Come to Lombok

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Tidak ada yang menduga bahwa siang ini kami berkesempatan menikmati keindahan alam Lombok setelah semalam berjibaku dengan proses verifikasi bantuan rumah di Dusun Kebaloan Bawah, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Rasa capek dan penat seharian pun sirna di sela tawa canda kami sepanjang perjalanan.

Lombok itu indah Kawan. Mirip sekali dengan kampung halaman di Bali. Hanya disini jauh lebih kering laiknya sisi selatan pulau tanah kelahiran kami. Berubah drastis pasca gempa melanda tempo hari.

Lalu lintas jalan terasa sekali perubahannya. Terutama pada kawasan wisata yang dahulunya selalui ramai dikunjungi wisatawan, mancanegara ataupun domestik. Meski demikian, saat kami mencoba menikmati nikmat yang ada pada beberapa objek wisata dan spot-spot instagramable, mulai terasa hawa rekontruksi pembangunannya, yang berharap banyak Lombok bisa bangkit kembali.

Aktifitas pembersihan diri yang disarankan banyak kawan baru, dimulai dari Suranadi lewat kolam air yang sejuk dan dingin, berganti hawa pada Taman Wisata Narmada, atau situs lempar koin Pura Lingsar, dapat menjadi destinasi pertama kalian jika beruntung menginjakkan kaki di Lombok. Sementara beberapa spot yang ramah instagram, bisa mampir ke pesisir pantai senggigi untuk melihat sunset dan tentu saja festival pesona yang sedang diupayakan guna menarik minat para wisatawan lagi kembali ke Lombok.

Come to Lombok.

Kalian pasti suka…

Mundur dari (group FB) Suara Badung ?

Category : tentang Opini

Leave Group

Tombol itu ditekan juga akhirnya…
Tengah malam menuju pergantian hari, disela istirahat pasca selesainya proses Verifikasi Bantuan Rumah di Kabupaten Lombok Utara, keputusan pun diambil.
Makin yakin untuk mundur dari group FaceBook Suara Badung.

Salah satu motivasi mulia yang tersirat di kepala saat berkeinginan untuk bergabung di Suara Badung setahun lalu, adalah untuk memberikan tanggapan atau reaksi cepat, akan hal-hal yang dikeluhkan oleh masyarakat Badung pada kinerja kami selaku pelayan di Kabupaten Badung. Tapi kenyataan memang tak semudah cocot mario bros.

Riuhnya caci maki dan bully terhadap orang-orang yang sesungguh tidak bersalah, baik sebagai aparat desa yang selama ini sudah berusaha mengayomi masyarakatnya, atau sebagai asn yang selalu berusaha sabar dalam menanggapi semua keluh kesah yang ada, harus dikalahkan oleh berbagai kepentingan yang kerap menutup mata dan nurani mereka yang sudah terlanjur membenci atau antipati sejak awal. Padahal jika ditelusuri, banyak fakta yang terkuak, bahwa apa yang sudah dibagi kepada 50 ribu peembaca Suara Badung sesungguhnya tidak akurat. Bahkan ada yang ketika diminta untuk menyampaikan data otentik terkait apa yang diomongkan, hingga pembicaraan dari jalur gajah mada ketelingsut ke arah gianyar, lalu negara, tak jua mau menunjukkan itikad baik menjelaskan duduk masalahnya.

Analoginya, Hantam duluan, urusan minta maaf boleh belakangan. Atau bahkan balik kanan dan menghilang.
Sementara yang diHantam sudah babak belur, dikeroyok banyak orang, namun ketika fakta berbicara, tak ada kata maaf yang dilontarkan. Karena sosial media FaceBook lebih suka menutup deretan komentar atau tanggapan serta penyelesaian sebelumnya, membuat orang tetap memberi pernyataan negatif seraya mendukung isi postingan sejak awal.
Entah karena tidak tahu, tidak mau tahu, atau tahu tapi pura-pura tidak tahu, semua bergulir begitu cepat. Menjadi viral, karena banyak dukungan serupa ikut-ikutan menyalahkan tanpa peduli hal yang sesungguhnya.

Capek juga…

Maka Mundur dari Group Suara Badung di akun sosial media FaceBook akan menjadi satu keputusan terBaik yang pernah diambil selama aktif kembali, dan memilih menikmati riuhnya FaceBook hanya bersama teman-teman yang benar-benar dikenal secara fisik.

So ?

Leave Group yuk…

Badung Pasti Bisa Manfaatkan Lahan Tidur Milik Negara

Category : tentang Opini

Daripada nganggur, lebih baik lahan milik negara digunakan untuk hal lain.

Saya terdiam saat mata masih saja mengagumi bangunan tradisional Bali berukuran raksasa yang kini hanya tinggal kerangka. Padahal, ini kali kesekian saya menginjakkan kaki di pantai Padang Galak, melewati puluhan meter luas lahan Taman Festival Bali (TFB).

Taman ini pernah menjadi salah satu ikon wisata di Kota Denpasar zaman old. Masa di mana saya masih suka berayun dan tertawa lepas pada salah satu permainan yang ada di sisi timur dekat pantai.

Infonya lahan seluas 8 hektar ini adalah salah satu dari ratusan aset tanah negara yang teronggok begitu saja. Tak ada perhatian dari pemerintah daerah. Informasi itu melengkapi cerita mistis dan misteri yang menyertainya.

Sangat disayangkan sebenarnya. Jika aset tanah sebanyak itu belum bisa dikelola dengan baik dan berubah fungsi menjadi sebuah lahan tidur.

Taman Bali Festival, salah satu lahan tidur milik negara. Foto traveltodayindonesia.com

Lahan tidur sendiri sebenarnya memiliki pemahaman sebagai tanah (pertanian) terbuka yang tidak dimanfaatkan atau digunakan oleh pemiliknya secara ekonomis. Bahkan ada juga yang memberikan tenggat batas waktu, lebih dari dua tahun.

Jika kita mau melihat ke sekeliling, keberadaan lahan tidur yang status kepemilikannya dikuasai negara tampaknya tidak hanya ada di seputaran Kota Denpasar di mana saya tinggal. Masing-masing pemerintah daerah baik tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota pasti memiliki hak kepemilikan lahan termasuk pengelolaannya.

Cukup banyak penelitian soal bagaimana cara ataupun tantangan yang kelak dihadapi dalam upaya untuk memanfaatkan lahan tidur sebagai sebuah lahan produktif yang bisa memberikan hasil. Apakah itu hasil secara ekonomis, daya guna sosial budaya bagi masyarakat setempat atau sekitarnya, atau barangkali untuk masa depan kita dan anak cucu nanti.

Hal terakhir inilah yang sempat terlintas dalam pikiran selama ini.

Pemanfaatan dan Persoalan –

Kabupaten Badung memiliki pemimpin dengan komitmen begitu tinggi pada masyarakatnya. Pendapatan asli daerah (PAD)-nya juga sangat menggiurkan banyak pihak.

Dengan kondisi tersebut saya yakin Badung memiliki cadangan dana yang mungkin saja bisa digunakan untuk memanfaatkan keberadaan lahan tidur ini. Utamanya lahan-lahan yang status kewilayahannya berada dalam lingkup kewenangan Bupati Badung.

Ilustrasinya kira-kira begini.

Lahan-lahan tidur dimanfaatkan untuk area peresapan yang belakangan ini dikabarkan sudah makin banyak berkurang. Yang tidak heran, kerap menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kabupaten Badung, meski bisa ditangani dalam hitungan hari.

Pemanfaatan lahan seperti ini bisa dikombinasikan dengan penyediaan kantong-kantong parkir yang sudah semakin langka. Atau bahkan semacam Taman Kota, area terbuka untuk ruang interaksi bersama. Baik sarana berolahraga maupun rekreasi masyarakat.

Bukankah persoalan air, baik resapan ataupun ketersediaannya merupakan salah satu yang dikhawatirkan banyak pihak, bakalan menjadi kendala bagi masa depan kita semua?

Untuk bisa mewujudkannya, Pemerintah Kabupaten Badung tentu akan dihadapkan dengan beberapa persoalan ke depannya.

Misalnya, berapa biaya yang dibutuhkan, yang tentu saja jika Bapak Bupati mau, semua bakalan SSCGT ‘Sangat Super Cenik Gae To’, tetapi tetap harus berpatokan pada nilai jual objek pajak (NJOP) agar tidak sampai menyalahi aturan.

Atau apabila proses negosiasi dengan pemilik lahan (yang tentu saja dikuasai lintas pemerintah daerah) tidak mencapai kesepakatan pemindahan hak, opsi sewa atau kontrak dalam jangka sekian tahun kedepan pun, saya yakin masih bisa dilakukan.

Begitu juga persoalan pemanfaatan aset dan kelayakannya tentu saja.

Akan tetapi jika kelak pemanfaatan lahan tidur semacam ini bisa berguna bagi orang banyak, masyarakat Badung secara luas, dan juga dampak jangka panjang, saya yakin upaya ini bisa dipikirkan lebih lanjut.

Yah, ketimbang lahan-lahan tidur milik negara tersebut digunakan kepentingan komersial perorangan atau oknum pejabat yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi, lebih baik mana hayooo? [b]

Sumber : Bale Bengong

Dipublikasi juga pada Group FB Suara Badung

Editor : om Anton Muhajir

Jangan Asal klik Share dan Emosi

Category : tentang Opini

Menggunakan akun Sosial Media pada masa-masa transisi PilPres macam Jaman Now sudah sewajarnya kita sebagai bagian dari Netijen yang punya kuasa paling powerful, mulai berbenah dan mengurangi intensitas keseriusan kita dalam menanggapi semua informasi yang bersliweran di linimasa. Bahkan ada juga beberapa kawan yang memutuskan hubungan mesra mereka dengan beberapa akun sosial media agar tetap bisa berpikir dengan waras. Tidak salah memang.

Salah satu Etika Penting yang belakangan makin disadari oleh banyak pihak dalam kaitan penggunaan Sosial Media ini adalah ‘Jangan Asal Klik (tombol) Share’. Tepatnya, pikirkan dahulu apakah dengan membagi tautan atau informasi yang didapat pada akun teman atau keluarga bakalan bisa berguna bagi mereka atau tidak ?
Demikian halnya dengan Emosi dalam memberikan tanggapan atau komentar, sehingga cenderung mengundang orang untuk membalasnya dengan istilah ‘Asal Bacot’.

Terlepas dari benar tidaknya atau baik buruknya keputusan Share atau Emosi menanggapi, kadangkala dalam waktu yang sedemikian sempit sangat jarang bisa berpikir ‘eh ini serius ? Bukan satire kan ?’
Maka ketika kalian salah langkah dalam menanggapi, cenderung mengedepankan ego dan emosi, apa yang terjadi hari ini di linimasa akun Twitter bisa jadi contoh.

Adalah akun @bngpy Menteri Keunangan yang sebetulnya sudah lama saya follow, menaikkan informasi soal ‘Harga BBM di Timika Papua ternyata Rp.200.000, sedangkan di Palopo Sulsel harganya Rp.20.000.’ Lalu ada tambahan satu kalimat lagi ‘Lho katanya harga BBM sudah sama?’

Kalian yang membaca Informasi macam ini bakalan berbuat apa coba ?

Yang Pro Prabowo sudah hampir dapat dipastikan, bakalan jauh lebih mudah menekan tombol ‘Share’ disertai narasi tambahan ‘na ini…’ ‘rejim Jokowi Pembohong, Pencitraan saja bisanya…’
Sementara kalian yang Pro Jokowi, langsung Emosi dalam menanggapi.
Padahal kalau saja mau dicermati dulu dengan tenang, kalian bakalan menemukan sesuatu yang indah disitu. Hehehe…

Harga BBM di Timika Papua bisa Rp.200.000 karena yang dibeli sebanyak 25 L dan harga per liter Pertalite adalah 8.000. Jadi wajar kalo Totalnya Rp.200.000.
Begitu juga di Palopo Sulsel, yang dibeli adalah 2,5 liter sehingga totalnya memang wajar Rp.20.000.
Tidak ada yang salah dalam penulisan akun @bngpy bukan ?
Tidak ada menyebutkan Harga per Liter. Hehehe…

Maka ramailah linimasa Twitter sejak informasi satire diatas diluncurkan pada jam 11 siang tadi.
Cukup banyak yang terjebak dalam pemahaman konten. Cukup banyak pula yang memaki setelah menyadari maksud dari Menteri Keunangan satu ini.
Karena bagi mereka para follower yang paham, siapa sebenarnya agen penting dirjen pajak kenamaan ini, hanyalah seorang pengguna akun Twitter yang penuh dinamika, tidak akan mudah dalam membagi tautan, Share info yang bersangkutan, apalagi menanggapinya dengan penuh emosi.
Palingan yang kerap didapat itu ya ‘Jancuuuk’ atau ‘uwasuuu’. Hehehe…

Mengurangi Nyinyir soal PilPres di akun Media Sosial

1

Category : tentang Opini

Entah sudah kali keberapa saya mendapat teguran soal share materi di akun media sosial FaceBook saat perhelatan PilPres dilaksanakan periode lalu. Baik oleh sesama rekan ASN maupun kawan-kawan baik disekitar, yang masih masih mau mengingatkan.
Kala itu PakDe Jokowi lagi bertarung untuk pertama kalinya dengan Om Prabowo. Saya sampai kehilangan beberapa kawan bahkan memblokir mereka saking kesalnya lantaran berbeda pandangan politik.

Demikian pula halnya saat PilGub Bali tempo hari. Beberapa kawan yang berada dalam satu lingkup domisili pun mengingatkan saya soal pilihan yang nantinya akan dijatuhkan. Akibat berbeda pandangan, kerap kali postingan yang tadinya ditujukan untuk sebuah topik yang sederhana, bisa dikaitkan kemana-mana dan melebar luar ke persoalan yang sama.
Lama-lama membosankan sebenarnya.

Itu sebabnya pada perhelatan kedua, tarung PakDe Jokowi dengan kubu Kardus, saya memutuskan untuk mengurangi nyinyir soal PilPres di dua akun Sosial Media. FaceBook dan Instagram. Kelihatan akan jauh lebih baik jika saya memilih untuk share materi yang tidak penting bagi kawan-kawan. Dari soal #HPjadul, aktifitas jalan cepat untuk mengejar langkah #Samsung #Challenge atau aktifitas pribadi dan keluarga.
Cukup di akun Twitter saja.

Hahaha…

Membaca Buku (lagi)

Category : tentang Opini

Sudah lama saya tak melakoni aktifitas sederhana jaman old di jaman now ini. Bisa jadi karena kesibukan, atau bisa juga karena sudah tak jamannya lagi. Berganti era paperless dimana Buku bacaan sudah beralih ke layar ponsel, dengan segala kemudahan yang ada, menjadikannya tak lagi familiar bagi sebagian generasi milenial di sekitar kami.

Ada Tiga Buku yang saya beli seminggu terakhir melalui lapak jual beli online Tokopedia. Tiga Buku yang berbeda Tema.
Fakta, Fiksi dan sharing Pengalaman.

Untuk Fakta, ada buku eh majalah edisi khusus terbitan Tempo tahun 2016 silam. Mengulas tentang Soe Hok Gie dan surat-suratnya yang belum pernah dipublikasi ke media. Liputan dan gambaran sosoknya begitu menginspirasi saya untuk terus menulis.

Untuk Fiksi, ada buku novel karya Gola Gong. Terbitan tahun 2004 kalo ndak salah lihat. Penulis cerbung – cerita bersambung- yang pernah beken lewat halaman majalah Hai edisi jaman old ini, saya sukai dengan seri Tom yang diterbitkan dalam beberapa buku lainnya. Juga sangat menginspirasi lewat kata-kata dan kisah-kisah petualangannya.

Sementara untuk Sharing Pengalaman, ada buku karya Mas Pramono, dokter gigi yang rajin ngeTweet itu. Nemunya gak sengaja, pas ybs ngejawab pertanyaan salah satu followernya, dan lanjut browsing ke Tokopedia, ditemukanlah buku apik ini.
Kayaknya seru kalo dibaca bareng anak-anak terkait kesehatan gigi kami.

Sayangnya, lantaran keterbatasan tempat simpan, dimana rak buku sudut tak lagi mampu menampung puluhan buku koleksi yang sengaja dibeli dari berbagai topik ringan, menyebabkan kesempatan untuk membaca kerap turun drastis padahal yang namanya hasrat ya lagi tinggi-tingginya.
Sehingga satu Impian saya di jaman new nanti adalah, bisa memiliki satu ruang terbuka yang kelak bakalan dimanfaatkan sebagai area baca, lengkap dengan rak buku berbagai koleksi yang saya miliki hingga hari ini. Entah nanti adanya dibawah tangga memanfaatkan ruang sisa yang ada, atau ruangan menyendiri sambil menyepi dari hiruk pikuk keseharian.

Tapi yang pasti, saya lagi berupaya menumbuhkan kembali aktifitas membaca buku di jaman now ini. Biarpun era majalah digital sudah sedemikian masifnya merasuki jutaan layar ponsel dan tablet, keasyikan membaca buku, apalagi di tempat umum dan keramaian, tampaknya masih mampu memberi arti dan keseruan tersendiri dalam hidup.

Anniversary XMoc Bali dan Service Berkala

Category : tentang Opini

Puluhan motor besar XMax 250 tampak berjajar rapi terlihat dari kejauhan, di depan Yamaha Flag Ship Diponegoro, salah satu gerai yang kerap saya kunjungi secara rutin dari tahun 2012 lalu. Hari ini kebetulan baru berkesempatan meluangkan waktu pagi untuk service berkala si besar XMax, setelah lewat jauh sekitar 2-3 minggu dari tanggal yang diinfo sebelumnya.

Sebagai salah satu Owner motor besar Yamaha XMax 250, sebenarnya boleh ikutan bangga karena ternyata motor satu ini, meski kalah tanding saat beradu otot dengan Honda Supra, sebagaimana di share satu kawan sekolahan saya terdahulu, peminatnya lumayan banyak juga. Bahkan info dari sales motor di area depan dealer Yamaha ini sempat mengatakan bahwa proses indent motor berkekuatan mesin 250cc ini masih lumayan panjang. Weleh… dan rata-rata pemilik atau penunggang motor besar yang masuk dalam kelompok Maxi Family ini, memiliki struktur tubuh besar dan tinggi, laiknya para anggota ormas kenamaan di Bali.
Bisa jadi demi mengimbangi penampilan yang sudah mentok dengan seri lama sebelumnya, dan kelihatan sepadan untuk menahan bobot XMax yang kalau tidak salah mencapai 180 kg dalam kondisi mati.
Saya sendiri merupakan salah satu korban terapes, yang pernah merasakan beratnya ditindih motor XMax beberapa waktu lalu.

Hadirnya puluhan pengendara XMax 250 di gerai Yamaha Flag Ship Diponegoro ini tampaknya sebagai bagian dari perayaan 1st Anniversary XMoc Bali lengkap dengan berbagai asesoris dan variasi tambahan serta pemanis stiker pada bodi yang beraneka ragam. Hal ini tentu membuat semangat saya untuk mendandani motor sendiri jadi muncul lagi. Meski memang belum sreg sepenuhnya untuk mengganti part tertentu yang sekiranya masih nyaman digunakan, seperti shockbreaker belakang, spion ala TMax atau windshield mini macam yang dibesut sepupu pada XMaxnya. Paling mendekati baru pasang stiker gelap rayban pada windshield, atau strip kecil warna merah pada velg dan bodi bawah. Ah, ini mah musti cari waktu luang lagi…

Sayangnya seumur-umur punya motor, dari Honda Tiger 2000, Yamaha Scorpio 225 dan Yamaha XMax 250, hingga hari ini saya nggak pernah ikutan gabung club motor manapun atau ikutan touring dengan sekelompok kawan sehobi. Maklum, lebih suka touring sendirian buat cek proyek pas lagi luang, atau malah liburan bareng anak-anak kalo lagi bosenan.
Haha…

Web Server BoC Down, ngeBlog pun Ikutan Down

Category : tentang Opini

Sesaat usai membaca pesan yang dikirimkan seorang kawan di Whatsapp Group yang menanyakan soal pilihan Asuransi Kesehatan diluar BPJS, sayapun berkeinginan membagi tautan postingan dalam blog www.pandebaik.com yang pernah mengulas topik serupa, kali aja bisa menjadi sebuah referensi tambahan.
Sayangnya halaman Blog www.pandebaik.com mengalami gangguan, yang kalau tidak salah menyampaikan bahwa web server dimana Blog ini bernaung mendapat gangguan. Maka keinginan itupun batal dan saya dengan segera melaporkan keluhan ini ke Tim Supporting Bali Orange Communication via email.
Ini disampaikan sekitar pukul 10 pagi, disela aktifitas kantor Selasa 3 Juli yang lalu.

Seperti biasa, tanpa menunggu hitungan menit, email jawaban pun datang.
Benar adanya. Web Server dinyatakan mengalami hard disk failure yang menyebabkan layanan website dan juga email menjadi down. Tim BoC pun berjanji akan menyelesaikan permasalahannya secepat mungkin.
Yang sayangnya, hingga pukul setengah sepuluh malam sepertinya belum ada tanda-tanda progress dari BoC.
Sayapun mengurungkan niat untuk membuat draft postingan baru melalui aplikasi Evernote di layar ponsel, lalu asyik melanjutkan tantangan baru dari permainan Plants vs Zombie 2.

Keesokan harinya, Rabù 4 Juli saya mendapatkan email pemberitahuan dari Tim BoC terkait proses peningkatan performa server, dimana halaman Blog sudah bisa diakses lagi namun mengubah setting terakhir ke tanggal 1 Juli.
Saya bisa tahu, karena postingan per tanggal 2 Juli malam tentang Gunung Agung Meletus, tidak ada dalam postingan Blog, berganti dengan postingan soal kendurnya semangat olah raga, yang per malam itu saya ubah tanggal publikasinya dari 3 Juli ke 5 Juli. Tujuannya ya agar halaman Blog tetap terlihat Update. Hehehe…

Demi melihat halaman Blog sudah bisa diakses, sayapun mencoba melakukan posting kembali khusus untuk topik Gunung Agung dan mengembalikan pengaturan link dan lainnya sesuai yang dibagikan tempo hari di akun sosial media maupun Whatsapp Group. Nyatanya postingan itu hilang lagi dan setting Blog kembali ke 1 Juli tadi.
Ini terjadi hingga 3 kali pengulangan.
Kelihatannya proses pengembalian HDD failure oleh Tim BoC belum sepenuhnya selesai.

Hal ini sempat menurunkan semangat ngeBlog yang belakangan lagi menggebu-gebu.
Satu hal yang saya yakinkan adalah tingkat kunjungan sudah dipastikan menurun. Wong sebelum hdd down saja sebulannya hanya seribuan pengunjung, apalagi kini.
Namun demikian, semangat menuliskan Draft Blog tetap ada. Bahkan dalam mengisi waktu senggang pemecahan masalah Tim BoC pun, beberapa draft postingan Blog saya simpan dulu dalam aplikasi Evernote. Siapa tahu kelak pas sudah oke lagi web servernya, barulah Blog ini akan Update kembali seperti biasa.

Anggap saja semacam hiatus sementara atau semangat ngeBlog lagi Down.

Semangat Olah Raga Sudah Mulai Pudar ?

Category : tentang Opini

Ada yang menarik bila mengamati pola hidup yang saya jalani pada bulan Juni lalu. Lebih banyak menikmati waktu luang untuk tidur dan beristirahat, tidak lagi memiliki minat dan semangat untuk berjalan cepat pagi dan sore hari, baik hari kerja maupun liburan.

Yeah, bulan Juni Tahun 2018 kemarin memang identik dengan bulannya Liburan, libur panjang akibat banyaknya cuti bersama. Selain itu ada juga faktor tak sengaja yang membuat saya akhirnya harus menyadari ketidakmampuan fisik dalam menjalani tantangan untuk berolah raga setiap harinya demi uoaya menurunkan gula darah yang menjadi momok enah bulan belakangan.
Ya, kecelakaan tunggal.
Kalian yang rajin mampir dan membaca postingan saya di halaman ini pasti tahu kisah ‘keputusan untuk istirahat terpaksa yang saya lakoni di awal bulan lalu, akibat kecerobohan dalam memanage motor besar Yamaha XMax 250 yang menimpa kaki kiri saat memindahparkirkan kendaraan siang penampahan Galungan tempo hari.
Selain itu, belum seminggu berlalu giliran kelingking kaki kanan saya yang bengkak terantuk beton saat menjalankan aktifitas mebanten pekideh pukul 5 pagi dini hari, melengkapi penderitaan tak mampu lagi melangkah cepat dengan baik selama kurang lebih 2-3 minggu terakhir.

Maka tidak heran bila di bulan Juni kemarin, saya hanya mampu mencatatkan sekitar 330 ribuan langkah dalam satu bulan aktifitas yang artinya hanya mampu melakoni 10 ribu langkah setiap harinya, tidak lebih.
Padahal di bulan Mei sebelumnya, langkah 400 ribu masih bisa diraih dengan baik.

Menurunnya pencapaian ini sempat mengundang pertanyaan dalam kepala, apakah kini yang namanya semangat untuk berolah raga setiap harinya sudah mulai pudar ? Seiring nikmatnya tidur siang bareng anak-anak ?

Semoga tidak.
Karena di bulan Juli ini bakalan ada tantangan yang sama dari aplikasi Samsung Health yaitu Beach Challenge dengan target pencapaian langkah yang masih sama dengan sebelumnya.
Ayo ikutan…

Gunung Agung Meletus, #PrayForKarangasem kembali Viral, Tabah bagi Pekerja Konstruksi di Bali

Category : tentang Opini

Ditengah hiruk pikuk Piala Dunia 2018 dan segala kekecewaan para suporternya, netizen di Bali dikejutkan oleh Erupsi Gunung Agung yang sudah mulai memuntahkan lahar panasnya. Beberapa kawan di akun sosial media pun mulai tampak ramai mengabarkan duka.

Semua notifikasi WhatsApp Group mendadak nyaring. Seketika itu pula belasan gambar dan video yang sama, diterima sebagai upaya meneruskan informasi kepada rekan yang lain, secara cepat dan saling mendahului, menganggap bahwa ini adalah hal yang wajib diketahui semua orang. Seakan lupa bahwa sekian group diantaranya memiliki karakter keanggotaan yang sama.

Hastag #PrayForKarangasem sepertinya bakalan kembali Viral. Saya meyakini sebagian besar kawan di sejumlah akun sosial media bahkan WhatsApp Group sekalipun, bakalan menyampaikan hal yang sama. Turut berduka dan saling mengingatkan, baik info akurat dari badan bencana, hingga agenda pengumpulan dana untuk disumbangkan ke pos pengungsian kelak.

Seperti mengalami Mimpi Buruk yang terulang. Cukup membuat saya tak bisa memejamkan mata dengan baik malam ini.
Bukan…
Bukan soal kekhawatiran akan keselamatan saudara kami yang ada disekitaran Gunung Agung. Karena mereka, saya yakini sudah melakukan banyak persiapan dari setahun lalu. Termasuk opsi pengungsian yang sudah pula direncanakan dengan baik oleh pemerintah daerah hingga pusat. Pun soal dana bencana dan bantuan, saudara kami yang lain sudah pasti siap dengan logistik dadakan.

Hanya satu yang saya pikirkan.
Kelangkaan Material bagi para pekerja konstruksi di Bali.

Sebagai seorang tenaga teknis, mimpi buruk inilah yang membuat saya begitu down secara pikiran dan mental setahun lalu. Karena semua berakibat pada naiknya harga akibat minim stok persediaan, molornya pekerjaan akibat bahan material yang susah dicari, dan pengenaan opsi denda akibat absennya keputusan pimpinan soal bencana.
Lumayan pusing dalam mengambil setiap keputusan yang ada, mengingat saat itu secara dadakan pula ditugaskan sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen untuk belasan kegiatan fisik jelang akhir tahun. Jadi makin mangkel ketika sejumlah aparat seakan tak mau tahu kondisi dan fakta lapangan, menganggap para pekerja konstruksi ini teledor dalam melaksanakan tugasnya.

Untuk itulah saya berdoa, agar mereka yang dibebankan kewenangan sebagai PPK kegiatan fisik apapun itu bentuknya saat ini, agar tetap bisa diberi kesehatan dan ketabahan dalam mengambil dan memikirkan setiap opsi keputusan, karena disinilah semua integritas kerja dan kinerja kita diuji.
Saya sudah mengalaminya setahun lalu.

Bersyukur, tahun ini saya tak lagi mendapatkan tugas yang sama. Sehingga beban pikiran, bisa dikatakan sudah jauh lebih ringan.
Namun demikian, tetaplah empati itu ada bagi kalian para pekerja konstruksi di Bali.

Nasbedag #SalamSatuJalur Selamat KBS Gubernur Bali 2018

Category : tentang Opini

At Last, proses penghitungan cepat atau Quick Count diinformasikan sudah 100 persen diserap, dan paslon KBS-ACE tampil sebagai pemenang di 6 Kabupaten Provinsi Bali mengalahkan paslon nomor 2 yang dipaksa kembali duduk sebagai Walikota Denpasar, Rai Mantra. Sementara sang Wakil Gubernur, setelah usai nanti sepertinya tidak lagi menjabat di kursi yang sama.

Sebagai ASN, baru kali ini saya berani membuka suara terkait pilihan pilkada, pilGub Bali secara terang-terangan. Mengingat selama masa pra dan kampanye, sesuai peraturan yang berlaku, kami dituntut untuk tetap Netral, tidak mendukung salah satu paslon, dalam bentuk apapun. Toh hasil sudah rilis resmi secara umum.
Namun demikian, kepada beberapa teman dekat, saya sudah menyampaikan arah pilihan yang akan disasar dengan alasan yang bisa diterima. Baik sebagai Warga Kota Denpasar yang sebetulnya tertarik pada sosok Rai Mantra, namun sebaliknya dengan sosok wakil yang dipilih, pula persoalan Partai Pengusung, maupun sebagai Pegawai Pemkab Badung yang wajib mendukung pilihan Bapak Bupati Badung untuk Satu Jalur. Bagaimanapun juga ‘payuk jakan’ hingga pensiun nanti ada di Kabupaten Badung.

Sudah bisa bisa ditebak.
Pada TPS dimana saya mendapat kesempatan mencoblos paslon 1, hasil perhitungan surat suara rata-rata berada pada rentang 1:3.
Artinya secara pilihan figur, Rai Mantra jauh lebih menarik ketimbang Koster yang notabene merupakan Kader partai PDIP. Dimana selama saya mengikuti pilkada, suara partai PDIP selalu signifikan hasilnya. Bahkan saat pilpres terakhir sekalipun.
Maka kali ini, pilihan akan Partai Pengusung kelihatannya sudah tidak menarik lagi bagi warga kami disini. Meski secara militansi saya yakin banjar Tainsiat masih merupakan basis PDIP, namun serupa keputusan para penglingsir partai disekitar kami, hampir semua mengalihkan dukungan pada figur atau sosok Rai Mantra.

Harusnya ini menjadi pembelajaran bagi Rai Mantra kedepannya.
Bahwa urusan untuk bisa maju ke kursi Bali 1, tidak bisa hanya mengandalkan figurnya saja. Tapi juga soal pemilihan calon wakil pendamping dan partai pengusung. Demikian halnya dengan pendukung, yang kelihatannya sudah tutup mata dengan semua itu.
Boleh boleh saja merasa percaya diri akan kemampuan figur, namun jika salah langkah terlampau jauh ya susah juga jadinya.
Apalagi tagar 2019 Ganti Presiden begitu masif disuarakan bila kelak Rai Mantra berhasil memimpin Bali 2018.
Andai dahulu Rai Mantra bersedia menjadi Cawagub dulu sebelum naik ke kursi Bali 1, saya yakin cerita akan lain.

Tapi keputusan sudah diambil.
Hasil Pilkada pun sudah positif jadi. Meski belum dirilis resmi oleh KPUD.

Terlepas dari semua kontroversi yang menyertai selama berjalannya masa kampanye, termasuk soal #Nasbedag istilah yang belakangan ngeTrend kembali terkait aksi Bali Tolak Reklamasi, ataupun dugaan kasus korupsi yang dialamatkan, faktanya Koster telah mampu tampil sebagai pemenang pada kontestasi pilka?a Bali memperebutkan kursi Gubernur.
Semoga saja bisa memberikan solusi yang lebih baik bagi Bali hingga 5 tahun kedepannya. Tidak hanya berpihak pada satu dua kabupaten, namun mampu merangkul semuanya serta membuktikan kata dan janji saat masa kampanye kemarin.

#SalamSatuJalur pun menggema dimana-mana.
Selamat untuk paslon Koster dan Cok Ace.
Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Tahun 2018.