Mewujudkan 10 ribu Langkah per Hari

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Memasuki bulan Maret, Samsung Health merilis tantangan baru bagi pengguna aplikasi tersebut yang diberi tajuk ‘Jungle Challenge’. Dengan target awal, jumlah langkah yang sama dengan bulan atau tantangan sebelumnya, yaitu 200 ribu langkah.
Pencapaian yang luar biasa sebenarnya jika berhasil dilakukan lagi.

Dalam waktu satu minggu pertama, tepatnya di hari ketujuh, saya berhasil mencatatkan sekitar 113 ribu langkah yang jika saja boleh dirata-ratakan per harinya mencapai 16 ribuan langkah. Lumayan juga…
Bisa sebanyak itu mengingat pada hari jumat lalu, sejak krida pagi terhitung melangkah hingga 25 ribuan langkah yang terbagi atas 3 sesi. Pagi sebelum berangkat kerja, krida, dan olahraga sore.

Tantangan ini sebenarnya bukanlah tujuan utama, sehingga ada keinginan untuk mewujudkan langkah hingga 10 ribuan setiap harinya. Namun lebih pada kebutuhan berolahraga atau aktifitas fisik selama minimal 30 menit setiap harinya bagi penderita Diabetes seperti saya.
Dengan secara disiplin melakukan exercise sebanyak itu, paling tidak saya bisa menghabiskan waktu antara 1-1.5 jam setiap harinya, memutari lapangan dan taman kota yang ada di seputaran Kota Denpasar.

Lumayan juga kan ?

Life Begins at 40

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Quote diatas yakin banget kerap didengar bagi mereka yang sebentar lagi bakalan menginjak usia kepala 4. Yang kata orang, biasanya bakalan menapak ke Puber Kedua. Saya salah satu diantaranya.
Widiiih…

Diantara Rekan seangkatan, baik itu sekolah dasar, menengah pertama, tingkat atas hingga kuliah, saya termasuk yang usianya paling muda. Ya, diantara semua teman sekelas. Penyebabnya ya ukuran tubuh yang kelewatan di masa kecil padahal secara usia sebetulnya belum pantas masuk ke jenjang pendidikan. Tapi karena dianggap mampu mengikuti, maka saya pun diteruskan melanjutkan sekolah oleh guru-guru jaman old.

Adalah seseorang yang saya kagumi, dalam arti positif, mengingatkan hal itu. Bahwa ketika Pria menginjakkan usianya pada Kepala 4, para Istri sebenarnya sudah harus lebih berhati-hati pada lingkungan sosial suami, mengingat pada fase ini biasanya sang Pria berada pada posisi mapan, dan jauh lebih baik dibanding saat muda dahulu. Secara Finansial maupun Penampilan.
Jadi Istri harus lebih berhati-hati mengingat Godaan dalam Rumah Tangga biasanya muncul pada segmen ini.

Life Begins at 40.
Jadi ada benarnya juga Quote diatas.
Masa Puber Kedua yang dikatakan orang rupanya menjangkiti saya jua akhir-akhir ini. Meski tidak bermaksud membenarkan, tapi ya demikianlah adanya.
Dimana secara Finansial, secara umum bisa dikatakan jauh lebih baik pasca kebijakan Bupati Badung menaikkan TPP atau Tunjangan Penghasilan Eselon IV setingkat Kepala Seksi sebesar 7,1 Juta bersih setiap bulannya. Itu baru sekitar 70% dari Total yang sisanya dibalut dalam bahasa e-Kinerja dan akan diberikan setiap 3 bulan sekali, bergantung pada absensi harian dan pencapaian Kinerja Pegawai masing-masing. Ditambah Gaji dan Uang Makan, kalo ndak salah hitung, seorang Kepala Seksi di lingkungan Kabupaten Badung Golongan III bisa membawa pulang uang bersih sekitar 11-12 Juta tiap bulannya. Lumayan bukan ?
Lalu secara Penampilan ya memang jadi jauh lebih peduli mengingat bekalnya ada. Hehehe…
Namun sejauh ini ya syukurnya istri selalu mendukung aksi pembelian fashion murah meriah yang sebagian besar dilakukan via Online. Diwajarkan mengingat secara Ukuran, saya tergolong susah mencari padanan yang pas di badan.
Jadi sekalinya Nemu yang disuka, ya diambil saja.

Sementara kalo dilihat dari Puber Kedua ketertarikan pada Pasangan, gimana hayo ?
Kelihatannya sih iya. Cuma karena sudah tahu batasannya, ya ndak sampai berlanjut jauh lah kalau bisa. Hanya sebatas melihat atau mengagumi saya pikir ya sah sah saja, selama tidak berlanjut ke soal rasa apalagi hubungan fisik. Bisa berabe nantinya bahtera rumah tangga.
Maka itu ya masuk akal juga quote ‘Life Begins at 40’tadi.

Kira-kira apakah kamu termasuk salah satu diantaranya ?

Siap Menghadapi Tantangan Global Challenge Samsung Health Berikutnya ?

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

I’m the cream of the crop, I rise to the top
I never eat a pig, cause a pig is a cop
Or better yet a Terminator, like Arnold Schwarzanegger
Try to play me out like, as if my name was Sega

Repetan House of Pain yang pernah beken jaman saya sekolahan dulu kembali diputar berulang pada headset sebelah yang disambungkan via Bluetooth ke ponsel Android. Menemani langkah santai yang saya lakoni saban sore usai pulang kantor jika kondisi agak capek dan penat. Beat yang diciptakan memang tak segegas rapper kulit hitam Puff Daddy. Jika mau dibandingkan, kecepatan langkah yang dihasilkan sekitar 4,9 km/jam, lebih lambat 0,1 hitungan dengan remake ulang karya The Police tadi.

Jungle Challenge

Memasuki bulan Maret ini, aplikasi Samsung Health kembali menggelar Tantangan berskala Global berikutnya yang diberi tajuk Jungle Challenge. Dengan jumlah Target Awal yang sama dengan sebelumnya, 200 Ribu Langkah.
Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu paham apa Misi sesungguhnya Tantangan ini, dan juga Reward apa yang bisa diberikan oleh Samsung bagi para pemenangnya. Namun secara Umum, tantangan ini saya gunakan sebagai sebuah Terapi Kesehatan dalam rangka menurunkan Gula Darah, pula Diet menurunkan Berat Badan jika mampu. Minimal mengejar 10 ribuan langkah per harinya, meningkat sedikit dari Standar Awal yang ditentukan Samsung Gear.

Dilihat dari segi fisik, kini saya jadi lebih mudah berkeringat dari sebelumnya meski belum sebanyak harapan. Bisa jadi karena kecepatan langkah yang dilakukan hanya sebatas 5,0 km/jam. Bandingkan dengan langkah terdahulu yang bisa mencapai 6 hingga 9,3 km/jam. Atau bisa juga lantaran seragam yang digunakan belum dilengkapi dengan jaket parasut yang mampu menjaga suhu badan tetap panas saat angin sepoi berhembus di sepanjang jalan yang dilalui.

Kalian siap ikutan menghadapi tantangan Global Challenge Samsung Health berikutnya ?

300 Ribu Langkah Spa Challenge Samsung Health

Category : tentang DiRi SenDiri

Every step I take, every move I make
Every single day, every time I pray
I’ll be missin’ you

Reff yang dilantunkan Faith Evans bareng Puff Daddy sebagai bentuk Tribute pada rapper Notorious BIG, selalu menemani langkah kaki cepat yang saya lakukan saban sore sepulang kerja. Beat nya tergolong asyik, tidak terlalu cepat pula tidak melambai, memberikan nafas teratur jika diputar ulang terus menerus sepanjang perjalanan. Entah mengitari lapangan Puputan Badung, Puputan Renon ataukah jalan raya seputaran sekolah anak anak.

300 Ribu Langkah

Pencapaian ini akhirnya bisa juga setelah hari ke-27 rutinitas berjalan kaki dilakukan.
Selain sebagai aktifitas harian disela diet demi menurunkan kadar gula darah, ini dilakukan untuk memenuhi tantangan Spa Challenge yang dibesut oleh aplikasi Samsung Health dengan Target Awal sekitar 200 Ribu Langkah saja.
Jadi berkembang ke angka 300 Ribu gegara rekan senior saya, Dody dari Ganesha Global jauh memimpin setiap harinya. Selisih sekitaran 20 hingga 30 ribuan langkah saban sore usai rutinitas dilakukan. Terpacu juga jadinya.

Untuk bisa mencapai itu, setiap hari minimal harus melakoni 10 ribuan langkah rata-rata. Itu setara 6 kali keliling lapangan Puputan Badung dikombinasikan aktifitas sehari-hari sejak pukul 5.30 pagi. Atau 8 – 10 kalinya jika hari Sabtu dan Minggu. Berhubung aktifitas harian di rumah tidak sebanyak naik turun tangga di kantor.
Hasilnya lumayan. Selain memang melaksanakan Diet Karbo, mengurangi konsumsi nasi putih secara frontal, menggantikannya hanya pada pagi hari itupun dengan beras Hitam, berat badan bisa turun sekitar 2 Kg dalam sebulan ini.
Target penurunan ini sih sebenarnya biar bisa sekurus Pak Jokowi, Presiden saya.
Tapi apa bisa ?

Mengurus Diri Sendiri dengan BPJS di RS Sanglah

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Jika saja boleh memilih dari awal, lebih baik mengambil jalan menjadi pasien Umum ketimbang BPJS. Memang opsinya ya membayar, namun secara layanan biasanya minim antre yang tidak jelas macam ini.
Kamis pagi 22 Februari, tiba di pelataran Poli RS Sanglah sekitar pk.06.15 wita. Dengan pemandangan antrean berkas yang sudah lumayan menumpuk. Tanpa ada petugas atau masyarakat lain yang menjelaskan, sayapun menaruh berkas pada tumpukan sebelah kiri berhubung orang yang datang lebih dulu meletakkannya disitu. Berselang setengah jam baru tahu kalau tumpukan sebelah kiri adalah daftar antrean untuk Manula dengan usia 60 tahun keatas.
Adeeeh… sudah kepalang tanggung, ya dibiarkan saja deh. Resiko belakangan.

Sekitar pukul 6.55, pelataran Poli sudah mulai dipenuhi pasien dan keluarganya. Sayapun mengambil tempat duduk di tangga depan loket, sembari berharap loket bisa cepat dibuka. Lantaran perut sudah lapar berhubung wajib puasa sedari pk.21.00 kemarin malamnya, kaitan dengan agenda Cek Lab pagi ini.

Entah mengapa saya jua tak berhasil mendaftarkan diri secara Online di halaman web miliknya RS Sanglah dari hari Senin kemarin. Entah apakah karena saya adalah pasien rujukan dari RS lainnya sehingga Nomor Rekam Medis belum terdaftar dalam database milik Sanglah.
Pertanyaannya, apakah saya perlu mengambil Nomor Antrean sementara agenda yang dijalani hanya sebatas Cek Lab ?
Kalau rujukannya langsung ke bagian Lab atau UGD mungkin tidak perlu. Namun dibaca dari petunjuk pada Rujukan yang ada dan mengarah ke Poli Interna, sesuai informasi yang didapatkan dari petugas RS Sanglah sebelumnya, saya tetap wajib mengambil Nomor Antrean dan mendaftarkan diri dari Loket 1.
Yang artinya ya harus menunggu loket Pengambilan Nomor dibuka dulu. Sayangnya hingga jam menunjukkan pk 7.05 belum ada tanda tanda apapun disini. Sementara pemanggilan Nomor Antrean yang didaftarkan secara Online, sudah mulai dipanggil tepat pk.7.00.

Agenda Cek Lab yang dirujuk ke RS Sanglah ini merupakan bagian dari jadwal pemeriksaan kesehatan yang saya lakukan sejak sebulan lalu. Untuk Kadar Gula Darah puasa dan 2 jam setelah makan, Kolesterol dan Asam Urat, sudah usai saya jabani minggu lalu. Sementara agenda kali ini menyasar Tiroid dan Kadar Gula Darah tiga bulanan. Atas dasar gemetaran pada tangan setiap kali memegang piring atau cangkir, maka dokter Internis yang bertugas pada faskes satu pun merujuk ke Poli Interna RS Sanglah.

Giat Menurunkan Gula Darah

Category : tentang DiRi SenDiri

Selama hampir sebulan terakhir, pola hidup bersahabat dengan Diabetes mulai dilakoni. Keputusan ini diambil setelah Gula Darah terpantau tinggi di awal Januari lalu, pasca beberapa keluhan fisik mulai dirasakan dan sukses membuat galau seisi rumah termasuk tumpahan sampah di halaman blog ini.

Tidak lagi mengkonsumsi Nasi Putih.
Mungkin lebih tepatnya Mengurangi Konsumsi Nasi Putih.
Digantikan dengan beras hitam pembagian jatah Eselon Pemkab Badung yang mulai diberikan sekitar Bulan Desember tahun lalu, dengan rasa yang agak kesat dari nasi putih biasa.
Awalnya agak aneh, namun saat mulai terbiasa, ya dilupakan saja rada anehnya itu.
Namun sekali dua sempat melanggar lantaran dihadapkan pada situasi makan siang yang tidak memungkinkan untuk menemukan opsi makanan yang layak dikonsumsi. Rapat kantoran misalkan.

Mengurangi porsi Makan Siang dan Makan Malam.
Tergolong ekstrem sebenarnya, namun demi Tjap Cowok Cowok Manis bisa segera dikurangi, keputusan ini mulai dicoba juga.
Jadi untuk Makan Siang dengan nasi, diganti dengan menu Sayuran tanpa Daging atau minim Daging. Begitupun Makan Malam, diupayakan ngemil terakhir sebelum jam 19.00. Itupun jenisnya tidak berat, seperti ketela rebus atau semangkuk kacang hijau.
Menyiksa diri ? Bisa jadi.
Tapi kalo bisa lolos dan tubuh memakluminya, saya yakin bisa jalan terus.

Memperbanyak Waktu untuk Olah Raga.
Saya rasa Inti Gaya Hidup seorang penderita Diabetes disamping mengubah Pola Makan diatas, ya rajin-rajin membakar Kalori. Maka itu olah raga pun sekarang mulai rajin dilakoni secara Sadar.
Meski tidak dalam bentuk olah raga yang mudah mengeluarkan keringat seperti lari ataupun angkat beban, hanya jalan kaki dalam tempo cepat, namun pencapaiannya lumayan juga.
Bersyukurlah kini ada perangkat pintar jam tangan Samsung Gear S3 Frontier yang menemani tiap kali aksi ini dilakoni. Minimal jumlah langkah, jarak tempuh atau detak jantung bisa terdeteksi setiap harinya. Kalopun istri mau memastikan saya beraktifitas olah raga atau tidak ya gampangnya tinggal memeriksa aplikasi Samsung Health ini saja.
Termasuk pemantauan Kadar Gula Darah saban pagi pun saya upayakan bisa dicatat disini.

Istirahat Teratur.
Jam Tidur atau istirahat malam, paling lambat 22.00 sudah masuk kamar tidur. Selain menjaga kualitas tidur yang lebih baik, juga menjaga bangun pagi bisa tepat waktu agar bisa melakukan sejumlah aktifitas pagi sebelum masuk kantor. Dan dari aplikasi yang sama pun bisa dilihat masa aktif istirahat tadi berdasarkan kali terakhir mengakses ponsel. Tidak fair sebenarnya, namun lumayan berguna.

Menyadarkan Diri sebagai seorang Penderita Diabetes.
Diantara semua upaya, secara pribadi ini yang paling sulit. Bagaimana meyakinkan diri secara sadar sebagai seorang pengidap Diabetes sehingga secara sadar pula mau tidak mau, suka tidak suka harus mulai mengurangi nafsu makan yang aneh dan enak jaman Now, pula menjaga kesehatan demi anak istri dan orang tua juga teman kantor hingga group whatsapp, serta memperpanjang umur demi melihat pencapaian hidup yang diidam-idamkan.

Sedangkan Upaya Terakhir ya Rajin Menulis.
Menuangkan segala unek unek beban di kepala agar tak menjadi pikiran kalut lebih lanjut yang berpotensi menaikkan kadar gula darah tak terkontrol. Cuma masalahnya ya soal mood saja. Yang hadir tak lagi serutin dahulu.
Harus bisa lebih Optimis dalam menghadapi Hidup.

Keluhannya, paling ndak ya Nyeri sendi pada kaki kiri sudah mulai berkurang meski belum bisa bersila dengan baik laiknya dulu. Lalu lemah lesunya keseharian kini sudah berganti dengan semangat hidup yang baru termasuk beberapa hiburan yang diupayakan bisa dinikmati dengan benar pada jalurnya.
Yang tersisa kini hanya gemetaran pada tangan saat memegang sendok atau piring dan cukup mengganggu. Belum tau juga apa penyebabnya.

Bersahabat (lagi) dengan Diabetes

5

Category : tentang DiRi SenDiri

Dua minggu terakhir ini sepertinya menjadi momen yang penuh tantangan, dimana saya mencoba untuk bersahabat (lagi) dengan diabetes setelah empat bulan sebelumnya masuk dalam tahapan tak peduli pada kondisi kesehatan.

Enam Kilogram berat badan turun dalam waktu tiga bulan tahun lalu. Cukup drastis mengingat selama hampir setahun lamanya, bertahan stabil di angka 92 Kg. Pasca penunjukan kembali sebagai PPK, semua stress yang dahulu pernah ada, kembali dengan sukses mengubah pola makan.
Puncaknya, awal tahun baru gula darah melonjak hingga 400an mg/dl. Parah.

Selain kembali mengkonsumsi obat, menambah sedikit dosis yang diberikan oleh dokter sebelumnya, hari demi hari pun dilalui dengan penuh kesadaran.
Mengganti jenis makanan dan cemilan yang dikonsumsi, pun mengurangi kuantitas ngopi sachetan pada jam malam. Beralih ke kopi hitam atau teh tanpa gula. Hambar dan pahit.

Namun begitulah konsekuensi yang harus diterima apabila masih ingin melihat anak-anak tumbuh besar, pula sunggingan senyum istri kala bangun dari tidur.
Intinya berupaya menurunkan gula darah dan mengontrolnya agar tetap normal dalam kesehariannya. Tidak ada lagi makan nasi pada siang dan sore hari. Begitu pula daging dan cemilan manis pula lezat. Cukup ketela, singkong atau sayur cantok menjadi teman menu baik di kantor ataupun rumah.
Demikian halnya dengan gerak badan, berolahraga sejenak mengitari alun-alun kota Denpasar saat senggang pagi hari atau sore selepas jam kerja.

Syukurnya per tadi pagi, hasilnya sudah mulai bisa dipetik. Gula darah pagi saat puasa sudah berada dibawah angka 200 mg/dl. Pencapaian luar biasa mengingat harus mulai membiasakan diri menahan lapar atau menikmati segelas teh tawar sementara anak-anak menyeruput choco float dengan riang.
Sudah resiko menjadi orang yang sakit.

Entah sampai kapan ini bisa bertahan…

Sedikit Bicara

Category : tentang DiRi SenDiri

Entah kenapa, dalam sebulan terakhir pikiran ini cenderung kosong dan saya menjadi sedikit bicara. Ini dirasakan oleh Istri yang kemarin sempat mengungkapkan keheranannya di sela perjalanan pagi menuju kantor. Agak khawatir juga tambahnya.

Meskipun secara kesibukan sejak awal bulan Januari bisa dikatakan sudah lebih reda ketimbang tahun lalu, namun pikiran sepertinya masih dipenuhi beban dan hutang pekerjaan yang belum terselesaikan. Apalagi pertengahan bulan ini biasanya Pemeriksa akan hadir dan menyita waktu kurang lebih hingga lima bulan kedepannya. Saya yakin bakalan melelahkan.

Disamping itu kejenuhan akan suasana kerja makin melengkapi semua keluhan yang belakangan saya rasakan. Termasuk pening kepala sisi belakang makin membuat hari-hari tak nyaman. Serasa kesambet apa gitu.

Hingga keluarga sempat terpikirkan untuk bertanya lebih jauh pada orang pintar akan hal ini.
Saya yang biasanya ceria dan banyak bicara baik pada istri ataupun tiga anak yang saban malam bikin rumah macam kapal pecah, mendadak terdiam seribu bahasa hari demi hari.
Sunyi dan sepi sekali.
Uniknya, hal yang sama pula dirasakan mertua saat berkunjung beberapa waktu lalu. Saya hanya menyapa sebentar lalu tidur. Tanpa kalimat apa-apa lagi.

Penat.
Serius…

Merenungi Hidup

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Untuk kesekiankalinya saya teringat akan nasehat seorang mantan atasan kantor yang memilih resign dari abdi negara ketika usianya telah melewati batas wajar pensiun dini.

Agar jangan sampai mengorbankan Kesehatan dan Keluarga hanya demi Karir dan Pekerjaan. Meskipun itu saling terkait dan ketergantungan satu sama lain.

Karena ketika kita sakit atau tidak mampu untuk bekerja lagi, maka perusahaan akan langsung mencari pengganti dan melanjutkan hari tanpa kita. Mereka tidak akan menunggu.
Yang ada hanya ucapan Turut Berduka Cita ditambah beberapa amplop dengan jumlah yang seberapa jika disandingkan dengan beban yang kita tinggalkan pada pundak keluarga.

Kepergian staf saya kemarin, jadi pelajaran berharga.
Itu sebabnya saya kembali tersadar akan sakit yang diderita selama ini, dan berharap kesehatan bisa sedikit pulih agar keluarga tak sampai terlantar.

Hanya saja, apa iya bisa mengurangi beban pekerjaan begitu saja dalam fakta lapangannya ?
Saya masih ragu.

Apalagi dengan kinerja dan kepercayaan yang diberikan atasan, sepertinya itu makin sulit dilakukan.
Saat menghindarpun saya yakin tetap akan dicari.
Terkecuali mampu menurunkan idealisme dan pemikiran yang selama ini dijaga. Cuma apa mau ?

Pilihannya ya hanya itu.

Jadi kangen pada Bapak tiga anak itu, yang tak lupa berpesan agar mulai belajar mengingat-ingat batasan pekerjaan dan batasan keluarga, berhubung usia saya masih tergolong muda.

Jatuh

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam kondisi begini, kerap alami yang namanya Putus Asa dalam menjalani keseharian.
Diabetes yang tak jua mampu dikontrol, makin hari terasa makin menyiksa.
Bayangan akan akhir nafas tiba dengan ancaman komplikasi selalu terbayang.
Kasihan anak-anak. Kasihan keluarga ini.
Namun apa daya, gula darah saban diperiksa selalu diatas angka 200, 300 bahkan sekali dua sempat mencapai 487.
Dengan konsumsi obat dan berpuasa, rasanya semua percuma begitu saja.
Istirahat hampir selalu dilakoni, dan sepertinya keadaan makin memburuk.
Jatuh dan jatuh lagi…

Diabetes

Cerita di Awal Tahun

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari Baik menyambut tanah Bali pagi ini.
Awal Tahun 2018 yang diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk hidup dan berkarya bagi setiap orang utamanya mereka yang berstatus sebagai kepala keluarga.
Menghidupi anggotanya demi kebahagiaan dan kesejahteraan.

Mari memulainya dengan hal yang positif.

Jalanan yang dilalui masih saja tampak lengang. Bisa jadi karena sebagian besar orang masih lelah dengan aktifitasnya semalam suntuk.
Saya yang semalam menghabiskan Tuak nyaris sepertiga botol besar, langsung tewas tertidur dengan nyaman. Apalagi dicampur obat batuk hitam lima belas menit setelahnya, sukses membuat saya tepar hingga pagi tanpa terbangun lagi malam harinya.
Pagi ini agendanya kami meluncur ke Pura Penataran Puncak Mangu Desa Pelaga Petang, untuk melunasi hutang janji seorang anak manusia yang ingin memperkenalkan jodoh yang ia dapatkan bertahun lalu, dan setelah dua belas tahun lamanya baru bisa terwujud.
Ingin sekali bisa lebih banyak meluangkan waktu sebenarnya untuk mendekatkan diri pada-Nya. Yang setahun lalu jarang kami lakukan lantaran kebiasaan keluarga.

Sementara itu sakit akibat cuaca yang tak menentu pun masih bercokol di badan. Ditambah nanah pada telinga yang cukup membuat tuli sebelah selama beraktifitas. Meski masih bisa dijalankan namun tetap saja tak nyaman.
Berat badan tampaknya makin menurun. Kini mulai terlihat perbedaannya. Kehilangan berat sebanyak 6 kg selama 6 bulan, lumayan membuat banyak perubahan. Ukuran celana turun 2 size, dan baju ukuran XL pun kini sudah bisa digunakan lagi.
Istri yang semakin khawatir akan semua ini kerap mengingatkan agar tetap menjaga kesehatan demi anak dan istri.

Beban pekerjaan masih berat dipikul. Berharap bisa berkurang lagi tahun ini.