Menikmati Angklung sebagai Terapi

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Angklung merupakan suatu jenis alat musik tradisional yang terbuat dari empat kepingan logam, dan menghasilkan empat nada. Jenis gamelan seperti ini biasanya menyajikan nada yang sedih atau melankolis. Angklung sendiri merupakan bentuk gamelan tertua di Bali, berasal dari abad ke-10. Umumnya, Angklung dimainkan untuk mengiringi suatu upacara kremasi, kematian atau dikenal dengan istilah Ngaben. (dikutip dari Sejarah Seni Tradisional Bali, dan dari coretan milik Agus Satriya Wibawa dalam artikel blog seni dan Budaya Kabupaten Karangasem Bali)

Dibandingkan dengan gambelan dan alat musik tradisional lain di Bali, Angklung merupakan daftar list teratas yang paling kerap saya dengarkan dalam kondisi apapun. Berbeda dengan jenis musik lainnya seperti Beleganjur yang lebih bersemangat, Semar Pegulingan yang puitis atau bahkan gambelan abarung Gong Kebyar. Bisa jadi lantaran alunannya yang memang lebih mudah dicerna, tanpa hentakan yang datang secara tiba-tiba, sehingga selain bisa digunakan untuk penghantar tidur (ini pendapat secara pribadi loh ya), bisa juga digunakan sebagai pengobatan terapi akan rasa atau suasana bad mood, sedih dan menggalau.

Saya pribadi menyukai alunan musik Angklung sudah lama, kalau tidak salah saat masa perburuan keping cd audio yang kelak akan dikonversi menjadi bentukan MP3, format audio yang hingga kini masih tetap menjadi trend, dan mendapatkannya dari salah satu famili keluarga Ibu. Saking jatuh hatinya, sasaran berikutnya bukan lagi berburu ke rumah teman atau saudara, tapi langsung ke perusahaan rekaman macam Bali Records atau Maharani Records.

Mendengarkan alunan musik Angklung barangkali terasa aneh bagi sebagian besar orang. Lantaran faktor pemanfaatannya yang biasa ditemukan pada prosesi kematian sebagaimana kutipan diatas. Namun secara pribadi malah tidak peduli akan dramatisnya suasana jika Angklung sampai dikumandangkan. Di ruangan kantor, di mobil hingga di musik playerpun jadi.

Jadi jangan heran kalo kelak kalian saat bersua, alunan musik angklung akan selalu hadir menemani.

Mimpi Sedih itupun datang lagi

1

Category : tentang DiRi SenDiri

entah karena terlalu memikirkan akan rasa kehilangan yang teramat sangat, atau kebetulan saja sedang melakukan aktifitas yang mengingatkanku pada sosok almarhum kakak kandung, mimpi sedih itupun datang lagi di malam hari, hadir dan menjadi bunga tidur yang cukup membuatku gelisah saat terbangun.

Ini adalah kali kedua aku memimpikannya kembali…

Pertama, saat aku menyusun dokumentasi foto almarhum sedari ia kecil, masa sehat hingga sakit dan akhirnya meninggalkan kami, kakak seolah datang menghampiriku dalam mimpi dan mengingatkanku agar secepatnya menyelesaikan pekerjaan tersebut. Entah apa maksudnya. akan tetapi dalam dunia nyata, dokumentasi tersebut memang jeda sehari kususun akibat waktu luang yang kumiliki, tak banyak setiap harinya kini. Bisa jadi ini hanyalah sebuah bunga tidur dari ‘beban tambahan’ yang kuciptakan sendiri, bisa juga sebagai satu kenangan akan kebiasaannya yang memang memintaku agar secepatnya menyelesaikan pekerjaan saat ia masih ada dahulu…

Kini mimpi itu datang lagi. Setelah sekian lama aku berusaha untuk melupakannya agar tak larut dalam kesedihan hingga mengganggu rutinitas kerja yang kini lebih diutamakan, ia datang mengingatkanku agar tak melupakannya.

Ia pun hadir kembali dalam tidur malamku lengkap dengan prosesi kematian yang katanya tak dapat kusaksikan secara langsung akibat kesibukan adat di lingkungan rumah. Cerita yang kudapat hanyalah di saat-saat terakhir ia pergi, kakak bertanya dimanakah aku berada, dan kenapa aku melupakannya begitu cepat ?

Jujur, hal-hal ini kadang membuatku harus tertegun dahulu saat terbangun dalam gelap dan pada akhirnya berusaha untuk melupakannya kembali dengan menuliskannya. Satu hal yang sulit namun harus dialami dan dijalankan mengingat hidup akan tetap berjalan terus dan kita akan tergilas jika sampai terdiam ditengah jalannya.

Ya, aku memang berusaha untuk melupakannya kini. Hingga sore sebelumnya, sang suami, kakak iparku datang meminta tolong untuk dibuatkan Surat Ahli Waris untuk pengajuan klaim Asuransi dan lain sebagainya, yang memang pula sempat mengingatkanku untuk beberapa saat, ketika mengetikkan namanya pada lembar keterangan yang dimaksud.

Ah kakak, kenapa juga aku harus mengalami hal ini ?