Menjadi Blogger yang Konsisten untuk Berbagi

7

Category : tentang DiRi SenDiri

Siapapun tidak pernah menyangka bahwa saya akan menjadi seorang blogger (sebutan untuk orang yang memiliki dan mengelola blog). Tidak saya, tidak teman sekolah, tidak saudara, tidak juga orang-orang yang saya sayangi.

Empat tahun dan seribu lima ratus tulisan, akhirnya hanyalah menjadi sebuah angka biasa jika dibandingkan dengan banyak hal positif yang bisa saya dapatkan dari aktifitas menjadi seorang blogger. Teman, komunitas bahkan ilmu dan pengetahuan baru yang saling melengkapi satu sama lainnya saya rasakan jauh lebih bernilai ketimbang mengejar traffic, kunjungan ataupun pemasukan iklan.

Tidak mudah memang selama empat tahun tersebut, saya berusaha untuk tetap konsisten menjadi seorang blogger. Tetap berusaha untuk memperbaharui tulisan dalam periode satu dua hingga tiga hari sekali, meskipun diluaran ada juga rekan yang sebetulnya hanya memperbaharui tulisan sebulan sekali ya tetap saja masih bisa dikatakan blogger.

Selama itu, tidak ada hal yang khusus saya angkat menjadi sebuah tulisan untuk dipublikasi. Meminjam istilah ‘waserba-warung serba ada’, boleh jadi hampir semua kegiatan, pengetahuan hingga perkembangan keluarga masuk dalam blog ini. Hal yang barangkali tidak direkomendasikan oleh sejumlah penulis buku tentang blog yang bertujuan mengumpulkan pundi-pundi uang.

Saya akui bahwa tak sepeser rupiahpun yang pernah saya hasilkan melalui blog ini, namun seperti yang saya katakan diatas, banyaknya hal positif yang saya dapatkan membuat semua itu makin terlewatkan saja setiap harinya. Padahal ada kok keinginan untuk mengubah blog menjadi mesin penghasil uang seperti kata beberapa buku yang saya beli.

Tujuan untuk berbagi pada akhirnya saya ambil sebagai pilihan selama setahun terakhir. Entah berbagi pengalaman, berbagi ilmu, berbagi pengetahuan atau berbagi cerita tentang banyak hal, apa saja. Terkait teknologi telekomunikasi, informasi pekerjaan, perkembangan MiRah putri kecil kami, tentang opini terkait hal-hal aktual yang terjadi disekitar dan lain sebagainya.

Berbagi tidak pernah Rugi, begitu kira-kira tag yang pernah digaungkan oleh komunitas Bali Blogger Community jauh sebelumnya, menjadi sebuah inspirasi yang kemudian berusaha saya terapkan tidak hanya dalam blog ini tapi juga dalam keseharian. Tujuannya tentu saja untuk saling mengisi dan melengkapi.

Betapa indahnya ketika (pernah) orang lain merasakan manfaat dari tulisan yang pernah saya publikasikan sebelumnya atau malah menjadi sebuah inspirasi, meskipun pada saat yang sama orang tersebut berada disebelah saya dan tidak mengetahui bahwa sayalah pemilik blog tersebut.

Ada rasa bangga dan bersyukur bahwa apa yang saya miliki dan pahami mendapatkan timbal balik ataupun respon tambahan yang menambah sisi pengetahuan yang sebelumnya tidak saya miliki.

Menjadi Blogger yang Konsisten untuk Berbagi adalah pilihan saya.

Foto Narsis ala PanDe Baik

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada satu hal yang kadang suka bikin saya geli sendiri kalo lagi kunjungan kerja, urusan dinas atau sekedar pendidikan ke luar daerah. Hal yang sama saya rasakan ketika Reuni SMA dan Wisuda pasca sarjana tempo hari. Beberapa lensa kamera berusaha menangkap gambar wajah baik pergerakan, percakapan hingga saat bengong sendiri yang dilakukan oleh fotografer amatiran hingga yang sudah profesional dibidang tersebut. Sebuah lahan basah yang bagi saya pribadi memang sangat menjanjikan di era digital saat ini.

Sasarannya tentu saja orang-orang yang terlibat dalam satu kegiatan yang diselenggarakan atau keluarga yang ikut serta mendampingi. Harapannya jelas, usai kegiatan berlangsung hasil jepretan mantap karya mereka dapat ditukar dengan sejumlah rupiah.

Caranya, mereka tinggal menggelar puluhan bahkan ratusan foto yang diambil beberapa jam sebelumnya (biasanya dikelompokkan berdasarkan objek agar lebih memudahkan) disepanjang area dan sirkulasi pejalan kaki yang dilalui oleh para peserta dan sanak keluarga mereka. Tinggal pilih, bayar, selesai.

Event seperti ini memang sangat dimanfaatkan oleh mereka yang punya kemampuan fotografi, sebagai tahap pembelajaran atau sekedar mencari pendapatan tambahan saat senggang.

Kegelian ini bisa jadi lantaran saya sudah merasa bosan melihat wajah diri sendiri dalam bentuk foto yang tercetak dengan pose resmi lengkap dengan tulisan kegiatan dibagian bawahnya sehingga lebih suka menghindar dari serangan para fotografer entah dengan cara menutupi muka ala para Tahanan atau Koruptor, bisa juga ala Artis yang ketahuan punya masalah. :p

Akan berbeda ketika yang mengambil gambar adalah teman sendiri. Apalagi yang punya hobi meng-uploadnya langsung ke jejaring sosial pertemanan FaceBook. Dijamin saya bakalan berpose senarsis mungkin. Kalo diingat-ingat malah mirip iklan di layar tipi yang ada tulisan ‘kalo mau eksis, jangan Lebay plis…’ Hehehe…

Kembali ke Peradaban

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Tak terasa sudah melewati pertengahan bulan, masa-masa sulit bagi kami semua untuk mewujudkan satu cita yang pada akhirnya bisa kami banggakan meski dengan sedikit catatan. Bahkan untuk ukuran seorang suami yang ditinggal istri (prajabatan) pun, dua minggu sudah tak terasa lama lagi.

Bisa dikatakan berat pabila mengingat komitmen yang diambil sedari awal bulan untuk sebuah ‘blog tak karuan’ macam www.pandebaik.com. Hari demi hari rasanya tak pernah lepas dari buku dan literatur yang saling berkaitan satu sama lain, hasil perburuan disela tumpukan koleksi milik Bapak. Satu hal yang rasanya tidak pernah kulakukan sejak awal blog ini lahir.

Setidaknya ada satu nilai positif yang kudapatkan dari itu semua, semangat berbagi pengetahuan yang tak pernah luntur seiring berjalannya waktu. Meski pembelajaran yang kucoba berikan, tak satupun yang berguna saat kegiatan kemarin. Barangkali lain waktu.

Akhirnya ‘Kembali jua pada Peradaban’. Peradaban dimana semua idea yang tak jelas asal usul maupun maksudnya, tertuang secara bergantian pada halaman ini. Rata-rata memang jadinya tak berguna bagi orang yang sengaja mampir atau sekedar nyasar kemari, tapi yah… itulah yang selama ini dilakukan. Menuliskan unek-unek atau pikiran yang ada dalam kepala hingga yang memang bertujuan untuk berbagi dalam arti sebenarnya. Satu resiko terbesar yang barangkali nanti akan terjadi adalah menurunnya jumlah kunjungan ketititik ‘biasa’ yang pernah dilakoni selama tiga tahun terakhir.

Ada saatnya untuk serius dan ada saatnya untuk melewati waktu bersama keluarga. Untuk itu pula tulisan di blog www.pandebaik.com ini akan kembali pada fitrahnya semula. Tentang hobby teknologi, tentang mimpi dan opini hingga tentang hal yang sama sekali tak penting bagi orang lain. Cukup sekian ceritanya.

Besok atau lusa barangkali takkan serajin kemarin aku menuliskan blog ini lagi. Jikapun hanya karena ingin membuat posting setiap hari dalam setahunpun sudah pernah dilakoni dahulu. Masa-masa kecanduan akan blog pernah pula dialami. Itu sebabnya soal jumlah tulisaan ribuan hanya jadi sekedar angka. Karena sekali lagi, sebagian besar bahkan hampir sembilan puluh persennya merupakan buah pikiran yang tak serius. Wah, malah ngelantur kemana-mana.

Yah… Selamat ‘Kembali ke Peradaban’ saja.

Sedikit Cerita tentang Tulisan ber-Tema Keris (dan Bhisama)

3

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam dua minggu terakhir tulisan yang dipublikasikan pada blog PanDeBaik seakan diselimuti aura Keris sampai-sampai beberapa teman yang rajin menyambangi blog satu persatu meng-sms saya ‘sejak kapan PanDeBaik berpindah tema ? dari yang biasanya melulu tentang teknologi ponsel kini malah lebih mengarah pada budaya bangsa ini… Keris.

Seperti halnya yang pernah saya ungkap dalam update status jejaring sosial FaceBook akhir Juli lalu, terkait tulisan bertemakan Keris (dan Bhisama) yang dipublikasikan sejak awal Agustus, murni saya dedikasikan sebagai pembelajaran atau tambahan pengetahuan bagi Generasi Muda Warga Pande, dalam rangka DharmaWacana tentang keris dan Bhisama di Museum ‘Keris’ Neka, Sanggingan, Ubud, Gianyar.

Adapun terkait DharmaWacana tersebut diselenggarakan sebagai awal proses pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berorganisasi dan bersosialisasi bagi Teruna Teruni Generasi Muda Warga Pande di tingkat Kabupaten dan Kota. Sebagai pilot project, sementara waktu kami mengambil opsi dikhususkan pada kotamadya Denpasar dan Kabupaten Badung saja.

Lantas kenapa harus ‘Keris ? ini terkait lagi dengan kunjungan pertama kami ke Museum ‘Keris’ Neka pada tanggal 18 Juli 2010 lalu yang jujur saja menyisakan banyak pertanyaan di pikiran saya sebagai salah satu dari generasi muda (meskipun sudah berstatus menikah) warga Pande. Apalagi kalau bukan terkait apa itu keris, bagaimana proses pembuatannya, nilai-nilai dan makna yang terkandung hingga terkait puluhan keris koleksi milik Museum Neka, dari mana saja asalnya, apakah ada sejarahnya, siapa pembuatnya dan masih banyak lagi.

Sambutan yang diberikan kepada kami sangat jauh dari rencana awal yang sedianya hanyalah untuk menyampaikan keinginan dan memastikan Pande Wayan Suteja Neka berkenan menerima dan berbagi pengetahuannya saat Dharmawacana kelak. Mendengarkan dan menyaksikan secara langsung hingga berkeliling di Museum merupakan pengalaman baru bagi kami semua.

Bersyukur Uwe Suteja Neka (demikan saya memanggil Beliau) berkenan memberikan bekal literatur yang sekiranya dapat kami pelajari ketika pulang dari Museum. Dari literatur tersebutlah tulisan-tulisan yang bertemakan Keris itu berasal. Dua alasan mengapa tulisan-tulisan yang bertemakan Keris saya publikasikan lewat blog adalah pertama, isi dari tulisan tersebut terlalu berharga untuk saya ketahui seorang diri dan mengingat visi dari blog PanDeBaik adalah berbagi pengetahuan dan pengalaman maka tidak ada salahnya tulisan tersebut saya tuangkan disini. Sedang Kedua, terkait profesi sampingan saya sebagai blogger (dan memiliki media blog) ya satu-satunya yang dapat saya lakukan agar literatur yang diberikan Uwe Suteja Neka dapat lebih bermanfaat bagi kita semua adalah menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan.

Demikian pula halnya dengan tulisan terkait 6 (enam) Bhisama Warga Pande yang barangkali sangat disarankan untuk diketahui oleh setiap Semeton Warga Pande. Harapannya tentu saja agar saat Dharmawacana nanti akan ada satu pembelajaran tambahan untuk diketahui sebelumnya serta pemahaman yang seragam satu dan lainnya.

Hanya saja publikasi tulisan yang berasal dari literatur ini bukan bertujuan untuk mengeruk keuntungan secara komersial, namun (sekali lagi) hanya sebatas pembelajaran dan tambahan pengetahuan bagi generasi muda Warga Pande khususnya dan tentu saja kita semua umumnya. Bukankah indah jika kita semua sama-sama menyadari bahwa Keris (dan Bhisama bagi Semeton Warga Pande) adalah satu warisan budaya leluhur bangsa kita yang patut dijaga dan lestarikan ?

Sialnya Penghobi (nonton) Film

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Sebelum dilanjutkan Harap dicatat bahwa seorang Penghobi (nonton) Film punya pemahaman sedikit berbeda dengan seorang Penghobi Film. Bedanya kurang lebih kalo isi pikiran seorang Penghobi Film itu biasanya Movie Minded, mengetahui segala hal seluk beluk film yang pantas ditonton saat ini, mana yang termasuk incaran mana yang termasuk daftar tunggu, siapa nama aktor/aktris maupun sutradara yang terlibat didalamnya hingga rela antre berjam-jam di bioskop setempat. Berbeda dengan seorang Penghobi (nonton) Film yang isi pikirannya ya Cuma pengen nonton aja tanpa peduli masuk film laris atau tidak, dan tidak terbatas pada film dengan tema jelas saja. Video panas artis lokal juga terkadang masuk didalamnya. Hehehe…

Untuk seorang Penghobi (nonton) Film, saya (hahaha… pemahaman diatas sebenarnya lagi ngomongin saya…) gak terlalu ngoyo musti nonton film Harus di bioskop agar mendapatkan sajian yang gambarnya berkualitas mantap setingkat keping dvd plus dengan tata suara yang gak kalah mantapnya. Kalopun tu film baru dirilis di bioskop saya lebih suka nyari yang versi bajakan di pasar malam sedangkan kalo kebetulan dah merilis versi keping originalnya, saya lebih memilih yang berformat video cd ketimbang dvd.

Alasannya sederhana. Pertama, Film dalam format keping vcd lebih mudah dicopy ke laptop ketimbang yang dvd, selain cepat juga gak bakalan menghilangkan subtitle yang menyertainya. Untuk mengcopy film dalam format keping dvd diperlukan aplikasi khusus yang dapat mengubah format tersebut dalam bentuk image dan harus diputar dalam sebuah virtual cdrom. Kedua, nonton dalam format keping cd lebih asyik ketimbang nonton bioskop. Ini sebenarnya ada hubungannya dengan kemampuan otak dalam menerima alur dan jalannya cerita yang ditawarkan sebuah film, yang sayangnya otak saya terkadang suka bingung di pertengahan film. Menonton dalam keping cd menawarkan sebuah kelebihan ketimbang menonton film di bioskop yaitu bisa di-rewind kembali ke scene sebelumnya untuk mengulang pemahaman. Hihihi… Terus, kenapa musti di-copy ke laptop ? karena untuk menonton film terkadang saya musti ngumpulin mood atau berada dalam situasi yang lowong dulu. Hahaha…

Demi mendukung hobi menonton film ini, sayapun hunting ke beberapa tempat rental video yang ada diseputaran Kota Denpasar. Ada satu kriteria pokok yang saya tetapkan untuk memilihnya yaitu berada dalam satu jalur aktifitas kantor. Tujuannya untuk mempermudah proses peminjaman dan pengembalian keping film. Bisa dilakukan pada saat pulang kantor. He…

Sasaran pertama saya sedari empat tahun lalu adalah ArmaDisc yang berlokasi di wilayah Banjar Kayumas, sebelah selatan kantor Catatan Sipil. Secara kriteria ni Rental yang paling ideal, karena satu jalur dengan akses kantor. Paket yang ditawarkan saat itu cukup menarik perhatian. Dapat bonus 1 keping film apabila mengembalikan pinjaman lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Sayangnya setahun terakhir lokasi ArmaDisc telah berubah fungsi menjadi outlet yang menjual optik atau kacamata. Masih belum berubah fungsi menjadi rental hingga saya pindah kantor ke Mangupura Mengwi.

Sasaran kedua saya ambil di Artha Media yang berlokasi di Tanjung Bungkak, sebelah utara kampus Warmadewa. Secara lokasi sebenarnya agak menyimpang jauh, tapi ya kadang suka nyambi sambil beli keping dvd kosong atau malah minjem software bajakan. :p Sayangnya meski sampe hari ini tempat tersebut masih setia menyewakan keping film, dendanya tetap diberlakukan meskipun saya sudah dikenal oleh penjaganya. Hehehe… hal yang tidak berlaku di ArmaDisc.

Sasaran ketiga saya coba di New Release Gatot Subroto, sebelah barat apotik Anugerah. Rental ini kebetulan berada dalam satu jalur yang asyik saat pulang kantor. Sayangnya baru juga mendaftar dan meminjam beberapa keping film, ni rental malah menghilang. Ealah…

Sasaran keempat adalah Bromo, lokasinya didepan sekolah Dwijendra jalan Kamboja. Kejadiannya siy gak sengaja, nemu pas balikin komik Kariage. Sayangnya mereka blom punya database yang jelas, gak ada daftar film yang bisa dilihat dan dijadikan panduan dalam mencari film-film lama. Masih dijejer begitu saja tanpa cover. Malah bikin bingung karena musti melihat isinya satu persatu.

Terakhir yang saya lakoni adalah ZeeneMax Gatot Subroto, sebelah barat perempatan Ubung Cokroaminoto. Ni Rental berada dalam jalur pulang kantor yang mengambil jalur kearah selatan (dari Mangupura Mengwi). Dengan penawaran paket 100ribu rupiah untuk 38 buah film atau 50ribu untuk 18 film. Sayangnya akibat kekurangan karyawan, ZeeneMax Gatsu sempat tutup untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini malah membingungkan saya sebagai salah satu konsumen yang agak was-was juga karena masih dalam posisi meminjam film. Khawatir masuk dalam daftar DPO mereka. Seminggu terakhir baru ada pemberitahuan bahwa mereka hanya buka diatas pukul 6 sore saja. Waaaahhh… artinya gak bisa minjem atau balikin film sepulang kerja lagi.

Entah apakah memang karena minat meminjam film para warga Penghobi yang memang menurun :p ataukah karena laris manisnya keping bajakan yang dijual dengan harga murah baik di Pasar malam maupun disebuah toko Elektronik kawasan Diponegoro ? Pastinya saya sebagai salah satu Penghobi (nonton) film kini malah jadi kebingungan sendiri…