak hingga ke jantung kota Denpasar pada pengerupukan semalam. Menciptakan keramaian lalu lintas yang tidak biasa pada persimpangan jalan Banjar Tainsiat dari tengah malam sebelumnya hingga dini hari tadi.

Hiruk pikuk dentum sound system di depan rumah, saat puluhan orang mengarak barisan raksasa di gelapnya malam, masih terasa meski alarm ponsel berdering nyaring mengingatkan waktu untuk mulai beraktifitas pagi di Hari Raya Nyepi.
Jadi agak berbeda lantaran hari ini bertepatan pula dengan Hari Raya Saraswati, dimana kami umat Hindu diharapkan dapat menyelesaikan proses persembahyangan sebelum pukul 6 menjelang nanti.

Dunia maya masih riuh dengan pro kontra diblokirnya internet pada Nyepi tahun ini. Termasuk kawan sendiri, sesama masyarakat Bali. Hanya karena merasa tidak ada aktifitas yang bisa dilakukan tanpa paket data. Sementara itu mereka lupa bahwa bisa jadi ada keluarga atau anak sendiri yang bisa diajak ngobrol banyak hal untuk melewatkan waktu dengan cepat.
Padahal masih banyak aktifitas lain yang bisa dilakukan tanpa semua itu.
Selow saja.

Menyambut Pagi di Hari Raya Nyepi.
Mengembalikan semuanya pada alam, berserah diri hanya sehari ini saja. Agar bisa memberikan manfaat yang lebih baik di kemudian hari.

Nobar Final Bali United vs Persija

1

Category : tentang Opini

GOOOLLL… pertama menghajar gawang Bali United di menit 19 Laga Final Piala Presiden tampak merobek perasaan ribuan penonton yang ikutan nobar Indosiar, demikian halnya kami malam ini.
Edan, bahkan meski tak paham mana kostum Bali United hingga sepuluh menit pertama pun, semua konsentrasi mendadak buyar. Games Onet yang sejak pagi dilakoni sampai menunda mandi malam pun harus diabaikan.

Skor 1:0 untuk Persija tampaknya memberikan beban yang teramat sangat, utamanya bagi kawan-kawan suporter Bali yang khusus mendatangi Gelora Bung Karno Jakarta dan secara suka rela mengurangi saldo tabungan mereka demi melihat perjuangan sang idola kali ini. Sudah kalah jumlah, dibobol pula.

Ini kali pertama saya nonton televisi secara intens dari awal mula, bareng dengan Istri. Kalian boleh percaya atau tidak. Yang bikin lebih heran lagi, Kali pertama tontonannya malah bertema tanding bola. Apa kata dunia ?
Mungkin ini jadi bukti kongkrit bahwasanya keberhasilan Pak Presiden Indonesia Joko Widodo mampu menyatukan semua lapisan rakyat, lakik maupun perempuan lewat sajian spektakulernya yang dilaksanakan tanpa mengorbankan sepeser rupiahpun dana APBN.

dan Meski hati masih belum rela kalo Tim Gabener Jekardah mengoyak pertahanan Squad Tridatu di babak Pertama, tumben jadi senyum sendiri dengan duet komentator bola yang kerap menggunakan istilah menggelitik. Bisa aja mereka berdua.
Uniknya saya yakin, mereka punya mata yang syuper cemnya babang Superman. Buktinya bisa menyebut nama si pemain saat menyorong bola padahal jaraknya jauh begitu. Juga korelasi otak dan perkataan yang berprosesor ganda. Kok ya bisa merepet begitu cepat ?

( Postingan akun IG @beluluk 17/2 )

Serangan balik lini depan Bali United tampaknya belum mampu menembus elmu kanuragan penjaga gawang Persija hingga jelang menit akhir babak pertama. dan Sialnya…

GOOOLLL kembali mengoyak gawang Bali United lewat Bicycle Kick penyerang depan Persija. 2:0…
Ampun dah…

Kira-kira Tim mana yang bakalan membawa pulang 3,3 Milyar malam ini ?

Siap-siap di-UnFollow yah

Category : tentang Opini

Kalian yang sempat baca postingan saya Sabtu kemarin, dijamin langsung nyengir kalo sempat baca tanggapan upload video tenggelamnya penataan sungai sebelah sekolah Dharma Praja Gatot Subroto, dekat stand kuliner Taman Kota Lumintang, Senin sore tadi. Padahal baru juga diguyur hujan deras sebentar.

Saya pribadi sebetulnya gak ada maksud politis apapun mengingat Kota Denpasar, kota kelahiran dan kòta dimana saya menetap, kini sudah begitu menarik untuk dinikmati, rupanya menyimpan banyak perubahan yang tak pernah disadari sebelumnya. Salah satunya ya penataan sungai di tekape yang meski belum semegah area pasar Badung, rasanya patut juga diacungi jempol. Cuma sayangnya, kekaguman saya hanya bertahan sebentar seiring air pasang naik yang menenggelamkan pemandangan apik sejauh mata memandang.
Berhubung Jaman Now lagi rame-ramenya Kampanye PilGub kedua pihak, postingan itu jadi dikait-kaitkan dengan Politis deh. Sampai-sampai ada yang berupaya menyinggung soal Hujan di Pantai Pandawa dan Bupati Badung. Hadeh…

Kronologis pengambilan Gambar, berencana olah raga di Taman Kota Lumintang, pas hujan mulai turun sekitar pukul 3.50, saya take gambar pertama layar video bigscreen pk. 3.58 pas berteduh di sebelahnya. Berhubung menyadari ada tempat kuliner, mampir di gerai paling bawah, sate babi dan bakso beranak nya Mbah Joyo. Ambil gambar kedua pas menyadari ada penataan sungai pk. 4.08, dan gak lama sudah hilang di pk. 4.16.
Politis ? Tebak sendiri deh…

Yang seperti ini, siap-siap saja saya UnFollow sementara. Tapi kalopun memang terus berlanjut ya ndak apa-apa juga. Toh ini sudah cara yang paling Halus untuk menghindari berantem dunia maya dan mengorbankan pertemanan yang sebelumnya sudah dipelihara dengan baik. Ketimbang UnFriend atau Block ?

…dan kalau sudah seperti ini, seperti biasa kok saya malah gatel pengen mancing kerusuhan lagi ?
Nanti mau Upload Gambar Sepatu olah raga yang Senin sore tadi saya pake buat Jalan Santai sejam lamanya di alun-alun Kota Denpasar gegara sepatu kets Puma putih yang biasanya menemani, musti basah kuyup pasca hujan deras sekitaran jam 4 sore itu. Bakalan jadi rame karena warnanya yang Merah.
Dicoba ndak ya ?

Pilkada lagi, Berantem Media Sosial lagi

Category : tentang Opini

Belum juga masa kampanye, suasana media sosial sudah mulai gerah dirasakan.
Setidaknya itu yang terjadi dalam enam bulan terakhir.

Salah satu pertimbangan yang diambil saat keputusan untuk membuka kembali akun FaceBook beberapa waktu lalu adalah meminimalisir akun-akun dengan berbagai kepentingan politik, utamanya mereka yang dulu berseberangan visi memilih berada di pihak om Wowo dan secara rutin dan rajin menyebar hoax terkait pak Jokowi. Itu sebabnya begitu FaceBook memberikan opsi UnFollow pada akun teman yang dimiliki, saya pun melakukan filterisasi secara rutin setiap harinya, agar jangan sama melakukan UnFriend sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya.
Kasian pertemanan di real world kalo sampe terganggu hanya gara-gara pilkada.

Sebentar lagi, ya sebentar lagi kok. Ndak lama.
Kita bakalan punya Gubernur baru, yang hadir dengan sekian banyak kelebihan dan kekurangannya.
Aura perseteruan pun sudah makin jelas terlihat di antara dua kubu meski salah satunya baru saja mendeklarasikan diri setelah tarik ulur siapa yang jadi Bali 1.
Isu terpenting jaman now yang jadi trending adalah soal BTR atau Bali Tolak Reklamasi dimana kedua calon memiliki arsip jejak digital yang mendukung agenda Reklamasi atau pengurugan teluk Benoa.

Dilema, itu yang saya rasakan secara pribadi.
Jika melihat dari zona kerja, Badung kelihatannya sudah positif pol mendukung KBS. Sementara jika dilihat dari zona tempat tinggal, pesona Rai Mantra begitu unggul untuk dilirik.
Yang sayangnya, masing-masing pun punya kekurangan secara sudut pandang saya pribadi.
KBS minim Prestasi dalam membangun Bali, setidaknya jarang terdengar kiprah nyata Beliau. Sementara Rai Mantra mendapat pasangan yang nggak sreg untuk dipilih. Jadi susah juga mikirnya.

Jangan sampai Golput kalau bisa. Sayang kan kalo sampai 5 tahun kedepan, Bali jadi salah pilih Gubernur macamnya DKI Jakarta itu.

Tapi lain lagi kalo dilihat dari partai pengusung. Kok saya malah cenderung ke Merah ketimbang Biru ya ?
Kalo kalian punya pendapat serupa ?