Jarang Update

Category : tentang InSPiRasi

Intermezo kali ini hadir gegara mas Anton Muhajir yang ngeTweet pagi-pagi lewat akun @antonemus menyinggung tagar #AyoBlogWalking. Satu upaya untuk mengunjungi kembali blog teman dan meninggalkan jejak komentar didalamnya. Terinspirasi Beliau ini katakanlah.

Aksi #AyoBlogWalking memang sudah makin jarang saya lakukan, seiring makin jarang pula update tulisan di halaman blog ini. Berbanding lurus dengan intensitas update status di beberapa akun sosial media dan chat pertemanan.

Maka pagi ini pun saya mencoba mengunjungi halaman beberapa teman yang masih sempat meninggalkan komen di blog ini maupun yang tadinya dikunjungi. Ternyata saya tidak sendiri.

Ada juga loh yang masih terjangkit virus malas update halaman blog. Bisa jadi karena bosan menulis, minim ide atau malah karena tingkat kunjungan dan pendapatan yang pula ikut-ikutan menurun. Tulisan terakhir ada yang bulan Februari, setahun lalu atau yang jauh lebih beruntung, Juli kemarin. Mih…

Tapi yah, update atau enggaknya sih memang gak ada standar bakunya untuk terap bisa menyandang status sebagai seorang Blogger. Bisa jadi rajin Update gegara gak ada kerjaan atau malah kurang kerjaan, dan gak menjamin kualitas isi tulisan berbobot atau bermanfaat bagi orang lain, Bisa juga jarang Update lantaran kesibukan liputan, mengumpulkan bahan lalu melahirkan tulisan sebulan sekali dengan tanggapan yang mendunia. Bisa jadi.

Cuma ya sayangnya, pemilik blog atau halaman blog ini masuk dalam pemikiran alternatif selain dua opsi diatas yaitu jarang update karena malas. Halah… kalo yang ini sih mungkin gak sebaiknya saya bahas lebih lanjut.

Berburu Novel klasik milik om Hilman

Category : tentang InSPiRasi

Sebenarnya sih hasrat untuk mencari kembali jejak beberapa novel klasik karangan om Hilman Hariwijaya sudah ada sejak lama. Hanya tadi itu rencana awalnya sih nyariin majalah atau tabloid ponsel di Gramedia Gatot Subroto eh kok nyasarnya malah di areal novel.

Surprise

Ya, agak kaget juga pas nemu section satu deret buku dengan judul Lupus Klasik, yang tebelnya lumayan se novel Harry Potter edisi pertengahan. Ternyata dalam satu buku karangan om Hilman itu terkumpul sekitar tiga judul yang diatur secara acak. Jadi semacam novel the Best of-nya om Hilman.

Kalo gag salah ingat sih tadi itu yang saya temukan ada kisah Cinta Olimpiade, Tragedi Sinemata, Tangkaplah Daku, Makhluk Manis dalam Bis hingga Topi-topi Centil. Ada juga dua tiga jilid buku lainnya lewat kisah Lupus Kecil Klasik yang merupakan kerjasama om Hilman dengan om Boim.

Sayangnya novel yang saya cari itu gag ada dalam list buku di lokasi, bahkan hingga OLX, Lazada dan Berniaga pun saya lakoni ya tetep nihil. Di om Google yang tak pantau ada sih beberapa yang menawarkan, namun ternyata sudah terjual. Mih…

Cafe Blue, Rasta dan Bella, Vanya atau Dancing on… Boys dont Cry, adalah Novel yang ingin saya baca kembali di masa kini. Isinya ya kurang lebih tentang remaja dan cinta. Satu hal yang masih suka saya nikmati hingga kini. Isinya sih masih bisa saya ingat satu dua, cuma penasaran dengan bab bab lainnya aja.

Secara bahasa yang digunakan bisa jadi tergolong jadul untuk era alay kini, tapi ya tetap saja saya menyukainya. Istilah jaman itu macam Perek (maaf), Ge eR atau bahkan soal penamaan tokoh Fifi, Gusur, Gito, Nyit Nyit kunyit rasanya masih bisa diingat, termasuk era boyband NKOTB di Rasta dan Bella. Jujur, jadi kangen…

Cuma tadi itu pas di Gramedia, sempat terbersit keinginan untuk membeli satu diantaranya, namun sepertinya kelak saya akan menggalau lagi, mengingat membaca Lupus klasik secara tidak langsung bakalan mengingatkan saya pada sosok almarhum kakak yang pergi setahun lalu. Dari ialah saya bisa mengenal novel Hilman saat kecil dahulu. Agak sedih juga sih jadinya.

Balik ke topik, saya tetap berkeinginan mencari dan memiliki novel-novel tadi. Kira-kira kalian bisa ngasi petunjuk atau bahkan punya ? Saya beli deh…

Om Hilman sendiri saya dapatkan akun ID FaceBook-nya lewat om Google. Dan sudah sempat ngirim private message untuk menyampaikan maksud. Semoga ada titik terang disitu nantinya.

Tapi kalopun boleh, saya sih inginnya bisa nemu yang versi eBook, jadi bisa dibaca saat senggang menunggu dimana saat ini, beberapa novel seangkatan masih tersimpan rapi dalam Galaxy Note 3 yang saya miliki. Satu diantaranya ya Gola Gong lewat Balada si Roy yang beken lewat majalah Hai itu…

Jadi gag sabar…

Ogoh Ogoh Banjar Tainsiat Denpasar Tahun 2014

1

Category : tentang InSPiRasi

Ogoh Ogoh Tainsiat Pandebaik 1

Ogoh-Ogoh Kalimaya banjar Tainsiat Kota Denpasar Tahun 2014

Ogoh Ogoh Tainsiat Pandebaik 2

Hujan Android gaya Samsung Galaxy Series

1

Category : tentang InSPiRasi, tentang TeKnoLoGi

Ada yang tahu ada berapa banyak seri Android yang sudah dirilis oleh produsen Samsung sejak kemunculannya pertama kali ditahun 2009 lalu hingga kini ? Nyaris mencapai angka 100 unit seri Galaxy. Atau bahkan lebih, jika melihat dari varian yang dimiliki oleh masing-masing perangkat ?

Setidaknya demikian info Release History yang saya dapatkan lewat halaman Wikipedia.

Dan dari sekian banyak yang digelontorkan ke pasar global, 25 diantaranya turun bagai hujan sepanjang tahun 2013. Maka bisa dikatakan, minimal ada dua seri yang dirilis dalam setiap bulannya, belum termasuk kategori TabletPC yang total berjumlah 16 unit. Kagum ? Jangan dulu.

Hal seperti ini sebenarnya pernah dilakukan oleh sang mantan raja ponsel kelas dunia asal Finlandia Nokia, yang belakangan makin terpuruk saja akibat salah langkahnya mengambil keputusan dengan mengembangkan sistem operasi Meego yang gagal sebelum berkembang, atau gabungnya mereka dengan sang raksasa Microsoft. Ada yg masih ingat ada berapa seri Nokia yang pernah digelontorkan ke pasar lewat seri N atau kategori Multimedia ? He… itu baru sebagian kecil. Belum seri E dan lainnya. Ditambah beberapa barisan Lumia atau Asha.

Samsung galaxy PanDeBaik

Lalu benang apa yang bisa ditarik dari dua perilaku serupa sang mantan raja dan raja terkini di dunia mobile telekomunikasi, Nokia dan Samsung ?

Mereka sama-sama cerdik, menggelontor pasar global dengan puluhan seri yang mirip satu sama lain, namun menyasar konsumen di semua lini. Baik pemula, menengah hingga kelas atas, tanpa kecuali. Dan itu dilakukan pada masa jaya, sehingga publik terbelah menjadi dua bagian. Satu yang memiliki loyalitas tinggi dan fanatik akan produk Galaxy Series (atau Nokia dijamannya) untuk pilihan berikutnya, dan bagian lain yang merasa bosan dengan teknologi serupa dalam setiap perangkat, lalu memilih brand lain yang jauh lebih menggoda baik fitur maupun desain akhirnya.

Jika Nokia dahulu bersaing ketat dengan Sony Ericsson yang tak mau kalah lewat brand Walkman dan K series nya, kini Samsung harus berhadapan dengan sejumlah pesaing dari berbagai belahan dunia. iPhone dari Amerika, HTC Taiwan, Sony Jepang, hingga lawan dari negeri sendiri, LG. Termasuk Nokia sang pendahulu.

Meski demikian, usaha Samsung lewat Galaxy Seriesnya patut diacungi jempol mengingat teknologi yang dikembangkan dari tahun ke tahun hingga kini, tetap dibutuhkan oleh pengguna, meski sebagian diantaranya merupakan contekan dari sang maestro iPhone, sebuah ponsel karya Steve Jobs yang fenomenal itu.

Trik pemasaran ini sudah sewajarnya ditiru oleh beberapa brand ternama lainnya, jika memang menginginkan kue keuntungan dengan margin yang lebih besar. Setidaknya nama seperti HTC hingga pendatang baru Oppo sudah mulai bergerak mengikuti, dengan merilis seri Mini dari ponsel flagship yang mereka miliki.

Tapi apakah mereka tahu jika pemasaran dan keuntungan tidak akan datang begitu saja jika tidak diimbangi dengan layanan purna jual atau after sales-nya ? Bagi yang pernah memiliki perangkat Samsung yang bermasalah, saya yakin pernah merasakan layanan mereka yang gegas dan memuaskan. Infonya, Samsung sudah sejak lama merekrut teknisi-teknisi lokal untuk dididik memahami teknologi serta menyuntikkan dana yang besar untuk iklan, demi meraup image terbaik di mata konsumen di tiap-tiap wilayah sasaran. Entah benar atau tidak, namun melihat apa yang terjadi di lapangan, bisa jadi info tersebut akurat adanya.

Nah, masalahnya apakah brand lain mampu mengimbangi langkah Samsung untuk mencuri sedikit pangsa pasar yang ada ?

Empat Video Van Der Spek Menampar Bali

1

Category : tentang InSPiRasi, tentang KeseHaRian

Menarik, Sangat Menarik tentu saja…

Menyaksikan satu persatu dari empat video tentang praktek Penipuan di Bali yang direkam secara diam-diam oleh Van Der Spek, seorang turis dari Belanda yang berprofesi sebagai Wartawan/Jurnalis sebuah media di negaranya, cukup membuat miris dada akan perilaku orang Bali yang tak lagi dikenal jujur dan ramah pada wisatawan. Semua hanyalah sebuah kamuflase yang dibalut oleh keserakahan akan uang.

Ya, uang kini sudah bagaikan Dewa dan menjadi segalanya…

Padahal jikapun diperhatikan jauh lebih dalam, rasanya Orang Bali pelan tapi pasti seakan sudah mulai melupakan ajaran agama yang sejak kecil ia baca, pelajari dan lakukan. Misalkan saja Tri Kaya Parisudha, Berpikir, Berkata dan Berbuat yang Baik…

Dengan bukti yang kini sudah dapat dilihat secara luas, apakah perilaku Orang Bali (meski hanya oknum, namun siapa peduli ?) sudah jauh dari keyakinan akan Karma Phala ?

Sangat disayangkan tentu saja, apabila praktek-praktek baik penilangan polisi atau pemeriksaan cukai yang berujung damai dengan uang yang dinikmati untuk kepentingan pribadi, atau penukaran uang yang dipenuhi praktek kecurangan plus iming-iming hadiah padahal itu sudah diatur sebelumnya ?

Entah harus berkata apa jika sudah terdokumentasi begini…

Video Van Der Spek Bali

Namun salute untuk si turis Belanda… Meskipun pada kenyataannya begitu banyak pula perilaku turis yang tidak sopan saat beraktifitas di Bali, setidaknya empat video ini (bisa jadi mungkin lebih) bisa mengingatkan kita bahwa di jaman teknologi modern dimana lensa kamera tak lagi hanya berada dalam perangkat dimaksud atau dibadan ponsel, semua aktifitas yang kita lakukan mampu terekam dengan baik, disengaja ataupun tidak. Tapi apabila yang namanya etos kerja, prinsip menghormati dll tetap dijunjung oleh semua kalangan pekerja swasta maupun negeri dimanapun mereka berada, saya yakin gag bakalan ada yang seperti ini, meski satu dua bisa saja bernasib apes saat mencoba mempraktekkannya.

Ngomong-ngomong, dengan adanya bukti otentik seperti ini apakah pihak terkait yang merasa tertampar tidak akan melakukan perubahan baik sistem maupun mental oknumnya ? Inilah yang patut dipertanyakan kali ini.

Misalkan saja seperti penilangan polisi yang berujung damai, apakah tidak ada cara lain yang lebih memudahkan masyarakat yang melanggar aturan lalu lintas melakukan proses yang aman, tanpa pemborosan waktu, biaya dan tenaga ?

Saat kami diskusi dengan kawan-kawan seruangan kantor, ada banyak ide yang disampaikan terkait ini. Memperbanyak sosialisasi proses pengurusan tilang dimana kabarnya ada yang bisa dibayarkan lewat atm, sehingga yang bersangkutan tak perlu lagi repot ke pengadilan ? Entah dicetak besar, lalu ditempelkan di masing-masing pos polisi ? Atau pembayaran melalui pemotongan pulsa, mengingat kini ponsel rata”sudah dipegang oleh masyarakat hingga menengah ke bawah ?

Demikian halnya aksi Money Changer yang saya yakin, saya pun pernah menjadi korban saat melakukan penukaran mata uang dollar beberapa waktu lalu. Dan kini, video milik Van Der Spek telah membukakan mata akan pentingnya memeriksa kembali sekian banyak lembaran uang yang ditukar, langsung ditempat itu juga…

Semua hal yang dahulunya punya peluang untuk melakukan praktek kecurangan, saya yakin ada cara yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang kini semakin berkembang, meski yang namanya otak manusia tetap saja mencari celah bagaimana agar praktek tersebut bisa kembali dilakukan.

Kini saya masih berharap, akan ada video dari Van Der Spek yang kelima, enam, tujuh dan seterusnya, apakah itu mengungkap praktek pungli di birokrasi pemerintahan terkait pengajuan ijin, pembayaran pajak atau bahkan yang ada kaitannya dengan pengadaan barang jasa…

*colek LPSE dan ULP Badung *uhuk

Last but not least, Ogoh-Ogoh Banjar Tainsiat Tahun 2013

3

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang InSPiRasi

Akhirnya… selesai juga… Menjadi rekor pengerjaan tercepat dalam sejarah pembuatan Ogoh-Ogoh Banjar Tainsiat selama ini… gag nyampe seminggu…

image

image

image

Guns N Roses Live di Jakarta ?

1

Category : tentang InSPiRasi, tentang KeseHaRian

Jika saja kabar ini datangnya sekitar dua dekade lalu, barangkali histeria penggemar musik rock di Indonesia masih sedang hangat-hangatnya.

Generasi muda kala itu bisa dibilang lagi haus-hausnya dengan penampilan musisi rock papan atas yang sedang menjadi raja dan menggapai puncaknya, plus dengan formasi yang solid pula.

Masih ingat dengan rusuh stadion pasca konser Metallica ? atau konser Sepultura yang baru saja merilis album Arise ? wih… keliatan banget nih semua selera jadul dan makin memperjelas batasan umur masa kini.

Diantara sekian banyak musisi rock, barangkali Guns N Roses saja yang absen dari penjadwalan konser live mereka di Indonesia. Padahal saat itu dobel album Use Your Ilussions masih terdengar jelas ditelinga. Nah, kini ?

Pasca album Spaghetthi Incident yang lebih banyak meng-cover version kan lagu dari musisi lain, Guns N Roses kalo gag salah kedapatan tampil di original soundtrack nya Interview With The Vampire, itupun lagi-lagi meng-cover versionkan karyanya Rolling Stones. Kabar bergulir dengan perpecahan anggota yang menyisakan nama sang vokalis sementara anggota lainnya menyebar bahkan kabarnya tiga diantaranya membentuk grup baru ‘Velvet Revolver’ yang punya sound khas dari Guns N Roses versi dobel album tadi.

Kesombongan Axl sang vokalis, kerap mendapat kecaman dari banyak musisi lain terutama yang memang menjalankan masa tumbuh kembangnya bareng dengan band besar Guns N roses. Publik mungkin masih ingat dengan penampilan mereka di event bergengsi Rock And Rio yang memang gag mencerminkan usia dari Axl kini. Malah kelakuannya kemudian menjadi bahan tertawaan para wartawan jika dibandingkan dengan musisi lain yang hingga kini masih solid.

Guns N Roses versi terbaru kini menyajikan 8 musisi termasuk Axl Rose pada vocals, Dizzy Reed pada keyboards (yang ini kalo gag salah sudah bareng pas Use Your Illusions Tour), Tommy Stinson pada bass, Chris Pitman keyboards (entah kenapa menggunakan 2 kibordis), Richard Fortus pada rhythm guitar, Frank Ferrer pada drums (padahal gebukan si Matt Sorum udah keren banget), Ron “Bumblefoot” Thal pada lead guitar dan DJ Ashba pada lead guitar (juga). Bandingkan dengan formasi awal mereka yang Cuma berlima namun menghasilkan karya jauh lebih klasik.

Tapi inilah Guns N Roses versi terkini yang bakalan tampil di Jakarta sabtu, 15 Desember besok. Semoga kelakuan Axl bisa sedikit berubah sehingga penonton gag ilfil duluan.

Dan ngomong-ngomong, kalopun boleh di-share sedikit, bagi kalian yang beruntung bisa nonton langsung Guns N Roses di jakarta nanti, mungkin bisa duduk bareng pak Gub Jokowi, bisa nonton streaming videonya alumnus Guns N Roses versi awal di YouTube, khususnya pada perhelatan Rock and Roll Hall of Fame 2012 yang dibuka oleh band punk Green Day. Link video bisa dilihat disini. Lumayan bisa menghibur sebelum bisa melihat langsung aksi ‘the Most Dangerous band’ Guns N Roses

*kira-kira masih tergolong ‘the Most Dangerous band’ gag yah ? :p

Iwan Fals in Collaboration with SID Gedor Denpasar

Category : tentang InSPiRasi, tentang Opini

Dibandingkan dengan konser pertama Iwan Fals, the Living legend musisi Indonesia yang diadakan pada bulan April 2003 di panggung terbuka Ardha Candra Denpasar, rasa untuk menyaksikan Mega Konser yang diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2012 oleh Koperasi Keran kemarin, bisa dikatakan berkurang sangat jauh. Ada keraguan untuk mengambil Tiket Masuk yang ternyata hanya seharga 50ribu rupiah saja, sehingga saya baru memesannya seminggu sebelum pegelaran dimulai.

Bisa jadi lantaran fokus perhatian saya pribadi kini terhadap karya om Iwan Fals sudah mulai berkurang jika dibandingkan era 80/90an dahulu, bisa juga karena faktor kelahiran putri kami yang kedua sehingga ada rasa berdosa jika saya meninggalkan keluarga untuk bersenang-senang sendirian.

Ya, sendirian. Padahal dengan harga tiket masuk yang awalnya dibanderol seharga 100ribu dan naik pada awal Oktober menjadi 125 ribuan, ternyata saya malah mendapatkan dua tiket seharga 50ribu. Lha, trus mau ngajak siapa dong, bathin saya selama seminggu terakhir. Dan kalo memang benar itu seharga 50ribuan, lantas apa saja yang didapatkan bagi pembeli tiket bulan-bulan awal kemarin yah?

Berdasarkan waktu yang tertera pada HTM, kurang lebih penonton diminta hadir pada pukul 18.00 wita, sore hari. Namun beruntung, informasi berlanjut saya dapatkan bahwa Mega Konser om Iwan Fals kali ini rupanya dibuka oleh dua musisi lokal Bali yang namanya sudah beken dikenal, bli bagus Nanoe Biroe dan Trio macan eh punker Superman Is Dead. Artinya besar kemungkinan, om Iwan Fals mendapat jatah manggung paling akhir atau sekitar pukul 20.00 wita. It’s okay, toh mereka berdua juga gag kalah keren dengan om Iwan. Maka agar sempat menyaksikan penampilan keduanya, sayapun berangkat menuju lokasi konser, GOR Ngurah Rai Denpasar sekitar pukul 18.45 wita. Yang sayangnya jauh melenceng dari rencana.

Sampai di lokasi, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wita. Waktunya SID tampil nih pikir saya. Namun ternyata meleset sangat jauh. Untuk sekitar 30 menitan berikutnya, saya dan juga beberapa penonton lain disuguhkan sajian iklan tentang koperasi Keran, sang penyelengara yang jujur saja jadi agak aneh mengingat disampaikan di sebuah event konser musik. Sepegetahuan saya selama ini menonton konser, mungkin baru kali ini bisa ditemui presentasi seperti ini :p dan rupanya beberapa penonton yang duduk manis di sekitaran, mengaku sejak nyampe sudah disuguhi sajian macam ini. Lha, musiknya kapan ? :p

Tepat pukul 19.35 wita, Superman Is Dead tampil menggebrak panggung meski dengan jumlah penonton yang masih sangat sedikit untuk ukuran perkiraan saya pribadi. Bisa jadi seperti kata Bobby sang vokalis bahwa ‘tumben nih mereka tampil di event yang memberikan harga Tiket Masuk 50ribuan, yang bisa ditebak pembelinya hanya ‘orang-orang yang sudah taraf dewasa sehingga sulit mengharapkan aksi penonton penuh anarki dan mandi lumpur. Sepanjang pantauan hanya sebagian kecil penonton di barisan depan saja yang melakukan aksi khas sajian konser musik rock. Itupun didominasi anak-anak muda Outsiders yang secara kebetulan tertangkap kamera dalam rentang jangkauan terbatas. Sementara kami yang ada di barisan belakang masih santai duduk manis dan terbengong bengong. Hehehe…

Sambutan baru mulai meriah saat SID menyatakan tampil kolaborasi bareng om Iwan Fals lewat karya Air Mata Api dari album Mata Dewa (1989). Vokal om Iwan yang seharusnya mendominasi lagu ini digantikan oleh Eka sang pembetot Bass SID dengan nada yang tak kalah kerennya. Koor makin menjadi saat karya om Iwan yang kedua dilantunkan secara bersama yaitu Kemesraan dan secara spontan memanas saat dilanjutkan dengan ‘Jika Kami Bersama’.

Yang keren dari penampilan SID malam itu adalah hadirnya Bobby lewat gitar Akustik membawakan karya ‘Jadilah Legenda’ dan Jerink yang sempat mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi alam lingkungan Bali terutama kasus Mangrove yang belakangan menghangat. Sangat menyentuh kawan…

Sekitar pukul 20.30an wita barulah om Iwan Fals bersama band barunya, Toto Tewel, Feri, Raden dan siapa yah yang megang keyboard ? menggedor lapangan GOR Ngurah Rai lewat karya-karya ternama miliknya yang dilantunkan secara bersama-sama di sepanjang lagu. Dari ‘di bawah Tiang Bendera, Hatta, Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi atau Sore Tugu Pancoran dengan cepat dilahap habis oleh barisan Orang Indonesia yang pula datang hadir jauh-jauh ke Bali. Tak lupa karya fenomenal grup Swami dengan Bongkar dan Bento, serta Bunga Trotoar yang masih berasal dari album yang sama.

Penonton baru terdiam saat Iwan melantunkan karya terbarunya ‘Tentang Sampah’ yang sedianya bakalan hadir di album terbaru kelak. Namun tak menunggu waktu lama saat ‘Wakil Rakyat, Aku Sayang Kamu hingga Pesawat Tempurku dilantunkan. Mengagumkan. Diusianya yang kini telah menginjak setengah abad, om Iwan Fals masih setangguh dahulu meski lontaran joke atau sindiran moral sudah gag sekuat dulu.

Yang makin mengagumkan adalah tampilnya Drum Solo mas Raden yang menggebuk drum setnya dengan penuh tenaga tanpa melupakan irama yang dijaga begitu baik. Penampilan ini mengingatkan saya pada set list Drum Solo yang biasanya hadir pada band-band besar dan ternama seperti God Bless aka Gong 2000 lewat Yaya Muktio, Guns N Roses lewat Matt Sorum hingga Queen. Ingatan saya juga melayang ke penggebuk drum era 90an yang mengambil rekor MURI terdahulu.

Saking lamanya om Iwan tampil, gag terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 wita. Usai memperkenalkan cahaya kehidupannya dari Yos sang istri, Cikal putri om Iwan yang jadi judul album tahun 1991, serta Raya putra terakhirnya dimana Galang diyakini berada disekitar kami, Tiga Rambu yang kini menjadi organisasi resmi milik om Iwan, Mata Dewa dilantunkan sebagai tembang pamungkas. Entah apakah setelah karya ini Iwan kembali memberi tambahan setlist seperti halnya konser band ternama lainnya, yang pasti sayapun dengan langkah pasti meninggalkan arena yang rupanya tidak terlalu banyak menghabiskan ruang yang tersedia.

Tampilnya om Iwan Fals di Bali 27 Oktober 2012 kemarin malam, sudah lebih dari cukup buat saya. Rasanya kalopun bakal dilanjutkan sampai pagipun, saya sudah tidak berminat untuk melanjutkan sesi. Rasa kangen pada putri kami yang kedua, mengalahkan segalanya. Maka langkah demi langkahpun saya lakoni untuk pulang. Tak percuma berjalan kaki dari rumah demi sebuah nama besar Iwan Fals.

Jujur, saya masih berharap besar bisa menonton secara langsung konser om Iwan bersama sekian nama besar lainnya yang masuk angkatan Beliau saat masa Orde Baru dulu. Swami, Kantata Takwa atau Dalbo. Bisa jadi ini hanyalah sebuah impian yang brangkali harus saya pendam mengingat kondisi kesehatan mereka yang sudah lanjut usia, atau barangkali bisa menjadi sebuah pe-er bagi siapapun yang kelak ingin mendatangkan Iwan Fals kembali di Bali. Yah, siapa tahu ?