Pracasti Pande (Bagian 03 – Bhagawan Pandya Empu Bhumi Sakti)

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BHAGAWAN PANDYA EMPU BHUMI CAKTI

Tiada dikisahkan tentang Hyang Brahma lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah memasuki umur dewasa, kesaktian yang dimilikinya sama dengan ayahnya, kuat melakukan tapa. Lambat laun tersiarlah diseluruh permukaan bumf tentang sakti mantranya Empu Brahmaraja, sehingga banyak orang berdatangan mohon nasehat-nasehat dan penyelesaian yadnya.

Pada masa itu tersebut Patih Madhu di Madura, atas ijin raja Majapahit yaitu Sri Hayam Wuruk, berkehendak akan membangun yadnya, misalnya pitra­-yadnya dan bhuta-yadnya. Kehendaknya ini lama tertekan karena sangat susah dan belum dapat mencari seorang pendeta yang sakti yang saktinya sama dengan Empu Logawe.

Pada suatu ketika Kryan Madhu mendengar berita bahwa digunung Hyang ada seorang Empu Sakti sedang melakukan tapa. Patih Madhu segera berangkat menuju gunung Hyang, dengan maksud mengundang Sang Empu datang ke Madura untuk menyelesaikan pitra-yadnya. Setibanya dipertapaan maka dijumpai Empu Brahmaraja sedang duduk dibalai-balai payasannya. Setelah Kryan Madhu masuk ke halaman asrama segera menyembah Sang Empu yang sedang duduk, lanjut menghadap.

Empu Brahmaraja telah mengetahui nama dan maksud seorang yang datang menghadap itu, segera berkata dengan lemah lembutnya.

“Wahai Kryan Madhu, bapa mengucapkan selamat datang kepada tuan hamba. Sangat senang hati bapa dengan kedatangan tuan hamba baru pertama ini. Apakah maksud yang terkandung hingga tuan hamba datang keasrama bapa ini, cobalah ceritakan dengan sesungguhnya kepada Bapa.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan sejujurnya. “Ya Maha Empu, untuk permulaan kata, ijinkanlah hamba melahirkan bisikan hati hamba serta merta.

Maha Empu, maklumilah perasaan bathin hamba seakan-akan menginjak alam Brahma loka tatkala hamba memasuki halaman asrama ini serta tatkala hamba mendengar sabda suci penyapa Maha Empu. Lapar dahaga hamba serentak musnah akibat hawa suci yang menyelubungi asrama ini.

Maksud utama kedatangan hamba menghadap Maha Empu, ialah dengan hormat mengundang Maha Empu, sudi kiranya datang ke tempat hamba di Madura untuk menyelesaikan pekerjaan hamba mitra yadnya. Hanya Maha Empu berkenan dihati hamba yang dapat akan menyelesaikan arwah kawitan hamba.”

“Duh, Rakryan patih,” jawab Empu Brahmaraja, “bapa akan berkenan meluluskan permintaan anakku datang ke Madura untuk menyelesaikan kawitan anakku, karena memang sepatutnya bapa sebagai seorang Brahmana memuja kawitan anakku.”

Tiada diuraikan tentang percakapan yang lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah berangkat ke Madura diiringi Patih Madhu. Setibanya maka Empu Brahmaraja diberi tempat penginapan dan pelayanan yang layak dipurinya Patih Madhu.

Tiada berapa lama selangnya, maka ramailah tamu-tamu undangan dari luar Madura hendak menyaksikan pekerjaan Patih Madhu dalam Pitra yadnya. Diantara tamu itu tampak datang para ksatria dari Blambangan, Pasuruan, Sumbawa, Sunda, Palembang dan seluruh pulau Jawa, demikian pula raja Bali yaitu Ida Dalem Ketut Ngulesir dengan gelar Dalem Smara Kapakisan sangat mashyur tampan rupa dan perawakannya seakan-akan Hyang Smara menjelma ke dunia. Semua tamu-tamu takjub melihat indah rupanya. Masing-masing tamu itu telah disediakan tempat penginapan dan santapannya menurut adat raja?raja.

Pada hari perayaan pitra yadnya telah tiba, maka sekalian upacara nyadan saji-saji telap disiapkan orang, misalnya susu, minyak, madu, dupa dan air suci telah siap dalam sangku, demikian pula caru (korban) telah diselenggarakan.

Setalah tiba waktunya Empu Brahmaraja naik dibalai pemujaan lengkap dengan pakaian kependetaan, yaitu memakai Bhawa (ketu), Ganitri, bresemajut Salimpet, seakan-akan Rsi Crengga yang sedang menyelesaikan yadnya Maharaja lksawakukula dalam cerita Kanda. Sekalian para tamu serempak melihat sang Empu memuja.

Setelah selesai memuja maka Empu Brahmaraja memanggil Patih Madhu, katanya “Hai Kryan Patih Madhu, bapa telah selesai memuja kawitan anakku dengan mantram Catur Weda. Kini cobalah buktikan betapa pekerjaan anakku, berhasil baik atau tidak.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan segera, “Ya Maha Empu, betapa cara hamba membuktikannya? Siapakah yang patut hamba tanya ?”

“Anakku Patih Madhu,” jawab Empu Brahmaraja “sekalian yang ada dihadapan bapa ini boleh ditanyai.”

Demikian didengar kata sang demikian Empu demikian maka Patih Madhu lalu berdiri, bertanya kepada layang-layang, katanya  “Hai kamu Layang-layang, apakah pekerjaanku ini berhasil baik?”

Seluruh Layang-layang, menjawab dengan serentak, “Ya Gusti dan sekalian Kawitan I Gusti mendapat tempat yang layak disorga.”

Selanjutnya batu ditanya oleh Patih Madhu, batu itupun menjawab demikian. Pohon kayu ditanyainya, pohon itu mengatakan kerjanya berhasil baik.

Patih Madhu sangat gembira hatinya mendengar kawitannya semua menemukan sorga. Para tamu sangat takjub menyaksikan kebesaran jiwa Empu Brahmaraja itu dan semuanya memuji kesaktiannya. Semenjak itu sang Empu digelari Bhagawan Pandya Empu Bumi Cakti, karena Sakti mantramnya.


Pracasti Pande (Bagian 02 – Kisah Brahma Pande)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

KISAH BRAHMA PANDE

Pada zaman purbakala (Asitkala), dimana alam mulai teratur kembali (Swastika) setelah melalui zaman kiamat (Sanghara kalpa) maka Tuhan sang pencipta alam ini (Hyang Parama Brahma) berkehendak akan menciptakan isi alam ini dengan jalan mengadakan dhat purusa dan pradana, yang terkenal diantara Panca Purusa bersama pradhanarja yaitu Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu dan Siwa.

Tidak diceritakan dengan panjang lebar tentang tugas dan perkembangan ciptaan Panca Purusa itu masing-masing untuk mengisi alam ini dengan tumbuh-tumbuhan dan semua mahluk  (Sthawara Janggama) demikian pula silsilah turunannya masing-masing, yang penting diceritakan disini adalah riwayat turunan Hyang Brahma yang berhubungan dengan kisah Brahma Pande.

Pada  zaman Daha, pada kerajaan Singasari di Jawa Timur tersebut ada lima orang bersaudara  yang Iangsung keturunan Bhatara Brahma merupakan pendeta (Brahmana) yang sangat setia kepada tapa. Yang sulung bernama Empu Agnijaya, adik-adiknya masing-masing bernama Empu Witadharma, Empu Kapakisan, Empu Bang Sidimaantra dan Empu Kulputih.  Empu Witadharma berputrakan Empu Wiradharma, yang kemudian berputrakan dua orang, Empu Ketek dan Empu Lalumbang berasrama di Tumapel yang bergelar Empu Gandring.

EMPU BRAHMARAJA

Diceritakan Bhatara Brahma tepekur dipuncak gunung cilasayana bermaksud akan mengembangkan turunan diseluruh permukaan bumi, diantaranya supaya ada yang bertugas membuat perhiasan pakaian para Bhatara dan manusia kelak. Pada suatu hari tatkala Bhatara Brahma sedang dalam tepekur melakukan Tapa mantera memuja Tuhan Maha Esa dengan jalan Brata, Yoga, Samadhi,  tiba-tiba keluarlah api dari paha kanannya dengan nyala yang berkobar-­kobar, seakan-akan Hyang Agni turun menjelma di dunia, lalu terjatuh di tengah telaga Nodja. Tetapi setelah nyala api itu padam, maka Inti hakekat api itu berubah menjadi zat air tirta yang seakan-akan air Gangga, Saraswati, Yamuna dan Narwada. Demikianlah perubahan api itu.

Air tirta itu lalu dipuja oleh Bhatara maka keluarlah seorang anak bayi dari dalamnya dengan wajah durja dan bentuk perawakannya laksana Hyang Sanatkumara menjelma ke dunia ini. Anak bayi itu muncul dari dalam pusaran air tirta sambil menangis, karena jiwanya merasakan bahwa lahirnva kedunia itu tidak melalui saluran biasa, yaitu tidak tidak mempunyai orang tua yang mengasuhnya semasa umur bayi.

Dengan tiba-tiba terlihat suatu api (teja) yang amat terang cahayanya diatas suatu kedudukan padmasana bagaikan manik melayang-layang. Jiwa anak itu berkata “Pekulun Tuhan yang menjiwai semesta alam ini dan yang berbadan sukma gaib, hambamu mohon belas kasihan Tuhan untuk memberi petunjuk­ siapakah sebenarnya kedua orang tua hamba sehingga lahir seperti ini ? ya Tuhan, tunjukkanlah hambamu yang lemah ini”

“Hai anakku” jawab Bhatara Brahma “aku ini adalah Prajapati (sebutan  Brahma yang berarti raja alam) yang menjadi bapamu”

Sementara itu jiwa anak bayi itu mulai dapat mengeluarkan kata-katanya melalui mulut badan jasmaninya, seraya menyembah katanya, “Sembahku terhadap paduka Sang Hyang Pitamaka (sebutan Brahma yangberarti bapa atau kawitan seluruh alam). Siapakah yang patut memberi anugerah pemellhara, sementara hamba berbadan bayi, yang terutama memberi didikan dan bimbingan tentang hakekat kebenaran hidup sebagai seorang manusia, sebab banyak penjelmaan atma yang menjadi berbagai golongan makhluk di dunia ini ?”

“Benar katamu wahai anakku” jawab Brahma. “Dari alam niskala bagi kamu anakku, pemelihara manusia biasa, tidak perlu bertapa lebih dahulu, aku akan menganugerahi engkau sebagian kesaktianku. Dengan demikian tidak perlu lagi pertolongan orang lain. Sejak saat ini aku beri nama engkau Empu Brahmaradja.”

Demikianlah sabda Hyang Brahma, maka anak bayi itu tampaknya kian besar dan kuat, dapat dengan sendirinya berenang pergi ketepi telaga, kemudian berkata pula, “Ya Tuhan, bagaimana hambamu akan melakukan karya tangan yang dapat mernberikan upah jiwa atau sandang pangan bagi hambamu, karena belum berpengalanian hidup sebagai manusia. Kewajiban apa yang patut hambamu kerjakan yang dapat merupakan sumbangan jasa kepada dunla.”

Jawab Bhatara Brahma, “Anakku, kamu Empu Brahmaradja, baiklah, kini aku memberikan kepadamu suatu pekerjaan yang patut menjadi kewajibanmu dan dapat pula kamu menyumbangkan jasa baikmu kepada dunia, tetapi harus didasari dengan, kejujuran dan hati yang tulus. Pekerjaan dan kewajibanmu aku namai, Dwi Labha, yaitu Angandring dan Amande Galuh.”

ANGANDRING DAN AMANDE GALUH

Yang dinamai Angandring ialah pekerjaan membuat segala senjata yang tajam. Yang disebut Amande Galuh adalah suatu kewajiban membuat sampingan yaitu segala pakaian dan perhiasan orang yang menjadi wiku (pendeta) dan kesatria Abhiseka Ratu.

Nasehatku yang penting bila engkau telah memulai pekerjaan itu didunia, janganlah lupa atau melepaskan ajaran Dharmakriya dari batinmu. Dharmakriya artinya segala pekerjaan dalam Dwi Labha itu, patut dikerjakan sampai selesai dan beres, berdasarkan hati setia, jujur dan tenang, semua itu disebut “Catur Dharmakriya”

Suatu contoh yang pernah terjadi, seorang anak dari Empu Pananda bernama Empu Lalumbang, ia bekerja Angandring, tetapi tidak berpegangan teguh kepada Catur Dharmakriya. la diminta membuat keris oleh Ken Arok, tidak diselesaikan keris itu pada hari yang telah dijanjikan, sehingga akhirnya ia ditikam dengan keris yang belum sempurna selesainya itu. Sebab itu engkau harus berpegang teguh pada Catur Dharmakriya itu. Demikianlah Dharma orang memegang pekerjaan Aji kepandaian. Itulah nasehat Hyang Brahma kepada Empu Brahmaradja.


Pracasti Pande (Bagian 01 – Pendahuluan)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Buku berikut secara kebetulan saya pinjam dari Jero Mangku Wija di Peraupan Peguyangan Denpasar Utara, saat dilaksanakannya Rapat Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, Sabtu 15 oktober 2011 beberapa waktu lalu. Buku ini merupakan hasil salin ulang I Gede Saptha Yasa di Malang, 19 Mei 2000 dari sebuah buku dalam ejaan yang belum disempurnakan, diterbitkan oleh Pustaka Balimas 1 April 1958 dan diterjemahkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa.

Adapun sumber utama buku ini adalah Lontar berbahasa Kawi Bali, yang aslinya diterima dari Mengwi dan disalin pada tanggal 16 Juni 1952 oleh Wayan Mendra, Pegawai Gedung Kertya. Salinan Lontar dengan nomor Va 2404 ini dipinjam oleh I Gusti Bagus Sugriwa atas permintaan beberapa Warga Pande, dari Gedong Kirtya Singaraja.

PENDAHULUAN

Om Avighnam Astu Namo Sidham

Om Svastyastu

Dari beberapa warga Pande, dengan tulus hati meminta kepada I Gusti Bagus Sugriwa, agar berusaha menterjemahkan Pracasti Pande dari lontar (kitab pustaka) yang berbahasa Kawi Bali ke bahasa Bali umum atau bahasa Indonesia, supaya dapat merupakan suluh sekedarnya untuk menerangi gelap pandangan dalam garis besar riwayat leluhurnya, istimewa bagi generasi muda yang akan datang.

Permintaan yang timbul dengan hati tulus ikhlas ini sangat berkesan dihatinya, kemudian tumbuh dengan subur gairah hasrat untuk memenuhinya berdasarkan pengertian dan harapan, semoga karenanya dapat membangkitkan ingatan kenangan dan cinta bakti kepada leluhurnya dan dapat pula mempercontoh dharma susila kawitannya dalam ajaran agama yang layak dipergunakan sebagai suatu pegangan atau pedoman dalam pergolakan hidupnya sebagai manusia susila, sesuai dengan inti hakekat, ajaran agama Hindu di Bali, disamping bersembahyang kepada Hyang Widhi Waca berbakti kepada Bhatara-Bhatari (kawitan-kawitan). Bagi mereka yang lupa dengan kawitannya tidaklah mempunya pegangan yang kuat untuk berdiri diatas tumpuan masyarakat.

Kita sebagai masyarakat khususnya masyarakat Bali merasa sangat beruntung dengan keberadaan Gedong Kertya di Singaraja yang menyediakan berbagai jenis lontar, pustaka-pustaka. Dari Gedong Kertya inilah Pracasti Pande dipinjam oleh I Gusti Bagus Sugriwa dengan nomor Va 2404 dan diterjemahkannya. Lontar aslinya diterima dari Mengwi dan disalin pada tanggal 16 Juni 1952 oleh Wayan Mendra pegawai Gedong Kertya.

Mengingat Pracasti Pande yang diterjemahkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa tanggal 1 April 1958 diterbitkan oleh Pustaka Balimas dalam ejaan yang belum disempurnakan, maka kami mencoba menyalin kembali tanpa menyimpang dari isi aslinya. Salinan Pracasti ini bukan dimaksud untuk diperbanyak dan diperjualbelikan. Kami menyalin kembali Pracasti Pande ini tujuannya guna mempermudah memahami isi dari Pracasti Pande. Kami berharap semoga salinan yang ejaannya telah kami sempurnakan ini bermanfaat bagi semuanya khususnya Warga Pande.

Om Santih, Santih, Santih Om

Malang, 19 Mei 2000

I Gede Saptha Yasa

(disalin ulang oleh PanDe Baik)