Tidak Ada Ambisi Hingga Hari Ini

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Sebentar lagi OPD baru di Kabupaten Badung akan terbentuk. Informasi sementara, jumlah Organisasi Perangkat Daerah di lingkup kami akan bertambah meskipun beberapa unit kerja yang ada akan dijadikan satu sesuai bidang kerja yang ada.
Misalkan saja Dinas Cipta Karya akan dilebur menjadi satu dengan Dinas Bina Marga dan Pengairan menjadi Dinas Pekerjaan Umum.
Sementara satu Seksi Permukiman kabarnya akan dimekarkan menjadi satu Dinas Perumahan yang kelak akan membagi-bagi semua tugas yang selama tiga tahun ini membebani pikiran dan fisik saya pribadi.
Berita Bagus tentu saja.

Namun seiring bertambahnya jumlah OPD dimana untuk daerah lain justru berkurang, secara otomatis mengembangkan kabar di luaran akan ada penambahan jumlah pejabat demi memenuhi kuota perubahan yang ada.
dan Saya keknya sudah ndak ada ambisi untuk itu.

Beberapa kawan sejawat menginformasikan kisi-kisi siapa yang harus dihubungi agar kelak saat OPD baru terbentuk, mereka bisa dipindahtugaskan ke tempat basah, tempat yang banyak air dan genangannya, dan ada juga yang berharap diPromosikan ke tingkat yang lebih baik, apakah dari staf menjadi eselon ataukah dari kepala seksi menjadi kepala bidang.
dan Saya keknya memang ndak ada lagi ambisi untuk itu.

Cukup. Untuk sementara.
Keknya saya sudah merasakan pahit manisnya menjadi pejabat publik, atau istilahnya eselon, lantaran selama tiga tahun berada di Dinas Cipta Karya hampir setiap hari selalu bersentuhan langsung dengan masyarakat dan aparat terbawahnya. Nyaris tiada waktu untuk bersantai lantaran secara pekerjaan macamnya kereta api. Sambung menyambung dalam satu tahun anggaran.
Akibatnya ya capek ndak ketulungan.

Jika saya diharuskan untuk melakukan lobi-lobi ke tingkat pimpinan, sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari.
Namun tujuannya bukan untuk naik jabatan atau mencari lahan basah, tapi justru saya minta dipindahtugaskan ke tempat yang sedikit pekerjaan lantaran cuti nyari tak pernah saya ambil semenjak menjadi PNS.
Ingin istirahat sekali-kali.
Ingin bisa nulis atau meluangkan waktu family time bersama keluarga.
Tapi ya keinginan ya tinggal keinginan.
Ndak bakalan dikabulkan keknya…

Cerita Iseng tentang Jenggot

Category : tentang DiRi SenDiri

ah, sesungguhnya postingan yang satu ini bisa dikatakan gak penting… soale lagi pengen cerita ngalor ngidul macem ‘Intermezzo’ tempo hari. Cuma aja topik kali ini soal Jenglot. Eh Jenggot maksute.
Jadi kalo pas dikasi halaman ini oleh mbah Google, baiknya dibalikin lagi ke halaman sebelumnya, biar kuota gak habis banyak. Hehehe…

Jenggot.
Bagi kami orang Bali, memelihara Jenggot (saja) kemungkinan besar bakalan dianggap aneh. Memiripkan diri dengan nyame braye Muslim, semeton Dauh Tukad.
Sementara orang kami lebih suka memelihara kumis (saja) untuk memberikan kesan wajah lebih tampan dan dewasa. Meski ada juga yang lengkap, dari kumis, jenggot hingga kales di pipi itu. Memberi kesan berwibawa.
Sementara Jenglot ? Eh Jenggot ?
Ehm… Care nak Jawe. Ape buin misi bibih camed, makin meyakinkan awake nak Jawe. Keto anake ngorahang…

Yang jelas, ndak ada misi khusus sebetulnya saya miara Jenggot.
Bukan terkait demo Bela Agama tanggal 4 November kemarin, bukan jua terkait perayaan Idul Adha.
Hanya Iseng.
Pengen tau apakah wajah ini masih bisa tampak seram apabila dikombinasi dengan kaca mata item minus yang kerap dipake buat gaya di jalan itu.
Sepintas, ndak ada yang percaya kalo semua itu hanya tambalan wajah semata.

pande-baik-jenggot-an

Jenggot makin lama tampak makin lebat dan panjang. Mirip mas Ahmad Dhani yang kemarin orasi sambil nyebut hewan piaraannya. Meski secara istri ya masih setia sama satu yang pertama. Cuma secara Jenggot setelah dikira kira, diamati berkali kali kok ya mirip ?
Jadi khawatir juga lama lama. Kena gep.

Tapi ada juga loh kerabat yang demen dengan aksi saya berjenggot ini. Katanya jadi kelihatan lebih macho, berhubung wajah aseli saya tanpa hiasan jenggot memperlihatkan lemah lembutnya hati si pemilik. Ndak nyambung dengan badan saya yang menjulang.

Aksi memelihara jenggot sudah berlangsung beberapa kali sejauh ini. Bahkan di IDcard kantor, wajah yang terekam adalah wajah berjenggot masa masih berdinas di LPSE dulu. Tahun lalu saat berkesempatan melawat ke Thai juga sama. Sampe-sampe sempat dicurigai saat pemeriksaan imigrasi setempat, berhubung saat itu lagi ramai pengebom berjenggot.

at last, malam ini saya memutuskan untuk mencukur habis hiasan dagu bersih tuntas, toh rata rata banyak kawan sudah melihatnya, dari memuji hingga mencandai. Misi isengnya dah tercapai, numpang tenar lewat jenggot.
Jadi setelah ini kalopun bertemu saya di jalan, mbok ya jangan pangling lagi. Apalagi manggil saya dengan sapaan Koh, lantaran secara perwajahan lebih mirip chinesse saat bersih begini.

Memang nasib. Hehehe…

Menyegarkan Pikiran

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada kemiripan pola antara suasana hati yang dirasa oleh seorang diabetesi, pegawai negeri dengan tingkat kejenuhan yang tinggi dengan megap megap nya update postingan blog pandebaik.com akhir akhir ini.
Semua bersumber dari pikiran.

Ya, rasanya memang nyaris ndak ada pembaharuan dari rutinitas harian maupun aktifitas yang dilakoni sejauh ini.
Maka bisa jadi, penyegaran pikiran ini sangatlah penting dilakukan.

Ditemani teriakan the Exploited yang menjual album dengan Beat the Bastard bertahun silam, kaki mulai melangkah cepat di trotoar merah pinggiran GOR Lila Bhuana.
Sengaja menyasar panasnya matahari pagi, guna lebih memberi asupan oksigen yang lebih baik hari ini.

Tiga Putaran pun terlampaui. Satu percobaan dimana dari segi jarak tempuh kelihatannya lebih panjang dari Lapangan Puputan yang biasa dilakoni atau Lapangan Lumintang yang baru sekali dua dijajaki.
Banyak kenangan masa lalu yang muncul disini.

Setidaknya tembok pagar yang mengelilingi GOR Ngurah Rai, yang tampak diperbaharui hanyalah sisi barat dan utaranya saja. Sementara sisi timur dan selatan, bagian belakang masih tampak sama dengan apa yang kuingat dua puluh tahunan lalu. Saat jalan ini kulalui dengan langkah santai pulang dan berangkat sekolah ke SMPN 3 di timur sana. Tak banyak yang berubah, bathinku.
Termasuk Tembok GOR yang sudah tampak kusam, rusak meski masih bisa kokoh berdiri. Kelihatannya memang tak ada upaya perawatan lagi sejauh ini.

Aku jadi ingat seorang kawan lama, teman SD. Kalo tidak salah ia siswa pindahan saat menginjak di kelas 5. Namanya Helmi, anak Jakarta. Ia tinggal di bangunan yang tempo hari ditempati Bank Aken, utara jalan Supratman, depan gerbang utara GOR.
Anaknya periang, tapi belakangan aku dengar dia menipu banyak kawan di sekolahnya SMA. Kasian juga…

Melihat asrama polisi Brimob yang kini sedang direnovasi pun memberi ingatan baik dan buruk yang selalu membekas hingga kini.
Baik karena di sisi selatan asrama, kami memiliki kawan saat menginjak kelas 2 SMP, bermana Swi asal Buleleng, yang orang tuanya berdinas di lokasi tersebut. Lalu lalang perwira pun tampak biasa saat itu.
Ingatan Buruk karena dekat situ ada anak anak yang siap ngompasin siapa saja yang kedapatan lewat sendiri, termasuk aku yang saat itu mengorbankan topi diambil oleh salah satu dari mereka gegara tak mau mengikuti ancaman ybs.
Semua masih lekat terbayang.

Tapi ada bagusnya juga.
Bahwa pikiran bisa sedikit disegarkan, minimal selain menambah semangat untuk menjalani hari, terbersit beberapa ide menulis juga tadinya. Tentang banyak hal termasuk keluh kesah ini.

Semoga bisa lebih baik kedepannya.

Menikmati komedi Simon Pegg untuk suasana hati yang lebih ringan

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Beberapa tahun terakhir, yang namanya film memang lagi hangat-hangatnya untuk ditunggui. Cuma karena topiknya agak-agak monoton gitu, saya pribadi ndak terlalu menanti. Super hero ataupun stori yang diangkat dari games macamnya Warcraft maupun Angry Bird, sukses dihapus dari daftar putar di layar ponsel, dan diganti dengan beberapa genre komedi yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dibintangi aktor Inggris Simon Pegg yang saya kenal pertama kali melalui film Run Fatboy Run, How to Lose Friends & Alienate People pun jadi pilihan sementara pasca Hot Fuzz, Paul dan Shaun of The Dead. Yang ditandemkan dengan partner setianya, si tembem Nick Frost.
Rata rata sih kayaknya ini film bukan termasuk Box Office, tapi karena ceritanya mudah dicerna meski ada juga yang sedikit absurd, jadi enak ditontonnya.

Simon Pegg PanDe Baik

How to Lose berkisah tentang yang dulunya dianggap Nobody berangsur jadi Somebody.
Run Fatboy Run kalo ndak salah ingat tentang tekad untuk terus berusaha meyakinkan sang mantan pacar pasca ketidakmampuannya membuktikan keseriusan sebelumnya.
Hot Fuzz tentang polisi super talenta yang resah di pindahtugaskan ke desa yang terlihat aman tentram dari luarnya.
Paul tentang Alien, dan Shaun of The Dead itu plesetan Zombie dari House of the Dead.

Gak banyak sih harapan saya sebenarnya pasca menikmati film film macam ini. Tapi minimal ya bisa meringankan suasana hati di tengah kejenuhan kerja dan rutinitas. Rasanya siy cukup…

Intermezzo 26 Juni

Category : tentang DiRi SenDiri

Pada akhirnya saya tidak merasa heran, saat menemukan kenyataan bahwa kawan satu ini kemudian bermasalah dengan sang istri, yang notabene seharusnya menjadi pendamping hidup.
Hanya karena persoalan komunikasi.

Saya paham, kami sama sama anak Teknik.
Dimana sebagian besar membentuk karakter yang kaku dan lurus.
Hanya bisa dibilang, saya sedikit lebih beruntung.
Karena dianugerahi gaya yang sedikit dinamis berkat jalan hidup yang tak biasa, dan dianggap mampu untuk mengkomunikasikan isi hati. Baik pada sesama, keluarga, istri, atasan ataupun masyarakat.
Kelihatannya tidak demikian halnya dengan kawan saya satu ini.

Susah memang…

Saya pun kemudian tidak pula merasa heran. Saat menemukan fakta curhatan sejumlah kawan lainnya, yang mengganggap saya pilih kasih pada bawahan, tidak pernah menegur yang bersangkutan secara langsung, bahkan memberi sanksi atas kelalaiannya meninggalkan tugas.
Dilema, ungkap saya pada mereka.

Wong saya ini apa sih ?
Atasan yang bisa memiliki kewenangan memecat juga bukan. Memberi hukuman ? Punishment ? Sejauh apa ?
Saya hanya berusaha memakluminya. Berusaha kompromi pada diri sendiri.
Yang meskipun merasa geregetan, tapi kalo kemudian dijadikan beban, bakalan merusak kesehatan diri sendiri.
Maka itu saya tak lagi mempedulikannya.

Saat saya sudah berupaya menawarkan persahabatan, dan ditolak, maka sayapun akan mengambilnya kembali dan mungkin menawarkannya pada yang lain.
Saya yakin, ada yang masih mau mendengar apa yang diharapkan.
Tapi kalopun semua menolak,
Mungkin ini saatnya saya untuk bersiap pergi dari lingkungan ini.

Bersyukurlah bahwa semua itu hanya Mimpi

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan

Mimpi, atau bunga tidur.
Kata orang bisa merupakan keinginan keinginan yang tak tersampaikan dalam dunia nyata, bisa juga merupakan pertanda hal yang akan terjadi di masa depan atau yang akan datang.
Sehingga terkadang Mimpi dijadikan sebagai rambu atau pengingat jalan yang akan dilalui kelak oleh masing masing orang dan bergantung pada interpretasi masing masing. Apakah menganggapnya serius atau cenderung mengabaikannya.
Saya sendiri, jika kemudian menimbulkan kegelisahan, biasanya saya catatkan disini.

Ada empat hal yang saya alami dalam Mimpi semalam.

Satu, bertemu langsung (ingat, dalam mimpi loh ya) dengan orang yang sesungguhnya sudah meninggal. Kejadiannya kurang lebih, mendapati hal yang di masa kini sesungguhnya sudah tak ada, namun saat saya alami rupanya masih ada. Mirip sebuah cerita komik yang mengisahkan perjalanan waktu dalam sehari. Menjadi mengkhawatirkan karena orang orang yang sudah meninggal tersebut bisa saya ajak berkomunikasi dan ada di sekeliling kita. Hiyyy…
Dalam bentuk manusia biasa tapinya.

Yang keDua, menggendong putri kecil pimpinan di kantor. Jadi spesial karena pimpinan ini sudah divonis sulit mendapatkan keturunan langsung, entah karena kesibukannya yang overkuota, atau kondisi kesehatannya yang kurang baik. Entah pula faktor suami atau apalah itu.
Maka saat saya mendapati pimpinan menggendong seorang putri kecil yang berwajah mirip dengannya, saya pun mencoba menggendongnya sebagaimana mengajak Ara atau Intan saat kecil dahulu.
Entah mimpi kedua ini memiliki makna kangen akan momongan baru yang lama dinanti, atau apa, agak kaget juga saat bangun dari tidur.

Ketiga tentang Jalan Lingkungan. Duh !
Kerjaan kok masuk Mimpi.
Pemavingan yang dikerjakan di wilayah Badung Selatan kalo ndak salah ingat, dengan kontur tanah yang menanjak sekitar 8an derajat sehingga dianggap sangat berbahaya dan sulit dilalui dengan kendaraan.
Tetap nekat melaluinya dan berhasil, dua kali malah, namun ada kekhawatiran bakalan terjatuh lantaran gravitasi.
Mih… masih sempatnya mikirin gravitasi dalam mimpi.
Yang pada akhirnya menjadi sedikit lega karena seorang pimpinan cowok (yang memang ndak ada dalam struktur pimpinan di kantor, memutuskan untuk membatalkan pekerjaan karena dianggap sangat berbahaya.
Pening.
Meski tetap optimis untuk dilewati, tapi kepala sudah pening duluan memikirkannya.
Apa ini ada kaitannya dengan cobaan di kantor ?

Dan terakhir soal percobaan tindak kejahatan.
Saya ternyata bukanlah tipe orang yang begitu mulus menjalankan percobaan tindak kejahatan. Buktinya saat bangun dari tidur, saya masih merasakan kebingungan dan kekhawatiran akan hal hal yang kelak merusak reputasi pribadi dan keluarga. Meskipun sebenarnya sangat ingin dilakukan, pembersihan dan pembuktian aksi kecurangan yang dilakukan orang orang sekitar berdasar petunjuk yang dibuang secara tidak sengaja di depan gerbang, dan saya dapati secara tak sengaja pula.
Entah apa artinya yang satu ini.

Dari semua ‘kejadian’ yang saya syukuri bahwa itu hanyalah sebuah mimpi atau bunga tidur, namun rasa pening kepala, mual dan bingung, masih menjangkiti hingga terbangun dari tidur.
Entah apakah ini merupakan sebuah reaksi rendahnya Tekanan Darah atau rendahnya kadar Gula Darah.

Jadi penasaran…

Intermezzo 25 Juni

Category : tentang DiRi SenDiri

“You baru Sehat…”

Sapa Bapak yang masih tampak enerjik berjalan cepat salip menyalip dengan langkahku pagi ini di lapangan Puputan Badung.
Ini sudah putaran keenam, ungkapnya.
Wiii… saya sendiri baru keempat. Masih kalah jauh.

“Tinggal dimana ?”
Lanjutnya tanpa mengurangi gegasnya ayunan kaki.
“Dekat sini Pak…” jawabku.
“Dulu saya tinggal di Gajah Mada, tapi saat situasi mulai ramai, saya pindah ke Gatsu I…” timpalnya tanpa menunggu aku bertanya lebih lanjut.

Bapak ini umurnya hampur dua kali lipatku. Sementara tubuhnya sudah mulai tampak membungkuk. Namun soal langkah kaki, wiii jangan ditanya.
Aku yang sedari tadi mohon ijin untuk mempercepat langkah, sesaat kemudian si Bapak sudah tampak melintas di belakangku.
Ini orang pasti punya elmu kanuragan.
Hehehe…

Masih bersama Sepultura album Roots (1996), aku menyelesaikan langkah putaran kelima dengan menyusuri trotoar depan Kodam 147. Mencari kendaraan yang kuparkir di deret pertama PU Provinsi.
Sedikit peregangan, dan akupun mulai mengetikkan pikiranku pagi ini.

‘Ingatan itu pendek. Tulisanlah yang membuatnya abadi.’

Begitu cuitan akun Bli Wayan @aguslenyot yang kini tembus menjadi Wartawan Tempo, disela cerita Ahok pagi tadi.
Dan aku rasa ia benar.

Maka menulislah aku kali ini.

Jalanan sudah mulai ramai oleh umat Hindu yang tangkil ke Pura Jagadnatha. Beberapa kendaraan roda empat nampak memenuhi pelataran parkir Museum Bali. Akupun beranjak pergi menjauh, kembali pada aktifitas yang sudah menanti.

Donor Darah #50

Category : tentang DiRi SenDiri

Akhirnya kesampean juga cita-citanya.
Donor Darah 50 kali dengan kondisi kesehatan yang jauh lebih baik.

Donor Darah PanDe Baik 50

Sabtu 18 Juni, PMI RS Sanglah. Sekitar pukul 8 pagi usai berolah raga ringan di lapangan puputan alun alun Kota Denpasar.
Terpantau tekanan darah 110/70 dengan kepekatan darah atau Hb 14,8 serta Gula Darah puasa dibawah 125 mg/dl membuat harapan yang begitu besar untuk bisa selalu berbagi pada sesama akhirnya dikabulkan oleh-NYA.
Tentu pula atas berkat perawatan Istri serta dukungan keluarga dan kawan kawan semua.

Kali ke-50 kemudian hanyalah menjadi sebuah angka pada a?hirnya. Apalagi untuk kedepannya ada keinginan untuk bisa mencapai yang lebih banyak lagi. Selagi masih bisa.

Seorang rekan kantor sempat berkata, salut bos, saat bisa melalukan donor darah melebihi usia kita, jarang jarang bisa kalo ndak telaten mengingat dan menjaga kesehatan.
Ya, mendonorkan darah selain bisa menolong orang yang membutuhkan, juga menuntut kita untuk selalu menjaga kesehatan. Minimal dengan donor, bisa check up ringan dengan gratis, plus informasinya bisa mendeteksi penyakit lain saat pemeriksaan darah di lab.
Disamping itu, untuk kita para pria, dengan melakukan donor darah minimal setiap tiga bulannya bisa memperbaharui darah yang ada dalam tubuh, sebagaimana halnya para wanita di setiap bulannya. Hahaha… Tentu saja ini bercanda.

Jadi, kenapa musti takut atau khawatir ?
Ayo luangkan sedikit waktumu untuk berbagi sekantong darah yang kita miliki ke PMI terdekat. Jangan segan untuk menolong orang, siapa tahu kelak IA lah yang akan menolongmu jika kalian dalam kesulitan.