Pande Baik tentang Kenapa harus pandebaik.com ?

13

Category : tentang DiRi SenDiri

Pertanyaan diatas kerap dilontarkan oleh teman maupun orang yang baru kenal dengan saya. Ini mereka tanyakan lantaran saya kadang disapa ’PanDe Baik’ oleh beberapa rekan yang telah tahu alasannya lebih dulu. Ada juga yang menduga saya hanya ikut-ikutan tag iklan AXIS ’GSM yang Baik’. Yah, mereka sepenuhnya salah tuh.

PanDe Baik. Nama tersebut mulai disandang sejak masa sekolah SMA, dimana waktu itu lagi rame-ramenya aksi Pandelisme eh Vandalisme, aksi corat coret maupun ukiran nama sendiri (narzis) yang bertujuan pada perusakan properti milik sekolah hingga wartel terdekat, He… saya yakin hingga kinipun yang namanya anak sekolahan pasti masih seperti itu kelakuannya.

Saya masih ingat, rata-rata kata yang menjadi ekor pada nama pribadi ada yang si anu TOP, si itu Best of the Best, si ini ’jeg paling ganteng’…. Maka sayapun gak mau ketinggalan, ikutan memberikan embel-embel pada nama sendiri agar terdengar jauh lebih keren.

Jadilah waktu itu saya mencoba-coba memakai nama PandEbat (asal kata Pande Hebat yang disambung dan membuang huruf H-nya), Pande ‘lah ne (asal kata ngelah ne –yang punya <benda> ini), Pande Kodok Bule (sebutan Kodok diberikan gara-gara saya kalo jalan seperti meloncat-loncat dan Bule diberikan lantaran tinggi saya yang over dibanding teman-teman sekolah), hingga akhirnya Pande Baik yang kemudian ditetapkan sebagai trademark dan mulai familiar terdengar di telinga teman-teman.

Sebutan Pande Baik terus berlanjut hingga bangku kuliah, dimana aksi corat coret kini mulai merambah segala properti pribadi milik teman, dari meja gambar, mesin gambar, buku catetan kuliah hingga tong sampah –he… ini pengalaman pribadi yang hingga hari inipun coretan teman-teman masih ada di benda-benda yang saya sebut tadi.

Bahkan saat saya mulai bekerja selepas kuliahpun Pande Baik masih disandang, hingga tak heran kalo kini bersua dengan rekan-rekan lama, sapaan paling akrab disebutkan ya Pande Baik. Ini juga yang menginspirasi saya saat berkenalan dengan blog untuk pertama kali dan diaplikasikan pada pandebaik.blogspot.com

PB is Pande Baik not Pesta Blogger

PB is Pande Baik not Pesta Blogger 🙂

Lantas kenapa harus Pande Baik ?

Tak banyak yang tahu memang, tapi sejujurnya alasan saya menggunakan tag Baik pada ekor nama Pande hanyalah ‘sebuah motivasi pada diri sendiri agar selalu berbuat baik pada setiap orang’. Itulah sebabnya sedari pertama kali saya memutuskan memakai tag PanDe Baik, saya selalu berharap agar bisa selalu berbuat dan menjadi teman yang baik bagi setiap orang yang saya temui.

Hanya saja saya menyadari sepenuhnya, tak semua orang bisa memahami ataupun merasakan usaha dan motivasi saya tersebut. Kadang ada yang malah menyangka kalo saya baik itu, ada apa-apanya. Awalnya sih, langsung diklarifikasi, tapi lama-lama, ’Yah terserah mereka lah….’ Yang penting saya sudah berusaha untuk yang terbaik. Bukankah memang susah menyenangkan semua orang dengan baik. ya kan ?

Terus kenapa malah memilih nama ’PanDeBaik.com sebagai alamat blog ? bukannya melanjutkan pandeividuality.net yang sebelumnya dipakai ? lantaran selain saya memang ada masalah dengan domain manager yang diblokir pemilik hosting terdahulu, sehingga saya tidak dapat menggunakannya lagi, pandebaik.com digunakan agar nama itu mudah diingat oleh rekan-rekan yang lama maupun baru mengenal saya.

So, udah tau alasan saya, kenapa harus memakai nama Pande Baik sebagai sapaan maupun pandebaik.com sebagai alamat BLoG kan ?

Kisah PanDe Baik di Akhir Bulan NoVember

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Ah, akhirnya sampai saya juga di akhir bulan. Saat dimana saya memutuskan untuk pindah ’rumah’ dari hosting milik Mas Egy ke Bli Hendra. Jadi juga merealisasikan janji yang sempat saya tunda.

Bulan ini pula saya mengalami banyak hal baik suka duka, pula saat dimana saya nyaris mengalami kematian akibat pingsan salah posisi. Yah, bersyukur ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan pada hamba-Nya ini untuk bersua dengan putri kecil dan Istri yang sangat saya sayangi.

Kemarahan yang saya alami pada bulan ini akibat ulah oknum rekan kantor yang memaksa meminta ’amplop’ pada Rekanan Pelaksana Kegiatan, cukup membuat saya tersadar bahwa sangat sulit mengubah image dan kebiasaan yang sudah kadung melekat sekian lama. Hingga saya pun memilih satu keputusan yang sempat saya ambil dan ajukan pada pimpinan saat awal pembentukan tim kerja ini. Mengundurkan diri. Rupanya saya tak mampu memaksakan diri berada pada lingkungan dimana ’uang’ begitu didewakan dibanding kinerja dan tanggung jawab kami sebagai abdi negara. Lebih baik saya menjadi ’nobody’ dibandingkan harus terlibat pada hal yang tak pernah saya lakukan.

Aktivitas lain yang saya jalani yaitu kembali menjadi salah satu anggota tim Direksi /Pengawas Kegiatan untuk dua kegiatan dengan sumber Dana Perubahan akhir tahun 2008 ini. Salah satu kegiatannya merupakan lanjutan dari kegiatan tahun lalu yaitu Penanganan Banjir dan Saluran Drainase untuk Kawasan Dewi Sri dan sekitarnya. Satu kegiatan yang berusaha saya hindari oleh sebab banyaknya permasalahan non teknis yang terjadi pada masa konstruksi dilakukan, sedangkan optimisme akan penanggulangan banjir yang terjadi di ruas jalan Dewi Sri sepertinya masih 60:40. kenapa saya katakan begitu, karena sangat sulit membendung air yang datangnya dari arah Tukad Mati, salah satu sumber air terbesar disekitar kawasan tersebut.

Atas alasan itu pula saya akhirnya jauh lebih menikmati tugas baru yang dibebankan pada saya, yaitu mempersiapkan dokumen Teknis untuk beberapa rencana kegiatan ditahun 2009 mendatang. Diantaranya survey kerusakan /kondisi ruas jalan yang dimaksud sekaligus menyusun Anggaran Biaya yang sekiranya dapat dilakukan dengan target biaya yang telah ditentukan sebelumnya.

Barangkali satu-satunya hiburan saya dibulan ini adalah meluangkan waktu bersama putri kecil kami Mirah GayatriDewi, yang seminggu belakangan ini terkena batuk tularan dari saudara-saudari kecilnya. Putri kami yang kini sudah mulai terbiasa berada pada ’baby walker’nya, plus tawanya saat saya ajak berkeliling rumah dengan motor Tiger maupun motor Vega Ibunya. Apalagi saat saya ajarkan untuk ’salam sun’ yang langsung ditanggapi dengan memasukkan tangan saya kemulutnya. Hahaha….

Thesis. Ya, satu-satunya kewajiban saya untuk bisa menyelesaikan kuliah Pasca yang nekat saya ambil setahun lalu, rupanya menyita perhatian paling besar. Ini saya katakan karena rekan-rekan kuliah lainnya saling berlomba untuk memulai dan mengakhiri semester ketiga ini dengan Ujian Seminar (tahap pertama). Jadilah saya kelimpungan menghimpun data pustaka serta berusaha mendapatkan mood ditengah tantangan dan hiburan diatas tadi. Yah, bagaimanapun mood itu yang paling sulit saya dapatkan. Apalagi dengan tampilnya ‘rumah’ baru saya ini, membuat semangat untuk nge-BLoG berkibar lagi.

Ngomongin soal BLoG, ternyata hingga hari inipun saya masih belum tertarik untuk menghiasi tampilannya dengan iklan adsense maupun afiliasi, walaupun tanda-tanda kesana sudah lebih dari enam bulan lalu saya pelajari. Barangkali karena kesibukan saya seperti yang diceritakan tadi, membuat mentoknya ide dan kemauan untuk sekedar iseng mencoba mengais dollar seperti halnya rekan BLoGGer yang lain.

Ohya, dibulan ini pula saya mulai gabung di satu komunitas baru yang bernama Facebook. Kabarnya FB dibuat awalnya untuk konsumsi komunitas sebuah universitas diluar negeri sana, yang kemudian berkembang menjadi sebuah wadah layaknya Friendster. Ajang sharing antar teman terutama bagi mereka yang saling mengenal satu dan lainnya. Hanya saja mengingat tingginya volume data yang dibaca tiap kali saya masuk ke FB hingga kuota 1GB sebulan paket Starone jadi gak terasa, aktivitas di FB-pun gak bisa saya lakukan sebebas aktivitas nge-BLoG.

Yah, akhirnya esok pagi saya sudah harus memulai hari baru lagi. Hari dimana segala kesibukan bakal menyita waktu jauh lebih banyak. Yang artinya waktu untuk menyelesaikan Thesis akan makin sempit dan tentu waktu yang diluangkan untuk keluargapun makin jarang….

> PanDe Baik diakhir bulan ini ditemani oleh lantunan tembang akustik milik Firehouse plus celoteh si kecil MiRah yang sepertinya sudah mulai meracau kata ‘Bapak’. Ah, senangnya menemanimu Nak….. <

Salam dari Pusat Kota Denpasar

Mulai dari Awal (lagi) PanDeBaik.com – PanDeividuALity.net

22

Category : tentang DiRi SenDiri

Cukup lama saya terpekur didepan laptop akhir-akhir ini. Entah kemana larinya semangat untuk melahirkan tulisan-tulisan kecil yang biasanya hadir guna meramaikan isi blog yang sudah dua tahun setengah dikelola tanpa ada bau-bau iklan komersial.

Yah, usai sakit saya terakhir kemarin itu, mengakibatkan mood saya hilang secara mendadak, baik untuk sekedar ngeblog, jalan-jalan ke blog teman, hingga mengikuti perkembangan Facebook yang baru saya coba beberapa hari terakhirpun tiada mampu mewarnai hari yang saya miliki.

Selain dipicu oleh Pingsan yang salah posisi tadi itu, barangkali hal yang paling besar berperan adalah rasa kehilangan pada blog yang saya kelola ini. Bukan apa-apa, hanya kesalahan terletak pada pemilik hosting dimana kepercayaan dan toleransi yang begitu besar saya berikan hingga detik-detik terakhir, akhirnya menghadapkan saya pada satu keputusan untuk ‘pindah kelain hati’. Mengikuti rekan-rekan lainnya….

Kesulitan mengakses dan meng-update menjadi salah dua kekecewaan saya, dimana tak satupun permakluman yang saya terima, baik lewat email, sms hingga telpon langsung, selama dua minggu terakhir. Ah, barangkali saja Mas EGY yang selalu saya hormati baik di milis Bali Blogger juga dalam konteks langsung, sudah menganggap ‘free hosting’ atas blog saya ini sudah tak berlaku lagi, sehingga sms maupun telepon saya seperti angin lalu saja. Tak ditanggapi apalagi diterima dalam hati.

Ah, sudahlah, ngapain juga dipanjang-panjangin lagi. Paling tidak, seorang Mas EGY pernah berjasa pada saya memperkenalkan domain ‘pandeividuality.net’ dan tak kenal lelah saat membantu saya men-direct alamat ke mbah Google saat konflik diwaktu lalu.

Kini, saya harus mulai dari awal lagi. Membangun image blog dengan ide dan kisah yang dahulu pernah tumpah ruah, hingga masuk daftar waiting list, sebaliknya hari ini tak satupun hadir walau sekedar meramaikan hari.

Menerima bantuan dari Bli Hendra lewat wadah baru Beliau, saya hadir kembali ditengah rekan-rekan yang masih berusaha setia untuk sekedar mampir dan menengok keadaan saya, sehingga dihaturkan yah, hanya ucapan terima kasih (belum kesampean untuk makan-makannya). Semoga saja, blog saya yang baru ini berkenan pula untuk di-update pada blog rekan masing-masing, atau malah pada daftar yang akan dikunjungi lain kali.

Selamat Tinggal PanDeividuALity.net, dimana saya pernah tinggal dan ada hingga mampu tampil pada Google halaman pertama di beberapa keyword yang dicari hingga kini. Mohon maaf pula, jika keinginan saya untuk menyimpan kemesraan saya dan istri (PanDe dan Alit), dalam sebuah nama BLoG akhirnya harus terkubur dan tak dapat dilanjutkan lagi, atas keinginan pemilik hosting lama. Semoga hubungan kami dalam dunia nyata tak se-tragis nasibmu di dunia maya……

Selamat Datang pula PanDeBaik.com,

PanDe Baik dalam Paradigma Baru. Ha… seperti ParPol GolKar saja. Mencoba eksis dengan alamat baru, thema yang lebih menyegarkan dan harapan saya pribadi, ya isi yang jauh bisa lebih berguna bagi rekan dan mereka yang berkenan mampir kemari.

Hanya saja, dengan segala keterbatasan yang ada meliputi belajar menata blog dan isinya kepada Bli Hendra hingga penyelesaian transfer data juga administrasi bla bla bla, blog ini belum bisa saya kelola kembali (update posting) dalam waktu yang cukup lama, barangkali sambil menunggu satu event penting yang bentar lagi datang. Yah, sambil memberikan waktu luang dan kesempatan pada Thesis saya yang mangkrak, tampaknya hati kecil sudah memohon-mohon agar bisa diselesaikan tepat waktu.

Salam dari Pusat Kota Denpasar, PanDe Baik.

Akhirnya, Rumah Baru….

6

Category : tentang DiRi SenDiri

yah, saya blom bisa bilang apa-apa sehubungan dengan tampilnya rumah baru saya di dunia maya, setelah alamat saya kemaren di pandeividuality.net gak bisa diakses dalam waktu yang cukup lama, lantaran ada trouble (lagi dan lagi) pada hosting terdahulu Rakhahost. Lumayan bikin mangkel karena gak ada pemberitahuan, permakluman baik lewat telpon, sms apalagi email.

So, here we are. PanDe Baik dengan rumah barunya, sebuah nama yang mudah diingat tentu. Semoga hari-hari baru saya disini bisa mengembalikan spirit saya buat ngelanjutin BLoG dengan segudang cerita yang barangkali bisa sedikit berkesan di hari rekan.

Mohon Maaf atas ketidaknyamanan yang hadir dirumah baru saya, berhubung masih banyak yang harus dibenahi dan dikemas lagi. Jadi, nikmati saja dulu, semoga dalam waktu dekat rumah saya bisa menjadi jauh lebih baik lagi.

Salam dari Pusat Kota Denpasar

Senangnya bisa Kembali dari kematian

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Kalo judul diatas diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, bisa jadi mirip dengan album cadas milik grup Thrash ‘Obituary-Back From The Dead’. Tapi posting ini bukanlah bercerita tentang album yang menjadi favorit saya sepanjang masa itu dari genre Thrash, tapi satu pengalaman saya yang dapat dipercaya atau tidak, sempat saya alami 13 November 2008 kemarin.

Berawal dari suhu tubuh 37,5 derajat Celcius, membuat badan saya agak meriang dan lemas 12 November, malam sebelumnya sepulang dari Melukad (pembersihan diri) di Griya Pohmanis (tempat saya berobat dahulu). Merembet pada mencret yang saya alami tengah malam berlangsung 4 kali hingga pagi tiba. Nafsu makanpun turun…

Pulang dari dokter umum dekat rumah, saya hanya mampu menelan bubur 5 suap sendok makan, plus sedikit telur mata sapi. Ini lantaran mencret saya kumat lagi. Waktu hingga siangpun saya lewati dengan tidur beristirahat tanpa sedikitpun tersadar untuk minum air (karena menurut dokter, saya harus banyak minum). Ohya, tekanan darah saat diperiksa tadi berkisar 110/berapa ya ? Lupa menanyakan.

Siang sekitar pukul 12.30, saya terbangun oleh teguran Ibu yang mengingatkan saya untuk makan siang. Terbangun dengan sedikit rasa pusing, saya bergegas ke kamar mandi untuk kencing terlebih dulu, masih dalam kondisi setengah sadar. Belum usai aktivitas kencing, saya merasakan pusing dan limbung, badan rasanya tak punya bobot dan memaksakan diri untuk keluar ke ruang keluarga dan duduk di kursi dekat jendela.

Masih sempat Ibu mengingatkan saya kembali untuk makan siang, namun saya tampik dengan alasan masih lemas. Mungkin ini karena kurangnya cairan yang ada dalam tubuh mengingat mencret yang saya alami. dan semua mendadak gelap….

……gelap….. (yang terdengar hanya suara, entah suara siapa)

……gelap….. (saya bisa mendengar ada suara Ibu yang menangis meminta saya agar menguatkan diri)

……gelap….. (saya tak dapat mendengar apapun lagi)

……gelap….. (saya kembali tersadar namun belum mampu membuka mata)

……gelap….. (saya mendengar ada banyak suara yang berteriak dan menangis)

……gelap….. (saya berusaha sekuat tenaga untuk membuka mata)

……….. ……….. (saya dapat melihat walau samar, keluarga mengelilingi saya dan meminta agar saya terus berusaha menguatkan diri)

……….. ……….. (saya dapat merasakan, ada orang yang memegang kedua kening saya, ada yang mengurut dada sampai panasnya terasa, ada yang memegang kedua tangan, ada juga yang memijat-mijat kaki)

……….. ……….. (saya berusaha berucap, mengeluarkan kata-kata agar tak membuat mereka khawatir)

……….. ……….. (saya berusaha berteriak agar mampu menguatkan diri sendiri)

……….. ……….. (saya tersadar…)

Lama baru saya bisa tersadar dari itu semua…

Saya diminta mengingat kembali, apa yang saya alami tadi. Saya diajak berbicara tentang apa yang saya rasakan. Saya benar-benar heran, karena walaupun tubuh saya lemas dan masih pusing, tapi saya merasa baik-baik saja.

Setelah saya bisa mengingat yang saya alami sebelumnya, Bapak Ibu pun langsung menghubungi Istri untuk memintanya segera pulang, lantaran kondisi saya yang sudah tersadar saat itu. Mereka juga langsung menghubungi kakak perempuan agar pulang sebentar untuk mengantarkan saya ke UGD RS Sanglah.

Masih dalam suasana hiruk pikuk kepanikan orang tua, ditambah keluarga yang masih memegangi saya dan berusaha membuat saya senyaman mungkin, saya mengungkapkan keinginan untuk berbaring ditempat tidur dan baru menyadari kalau saya telah mengeluarkan kotoran cair (feses) di dalam celana.

Saat di pembaringan, sambil menunggu Istri dan kakak perempuan datang, saya berusaha menanyakan apa yang terjadi, tapi jawaban bahwa tak ada apa-apa, semua baik-baik saja selalu terucap dari setiap keluarga disekitar saya. Hanya permintaan agar saya menguatkan diri dahulu yang terpenting.

Sesampainya di Triage UGD RS Sanglah, saya langsung saja ngeloyor ke salah satu bed pasien, tanpa bantuan keluarga yang saat itu masih panik menghubungi dokter jaga. Dengan pedenya, saya katakan bahwa saya tidak apa-apa. Cuma sedikit pusing dan lemas.

Saat tekanan darah diperiksa, menunjukkan angka 150/180, cukup tinggi kata perawat yang memeriksa. Asumsi dokter, bisa melonjak tinggi, barangkali lantaran ‘peristiwa’ yang saya alami sebelumnya. Sayapun di-infus dan dipantau perkembangannya dua jam sekali. Hasilnya membaik, tekanan darah pemeriksaan terakhir turun menjadi 140/100, sehingga malam itu juga saya diperbolehkan pulang.

Dirumah, saya memilih beristirahat dengan memakai celana panjang, kaos kaki dan sweater, hal yang biasa saya lakukan jika suhu tubuh meningkat. Tujuannya agar keringat lebih mudah dan cepat keluar saat tidur.

14 November, pagi hari. Saya terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya, nafsu makanpun kembali seperti biasa. Hanya saja, saya agak shock saat mendapatkan cerita lengkap dari Istri, perihal peristiwa yang saya alami siang kemarin. Istri mengetahuinya dari Ibu, malam setelah saya tidur, sambil menangis Beliau bercerita.

Saat saya duduk lemas dikursi dekat jendela itu, sempat terbujur kaku dengan bibir yang sudah membiru. Nafaspun sempat terhenti (entah karena denyut jantung lemah), dan tak menjawab saat Ibu bertanya. Ibu lalu menjerit minta tolong pada keluarga yang ada.

Itu berlangsung cukup lama…..

Pantas saja saat saya tersadar, Ibu dan keluarga lain menangis dan berteriak agar saya menguatkan diri…..

Sedikit terhenyak dan membuat saya merenung. Mungkin saat itu memang belum saatnya bagi saya untuk meninggalkan keluarga yang masih sangat membutuhkan kehadiran saya. Belum saatnya saya meninggalkan seorang Istri yang penuh cinta dan juga seorang putri kecil yang lucu. Belum saatnya saya berpisah, lantaran belum banyak hal yang baik dapat saya lakukan pada lingkungan sekitar. Seperti tembang rohani milik Ungu.

14 November sore, saya merasakan hal yang terbaik yang pernah ada…

Suhu tubuh kembali normal, begitupun gangguan pencernaan. dan yang paling menggoda tentu bercanda dengan Mirah Gayatridewi, putri kecilku nan lucu ditengah senyuman Istri, kedua orang tua dan keluarga tercinta.

‘Senangnya bisa Kembali dari Kematian..’

PS: Terima Kasih Tuhan, atas kesempatan yang Kau Berikan untuk Hamba-Mu yang hina ini, Terima Kasih masih bisa kumiliki umur untuk melihat kembali Istri dan anakku juga Kedua Orang Tuaku dengan penuh cinta kasih….

Inspirasi-ku

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam waktu dekat, BLoG ini bakalan bertambah lagi isinya. Rencananya sih pengen nulis tentang hal-hal yang menjadi sumber inspirasiku atas tulisan dalam blog selama ini, atau segala perbuatan juga ide yang terbang dalam kepala. Entah itu berwujud karya dari orang lain, artis musik misalnya, atau malah jurnalis media lokal yang gak henti-hentinya bersikap kritis terhadap apapun. Entah nanti jadinya apa.

Yang jelas, tulisanku nantinya tak akan menyinggung perasaan siapapun juga, kujamin. Karena ini hanyalah sesuatu yang akhirnya mampu mengubah diriku dari satu menjadi dua, dari sedih menjadi gembira dan lainnya. Toh tak ada salahnya untuk menuliskan isi ‘diri sendiri’ yang barangkali memang benar buruk atau malah baik bagi orang lain. Itu terserah siapapun bisa menilainya.

Ohya, mohon diingat pula, bahwa BLoG ini lahir secara tak sengaja dan awalnya hanya mengungkapkan hal-hal tak penting untuk sekedar menjadi catatan dan cerita bagi diri sendiri dikemudian hari. Jadi, kalaupun ada sesuatu yang tak berkenan atau merasa jengkel bahwa tak ada yang dapat ditangkap dan disimpan dalam hati dari tulisan saya selama ini, mohon alamat BLoG ini di-Delete aja. He….

Kenapa sih BLoG ini gak pernah Kritis lagi ?

7

Category : tentang DiRi SenDiri

Pertanyaan diatas sempat dilontarkan oleh seorang rekan yang begitu rajin berkunjung ke BLoG ini via sms. Dia sempat pula mengungkapkan kekangenannya perihal tulisan posting saya yang kadang nyelekit dengan gaya yang tentu jauh beda dengan tulisan di media cetak. Sambil mendorong dengan semangatnya untuk gak terlalu peduli dengan orang lain yang kebakaran jenggot akibat ketusuk tulisan saya. ‘So what gitu loh..;

Saya sih ngejawabnya simpel aja. Belajar dari Pengalaman. Karena Pengalaman itu kata orang bijak adalah pelajaran yang sangat berharga. Pengalaman itu pula yang mengajarkan pada saya, betapa sulitnya jika kita ingin bersikap kritis. Oke, saya ingin terbuka pada beberapa respon atas tulisan saya sebelumnya.

Peringkat pertama ya Polemik dengan Radar Bali tempo hari, perihal pembelaan proyek Dewi Sri yang dikatakan mangkrak dan Wartawan yang dateng minta duit. Itu asalnya dari nurani saya berdasarkan pada fakta dilapangan yang benar adanya. Hanya saja karena kalimat penyampaian yang barangkali terlalu menusuk bagi orang lain, maka berujung pada ancaman yang akan meng-UU ITE-kan saya lantaran posting tersebut. Dan efeknya tak hanya itu saja…

Saat membaca Radar Bali 9 Oktober lalu, berita dan foto Dewi Sri menempati porsi halaman pertama. Lengkap dengan kata-kata yang menggambarkan kejadian ini sangat memalukan dilakoni Pemda Badung akibat dana anggaran yang terbatas. Coba tebak apa tanggapan saya ? Ketawa sendiri. Huahahaha…

Sebegitu besarnya respon Radar Bali atas tulisan saya kemaren rupanya.

Kedua saat saya menulis tentang PNS dan ToGeL. Entah bagaimana pula para ToGeLer yang sering beraksi merumuskan hitungan matematika diruang kerja kantor pada memilih pindah lokasi dalam menjalankan aksinya ke Bale Bengong (bukan BloGne Om AnTon lho ya) didekat kantin, sambil meminta para rekan lain untuk hati-hati pada saya. Kikikikik…

Ketiga itu tulisan saya perihal kebobrokan PNS dan perilakunya. Ada yang sampe berkomentar ‘ah ini sih menjelek-jelekkan dirimu sendiri’. Lho, ya memang begitu maksudnya kok. Istilah saya malahan ‘seperti menepuk air di dulang’ atau ‘makecuh marep menek’. Tetep aja ada rekan yang gak terima kalo kelakuan suka mbolos, dan baru hadir kalo hari gajian aja diungkap di BLoG ini.

Keempat ada juga saran meminta saya untuk menghapus posting-posting yang berkaitan dengan kegiatan rutin saya usai ngecek proyek yang sedang berjalan. Jelas maksudnya agar bobrok pekerjaan yang dicuri-curi tak terekspose, khawatir malahan bisa mengundang KPK. Wah…

Belajar dari pengalaman diatas, akhirnya saya memutuskan untuk gak nulis yang kritis-kritis lagi deh. Susah. Apalagi kalo sampe mengundang respon rekan lain yang agak berlebihan menurut saya. Toh juga itu benar adanya.

Makanya posting-posting saya belakangan ini ya kalo ndak tentang hobi, ya kuliah dan keluarga. Begitu pula pada blog saya yang lain. Cukup bercerita tentang putri kami Mirah Gayatridewi yang kecil dan lucu, hobi gadget dan juga koleksi lirik lagu. Yakin banget semua itu gak bakalan mengundang masalah bagi rekan lain. Ambil langkah fun aja deh.

Tentu aja ada resiko dari itu semua. Pembaca BLoG ini juga makin turun, mungkin lantaran bosen ngebaca posting saya yang terlalu menikmati diri sendiri ini. Tapi memang itu kok yang saya harapkan sejak awal mulai ngebikin BLoG ini. Gak ada traffic pembaca yang tinggi dan malah jadi beban, gak ada keberatan atas tulisan saya yang keseringan onani, gak muncul di halaman pertama Mbah GoogLe saat ngetik Keyword tertentu, gak pake iklan komersial. It’s just me. Sorry. He…

Antara Rehat, Liburan dan Persiapan ; Nol Besar

3

Category : tentang DiRi SenDiri

Mengambil keputusan untuk Rehat nge-BLoG awal bulan ini, ternyata bersamaan dengan umat Muslim yang merayakan Hari Kemenangannya. Secara kebetulan pula, kebijakan Pemerintah untuk mengambil cuti bersama bagi para pengabdi negeri ini, memberikan waktu luang selama seminggu penuh, seakan mendukung keputusan Rehat untuk beneran istirahat dan konsen pada Persiapan Thesis.

Apa daya, libur semingguan tak lantas mampu mewujudkan Thesis yang diharapkan lantaran dirawatnya putri kami beberapa waktu lalu di RS Sanglah, lumayan membebani pikiran yang sudah dipenuhi oleh desakan untuk menyelesaikan kuliah secepatnya.

Pulangnya putri kami pada hari Minggu sebagai awal dari liburan kemarin, hanya berselang satu hari saja, Putri kami mengalami Diare atau bahasa rakyatnya ya Mencret. Padahal selama perawatan di RS Sanglah, pemeriksaan pada feses (kotoran) tidak ditemukan kejanggalan alias normal. Begitu pula saat dicurigai Muntah dan panas badan putri kami karena kondisi THTnya, eh normal juga. So, untuk sementara penyebabnya ditenggarai disebabkan oleh Virus. Ini karena dilingkungan rumah, ada 2 keponakan yang mengalami hal yang sama, hanya saja muntahnya tak sebanyak putri kami.

Belum selesai disibukkan oleh diare putri kami, kabar dukapun datang. Nenek yang ditinggal dirumah sebelah meninggal dunia. Beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dirumah duka setelah selama seminggu penuh mengisi ruangan pasien di RS Puri Raharja, bersamaan dengan putri kami. Nenek ini adalah saudara kandung Kakek saya yang dari Ibu. Tidak menikah hingga umurnya saat meninggal diperkirakan sekitar 85an tahun.

Hari-hari liburanpun disita jauh lebih banyak karena kami sekeluarga harus mengatur waktu bergantian, agar menyempatkan diri hadir disetiap prosesi upacara, sambil merawat dan menjaga putri kami. Rencananya hari ini (Selasa) akan dilakukan upacara Pengabenan ke setra Bungkeneng jalan Ratna. Berharap tak akan ada kasus adat pelarangan menggunakan Setra seperti berita kemaren. Ugh, hari gini gumi Bali masih saja disibukkan oleh kasus-kasus adat antar saudara sendiri.

Seakan cobaan yang belum usai, Ibu kemaren malam terjatuh di kamar mandi, saat ingin mandi sepulang dari rumah duka. Terpeleset sendiri sedikit tergesa lantaran sudah kangen ingin ngemong putri kami, setelah seharian penuh berada dirumah duka. Syukur Beliau tak mengalami cidera berat, hanya bokongnya yang terasa nyut-nyutan, langsung aja dipanggilkan Pak Reti, orang yang kerap dicari untuk memijat.

Hmm… rasa-rasanya Otonan (penulis) yang dilakukan hari Minggu kemaren gak ada kesannya sama sekali, hanya sekedar lewat karena beruntunnya cobaan yang datang. Berharap upacara Otonan pertama bagi Putri kami hari Selasa depan 14 Oktober 2008 (bersamaan dengan hari ULTah Ibunya), tak ada lagi beban, sehingga kami dapat lebih konsentrasi pada jalannya upacara.

Liburan oh liburan. Hingga hari terakhirpun tak sempat dinikmati dengan penuh suka cita dan lebih bersantai. Apalagi untuk mempersiapkan Thesis seperti yang diharapkan. Nasib… Nasib…