Menikmati Hujan di Pantai Pandawa

2

Category : tentang HoBBy PLeSiran, tentang PeKerJaan

Mendung di langit selatan sebenarnya sudah terbayangkan sejak roda kendaraan memasuki jalur tol dipintu masuk Benoa menuju Nusa Dua, namun hasrat tetap menggebu ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri, kondisi beberapa kegiatan fisik pemavingan di kaki pulau Bali jelang akhir tahun anggaran 2013. Tarikan nafas panjang kuhirup untuk memenuhi dada dengan semangat…

Kecepatan motor 50 km/jam kulalui tanpa henti. Ini pertama kali kujelajahi jalan tol diatas perairan dengan roda dua. Satu pengalaman baru tentu saja.

Memasuki akhir perjalanan, satu dua tetes air hujan mulai membasahi jaket mengiringi keraguanku untuk melanjutkan perjalanan, ada sedikit penyesalan mengapa tak menggunakan kendaraan roda empat saja tadi. Namun keinginan sepertinya mengalahkan segalanya. Hujan yang perlahan mulai deras menyambutku di perbatasan Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan sedikit demi sedikit membasahi jaket dan celana jeans yang kupakai. Ah, memang harus membuka jas hujan bathinku pelan.

Air yang membasahi kaca helm lumayan membuat kabur pandangan sepanjang jalan yang kulalui, masih bersyukur lalu lintas tampak sepi dari biasanya. Mungkin karena hujan, mungkin juga karena ini Sabtu, hari dimana sebagian pekerja libur dari rutinitas mereka.

Dari informasi yang kuterima, salah satu ruas yang dipaving tahun ini berada di jalan dekat Pantai Pandawa. Maka ku terobos saja semua demi hasrat dan tujuan tadi. Dan jadilah siang ditengah hujan, aku berada di tepi Pantai Pandawa yang kerap menjadi cerita itu. Indah… dan kunikmati saja semua perjalanan ini…

Liburan…

1

Category : tentang HoBBy PLeSiran

Akhirnya kesampean juga liburannya…

Meski hawa kota Denpasar sudah sedemikian dingin, namun hasrat kami untuk berlibur di tepi danau Beratan Bedugul masih tetap tinggi sedari awal. Bisa jadi lantaran rasa bosan yang melanda jiwa sudah sedemikian parahnya gara-gara pekerjaan yang tak jua kunjung mereda, bahkan cenderung jenuh dengan rutinitas baru yang dipenuhi masalah hampir setiap harinya, padahal mereka para Rekanan atau Penyedia, harusnya sih bisa bersikap profesional dalam penyelesaian pekerjaan meski tanpa pengawasan, bukan profit oriented tok namun mengabaikan kualitas.

Tapi sudahlah… yang penting pagi ini, aku sudah terjaga digelap dan dinginnya hawa meski yang namanya celana panjang, jaket dan selimut, kukenakan sejak semalaman.

Bedugul. Wilayah perbatasan kabupaten Tabanan dengan Buleleng ini memang dikenal dengan hawanya yang dingin lantaran hadir di kawasan perbukitan ditambah perpaduan dua danau Buyan dan Beratan, dimana masing-masing memiliki obyek dan daya tarik wisata serta peminat yang berbeda. Kami sendiri memilih untuk menginap di tepi danau Beratan, sekitar 500 meter kearah kota Singaraja dari persimpangan Candi Kuning dan Kebun Raya.

Adalah berkat bantuan kakak ipar yang berusaha mencarikan tempat bermalam, ditengah fullybooked nya pesanan di beberapa tempat lain yang sejak awal kami minati. Mendapatkan stok 3 (tiga) kamar di Home Stay Melati 2 dengan harga per malam sekitar 350rb, lumayan membuat lega karena setidaknya impian yang sudah lama direncanakan, akhirnya bisa terwujud jua.

Dinginnya hawa dan air dari semalam, sempat mengingatkanku pada pengalaman camping jaman sekolahan dulu. Namun tentu saja kondisi saat ini jauh lebih beruntung mengingat secara tempat berteduh sudah tidak lagi beralaskan tikar diatas tanah. Apalagi yang namanya MCK, gag perlu susah mencari tempat tersembunyi, jauh dari tenda.

Dilihat dari bawaan, yang meski hanya semalam, rupanya jauh lebih banyak dari yang biasanya aku bawa jika sedang dinas ke luar kota. Mungkin ini disebabkan keberadaan kedua putri kecil kami yang notabene salah satunya masih berstatus bayi, sehingga perlengkapan dan peralatan extra mau tidak mau kami perhitungkan secara matang. Berbeda jika berangkat sendirian. Cukup satu celana, dua baju kaos dan charger *uhuk

Pagi ini sih rencananya kami bakalan langsung check out dan meluncur ke Kebun Raya Bedugul, untuk mengajak anak-anak bermain di sela Liburan mereka. Sekaligus menepati janji yang sudah sekian lama tak dipenuhi. Kira-kira seperti apa ya asyiknya liburan kami kali ini ?

Liburan, Bedugul, Home Stay, Melati 2, Opini

Tips Ringan berkunjung ke Thailand

Category : tentang HoBBy PLeSiran

Setelah mencatat satu persatu pengalaman selama berada di Bangkok dan Pattaya, Thailand, kini giliran Tips ringan kalo kelak kawan berkesempatan berkunjung kesini. Akan tetapi, tips ini bukanlah yang terbaik loh yah. Mungkin kalo mau dikombinasi dengan tips dari blog lain pun wokeh.

Pertama, gag usah bingung dengan kondisi Thailand. Entah karena berada dalam satu benua, demografi dan geografi nya sih gag jauh beda dengan situasi Indonesia. Baik cuaca, panasnya, juga lingkungannya. Kalopun boleh disetarakan, di pusat Kota Bangkok itu mirip Jakarta, sedang pinggirannya juga mirip Denpasar, namun jauh lebih bersih. Sedang Pattaya, lebih mirip Kuta-nya Bali. Jadi, kalopun disini jarang menggunakan Jaket, ya gag usah repot bawa jaket lagi lah, kecuali kalo gag tahan dinginnya AC pesawat, bus atau kamar hotel *uhuk

Kedua, mungkin bagi kawan yang agak ragu untuk ber-English ria, bakalan merasa khawatir terkendala Bahasa. Namun jangan khawatir, kalopun nanti bersua dengan pedagang, untuk melakukan tawar menawar bisa menggunakan Kalkulator yang biasanya dipegang mereka, baik dalam hitungan Baht ataupun Rupiah. Bahkan tidak jarang, ada juga pedagang yang sudah mahir Bahasa Indonesia, meski dalam logat mereka. Namun ini jauh lebih memudahkan.

Tips Thailand PanDe Baik 1

Ketiga, urusan transaksi lebih mengutamakan Baht. Jadi kalo bisa, silahkan tukarkan sejumlah bekal di Money Changer terdekat, atau tukeran dengan si Tour Guide yang biasanya punya rate lebih mahal. Kalopun mau, bisa juga dituker dalam bentuk Dollar, yang sifatnya jauh lebih universal. Namun agak susah kalo mau belanja di pasar Tradisional. Sedang Rupiah, sifatnya lebih terbatas, meski ada juga yang mau menerima.

Tips keempat, siapkan mental untuk berburu Kuliner khas Thailand. Disini dari segi rasa, lebih banyak asamnya ketimbang rata-rata selera di Indonesia. Bisa jadi lantaran lebih banyak menggunakan bantuan Nenas atau Jeruk sebagai tambahan racikannya. Agak aneh sebenarnya, namun bagi yang sudah familiar dengan sayur Asem, barangkali gag bakalan masalah. Sedang mental yang tadi saya sarankan, yaitu untuk mencoba masakan lain yang pula khas disini, antara lain Sate Celeng, Kerang, Bekicot, Belalang, Ular, Cumi, Gurita kecil, Kelabang, Buaya hingga Tikus. Untuk yang berukuran kecil biasanya disajikan dalam bentuk utuh dalam satu tusukan, sedang yang berukuran besar, anggap saja lagi makan sate ayam *uhuk *sempat merinding pas nyobain sate Kelabang, Gurita dan Buaya. Sedang Tikusnya gag nemu-nemu. Harga kisaran 20 Baht, atau 6 ribuan per tusuk dengan porsi besar.

Kelima, siapkan mental juga seandainya bersua Cewe seksi KW 1. Jangan langsung bernapsu pengen deketin, karena kabarnya ada yang sudah berganti senjata sehingga kalo pengen mencoba barangkali bisa melupakan sejenak versi originalnya, sedang yang masih mempertahankan bentuknya pun ada. Jangan sampai main anggar :p

Tips keenam, bawa dan gunakan kamera Digital dengan kapasitas memori besar. Ada banyak obyek foto yang bisa diambil disini. Baik budaya, transportasi, lingkungan, kuil hingga cewe KW tadi, yang akan sangat disayangkan jika memory kamera dalam kondisi full saat dibutuhkan. Kalopun kamera gag mendukung memori besar, lakukan perubahan ukuran gambar hingga 3 MP saja sudah cukup untuk cetak foto ukuran 4R. Akan tetapi, jangan coba-coba menggunakan kamera di sesi ‘no camera please’ macam BigEye yah, kalo gag mau disita… :p

Ketujuh, jangan lupa mencoba sarana Transportasi umum seperti yang sebelumnya diceritakan. Mumpung disini semua sudah dioptimalkan, siapa tau kelak nanti jadi Anggota DPR, pilihan KunKer atau jalan-jalan ke Thailand kan bisa dicoret lebih awal *uhuk

Tips Thailand PanDe Baik 2

Kedelapan, persoalan Charger ponsel ataupun Tablet, gag usah dikhawatirkan, karena memang masih mampu mengakomodir bentukan charger lokal. Yang perlu dibawa barangkali cuk T, biar bisa nampung lebih banyak colokan dalam sekali charge :p

Kesembilan, persoalan Operator, coba konsultasikan lebih dulu ke provider yang digunakan, cara mengaktifkan Roaming dan Data diluar Negeri. Kalo pake XL kabarnya sih langsung bisa, tanpa perlu aktivasi. Sedang Simpati, musti diubah pas lagi berada di Indonesia. Lain aktivasi, lain lagi paketan iNet nya. Lantaran disini masih tergolong mahal, untuk menyisasti paket iNet, saya menggunakan tarif reguler tanpa paket, namun berbicara lewat text via Whatsapp. Jadi jauh lebih murah jatuhnya.

Dan Tips terakhir, atur emosi saat memanfaatkan bekal uang yang dibawa. Karena disini, banyak hal yang unik dan menarik hati untuk dibeli sebagai oleh-oleh. Baik souvenir, baju, perhiasan, kuliner hingga cewek KW nya. :p Jangan sampai malah kekurangan bekal saat jelang kepulangan nanti.

Nah, kira-kira, segitu Tips Ringan dari saya yah… *mau balik jagain MiRah niy