Tentang Buku Pracasti Pande

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Ide untuk menyalin kembali Buku Pracasti Pande yang disusun semeton bli bagus Gede Saptha Yasa sebetulnya datang saat melihat halaman web WargaPanDe.org yang mulai lama terbengkalai akibat minimnya informasi yang dapat disampaikan. Rencana awalnya, isi keseluruhan buku akan di-scan dan disalin ulang kemudian dipublikasi satu persatu  agar secara content isi web tersebut dapat secara berkala ter-Update.

Buku Pracasti Pande yang kemudian saya dapatkan dari tangan Jero Mangku Wija dari Peraupan ini rupanya merupakan babad atau cerita yang mengisahkan semeton Pande Bratan meski dalam beberapa bagian sempat pula mengisahkan cerita turunnya Bhisama Pande di Pura Indrakila.

Sayangnya sebenarnya ada sebelas bagian yang mampu saya pecah dan publikasikan satu persatu namun mengingat bagian terakhir isinya cukup panjang, maka dengan terpaksa saya pending terlebih dahulu untuk memberi kesempatan tulisan lain hadir lantaran secara waktu dan kepentingannya sudah cukup mendesak.

Namun seperti Janji yang sudah saya sampaikan beberapa waktu lalu bahwa ketika buku ini selesai disalin ulang, kelak akan dipublikasikan dalam format digital untuk memudahkan Semeton lain menyimpan dan membacanya dimanapun berada. Itu sebabnya salah satu tujuan awal salin ulang buku ini adalah untuk menyebarluaskan pustaka yang ada kaitannya dengan Dharma Kepandean, dengan harapan semeton kami yang berada diluar Bali dapat pula menikmati ilmu yang sama dengan yang kami miliki.

Untuk itu, bagi semeton yang ingin mendapatkan Buku Pracasti Pande seperti yang telah kami sajikan bagian per bagian, silahkan mengunduhnya dari alamat berikut. Besar harapan kami, agar buku tersebut dapat disebarluaskan tanpa maksud komersial, untuk menghormati jasa besar bli Gede Saptha Yasa yang sudah bersusah payah menyalinnya sejak awal.

Download Buku Pracasti Pande (Beratan)

Terima Kasih, dan Semoga Buku yang berkaitan dengan Pande berikutnya bisa dengan segera disebarluaskan pula. Ohya, Selamat me-Tumpek Landep yah bersama Keluarga Besar Pande dimanapun Semeton berada.

Denpasar, Desember 2011 – PanDe Baik

Pracasti Pande (Bagian 10 – Turunan Pande Bratan terpencar)

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

TURUNAN PANDE BRATAN TERPENCAR

Pada suatu hari beberapa orang rakyat Ki Pasek Kayu Selem dan Batur menjajakan dagangan melalui desa Bratan. Sesampai disana matahari telah terbenam, hari siang berganti malam, dan mereka menginap di Desa Bratan. Yang menjadi pemimpin desa Bratan ketika itu adalah I Gusti Pande Bratan yang seharusnya bertanggungjawab dengan Keamanan desa dan melindungi orang pendatang yang menginap, supaya desanya tidak ternoda bila penginap itu mendapat bencana didesanya.

Tetapi agaknya mendapat cobaan dari Tuhan dan kutuk dari kawitannya Bhagawan Pandya Bhumi Cakti, maka I Gusti Pande Bratan timbul keangkuhannya, mabuk karena berasa diri kuat, tidak ingat dengan tata susila dan tata tertib adat desa. Maka disambutnya orang-orang niaga yang minta menumpang bermalam disana dan merampas barang-barang perniagaannya. Hal sedermikian itu acap kali dilaksanakan untuk mendapat keuntungan secara mudah.

Ki Pasek Batur tidak tertahan marahnya mendapat laporan berita yang mengecewakan itu, lalu memerintahkan oranmemukul kentongan desa, agar orang desa dan sanak keluarganya bersiap dengan senjata untuk datang ke desa Bratan menghukum orang Bratan yang suka melakukan karma.

Beberapa lama kemudian gemuruhlah orang-orang Batur datang lengkap dengan senjata, diantaranya Ki Pasek Batudingding, Ki Pasek Kayu Selem, Ki Pasek Cempaga, Ki Pasek Celagi Manggis, Ki Pasek Babalangan, Babandem, Poh Tegeh dan Pulasari, semua telah bersiap akan menggempur Pande Bratan. Setelah mendapat perintah mereka serempak berjalan menuju desa Bratan.

Setelah tiba ditempat yang dituju, maka terjadilah perkelahian yang sangat sengit diantara Pasek Batur dengan Pande Bratan. Perkelahian ini berlaku sehari penuh, sama-sama pantang mundur, tombak-menombak, tikam-menikam dengan keris dan pedang.  Disela-sela suara bedil, bangkai bergelimpangan tidak memilih tempat.

Akhirnya tidak kuatlah warga Pande Bratan bertahan, karena musuhnya sangat lebih banyak dan rakyatnva banyak yang  meninggal dunia. Sedang yang luka parah, semua menyesalkan perbuatan Pande Bratan yang tidak mengenal perikemanusiaan itu. Yang masih hidup segera berlari bersama anak isterinya serta membawa kepunyaannya seberapa yang dapat dibawa olehnya tersebar menuju desa lain.

Diantara warga Pande yang masih hidup segera lari pergi ke Taman seraya membawa “Pustaka Bang” yaitu Empu Djanggarosa. Pande Sarwadapindah ke Desa Kapal, Arya Pande Ramaya berasrama di Kawicunya, Empu Tarub pindah ke desa Marga, Arya Pande Danuwangsa pindah ke desa Gadungan, Arya pande Swarna pindah ke Buleleng menghamba kepada Ki Ngurah Panji Alot.

Arya Pande Tonjok pindah ke Panasan Klungkung, ada pula ke Tusan dan ke Badung. Arya Pande Karsana pindah ke Badung, Arya Pande Ruktya pindah ke Bangli, dibawa arca kawitannya dua buah, saudara sepupunya pindah ke Samu. Warga Arya Pande Bratan tidak boleh mengatakan ming tiga (bersaudara tingkat tiga sepupu) atau lebih, sejauh-jauhnya ming dua (mindon). Dinasehatkan tidak boleh lupa terhadap sanak keluarganya, bila lupa akan dikutuk oleh Bhatara di Penataran Arya Ida Wana yang menetap didesa Bajan menjadi undagi.

Tidak diceritakan panjang tentang para warga Pande itu masing-masing, hanva diceritakan di sini Empu Tarub yang berasrama di Marga, melakukan yoga di Penatarannya pada hari Tumpek Kuningan. Sedang hari tanggal (Cuklapaksa), menyembah (ngaturang bakti) pada kawitannya, maka ada  didengarnya sabda Bhatara dernikian.

“Hai puyutku, janganlah engkau bersedih terhadap kemelaratanmu ini, semua adalah kutuk Tuhan menurut karmapalamu sebagal keturunan brahmana yang berlaku jahat membunuh orang (naramangsa). Dan yang kamu bunuh itu adalah sanak saudara sendiri, turunan Pasek Batur, satu kawitan engkau dengan Warga Pasek, sebab mereka itupun keturunan Brahmana dari Empu Ketek kakak dari Empu Brahmaraja Kapandyan.

Kemudian blia engkau membangun yadnya suka atau duka sebaiknya jangan mempergunakan tirta Brahmana, beritahukanlah hal ini kepada  saudara turunanmu,  maksudnya supaya engkau sendiri jangan lupa kepada Dharma Kepandaian, terutama kepada brahmana pencipta alam ini.

Dan apabila engkau bermaksud bakti kepadaku, pada waktu Tumpe­k Kuningan, sembahlah aku dari “Pahibuhan”mu ini dengan hati suci bersih, suatu tanda engkau ingat padaku, aku puyutmu Empu Brahmana Dwala.”

Tidak diceritakan lebih lanjut halnya Empu Tarub di desa Marga telah menurunkan keturunan anak cucunya, dan tidak lupa dengan nasehat kawitannya yaitu tetap bakti kepada Tuhan dan leluhurnva, berkasih-kasihan dengan dengan masyarakat desa, setia kepada perjanjian, sehingga masyarakat desa sangat cinta kepadanya.

Kini diceritakan halnya Arya Pande Ruktya di Bangli tetap setia memegang pekerjaan pandai mas dan perak. Waktu itu yang berkuasa di Bangli ialah I Gusti Praupan dan I Gusti Dauh Pamamoran. Entah berapa tahun lamanya memegang kekuasaan maka saat Bangli digempur oleh I Dewa Tirtarum yang bergelar I Dewa Pamecutan disertai oleh para adik-adik bellau yaitu I Dewa Pring yang pindah di desa Braslka dan I Dewa Pindi yang berpurl di Pagesangan. Dalam pertempuran ini I Gusti Praupan tewas ditikam dengan keris yang bernama Ki Lobar.

I Gusti Dauh Pamamoran lari terus pindah ke Camanggawon dikuti oleh Arya Pande Ruktya dan sanak saudaranya Arya Pande Likuh yaitu turunan Pande Bratan.

Adapun Arya Pande Likub terus lari ke desa Timbul dengan membawa dua buah linggaarca kawitannya suami isteri. Tetapi didesa ini ia tidak mendapat penghormatan oleh orang desa sehingga dalam bahasa pergaulan dipandang sebagai orang biasa.

Arya Pande Ruktya bersimpangan lari dengan adiknya karena terus-menerus dikejar musuh, maka tibalah di desa Belahbatuh minta perlindungan Kryan Anglurah Djlantik dan terus diam disana. Tetapi tidak lama usianya tinggal di Belahbatuh maka akhirnya sakit karena kena racun lalu meninggal dengan tidak meninggalkan turunan, akibat ia lupa sama sekali dengan kawitan.

Setelah beberapa tahun berada dalam keadaan demikian, maka turunan Pande Bratan yang lari dari Bangli sadar akan diri dengan halnya sangat lupa dengan kawltan. Sebab itu diusahakannya membuat perahyangan “Ratu Kapandyan” dan “Dalem” Bangli. Semenjak itu baru mendapat kebahagiaan hidup. Demikian disebutkan dalam prasasti Dharma Kepandean.

Pracasti Pande (Bagian 09 – Pande Bratan dan Pande Sadhaka)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

PANDE BRATAN DAN PANDE SADHAKA

Diceritakan Brahmana Dwala setelah ayahnya Empu Gandring Cakti pulang ke Dewaloka, berkehendak akan madiksa menjadi pendeta, tetapi tidak adayang dipandang patut menjadi guru (nabe) di Madura. Untuk itu lalu dibuatnya Arca pelinggihan Empu Bumi cakti dan isterinya Dyah Amrtatma.

Setelah arcanya siap maka ditempatkan diruangan Padmasarana dalam asrama pemujaan (padewaharan). Tiap  hari tidak lupa memuja kawitannya. Tidak beda halnya dengan Sang Ekalawya anak Nisada, hendak turut bersama Sang Korawa, Pandawa dulu belajar ilmu panah kepada guru Drona. Tetapi oleh karena Ekalawya itu seorang keturunan Sudra, ditampik oleh Dang Hyang Drona. Sebab itu ia pergi ketengah hutan ditempat yang sunyi membuat arca lingga Drona.

Demikian pula Brahmana Dwala selalu memuja ditempat lingga kawitannya, karena taatnya maka kawitannya berkenan menganugerahkan Pustaka Bang kepadanya, yaitu ilmu kebahagiaan hidup dan mati. Sebab hikmah ilmu itu beliau hidup tenang dan suka bekerja asta gina, sehingga mendapat julukan anak Wicwakarma karena ahlinya, dengan gelaran Empu Dwala.

Dalam hidupnya berumah tangga telah mendapat dua orang anak laki-laki, yang sulung bernama Arya Pande Bratan dan adiknya bernama Arya Pande Sadhaka.Pada masa itu raja yang memegang pemerintahan di Bali ialah Cri Aji Batur Enggong dengan gelar Cri Maharaja (Dalem) Kresna Kapakisan. Dalem mengatur pemerintahan dibantu oleh para anglurah semua, para menterinya terkemuka Kyai Anglurah Agung Widhya dan Kyai Anglurah Dauh Baleagung sama ahli dalam pemerintahan negara. Negara Bali aman tenteram dalam perintahan Cri Maharaja (Dalem) Kresna Kapakisan di Gelgel, tidak ada beda dengan Bhatara Kresna disertai oleh Patih Udawa, kebijaksanaannya  mengatur pemerintahan.

Pada suatu ketika Dalem hendak membuat yadnya besar Ang Eka Daca Rudra di Besakih atas nasehat Pedanda Cakti Bawu Rawuh yang menjadi guru agama Dalem dan cudamanti seluruh Bali, karma kebesaran jiwanya seakan-akan penjelmaan Bhatara Pitamaha. Padanda diserahi Dalem memimpin yadnya itu dan mengepalai Para tukang kerja seperti Undagi, Sangging Prabhangkara, para pande Besi, Pujangga, semua cakap dalam pekerjaan. Hanya pande emas perak serta paham menilai serba permata terutama manik-manik. Ia diundang oleh Dalem agar datang ke Gelgel.

Tiada diceritakan halnya ditengah jalan, Empu Sadhaka telah tiba di Istana Gelgel. Sangat heran Sang Empu melihat banyaknya orang yang masing-masing asyik dengan pekerjaannya sendiri-sendiri dan dan cekatan dalam bekerja. Setibanya di istana Sang Empu menyembah dengan sujud kepada raja. Setelah mempersilahkan duduk maka Dalem bersabda.

“Hai Sang Empu,  saya minta tolong kepada Sang Empu, untuk membantu yadnva kami Ang Eka Daca Rudra, buatkanlah upacara yang diperlukan untuk itu.”

Jawab Sang Empu, “Baiklah tuanku. Hamba akan menjunjung sekalian titah Paramecwara untuk membuat segala upacara yadnya tuanku, menurut kekuatan dan pengetahuan hamba.”

Dalem lalu berkenan memberikan emas dan perak kepada Empu Sadhaka untuk dikerjakan. Sang Empu, setelah menerima dengan hormat pemberian raja, lalu mencari tempat yang layak untuk melakukan dharma Kepandaian. Sesudah siap maka Sang Ernpu melakukan yoga mempersatukan kekuatan batinnya terhadap ilmu kepandaian dan mengatur panca bayu serta menghidupkan Pancanyala (api lima) dalam badannya. Tiba-tiba menyalalah api dihadapannya yang keluar dari tapak tangannya, lalu bekerja.

Demikian pula Empu Pande Wesi dan Empu Bangkara masing-masing  mengeluarkan kekuatan batinnya. Dan para pandai kayu (wicwakarma) pun tepat caranya melakukan dharma laksana. Semuanya itu menuruti ajaran Analatatwa. Yang dinamai dengan ajaran Analatatwa ialah ajaran Sang Anala yaitu seorang pandai  pengiring bhatara Rama dulu dalam Utarakanda Carlta. Sang Pande Analagni, pembangun jembatan setubanda yaitu alat untuk menyeberangi lautan. Turunannya yangmasih ada sekarang misalnya Empu Swanangkara, Empu Kapandyan Wesi, Empu Sangging  Prabhangkara, Empu Dharmalaksana yang bergelar Empu Dharmaja, semuanya itu turunan Anala (Analawangsa).

Setelah Yadnya Ang Eka Daca Rudra itu selesai dengan selamat, maka sekalian para Pande diberi anugerah oleh Sri Adji Bali, demikian pula Empu Swarnangkara  puang ke asramanya di Bratan.

Lama kelamaan Empu Swarnangkara di asrama Bratan menurunkan keturunannya diantaranya bernama Arya Danu, Arya Suradnya telah menjadi pendeta (mediksa) bergelar Pande Rsi. Adik-adiknya bernama Pande Tusta dan Pande Tonjok yang bekerja membuat senjata tajam. Yang terbungsu bernama Ida Wana, bekerja menjadi sangging yang  sangat pandai.

Ketika Empu Wulung telah kembali ke alam baka, anak-anaknya semua telah ahli dalam hal Dharma Kepandaian.