Dari Balik Bukit di Kaki Cemara

Category : tentang DiRi SenDiri

Alunan Harmonika itu terdengar begitu merdu ditelingaku, sebuah tembang lama karya musisi idola seakan mengingatkan pada masa lalu, dimana kesendirian itu masih ada.

‘dari balik bukit di kaki cemara

aku melihat mulut harimau berlumuran darah

kucing hutan yang gagal… ia terkapar…

dan akhirnya… mati…’

bisa jadi lantaran itu pula ‘Pulang Kerja’ lantas menjadi salah satu teman setia yang kudengar saat sedang merasa sendiri…

‘sudah takdir harimau datangi berang-berang

tetapi berang-berang sudah pulang

sementara tikus salju entah pergi kemana

harimau itu kesepian…’


aku terkesima…

aku terkesima…

aku terkesima…

terkesima…

Menjadi Blogger yang Konsisten untuk Berbagi

7

Category : tentang DiRi SenDiri

Siapapun tidak pernah menyangka bahwa saya akan menjadi seorang blogger (sebutan untuk orang yang memiliki dan mengelola blog). Tidak saya, tidak teman sekolah, tidak saudara, tidak juga orang-orang yang saya sayangi.

Empat tahun dan seribu lima ratus tulisan, akhirnya hanyalah menjadi sebuah angka biasa jika dibandingkan dengan banyak hal positif yang bisa saya dapatkan dari aktifitas menjadi seorang blogger. Teman, komunitas bahkan ilmu dan pengetahuan baru yang saling melengkapi satu sama lainnya saya rasakan jauh lebih bernilai ketimbang mengejar traffic, kunjungan ataupun pemasukan iklan.

Tidak mudah memang selama empat tahun tersebut, saya berusaha untuk tetap konsisten menjadi seorang blogger. Tetap berusaha untuk memperbaharui tulisan dalam periode satu dua hingga tiga hari sekali, meskipun diluaran ada juga rekan yang sebetulnya hanya memperbaharui tulisan sebulan sekali ya tetap saja masih bisa dikatakan blogger.

Selama itu, tidak ada hal yang khusus saya angkat menjadi sebuah tulisan untuk dipublikasi. Meminjam istilah ‘waserba-warung serba ada’, boleh jadi hampir semua kegiatan, pengetahuan hingga perkembangan keluarga masuk dalam blog ini. Hal yang barangkali tidak direkomendasikan oleh sejumlah penulis buku tentang blog yang bertujuan mengumpulkan pundi-pundi uang.

Saya akui bahwa tak sepeser rupiahpun yang pernah saya hasilkan melalui blog ini, namun seperti yang saya katakan diatas, banyaknya hal positif yang saya dapatkan membuat semua itu makin terlewatkan saja setiap harinya. Padahal ada kok keinginan untuk mengubah blog menjadi mesin penghasil uang seperti kata beberapa buku yang saya beli.

Tujuan untuk berbagi pada akhirnya saya ambil sebagai pilihan selama setahun terakhir. Entah berbagi pengalaman, berbagi ilmu, berbagi pengetahuan atau berbagi cerita tentang banyak hal, apa saja. Terkait teknologi telekomunikasi, informasi pekerjaan, perkembangan MiRah putri kecil kami, tentang opini terkait hal-hal aktual yang terjadi disekitar dan lain sebagainya.

Berbagi tidak pernah Rugi, begitu kira-kira tag yang pernah digaungkan oleh komunitas Bali Blogger Community jauh sebelumnya, menjadi sebuah inspirasi yang kemudian berusaha saya terapkan tidak hanya dalam blog ini tapi juga dalam keseharian. Tujuannya tentu saja untuk saling mengisi dan melengkapi.

Betapa indahnya ketika (pernah) orang lain merasakan manfaat dari tulisan yang pernah saya publikasikan sebelumnya atau malah menjadi sebuah inspirasi, meskipun pada saat yang sama orang tersebut berada disebelah saya dan tidak mengetahui bahwa sayalah pemilik blog tersebut.

Ada rasa bangga dan bersyukur bahwa apa yang saya miliki dan pahami mendapatkan timbal balik ataupun respon tambahan yang menambah sisi pengetahuan yang sebelumnya tidak saya miliki.

Menjadi Blogger yang Konsisten untuk Berbagi adalah pilihan saya.

Foto Narsis ala PanDe Baik

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada satu hal yang kadang suka bikin saya geli sendiri kalo lagi kunjungan kerja, urusan dinas atau sekedar pendidikan ke luar daerah. Hal yang sama saya rasakan ketika Reuni SMA dan Wisuda pasca sarjana tempo hari. Beberapa lensa kamera berusaha menangkap gambar wajah baik pergerakan, percakapan hingga saat bengong sendiri yang dilakukan oleh fotografer amatiran hingga yang sudah profesional dibidang tersebut. Sebuah lahan basah yang bagi saya pribadi memang sangat menjanjikan di era digital saat ini.

Sasarannya tentu saja orang-orang yang terlibat dalam satu kegiatan yang diselenggarakan atau keluarga yang ikut serta mendampingi. Harapannya jelas, usai kegiatan berlangsung hasil jepretan mantap karya mereka dapat ditukar dengan sejumlah rupiah.

Caranya, mereka tinggal menggelar puluhan bahkan ratusan foto yang diambil beberapa jam sebelumnya (biasanya dikelompokkan berdasarkan objek agar lebih memudahkan) disepanjang area dan sirkulasi pejalan kaki yang dilalui oleh para peserta dan sanak keluarga mereka. Tinggal pilih, bayar, selesai.

Event seperti ini memang sangat dimanfaatkan oleh mereka yang punya kemampuan fotografi, sebagai tahap pembelajaran atau sekedar mencari pendapatan tambahan saat senggang.

Kegelian ini bisa jadi lantaran saya sudah merasa bosan melihat wajah diri sendiri dalam bentuk foto yang tercetak dengan pose resmi lengkap dengan tulisan kegiatan dibagian bawahnya sehingga lebih suka menghindar dari serangan para fotografer entah dengan cara menutupi muka ala para Tahanan atau Koruptor, bisa juga ala Artis yang ketahuan punya masalah. :p

Akan berbeda ketika yang mengambil gambar adalah teman sendiri. Apalagi yang punya hobi meng-uploadnya langsung ke jejaring sosial pertemanan FaceBook. Dijamin saya bakalan berpose senarsis mungkin. Kalo diingat-ingat malah mirip iklan di layar tipi yang ada tulisan ‘kalo mau eksis, jangan Lebay plis…’ Hehehe…