Archive for the Category »tentang IDeaLisMe «

Ada Apa Dengan Antasari ?

Sungguh sangat disayangkan. Hanya itu yang bisa dirasakan saat ini.

Memantau pemberitaan perihal keterkaitan sang ksatria pemberantas korupsi, Antasari Azhar yang selama ini identik dengan keberadaan KPK dengan kasus pembunuhan Nasrudin yang diduga memiliki motif ‘Cinta segitiga’.

Secara pribadi, saya beranggapan begitu. Bagaimana tidak ?

Seorang tokoh yang selama ini begitu saya kagumi, baik secara visual figur kebapakan yang santai lugas dan tegas dalam berbicara, menyampaikan maksudnya baik kepada wartawan, saat bersama musisi SlanK atau saat hadir dalam ‘Kick Andy. Kini harus meringkuk dalam sel untuk sebuah kasus yang menyeret nama BeLiau hanya atas dasar atau motif ‘Cinta segitiga’. Saya malahan sependapat dengan BeLiau… Sungguh motif yang murahan.

Terlepas dari kebenaran tidaknya dugaan Antasari terlibat dalam kasus pembunuhan sobat baik BeLiau itu, dalam pikiran saya rupanya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang barangkali juga menjangkiti pikiran sebagian besar masyarakat negeri ini.

Sejauh mana keterlibatan Antasari yang diduga sebagai otak dari skenario pembunuhan terencana. Apakah memang selaku pemberi order atau hanyalah hanya sekedar curhat yang ditanggapi dengan tindakan serius oleh si pendengar ?

Sejauh mana pula keteribatan seorang Caddy yang mampu menjadi pusat perhatian publik, Rani Juliani dalam perilaku seorang Antasari yang kabarnya hingga membawa Antasari dalam sebuah adegan mesra ? Apakah ini hanyalah sebuah jebakan yang dilakukan satu dua pihak yang menginginkan lengsernya seorang Antasari. Lagipula terjerat oleh seorang ABG 22 tahun ? seorang Istri Nasrudin ? Come On…. Apa gak ada yang laen ? yang lebih baik ????

Sejauh mana pula efek yang dihasilkan apabila Antasari lengser dari KPK ? apakah akan mengendurkan kinerja KPK hingga cenderung melindungi dan melepas para koruptor kabur dan menghilang ke luar negeri ?

Seandainya memang benar seorang Antasari berada dibelakang semua itu, apakah ada bukti-bukti nyata, otentik yang dapat dilihat dan dipercaya ? seperti halnya barangkali rekaman ponsel, video dsb sama halnya saat penangkapan beberapa oknum kasus korupsi ? Atau hanyalah sekedar ingatan seseorang, kata-kata seorang manusia dimana lidah tak bertulang, kata-katapun bisa diputarbalikkan tergantung pesanan ?

Seandainya kita mau bercermin pada kisah film maupun kenyataan lalu tentang skenario pembunuhan, apakah sedangkal itu melakukan satu pembunuhan terencana apalagi sampai melibatkan satu tokoh seperti Antasari ? Maksudnya menggunakan jasa orang yang mampu ditangkap dan diketahui dalam hitungan minggu ? Tidak menggunakan cadar, plat nomor palsu, sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari pada senjata, dan menanam senjata dihalaman rumah ? Come On, masa sih mereka gak pernah menonton Godfather atau setidaknya mempelajari ‘bagaimana cara membunuh orang yang baik dan benar ?’ atau kemungkinan-kemungkinan yang terjadi seandainya langkah mereka diketahui ?

Kira-kira selain mereka (para tersangka yang telah ditetapkan), apa tidak mungkin ada dugaan sebuah skenario besar dibalik kasus ini ? Mengingat histori bangsa ini memiliki peluang untuk itu ? jangankan hanya menyingkirkan seorang Antasari, kasus penculikan mahasiswa saat ‘revolusi pergantian presiden kedua hingga saat inipun masih gamang. Begitu pula dengan kasus-kasus pelanggaran HAM lain yang begitu menyentuh keterlibatan pejabat, langsung di-peti-es-kan.

Biarlah Hukum dan Kejujuran para petinggi di Pengadilan yang akan menjawabnya nanti. Sayangnya seperti yang sudah menjadi rahasia umum, baik Hukum maupun Kejujuran, sudah jarang ada di negeri ini.

Yah, saya pribadi sih hanya bisa berharap. Semoga saja apa yang menimpa Antasari saat ini bukanlah merupakan satu strategi agar masyarakat melupakan kegagalan KPU menyelenggarakan Pemilu yang baru saja lewat…. atau barangkali untuk melegalkan perilaku pejabat lainnya yang berkepentingan dengan lengsernya Antasari dari KPK.

btw, ternyata benar kata orang-orang tua. Bahwa semakin tinggi kedudukan, semakin banyak yang berminat untuk menjatuhkan. Godaannya ya tetap sama. Harta dan Wanita….

Psstt… berhati-hatilah kau, PanDe Baik !!!!

Popularity: 5% [?]

Terima Kasih sudah menggunakan Hak Pilih Anda dengan Baik

Akhirnya jadi juga saya ikut serta dalam Pemilu 9 April yang sedianya digunakan sebagai ajang pemilihan para Wakil Rakyat, wakil yang diharapkan mampu menyuarakan aspirasi pula memperjuangkan nasib kita sebagai rakyat kecil. Begitu kira-kira Teorinya.


Padahal, kalo diingat-ingat, beberapa waktu lalu saya masih memutuskan untuk memilih semuanya, alias GoLput. Atas dasar pemikiran bahwa yang maju dalam PilCaLeg kali ini rata-rata adalah orang yang saya kenal sebagai saudara dan mereka semua datang memohon dukungan. Trus yang mana dong harus saya pilih kalo gitu ?

Setelah dipikir matang-matang, ‘mengapa pula saya harus ikutan GoLput ?’ Padahal saya telah diberikan mandat dan kewenangan untuk ikut serta dalam menentukan nasib Bangsa ini kelak ? Saya katakan begitu, karena nama saya dan keluarga telah tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap tanpa ada keluhan apa-apa. Lantas siapa lagi yang bakalan dipercaya untuk menentukannya kalau bukan Kita ?

Kamis pagi 9 April, pada TPS (Tempat Pemungutan Suara) dimana kami mendapatkan kesempatan itu, tampak antusiasme warga untuk berpartisipasi dan ikut dalam Pesta Demokrasi kali ini. Ohya, untuk daerah kami, ada 5 TPS yang disediakan untuk menampung ratusan jumlah warga yang ada. Antusiasme itu bisa dilihat dari berbondong-bondongnya warga menuju tempat TPS masing-masing sesuai DPT, bahkan hingga jelang jam penutupan tibapun warga masih ada yang datang dan ikut antre menunggu giliran.

Bersyukur kebijakan dari Ketua KPPS untuk memperpanjang waktu ‘pencontrengan’ disetujui oleh para Saksi yang hadir, dengan alasan bahwa warga atau Peserta yang datang memang berasal dari Daftar yang ada dan belum menggunakan hak pilihnya.

Bersyukur pula bahwa hingga penutupan waktu pencontrengan, tidak ada kejadian atau insiden yang berarti, baik itu perkelahian hingga bentrok antar warga seperti yang diberitakan pada media televisi beberapa saat lalu. Hanya ada sedikit aura persaingan sebagai konsekuensi dari pencalonan 3-4 warga untuk memperebutkan ‘kursi’ yang sama.

Terlepas dari hasil akhir yang baru akan diketahui nanti malam atau besok pagi, sebagian besar alasan Warga untuk tidak ikutan GoLput seperti halnya isu yang santer terdengar adalah, berusaha memilih orang (CaLeg) yang kelak dianggap (minimal) mampu membantu warga saat dilanda kesulitan. Menghindari agar nantinya orang (CaLeg) yang tidak dikehendaki bisa tampil naik dan mengobok-obok ‘kursi’ yang diharapkan.


Sebagian lainnya yang merasa pesimis dengan daftar CaLeg yang ada, lebih memilih untuk mencontreng Partai ketimbang nama CaLeg dan menyerahkan kebijakan penggunaan suara yang didapatkan kepada para pimpinan ParPoL.

Walau begitu, ada juga beberapa Warga yang punya alasan unik untuk tetap ikut serta berpartisipasi dalam ‘pencontrengan’ ini. Seperti bentuk syukur atas pengangkatan status dirinya sebagai PNS pada periode kepempinan Presiden kali ini, ada juga yang merasa optimis dengan tiga kalinya penurunan harga BBM. (bukannya sebelum itu naik tiga kali juga ? He…)

Ada juga Warga yang mengutip kata-kata Dalang CenkBLonk dalam salah satu video cd-nya, bahwa ‘kalo kita memutuskan untuk GoLput, kita gak boleh ikutan protes seandainya terjadi apa-apa kelak dalam kebijakan yang diambil oleh petinggi negeri ini. Wong kita gak mau ikutan memilih, jadi tidak bisa ikutan memiliki hasil yang didapatkan nanti’. Kira-kira begitu maknanya.

Yah, apapun alasan Warga untuk berusaha ikut hadir dan menggunakan hak pilihnya hari ini, setidaknya saya secara pribadi merasa bersyukur dan berterima kasih untuk tidak ikut serta menaikkan angka GoLput di negeri ini. Minimal ada perubahan yang bisa diharapkan untuk lima tahun kedepan.

> Seorang teman bertanya pada saya atas status yang saya ambil untuk hari ini, bahwa “Orang yang memilih untuk GOLPUT adalah PENGECUT”. Bagaimana seandainya jika keinginan memilihnya tinggi, tapi gak terdaftar dalam DPT ? apakah GoLput kategori ini adalah seorang Pengecut juga ? <

Tentu saja tidak. Gak Mau Ikut Memilih itu BERBEDA dengan Gak Bisa Ikut Memilih. Bedanya, ya pencantuman nama pada Daftar Pemilih Tetap itu. Orang yang sudah diberikan hak pilih, orang yang diberikan kesempatan untuk ikut memilih oleh Negara, tapi gak mau ikut serta untuk menetapkan pilihannya dengan sejuta alasan klise tapi tetap menuntut perubahan dan menganggap dirinyalah yang paling benar, tentu saja berbeda dengan apa yang dialami oleh teman saya tersebut.

Trus, biar mereka itu ndak memilih untuk GoLput (istilah kerennya : ‘Memilih Untuk Tidak Memilih’), maunya apalagi coba ? He….

Mencomot kata-kata Dalang CenkBLonk…. “Napi Kirang ? Napi Tuna ? Pang Ken Ken Buin ?”

Mohon Maaf bagi mereka yang tidak berkenan.

Popularity: 4% [?]

SeLamat berjuang untuk ParpoL dan para CaLeg

Terhitung besok pagi jutaan rakyat Indonesia ini akan mencoba menentukan nasibnya sendiri dalam jangka 5 tahun kedepan. Apakah akan memiliki para Wakil yang berani dan mampu memperjuangkan nasib mereka dihadapan pembesar negeri, ataukah akan bernasib sama dengan waktu-waktu lalu, lebih cenderung menuntut agar mereka ‘dihargai’ dan memilih plesiran ke luar negeri berbalut studi banding ?

Hari ini adalah hari terakhir dalam fase Minggu (masa) Tenang. Masa dimana ratusan hingga ribuan baliho, spanduk, poster, selebaran atau apapun itu namanya, yang dahulunya menghiasi wajah kota, perempatan jalan, batang pohon hingga tembok disepanjang jalan, dengan segera di’enyah’kan dari pandangan mata masyarakat.

Memang harus disadari, bahwa tak semua para CaLeg maupun ParpoL bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk menurunkan sarana kampanye yang masih saja menampilkan wajah penuh senyum manis padahal beberapa minggu belakangan negeri ini tertimpa bencana dan kecelakaan. Lumayan membuat senyum saya tersungging sinis dan berharap semoga saja ‘Rakyat tidak memilih mereka yang belum duduk saja sudah tidak tahu aturan, bagaimana kalo sudah duduk di kursi Rakyat ?’Seperti biasanya pula, sebagian Rakyat sudah bisa menebak akan adanya ‘Serangan Fajar’ atau pe de ka te (pendekatan) yang dilakukan oleh ParpoL ataupun para CaLeg pada masyarakat sekitarnya, hingga lingkup masyarakat yang diharapkan bersedia memberikan suara mereka, dengan imbalan tertentu.

Bukan rahasia lagi, jika pada hari-hari biasa seorang CaLeg barangkali tak pernah menyapa lingkungannya, memberikan suara hingga sedikit keberuntungannya pada masyarakat sekitarnya, kini mendadak ramah dan rela meluangkan waktunya untuk mendatangi satu persatu anggota atau tokoh masyarakat demi sebuah kata, Dukungan.

Seperti yang dialami beberapa rekan dua tiga hari ini, satu dua orang datang kerumah beralasan sudah lama tak berkunjung, sekedar ingin ngobrol dan akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya apalagi kalo bukan minta dukungan atas pencalonannya menjadi CaLeg parpol tertentu. Kebetulan ada diantara rekan yang menjadi sesepuh pada salah satu Parpol besar di negeri ini.

Ada yang terang-terangan menyampaikan maksud lengkap dengan amplop tipis (berisikan satu lembar uang biru atau plastik merah) diperuntukkan bagi setiap orang yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap daerah setempat, tergantung pada tingkat kewenangan orang tersebut mempengaruhi lingkungannya.


Sayangnya, ketika ditanyakan komitmen apa yang diharapkan setelah si CaLeg pulang nanti, padahal bukan tak mungkin ada dua atau tiga CaLeg yang memberikan ‘imbalan’ sama nantinya, amplop tersebut ditarik kembali dan sang CaLeg berjanji akan memberikannya usai pencontrengan jika kami memilihnya besok. Huh, bagaimana bisa dia tahu kalo kami memilihnya atau tidak ???

Ada banyak jalan atau cara yang dilakukan untuk mendapatkan suara pemilih selain serangan amplop eh fajar tadi.

Saya pribadi mendadak menerima SMS dari mantan pemimpin negeri ini, masuk ke nomor ponsel dan dua nomor lagi yang mengkhusus saya pakai untuk internetan. Memohon dukungan untuk memilih ParPoL mereka demi sebuah cita-cita dan harapan, ‘harga sembako murah’, ‘pemerintahan yang baru’ dsb…

Beberapa saudara malah menerima kartu ucapan, yang nama tujuannya ditulis asal-asalan oleh dua ParpoL besar negeri ini, mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi dan embel-embel tentu saja memohon dukungan.

Tak hanya itu, seperti yang telah diketahui di sejumlah media televisi, bahwa tak sedikit dari ParPoL yang mengklaim bahwa berkat partai mereka-lah negeri ini bisa maju dalam bidang ini itu. Bahkan ada pula yang lucu dan menggelikan. Padahal sebelumnya sang Pimpinan ParPoL mengkritik pembangian BLT (Bantuan Langsung Tunai) pada Rakyat Miskin, mengatakan bahwa Rakyat yang bersedia menerima ‘tidak memiliki harga diri’, namun belakangan ber-manuver meminta para ‘bawahannya’ mengawasi pembagian BLT agar sampai dengan baik. Terakhir tentu saja tayangan iklan ParPoL mengklaim bahwa partai mereka telah berhasil mengawasi BLT sampai pada yang berhak dengan baik. Huh !

Terlepas dari akal licik, manuver atau trik politik yang dilakukan oleh ParPoL maupun para CaLeg di negeri ini, PanDe Baik selaku masyarakat Indonesia hanya bisa mengucapkan ‘SeLamat berjuang bagi kalian semua’ untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari sebagian besar Rakyat negeri ini, menentukan arah dan nasib bangsa kelak. Jangan lupa bahwa ketidakpuasan rakyat akan tetap ada akan kualitas dan kinerja kalian (ParPoL dan para CaLeg), diwakili oleh mereka yang ‘memilih untuk tidak memilih’ alias GoLPut.

Itu sebabnya, jika menginginkan bahwa pada periode mendatang angka GoLPut berkurang, perbaikilah kinerja juga perilaku kalian pasca pemilihan nanti. Jangan lagi ada plesiran ke luar negeri yang berbalut Studi Banding, jangan lagi ada yang absen rapat paripurna dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan memperjuangkan nasib rakyat, jangan lagi sakit gigi saat segepok uang hadir didepan mata dan baru bersuara vokal menjelang sesaat menjelang lengser, apalagi memberikan pendapat yang melenceng dari topik yang dibicarakan.

Jadilah WakiL RakYat yang memihak RakYat, agar kami tak menyesal kelak, telah menitipkan suara kami pada kalian….

Popularity: 3% [?]

Gaji PNS Naik 15%

Kira-kira begitu ‘Headline News’ yang saya dengar awal April ini.

Satu berita yang menggembirakan bagi saya pribadi. Menggembirakan karena dari sisa gaji yang saya terima selama hampir dua tahun ini, bisa dikatakan sangat-sangat tipis kemungkinannya untuk bisa meningkatkan taraf hidup keluarga.

Maklum, dari sejumlah gaji yang seharusnya saya terima untuk setiap bulannya, harus dipotong sepertiganya untuk membayar cicilan tiap bulan atas pinjaman uang sebesar 20 Juta di Bank Pembangunan Daerah. Uang ini saya pinjam sekitar pertengahan tahun 2007 lalu, untuk membiayai kuliah lanjutan saya di tingkat Pasca Sarjana…

Dalam perjalanannya ternyata harus dibagi pula dengan biaya persalinan, upacara untuk putri kami dan biaya Rumah Sakit saat Istri terkena Demam Berdarah setahun lalu. Bisa ditebak, uang pinjaman ini tak cukup lagi untuk membayar SPP perkuliahan saya…

Bila boleh dibagi ceritanya, sisa dua pertiga gaji yang saya terima, musti dibagi lagi untuk biaya air, listrik dan telepon, biaya Dapur (patungan dengan Istri), Asuransi untuk sekolah putri kami kelak, koneksi internet (untuk menyalurkan penat dan hobi), serta sedikit simpanan berupa Arisan keluarga dan tabungan berjangka, yang saya jatah jatuh tempo dalam waktu satu tahun.

Hasil akhir inilah yang kemudian akan dibagi lagi untuk keperluan sehari-hari, terutama putri kami. Susu, bubur, pampers dan hal-hal yang datangnya diluar rencana, seperti sakit dan berobat serta menyame-beraye (kehidupan sosial masyarakat).

Bersyukur sekali dalam setap bulannya, PNS dijatah lagi dengan uang makan yang disebut dengan Insentif yang jumlahnya kurang lebih sepertiga gaji… Dari uang inilah saya dan Istri baru bisa merasakan indahnya hidup berumah tangga. Sekedar untuk jalan-jalan bareng si kecil atau bahkan terkadang bareng dengan kakek neneknya. Tentu saja jalan-jalan model begini memerlukan tambahan uang extra untuk makan bareng minimal dua kali setiap bulannya…

Maka ‘Headline News’ diatas boleh dikatakan sangatlah berarti bagi saya pribadi, walaupun jumlahnya tak seberapa dibandingkan gaji pekerjaan swasta kini. Tapi minimal, jikapun seorang PNS itu ingin bermalas-malasan, tidak ngantor selama sebulan, yang namanya gaji ya tetap penuh diterima. Mungkin hanya itu kelebihannya dibanding kerja swasta. He….

> PanDe Baik memohon maaf jika ada yang kurang berkenan dalam tulisan diatas, mungkin menyinggung perasaan mereka yang terkena PHK dsb. Bukan maksud saya untuk menyombongkan diri, tapi hanya sekedar berbagi. Bahwa tak selamanya jadi profesi sebagai PNS itu adalah kenikmatan tingkat tinggi seperti yang diagung-agungkan sebagian besar orang… <

Dengan sedikit gambaran tentang gaji seorang Pegawai Negeri Sipil diatas, bolehkan jika kita berhitung, apakah masuk akal apabila dalam jangka pendek, seorang oknum mampu membeli sebuah mobil baru atau motor baru hanya dengan mengandalkan gaji mereka ? He… silahkan menebak, kira-kira dari mana asal uang untuk segala hal tersebut…

Popularity: 5% [?]