Pracasti Pande (Bagian 07 – Brahmana Dwala)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BRAHMANA DWALA

Sementara itu diceritakan Empu Gandring Sakti disuruh oleh ayahnya untuk mencari adiknya Empu Galuh, sebab telah lama tidak kelihatan di Madura. Demikianlah berbulan-bulan Empu Gandring Cakti mencari adiknya diseluruh desa dan tempat-tempat sunyi  didalam hutan dan tak jua ditemuinya, bahkan kabarnyapun tidak pernah didengar.

Dalam usahanya terakhir, ia melakukan yoga  hingga melepaskan cariranya (badan astral) pergi keseluruh desa  dengan cepat hingga sampailah ia kegunung-gunung di  pulau Bali dengan pandangan yang sangat tajam. Tiba-tiba dilihat adiknya yaitu di kaki Gunung Agung. Setelah nyata dilihatnya maka diselesaikannya yoga dan pergi ke Bali melalui hutan pegunungan.

Pada waktu matahari terbenam berhentilah Gandring Cakti dibawah pohon randu. Saat itu, keluarlah Raksasi yang dasyat dari sebuah gua, karena mencium bau manusia. Setelah terlihat olehnya manusia laki-laki yang tampan lalu berteriaklah Raksasi itu dengan suara keras dan berkata, “Hai engkau manusia apa kerjamu datang kemari? Aku adalah seorang Raksasi yang ingin makan daging manusia.”

Ketika itu Empu Gandring Sakti segera mengucapkan matram WisnuPancara Murti, yang dapat menyebabkan Raksasi itu sabar hati sambil berkata, “Om engkau Raksasi, saya adalah seorang Brahmana dari Madura, anak Bhagawan Padya Bumi Cakti. Saya ergi ke Bali diminta ayahku untuk mencari adikku Empu Galuh.”

Mendengar kata Empu sedemikian itu maka niat Raksasi yang semula ingin memakan daging manusia lalu berubah seketika menjadi cinta mesra dan bangkit nafsu kewanitannya hendak mempersuamikan Empu itu, maka keluarlah kata-kata membujuk minta dikasihi.

“Ya Sang Empu Patik, mohon dengan hormat semoga Sang Empu belas kasihan pada Patik yaitu memberikan seorang anak yang akan melepaskan (menyupat) Sengsara Patik waktu sarnpai ajal akan pulang ke Dewaloka.”

Demikian permohonan dan buiukan Raksasi kepada Empu Gandring Cakti, tidak beda halnya sebagal Dyah Hidimbi berkehendak bersuami kepada Sang Bhimasena. Belas kasihan juga Empu Gandring terhadap Raksasi itu, dan berkata “Hai Raksasi, jika demikian benar kehendakmu , lepaskanlah sifat keraksasaanmu, aku mau menerima engkau sebagai isteri, sebab aku tidak boleh menolak orang yang minta bantuan.”

Raksasi sangat girang mendengar kata Sang Empu demikian, maka seketika itu dengan segera mengubah dirinya dari rupa yang menakutkan menjadi cantik menarik, laksana bidadari turun dari sorga, lalu berkata dengan sopan santun.

“Hai suami, lihatlah sekarang rupaku. Sebagai seorang Raksasi dapat melakukan dirinya sekehendak hatinya. Marilah kita pulang kerumah kita dekat sini karena saya tidak kuat lagi menahan birahi, seakan-akan hangus hati saya dibakar api asmara.” Demikian kata ajakan Raksasi

Mendapat sambutan balk oleh Empu, lalu mereka berdua masuk kedalam goa, menikmati rasa cinta asmara bersuami isteri seperti halnya Hidimbi dengan Sang Bhima.

‘Adikku Dyah Giricewaka,” kata Empu kepada isterinya yang telah diberi nama demikian, “tinggallah adik dirumah, kanda akan melanjutkan perjalanan ke Bali, untuk mencari adik kandungku Empu Galuh. Jagalah anak kita yang masih didalam kandungan.”

Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari Sang Isteri maka Sang Empu berangkat menuju Besaklh. Setibanya disana ditemui adiknya sedang melakukan yoga semadhi. Takjub Empu Gandring melihat adiknya demikian. Setelah selesai yoganya, maka Empu Galuh turun dari tempat duduknya, datang menyongsong kakaknya yang sedang menanti dihalaman asrama, dengan berkata pelan dan hormat.

“Ya kakak Empu yang sangat saya muliakan, Saya menghaturkan sekar Karangkus, Om Nama Ciwa Buddha Ya.”

“Adikku yang tercinta,” jawab Empu, “kakak tahu bahwa adik selalu memuja Tuhan yang disebut Ciwa atau Buddha, yang menjadi jiwaku juga. Kakak diutus ayah mencari adik, kini kakak tahu bahwa adik telah melakukan ajaran Sang Kul Putih untuk menunaikan Bhakti Marga kepada Hyang Widhi, Om Nama Ciwa Buddha Ya. Kakak sangat setuju dengan pelaksanaanmu sebagai  seorang Brahmani taat melakukan samadhi untuk mendalami filsafat hidup dan mati.”

“Lanjutkanlah cita-cita adik ini agar kemudian dapat manunggal kepada Hyang Widhi yang menjadi sangkan paran seluruh alam ini.” Demikian nasehat Empu Gandring Cakti menyebabkan senang hati Dyah Kul Putih.

Tiada diceritakan halnya dalam perjalanan Empu gandring Cakti setelah tiba di rumah Raksasi isterinya, Dyah  Giricewaka yang telah menggendong anak laki-lakinya yang baru beberapa pekan iahir, datang mengelu-elukan suaminya, lalu berkata.

“Ya suamiku Sang Empu, selamat datang, inilah putra Sang Empu laki-laki.” Dengan senang hati Sang Empu sambil menimang anaknya, dan berkata “Adikku Giricewaka, telah lama kakak pergi dari Madura dan kini sudah waktunya kakak menyampaikan kabar baik ini pada ayah, anakku ini akan aku bawa ke Madura.”

“Wahai Sang Empu yang kucinta dan kuhormati,” jawab Giricewaka “apa dayaku, terpaksa aku tidak dapat menyertai Sang Empu, karena keadaan berbeda dengan manusia. Ini anakku sebagai persembahan jiwaku yang patut mengiringkan Sang Empu di dunia kelak. la kunamai Brahmana Dwala, sebagai wala (bhakti) jiwaku.” Demikian kata Dyah Giricewaka dengan air mata berlinang.

Pada saat berangkatnya Empu Gandring Cakti menggendong anaknya, waktu perpisahan Dyah Giricewaka memberi restu kepada anaknya, “Om Abhyayam Sarwa Bhayam, Adurgama Sindhu Wanam, Anakku Brahmana Dwala, Semoga engkau panjang usia, mengemban turunan orang baik-baik, tidak mendapat bahaya engkau didalam hutan rimba belantara, dalam kuburan, dalam kali dan laut, tidak terhalang oleh mahkluk yang berjiwa ganas. Aku ibumu saat ini telah pulang kesorga karena telah dilepaskan papaku oleh ayahmu.”

Demikian akhir kata sang Raksasi, lalu berubah badan jasmaninya menjadi bidadari, kemudian musnah dari pandangan.


Pracasti Pande (Bagian 06 – Dyah Kul Putih)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

DYAH KUL PUTIH

Diceritakan Dyah Amrtatma telah melahirkan seorang putera laki-laki diberi nama Brahmana Rare Cakti. Beberapa tahun kemudian melahirkan pula seorang puteri diberi nama Dyah Kancanawati. Dalam perkawinannya Empu Bhumi Cakti dengan Dyah Amrtatma hanya menghasilkan dua orang anak saja. Setelah sama-sama berumur dewasa masing-masing anak berbakat kebatinan dan suka melakukan tapa.

Brahmana Rare Sakti sangat paham tentang ilmu kepandaian tidak beda dengan ayahnya dalam hal kekuatan batin. Semenjak itu ia digelari Empu Gandring Lalumbang. Dyah Kancanawati tidak beda dengan Sang Hyang UmaCruti yaitu Dewi Kesetiaan menjelma kepadanya, ahli dengan inti hakekat weda dan taat kepada tapa brata.

Pada suatu hari dua anak ini dipanggil oleh ayahnya. Setelah hadir ayahnya berkata, “Hai anakku, engkau berdua bersaudara. Ayah sangat berharap bahwa selalu bersaudara baik. Kini oleh karena engkau telah sama-sama dewasa ayahmu memberikan sesuatu sekedar sebagai suatu ajimat dalam melakukan pekerjaan. Kepada Empu Gandring aku berikan cincin emas bermata manik bang, baik hikmahnya dalam melakukan pekerjaan membuat senjata dan segala yang tajam. Kepada anakku Empu Galuh (gelaran Dyah Kencanawati) aku berikan mas bermata ratna cempaka, karena engkau melakukan inti Kusumadewa.Itulah pemberian Empu Bhuml Caktl kepada anaknya yang diterima dengan rasa gembira.

Setelah beberapa lama antaranya, Empu Gandring Cakti merasa tidak senang hatinya terhadap pemberian ayahnya, karena disangkanya tidak ada manfaat sesuatu apa, maka dipanggillah adiknya Empu Galuh, seraya berkata perlahan-lahan.  “Adikku Dyah Kencanawati, menurut pikiran kakak, tidak pada tempatnya adikku membawa pemberian ayah kita yaitu cincin bermata ratna cempaka,  karena adikku seorang perempuan muda. Sebalknya kakak yang membawanya.”

Perkataan Empu Gandring rupanya tidak disetujui  oleh adiknya.

Setelah berulang-ulang permintaannya tidak juga dipenuhi, maka marahlah Empu Gandring dengan kata-kata yang kasar menuding mata adiknya kemudian disusul dengan pukulan dan tendangan.

Tetapi Empu Galuh tetap tenang hatinya dan tetap bersih sebagai manik Banyu, tidak  bergembira bila mendapat pujian  dan tidak berdukacita jika dihinakan, sebab ia mengerti dengan keadaan dan sifat yang ada di Tribuana. Budi orang di Narakaloka hanya satu yaltu duka saja, sedang di Sorgaloka budi orang suka saja. Orang yang diam di Madyapadha suka dan duka mempengaruhi budinya, hidup dan mati. Demikian pikir Empu Galuh, sebab itu dapat menahan sakit marah.

Pada suatu malam Empu Galuh pergi seorang diri ke Gunung Renggakusuma mengheningkan cipta disana. Ketika itu kebetulan Hyang Mahadewa sedang bersenang-senang ke gunung Renggakusurna,  maka terlhat olehnya seorang wanita yang elok parasnya seakan-akan Dewi Ratih sedang menghenigkan cipta dalam yoga.

Hyang Mahadewa mendekati wanita itu serta bersabda, “Om wanita, siapakah engkau ini seorang diri diam ditengah hutan. Siapa yang menyakitimu ? ceritakanlah dengan benar Kepadaku.”

Empu Galuh menjawab dengan hormat, “Ya Bhatara, Patik Bhatara seorang Brahmani dari desa Madura, anak Bhagawan Pandya Empu Bhumi Cakti, cucu dari Hyang Agni. Patik berkehendak melepaskan keduniaan untuk mencapai sorga waktu meninggal dunia.”

“Wahai Puyutku engkau Empu Galuh,” Sabda Hyang Mahadewa, “aku tahu maksudmu. Engkau adalah anak seorang Brahmana utama, gunawan dan ahli filsafat, budiman tetap bersih dan suci. Kini aku memerintahkan kamu pergi ke Bali yaitu kegunung Agung tempat asramaku. Engkau kini menggantikan kawitanmu Brahmana Kul Putih, menjadi pelayanku waktu bersuci laksana. Beliau kini telah tua dan ingin hendak pulang ke Dewaloka.” Demikian sabda Hyang Mahadewa, dan Empu Galuh menurut dengan patuh.

Esok  paginya Empu Galuh berangkat ke Bali dan tiba di Gunung Agung dengan selamat, menghamba kepada Sang Hyang Maha Dewa dengan hati yang suci. Setiap hari tidak lupa memuja Tuhan, meniru Dharmanya Empu Kul Putih. Semenjak itu Dyah Kencanawati digelari Dyah Kul Putih. Dalam menyediakan upacara pemujaan selalu dilayani oleh kera putih kesayangan Bhatara.


Pracasti Pande (Bagian 05 – Raja Bali Berguru)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

RAJA BALI BERGURU

Diceritakan Ida Dalem Bali Cri Smara Kapakisan di Gelgel setelah kembalinya dari Madura mengenang kebesaran jiwa Empu Bhumi Cakti dalam menyelesaikan yadnya, terbit dalam hati sanubari hendak berguru pada Empu Bhumi Cakti dalam hal ilmu keTuhanan dan selanjutnya membersihkan diri (mapogala) menjadi raja rsi. Untuk melaksanakan keinginannya ini diutuslah Ki Pasek Babya pergi ke Madura untuk mengundang Empu  Kayu Manis yang bergelar Bhagawan Pandya Empu Bumi Cakti agar datang ke Gelgel.

Pada suatu hari utusan raja tibalah di Madura terus menuju asrama Kayu Manis. Dijumpai Sang Empu sedang mengatur Pancaprakara yaitu bunga, ganda, ksata(wija), dupa dan dhipa (pedamaran) serta pula ciwambha (tempat air suci). Kemudian Sang Empu melaksanakan Surya Sewana. Setelah selesai semuanya dipanggilah semua tamunya yang baru datang dan berkata, “Duh tuan hamba tame dari mana? Apakah kebangsaan dan datang dari mana, ceritakan saja sebenar-benrnya.”

Maka Ki Pasek Babya menjawab, “Ya tuan pendeta, hamba adalah anak Ki Arya Ngango dari Nusa Bali, hamba hendak berguru Sucusra kepada Sang Empu, untuk membersihkan kegelapan dan kebodohan yang memulut di hati hamba.”

Sang Empu berkata kembali, “Wahai  buyutku pangeran Pasek Babya jika memang demikian berarti ada hubungan keluarga dengan saya. Dengan adanya Empu Ketek bersaudara. Dengan kawitan saya Empu Gandring yang dulu ditikam Ken Arok. Patutlah engkau melakukan dharma kependetaan untuk mengasuh jiwa sucimu.”

Jawab Ki Pasek, “Ya tuan pendeta sesuwunan, sesungguhnya kedatangan hamba kemari ada dua kepentingan. Disamping kepentingan pribadi, hamba diutus raja Bali Dalem Gelgel untuk datang ke Bali karena baginda hendak berguru kepada Sang Maha Empu.”

“Hai buyutku pangeran Pasek untuk kepentingan Dalem nanti kalau ada hari baik saya akan datang ke Bali, sekarang pulanglah dahulu.”

Setelah beberapa hari Ki Pasek Babya mohon diri pulang ke Bali, setelah dibisiki ajaran filsafat keTuhanan dan yoga samadhi sebagai persiapan untuk menjadi pendeta (didiksan) kelak.

Beberapa pekan kemudian pada suatu hari yang dianggap baik maka berangkatlah Sang Empu ke Bali. Tiada diceritakan betapa halnya dalam perjalanan, telah sampai di Gunung Agung. Setibanya disana Empu Bhumi Cakti sangat heran melihat suatu cahaya yang gemerlapan diatas padmasana manik. Ketika itu Empu Bhumi Cakti menyembah dengan sujud, mata menghadap ke tanah, suatu tanda sangat hormat dan bakti kepada Bhatara.

Cahaya gemerlap itu bersabda “Hai, engkau Empu  yang rupawan, apa tujuanmu datang kemari? Ceritakanlah kepadaku.”

Sang Empu menjawab dengan didahului pujapangaksama, “Om Skama Swa Mam Mahadewah, Sarwa Prapi Hitangkarah, Mamocha Sarwa Pabsbhyo, palaya Swaa Sada Chiwah” Ya Bhatara, dewanya Gunung Agung, Hamba Brahmana Bhatara datang kemari karena diundang oleh raja Bali, diminta mensucikan (andiksa) dirinya menjadi Raja Rsi di Gelgel.”

‘Engkau Empu Madura” sabda Bhatara, “jika engkau tahu dengan keadaan riwayat tangan kananku, boleh engkau mensucikan cri Aji Bali. Coba lihat telapak tangan kananku.”

Sang Empu melihat tapak tangan Bhatara lalu berkata, “Pakulun paduka Bhatara, ijinkanlah paduka Bhatara menyebutkannya, yaitu Panca Brahma yang ada dalam tapak tangan Bhatara.”

“Dimana patut dipukulkan, sabda Bhatara dibahu atau didadamu?” Sang Empu tidak menjawab suatu apa. Tiba-tiba Bhatara musnah sekejap mata. Sang Empu berkata dalam hatinya, wah sangat fanatik (cinging) Bhatara Tohlangkir. Seketika itu Empu Bhumi Cakti mohon diri terus berjalan menuju Gelgel.

Setibanya di istana Gelgel didapati Dalem sedang duduk diatas singgasana. Demi meihat Sang Empu datang, Dalem segera turun singgasana dan mengelu-elukan Sang Empu. Sang Empu segera mengucapkan Wedastuti, kemudian dipersilahkan duduk sejajar dengan Dalem.

Sang Empu sangat heran mellhat wajah muka Sri Aji, karena sedikitpun tidak ada bedanya dengan Bhatara Mahadewa, baik wajah durja maupun perawakannya, demikian pemikiran Sang Empu.

Setelah sama duduk ditempatnya masing-masing. raja bersabda,  “Om Sang Empu, menurut perasaan hati hamba, Sang Empu seakan-akan Bhagawan Anggira turun dari sorga laksana Bhatara Indra dalam Catur Lokapala. Tidak pernah ada dosa yang melekat pada badan Sang Empu.” Demikianlah sabda Dalem.

Maka Empu Bhumi Cakti menjawab,  “Daulat tuanku, janganlah Sri Maharaja berlebihan memuji hamba. Yang penting saat ini, ijinkanlah hamba bertanya, apa sebab Sri Maharaja mengundang hamba seorang  Brahmana?  Hamba ingin mendapat penjelasan dari tuanku.”

“Ya Maha Empu” jawab Dalem, “Anak Maha Empu ingin menjadi orang tua, meniru dharmanya Bhatara almarhum kawitan anak Maha Empu Dang Hyang Kapakisan.”

“Ya tuanku Sri Maharaja” sahut Sang Empu, ” maksud tuanku itu dapat hamba setujui, sebab Sri Maharaja memang juga Brahma putera turunan Brahmana Kapakisan menjadi raja, satu Kawitan dengan hamba. Sesungguhnya bagi kami Brahmana tidak boleh menerima murid ksatria, berdasarkan riwayat  Hitihasa Purana, Asta Dasa Carita.” Jika tuanku berkenan dapat hamba ceritakan demikian.

Adalah seorang raja Hastina bernama Maharaja Dewabrata berguru weda ilmu senjata kepada Bhagawan Rama Paracu seorang pendeta brahmana. Setelah ahli dalam weda ilmu senjata maka Sang Raja Dewabrata pulang ke Istana Hastina.

Beberapa bulan kemudian sepulang Sang Raja Dewabrata dari asrama Rama Paracu, tiba-tiba adalah seorang gadis raja puteri yang sangat cantik parasnya bernama Dyah Amba menghadap seorang diri kepada Bhagawan Rama Paracu diasramanya, bermaksud mohon bantuan nasehat agar raja Dewabrata mau memperisteri dirinya. Diterangkannya ia mulanya tiga bersaudara perempuan diambil oleh Sang Dewabrata dalam sayembara. Dua orang adiknya telah diperisteri oleh Sang Citranggada dan Citrawirya adik Sang Raja Dewabrata. Hanya ia saja tidak mau diperisteri oleh  Sang Raja Dewabrata.

Beberapa lama Dyah Amba ada diasrama, maka datanglah raja Dewabrata yang bergelar Rsi Bhisma menghadap gurunya, maka Bhagawan Rama Paracu berkata, “Anakku Bhagawan Bhisma ambillah Dyah Amba ini menjadi isteri anakku, bapa dapat mengijinkannya. Sebab bagi kita layak membuat duka cita seorang kawan hidup, baik ia keluarga maupun sahabat.

Tiga macam jalan musuh dari dalam badan hendak menunjukkan perbuatannya dan hendak menghancurkan segala jasa-jasa baik kita didunia. Yang terutama diantaranya ialah keluar melalui mulut, yaitu  berkata tidak benar, memfitnah, ingkar janji, tidak setia dengan segala kata-kata dan berkata keras. Musuh yang melalui tenaga, suka memukul, menyakiti dan membunuh. Yang melalui pikiran, biasa membuat kehendak yang jahat, tidak berperikemanusiaan. Semua itu merupakan musuh kita dalam  badan. Sebab itulah ambilah Dyah Amba.” Demikianlah kata Bhagawan Rama Paracu dan Rsi Bhisma segera menjawab.

“Maaf Guru, bukan karena hambi menentang kata atau durhaka kepada Guru, hanya karma hamba telah berjanji dengan ikrar kepada Tuhan, bahwahamba akan melakukan Cuklabrahmancari. Hamba tidak berani mangkir janji kepada Tuhan. Sebab ltu hamba tidak mau memperisteri Dyah Amba, sekalipun bagaimana akibatnya.”

Sampai empat, lima kali Guru Rama Paracu menyuruh mengambil Dyah Amba, tetapi Rsi Bhisma tetap menolaknya. Akhirnya murka Bhagawan Rama Paracu menuding mata Rsi Bhisma seraya berkata keras dan kasar.

Sebagai seorang Ksatria yang tidak boleh dikerasi, maka bangkitlah marahnya berapi-api terus memukul gurunya. Dengan demikian berkelahilah dua orang Rsi masing-masing mengeluarkan kekuatannya. Akhirnya kalah Bhagawan Rama Paracu mengadu tenaga karena telah lanjut usianya. Saat itu Bhagawan Rama paracu mengutuk Rsi Bisma, katanya “Hai kamu Bhisma, mulai saat ini selanjutnya kami Brahmana tidak boleh mempunyai murid golongan ksatria. Kemudian hari apabila ada seorang brahmna terutama turunan Bhrgumendiksa golongan ksatria, semoga tidak sempurna dan mendapat halangan besar.”

Demikianlah ceritera Bhagawan Pandya Empu Bhumi Cakti kepada Dalem, sebagai dalih sangat takutnya kepada Bhatara Mahadewa.

Setelah beberapa lama Empu Kayu Manis di Bali menvelesaikan minatnya Dalem Gelgel, maka kembalilah ia keasrama Madura.