Membaca Buku (lagi)

Category : tentang Opini

Sudah lama saya tak melakoni aktifitas sederhana jaman old di jaman now ini. Bisa jadi karena kesibukan, atau bisa juga karena sudah tak jamannya lagi. Berganti era paperless dimana Buku bacaan sudah beralih ke layar ponsel, dengan segala kemudahan yang ada, menjadikannya tak lagi familiar bagi sebagian generasi milenial di sekitar kami.

Ada Tiga Buku yang saya beli seminggu terakhir melalui lapak jual beli online Tokopedia. Tiga Buku yang berbeda Tema.
Fakta, Fiksi dan sharing Pengalaman.

Untuk Fakta, ada buku eh majalah edisi khusus terbitan Tempo tahun 2016 silam. Mengulas tentang Soe Hok Gie dan surat-suratnya yang belum pernah dipublikasi ke media. Liputan dan gambaran sosoknya begitu menginspirasi saya untuk terus menulis.

Untuk Fiksi, ada buku novel karya Gola Gong. Terbitan tahun 2004 kalo ndak salah lihat. Penulis cerbung – cerita bersambung- yang pernah beken lewat halaman majalah Hai edisi jaman old ini, saya sukai dengan seri Tom yang diterbitkan dalam beberapa buku lainnya. Juga sangat menginspirasi lewat kata-kata dan kisah-kisah petualangannya.

Sementara untuk Sharing Pengalaman, ada buku karya Mas Pramono, dokter gigi yang rajin ngeTweet itu. Nemunya gak sengaja, pas ybs ngejawab pertanyaan salah satu followernya, dan lanjut browsing ke Tokopedia, ditemukanlah buku apik ini.
Kayaknya seru kalo dibaca bareng anak-anak terkait kesehatan gigi kami.

Sayangnya, lantaran keterbatasan tempat simpan, dimana rak buku sudut tak lagi mampu menampung puluhan buku koleksi yang sengaja dibeli dari berbagai topik ringan, menyebabkan kesempatan untuk membaca kerap turun drastis padahal yang namanya hasrat ya lagi tinggi-tingginya.
Sehingga satu Impian saya di jaman new nanti adalah, bisa memiliki satu ruang terbuka yang kelak bakalan dimanfaatkan sebagai area baca, lengkap dengan rak buku berbagai koleksi yang saya miliki hingga hari ini. Entah nanti adanya dibawah tangga memanfaatkan ruang sisa yang ada, atau ruangan menyendiri sambil menyepi dari hiruk pikuk keseharian.

Tapi yang pasti, saya lagi berupaya menumbuhkan kembali aktifitas membaca buku di jaman now ini. Biarpun era majalah digital sudah sedemikian masifnya merasuki jutaan layar ponsel dan tablet, keasyikan membaca buku, apalagi di tempat umum dan keramaian, tampaknya masih mampu memberi arti dan keseruan tersendiri dalam hidup.

Anniversary XMoc Bali dan Service Berkala

Category : tentang Opini

Puluhan motor besar XMax 250 tampak berjajar rapi terlihat dari kejauhan, di depan Yamaha Flag Ship Diponegoro, salah satu gerai yang kerap saya kunjungi secara rutin dari tahun 2012 lalu. Hari ini kebetulan baru berkesempatan meluangkan waktu pagi untuk service berkala si besar XMax, setelah lewat jauh sekitar 2-3 minggu dari tanggal yang diinfo sebelumnya.

Sebagai salah satu Owner motor besar Yamaha XMax 250, sebenarnya boleh ikutan bangga karena ternyata motor satu ini, meski kalah tanding saat beradu otot dengan Honda Supra, sebagaimana di share satu kawan sekolahan saya terdahulu, peminatnya lumayan banyak juga. Bahkan info dari sales motor di area depan dealer Yamaha ini sempat mengatakan bahwa proses indent motor berkekuatan mesin 250cc ini masih lumayan panjang. Weleh… dan rata-rata pemilik atau penunggang motor besar yang masuk dalam kelompok Maxi Family ini, memiliki struktur tubuh besar dan tinggi, laiknya para anggota ormas kenamaan di Bali.
Bisa jadi demi mengimbangi penampilan yang sudah mentok dengan seri lama sebelumnya, dan kelihatan sepadan untuk menahan bobot XMax yang kalau tidak salah mencapai 180 kg dalam kondisi mati.
Saya sendiri merupakan salah satu korban terapes, yang pernah merasakan beratnya ditindih motor XMax beberapa waktu lalu.

Hadirnya puluhan pengendara XMax 250 di gerai Yamaha Flag Ship Diponegoro ini tampaknya sebagai bagian dari perayaan 1st Anniversary XMoc Bali lengkap dengan berbagai asesoris dan variasi tambahan serta pemanis stiker pada bodi yang beraneka ragam. Hal ini tentu membuat semangat saya untuk mendandani motor sendiri jadi muncul lagi. Meski memang belum sreg sepenuhnya untuk mengganti part tertentu yang sekiranya masih nyaman digunakan, seperti shockbreaker belakang, spion ala TMax atau windshield mini macam yang dibesut sepupu pada XMaxnya. Paling mendekati baru pasang stiker gelap rayban pada windshield, atau strip kecil warna merah pada velg dan bodi bawah. Ah, ini mah musti cari waktu luang lagi…

Sayangnya seumur-umur punya motor, dari Honda Tiger 2000, Yamaha Scorpio 225 dan Yamaha XMax 250, hingga hari ini saya nggak pernah ikutan gabung club motor manapun atau ikutan touring dengan sekelompok kawan sehobi. Maklum, lebih suka touring sendirian buat cek proyek pas lagi luang, atau malah liburan bareng anak-anak kalo lagi bosenan.
Haha…

Web Server BoC Down, ngeBlog pun Ikutan Down

Category : tentang Opini

Sesaat usai membaca pesan yang dikirimkan seorang kawan di Whatsapp Group yang menanyakan soal pilihan Asuransi Kesehatan diluar BPJS, sayapun berkeinginan membagi tautan postingan dalam blog www.pandebaik.com yang pernah mengulas topik serupa, kali aja bisa menjadi sebuah referensi tambahan.
Sayangnya halaman Blog www.pandebaik.com mengalami gangguan, yang kalau tidak salah menyampaikan bahwa web server dimana Blog ini bernaung mendapat gangguan. Maka keinginan itupun batal dan saya dengan segera melaporkan keluhan ini ke Tim Supporting Bali Orange Communication via email.
Ini disampaikan sekitar pukul 10 pagi, disela aktifitas kantor Selasa 3 Juli yang lalu.

Seperti biasa, tanpa menunggu hitungan menit, email jawaban pun datang.
Benar adanya. Web Server dinyatakan mengalami hard disk failure yang menyebabkan layanan website dan juga email menjadi down. Tim BoC pun berjanji akan menyelesaikan permasalahannya secepat mungkin.
Yang sayangnya, hingga pukul setengah sepuluh malam sepertinya belum ada tanda-tanda progress dari BoC.
Sayapun mengurungkan niat untuk membuat draft postingan baru melalui aplikasi Evernote di layar ponsel, lalu asyik melanjutkan tantangan baru dari permainan Plants vs Zombie 2.

Keesokan harinya, Rab├╣ 4 Juli saya mendapatkan email pemberitahuan dari Tim BoC terkait proses peningkatan performa server, dimana halaman Blog sudah bisa diakses lagi namun mengubah setting terakhir ke tanggal 1 Juli.
Saya bisa tahu, karena postingan per tanggal 2 Juli malam tentang Gunung Agung Meletus, tidak ada dalam postingan Blog, berganti dengan postingan soal kendurnya semangat olah raga, yang per malam itu saya ubah tanggal publikasinya dari 3 Juli ke 5 Juli. Tujuannya ya agar halaman Blog tetap terlihat Update. Hehehe…

Demi melihat halaman Blog sudah bisa diakses, sayapun mencoba melakukan posting kembali khusus untuk topik Gunung Agung dan mengembalikan pengaturan link dan lainnya sesuai yang dibagikan tempo hari di akun sosial media maupun Whatsapp Group. Nyatanya postingan itu hilang lagi dan setting Blog kembali ke 1 Juli tadi.
Ini terjadi hingga 3 kali pengulangan.
Kelihatannya proses pengembalian HDD failure oleh Tim BoC belum sepenuhnya selesai.

Hal ini sempat menurunkan semangat ngeBlog yang belakangan lagi menggebu-gebu.
Satu hal yang saya yakinkan adalah tingkat kunjungan sudah dipastikan menurun. Wong sebelum hdd down saja sebulannya hanya seribuan pengunjung, apalagi kini.
Namun demikian, semangat menuliskan Draft Blog tetap ada. Bahkan dalam mengisi waktu senggang pemecahan masalah Tim BoC pun, beberapa draft postingan Blog saya simpan dulu dalam aplikasi Evernote. Siapa tahu kelak pas sudah oke lagi web servernya, barulah Blog ini akan Update kembali seperti biasa.

Anggap saja semacam hiatus sementara atau semangat ngeBlog lagi Down.

Semangat Olah Raga Sudah Mulai Pudar ?

Category : tentang Opini

Ada yang menarik bila mengamati pola hidup yang saya jalani pada bulan Juni lalu. Lebih banyak menikmati waktu luang untuk tidur dan beristirahat, tidak lagi memiliki minat dan semangat untuk berjalan cepat pagi dan sore hari, baik hari kerja maupun liburan.

Yeah, bulan Juni Tahun 2018 kemarin memang identik dengan bulannya Liburan, libur panjang akibat banyaknya cuti bersama. Selain itu ada juga faktor tak sengaja yang membuat saya akhirnya harus menyadari ketidakmampuan fisik dalam menjalani tantangan untuk berolah raga setiap harinya demi uoaya menurunkan gula darah yang menjadi momok enah bulan belakangan.
Ya, kecelakaan tunggal.
Kalian yang rajin mampir dan membaca postingan saya di halaman ini pasti tahu kisah ‘keputusan untuk istirahat terpaksa yang saya lakoni di awal bulan lalu, akibat kecerobohan dalam memanage motor besar Yamaha XMax 250 yang menimpa kaki kiri saat memindahparkirkan kendaraan siang penampahan Galungan tempo hari.
Selain itu, belum seminggu berlalu giliran kelingking kaki kanan saya yang bengkak terantuk beton saat menjalankan aktifitas mebanten pekideh pukul 5 pagi dini hari, melengkapi penderitaan tak mampu lagi melangkah cepat dengan baik selama kurang lebih 2-3 minggu terakhir.

Maka tidak heran bila di bulan Juni kemarin, saya hanya mampu mencatatkan sekitar 330 ribuan langkah dalam satu bulan aktifitas yang artinya hanya mampu melakoni 10 ribu langkah setiap harinya, tidak lebih.
Padahal di bulan Mei sebelumnya, langkah 400 ribu masih bisa diraih dengan baik.

Menurunnya pencapaian ini sempat mengundang pertanyaan dalam kepala, apakah kini yang namanya semangat untuk berolah raga setiap harinya sudah mulai pudar ? Seiring nikmatnya tidur siang bareng anak-anak ?

Semoga tidak.
Karena di bulan Juli ini bakalan ada tantangan yang sama dari aplikasi Samsung Health yaitu Beach Challenge dengan target pencapaian langkah yang masih sama dengan sebelumnya.
Ayo ikutan…

Gunung Agung Meletus, #PrayForKarangasem kembali Viral, Tabah bagi Pekerja Konstruksi di Bali

Category : tentang Opini

Ditengah hiruk pikuk Piala Dunia 2018 dan segala kekecewaan para suporternya, netizen di Bali dikejutkan oleh Erupsi Gunung Agung yang sudah mulai memuntahkan lahar panasnya. Beberapa kawan di akun sosial media pun mulai tampak ramai mengabarkan duka.

Semua notifikasi WhatsApp Group mendadak nyaring. Seketika itu pula belasan gambar dan video yang sama, diterima sebagai upaya meneruskan informasi kepada rekan yang lain, secara cepat dan saling mendahului, menganggap bahwa ini adalah hal yang wajib diketahui semua orang. Seakan lupa bahwa sekian group diantaranya memiliki karakter keanggotaan yang sama.

Hastag #PrayForKarangasem sepertinya bakalan kembali Viral. Saya meyakini sebagian besar kawan di sejumlah akun sosial media bahkan WhatsApp Group sekalipun, bakalan menyampaikan hal yang sama. Turut berduka dan saling mengingatkan, baik info akurat dari badan bencana, hingga agenda pengumpulan dana untuk disumbangkan ke pos pengungsian kelak.

Seperti mengalami Mimpi Buruk yang terulang. Cukup membuat saya tak bisa memejamkan mata dengan baik malam ini.
Bukan…
Bukan soal kekhawatiran akan keselamatan saudara kami yang ada disekitaran Gunung Agung. Karena mereka, saya yakini sudah melakukan banyak persiapan dari setahun lalu. Termasuk opsi pengungsian yang sudah pula direncanakan dengan baik oleh pemerintah daerah hingga pusat. Pun soal dana bencana dan bantuan, saudara kami yang lain sudah pasti siap dengan logistik dadakan.

Hanya satu yang saya pikirkan.
Kelangkaan Material bagi para pekerja konstruksi di Bali.

Sebagai seorang tenaga teknis, mimpi buruk inilah yang membuat saya begitu down secara pikiran dan mental setahun lalu. Karena semua berakibat pada naiknya harga akibat minim stok persediaan, molornya pekerjaan akibat bahan material yang susah dicari, dan pengenaan opsi denda akibat absennya keputusan pimpinan soal bencana.
Lumayan pusing dalam mengambil setiap keputusan yang ada, mengingat saat itu secara dadakan pula ditugaskan sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen untuk belasan kegiatan fisik jelang akhir tahun. Jadi makin mangkel ketika sejumlah aparat seakan tak mau tahu kondisi dan fakta lapangan, menganggap para pekerja konstruksi ini teledor dalam melaksanakan tugasnya.

Untuk itulah saya berdoa, agar mereka yang dibebankan kewenangan sebagai PPK kegiatan fisik apapun itu bentuknya saat ini, agar tetap bisa diberi kesehatan dan ketabahan dalam mengambil dan memikirkan setiap opsi keputusan, karena disinilah semua integritas kerja dan kinerja kita diuji.
Saya sudah mengalaminya setahun lalu.

Bersyukur, tahun ini saya tak lagi mendapatkan tugas yang sama. Sehingga beban pikiran, bisa dikatakan sudah jauh lebih ringan.
Namun demikian, tetaplah empati itu ada bagi kalian para pekerja konstruksi di Bali.

Nasbedag #SalamSatuJalur Selamat KBS Gubernur Bali 2018

Category : tentang Opini

At Last, proses penghitungan cepat atau Quick Count diinformasikan sudah 100 persen diserap, dan paslon KBS-ACE tampil sebagai pemenang di 6 Kabupaten Provinsi Bali mengalahkan paslon nomor 2 yang dipaksa kembali duduk sebagai Walikota Denpasar, Rai Mantra. Sementara sang Wakil Gubernur, setelah usai nanti sepertinya tidak lagi menjabat di kursi yang sama.

Sebagai ASN, baru kali ini saya berani membuka suara terkait pilihan pilkada, pilGub Bali secara terang-terangan. Mengingat selama masa pra dan kampanye, sesuai peraturan yang berlaku, kami dituntut untuk tetap Netral, tidak mendukung salah satu paslon, dalam bentuk apapun. Toh hasil sudah rilis resmi secara umum.
Namun demikian, kepada beberapa teman dekat, saya sudah menyampaikan arah pilihan yang akan disasar dengan alasan yang bisa diterima. Baik sebagai Warga Kota Denpasar yang sebetulnya tertarik pada sosok Rai Mantra, namun sebaliknya dengan sosok wakil yang dipilih, pula persoalan Partai Pengusung, maupun sebagai Pegawai Pemkab Badung yang wajib mendukung pilihan Bapak Bupati Badung untuk Satu Jalur. Bagaimanapun juga ‘payuk jakan’ hingga pensiun nanti ada di Kabupaten Badung.

Sudah bisa bisa ditebak.
Pada TPS dimana saya mendapat kesempatan mencoblos paslon 1, hasil perhitungan surat suara rata-rata berada pada rentang 1:3.
Artinya secara pilihan figur, Rai Mantra jauh lebih menarik ketimbang Koster yang notabene merupakan Kader partai PDIP. Dimana selama saya mengikuti pilkada, suara partai PDIP selalu signifikan hasilnya. Bahkan saat pilpres terakhir sekalipun.
Maka kali ini, pilihan akan Partai Pengusung kelihatannya sudah tidak menarik lagi bagi warga kami disini. Meski secara militansi saya yakin banjar Tainsiat masih merupakan basis PDIP, namun serupa keputusan para penglingsir partai disekitar kami, hampir semua mengalihkan dukungan pada figur atau sosok Rai Mantra.

Harusnya ini menjadi pembelajaran bagi Rai Mantra kedepannya.
Bahwa urusan untuk bisa maju ke kursi Bali 1, tidak bisa hanya mengandalkan figurnya saja. Tapi juga soal pemilihan calon wakil pendamping dan partai pengusung. Demikian halnya dengan pendukung, yang kelihatannya sudah tutup mata dengan semua itu.
Boleh boleh saja merasa percaya diri akan kemampuan figur, namun jika salah langkah terlampau jauh ya susah juga jadinya.
Apalagi tagar 2019 Ganti Presiden begitu masif disuarakan bila kelak Rai Mantra berhasil memimpin Bali 2018.
Andai dahulu Rai Mantra bersedia menjadi Cawagub dulu sebelum naik ke kursi Bali 1, saya yakin cerita akan lain.

Tapi keputusan sudah diambil.
Hasil Pilkada pun sudah positif jadi. Meski belum dirilis resmi oleh KPUD.

Terlepas dari semua kontroversi yang menyertai selama berjalannya masa kampanye, termasuk soal #Nasbedag istilah yang belakangan ngeTrend kembali terkait aksi Bali Tolak Reklamasi, ataupun dugaan kasus korupsi yang dialamatkan, faktanya Koster telah mampu tampil sebagai pemenang pada kontestasi pilka?a Bali memperebutkan kursi Gubernur.
Semoga saja bisa memberikan solusi yang lebih baik bagi Bali hingga 5 tahun kedepannya. Tidak hanya berpihak pada satu dua kabupaten, namun mampu merangkul semuanya serta membuktikan kata dan janji saat masa kampanye kemarin.

#SalamSatuJalur pun menggema dimana-mana.
Selamat untuk paslon Koster dan Cok Ace.
Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Tahun 2018.

Sedikit Lagi, Ayo Coblos Rame Rame

Category : tentang Opini

Cuaca pagi ini tampaknya cukup bersahabat. Tak lagi dingin seperti sebelumnya. Hujan pun masih enggan turun lagi, memberikan kesempatan pada khalayak untuk merayakan hari pemilihan kepala daerah.

PilGub Bali saya pantau tergolong aman aman saja di dunia nyata. Setidaknya untuk ukuran Kota Denpasar.
Berbeda dengan dunia maya alias media sosial yang riuhnya minta ampun. Bahkan sampai masa tenang sekalipun, orang masih tak segan untuk saling menjatuhkan lawan dengan beragam tuduhan dan hoax. Tak ada lagi peduli apakah itu dibenarkan atau tidak, yang penting sore ini bisa menang.

Dari hati nurani sebenarnya ingin bersuara. Namun tuntutan sebagai seorang ASN melarang itu semua. Maka pendapat hanya bisa dipendam di hati, tanpa bisa ditumpahkan lagi.

Bali identik dengan Sarang Banteng. Suara PDIP saat pilpres lalu kalau tidak salah memberi andil hingga 70%. Gegara sosok Jokowi saya yakini.
Denpasar sendiri saya meyakini menjadi basis paslon Rai Mantra, mengingat selama Beliau menjabat sebagai Wali Kota, tidak banyak gesekan yang terjadi, dan meski mendapat banyak penghargaan di bidang clean government, tidak banyak pula perubahan pembangunan kota serta kebijakan yang bisa dirasakan.
Infonya salah satu dari dua fakta diatas akan dibalikkan posisinya hari ini. Namun bisa jadi juga kedua fakta akan tetap bertahan atau terbantahkan. Siapa yang tahu…

Beragam agenda lanjutan ada di balik kemenangan salah satu dari dua paslon dalam upaya merebut suara masyarakat Bali hari ini.
Dari yang lagi hangat-hangatnya soal dukungan Tolak Reklamasi, atau tagar 2019 Ganti Presiden pun menjadi target berikutnya. Sedikit mengkhawatirkan.
Mengingat tiga puluh persen sisa suara saat pilpres, menginginkan hal itu terjadi.
Terlihat sekali bahwa masyarakat di Bali sedang menjalani ujian, laiknya DKI Jakarta tahun lalu. Apakah kelak bakalan bisa melalui lubang jarum dengan baik atau sebaliknya ?

Tinggal menghitung jam saja.

Sedikit Lagi Bli, Ayo kita Coblos Rame Rame

PilGub Bali, seberapa menarik di mata kami ?

Category : tentang Opini

Media Sosial, utamanya FaceBook, group Suara Badung, yang saya ikuti sejak menjabat sebagai kepala seksi di skpd teknis Kabupaten Badung jadi riuh rendah dengan adanya PilGub Bali sebagai bagian dari Pilkada Serentak 27 Juni 2018 nanti.
Group Suara Badung ini kentara sekali jadi makin panas dengan naiknya tensi politik jelang hari pencoklitan rabu mendatang.
Beberapa Black Campaign mulai disodorkan oleh mereka yang sedari awal sudah terang-terangan mendukung salah satu paslon hingga mereka yang sedari awal ngotot mengaku Netral, kini sudah mulai beralih dan mengakui pilihan politiknya. Sah sah saja…

Sebaliknya di akun Twitter tampaknya masih belum seramai FB lantaran tidak banyak orang atau netizen dari pulau Bali ini yang aktif bersuara utamanya terkait PilGub Bali. Timeline saya sendiri masih disibukkan dengan pertarungan Cebong dan Kampret, para pendukung Calon Presiden terdahulu dan besok, yang hingga hari belum bisa Move On dari topik utama. Bisa dikatakan, topik PilGub Bali tak begitu menarik untuk dibahas di akun Twitter. Tenggelam oleh aksi #recehkantwitter atau #twitwor yang memang begitu menghibur dan mengundang tawa.

Generasi Milenial ataupun Anak Muda seperti kami saat ini sebenarnya dianggap sebagai satu potensi yang lumayan menggoda untuk bisa menambah pundi-pundi suara dan juga dukungan.
Swing Voter, begitu istilah yang mereka berikan.
Jadi tidak heran bila pola kampanye dua paslon PilGub Bali saat ini, ada juga yang berusaha untuk meraup pangsa remaja lewat konser musik yang diadakan secara berkala dari satu kota ke kabupaten lainnya. Tidak jarang, banyaknya massa yang hadir dalam pertunjukan konser musik tersebut, diklaim sebagai bentuk dukungan masyarakat pada paslon penyelenggara.

Demikian halnya dengan isu Bali Tolak Reklamasi yang diperjuangkan oleh For Bali selama lima tahun ini, dimana last minute beredar Surat Permohonan Reklamasi dari salah satu paslon saat yang bersangkutan masih menjabat di posisi yang berbeda, atau Surat Rekomendasi dari pendukung paslon lainnya yang juga tak kalah ributnya, mengundang pro dan kontra, pula tentu saja Black Campaign antar keduanya.

Belum lagi soal sangkaan Korupsi atau tuntutan hukum yang mampu menciderai kedua paslon saat sudah dilantik menjadi Gubernur Bali nantinya.
dan ada banyak hal lain yang menambah riuh masa kampanye di akun media sosial belakangan ini.

Maka itu menarik juga ketika menyimak hasil polling online yang dibesut admin akun Twitter @BaleBengong yang hanya menyajikan hasil sebanyak 306 Votes dari 101K follower yang menyatakan ‘tidak peduli’ akan pilihan PilGub Bali yang diambil nanti saat hari pencoklitan tiba. Miris ?
Demikianlah.

Kedua Paslon PilGub Bali merupakan Generasi Tua yang tampaknya belum mampu menghapus dahaga generasi Jaman Now akan sosok cerdas pemimpin daerah seperti pak Ahok atau pak Jokowi. Sehingga apa yang dipaparkan sebagai program kerja mereka nantinya saat terpilih hingga 5 tahun kedepan, belum mampu mengubah rasa pesimis masyarakat Bali umumnya menjadi lebih optimis. Kerja Nyata yang benar-benar bisa dirasakan.

Keduanya masih tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu, bayang-bayang dosa yang pernah dilakukan saat menjabat di posisi sebelumnya, bahkan bisa dikatakan, keduanya tidak memiliki banyak rekam jejak akan pembangunan fisik saat jabatan dipercayakan kepada mereka.
Bisa jadi itu menjadi sebab bahwa masih banyak Generasi Muda Jaman Now yang bingung menentukan pilihan bahkan jadi Tak Peduli pada perhelatan PilGub Bali tahun ini.

Ini opini saya sih…
CMIIW

PilGub Bali sudah dekat, Kamu pilih siapa ?

Category : tentang Opini

Entah karena saya yang kuper, atau malah sudah aware duluan dengan mengUnfollow beberapa kawan di akun sosmed, gaung PilGub Provinsi Bali rasanya kurang greget. Timbul tenggelam dengan isu-isu yang tak jauh dari perhelatan pilkada lainnya.
Korupsi, penyelewengan, prestasi yang dicapai hingga khususnya di Bali, dukungan atas perjuangan aksi Tolak Reklamasi. Sayangnya tak satupun yang mampu memunculkan dukungan sedahsyat Jokowi-Ahok pada PilGub DKI Jakarta lima tahun lalu.

Yeah, kemungkinan besar itu juga penyebab utamanya. Gegara seorang Ahok yang cina kafir itu jua menyebabkan standar baku seorang calon kepala daerah sudah terpatri sejak awal. Nyaris tidak ada yang memiliki kemampuan segarang dan setajam pimikiran Beliau, terlepas dari tuduhan Penista Agama yang dialamatkan setahun terakhir.
dan di Bali khususnya, semua calon juga calon yang tak jadi maju ke kancah kontestasi, hanya bisa mencatut dan mengekor nama Beliau. Tidak ada hal baru yang bisa dilakukan sejauh ini.
Baik untuk Calon yang sebelumnya sudah pernah menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Denpasar untuk lingkup wilayah yang Beliau pimpin selama ini, maupun calon yang dulunya terpilih menjadi Anggota DPR RI pusat.
Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, termasuk urusan hukum dan lainnya.

Hari pencoblosan sudah tinggal menghitung hari saja. Calon yang bertarung pun sudah melewati debat yang (sorry to say) kurang menarik untuk dinikmati.
Saya sendiri sebagai seorang ASN dilarang memberikan dukungan secara nyata pada salah satu calon termasuk urusan Like maupun foto bersama lalu diUpload ke Sosial Media. Jadi jangan tanyakan pilihan saya disini ya.

Nah, kamu sendiri, yang bukan ASN, mau pilih siapa ?

Menatap Mentari Pagi Desa Canggu Idulfitri 1 Syawal 1439 Hijriah

2

Category : tentang Opini

Hari masih gelap ketika kaki kaki ini mulai menapak jalan aspal dari rumah mertua menuju selatan, pantai Batu Bolong Desa Canggu. Satu dua wisman tampak berlari kecil melawan arus dimana aku melintas. Suasana hari raya begitu kentara.

Masuk kilometer kedua, satu dua kendaraan roda empat mulai tampak. Aku pun mengambil haluan kanan, melawan arus kendaraan agar tetap bisa melangkah cepat di atas aspal, dan tak terjerembab di kotornya selokan.
Disini keberadaan trotoar belum menjadi prioritas laiknya kota.

Empat kilometer jauhnya dari rumah. Jarak yang kupantau melalui aplikasi Google Maps saat menyeruput kopi pahit dini hari tadi. Lumayan juga untuk rute pergi pulang. Menjadi pengalaman pertama bulan ini, pasca kecelakaan tempo hari.

Mentari pagi masih malu-malu menampakkan diri. 1 Syawal 1439 Hijriah, Tahun 2018 dimana kemacetan mudik tak lagi viral di sejumlah media. Mensyukuri jalan tol yang dibangun Presiden Kita dan tetap berharap ia akan tetap memimpin negeri ini periode depan.

Selamat Hari Raya Idulfitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

3000 Postingan, Lalu Apa ?

4

Category : tentang Opini

Sudah 12 tahun…
dan Sudah lewat rupanya ?

Saya malah lupa, kalau 26 Mei lalu adalah tanggal dimana saya mulai menulisi halaman Blog ini, 12 tahun yang lalu tapinya. Sudah seharusnya dirayakan… tapi lupakan saja.

dan Setelah dibuka-buka kembali halaman Blog yang sangat amatiran ini, rupanya lagi Sudah ada 3000 postingan yang dilahirkan dan sekitar 5% diantaranya ditarik dari peredaran. Tepatnya diBredel oleh siempunya. Gegara tidak layak baca dan tidak layak publikasi. Jadi bisa dikatakan, yang bisa dibaca sekitaran 2850an postingan saja.

Lalu Apa ?

Lalu harapannya ya jelas, bisa lebih serius lagi ngeBlognya. Lebih semangat dan tentu saja lebih berkualitas dari segi tulisannya. Karena bakalan mubazir kalo halaman blog ini hanya menyimpan soal keluh kesah saya dan cerita tak jelas, seiring makin banyaknya usia halaman Blog.

Apa Bisa ?

Ya Doakan saja.
Semoga bisa selalu sehat pikiran dan jasmani, sehingga bisa menulisi Blog hingga akhir masa nanti. dan Semoga juga, bisa mendatangkan nilai rupiah yang lebih baik lagi kedepannya.